Dampak Pandemi; Ketangguhan K3 Perlu Diuji

Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 menjadi upaya dalam menciptakan tempat kerja yang bisa memberikan perlindungan kepada pekerja. Perlindungan yang dimaksud adalah mengenai kepastian keamanan dan kesehatan, termasuk juga mewaspadai penularan virus Covid-19.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan yang tergabung dengan Bappeda Pacitan dan Forum Kabupaten Sehat mengatakan pemeriksaan tersebut adalah untuk memastikan investasi K3 jangka panjang dan sistem K3 di Kabupaten Pacitan sudah sesuai standar yang berlaku.

Hal itu selaras dengan tujuan Bupati, yaitu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pacitan melalui sektor agraris, sektor pariwisata serta sektor unggulan lainnya.

Adapun hasil evaluasi dari tim, Rabu (01/12) kemarin, beberapa industri sudah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) walaupun pihaknya mengatakan masih ada tambahan yang diperlukan.

“Untuk K3 di beberapa industri masih memerlukan pemantauan lebih intensif, dan nantinya akan dibentuk pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK),” terang Ratna Susy, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes.

Tim Verifikasi melalui Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan Puskesmas, salah satu upayanya pemantauan kesehatan berdasar K3 yang akan dilakukan secara berkala. (DinkesPacitan/DiskominfoPacitan)

Dinkes Pacitan SSWW; Jamin Ketersediaan Pelayanan Kesehatan Bermutu

Status gizi merupakan aspek penting untuk menentukan apakah ibu yang sedang hamil dapat melewati masa kehamilannya dengan baik dan tanpa ada gangguan. Status gizi ibu hamil haruslah normal, karena ketika ibu hamil tersebut mengalami gizi kurang atau gizi berlebih akan banyak komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan dan berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya.
Ibu hamil dengan masalah gizi dan kesehatan berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi serta kualitas bayi yang dilahirkan. Kondisi ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK), anemia berisiko menurunkan kekuatan otot yang membantu proses persalinan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi persalinan, perdarahan, kematian janin (keguguran), prematur, lahir cacat, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) bahkan kematian bayi.
Di kabupaten Pacitan, prevalensi ibu hamil KEK tahun 2020 sebesar 1293 kasus (18,34%) sedikit turun dibanding tahun 2019 sebesar 1348 kasus (18,65%). Sedangkan prevalensi anemia pada ibu hamil tahun 2020 sebesar 1110 kasus (15,75%) meningkat jika dibandingkan tahun 2019 sebesar 938 kasus (12,98%).
Agar ibu hamil dapat melalui kehamilannya dalam kondisi sehat dan melahirkan bayi normal atau tidak berisiko stunting, perlu dilakukan langkah-langkah yang mendukung upaya melalui pendampingan ibu hamil KEK dan anemia oleh kader.
“Penyelenggara kegiatan pendampingan Pencegahan Stunting ini adalah kolaborasi antara program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat dengan program KGM. Secara teknis pendamping (Kader Posyandu) mendapatkan bimbingan dari tenaga kesehatan yaitu tenaga gizi dan bidan, sedangkan cara pendekatan ibu hamil dan keluarga atau lingkungannya mendapatkan bimbingan dari tenaga promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.” ucap Nur Hastuti, Kasi Kesga dan Gizi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan.
Dinkes juga mengharapkan dari sekian banyak ibu hamil di Kabupaten Pacitan dapat terpantau, terlaporkan dan mendapatkan penanganan secara tepat. Selain itu, masyarakat juga makin tahu masalah dalam kehamilan, kebutuhan gizinya, dan ibu hamil melahirkan bayi normal atau tidak berisiko stunting.
Sasaran pelaksanaan kegiatan adalah seluruh kader pendamping ibu hamil KEK, Anemia dan bidan desa pendamping berasal dari 24 Puskesmas yang dibagi menjadi 2 hari, yakni Senin (08/11) sampai dengan Selasa (09/11), bertempat di Ruang Pertemuan UPT Kelautan Perikanan Pelabuhan Tamperan Pacitan.
Sesuai dengan Visi Misi Bupati, yakni menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dengan cakupan dan pemerataan jangkauan pelayanan di masyarakat, sehingga sangat diperlukan adanya peningkatan mutu sumber daya kesehatan yang mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
(DinkesPacitan/DiskominfoPacitan).

Workshop Peran PKK dalam Percepatan STBM 5 Pilar dan Pencegahan Stunting

Seiring dengan penghargaan STBM award yang telah diraih Kabupaten Pacitan beberapa waktu yang lalu, Dinas Kesehatan menyelenggarakan Workshop Peran PKK dalam percepatan STBM 5 pilar untuk mencegah stunting.
Workshop ini diikuti 73 orang pengurus Tim Penggerak PKK Kecamatan dan Kabupaten, Senin (25/10), di Aula UPT Dinas Perikanan & Kelautan Tamperan Pacitan.

“Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan stunting tidak bisa dipisahkan, Sanitasi lingkungan memiliki peran besar dalam mencegah stunting, masalah kekurangan gizi adalah masalah yang sangat kompleks di masyarakat sehingga sangat membutuhkan peran semua pihak termasuk tim penggerak PKK,” ungkap Efi Suraningsih, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan.

STBM sangat berkaitan dengan stunting, dimana stunting saat ini menjadi topik dalam perbincangan di dunia kesehatan sebagai salah satu masalah gizi. Stunting diketahui menjadi ancaman besar bagi kualitas hidup manusia dimasa mendatang, tidak hanya urusan tinggi badan tetapi juga berkaitan dengan hambatan pertumbuhan otak, penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa.

Namun bila dilihat lebih dalam bahwa penyebab langsung dari stunting juga sangat dipengaruhi bagaimana pola asuh ibu, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga hingga sanitasi lingkungan. “Kegiatan ini adalah bentuk percepatan STBM sebagai upaya pemberdayaan masyarakat melalui tim penggerak PKK dalam rangka pencegahan stunting, dan ini perlu diingat karena ini upaya pencegahan maka tidak ada kata berhenti dan harus terus dilakukan,” ujar dr.Hendra Purwaka, Kadinkes Pacitan di kegiatan yang sama.

Saat ini masih banyak masyarakat dan orang tua yang tidak menyadari masalah stunting pada anak, karena anak yang stunting umumnya akan terlihat sehat seperti anak pada umumnya, hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi kita semua. “Kami juga turut mengundang wakil ketua Pokja IV TP PKK Provinsi Jatim, drg.Vitria Dewi dan dr.Yulia Wardani sebagai narasumber dalam acara kali ini,” tambahnya.

Melalui tersebut diharapkan permasalahan stunting menjadi serius untuk kita cegah secara bersama – sama sebagai salah satu upaya integrasi untuk percepatan perbaikan gizi melalui pencegahan stunting, sehingga tujuan pencegahan stunting dari berbagai sisi dapat terwujud untuk perbaikan generasi ke depan. (DinekesPacitan/DiskominfoPacitan)

Pantau Ketersediaan Vaksin, Mas Aji Pastikan Stok Vaksin Pacitan Aman

Upaya percepatan vaksinasi covid 19 di Kabupaten Pacitan terus menjadi perhatian serius Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Selain secara berkala memantau progres capaian vaksinasi di 12 Kecamatan se Pacitan, Mas Aji juga memantau ketersediaan stok vaksin.

Dengan hanya bersepeda motor, Mas Aji berkunjung ke UPT Gudang Farmasi di lingkup Kantor Dinkes Pacitan untuk mengecek secara langsung persediaan vaksin di Kabupaten Pacitan.

“Alhamdulillah stok vaksin untuk masyarakat Kabupaten Pacitan aman. Secara berkala saya bersama jajaran MUSPIDA melakukan evaluasi dan monitoring progress capaian vaksinasi di setiap kecamatan” jelas Mas Aji.Senin, (25/10/2021)

Dalam kesempatan tersebut Bupati juga menghimbau kepada semua masyarakat Pacitan untuk menyukseskan vaksinasi covid 19.

“Sekali lagi saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan, Mangga, untuk NYAWIJI & berpartisipasi dalam kegiatan vaksinasi yang dilakukan Pemerintah. Sukseskan Vaksinasi Covid-19 untuk kesehatan bersama agar Perekonomian kita segera pulih” ajak Mas Aji. (Pemkab Pacitan/Diskominfo Pacitan)

 

Akhiri Masa Lajang di Wisma Atlet

Satgas Penangan Covid-19 Pacitan tidak bisa berbuat banyak, saat salah satu pasien covid-19 berjenis kelamin laki-laki berusia 20 tahun yang masuk Wisma Atlet senin kemarin (20/07), diujung jadwal pernikahan. Tepat hari ini (23/07).

Kedua Mempelai terpaksa harus menjalani ijab qobul di Wisma Atlet meski dengan standar protokol kesehatan ketat. Beruntung info terbaru mempelai wanita yang berusia sama yaitu 20 tahun dinyatakan negatif covid-19.

Menurut penanggung jawab momen langka tersebut, dr. Johan Tri Putranto kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, pihaknya merasa perlu memfasilitasi agenda sakkral kedua mempelai, namun tetap dengan protokol kesehatan yang ekstra ketat. Supaya tidak ada pihak yang dirugikan.

Satgas juga membatasi undangan pada momen itu, yakni kedua mempelai, wali, naib dan saksi-saksi, undangan juga dibekali APD level 2 lengkap. Untuk pendukung lain termasuk awak media diposisikan jauh dengan pasien dan berbeda di ruang terpisah. “Untuk Honeymoon sementara ditunda dulu sampai yang pria sehat,” ungkap Johan.

Meski prosesi pernikahan cukup sederhana, momen tersebut diharap mmberi kebahagiaan mempelai pria, selanjutnya menjadi motivasi kesembuhannya. (budi/rch/Dinkespacitan/DiskominfoPacitan).