Suasana kegiatan Jitupasna

Dari 166 desa dan 5 kelurahan yang berada di Kabupaten Pacitan mempunyai berbagai resiko bencana, baik banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami, hingga kekeringan. Lebih dari 580 Ribu warga harus mendapat cukup wawasan terkait kebencanaan.

Hal itu mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Pacitan melakukan berbagai kegiatan sosialisasi, baik kepada Pemerintah terkait, relawan yang bergerak dikebencanaan maupun kepada masyarakat. Dengan tujuan agar kabupaten Pacitan lebih siap dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana. “karena sosialisasi merupakan salah satu  bentuk kegiatan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam upaya pengurangan resiko bencana”. ungkap Windarto Kepala BPBD kepada peserta saat membuka Pelatihan Pengkajian kebutuhan Pasca bencana (Jitupasna), yang dilaksanakan di aula hotel srikandi 07/05/2018.

Menggandeng Pujiono Center, kegiatan itu dilaksanakan selama tiga hari berturut-terut, secara spesifik membahas fase-fase bencana, difase 3 dijelaskan bagaimana menyusun instrumen pasca bencana, implemntasi dilapangan, mengelola kerusakan, kerugian, ganguan akses dan fungsi. “Dipertemuan sebelumnya lebih pada aspek menejerialnya, bagaimana pemimpin memberikan komando kepada bawahan yang berada dilokasi bencana”. terang Darmo salah satu  pemateri dari Pujiono Center.

Banyak kesulitan yang dihadapi dalam menejemen kebencanaan, salah satunya yakni bagaimana memahamkan kepada masyarakat bahwa respon kebencanaan bukan semata pada saat bencana itu terjadi. Namun sebelum bencana, pada saat bencana serta pasca bencana atau rekonstruksi. “ini perlu kita garis bawahi, dan ini sesuai dengan ndang-undang No 24 Tahun 2007 Tentang penanggulangan Bencana”. tambah Darmo.

Hingga kini tidak ada yang dapat memprediksi kapan bencana terjadi, peralatan canggih pun hanya dapat memperkirakan. Windarto berharap dari kegiatan ini seluruh peserta mampu tanggap pada tupoksinya. sehingga mampu mengkaji bencana yang terjadi dan bisa melalukan perencanaan dikemudian hari. “jangan panik ketika terjadi bencana, karena panik dapat membuat otak tidak dapat berfikir logis”. Pesan Windarto.

(Anj/Budi/Riyanto/Diskominfo)