Pemerintah Kabupaten Pacitan

Jelang Revalidasi UNESCO 2027, Tiga Wilayah Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Geopark Gunung Sewu

PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan bersama Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunungkidul memperkuat koordinasi pengelolaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark menjelang proses Revalidasi III UNESCO pada 2027.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerja sama Pacitan–Wonogiri–Wonosari (Pawonsari) serta pengelolaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Kegiatan berlangsung di halaman belakang (halking) Rumah Dinas Bupati Pacitan, Sabtu (24/10/2026).

Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan Heru Wiwoho mewakili Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk membuka rapat koordinasi tersebut. Pertemuan ini dihadiri perwakilan tiga wilayah, ahli geologi, asesor UNESCO, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait pengelolaan geopark.

Dalam sambutan Bupati Pacitan yang dibacakannya, Heru menegaskan bahwa keberadaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata daerah.

“Bagi Kabupaten Pacitan, keberadaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark merupakan kekuatan strategis dalam mendorong perkembangan pariwisata,” kata Heru Wiwoho.

Baca Juga  Ekspedisi Merah Putih Resmi Digelar Bupati Berharap Akan Angkat Pacitan Ke Panggung Dunia

Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang terintegrasi. Menurutnya, pengembangan geopark tidak dapat dilakukan secara terpisah oleh masing-masing daerah, melainkan memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola geopark, dan masyarakat.

Persiapan Menuju Revalidasi III UNESCO

Revalidasi UNESCO menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pengelolaan dan perkembangan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Proses ini juga menjadi kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya pelestarian warisan geologi, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat.

Rapat koordinasi Pawonsari diarahkan untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kerja sama antardaerah sekaligus membahas kesiapan pengelolaan geopark menjelang revalidasi pada 2027.

Koordinasi lintas wilayah menjadi penting karena kawasan Gunung Sewu mencakup wilayah yang memiliki karakteristik geologi dan potensi wisata yang saling berkaitan. Pengelolaannya membutuhkan kesamaan visi agar pelestarian alam dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.

Baca Juga  BPK Serahkan LHP Peningkatan Sarana Pendidikan Dasar ke Pemkab Pacitan

Selain aspek pariwisata, pengelolaan geopark juga memerlukan perhatian terhadap perlindungan warisan geologi, edukasi kebumian, serta keterlibatan masyarakat di sekitar situs geologi atau geosite.

Libatkan Bappenas dan Asesor UNESCO

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Togu Pardede, Direktur Sumber Daya Energi, Mineral dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas, beserta jajaran.

Hadir pula asesor UNESCO, Emeritus Dato’ dan Ibrahim Komoo, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Gunungkidul yang menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.

Sejumlah kepala perangkat daerah dari Jawa Timur dan para pengelola geosite juga mengikuti pertemuan tersebut.

Kehadiran berbagai unsur itu memperlihatkan bahwa persiapan revalidasi membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah. Pemerintah daerah, badan pengelola, ahli, serta pemangku kepentingan lainnya memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan geopark.

Baca Juga  Doa Bersama Untuk Keselamatan Bangsa Dan Negara

Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan Geopark

Bagi Pacitan, Gunung Sewu UNESCO Global Geopark tidak hanya berkaitan dengan pengakuan internasional terhadap kekayaan geologi. Kawasan ini juga menyimpan potensi untuk memperkuat daya tarik wisata, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, kerja sama Pawonsari menjadi salah satu ruang koordinasi untuk menyelaraskan pengelolaan kawasan yang melintasi batas administratif daerah.

Menjelang Revalidasi III UNESCO pada 2027, tantangannya tidak berhenti pada pemenuhan aspek penilaian. Keberlanjutan pengelolaan juga bergantung pada konsistensi pelestarian, kualitas tata kelola, serta manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

Melalui koordinasi dan evaluasi bersama, ketiga wilayah diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam menjaga warisan geologi Gunung Sewu sekaligus mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. (Pemkabpacitan)