Hama Wereng Masih Jadi Momok Wujudkan Ketahanan Pangan di Pacitan

WUJUDKAN KETAHANAN PANGAN. Sosialisasi Pembinaan Ketahanan Pangan Kodim 0801/Pacitan Ta. 2018 pada Senin (4/6/2018) di Makodim Pacitan. (Foto: Wahyu Sapto Hartono/Pacitanku.com)

PACITAN – Hama wereng masih menjadi salah satu momok dalam upaya menuju pencapaian ketahanan pangan melalui Lomba Pertanian di Kabupaten Pacitan.

 Hal tersebut disampaikan oleh penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan saat sosialisasi pembinaan ketahanan pangan Kodim 0801/Pacitan pada Senin (4/6/2018) di aula Makodim 0801/Pacitan.

Penyuluh Dinas Pertanian Sukro Wibisono mengatakan bahwa berdasarkan pengamatan di lapangan oleh Dinasnya, pelaksanaan lomba pertanian di Pacitan menemui banyak kendala, salah satunya hama. “Dari pemantauan dinas pertanian,  sampai saat ini dari perwakilan beberapa kecamatan, masih banyak kendala di lapangan, mulai hama wereng sampai tikus dan burung pipit,”katanya.

Dia mengatakan bahwa dalam pelaksanaan Lomba Pertanian yang digelar Kodim 0801/Pacitan untuk mewujudkan ketahanan pangan, pihaknya mengatakan bahwa akan dinilai hasilnya yaitu nilai tertinggi adalah dinilai dari jumlah gabah yang dihasilkan. “Hama tersebut adalah suatu tantangan kita kedepan dalam berkarya di lapangan sehingga kedepan akan menghasilkan produksi yang lebih besar,”katanya lagi.

Lebih lanjut, Sukro meminta kepada para pemuda tani tidak terlalu mengharapkan hadiah dari lomba tersebut.“Tetapi mari kita serap ilmu yang sudah di ajarkan oleh pembina. Karena tujuan kita adalah untuk menyerap minat pemuda untuk terjun dan mau bertani guna menyukseskan program ketananan pangan dari pemerintah,”tukasnya.

Untuk diketahui, Kodim 0801/Pacitan bekerja sama dengan Dinas Pertanian Pacitan menggelar lomba tanam padi khusus untuk pemuda Pacitan berusia 17 tahun hingga maksimal 30 tahun. Lomba ini diikuti oleh 120 pemuda tani yang berasal dari seluruh kecamatan di Pacitan.

Lomba ini membutuhkan waktu empat bulan, sejak Maret sampai dengan bulan Juni 2018, yang dimulai dengan presentasi pertanian sampai dengan hasil panen. Selain itu, untuk lahan yang digunakan adalah lahan di area Kodim 0801/Pacitan.

(Wahyu Sapto Hartono/Dwi Purnawan/Diskominfopacitan)

Pangan Adalah Hak Asasi Manusia

Bupati Indartato pada acara repat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan di gedung Karya Dharma (HumasPacitan)

Ketersedian pangan merupakan hak dasar manusia yang harus terpenuhi. Sehingga menjadi salah satu kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaannya. Seperti yang diamanatkan dalam undang-undang. “Jika kita kaitkan dengan undang-undang 18/2012 tentang Pangan, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan,” kata Bupati Indartato pada acara repat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan di gedung Karya Dharma, Rabu (7/2/2018).

Ketiga hal tersebut adalah ketersediaan pangan, akses, dan pemanfaatannya. Sisi ketersediaan misalnya. Meski Dinas Pertanian sebagai ujung tombak, tetapi tidak serta merta bertanggung jawab secara keseluruhan. Perlu kerja bareng dengan instansi terkait lainnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Sebab dalam proses pemenuhannya juga memerlukan sarana pendukung. Seperti akses jalan, pengairan, atau pasar. “Ketersediaan pangan merupakan tanggung jawab kita bersama. Pak Pamuji (Kepala Dinas Pertanian) tidak bisa bekerja sendirian. Karena menurut teori, Dinas Pertanian hanya 32 persen. Airnya, jalannya, modalnya, tergantung dinas lain dan perbankan,” ucap Indartato.

Mengenai akses pangan, bupati ingin agar pangan yang tersedia dapat sampai ketangan masyarakat. Baik dari segi harga maupun penyaluran. Sedangkan untuk pemanfaatannya, ia menegaskan harus diberikan pengawasan. Dengan demikian kasus dan angka gizi buruk dapat ditekan.

Lebih lanjut bupati menjelaskan mengapa pangan merupakan hak asasi ?. Karena jika tidak tercukupi, akan berdampak luas dan memicu bencana kelaparan. Tidak itu saja. Dengan pangan yang cukup akan mampu menghasilkan sumberdaya manusia unggul dan mumpuni sebagai bagian dari regenerasi bangsa. “Ketahanan pangan merupakan salah satu unsur ketahanan nasional. Seandainya tidak tercukupi dapat memicu instabilitas negara,” jelasnya. (humaspacitan/DiskominfoPacitan).