Pacitan— Sebagai upaya memperkuat literasi serta melestarikan nilai-nilai budaya lokal, sejumlah peserta mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan. Kegiatan yang diselenggarakan pada 21, 23 dan 28 April 2026 ini menjadi ruang bagi para peserta untuk belajar mengolah inspirasi budaya daerah menjadi karya tulisan yang bernilai, mudah dipahami, dan relevan untuk publik. Dengan menghadirkan narasumber berkompeten dari Dinas Kominfo, akademisi STKIP, serta praktisi penulis andal asal Pacitan.
Dalam sambutan pembukaanya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan menyampaikan bahwa budaya lokal merupakan identitas yang harus terus dirawat dan dikenalkan, terutama melalui media literasi. Melalui bimtek ini, peserta diharapkan mampu memahami cara memilih isu budaya, merangkai fakta lapangan, serta menyusun naskah tulisan yang menarik dari beragam perspektif—mulai dari sejarah, tradisi, hingga kearifan lokal yang hidup di masyarakat.
“Melalui pelatihan kepenulisan berbasis konten budaya lokal, kita tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar bagaimana menjaga dan menyebarkan kekayaan budaya daerah dengan cara yang kreatif dan produktif,” ujar Amat Taufan. Selasa, (21/4).
Amat Taufan juga berharap, Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal ini menjadi langkah strategis untuk mendorong lahirnya penulis-penulis lokal muda berbakat yang kreatif sekaligus peduli terhadap pelestarian budaya di Kabupaten Pacitan.
“Dengan meningkatnya kemampuan kepenulisan berbasis konten lokal, nilai-nilai luhur daerah diharapkan semakin dikenal luas oleh masyarakat, baik di tingkat regional maupun nasional,” tandasnya.
Pada hari pertama bimtek, peserta mengikuti pembahasan mengenai gaya selingkung penulisan naskah serta tata cara penerbitan naskah agar karya tulis siap digunakan, sesuai kaidah, dan layak publikasi. Narasumber Mashudi yang akrap di sapa Frend dari Dinas Kominfo Pacitan, memandu peserta untuk memahami bahwa gaya selingkung bukan sekadar “format”, melainkan menjadi standar komunikasi yang menjaga konsistensi isi, struktur, dan ketepatan penyampaian pesan.
“Seorang penulis tentunya ingin karyanya bisa terpublikasi dan bisa diterbitkan, untuk itulah seorang penulis harus bisa memahami gaya selingkung yang dimiliki Penerbit,” ujar frend.
Dalam pemaparan, praktisi media yang juga penulis buku ini menekankan pentingnya beberapa aspek utama, antara lain: penyesuaian bahasa dengan audiens, kerapihan struktur naskah, ketepatan penulisan berdasarkan kaidah, serta bagaimana menyusun naskah agar mudah diedit dan dipublikasikan. Narasumber juga menguraikan langkah-langkah praktis terkait proses penerbitan, mulai dari penyiapan naskah yang rapi, penyelarasan format sesuai ketentuan, hingga kesiapan naskah sebelum diserahkan untuk keperluan publikasi.
Melalui berbagai contoh penerapan dan arahan langsung, peserta mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana menyusun naskah yang mengikuti standar, serta bagaimana meningkatkan kualitas tulisan agar dapat dipakai secara resmi dan memiliki nilai publikasi. Dengan materi ini, peserta diharapkan mampu menerapkan gaya selingkung secara konsisten dalam setiap produk naskah yang disusun, sekaligus memahami alur penerbitan naskah secara tepat.
Usai pemaparan materi, peserta melakukan diskusi kelompok untuk merumuskan ide tulisan sesuai potensi budaya di wilayah masing-masing. Bimbingan dari para narasumber membantu peserta memperbaiki struktur kalimat, meningkatkan kejelasan pesan, serta memastikan tulisan tetap akurat dan menghormati nilai-nilai budaya yang menjadi sumber inspirasi.
Sebagai tindak lanjut konkret dari pelatihan ini, karya-karya peserta yang lolos proses kurasi akan dihimpun dan diterbitkan secara resmi dalam wujud Buku Antologi Budaya Lokal Kabupaten Pacitan.
Langkah ini diproyeksikan menjadi batu loncatan bagi para penulis muda daerah untuk berkiprah di kancah nasional maupun internasional.
Program ini sekaligus menjadi bukti nyata efektivitas pemanfaatan bantuan pusat dalam mendorong dinamisasi ekosistem literasi di daerah. Salam Literasi. (pemkabpacitan)







