Pemerintah Kabupaten Pacitan

725 Tukik Dilepas ke Laut Pacitan, Wujud Nyata Kolaborasi Mahasiswa IPB University dan Warga Jaga Penyu Langka

HADIWARNO – Semburat senja di atas Pantai Taman, Desa Hadiwarno, Kabupaten Pacitan berubah keemasan. Sabtu (25/7/2026), tepat pukul 17.00 WIB, warga dan wisatawan yang berkumpul di bibir pantai menyaksikan pemandangan yang jarang mereka lihat: 725 ekor tukik, anak penyu yang baru menetas, berjalan tertatih-tatih menuju air, lalu menghilang satu per satu ditelan ombak.

Bukan sekadar tontonan sore yang menghibur, pelepasan ratusan tukik ini adalah buah kerja sama panjang antara Kelompok Masyarakat Konservasi Penyu untuk Wisata (KMKPW) dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNT-I) IPB University 2026. Dua pihak ini bahu-membahu menjaga salah satu kekayaan alam paling berharga yang dimiliki Pacitan: Pantai Taman, satu-satunya tempat pendaratan penyu alami di seluruh wilayah kabupaten ini.

Baca Juga  Wabup Gagarin Serahkan Kurban Sapi Dari Presiden RI Dan Bupati Pacitan

Selama bertahun-tahun, tugas berat menjaga pantai ini nyaris seluruhnya dipikul sendiri oleh Pak Yanto, pengelola KMKPW Pantai Taman. Baginya, pesisir ini bukan sekadar tempat kerja, melainkan rumah bagi satwa-satwa langka yang keberadaannya kian terancam.

“Berdasarkan pemantauan kami, dari total penyu yang mendarat di Pantai Taman, sekitar 90 persen merupakan jenis Penyu Lekang, sementara 10 persen sisanya adalah Penyu Belimbing,” tutur Pak Yanto.

Dua jenis penyu itu bukan tamu biasa. Keduanya termasuk satwa langka yang kian sulit ditemukan di banyak pantai lain, sehingga kehadiran mereka di Pacitan seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama warganya.

Sayangnya, kebanggaan ini masih dibayangi ancaman nyata. Telur-telur penyu kerap diburu untuk dikonsumsi atau diperjualbelikan, sebuah praktik yang perlahan bisa memutus siklus hidup penyu di pantai ini. Di sinilah mahasiswa KKNT-I IPB University turun tangan, menggencarkan edukasi kepada wisatawan dan warga sekitar bahwa penyu adalah satwa yang dilindungi undang-undang. Mengambil telurnya, seringan apa pun alasannya, sama saja dengan merampas warisan alam yang menjadi kebanggaan Pacitan.

Baca Juga  Peringati Tiga Momen Besar, Pemkab Pacitan Tegaskan Komitmen Jaga Tunas Bangsa hingga Transformasi Pendidikan

Kehadiran para mahasiswa ini membawa manfaat lebih dari sekadar tenaga tambahan. Selain ikut turun langsung dalam proses evakuasi dan pelepasan tukik, mereka juga membawa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk membantu Pak Yanto dan KMKPW menata pengelolaan pantai serta mengembangkan potensi wisatanya agar lebih tertata dan berkelanjutan.

Kini, giliran masyarakat Pacitan untuk mengambil peran. Menjaga penyu tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada Pak Yanto dan KMKPW seorang diri. Setiap warga, wisatawan, dan siapa pun yang mencintai pesisir ini punya andil untuk ikut mengawasi, menegur bila ada yang mengganggu penyu bertelur, dan menolak segala bentuk jual beli telurnya.

Pemerintah, akademisi, pelaku wisata, dan seluruh elemen masyarakat perlu bergandengan tangan mewujudkan hal ini. Sebab pelepasan 725 tukik sore itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah janji — bahwa laut Pacitan akan selalu punya ruang aman untuk penyu-penyu itu pulang, bertelur, dan mewariskan kehidupan baru di pesisir yang sama.

Baca Juga  Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Bupati Pacitan Ajak Seluruh Elemen Jaga Kebersihan Pantai Melalui Aksi "Kurve Indonesia ASRI"

Oleh: KKNT-Inovasi IPB University 2026