Safari Ramadan Perdana, Bupati Sambangi Donorojo

Bupati Pacitan menyerahkan bantuan secara Simbolis. (Foto : Budi Diskominfo Pacitan)

Memasuki bulan Ramadan, Bupati Indartato dengan jajarannya melaksanakan safari. Kali ini lokasi perdana yang dipilih adalah Masjid Al Falah di Dusun Lemahbang, Desa Belah, Donorojo, Senin (21/5/2018). Pada kesempatan ini pula bupati menyerahkan bantuan ke warga kurang mampu dan tempat ibadah. Diantaranya paket sembako, karpet, Al Quran dan buku-buku agama. Sebanyak delapan masjid juga mendapatkan bantuan yang nilainya beragam. Antara Rp 15-50 juta. Selain itu diserahkan pula bantuan untuk rabat jalan ke makam Dusun Kendal, Desa Sendang senilai Rp 50 juta.

Saat memberikan sambutan bupati menyampaikan jika kedatangannya sebagai bentuk silaturahmi di bulan Ramadan. Sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah memajukan kehidupan masyarakat. Yang ditandai dengan tiga hal. Derajat kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Tetapi hal itu tidak dapat terwujud tanpa bantuan pihak lain. Seperti pengusaha misalnya. Kehadirannya dibutuhkan sebagai pembuka jalan terciptanya lowongan pekerjaan.
Tidak itu saja. Pembangunan tidak hanya pada fisik saja. Tetapi juga mental. “Salah satunya melalui para ulama yang membentuk moral dan keimanan, melalui ajaran-ajaran agama,” kata Bupati Indartato.

Selain bupati, kegiatan safari Ramadan perdana di tahun 1439 H ini juga dilaksanakan Wakil Bupati Yudi Sumbogo. Tepatnya diwilayah Kecamatan Bandar. (arif/nasrul/shopingi/tarmuji/danang/humaspacitan/diskominfopacitan)

Sepakat Jaga Keamanan Bulan Ramadhan

Penandatanganan Bupati Indartato, Kapolres Pacitan AKBP Setyo K Heriyatno, Dandim 0801 Letkol (Kav) Aristotelas HN Lawitang, pemangku kebijakan terkait, dan pelaku usaha di gedung Karya Dharma, Selasa (15/5/2018).

Kesepakatan untuk menjaga keamanan dan ketertiban bulan Ramadhan ditandatangani Bupati Indartato, Kapolres Pacitan AKBP Setyo K Heriyatno, Dandim 0801 Letkol (Kav) Aristotelas HN Lawitang, pemangku kebijakan terkait, dan pelaku usaha di gedung Karya Dharma, Selasa (15/5/2018). Tujuannya untuk menciptakan ketenangan dan keamanan selama bulan suci tersebut. “Semua elemen bersama-sama harus menciptakan kondisi yang kondusif,” kata bupati.

Meski demikian sikap antispatif juga harus dikedepankan. Utamanya terhadap potensi dan situasi yang mengancam kondisi keamanan masyarakat. Baik berupa kejahatan konvensional maupun lainnya.

Menurut bupati sampai saat ini stok pangan menghadapi bulan Ramadhan diwilayahnya cukup. Baik daging sapi, ayam, dan lainnya. “Stok beras di bulog cukup untuk empat bulan ke depan. Mudah-mudahan tidak terjadi operasi pasar,” terangnya.

Terkait kondisi keamanan, Kapolres AKBP Setyo K Heriyatno menjelaskan berbagai kemungkinan munculnya tindak kejahatan saat bulan suci tersebut. Pihaknya juga telah melakukan pemetaan dititik-titik rawan kejahatan. “Sasaran pencurian adalah rumah yang ditinggal pemilik. Kemungkinan pelaku dari luar daerah, sindikat, atau warga lokal sendiri,” jelas dia.

Mengenai jam operasional hiburan malam selama sebulan kedepan, orang nomor satu dijajaran kepolisian Pacitan ini menyarankan agar pemkab membuat kesepakatan pembatasan jam operasional. Muaranya tentu untuk menghindari permasalahan dikemudian hari. “Tidak ada sweeping di Pacitan. Hukum harus ditegakkan. Jika ada sweeping, akan berhadapan dengan saya,” tegasnya.

Untuk menghadapi arus mudik dan balik lebaran nanti, rencananya Polres Pacitan akan mendirikan sembilan pos pantau. Diantaranya di Arjowinangun, Punung, dan pertigaan Bliruk. “Kita kedepankan upaya preventif dulu,” tandas Kapolres. (arif/nasrul/tarmuji taher/humaspacitan/diskominfopacitan).

Jelang Ramadan, Bupati Sidak Pasar.

Bupati Indartato bersama jajarannya mendatangi pasar Arjowinangun dan Minulyo

Sehari menjelang bulan Ramadan, Bupati Indartato bersama jajarannya mendatangi pasar Arjowinangun dan Minulyo. Kedatangannya itu untuk memastikan ketersediaan stok bahan pangan. “Saya bersama pak wabub dan tim melihat bersama-sama ketersediaan bahan pangan dan harga-harga bahan pokok di Kabupaten Pacitan,” katanya ketika berada di Pasar Minulyo, Baleharjo, Rabu (16/5/2018). Di Pasar Minulyo, orang nomor satu di jajaran pemerintahan Kabupaten Pacitan ini berinteraksi dengan pedagang dan pembeli yang datang. Terkait kondisi bahan pangan maupun komoditas lain. Hasilnya, diketahui ada sejumlah jenis item mengalami kenaikan harga karena adanya pertambahan permintaan.

Menurut bupati nilai kenaikan harga barang kebutuhan pokok sendiri masih dalam taraf wajar. Meski ia sebenarnya tidak menginginkan ada operasi pasar, tetapi jika hal tersebut harus dilakukan, maka pemkab juga akan menggelarnya. Seperti diketahui kenaikan harga kebutuhan pokok akan kembali terjadi mulai pertengahan Ramadhan sampai menjelang lebaran nanti. “Ada kenaikan harga daging ayam dan daging sapi. Untuk daging sapi hampir seragam,”jelas dia.

Sampai saat ini stok beras di gudang Bulog, Kelurahan Sidoharjo diperkirakan masih cukup untuk empat bulan ke depan. (arif/nasrul/tarmuji taher/danang/humaspacitan/diskominfopacitan)

Gayengnya ‘Megengan’ Jelang Ramadhan di Pringkuku Bareng Bupati Pacitan

Warga di Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku Megengan bersama Bupati Pacitan pada Senin (14/5/2018). (Foto: Dok Humas Pemkab Pacitan)

PRINGKUKU – Beberapa hari jelang bulan Ramadhan, puluhan warga di Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku menggelar tasyakuran jelang Ramadhan atau yang akrab dengan nama Megengan bersama Bupati Pacitan pada Senin (14/5/2018).

Dalam kegiatan rutin jelang Ramadhan tersebut, hadri juga Bupati Indartato, Sekretaris Daerah Suko Wiyono, mantan Bupati Gepeng Sudibyo, para kepala dinas dan bagian, anggota DPRD, serta kepala wilayah setempat.

Camat Pringkuku Sudaryono mengatakan kegiatan tersebut sebagai representasi ukhuwah islamiyah. Selain itu sebagai bentuk persiapan bagi umat Islam menyambut bulan suci Ramadhan. “Semoga kita nanti mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan,” katanya.

Megengan sendiri merupakan salah satu tradisi masyarakat ketika menyambut bulan istimewa itu. Dimana dalam kurun waktu satu bulan kedepan umat Islam akan menghadapi cobaan serta meningkatkan ibadah dan berlomba-lomba berbuat kebajikan.

Sementara, Mantan bupati Pacitan Gepeng Sudibyo mengungkapkan, model megengan bersama ini menjadi upaya untuk mendekatkan diri pemimpin dan rakyatnya.

“Yang harus dipahami semua, ini adalah manjing ajar ajer. Antara bupati dan warga,” ungkap dia.

Sementara, Bupati Indartato menyampaikan megengan tidak dilarang dalam agama. Karena menjadi media menata hati dan mengendalikan hawa nafsu saat menjalankan ibadah puasa.

“Kegiatan ini juga sebagai perwujudan persatuan dan kesatuan. Dengan bersatu tujuan kita bersama dapat tercapai,” tuturnya.

Pada kesempatan ini pula diserahkan santunan asuransi ketenagakerjaan dan paket sembako bagi warga kurang mampu. (Humas Pemkab Pacitan/Diskominfo Pacitan)

Selamat, Pacitan Peringkat 33 Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan

Indartato menerima penghargaan Kemendagri. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, SURABAYA – Kabupaten Pacitan meraih penghargaan nasional bidang penyelenggaraan pemerintahan.

Sesuai peringkat dan status kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang dirilis Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Pacitan menduduki peringkat ke-33 dari 397 Kabupaten se Indonesia. Tertinggi diantara kabupaten-kabupaten lain se-eks Karesidenan Madiun.

“Semoga raihan ini menjadi motivasi dan penyemangat untuk kinerja lebih baik melayani masyarakat,” kata Bupati Indartato usai menerima penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang diserahkan Gubernur Soekarwo pada upacara peringatan Hari Otonomi Daerah XXII tingkat Jatim di Surabaya, Jumat (27/4/2018).

Dikatakan Indartato, apa yang telah diraih diwaktu lalu, saat ini, dan mungkin dimasa yang akan datang adalah hasil kerja bersama. Antara seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat. Tanpa koordinasi dan partisipasi yang baik, mustahil apresiasi dari pemerintah lebih atas diraih.

Sementara, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyampaikan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kunci sukses dalam pembangunan di wilayahnya, yang kemudian dikembangkan secara lebih luas.

“Artinya, pemimpin di Jatim bukan hanya diartikan sebagai Gubernur dan Wagub, tapi juga seperti Forkopimda, pimpinan dewan, pimpinan partai politik, tokoh agama serta tokoh masyarakat,” katanya.

Menurut dia, para pemimpin tersebut harus kompak dan bersinergi karena memegang peranan penting dalam organisasi dan memiliki prosentase sama atau lebih dari 50 persen.

Proses kepemimpinan yang baik, kata dia, adalah kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan untuk kemajuan daerah dan instansinya.

“Untuk itu, masyarakat yang dipimpin perlu dan harus ikut diajak bicara mengenai apa yang disenangi dan cocok di dalam kehidupan,” ucap Pakde Karwo, sapaan akrabnya.

Sedangkan, lanjut dia, kunci sukses sebagai pemimpin yang baik harus belajar dari masyarakat dan selalu dinamis mengikuti kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan warga.

Sementara itu, pada kesempatan sama, orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut menyerahkan penghargaan kepada Juara Sinergitas Kinerja Kecamatan (SKK) tingkat Jatim 2017, dan bupati/wali kota penerima penghargaan kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah secara nasional.

Sebagai juara SKK Jatim tahun 2017, berurutan dari juara pertama hingga harapan dua, yaitu Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, Kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik Kecamatan Benowo Kota Surabaya, kemudian Kecamatan Sumber Malang Kabupaten Situbondo serta Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban.

Berikutnya, penerima penghargaan kinerja terbaik tingkat kabupaten adalah Bupati Trenggalek, Sumenep, Tuban, Nganjuk, Mojokerto, Magetan Jombang, Probolinggo, Ngawi, Bojonegoro, Blitar, Lamongan, Pacitan, Sidoarjo, Tulungagung, Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Trenggalek, Gresik dan Madiun.

Kemudian, penerima penghargaan kinerja terbaik tingkat Kota yakni Kota Madiun, Probolinggo, Surabaya, Blitar, Kediri serta Malang. (Humas/RAPP002)