Upaya Hukum Bupati untuk perjuangkan pedagang dan masyarakat Bungur

Suasana sidang putusan sengketa tanah pasar Tulakan di PN Pacitan

Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melakukan langkah banding sehubungan dengan sidang putusan terkait sengketa tanah pasar Tulakan yang dilayangkan Joko Prabanto Cs. Kepada Bupati Pacitan kemarin di Pengadilan Negri Pacitan 07/02 yang dimenangkan oleh penggugat. Sidang putusan tersebut dipimpin langsung oleh ketua pengadilan Dwiyanto SH M.Hum.

Wabub Yudi Sumbogo turun langsung untuk memantau jalanya proses sidang yang sempat terlambat hingga empat jam, turut hadir beberapa Pejabat Pemkab, Kepala Desa serta tokoh masyarakat Desa Bungur, puluhan masyarakat dan pedagang pasar Tulakan.

Sumbogo seusai sidang menjelaskan pihaknya yakni Pemerintah Daerah akan melakukan langkah banding, Ia menilai putusan  tersebut belum bisa diterima. Langah banding langsung didaftarkan oleh tim kuasa hukum Bupati Indartato usai putusan yang selesai pukul tiga sore. Sebelumnya rapat terbatas antara Bupati, Sekda dan beberapa pihak terkait sudah dilakukan dengan tujuan menyikapi keputusan hakim jika nanti Pemda kalah dalam proses ini. “tentu kami menghargai keputusan Hakim, namun kami juga memiliki cara untuk memperjuangkan pedagang dan masyarakat Tulakan”. Terang Sumbogo tetap tenang.

Kalimat senada juga disampaikan Novia Wardani anggota tim kuasa hukum tergugat, pihaknya telah melakukan langkah preventif untuk menidak lanjuti keadaan tersebut. Yakni melakukan permohonan sebagai penggugat intervensi ke Majelis Hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. sidang perdana gugatan para pedagang pasar dimulai hari Kamis tanggal 8 Pebruari 2018. “tujuan kami menguatkan gugatan yang dilayangkan pedagang pasar Tulakan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk membatalkan sertifikat milik J. Tasman”. Terangnya kepada Diskominfo seusai sidang.

Novia menambahkan, hakim mengabaikan beberapa fakta dalam persidangan yang dinilai inti, yakni bukti-bukti dan keterangan saksi maupun ahli tidak masuk dalam pertimbangan dalam memutus perkara. Sesuai keterangan saksi ahli Masyhud Ashari SH MKn Dosen tetap hukum Agraria UII Jogjakarta, tentang penyelesaian kasus tersebut bersimpul pada peta 1933, Government Ground atau tanah GG, tanah negara bisa dilihat hanya dari peta. Bahkan keterangan saksi ahli agraria sangat menguatkan pihak tergugat, karena berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan UUPA bahwa Negara harus menjamin fungsi sosial dari penggunaan tanah, dan dalam hal ini tergugat telah melaksanakan kewajibannya dengan membangun pasar di tanah Negara. “Bupati konsisten melakukan upaya hukum jika kalah dalam bentuk apapun, dan sampai upaya hukum manapun, baik kalah sebagian, atau sepenuhnya, kita melakukan banding, juga kasasi, sampai dengan peninjauan kembali”. Imbuhnya.

Kepala Desa Bungur Tri Susila ikut prihatin dengan keputusan Hakim Dwiyanto, Ia mempertanyakan analisa hukum yang digunakan Hakim untuk memutuskan perkara ini, sebab segala bukti membuktikan bahwa tanah tersebut milik Negara. Dan sepanjang sejarah keluarga J. Tasman tidak pernah menguasai tanah tersebut, artinya tidak ada pembayaran pajak dari keluarga J. Tasman. Jika dokumen Desa yakni Leter C dinyatakan hakim salah maka Ia menilai seluruh dokumen dinegara ini salah, karena Leter C adalah dokumen yang nanti diajukan ke BPN.

(Anjar/Budi/Riyanto/Diskominfo)

Senyuman Dibalik Pacitan

SENYUMAN DI BALIK PACITAN

Kuliah Kerja Nyata (KKN)  merupakan suatu kegiatan yang dirasa penting baik bagi mahasiswa maupun bagi masyarakat. Bagi mahasiswa, KKN merupakan aktivitas belajar yang dilakukan lintas keilmuan dalam menggali, menghayati dan mencari solusi masalah-masalah pembangunan masyarakat di pedesaan. Bagi masyarakat desa, KKN diharapkan dapat memberikan semangat baru untuk menggerakkan pembangunan desa. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan dan juga hasil koordinasi dengan pihak pemerintah setempat maka KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya  pada tahun 2018 ini diselenggarakan didaerah-daerah Pacitan seperti Wonodadi Kulon, Wiyoro, Ngadirojo dan kecamatan yang lainnya.

Desa Wonodadi kulon merupakan salah satu dari 18 desa di wilayah Kecamatan Ngadirojo, yang terletak +  5 Km ke arah Timur Laut dari kota Kecamatan,  Desa Wonodadikulon merupakan desa terluas kedua di Kecamatan Ngadirojo dengan luas wilayah seluas 891,88 ha. Iklim Desa Wonodadikulon, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Wonodadi kulon Kecamatan Ngadirojo. Desa wonodadi kulon memiliki banyak sekali keindahan alam yang membuat tempat ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi oleh wisatawan yang terletak di dataran tinggi dan dikelilingi tebing membuat hampir seluruh tempat di Desa ini sangat bagus untuk dijadikan background foto. Kita dapat melihat keindahan Desa Wonodadi kulon dari atas, tepatnya di kawasan Dusun Nglurah. Jika kita berada di kawasan ini, maka kita akan melihat pemandangan indah dibawah Dusun Nglurah. Aktivitas warga, pepohonan yang rindang, ditambah sedikit kabut membuat Desa ini terlihat semakin indah. Jika anda ingin melihat sunset atau sunrise, tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi. Karena di Desa ini sangat sejuk dan jarang sekali asap kendaraan bermotor. Tidak seperti di kota besar yang selalu dipadati oleh rumah, pabrik, hotel, dan asap kendaraan bermotor.

Dusun Nglurah yang letaknya di daerah pegunungan dan bukit atau dataran Tinggi desa Wonodadi kulon Kabupaten Pacitan ini mempunyai suasana yang dingin dan asri. Lingkungan Dusun Nglurah yang masih hijau dan asri dengan jalan yang masih berbatu. Tidak ada sawah di dusun ini, yang terlihat hanyalah kebun, terutama yang mendominasi adalah kebun cengkeh.. Letak geografis Dusun Nglurah yang berada pada dataran tinggi tersebut juga membuat masyarakatnya melakukan budidaya ternak kambing maupun sapi sebagai salah satu mata pencahariannya selain bertani. Sehingga dalam rutinitas warga Dusun Nglurah yang dapat dikatakan jauh dari perkotaan ini menjadikan daya tarik bagi pengunjung yang menginginkan suasana asri dan hijau.

Kehidupan warga Dusun Nglurah yang mayoritas masyarakat desa hidupnya bertumpu pada sektor pertanian maka sulit untuk melepaskan dirinya dari kegiatan pertanian. Hal yang perlu diketahui  bahwa betapa sulit perjuangan yang harus ditempuh oleh masyarakat pedesaan dalam menempuh usahanya untuk menyambung kehidupannya. Sehingga membuat masyarakat Dusun Nglurah pun jauh dari gaya hidup kekinian salah satunya cara masyarakat Dusun Nglurah berinteraksi satu sama lain.

Perbedaan cara interaksi sosial antar warga yang terjadi di Dusun Nglurah dengan masyarakat kota inilah yang menjadi daya tarik bagi saya untuk melakukan dokumentasi dan publikasi. Masyarakat Kota yang rata-rata melakuakn interaksi dengan alat komunikasi seperti handphone. Namun, pada masyarakat ini jarak tidaklah hal yang harus dipermasalahkan. Tidak adanya alat komunikasi pun tidak menjadi halangan untuk tetap berinteraksi satu sama lain. Sikap ramah dan rasa bekerja samanya yang besar membuat mereka saling bekerja-sama.

Nglurah adalah dusun dari Desa Wonodadi Kulon yang memiliki bermacam-macam keunikan baik dari segi tradisi, budaya, potensi alam, makanan dan minuman. Ada suatu kebiasaan unik masyarakat dusun ini dalam menikmati segelas kopi dan sudah berlangsung secara turun temurun yang dinamakan Kopi Cokot. Selama ini masih belum saya temui sebutan kopi cokot di kota lain selain di dusun nglurah, desa wonodadi kulon kabupaten pacitan. Biji kopi asli pacitan diseduh dengan air panas, tanpa ditambahkan gula, lalu diminum dengan memakan gula aren adalah definisi dari kopi cokot. Gula aren atau gula merah adalah gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yang dikeluarkan dari kelapa atau siwalan. Sungguh nikmat sekali, suatu kebiasaan baru untuk menambahkan cara dan resep baru bagi penikmat kopi.

Siapa yang tidak mengenal tempe? Tempe adalah makanan yang terbuat dari biji kedelai yang difermentasi dengan Rhizopus sp. Tidak seperti makanan tradisional lain, tempe merupakan kuliner yang benar benar berasal dari indonesia. Masyarakat dusun nglurah, desa wonodadi kulon pacitan memiliki tempe yang khas dan belum pernah ada di kota lain. Biji kedelai yang lebih besar ukurannya dibandingkan dengan biji kedelai di kota lain serta tempat untuk memfermentasi biji kedelai yang menggunakan gedebok (batang pohon pisang) menjadi ciri khas tempe debog. Karena disimpan dan difermentasikan di dalam debog pisang, masyarakat sekitar menamakan tempe tersebut tempe debog. Dengan hanya membayar uang sebesar 3000 rupiah, maka kita dapat membeli satu batang tempe debog. Harga yang sangat murah untuk mendapatkan makanan yang khas dan sehat untuk dikonsumsi. Tempe debog cocok sekali untuk para pecinta kuliner atau untuk para wisatawan yang ingin membawakan oleh oleh dari dusun nglurah, desa wonodadi kulon kabupaten pacitan.

(Mahasiswa KKN Tematik Pacitan 2018)

Peningkatan Sarana Untuk Dongkrak Minat Baca

Bupati Indartato membuka pasar buku murah di halaman Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah

Pembenahan sarana perpustakaan baik di tingkat sekolah, desa, dan daerah merupakan sebuah proses. Dengan tujuan utama meningkatkan minat baca dan literasi. “Saya ingin menjadikan perpustakaan sebagai pusat referensi dan literasi,” ujar Bupati Indartato ketika membuka pasar buku murah di halaman Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Kamis (8/2/2018).

Menurutnya, upaya itu harus dilakukan secara perlahan dan terus menerus. Karena untuk menumbuhkan inisiatif dan minat tidak dapat dilakukan secara instant. Tetapi paling tidak dengan kondisi perpustakaan yang representatif dan koleksi buku beragam akan mendorong percepatan pencapaiannya. “Setiap sore anak-anak sekolah saya lihat banyak yang datang ke perpustakaan (perpusda). Semoga ini menjadi indikasi positif,” ucap bupati.

Apa yang disampaikan Indartato tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Warito, menurut penelitian, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat dua dari bawah. “Dari 65 negara sampel, kita diurutan 64,” ujar dia.

Dengan kegiatan pasar buku murah, lanjut Warito, diharapkan meningkatkan animo masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Sekaligus meningkatkan minat baca. Terbukti, jumlah kunjungan naik melampaui target. Yakni 109 persen. Jika pada tahun 2016 jumlah pengunjung hanya 14.550 orang, maka setahun berikutnya bertambah menjadi 36.805 orang.

Pada kesempatan itu pula diberikan bantuan dan sedekah buku dari penerbit untuk sekolah, lembaga masyarakat, dan desa. Masing-masing penerima menerima 150 eksemplar. (arif/nasrul/tarmuji taher/sopingi/humaspacitan).

Ciptakan Situasi Aman Jelang Pilkada, IPSI Tandatangai Deklarasi Damai

SIAP DAMAI: Para pesilat dari sejumlah perguruan hadir di pendopo kabupaten. Mereka bersedia mewujudkan situasi aman menjelang Pilkada Jatim 2018. (Foto: Rizky Mahendra)

Pacitan – Jelang Pemilu Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur 2018, seluruh organisasi perguruan silat di Pacitan menyatakan sikap bersama mewujudkan perdamaian. Pernyataan tersebut tertuang dalam deklarasi damai yang penandatanganya disaksikan langsung Bupati Indartato, Kapolres, serta Kasdim Pacitan.

Sebanyak 11 perguruan silat tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) berikrar bersama akan menjalin persaudaraan, menghilangkan rasa permusuhan, saling menghormati dan menjaga ketertiban. Menjaga nama baik masing masing mewujudkan situasi aman serta mengedepankan koordinasi dan komunikasi.

Kapolres Pacitan AKBP Setyo Koes Heriyatno mengapresiasi deklarasi damai oleh organisasi perguruan silat tersebut. Dia berharap andil para pesilat dapat menciptakan situasi kondusif di tengah masyarakat terutama jelang Pilkada.

“Pencak silat bukan sekadar bela diri namun juga pembelajaran diri,” katanya dalam acara Pemantapan Nilai Kebangsaan dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban jelang Pilkada Jatim di Pendopo Kabupaten, Kamis (8/02/18) pagi.

Kapolres juga mengimbau anggota perguruan yang mayoritas generasi muda dapat mengimplementasikan seluruh ajaran dari para guru dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dengan begitu mereka tidak mudah terprovokasi kabar atau berita bohong yang berujung pada perselisihan.

Tidak dimungkiri lagi kata kapolres, di era tekhnologi informasi kabar atau berita bohong mudah tersebar. Penggunaan media sosial harus bijak sesuai dengan aturan agar tidak terjadi ujaran kebencian. Organisasi perguruan silat harus menjadi pelopor perdamaian serta sadar dan bertanggungjawb sebagai warga negara yang baik.

Dalam pesannya kapolres minta semua pihak agar menjaga keamanan dan ketertiban. Jika mendapai kabar yang berkembang di media sosial dan bernada provokatif agar tidak disebarkan.

“Kedepankan koordinasi dan klarifikasi agar tidak memunculkan konflik berkepanjangan,” ujarnya mewanti-wanti. (riz/ps)

Pak In: Akses Pangan Sangat Penting

Pacitan – Bupati Indartato tekankan pentingnya akses pangan. Hal ini dimaksudkan agar pangan yang tersedia dapat sampai ketangan masyarakat. Baik dari segi harga maupun penyaluran.

“Harus ada pengawasan bagi pemanfaatan pangan, dengan demikian kasus dan angka gizi buruk dapat ditekan”, ungkap Bupati Indartato saat membuka rapat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan di gedung Karya Dharma, Rabu (7/2/2018).

Lebih lanjut bupati menjelaskan pangan merupakan hak asasi . Untuk itu jika tidak tercukupi, akan berdampak luas dan memicu bencana kelaparan. Sebaliknya dengan pangan yang cukup akan menghasilkan sumberdaya manusia unggul.

“ Ketersedian pangan merupakan hak dasar manusia yang harus terpenuhi. Sehingga menjadi salah satu kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaannya”, lanjut bupati.

Lebih lanjut Bupati Indartato menyatakan, meski masalah pangan ujung tombak ada pada Dinas Pertanian namun tidak serta merta bertanggung jawab secara keseluruhan. Perlu kerja bareng dengan instansi terkait lainnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Sebab dalam proses pemenuhannya juga memerlukan sarana pendukung. Seperti akses jalan, pengairan, atau pasar. (riz/ps)

Pangan Adalah Hak Asasi Manusia

Bupati Indartato pada acara repat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan di gedung Karya Dharma (HumasPacitan)

Ketersedian pangan merupakan hak dasar manusia yang harus terpenuhi. Sehingga menjadi salah satu kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaannya. Seperti yang diamanatkan dalam undang-undang. “Jika kita kaitkan dengan undang-undang 18/2012 tentang Pangan, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan,” kata Bupati Indartato pada acara repat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan di gedung Karya Dharma, Rabu (7/2/2018).

Ketiga hal tersebut adalah ketersediaan pangan, akses, dan pemanfaatannya. Sisi ketersediaan misalnya. Meski Dinas Pertanian sebagai ujung tombak, tetapi tidak serta merta bertanggung jawab secara keseluruhan. Perlu kerja bareng dengan instansi terkait lainnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Sebab dalam proses pemenuhannya juga memerlukan sarana pendukung. Seperti akses jalan, pengairan, atau pasar. “Ketersediaan pangan merupakan tanggung jawab kita bersama. Pak Pamuji (Kepala Dinas Pertanian) tidak bisa bekerja sendirian. Karena menurut teori, Dinas Pertanian hanya 32 persen. Airnya, jalannya, modalnya, tergantung dinas lain dan perbankan,” ucap Indartato.

Mengenai akses pangan, bupati ingin agar pangan yang tersedia dapat sampai ketangan masyarakat. Baik dari segi harga maupun penyaluran. Sedangkan untuk pemanfaatannya, ia menegaskan harus diberikan pengawasan. Dengan demikian kasus dan angka gizi buruk dapat ditekan.

Lebih lanjut bupati menjelaskan mengapa pangan merupakan hak asasi ?. Karena jika tidak tercukupi, akan berdampak luas dan memicu bencana kelaparan. Tidak itu saja. Dengan pangan yang cukup akan mampu menghasilkan sumberdaya manusia unggul dan mumpuni sebagai bagian dari regenerasi bangsa. “Ketahanan pangan merupakan salah satu unsur ketahanan nasional. Seandainya tidak tercukupi dapat memicu instabilitas negara,” jelasnya. (humaspacitan/DiskominfoPacitan).

Pelatihan Paralegal Kominfo Harapkan Generasi Cerdas Iptek

Kominfo Kabupaten Pacitan melakukan sosialisasi Informasi Teknologi dan Media Sosial yang di hadiri ratusan peserta

Dalam rangka Pelatihan paralegal bagi lembaga Desa Gunungsari Dinas Kominfo kabupaten Pacitan selasa 30/01 kemarin mengisi kegiatan dengan memberikan informasi tentang aturan kepada masyarakat mengenai bagaimana menggunakan media sosial Medsos. Dikarenakan  peraturan  media sosial ada di undang-undang No.11 tahun 2008 tentang ITE. Sosialisasi tersebut di hadiri oleh Plt Kepala Desa Gunungsari, masyarakat desa yang berjumplah duaratus perserta, tokoh masyarakat, serta organisasi pemuda Desa Gunungsari. Selanjutnya pihak Kominfo memaparkan bagaimana mengetahui benar tidaknya suatu berita di media sosial. Diharapkan kedepan masyarakat jeli memilih laman yang terpercaya, membaca berita terkait isu yang masih berhubungan serta mengetahui sumber dan menempatkan diri sebagai pembaca kratif dan kritis.

Supriono, S.sos, MM selaku kepala bidang Teknologi Informasi Kominfo kabupaten Pacitan menjelasakan, Saat ini ada banyak sisi positif penggunaan alat komunikasi, semakin lama semakin canggih dan praktis untuk dipergunakan sehari hari. “kita harus memfilter  seluruh informasi yang masuk, artinya masyarakat di tekankan dapat membatasi dan meyaring informasi dalam penggunaan medsos. Tujuanya untuk mengantisipasi berita-berita yang berbau sara dan sebagainya”. Paparnya seusai sebagai narasumber.

Dengan adanya sosialisasi, masyarakat terutama Pacitan diharapkan menjadi pembaca atau obyek yang cerdas dalam menghadapi perkembangan teknologi saat ini. “saya menghimbau kepada masyarakat agar dewasa dalam menggunakan Medsos, sehingga dampak positif dari TI dalam hal ini Medsos dapat kita peroleh maksimal”. Pungkas Supriono menutup wawancara.

(Anjar/Budi/Riyanto/Kominfo)

Semangat dari Pemuda Menjadi Bekal Pembangunan

Bupati Indartato ketika memberikan sambutan pada Konsolidasi Pemuda Pacitan dengan Pemkab Pacitan di gedung Karya Dharma

Semangat dan peran para pemuda Kabupaten Pacitan diharapkan dapat menjadi bekal dan modal membangun daerah. Hal itu disampaikan Bupati Indartato ketika memberikan sambutan pada Konsolidasi Pemuda Pacitan dengan Pemkab Pacitan di gedung Karya Dharma, Jum’at (2/2/2018) siang. “Syukur alhamdulillah pemuda Pacitan masih memiliki energi, memiliki semangat. Sebagai modal memajukan dan membangun daerahnya,” katanya.

Bupati sendiri menyambut baik hajatan semacam itu. Sebagai salah satu cara mencari pemikiran, serta mempersatukan persepsi membangun kampung halaman agar lebih baik dimasa mendatang. Sebab dari pemuda, inisiatif dan gagasan muncul dan membuahkan inovasi. Untuk kemudian bersama-sama pemerintah daerah dalam mewujudkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Indartato menjelaskan, untuk kaum muda sendiri pihaknya telah memberikan wadah. Yakni melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora). Tidak itu saja, guna menjamin akses pendidikan untuk warga kurang mampu, melalui program Grindulu Mapan diberikan pula bantuan untuk mahasiswa berprestasi yang tengah mengenyam pendidikan di luar daerah. “Pemerintah daerah monggo dikritisi. Demi kebaikan, agar maju dan memberi manfaat untuk masyarakat. Melalui pemikiran pemuda-pemuda yang bersifat membangun,” tandasnya.

Ketua Pemuda Untuk Pacitan (PETUPA) Prasetya Aji menyampaikan, bahwa organisasi pimpinannya itu secara rutin setiap tahun menggelar Youth Alliance Rendezvous sejak tahun 2014. Diikuti oleh berbagai kelompok pemuda Kabupaten Pacitan. Sebagaimana tujuan awal PETUPA diantaranya sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. “Sehingga pemuda Pacitan dapat bergotong royong untuk daerah. Memecahkan masalah bersama-sama,” tuturnya.

Selain diikuti kelompok pemuda dan mahasiswa Pacitan di Yogyakarta, Ponorogo, maupun daerah lain, Konsolidasi Pemuda Pacitan dengan Pemkab Pacitan juga dihadiri Dandim 0801 Letkol (Kav) Aristoteles HN Lawitang. Perwira menengah tersebut ikut didapuk menjadi narasumber untuk peserta. (arif/nasrul/tarmuji taher/pranoto/humaspacitan).