Presiden Jokowi Kunjungi Pacitan, Pemerintah Upayakan Pemulihan Pascabencana Secepatnya

TINJAU DAMPAK BENCANA: Presiden RI Joko Widodo mendengarkan keterangan Bupati Indartato terkait bencana banjir dan longsor yang melanda Pacitan beberapa waktu lalu. Kepala Negara mengunjungi beberapa lokasi terdampak. Salah satunya tanggul jebol di Kelurahan Ploso. (Foto: Ageng)

Pacitan – Sejumlah fasilitas umum rusak akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Pacitan, Selasa (28/11) lalu. Pemerintah akan mengupayakan pengerjaan selesai akhir Desember ini.

“Maksimal akhir bulan ini harus sudah selesai,” kata Presiden RI Joko Widodo saat jumpa pers di sela kunjungan ke SMPN 1 Arjosari, Sabtu (9/12) sore.

Perbaikan dimaksud salah satunya normalisasi  jalan penghubung antar kabupaten yang bahu jalannya tergerus air. Ini tampak di jalur provinsi Pacitan-Ponorogo maupun Pacitan-Solo.

Insfrastruktur lain yang juga menjadi prioritas, lanjut Jokowi, adalah perbaikan tanggul jebol di Kelurahan Ploso. Presiden menetapkan tenggat waktu 2 minggu untuk penyelesaiannya.

“Saya beri waktu 2 minggu harus bisa diselesaikan ya,” tambah presiden yang mengenakan baju putih lengan panjang dan berkopyah.

KUNJUNGI SEKOLAH: Presiden Jokowi melihat langsung kerusakan sarana prasarana sekolah akibat diterjang banjir. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah SMPN 1 Arjosari, Jl Pacitan-Nawangan, Kec. Arjosari. (Foto: Purwo)

Selain merusak infrastruktur, banjir dan longsor juga menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah terganggu. Ini menyusul rusaknya gedung maupun sarana prasarana di dalamnya. Sejauh ini dilaporkan ada 89 gedung sekolah rusak.

Terkait pemulihan sarana bidang pendidikan seperti buku-buku maupun komputer, lanjut Jokowi, hal tersebut sudah disiapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diharapkan akhir Januari tahun depan kebutuhan yang ada sudah terpenuhi.

“Segera ini bisa pemulihan kembali sehingga anak-anak mulai belajar nanti di Januari sudah masuk itu sudah hampir semuanya siap,” tandasnya didampingi Menteri PUPR Basuki Hadi Mulyo, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Bupati Pacitan Indartato.

Selama berada di Kabupaten Pacitan, presiden dan rombongan melihat langsung beberapa lokasi paling parah terdampak bencana. Antara lain tanggul jebol di Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan dan SMPN 1 Arjosari.

Presiden juga mendatangi dua pondok pesantren terbesar di Pacitan. Yaitu Ponpes Tremas dan Ponpes Al Fattah, Kikil, Arjosari. Kedua lembaga pendidikan Islam tersebut juga tak luput dari kerusakan akibat banjir. (PS/PS)

Jokowi : Jaga Ukhuwah Ihsaniyah

Presiden Joko Widodo mengunjungi Kabupaten Pacitan, Sabtu (9/11/2017). Kedatangannya kali ini untuk melihat langsung lokasi-lokasi dan dampak bencana banjir bandang di Kecamatan Pacitan dan Arjosari, Selasa (28/11/2017) lalu. Menggunakan helikopter, Presiden ke-7 RI ini mendarat di lapangan udara Detasemen TNI AU Iswahjudi, Kelurahan Sidoharjo.

Dititik kunjungan pertama, presiden melihat langsung kondisi rumah-rumah warga yang porak poranda diterjang banjir dari aliran Sungai Grindulu. Lingkungan Krajan Kidul dan Lor manjadi kawasan paling parah. Itu terjadi setelah tanggul penahan jebol. Selain menyapa, Jokowi kemudian mencoba berinteraksi dengan warga. Suami dari Iriana ini juga memberikan semangat kepada para korban banjir bandang.

Sesuai agenda presiden kemudian melanjutkan kunjungan ke Pondok Pesantren Tremas, Arjosari. Di ponpes tertua di Kabupaten Pacitan itu Jokowi disambut para santri dan bertemu dengan sejumlah pengasuh.

Disitu ia berpesan kepada para santri dan khalayak yang datang untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Sebab bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Memiliki agama beragam. Demikian pula suku bangsanya. Tercatat ada 714 suku mendiami negara berdasar Pancasila ini. “Kita juga memiliki lebih dari 1.100 bahasa daerah. Tidak ada negara lain dimanapun yang memiliki, keragaman, kemajemukan seperti negara kita,” pesan Jokowi.

Ia lantas menceritakan pengalamannya bertemu dengan pemimpin negara-negara lain. Salah satunya Presiden Afganistan. Ketika ditanya jumlah suku bangsanya, jumlahnya hanya tujuh. “Oleh sebab itu saya mengajak semuanya untuk terus menjaga ukhuwah islamiyah kita, agar kita terus menjaga ukhuwah wathaniyah, agar kita terus menjaga ukhuwah ihsaniyah kita, agar kita terus menjaga ukhuwah basyariyah. Negara kita negara besar. Jangan sampai karena pilihan bupati, gubernur, atau presiden kita menjadi pecah,”tandasnya.

Usai ke Ponpes Tremas, presiden kemudian mengunjungi SMPN 1 Arjosari, dan Pondok Al Fatah Kikil. Agenda kunjungan ke Kabupaten Pacitan sendiri berakhir menjelang petang dan presiden beserta rombongan kembali ke Jakarta. (arif/nasrul/tarmuji/pranoto/danang/sopingi/humaspacitan)

Mendikbud: Pemerintah Akan Bangun Gedung Baru Bagi Sekolah  Yang Rusak Akibat Bencana

BANGUN UNIT SEKOLAH BARU: Mendikbud Muhadjir Effendi bersama Bupati Pacitan Indartato mendengarkan keterangan pihak sekolah terkait kerusakan SMP 2 Pringkuku karena bencana alam. (Foto: Purwo)

Pringkuku – Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu menimbulkan kerusakan sejumlah infrastruktur. Termasuk menimpa sarana dan prasarana sektor pendidikan. Salah satu yang terdampak parah  adalah SMPN 2 Pringkuku di Desa Ngadirejan Kecamatan Pringkuku.

Dari 12 lokal ruangan yang dimiliki, 10 lokal diantaranya mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan, akibat rusaknya ruang kelas, ujian sekolah para siswa terpaksa dialihkan di salah satu rumah warga.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  RI Muhadjir Effendy saat menyaksikan langsung kondisi sekolah yang rusak di SMPN 2 Pringkuku, Jumat (08/12) mengungkapkan, pemerintah akan mengupayakan gedung sekolah baru.Hal ini atas dasar pertimbangan kerusakan di lembaga pendidikan tersebut sangat parah.

“Kita usahakan unit sekolah baru hanya saja kita akan lihat beberapa kemungkinan apakah lokasinya tetap disitu karena tanahnya masih layak apa harus pindah,” katanya.

Saat ditanya awak media untuk sekolah sekolah lain yang juga terdampak bencana, Muhadjir Effendy belum berani memastikan. Semuanya harus melalui kajian dengan melihat kondisi kerusakanya.

Selain meninjau SMPN 2 Pringkuku yang terdampak tanah longsor, Mendikbud juga meninjau SMPN 1 Arjosari yang juga mengalami kerusakan akibat terjangan banjir. (PS/Riz/PS)

Mensos RI: Fokus Tangani Pengungsi dan Logistik Pasca Bencana

FOKUS PENGUNGSI DAN LOGISTIK: Mensos RI Khofifah Indar Parawansa simbolis menyerahkan bantuan bagi warga terdampak bencana diterima Lurah Ploso Khemal Pandu Pratikna. (Foto: Purwo)

 

Pacitan – Kementerian Sosial Republik Indonesia akan tetap fokus pada
penanganan pengungsi dan penyediaan logistik pasca bencana banjir dan
longsor melanda Pacitan, Selasa (28/11/2017) lalu.

“Untuk mempermudah suplai logistiknya maka ada
Permensos yang menseyogyakan kalau memang terjadi bencana alam, maka
bupati/walikota segera mengeluarkan SK Darurat,” kata Menteri Sosial
Khofifah Indar Parawansa di Ponpes Al Anwar, Ploso, Jumat
(8/12) pagi.

Dasar hukum tersebut, lanjut menteri yang kali kedua datang pasca
bencana, dapat menjadi dasar hukum pencairan beras pemerintah sebanyak
100 ton. Dengan begitu diharapkan tidak ada masyarakat korban bencana
yang luput penerimaan bahan makanan dan logistik. Jika cadangan beras
tersebut habis, masih ada celah mencairkan beras provinsi hingga 200
ton dengan dasar Peraturan Gubernur.

“Pastikan logistik tersuplai dengan aman pada saat terjadi bencana
alam,” pesan Khofifah di depan ratusan santri dan pengelola ponpes.

Pada kesempatan tersebut mensos melihat langsung dampak banjir di area
sekitar pondok yang menyisakan endapan lumpur dan kerusakan pada
beberapa bagian. Menteri simbolis menyerahkan bantuan berupa alat-alat
rumah tangga dan kelengkapan pondok.

Gelar Doa bersama dengan para Relawan Mensos RI Minta Sikap Kerelawanan Selalu Dijaga

Menteri  Sosial RI  Khofifah Endar Parawansa kembali sambangi Kabupaten Pacitan. Kedatangan mensos kali ini untuk mencanangkan kick off Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN) 2017 dan Peringatan Hari Relawan Internasional .

Bersama dengan para relawan tanggap bencana yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, Bupati Pacitan dan jajaran, kick off HKSN ditandai dengan doa bersama di Pendopo Kabupaten Kabupaten Pacitan, Kamis (7/12/20.

Dalam arahanya Mensos minta  semua elemen untuk menjaga Sikap kerelawanan agar tidak bias oleh kepentingan apapun diluar kemanusiaan. Tujuannya hanya satu, bersama-sama berupaya meringankan beban penderitaan.

” kita jaga Kerelawanan ini dari kepentingan golongan maupun kepentingan politik,” tandasnya.

Tidak lupa Mensos khofifah Endar Parawansa memuji  Kerelawanan yang ditunjukkan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pacitan belum lama. Seluruh relawan dari berbagai elemen, bersama TNI/Polri serta pihak swasta saling bahu membahu membantu masyarakat korban bencana alam.

Sementara,  Bupati  Indartato saat memaparkan dampak kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor menyatakan, sesuai data diketahui ada 68 desa pada seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Pacitan terdampak longsor dan menyebabkan 19 orang warga meninggal. Selain itu ada enam korban jiwa lainnya karena banjir bandang. Total kerugian sementara mencapai kurang lebih Rp.600 M.

“ Atas nama masyarakat Pacitan saya sampaikan rasa terima kasih untuk semua pihak yang telah memberikan bantuan pikiran, tenaga dan materi untuk meringankan beban korban,” ucapnya.

Pada kesempatan itu pula diserahkan sejumlah bantuan. Diantaranya santunan untuk 13 orang ahli waris korban bencana alam dan sarana air bersih dari Kementerian Sosial. Tidak itu saja, salah satu bank nasional juga menyumbangkan masing-masing satu unit mobil pemadam kebakaran dan mobil tanki, serta membantu pembangunan rumah warga terdampak bencana dengan total bantuan mencapai Rp 3,2 miliar. (Riz)

Bupati : Ikhlas Demi Kemanusiaan

Anggota Taruna Tanggap Bencana (Tagana) diharapkan bekerja dengan ikhlas untuk kemanusiaan. Itu disampaikan Bupati Indartato ketika memberangkatkan ratusan personil Tagana di halaman pendopo Kabupaten Pacitan. “Ikhlas demi kemanusian. Semoga amal kebaikan kalian semua mendaparkan balasan dari Allah SWT,” katanya, Kamis (7/12/2017).

Pihak pemkab sendiri mendukung penuh kehadiran Tagana atau organisasi masyarakat lainnya yang datang untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam. Bahkan bupati mempersilahkan para relawan untuk tidur di pendopo jika diperlukan.

Direktur Tagana Margo Wiyono memberikan apresiasi lebih atas dukungan pemkab untuk Tagana. Menurutnya, bentuk dukungan semacam ini tidak hanya untuk mereka yang bertugas di Kabupaten Pacitan. Tetapi seluruh Indonesia. “Masuk ke Pacitan untuk kerelawanan. Bukan untuk gaya-gayaan,” ucap dia.

Senada dengan bupati, Margo menekankan bahwa kerja Tagana didasari rasa kemanusiaan. “Apa yang kita lakukan untuk kemanusiaan. Jaga kesehatan, jaga kondisi, jaga keselamatan,” pesannya.

Usai memberangkatkan Tagana dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan daerah lain, bupati kemudian mengunjungi lokasi bencana alam di Tremas, Arjosari dan kawasan Kecamatan Nawangan. (arif/nasrul/tarmuji/danang/humaspacitan).

Paska Bencana Aktivitas Warga Berangsur Normal

 

Seminggu setelah bencana alam banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Pacitan, Selasa (28/11/2017) lalu, Bupati Indartato mendatangi pasar Arjowinangun, Selasa (5/12/2017). Selain menyempatkan diri berbincang dengan warga dan pedagang, ia juga melihat langsung kondisi pasar tersebut.

Saat ini aktivitas perdagangan di pasar Arjowinangun telah kembali. Meski belum sepenuhnya pulih. Masih banyak kios-kios pasar yang tutup. Penyebabnya karena tidak sedikit diantara para pedagang ikut menjadi korban banjir. Disisi lain juga masih banyak tumpukan material dan lumpur sisa banjir pada beberapa bagian pasar.

Sempat lumpuhnya akses jalan yang berdampak pada mobilitas barang menciptakan hukum pasar. Sehingga harga-harga kebutuhan merangkak naik. “Jika harga-harga kebutuhan pokok naik tajam dan memberatkan, kita akan menggelar operasi pasar. Saat ini kenaikannya masih dalam taraf wajar,” kata bupati di pasar Arjowinangun.

Telur ayam misalnya. Jika sebelum banjir harganya dikisaran Rp 20 ribu. Kini menjadi Rp 25 ribu perkilogramnya. Demikian pula harga sawi. Dari Rp 5.000 per ikat menjadi Rp 8.000-10.000. (arif/nasrul/sopingi/tarmuji/humaspacitan)

Dua korban di Tulakan masih belum ditemukan

TULAKAN – Pencarian dua korban bencana alam tanah longsor di RT/RW 3/XIII Dusun Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan hingga Minggu (3/12/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB belum membuahkan hasil.

Pencarian hari keempat korban tanah longsor yang diketahui bernama Sirto (70) warga RT/RW 3/XIII Dusun Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan dan istrinya Sipon (65) warga Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan tersebut dilakukan oleh gabungan TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), dari Batalyon 511, polsek Madiun kota dan pimpin langsung oleh AKP waluyo Polsek Tulakan dan kolonel Infantri Bambang dari Koramil Tulakan dan di bantu oleh masyarakat sekitar.

Sulitnya medan menjadi kendala pencarian dua korban yang tertimbun bersama puluhan ekor kambingnya tersebut. Sampai Minggu sore, tim evakuasi belum juga menemukan korban ,hal ini di karenakan rumah korban tertutup batu batu berukuran besar. Sedangkan tim menggunakan alat manual karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi terjadinya bencana.

Selain dua korban, dilaporkan bahwa bencana alam tanah longsor di kawasan tersebut menutup akses jalan menuju Juruk Bangkong dan sempat mengisolir sekitar 15 kepala keluarga.

Pada pencarian hari Minggu (3/12/2017) kemarin, tim SAR gabungan bersama warga berhasil menemukan jenazah seorang korban tanah longsor atas nama Tumadi (77) warga RT/RW 3/I, Dusun Krajan, Desa Mlati Arjosari. Tumadi ditemukan pada Minggu (3/12/2017) sekitar pukul 09.00 WIB.

Komandan Kodim (Dandim) 0801 Pacitan, Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang, mengatakan, hingga saat ini jumlah korban bencana di Pacitan menjadi 25 orang. “Ini update data yang masuk kepada kami,” kata Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang, kepada Pacitanku.com, Sabtu (2/12/2017).

Dandim merinci, dari 25 data korban yang masuk, 6 di antaranya merupakan korban banjir. Mereka terseret arus saat banjir bandang menerjang pada 28 November 2017 kemarin.”Sedangkan untuk 19 orang merupakan korban tanah longsor,” terang Aristoteles.

Menurutnya, dari 6 korban banjir, sebanyak 5 orang berasal dari Kecamatan Pacitan. Sementara 1 orang lainnya merupakan warga Kecamatan Tegalombo.

Sedangkan untuk 19 orang korban tanah longsor, 12 orang di antaranya berasal dari Kecamatan Kebonagung, 3 orang dari Kecamatan Tulakan, 2 orang dari Kecamatan Nawangan serta 2 orang dari Kecamatan Arjosari.

Sementara, Bupati Indartato juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya akan terus berupaya mencari korban hingga ditemukan semuanya.”Kita berupaya semaksimal mungkin bagaimana bisa bertemu, yang kedua bangunan yang terdampak, minimal pemerintah bisa membantu sesuai dengan tepat sasaran, nanti kita koordinasi, misalnya untuk rumah rusak berat dibantu berapa,”katanya.

Ini data korban bencana alam Pacitan

Korban Banjir Meninggal Dunia

  1. Maryati (55) warga Desa Kayen, Pacitan
  2. Mudjiono (57) warga Desa Sukoharjo, Pacitan
  3. Mislan (56) warga  RT/RW 04/II Dusun Winongan, Desa Sirnoboyo Pacitan
  4. Amri Suhastomo (25) warga Kelurahan Bangunsari, Pacitan
  5. Eko Susono (34) warga Kecamatan Wlingi, Blitar

Korban Banjir Belum Ditemukan

  1. Bonatin, (50), warga Dusun Grigak, Desa Kemuning Tegalombo

Korban Tanah Longsor Meninggal Dunia

  1. Darto, warga RT/RW 2/III Dusun Mujing Desa Sanggrahan Kebonagung
  2. Temu (57) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing, Desa Klesem, Kebonagung
  3. Siti Kamilah (22) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing, Desa Klesem, Kebonagung
  4. Parno (73) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  5. Rozak (17) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  6. Kasih (70) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  7. Suginem (68) warga Dusun Ngaren Desa Sanggrahan, Kebonagung
  8. Fitri (3) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing Desa Klesem, Kebonagung
  9. Sutirah (74) warga RT/RW 03/VIII Dusun Wonokeso Desa Losari, Tulakan
  10. Satiman (65) warga Dusun Penggung Desa Penggung, Nawangan
  11. Tumadi (77) warga RT/RW 3/I, Dusun Krajan, Desa Mlati Arjosari
  12. Hero Nyoto Raharjo (53) RT/RW 03/VI Dusun Sibu, Desa Hargosari Tirtomoyo Wonogiri
  13. Siti Khuzaimah, (27) warga RT/RW 01/II Dusun Krajan Desa Karangrejo Arjosari
  14. Katemi warga RT/RW 2/III Dusun Mujing Desa Sanggrahan Kebonagung

Korban Tanah Longsor Belum Ditemukan

  1. Sukesi (41) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem Kebonagung
  2. Yusuf (61) warga Dusun Mantenan Desa Sidomulyo Kebonagung
  3. Inem (60) warga Dusun Mantenan Desa Sidomulyo Kebonagung
  4. Sirto (70) warga RT/RW 3/XIII Dusun Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan
  5. Sipon (65) warga Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan
Proses pencarian korban longsor di Arjosari (Polsek Arjosari )

Bencana Pacitan Rusak 615 Rumah Warga dan 23 Ribu Meter Jalan

PACITAN – Selain 25 korban jiwa, bencana alam banjir dan tanah longsor di Pacitan juga merusak sebanyak 615 rumah warga di delapan kecamatan di Kabupaten Pacitan.

Data yang dihimpun Pacitanku.com dari laman infobencana.pacitankab.go.id, Senin (4/12/2017) menunjukkan bahwa  wilayah dengan kerusakan rumah terbanyak berada di Kecamatan Nawangan dengan 196 rumah, Kebonagung 178 rumah, Ngadirojo 101 rumah, Tegalombo 24 rumah, Tulakan 45 rumah, Punung 42 rumah, Donorojo 21 rumah dan Pringkuku empat rumah.

Selain rumah warga rusak, sepanjang 23.130 meter jalan di Pacitan mengalami kerusakan dari tingkat sedang hingga cukup parah, 820 meter tanggul rusak dan 86 meter jembatan rusak.

Sementara, jumlah korban hingga Senin (4/12/2017) pagi adalah 25 orang meninggal dunia.

“Rekapitulasi jumlah korban Bencal banjir dan tanah longsor terdiri dari enam korban banjir, 19 orang korban tanah longsor, korban yang sudah ditemukan 20 orang dan yang belum ditemukan lima orang,”kata komandan tanggap darurat bencana alam Pacitan Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang kepada Pacitanku.com.

Korban terbanyak, kata Aris, adalah dari Kecamatan Kebonagung sebanayk 12 orang meninggal dunia akibat bencana alam tanah longsor.

“Di Kecamatan Pacitan lima orang meninggal akibat banjir, di Tulakan tiga orang akibat tanah longsor, di Tegalombo satu orang akibat banjir, di Nawangan ada dua orang akibat bencana alam tanah longsor, di Arjosari dua korban akibat tanah longsor,”ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa pencarian dua korban bencana alam tanah longsor di RT/RW 3/XIII Dusun Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan hingga Minggu (3/12/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB belum membuahkan hasil.

Sulitnya medan menjadi kendala pencarian dua korban yang tertimbun bersama puluhan ekor kambingnya tersebut. Sampai Minggu sore, tim evakuasi belum juga menemukan korban ,hal ini di karenakan rumah korban tertutup batu batu berukuran besar. Sedangkan tim menggunakan alat manual karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi terjadinya bencana.

Selain dua korban, dilaporkan bahwa bencana alam tanah longsor di kawasan tersebut menutup akses jalan menuju Juruk Bangkong dan sempat mengisolir sekitar 15 kepala keluarga.

Pada pencarian hari Minggu (3/12/2017) kemarin, tim SAR gabungan bersama warga berhasil menemukan jenazah seorang korban tanah longsor atas nama Tumadi (77) warga RT/RW 3/I, Dusun Krajan, Desa Mlati Arjosari. Tumadi ditemukan pada Minggu (3/12/2017) sekitar pukul 09.00 WIB.

Berikut data korban bencana alam Pacitan yang dirilis laman resmi bencana alam Pacitan infobencana.pacitankab.go.id

Korban Banjir Meninggal Dunia

  1. Maryati (55) warga Desa Kayen, Pacitan
  2. Mudjiono (57) warga Desa Sukoharjo, Pacitan
  3. Mislan (56) warga  RT/RW 04/II Dusun Winongan, Desa Sirnoboyo Pacitan
  4. Amri Suhastomo (25) warga Kelurahan Bangunsari, Pacitan
  5. Eko Susono (34) warga Kecamatan Wlingi, Blitar

Korban Banjir Belum Ditemukan

  1. Bonatin, (50), warga Dusun Grigak, Desa Kemuning Tegalombo

Korban Tanah Longsor Meninggal Dunia

  1. Darto, warga RT/RW 2/III Dusun Mujing Desa Sanggrahan Kebonagung
  2. Temu (57) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing, Desa Klesem, Kebonagung
  3. Siti Kamilah (22) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing, Desa Klesem, Kebonagung
  4. Parno (73) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  5. Rozak (17) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  6. Kasih (70) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem, Kebonagung
  7. Suginem (68) warga Dusun Ngaren Desa Sanggrahan, Kebonagung
  8. Fitri (3) warga RT/RW 02/VII Dusun Blimbing Desa Klesem, Kebonagung
  9. Sutirah (74) warga RT/RW 03/VIII Dusun Wonokeso Desa Losari, Tulakan
  10. Satiman (65) warga Dusun Penggung Desa Penggung, Nawangan
  11. Tumadi (77) warga RT/RW 3/I, Dusun Krajan, Desa Mlati Arjosari
  12. Hero Nyoto Raharjo (53) RT/RW 03/VI Dusun Sibu, Desa Hargosari Tirtomoyo Wonogiri
  13. Siti Khuzaimah, (27) warga RT/RW 01/II Dusun Krajan Desa Karangrejo Arjosari
  14. Katemi warga RT/RW 2/III Dusun Mujing Desa Sanggrahan Kebonagung

Korban Tanah Longsor Belum Ditemukan

  1. Sukesi (41) warga  Dusun Duren RT 03/VI Desa Klesem Kebonagung
  2. Yusuf (61) warga Dusun Mantenan Desa Sidomulyo Kebonagung
  3. Inem (60) warga Dusun Mantenan Desa Sidomulyo Kebonagung
  4. Sirto (70) warga RT/RW 3/XIII Dusun Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan
  5. Sipon (65) warga Dusun Gemah Desa Ketro Tulakan

MASA TANGGAP DARURAT BENCANA BANJIR DAN LONGSOR PACITAN DIPERPANJANG

Pacitan-Kepala BNBP Willem Rampangilei meninjau lokasi banjir dan tanah longsor di Pacitan, Jawa Timur, Sabtu, 2 Desember 2017. Peninjauan dilaksanakan ke sejumlah titik bencana bersama sejumlah pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten Pacitan.

            Dalam keterangannya di Pos Komando Bencana Gedung AKN Pacitan, Willem menyampaikan upaya yang dilakukan dalam penanganan pasca bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pacitan.antara lain mengupayakan dukungan tangki air dari kabupaten sekitar, kebutuhan anak-anak sekolah seperti alat tulis, seragam, sepatu dan lain sebagainya seperti yang diketahui bahwa Senin, 4 Desember 2017 akan ada ujian semester, ucap dia.

            Jadi oleh karena itu, Pemda beserta seluruh aparat yang ada berkonsentrasi memfokuskan pembersihan sekolah-sekolah sehingga diharapkan sudah bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Berikutnya, penanganan masalah kesehatan, baik obat-obatan mauoun tenaga medis sudah cukup. Dalam keterangan lanjutan, Willem menyampaikan jumlah pengungsi hingga  hari ini sejumlah 1879 orang yang tersebar di 8 titik dan cenderung berkurang.

            Upaya yang dilakukan selanjutnya meneruskan pencarian , lalu penanganan pengungsi termasuk pemenuhan kebutuhan. Kemudian melakukan assessment sehingga pemulihan bisa dilakukan secepat-cepatnya sesuai Instruksi Presiden sehingga masyarakat yang terdampak tidak tinggal di situasi darurat terlalu lama.

            Hal terakhir yang disampaikan beliau adalah bahwa situasi atau masa tanggap darurat yang semula akan berakhir tanggal 4 Desember 2017 akan diperpanjang hingga 12 Desember mendatang, tutupnya.(ryt/ag)