Pemerintah Kabupaten Pacitan

Pola Asuh Jadi Penyebab Utama Stunting di Pacitan, Lampaui Faktor Kemiskinan dan Penyakit

PACITAN – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Pacitan kini semakin terarah setelah pemerintah daerah mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi tingginya kasus gangguan pertumbuhan pada anak. Berdasarkan data terbaru, pola asuh keluarga menjadi penyebab terbesar stunting di Pacitan, bahkan jauh melampaui faktor kemiskinan maupun penyakit infeksi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menyampaikan bahwa pola asuh berkontribusi sebesar 85,9 persen terhadap kasus stunting yang terjadi di daerah tersebut. Sementara itu, penyakit infeksi menyumbang 9,4 persen dan faktor kemiskinan hanya sebesar 4,7 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa stunting tidak selalu identik dengan kondisi ekonomi keluarga yang rendah. Sebaliknya, kualitas pengasuhan dan perhatian orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Pola Asuh Menjadi Faktor Kunci Pencegahan Stunting

Baca Juga  Buka Musrenbang RKPD Kabupaten Pacitan 2027 Bupati Pacitan Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Pacitan Kuat Dan Merata

Menurut Khemal, masih banyak masyarakat yang menganggap stunting hanya disebabkan oleh kekurangan makanan atau keterbatasan ekonomi. Padahal, pola pengasuhan yang kurang tepat juga dapat menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Pola asuh yang dimaksud mencakup pemberian makanan bergizi, pemantauan kesehatan anak secara rutin, kebersihan lingkungan, hingga perhatian terhadap kebutuhan emosional dan perkembangan anak. Apabila aspek-aspek tersebut tidak terpenuhi dengan baik, risiko stunting akan semakin meningkat.

Karena itu, pemerintah daerah menilai edukasi kepada orang tua menjadi langkah penting yang harus terus diperkuat. Program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dinilai mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengasuhan yang berkualitas.

“Upaya tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui SOTH serta penguatan fungsi posyandu agar masyarakat semakin memahami pentingnya pengasuhan yang tepat bagi tumbuh kembang anak,” ujar Khemal.

Baca Juga  Ekspedisi Merah Putih Resmi Digelar Bupati Berharap Akan Angkat Pacitan Ke Panggung Dunia

Penyakit Infeksi Masih Menjadi Ancaman

Selain faktor pola asuh, penyakit infeksi juga menjadi penyebab yang perlu mendapatkan perhatian serius. Penyakit yang dialami anak dalam jangka waktu tertentu dapat menghambat penyerapan nutrisi sehingga berdampak pada pertumbuhan fisik.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah daerah mendorong pelaksanaan skrining secara masif terhadap balita yang terindikasi stunting. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui penyebab spesifik yang memengaruhi kondisi kesehatan anak sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Pemerintah juga menilai penguatan layanan poli rujukan stunting di RSUD Darsono sangat penting. Dengan layanan yang lebih optimal, proses diagnosis dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat serta tepat sasaran.

Faktor Kemiskinan Tetap Perlu Diatasi

Meski persentasenya lebih kecil, faktor kemiskinan tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Pemerintah daerah menilai pemenuhan jaminan kesehatan melalui BPJS, penyediaan sanitasi yang layak, serta akses terhadap makanan bergizi harus terus diperkuat.

Baca Juga  Wabup Gagarin Serahkan Kurban Sapi Dari Presiden RI Dan Bupati Pacitan

Ketersediaan lingkungan sehat dan dukungan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan keluarga yang mampu mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Komitmen Pacitan Menuju Generasi Bebas Stunting

Sebagai bentuk keseriusan dalam menekan angka stunting, seluruh program dan kegiatan lintas sektor akan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan dan penganggaran daerah.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, serta masyarakat. Dengan sinergi yang berkelanjutan, Kabupaten Pacitan optimistis dapat menciptakan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan bebas dari stunting di masa mendatang. (pemkabpacitan/berbagai sumber)