(SEBUAH PERJUANGAN DI BALIK WAJAH CANTIK PANTAI PIDAKAN)

Jum’at (8 Juni 2018), rombongan kami (Dinas Perpustakaan Pacitan) mengunjungi pantai Pidakan yang terletak di Dusun Godeg Kulon, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Terakhir penulis datang ke tempat wisata ini tahun lalu, pantai Pidakan ini terlihat sudah dirawat dengan sangat baik. Namun kali ini mata kami disuguhkan dengan pemandangan yang lebih cantik dibandingkan yang sebelumnya. Selain menyuguhkan pemandangan asri dan asli struktur pantai yang terkenal dengan bebatuan putihnya ini, pantai Pidakan mempunyai beberapa fasilitas yang sudah cukup memadai, seperti tempat parkir yang luas, akses jalan yang mudah (satu jalur masuk dan satu jalur keluar), exterior spot-spot foto yang cantik, wahana outbound, Musholla, toilet umum yang bersih, dan warung makan yang dibangun penduduk setempat dengan tetap mengindahkan peraturan tentang pemeliharaan lingkungan dan alam. Nampak lahan di belakang tempat parkir sebuah bangunan yang sedang dalam proses pembangunan, menurut Humas di sana (Bapak Heri) bangunan tersebut rencananya akan dijadikan Home Stay. Dan hebatnya adalah ternyata Home Stay tersebut bukanlah milik investor asing, akan tetapi milik seluruh elemen pengelola Pantai Pidakan. Siapa saja elemen-elemen tersebut??? Masyarakat, pemilik lahan, karang taruna, perangkat dusun dan desa. Jadi seluruh pengelolaan dan pemeliharaan Pantai Pidakan murni menjadi hak dan tanggung jawab seluruh masyarakat sekitar Pantai Pidakan.
Melihat perubahan Pantai Pidakan dari tahun ke tahun yang terus mengalami peningkatan, kita sebagai penikmat wisata pasti berpikir bagaimana tempat ini bisa menjadi dengan sangat cepat mengalami perubahan hanya dalam hitungan tahun yang sebentar. Pantai Pidakan mengalami kemajuan secara signifikan bukan dengan jalan yang instan, butuh perjuangan dan pengorbanan masyarakat demi mewujudkan Pantai Pidakan menjadi sebuah tempat wisata yang indah dan banyak wisatawan yang datang seperti sekarang.
Berawal dari sebuah curhatan salah satu tokoh pemuda masyarakat Dusun Godeg Kulon pantai Pidakan yaitu Bapak Slamet kepada Warito, SH (Kepala Dinas Perpustakaan Kab. Pacitan) mengenai potensi Pantai Pidakan. Dalam kesempatan tersebut Bapak Slamet meminta pendapat, arahan dan bimbingan dari Bapak Warito, SH bagaimana upaya untuk mengembangkan potensi Pantai Pidakan agar dapat memberikan kontribusi dan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, dikarenakan pada saat itu Pantai Pidakan masih belum dikenal masyarakat luas di Kabupaten Pacitan. Pada suatu waktu Bapak Slamet meminta Bapak Warito untuk datang berkunjung ke Pantai Pidakan dan memberikan pengarahan kepada masyarakat setempat untuk bersama-sama membangun tempat wisata Pantai Pidakan berbasis POS DAYA. Namun upaya tersebut harus mengalami perjuangan karena harus merubah mindset masyarakat yang berpendapat bahwa POS DAYA adalah forum yang hanya identik dengan Polyback (salah satu gerakan dari KRPL). KRPL merupakan himpunan dari Rumah Pangan Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, pelestarian tanaman pangan untuk masa depan serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan ).
Dengan didampingi Danranmil kala itu, Bapak Warito kembali mengadakan sosialisasi di lokasi wisata dan dilanjutkan di Balai RW, kemudian akhirnya disepakati deklarasi berdirinya POS DAYA berbasis Pariwisata. Bapak Warito sendiri memberikan solusi pengembangan wisata pantai Pidakan dengan Pos Daya berbasis Pariwisata dikarenakan menurut Beliau bahwa Pantai Pidakan ini akan lebih berkembang dan lebih bermanfaat oleh masyarakat jika dikelola oleh masyarakat penduduk setempat, karena jika masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung maka mereka juga akan mengelola dan memelihara aset pantai Pidakan dengan baik dan penuh tanggung jawab secara gotong royong.
Tempat wisata Pantai Pidakan mulai dibuka tahun 2013 dengan melibatkan team pengelola yang diambil dari sebagian masyarakat setempat dan diketuai oleh Bapak Slamet. Dengan bermodalkan secara swadaya gotong royong pada awal pengelolaannya, pelan-pelan Pantai Pidakan mulai bermetafora, meski team pengelola sendiri harus menjadi team sukarela karena selama 4 tahun tidak menerima bayaran. Mereka bekerja dengan tulus ikhlas membangun pantai Pidakan secara bersama-sama tanpa pernah menyerah sedikitpun (mulai dari bersih-bersih pantai, membangun jalan yang saat itu masih makadam, dan warung pun juga baru ada satu tempat).
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya JLS, akses ke pantai Pidakan pun menjadi lebih mudah dan akhirnya pantai Pidakan mulai dilirik oleh masyarakat luas Kabupaten Pacitan. Tahun demi tahun mulai banyak event yang diselenggarakan di Pantai Pidakan. Hal tersebut otomatis mampu menaikkan pendapatan dari hasil penjualan tiket. Pada awal buka, pantai Pidakan tidak mematok harga tiket, pengunjung memberikan uang masuk kawasan wisata dengan sukarela. Setelah itu harga tiket berangsur-angsur naik dari 2000 rupiah, 3000 rupiah, dan sekarang mencapai 4000 rupiah. Butuh waktu selama 3 tahun untuk benar-benar merubah wajah pantai Pidakan menjadi pantai yang sangat cantik dan menjadi aset kontribusi masyarakat setempat yang benar-benar membantu peningkatan taraf hidupnya sesuai angan dan asa penduduk setempat. Kenaikan harga tiket dilakukan karena untuk memenuhi biaya operasional pemeliharaan dan pengembangan kawasan pantai.
Sistem manajemen yang diterapkan oleh team pengelola pantai Pidakan berfilosofi dengan istilah Jawa yakni ” Udar Gelung” yang dilaporkan tiap bulan. Filosofi tersebut mempunyai makna bahwa semua yang berkaitan dengan manajemen pantai Pidakan baik pendapatan dan biaya operasional harus selalu dibuka secara transparan di hadapan masyarakat pantai Pidakan. Ada pembagian hasil pendapatan secara terperinci kepada masing-masing elemen pengelola, masyarakat setempat, pemilik lahan, karang taruna, dusun, dan Desa. Selain pembagian tersebut, hasil pendapatan juga dicadangkan untuk dana sosial dengan memberikan bantuan sembako kepada masyarakat setempat yang kurang mampu dalam setiap bulan.
” Jumlah pengunjung pantai Pidakan saat ini rata-rata per bulan sebanyak 4.000 orang, dengan rata-rata pendapatan tiket 16 juta rupiah. Spesial waktu tahun baru 2017 satu tahun yang lalu, bahkan dalam sehari itu pengunjung bisa masuk 12.000 orang, dengan perkiraan pendapatan mencapai 64 juta rupiah, sampai semua lahan full untuk tempat parkir Mbak.”, ungkap Bapak Heri selaku Humas Pantai Pidakan kepada Kami saat itu.
” Sedangkan setelah adanya banjir kemarin, pendapatan Kami mengalami penurunan yang derastis. Per bulan tidak lebih dari 2.000 pengunjung. Tapi ini tidak berlangsung lama Mbak, karena Kami melakukan promosi kembali ke pihak-pihak pembuat event. Dana yang Kami dapat juga Kami gunakan sebagian untuk pembenahan kawasan pantai Pidakan. Kami merangkul masyarakat untuk bersama-sama bangkit kembali untuk menata aset Kami ini. Karang taruna juga banyak sekali andil memberikan masukan ide-ide untuk membangun spot-spot yang bisa Panjenengan lihat sekarang ini, hingga akhirnya pengunjung mulai ramai berkunjung kembali ke sini. Akhirnya pendapatan Kami bisa kembali normal bahkan lebih meningkat dibandingkan sebelum banjir. Kami sangat berterimakasih banyak kepada Pak Warito utamanya yang sudah menjadi penggagas dan pembimbing masyarakat Pidakan sehingga manfaat dari Pos Daya Berbasis Pariwisata ini sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup Kami. Juga terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan yang sudah memberikan dorongan dan kepercayaan kepada Kami untuk mengelola aset ini sendiri sehingga Kami bisa melaksanakan tanggung jawab Kami dengan baik karena tentunya ini adalah sesuatu yang berasal dari masyarakat dan kembali kepada masyarakat sendiri. Rencananya tanggal 1 Juli bulan depan ini ada rombongan dari STII untuk event senam di sini Mbak. Itu termasuk program dari Pemkab Pacitan Mbak.”, lanjut Heri.
Ada satu hal penting yang kami catat dari perbincangan pagi itu, yakni mengenai istilah literasi. Menurut Bapak Warito di tengah obrolan kami, bahwa ” Literasi itu bukan melulu soal melek aksara dan angka, tetapi lebih meluas lagi yaitu inovasi, pengembangan ide-ide kreatif untuk kesejahteraan masyarakat.”
Dalam kesempatan itu pula Bapak Warito juga menyampaikan gagasannya untuk membuka taman baca di pantai Pidakan dalam waktu dekat dengan tujuan untuk membudayakan literasi di kawasan pariwisata.
Semua manusia berkesempatan untuk berliterasi (kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat) , namun yang mampu melihat dan memanfaatkan peluang hanya orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap dirinya sendiri dan terhadap masyarakat banyak. Pantai Pidakan ibaratnya seorang anak kecil yang sudah tumbuh dengan cepat menjadi gadis cantik yang siap dipinang oleh lelaki dari daerah manapun, namun tetap harus dipoles dengan lebih cantik lagi agar tetap terjaga keistimewaannya dan juga kelestariannya.

(Ryn Surya, Iy, Aap, Tgr/ Dinas Perpusda Pacitan/Diskominfo Pacitan)