Jika Baik; Pariwisata Resmi Buka Akhir Agustus

Pemerintah bermunajat menyukseskan New Normal, demi menyelamatkan ekonomi tanpa harus mengindahkan nilai keselamatan. Berlandaskan program Wisata Tangguh Semeru, yang kini mulai merambah obyek pariwisata Teleng Ria Resort.

Berbagai kendala tentu menjadi pekerjaan rumah Pemda Pacitan untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Pacitan usai dihempas pandemi Covid-19 empat bulan terakhir. Ribuan warga yang menggantungkan diri terhadap industri pariwisata termasuk pelaku UMKM jelas berharap destinasi cepat-cepat dibuka seperti sedia kala.

Sertifikat yang diserahkan pihak Disparpora Pacitan merupakan senjata, membuktikan bahwa distinasi tersebut berkomitmen terhadap protokol kesehatan Covid-19. Tahap Pra Simulasi kali ini selanjutnya menjadi pijakan penting untuk menyempurnakan SDM para pelaku.

Sementara detail promosi yang dilakukan akan lebih fokus pada pendekatan agen wisata yang sebelumnya sudah terbangun. Disamping memaksimalkan promosi melalui akaun-akun resmi Disparpora Pacitan dan Pemkab Pacitan. “Mereka harus datang langsung melihat pariwisata kita yang berbasis kesehatan,” kata T. Andi Faliandra Kepala Disparpora Pacitan.

Penyerahan sertifikat semata hanya sebatas pengakuan diatas kertas, selebihnya Andi menekankan komitmen yang sesungguhnya dari para pelaku, termasuk memahami secara utuh protokol kesehatan di bidang pariwisata. “Sertifikat tidak menjadi target, namun bagaimana mereka konsisten dan benar-benar riil memenuhi syarat,” tambah Dia.

Sementara Bupati Pacitan Indartato dalam kesempatan tersebut (11/07), meminta semua pihak terkait untuk memaksimalkan tiga pilar pendukung pariwisata. Mulai Pra Simulasi, Simulasi dan tahapan Evaluasi yang dipelopori Disparpora Pacitan. “Jika semua tidak ada masalah , teruskan,” tegas Bupati. (budi/anj/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan)

4 Kasus Baru; 1 Petugas Medis

Tercatat tiga kali dalam tujuh hari terakhir, jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan merilis kasus positif virus corona baru. Kali ini diujung pekan, 4 warga Pacitan kembali menambah panjang daftar pasien menjadi total 39 kasus.

Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto menyampaikan, 4 pasien tersebut pertama adalah seorang pendatang yang kini berdomisili di Desa Wonoasri, Ngadirojo. 2 seterusnya adalah staf dari cluster lokal Sudimoro, dan terakhir yang menyita perhatian adalah petugas medis yang berdinas di kota Pacitan.

Kembali ditemukannya kasus baru di organ medis tersebut membuat total keseluruhan menjadi 2 orang. Sedang hingga kini Jubir mengaku pihaknya belum mampu memaparkan jalur transmisi penularan petugas tersebut. Sehingga hal ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus keprihatinan petugas lain.

Terlebih, kondisi ini menghambat langkah satgas untuk menentukan arah kebijakan yang selanjutnya akan diambil. Lebih-lebih petugas medis adalah garda terdepan penanganan pandemi ini. Sementara selain menggelontorkan anggaran demi menyelamatkan petugas yang lain dan untuk 500 ribu masyarakat, satgas akan memaksimalkan metode 3T.

“Yang kita khawatirkan jika ia terkena dari sesama petugas, bukan dari luar,” terang Jubir (10/07). Mengingat hasil tes swab dari keluarga dan saudara pasien pertama menunjukkan hasil yang negatif. Fenomena tersebut sekaligus sama dengan pasien Kembang yang baru dirilis beberapa waktu lalu.

Jubir semakin pusing ketika dirinya mendapatkan informasi dimana petugas medis lain yang kini menunggu hasil swab sudah berkeliaran, malah melakukan Rapid tes. “Bisa-bisa ambyar ki mengko,” umpat Dia pilu. (budi/anj/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Gus Luqman “Saya Dengar Al Fattah dibuka, Saya Berharap Dipikir Ulang”

Ketua Gerakan Ayo Mondok Nasional KH. Luqman Al Hakim Harist Dimyati menyikapi langkah pembukaan santri baru yang diambil pengurus Ponpes Al Fattah Kikil, Arjosari, cukup berani. Pasalnya belum hilang dari ingatan meledaknya cluster Pondok Temboro, Kabupaten Magetan, ditambah lahirnya cluster baru dari Pondok Modern Gontor, Kabupaten Ponorogo yang tak henti-hentinya menyita perhatian masyarakat.

Meski di satu sisi Gus Lukman sapaan akrabnya memahami, kebijakan Kementerian Agama yang mempersilahkan pembukaan pesantren sepanjang terbitnya rekomendasi dari satgas dari wilayah masing-masing. Sekalipun dirinya mengaku tidak memiliki wewenang melarang langkah tersebut. Hanya bertumpu pada masukan, demi menjaga berbagai hal yang dapat merugikan pemerintah dan masyarakat.

Beberapa waktu sebelumnya, dirinya melakukan kontak melalui aplikasi Zoom bersama para tokoh Nasional pengasuh pondok yang tergabung pada Gerakan Ayo Mondok. Upaya itu dilakukan guna menciptakan mekanisme penerimaan santri. Lantaran sesuai rencana awal, pondok dijadwalkan kembali beroperasi pada pertengahan bulan Syawal atau Bulan Juni kemarin.

Namun rencana tersebut terpaksa dikesampingkan, termasuk di tubuh Pondok Tremas sendiri tempat Gus Lukman pengasuh santri, yang disepakati pengasuh dan pengurus pada rapat terbatas (09/07) kemarin akan kembali membuka pondok pada pertengahan Agustus mendatang.

Bahkan jika kondisi belum memungkinkan, bisa jadi Pondok Tremas akan kembali diundur hingga pondok siap atau situasi pandemi mereda. “Di Pacitan sendiri mulai naik ini. Kami tidak akan gegabah sebab menjaga jiwa lebih penting,” tegasnya spesial Kepada Diskominfo Pacitan (10/07).

Mencoba mencari fakta dengan membuat program polling kepada santri dan wali santri beberapa waktu lalu. Dari 4000 santri, pihak Tremas menemukan jawaban bahwa 30 persen lebih yang berpartisipasi menyampaikan kekhawatirannya kalau terlalu cepat kembali ke pesantren. Kendati mereka mengaku sudah kangen untuk kembali menimba ilmu agama.

Selebihnya Ketua Ayo Mondok sekaligus Ketua Forum Komunikasi Pesantren Pacitan (FKKP) berkeyakinan bahwa konsep menjaga jiwa di tengah pandemi menjadi keutamaan. Senyampang 13 Juta santri dibawah bendera NU di seluruh Indonesia harus mendapat kepastian dan keselamatan, tanpa melupakan haknya memperoleh ilmu agama.

Sedang dihadapkan persepsi masyarakat, dirinya memandang kondisi ini wajib dipandang dari kacamata Dhohir atau nyata. Selanjutnya disikapi secara arif dan bijak yaitu sejalan dengan anjuran pemerintah. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Sah! Pondok Kikil Mulai Buka Hari Ini

Langkah cukup berani dilakukan Pondok Pesantren Al Fattah Kikil, Arjosari, Pacitan. Hari ini di antara giat Launching Pesantren tangguh Semeru ditempat tersebut, pihak manajemen pesantren secara resmi membuka pedaftaran santri baru digelombang pertama.

Langkah berani yang dimaksud merujuk pada kejadian ledakan cluster baru yang terjadi di salah satu Pesantren Modern di Kabupaten Ponorogo. Sontak fenomena ini disikapi serius oleh pengasuh pondok KH. Moch. Burhanuddin HB disamping rencana pembukaan yang dinilai terlalu pagi tersebut tetap berjalan dan tidak berimbas terhadap munculnya cluster baru.

Kyai Burhan sapaan akrabnya mengaku, dirinya tidak grusa-grusu mengambil kebijakan tersebut, di samping kesiapan yang dilakukan telah mendapat lampu hijau oleh jajaran satgas Pacitan. “Kami membuka melalui sistem gelombang. Pada gelombang pertama kita batasi 450 santri supaya tetap dapat physical distancing,”ujarnya pada Diskominfo Pacitan (10/07).

Selebihnya, kedatangan sepertiga santri yang masuk akan diarahkan untuk turut bermunajat melalui doa dan zikir sebagaimana program yang telah dirancang. Tetapi sebelumnya mereka akan melaksanakan karantina ketat di tempat yang telah disiapkan oleh pondok. Sedang untuk santri yang tidak bermukim hingga kini tetap diliburkan.

Untuk mendukung kesiapan dan kedisiplinan para santri pihak pondok menyiapkan satu dokter yang berjaga 24 jam, dokter yang juga alumni pondok tersebut mengaku berbagai konsep telah ia siapkan guna mendukung protokol kesehatan yang dibantu oleh seluruh pengurus.

“Kami juga telah menyiapkan vitamin untuk menunjang kesehatan. Masalah alat pribadi dari awal kami sarankan untuk membawanya dari rumah. Termasuk datang kesini (Pondok Kikil) mereka dilarang menggunakan angkutan umum,” beber dr. Rifngatun Nadhiroh di kesempatan yang sama.

Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto pemilik program Pesantren Tangguh di Kabupaten Pacitan mengaku, bahwa pihaknya tidak pasif dan berpangku tangan dengan pembukaan tersebut, anggotanya dari kepolisian dan TNI akan dikerahkan untuk pendampingan secara berkelanjutan.

Ia juga membeberkan alasan terhadap lampu hijau yang diberikan semata-mata karena 95 persen santri Pondok Kikil adalah dari dalam kota, jadi menurunkan tingkatan risiko yang bisa terjadi. “Untuk santri dari daerah rawan kami minta untuk libur dulu,” tambah Kapolres. (budi/anj/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan)

1 Lagi Srikandi Cluster Lokal Positif, ODP Malah Berkeliaran

Siang malam tanpa henti Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan berjuang menangani virus corona, tapi sayang 1 pasien dari cluster Sudimoro menambah panjang daftar menjadi 35 kasus.

Kebenaran ini dikemukakan secara resmi oleh Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo, beserta jajaran Satgas Covid-19 Pacitan di Pendopo Kabupaten Pacitan (09/07). “Mohon sampai pada saat ini masih bertambah. Kami tim gugus tugas akan melakukan upaya-upaya lebih lanjut. Khususnya masyarakat harus menggunakan masker, sekali lagi wajib menggunakan masker,” kata Yudi.

Sementara itu secara detail Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto menyampaikan, satu pasien yang terjaring adalah rekan kerja 4 Srikandi yang sebelumnya dinyatakan positif. “Saat ini yang bersangkutan berada di Wisma Atlet untuk menjalani karantina,” kata Jubir.

Kian bertambah kasus dalam instansi tersebut membuat satgas bekerja lebih ekstra, ratusan karyawan yang bekerja dipastikan akan di-tracking tanpa terkecuali. Selebihnya mereka-mereka yang dicurigai akan menjalani tes rapid ataupun swab.

Namun masalah baru menjadi momok, ketika ODP yang tengah menunggu hasil tes tidak disiplin menjalani karantina. Hanya karena masalah fasilitas seperti TV di tempat karantina tidak disediakan.

Terpaksa, jajaran satgas kini tengah mengupayakan tempat isolasi yang nyaman bagi ODP supaya mereka betah di lokasi karantina yang ditentukan. Ini tidak berlebihan jika mengingat risiko yang ditimbulkan jika satgas membiarkan ODP berkeliaran.

Beruntung disatu sisi pejabat perusahaan terbuka terhadap satgas, langkah pro ini diharap dapat menekan berbagai kemungkinan yang tidak diharapkan. Disamping kerja satgas tidak mengganggu kerja produksi yang berujung pada kerugian baik dari perusahaan maupun karyawannya. (budi/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Terbitkan Perbup Demi Kesadaran Kawula Muda

Langkah penting terpaksa dilakukan Pemerintah Kabupaten Pacitan demi memenangkan perang melawan Covid-19. Dengan menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Pacitan Nomor 56 Tahun 2020. Tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat Di Tempat Dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Di Kabupaten Pacitan.

Secara gamblang terbitnya Perbup pada 1 Juli tersebut menohok masyarakat yang masih belum mengindahkan himbauan protokol kesehatan. Membuat upaya pencegahan tidak dapat dilaksanakan dengan baik, yang berujung pada masalah-masalah krusial seperti ekonomi, sosial, politik dan khususnya kesehatan .

Apalagi Jajaran Satgas Penanganan Covid-19 yang turut memantau komentar di akun resmi @pemkabpacitan terheran-heran terhadap Kawula Muda, mereka seolah-olah meremehkan dan tidak peduli terhadap Covid-19. “Sangat disayangkan jika terjadi mindset seperti itu,” kata Jubir Rachmad Dwiyanto (09/07).

Mestinya berbagai informasi yang diterima para generasi muda baik dari Sosial Media (SosMed), justru menjadi acuan untuk klop terhadap anjuran pemerintah. Sebagai contoh momentum peringatan Hari Pendidikan pada 02 Mei kemarin yang mengusung tema Belajar Dari Covid-19.

Jika dipahami secara mendetail, makna yang tersirat dari tema kala itu sangat dalam. Sumber keilmuan dari manapun seharusnya membuat masyarakat mampu menangkap berbagai hal terhadap kemunculan pandemi ini.

Sehingga timbul penyikapan yang dewasa, bukan masa bodoh, acuh tak acuh dan lain sebagainya, yang membuat penanganan Covid-19 berjalan tertatih, padahal pemerintah bersama-sama jajarannya siang dan malam bekerja keras, sebagian petugas rela jauh dari keluarga dan mempertaruhkan kesehatan termasuk nyawanya.

Pemerintah selayaknya orang tua, tetap tidak tega jika harus melakukan sesuatu yang berlebihan. Ini terbukti dari sanksi yang tertulis dari Perbup. “Sanksi yang diberikan menimbulkan efek jera, mulai menghafal Pancasila hingga membersihkan fasilitas umum,” terang Jubir. (budi/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Andai Wisma Atlet Luber; Buah Cluster Sudimoro dan Masyarakat Skeptis

Bupati Pacitan Indartato, saat Press Rilis Selasa (07/07) kemarin mengungkapkan kekhawatirannya soal tempat karantina Wisma Atlet yang sewaktu-waktu penuh pasien Covid-19.

Kecemasan tersebut wajar jika merujuk pada realitas lahirnya cluster lokal (Sudimoro), dan minimnya kesadaran sebagian masyarakat sehingga memiliki pedoman sendiri sesuai dengan prasangkanya meski tidak berdasar.

Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto kepada tim Liputan Diskominfo Pacitan (08/07) membeberkan, Wisma Atlet ternyata hanya memiliki 42 kamar dan cukup untuk 42 pasien, sedangkan saat ini sudah dihuni 16 pasien.

Sebagai gambaran, munculnya cluster Sudimoro membuat tren grafik berpotensi terhadap ledakan kasus sehingga menimbulkan chaos. Langkah strategis telah dilakukan untuk menghindari kemungkinan buruk ini, termasuk menyapu lini dalam instansi yang menjadi epidemi virus corona.

Lalu bagaimana skenarionya jika situasi tersebut benar-benar terjadi di Kabupaten Pacitan. Jajaran Satgas Covid-19 telah berupaya membuat lokasi karantina baru. Sah, anggaran yang diserap untuk pembangunan atau modifikasi tidaklah murah. “Kita akan menggunakan GOR (Gelanggang Olahraga), tapi masih harus bangun toilet, beli banagsal, tempat tidur, sprei dan sarana pendukung lain,” terang Jubir.

Sedang untuk kebutuhan pasien, menurut itung-itungan mulai tes rapid butuh biaya sebesar Rp 200-300 Ribu, sedang untuk satu kali swab perlu biaya Rp 1,5 hingga 2 Juta. faktanya pasien harus menjalani dua kali swab negatif sebelum benar-benar dinyatakan sembuh. Beberapa kasus pasien harus menjalani puluhan kali swab.

“Tempat dan terapi adalah tanggung jawab pemerintah, kita tidak mungkin berdiam diri,” kata Jubir. Mengutip kata tanggung jawab yang disampaikan Jubir mengandung arti beban anggaran dari pemerintah, ujung-ujungnya dipungut dari uang rakyat. Jelas lebih baik disalurkan untuk kepentingan kemaslahatan masyarakat jika masyarakat mau kompak.

Supaya cepat sembuh, sesuai protap pasien harus memperoleh asupan makanan bergizi, vitamin, suplemen hingga sarana penunjang dalam rangka mengusir kejenuhan. Karena kunci kesembuhan adalah dari perasaan yang senang.

Baru-baru ini masyarakat menyampaikan uneg-unegnya supaya Covid-19 diabaikan, statement tersebut jelas blunder sekaligus mengundang kelucuan. Ini menunjukkan sebagian masyarakat tidak paham jika OTG positif dapat menyebarkan virus, siapapun tidak ingin corona menjangkit keluarga atau orang yang dicintai sehingga mengancam keselamatannya.

Masyarakat Kabupaten Pacitan saat ini berada dalam persimpangan, kondisi ini menguji kedewasaannya. Memilih skeptis terhadap masalah ini atau pro terhadap anjuran pemerintah terhadap protokol kesehatan.

Jika memilih satu suara dengan pemerintah, maka penanganan Covid-19 akan lebih mudah dilakukan, sehingga pemerintah tidak perlu lagi menggelontorkan anggaran untuk rapid, swab, karantina dan sebagainya. Tapi sekali lagi, anggaran dapat diperuntukkan untuk program kesejahteraan. “Mohon saling mengingatkan akan pentingnya disiplin terhadap protokol kesehatan,” imbuh Jubir. (budi/anj/alazim/wan31/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Duh; 5 Srikandi Terjangkit Covid-19

Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan sepertinya harus bekerja lebih keras lagi untuk menjadikan Paradise Of Java menjadi zona hijau bebas dari virus corona. Pasalnya siang ini Bupati Pacitan Indartato kembali mengumumkan 5 positif baru.

“Satu dari Kecamatan Pacitan, dan yang 4 dari cluster lokal Sudimoro,” kata Indartato yang juga Ketua Satgas  Penanganan Covid-19 saat Press Rilis (07/07) di Pendopo Kabupaten.

Untuk satu kasus baru dari Kecamatan Pacitan, jajaran satgas belum dapat menentukan transmisinya, yang pasti di kesempatan berbeda Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengatakan pasien baru ini berusia muda. “Tim masih tracking, jadi sementara masih abu-abu,” kata Jubir.

Sedang sisanya yang dari cluster Sudimoro merupakan staf dari instansi yang kini menjadi epidemi. Uniknya lagi keempat srikandi dari timur kota ini berasal dari desa yang sama, dan dicurigai terpapar dari pasien konfirm yang kini dirawat di Kabupaten Trenggalek.

Temuan baru tersebut lantaran satgas memang telah masuk ke lini dalam instansi, beruntung pejabat dalam instansi diakui Jubir bersedia kooperatif, sehingga diharap upaya pencegahan ledakan pasien tidak terjadi.

Mengingat jika terjadi bom maka anggaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit, meski adanya bantuan dari pihak instansi atau perusahaan tapi menurut Jubir dari manapun sumber anggaran tetap saja uang milik rakyat. Lebih baik difungsikan untuk kepentingan lain dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.

“OTG menjadi sumber penularan yang tidak kita ketahui. Mau tidak mau masyarakat harus melaksanakan protokol kesehatan,” tegas Jubir. Disamping pemerintah menekan angka positif dengan langkah lobi ataupun upaya teknis baik Tracing, Testing dan Treatment atau 3T kepada masyarakat yang sesuai dengan strategi Gubernur Jatim.

Perihal program sidak masker yang diawali di Perempatan Penceng pekan kemarin pihak pemda telah menyelesaikan SE sebagai payung hukum, secepatnya edaran ini akan segera diterbitkan. “Tidak sekedar teguran, tunggu saja bagi para pelanggar,” tegas Rachmad.

Beruntung kasus Covid-19 tidak seekstrim negara-negara dingin, membuat angka kematian cukup rendah, namun bisa dibayangkan betapa menderita para pasien yang harus dikarantina berminggu-minggu sampai hitungan bulan hingga dinyatakan sembuh.

“Tidak ingin dikarantina atau dirawat di rumah sakit ya jalankan protokol kesehatan, dan jangan keluar rumah jika tidak perlu sekali. Andaikan tertular siap-siap kami jemput,” pungkas Jubir. (budi/anj/alAzim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Pecah Telor; Beiji Park Pertama Dapat Izin Buka

Destinasi wisata tematik Beiji Park menjadi yang pertama memperoleh Sertifikat New Normal Sebagai Destinasi Yang Memenuhi Protokol Kesehatan Covid-19, izin tersebut diterbitkan oleh Disparpora Pacitan.

Langkah penting di tengah pandemi ini digadang-gadang bisa mempengaruhi destinasi wisata yang lain. Meski diakui Kepala Disparpora Pacitan T. Andi Faliandra bahwa Beiji saat ini baru memasuki tahapan Pra Simulasi.

“Baru syarat ya, bukan benar-benar buka. Bukanya masih nanti setelah dapat izin dari Dinas Kesehatan,” katanya usai penyerahan (06/07) di Beiji Park, Desa Dadapan, Pringkuku.

Ada tiga tahapan yang harus dilalui pelaku wisata sebelum benar-benar kembali dibuka untuk umum, dimulai dari pra simulasi, simulasi dan terakhir verifikasi. Disamping kesiapan SDM pengelola dan semua yang bersinggungan benar-benar paham terhadap protokol kesehatan.

“Simulasi berjalan satu minggu hingga satu bulan, jika tidak ada kasus-kasus maka kita akan masuk ke tahapan uji coba (verifikasi),” lanjut Andi. Artinya Beiji sementara dibuka untuk masyarakat dari Kabupaten Pacitan saja.

Andi pada kesempatan tersebut juga mengaku beberapa lokasi telah siap menyusul, diantaranya adalah Sentono genthong, Pantai Pidaan dan Pantai Watu Bale serta disusul Parai Teleng Ria.

Perihal Pro dan Kontra masyarakat akan pembukaan tersebut, pihak Disparpora menegaskan Trust harus benar-benar tertanam pada masyarakat. Artinya semua instansi yang bertanggungjawab tidak ngawur dalam menerbitkan sertifikat.

Sepanjang masih menjadi zona hijau dan kuning pemerintah pusat dalam hal ini BNPB mempersilahkan kabupaten atau kota untuk membuka kembali destinasi wisata, seiring penerapan New Normal yang kini masih dalam tahapan transisi.

Namun demikian Bupati sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Pacitan Indartato yang hadir pada penyerahan itu mengharap, langkah strategis ini menjadi jawaban masyarakat yang selama ini bergantung pada objek pariwisata.

Kendati demikian masyarakat harus turut andil terhadap protokol kesehatan sebagaimana yang telah ditentukan. “Saya mohon kerjasama oleh masyarakat, karena kuncinya disitu,” harap Dia disamping ia benar-benar menekan bawahannya supaya Pacitan menjadi zona hijau. (budi/anj/rch/DiskominfoPacitan).

Tambah Lagi 2 Covid-19; Instansi Terkait Harus Kooperatif

Pacitan dalam angka, penambahan 2 kasus baru Covid-19 kembali terjadi malam ini (03/07), fakta tersebut disampaikan Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato, di Pendopo Kabupaten.

Bertambahnya 2 pasien baru ini menambah daftar keseluruhan di Pacitan menjadi 29 kasus, dimana 11 kasus dinyatakan sembuh, 1 meninggal dunia, 2 diantaranya menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan 14 yang lain menjalani karantina di wisma Atlet.

Dua pasien tersebut kata Indartato masing-masing berasal dari desa Tanjungpuro, Ngadirojo dan Desa Kembang, Pacitan. Pasien dari Tanjungpuro merupakan transmisi dari cluster lokal Sudimoro sekaligus istri pasien berkode 19 yang telah meninggal. “Yang dari Desa Kembang saat ini berada di salah satu rumah sakit di madiun,” kata Indartato.

Kian meningkatnya jumlah kasus di transmisi lokal saat ini membuat satgas melakukan berbagai langkah penting, beberapa hari lalu Bupati kedapatan melobi kepada instansi yang bersangkutan, guna mendukung penanganan penyebaran virus.

Menyikapi hal tersebut, Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto usai Rilis menyampaikan bahwa analisa tracing nantinya akan menentukan langkah yang bakal diambil oleh satgas. Oleh sebab itu Jubir berpandangan pihak instansi sebagai inang harus kooperatif terhadap kondisi tersebut. “Berharap ada dukungan dari yang bersangkutan. Apalagi anggaran kita juga terbatas,” ucap Dia.

Hingga saat ini, uji Rapid telah dilakukan sebanyak 3440 kali, 90 diantaranya menunjukkan positif atau 2,26 persen. Sedang untuk uji Swab dilakukan sebanyak 558 kali, 74 diantaranya dinyatakan positif atau 13 persen. (budi/anj/alazim/rch/tika/DiskominfoPacitan)

Dorong Tim KKN UGM Tuntaskan Program Non-Anggaran

Pandemi Covid-19 tak menghentikan langkah Tim KKN-PPM UGM Unit 2 untuk melanjutkan pengabdiannya di Kabupaten Pacitan, pada upacara penerimaan secara daring pada (30/06) kemarin dipastikan peserta  akan ditempatkan di beberapa desa di Kecamatan Punung.

Mohammad Masruhi, Koordinator wilayah KKN Jawa Timur mengatakan, mahasiswa diharap bekerja sama dengan masyarakat lokal sekaligus berperan sebagai motivator, inovator, dinamisator, dan fasilitator.

Program KKN yang dilaksanakan di gadang mampu bersifat  adaptif dan inspiratif, sehingga bisa dan mampu diaplikasikan langsung oleh masyarakat. Peserta KKN pada momentum tersebut juga dapat mengembangkan soft skillnya masing-masing.

Sementara di kesempatan yang sama Camat Punung Ahmad Taufan mengemukakan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan lanjutan ini, meski dunia tengah diguncang pandemi Covid-19, namun dengan berbagai disiplin protokol kesehatan rencana-rencana yang telah disepakati dapat berjalan sesuai rencana.

“Masterplan yang dihasilkan dapat lebih aplikabel dan mudah diadopsi pemerintah sebagai panduan penyusunan RPJMD desa maupun pemkab. Peserta KKN juga harus dapat menyusun data yang nantinya akan dianalisis untuk proses pembuatan masterplan tahab selanjutnya,” ujar Ahmad.

Sementara beberapa program dari target RPJMD terkendala akibat wabah corona,  hal ini lantaran anggaran sebagian besar dialihfungsikan untuk mengatasi masalah tersebut. Kehadiran mahasiswa KKN ini digadang dapat mencapai target dengan memformat program menjadi non-anggaran.

Selain itu pelaksanaan kegiatan KKN dapat sesuai dengan tema yang ditentukan, “ riil, dan relevan dengan rencana kerja,” tambah Hesti Suteki, sebagai Kepala Bagian Pemerintahan Umum Kabupaten Pacitan. (UGM/DiskominfoPacitan).

Ndableg Tanpa Masker! Siap-siap Sanksi Tegas

Masyarakat tanpa masker yang melintasi Perempatan Penceng, Pacitan pagi ini (03/07) dirazia jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan. Dari program yang dilaksanakan selama 2 jam, petugas mendapati puluhan pengendara baik roda 4 maupun roda 2 tanpa masker.

“Kita bersama-sama memantau masyarakat yang kesadarannya kurang,” Kata Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan yang turut hadir di kegiatan tersebut. Bupati juga menyampaikan bahwa pihaknya selanjutnya sudah menyiapkan sanksi kepada masyarakat yang ngotot mengindahkan protokol kesehatan.

Sepertinya penerapan sanksi tidak berlebihan, karena berbagai kampanye telah dilaksanakan sejak pertengahan April lalu. Namun sayangnya sebagian kecil masyarakat memilih apatis dengan informasi dan keadaan pandemi Covid-19.

Upaya Bupati akan penerapan Sanksi didukung Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, di kesempatan yang sama pihaknya saat ini tinggal menunggu dasar hukum yang jelas untuk menyikapi problem masyarakat ndableg itu.

Didik sebenarnya mengaku bahwa sebagian warga Pacitan umumnya telah peduli dan mematuhi protokol kesehatan, namun jika hal tersebut tidak dirawat dengan baik maka kesadaran masyarakat tersebut akan berbalik mengikuti sekelompok lain jika tidak disiapkan tindakan tegas. “Seperti di Jakarta itu bagus, tindakan fisik atau berupa sanksi sosial,” tambah Dia. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Jika PNS Yang Ndableg? Ini Kata Kepala BKPPD

Menghitung hari sanksi tegas untuk masyarakat yang mengindahkan protokol kesehatan. Tapi sebagian warga justru bertanya-tanya, apakah tindakan yang diberikan kepada ASN yang kedapatan tidak kooperatif terhadap pemberantasan pandemi covid-19 di Pacitan.

Kepala Badan Kepegawaianan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPPD) Kabupaten Pacitan, Supomo saat mendampingi Bupati Pacitan Indartato dan jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan sidak di Perempatan Penceng, Pacitan menyampaikan dengan tegas ASN bertugas memberi teladan kepada masyarakat, bukan sebaliknya.

“Seperti memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak harus di contohkan ASN di lingkungannya masing-masing,” Kata Supomo (03/07). Lantas jika ASN pilih ngotot mengabaikan perintah maka sanksi mengancam, mulai ringan hingga berat.

Langkah penting selanjutnya oleh BKPPD Pacitan adalah menggelar tindakan di lapangan, disamping Supomo akan berkoordinasi dengan kepala PD dan Badan untuk membantu program tersebut. “Namanya orang banyak kan, ada yang tertib ada yang mengabaikan, sekali tempo kita turun kelapangan,” tambah Dia.

Disperpusip Provinsi Jatim Visitasi Ke Pusdes “MAJU LANCAR” Dalam Rangka Penilaian 6 Nominator Terbaik

Dalam rangka penilaian peraih 6 Nominator Terbaik Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Timur, Disperpusip Provinsi Jatim pada tanggal 30 Juni 2020 visitasi ke Pusdes “Maju Lancar” Desa Bandar Kecamatan Bandar. Sebelumnya telah diumumkan bahwa Pusdes “Maju Lancar” menjadi salah satu 6 Nominator Terbaik pada tanggal 23 Juni 2020 lalu.

Hadir dalam visitasi penilaian tersebut Tim Penilai dari Disperpusip Provinsi Jatim, yakni Dra. Setyo Rahayu P., M. Pd (Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya), Sri Wahyu Hastarini, S. Sos (Kasi Pengembangan Perpustakaan), Sri Purwati, S. Sos., M.Si (Pustakawan Madya). Drs. Cipto Yuwono, M. Pd (Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, Drs. Triyono Abadi, M. Si (Kabid Pengembangan), Yayas Wulan Larasati (Pustakawan Penyelia), Yayuk Agustiani, A. Md (Pustakawan Pelaksana Lanjutan) turut serta menghadiri acara tersebut. Tak ketinggalan juga hadir sebagai tuan rumah Kepala Desa Bandar dan Camat Bandar.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan, dengan cuci tangan, memakai masker/Face Shield, serta jarak 1 meter. Bahkan sebelum datang ke Pacitan, Tim Penilai yang datang dari Surabaya (notabene kota dengan jumlah paparan covid-19 terbesar di Jatim) telah melakukan Rapid Test terlebih dahulu dengan hasil Negatif Covid-19.

Drs. Cipto Yuwono, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan “Selamat datang kepada yang terhormat Tim Penilai dari Disperpusip Provinsi Jatim,  kami mendapatkan juara berapapun akan kami terima, namun jika mendapatkan juara 1 malah Alhamdulillah”, terangnya.

Tim Penilai memberikan pertanyaan kepada Anita Bidariyati (Kepala Perpustakaan Maju Lancar) dan petugas lainnya setelah selesai memaparkan profil yang berisi seperti pendirian, program kerja, instrumen lomba, sampai anggaran Perpustakaan Desa Bandar tersebut. Pertanyaan yang berkutat seputar program pengembangan literasi di perpustakaan desa “Maju Lancar” itupun mampu dijawab dengan lancar oleh para petugas. Hal tersebut tidak lepas dari hasil koordinasi dan kerjasama yang baik antara Pusdes “Maju Lancar” dengan para pustakawan Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Sekurangnya 5 kali pendampingan terhadap petugas pusdes yang dilakukan oleh Yayuk Agustiani, A. Md sebelum pelaksaanan visitasi penilaian lomba.

Acara yang dimulai dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB tersebut tidak hanya menampilkan pemaparan dari petugas, namun juga menampilkan produk-produk UMKM hasil dari masyarakat setempat yang telah mendapatkan pelatihan UMKM oleh para petugas Perpustakaan Desa “Maju Lancar”, yang merupakan salah satu program literasi perpustakaan desanya.

(Penulis: Ryn Surya/Setya Budi/Joko Wahyudi/Doc: Eko Jatmiko/ Nara Sumber: Yayuk Agustiani, A. Md/Bidang Pengembangan/Dinas Perpustakaan Kab. Pacitan)

Tambah 3 Kasus Positif Dari Cluster Lokal, Satgas Ada Wacana Lockdown Instansi

Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato kembali umumkan penambahan 3 pasien baru di Kabupaten Pacitan, ketiganya berasal dari transmisi lokal, Sudimoro.

Penambahan tersebut menambah panjang jumlah menjadi 27 kasus, sementara pasien yang berhasil dipulangkan sebanyak 11 orang, sisanya 3 orang menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan 13 yang lain menjalani karantina di Wisma Atlet.

Satgas Covid-19 Pacitan hingga hari ini (01/07) telah melaksanakan rapid tes sebanyak 2716, hasil reaktif sebanyak 78 atau 2,8 persen. Pemeriksaan Swab sebanyak 560 dan 52 atau 9 persen menunjukkan positif. “Obat mujarab adalah mematuhi protokol kesehatan,” ucap Bupati saat Press Rilis di Pendopo Kabupaten.

Lebih rinci, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan yang sama membeberkan, ketiga pasien tersebut berasal dari Kecamatan Tulakan, Ngadirojo dan satu dari Provinsi Lampung, Sumatera. “Sesuai KTP dari Lampung, Kontraktor yang sempat kontak dengan satpam terkonfirmasi positif,” kata Dia.

Satgas Covid-19 Pacitan baru-baru ini juga mulai merambah di lini dalam instansi pada cluster lokal Sudimoro tersebut. Apalagi salah satu pasien positif yang kini dirawat di Kabupaten Trenggalek adalah staf di bidang logistik.

“Info terakhir, Bapak Bupati hari ini sudah melakukan kontak dengan petinggi di instansi tersebut, menyampaikan dalam waktu dekat akan ada tes besar-besaran kepada 700-an karyawan,” tambah Jubir.

Jika kondisi semakin memburuk langkah lockdown untuk instansi tersebut bukan tidak mungkin dilakukan oleh jajaran Satgas, hal tersebut guna menekan angka positif jika nantinya terjadi ledakan.

Kuatnya penyebaran pada transmisi baru ditunjang fakta masing-masing kasus yang kedapatan pernah bepergian, membuat Jubir kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk benar-benar menjalankan protokol kesehatan, minimal memakai masker dan benar-benar menunda lawatan selama pandemi ini. (budi/rozak/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Enak Benar! Polres Pacitan Bagi-Bagi SIM Gratis

Ada yang menarik pada peringatan hari Bhayangkara Ke-74 tahun 2020 kali ini, Polres Pacitan bagi-bagi SIM gratis kepada masyarakat yang bertepatan lahir pada 1 Juli atau bertepatan HUT Bhayangkara.

“Benar, ini tidak lain merupakan kado bagi yang lahir di hari Bhayangkara ke 74,” ujar Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, usai Resepsi Hari Bhayangkara di Gedung Graha Polres Pacitan (01/07).

Inovasi tersebut menurut Didik adalah program Nasional sesuai perintah Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis yang tertuang pada surat telegram rahasia (TR) Kapolri bernomor ST/1671/VI/YAN.1.1./2020 tanggal 12 Juni 2020. Ditandatangani langsung oleh Kakorlantas Irjen Pol Istiono. “Kemungkinan akan berlanjut di tahun-tahun selanjutnya,” ucapnya.

Ini adalah bukti bahwa Polisi hadir untuk rakyat utamanya pada momentum pandemi covid-19. Sesuai tema ke-74, Kamtibmas Kondusif Masyarakat Produktif, Polri bersama TNI, pemerintah dan didukung peran serta masyarakat menang melawan Covid-19. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan)

Ini Alasan Bupati Soal SE Pariwisata

Menyikapi beredarnya Surat Edaran Nomor 188.45/254/408.21/2020 tentang Pembatasan Sosial (Social Distancing) Sektor Pariwisata Di Kabupaten Pacitan yang ditandatangani Bupati Pacitan Indartato baru-baru ini, ditanggapi Bupati sebagai bentuk penyesuaian kembali terhadap kesiapan destinasi wisata.

“Ada kriteria-kriteria yang harus dilalui, masing-masing pengelola pariwisata sudah tahu semua,” ujar Bupati usai mengikuti resepsi hari Bhayangkara di gedung Graha Polres Pacitan (01/07).

penyesuaian tersebut bukan semata-mata adanya penambahan 3 pasien baru Covid-19 yang diumumkan secara resmi (27/06) akhir pekan lalu. Faktanya Kabupaten Pacitan masih mengantongi zona kuning, salah satu syarat penting pembukaan kembali destinasi wisata. “Bagi yang siap ya kita akan sesuaikan,” terangnya.

Sedang penambahan cluster dan pasien baru menurut Bupati adalah rambu kepada masyarakat dan pelaku wisata supaya lebih waspada dan berhati-hati terhadap Covid-19. Melalui menerapkan protokol kesehatan dengan penuh kedisiplinan. “Protokol kesehatan adalah kata kunci kita supaya pariwisata tidak menjadi cluster baru,” pungaks Indartato. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Lihat Sejarah Lalu Bangkit

Masih membekas jelas dalam ingatan, betapa Jepang luluh lantak akibat serangan udara Amerika di dua kota yakni Hiroshima dan Nagasaki. Bendera putih pun terpaksa mereka kibarkan tanpa syarat melalui pernyataan resminya pada 2 September 1945 di atas Kapal USS Missouri di Teluk Tokyo.

Padahal sebelumnya, negeri Matahari Terbit itu gagah gempita menggurita menguasai hampir seluruh  daratan Asia, termasuk Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Bahkan lebih jauh mundur ke belakang tepatnya 7 Desember 1941, Angkatan Laut Jepang dengan berani menyerang Armada Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat di AL Pearl Harbour, Hawai. Serangan mendadak ini menghancurkan armada laut Amerika sekaligus memproyeksikan kekuatan sesungguhnya Jepang di mata petinggi militer Amerika.

Sekilas kisah jatuhnya bom atom tersebut, rasa-rasanya Jepang sukar untuk bangkit, minimal mengimbangi atau sekedar mengekor Negara-negara berkembang di Asia. Kehancuran pada sektor ekonomi begitu massif, bahkan ledakan bom atom bukan saja menghabisi ratusan ribu jiwa, namun mereka yang selamat mengidap berbagai penyakit akibat radiasi yang ditimbulkan bom atom, jelas semua itu menjadi beban utama pemerintah dan masyarakat Jepang.

Namun apa yang terjadi kini, Jepang dengan segala keterbatasan dan problematika rakyat dan pemerintahnya akan pleasure sekutu sepertinya bukan menjadi soal untuk bangkit. Bukan lagi gencat senjata seperti Perang Dunia II, namun tampil anggun pada dimensi lain yakni bergulat pada ekonomi dan kesejahteraan.

Lantas apa bedanya dengan Indonesia yang terlahir pada tahun 1945, Indonesia di tangan dingin Soekarno dan tokoh-tokoh mampu bersatu dan mengusir Kolonialisme Belanda. Berbagai trik dan  intrik politik bahkan fitnah sepertinya sama saja terjadi demi tetap mencengkeram Sabang hingga Merauke yang kaya sumber daya alam.

Jika dikaitkan dengan pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini sepertinya tak jauh berbeda dengan situasi perang. Namun perlu diingat berbagai momentum penting pernah mendewasakan bangsa ini, misalnya saja krisis ekonomi 1998.  Waktu itu Inflasi memaksa Presiden Kedua Soeharto harus turun dari tampuk kekuasaannya pada 21 Mei 1998, peristiwa tersebut sekaligus merubah peradaban Indonesia menjadi Era Reformasi.

Akses informasi yang mudah abad 21 kini, banyak pakar dan pemikir ikut terjun  berbagi solusi pada persoalan pandemi virus corona di akun-akun Youtube pribadinya, membuat siapa saja termasuk masyarakat di kota kecil seperti Kabupaten Pacitan dengan mudah mengakses dan mendalaminya tanpa harus terpaku pada media mainstream.

Salah satunya yang tengah ramai diperbincangkan adalah Mardigu Wowiek, salah satu unggahannya menyampaikan pandemi sebenarnya dapat menjadi momentum untuk menyalip perekonomian di tikungan tanpa mengindahkan kemanusiaan. Melalui mekanisme kompak satu suara yang beralaskan protokol kesehatan.

Sebagai gambaran sejak pasien pertama terkonfirmasi positif di Pacitan 9 April lalu, pemerintah melalui Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 telah mengeluarkan anggaran setidaknya 12 Miliar Rupiah, angka ini belum seberapa jika dibanding pemangkasan pagu anggaran di setiap instansi oleh pusat, memaksa perbidang tidak dapat melaksanakan tugasnya.

Sampai pada pasien ke 24 di Kabupaten Pacitan, situasi perekonomian, pendidikan dan yang lain hingga kini dapat diasumsikan masih tersungkur. Fakta lain infeksi Covid-19 dipastikan akan terus bertambah sejalan dengan jumlah uji Rapid dan Swab kepada masyarakat yang dicurigai. Hal itu membuat upaya penekanan terasa sukar dilakukan, meski Presiden Joko Widodo pada lawatanya ke Surabaya 25 Juni kemarin  menginstruksikan Jawa Timur Harus menekan angka positif Covid-19 dengan tenggang waktu singkat, 2 minggu.

Kemudahan informasi membuat masyarakat cerdas dalam menangkap segala hal yang terjadi meski tanpa memilah, yang menimbulkan berbagai asumsi yang terkadang disampaikan pada tiap kolom komentar di akun resmi Pemkab Pacitan. Mulai dukungan, ungkapan prihatin hingga umpatan tanpa tanpa fakta dan solusi. Mestinya pengetahuan yang diperoleh menjadi modal penting untuk andil dalam memerangi pandemi ini, bukan malah mengendorkan semangat yang lain dengan sikap acuh tak acuh merasa paling tahu tentang Covid-19.

Sikap bijak beratap agama dan budaya adalah solusi nyata. Kembali pada Negara Jepang yang mampu bangkit berlandaskan sikap disiplin yang memegang teguh nilai budaya dan kepercayaannya. Bahkan hingga kini meski mereka bertetanggaan dengan musik K-POP maupun Drakor, mereka tetap percaya diri mengikuti upacara minum teh lengkap dengan Kimononya.

Pacitan di dalam Indonesia lebih jika dibanding Negeri Sakura, agama dan budaya Pacitan sangat mendarah daging, sumber daya tak perlu ditanya, apalagi jumlahnya. Pacitan memiliki segalanya dengan 500 ribu jiwa. Permasalahannya adalah kemauan, bangkit dan satu suara dengan segala informasi dan pengetahuan yang dimiliki untuk menghadapi pandemi.

Tanpa saling mengintervensi dan menyalahkan, sekali lagi segala teori tersebut justru harus menjadi semangat tiap-tiap diri dalam melakoni kehidupan bersama pemerintah. Semangat menjalankan protokol kesehatan yang disampaikan pemerintah mulai memakai masker, pysical distancing maupun rajin cuci tangan dengan disiplin dan penuh ikhlas.

Menggapai mimpi Pacitan yang ber-zona hijau adalah tujuan awal, tercapai misi pertama berimbas berbagai upaya lanjutan dapat dilakukan pemerintah bersama satgas, mulai launching obyek pariwisata, membuka sekolah dan pondok pesantren dal lain-lain.

Tak lama ekonomi akan kembali bangkit, UMKM kembali menggeliat, termasuk gelontoran anggaran pemerintah pusat akan kembali terkucur. Bukan untuk uji Rapid maupun Swab, namun untuk hal-hal yang lebih penting seperti pembangunan jalan, program peningkatan SDM maupun upaya pengentasan kemiskinan.

Mari mengawali semua dengan merasa malu jika menjadi tokoh antagonis, contohnya mengindahkan aturan pemerintah akan protokol kesehatan dan sebagainya. Kampung Tangguh Semeru yang digadangkan salah satunya mesti disukseskan bersama-sama. Karena dengan hal sederhana itu siapa saja adalah pahlawan dan Pacitan dan Indonesia lebih dari sekedar Jepang. (budi/rch/DiskominfoPacitan).

Jelang Launching Wisata Malah Muncul Cluster Baru dan Impor

Wakil Bupati Pacitan sekaligus Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Yudi Sumbogo umumkan penambahan 3 pasien Covid-19, 2 pasien berasal dari Kecamatan Tegalombo dan Ngadirojo merupakan cluster impor dari Kota Pahlawan Surabaya, sedang 1 pasien dari cluster lokal yakni Sudimoro.

2 pasien dari cluster surabaya memiliki gejala sakit dan memilih pulang ke Pacitan, usai dilakukan uji swab hasil menunjukkan 2 orang tersebut positif Covid-19. “ Tapi Alhamdulilah hari ini 1 orang dari Kecamatan Tulakan dinyatakan sembuh,” Kata Wabup (27/06) di Pendopo Kabupaten.

Penambahan kembali 1 kasus cluster lokal dari kecamatan Sudimoro saat ini memaksa pemerintah harus segera melakukan beberapa upaya konkrit, diantaranya menegaskan protokol kesehatan kepada masyarakat yang akhir-akhir ini dinilai jajaran Satgas mengalami penurunan kedisiplinan. “Kami akan tegaskan kembali.” kata Jubir Rachmad Dwiyanto usai Konferensi Pers.

Lantaran data terus menunjukkan peningkatan, Jubir mengaku pihaknya bakal menggelar tes rapid masal kepada masyarakat. Mengingat Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Surabaya memberi tenggang waktu 2 pekan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Penambahan 3 pasien baru juga berimbas pada rencana pembukaan destinasi wisata di Kabupaten Pacitan. Lahirnya cluster lokal baru di Sudimoro bukan tidak mungkin merubah peta Covid-19 di Pacitan menjadi orage bahkan merah. “Kita akan konsolidasi lagi dengan gugus, melihat perkembangan,” lanjutnya menggambarkan.

Melihat fenomena di Sudimoro, pihaknya mengaku pekan besuk bakal melakukan tes rapid massal, di wilayah Karangturi, Sumberejo dimana pasien positif berkode 21 yang sempat menggelar kondangan di lingkungannya, dan instansi tempat kerja pasien terkonfirmasi Covid-19,

Jika memungkinkan penutupan terhadap instansi bukan tidak mungkin bakal dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan, kalau-kalau hasil tes menunjukkan ledakan kasus positif. “Sementara kami tidak dapat berspekulasi. Moga-moga jangan. Namun akan kami bicarakan,” tambah Jubir. (budi/alazim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Launching Wisata tangguh; Watu Karung Tinggal Tunggu Aba-aba

Alkisah, Padukuhan Gembul Rejo seperti halnya dukuh-dukuh lain disekitar. Hanya tampak pesisir laut selatan yang khas dengan deburan ombak tanpa menjanjikan apapun, kecuali tangkapan ikan bagi para nelayan.

Tak seperti sekarang, Dukuh Gembul Rejo selain berubah nama menjadi Desa Watu Karung Pringkuku, menjadi begitu seksi bagi wisatawan domestik bahkan pecinta surfing berkelas dunia. Namun Pandemi Covid-19 semantara menjadi halang rintang Watu Karung untuk memanjakan para tamu.

Bersama semua komponen hal ini tentu tidak diharap berlarut-larut, Watu Karung harus kembali beraktifitas seperti kemarin-kemarin, tanpa adanya tumbal lahirnya cluster penderita Covid-19.

“Sarat pertama adalah zona kuning. Bersyukur saat ini kita statusnya kuning,” ujar Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan saat launching Wisata Tangguh Semeru di Pantai Watu Karung Pacitan Indartato. Pagi ini (26/06).

Sesuai rencana pembukaan yang dijadwalkan pada (30/06) menurut Indartato tidak ada masalah, sejauh protokol kesehatan telah dijalankan dengan baik, termasuk pembatasan wisatawan yang berkunjung.

Namun demikian kajian demi kajian tetap akan dijalankan demi keamanan, apalagi keputusan tersebut adalah kewenangan pemerintah pusat, pemda sejauh ini hanya menyiapkan seluruh komponen. “Simulasi nanti akan kita laksanakan untuk bahan evaluasi,” lanjud Dia.

Musyawarah lintas sektor kemudian akan menjadi perantara komitmen untuk menyongsong hari yang ditunggu. Termasuk para pengelola, petugas medis dan pihak keamanan yakni kepolisian. “Kami laksanakan sosialisasi kepada para pelaku sejak dua minggu lalu supaya semua benar-benar memahami prosedur protokol kesehatan,” ucap Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto di kesempatan yang sama.

Seluruh jajaran covid-19 tentu menyadari perbedaan pandangan masyarakat akan rencana pembukaan objek wisata, tidak sedikit yang menilai hal ini masih terlalu dini, sebagian lain merasa perlu segera untuk kembali dibuka.

Menurut Kapolres sepanjang sesuai dengan mekanisme protokol kesehatan dan status zona, maka tidak alasan area wisata segera kembali dibuka. Meski pihaknya dan jajaran covid-19 Pacitan nantinya tidak sembarangan dalam memutuskan perkara ini.

Sementara Kades setempat Wiwid Pheni sangat yakin desa dan seluruh objek pariwisata yang ada sudah cukup tangguh apabila pariwisata kembali dibuka. Bukan tanpa bukti, masyarakat beberapa pekan terakhir getol mengikuti segala sosialisasi yang diadakan termasuk simulasi berskala kecil.

“Ada sekitar 150 KK yang menggantungkan hidup di pariwisata, mulai pemilik homestay, pedagang, ojek perahu dan lain-lain sudah siap sewaktu-waktu dibuka,” terang Wiwid. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Ploso Kecamatan Punung; Terjang Karang Lahirkan Kampung Tangguh

Gairah masyarakat Desa Ploso, Punung kiranya patut untuk dijiplak, bersama pemdes masyarakat greget membangun budaya baru dalam rangka menyambut New Normal melalui platform Kampung Tangguh Semeru.

Energi tersebut disaksikan langsung Bupati Pacitan Indartato bersama jajaran Satgas Covid-19 Pacitan, Hari ini (24/06). Tak Pelak semangat tersebut benar-benar hadir pada sendi-sendi warga Ploso yang mendengarkan secara seksama berbagai arahan dari Kapolres dan Bupati akan detail-detail Kampung Tangguh dan protokol kesehatan.

Agus Cahyono sebagai Kades Ploso dengan karakter energic-nya mengaku hingga kini satu warganya masih positif Covid-19, namun hal itu justru membuatnya semakin melenggang akan mimpinya bersama seluruh warga. “Banyak perantau menjadi masalah serius harus kami perhatikan,” ungkap Dia.

Belum lagi, mula-mula masyarakat agak rewel yang terpaksa harus meninggalkan beberapa tradisi seperti arisan dan lain-lain. Namun kesabarannya akhirnya membuahkan hasil, masyarakat semakin memahami keadaan bangsa sehingga kian taat terhadap seluruh arahan pemerintah. “Kami ingin pemahaman ini sampai mengkristal dibenak seluruh masyarakat,” harap Dia.

Sementara Kapolres Pacitan Didik hariyanto, melihat atmosfer di Ploso lantaran adanya sistem tatakelola yang berjalan baik dan berkesinambungan. Selanjutnya bagaimana program Kampung Tangguh Semeru tersebut benar-benar berjalan sesuai arahan. “Di dalam Kampung Tangguh ada penyelesaian masalah,” tutur Kapolres.

Kader Trengginas yang kini berada di garda terdepan memerangi Covid-19 di Ploso diapresiasi Bupati, pemahaman terhadap mereka harus sempurna supaya tidak menjadi bumerang. Selebihnya Bupati meminta semangat ini tidak usai pada ceremony belaka. “Praktiknya harus Sungguh-sungguh dipraktikkan,” pungkas Dia.

Sempatkan Jenguk Satria

Disela padatnya kegiatan Kampung Tangguh Semeru di Kecamatan Pringkuku dan Punung (24/06), Bupati Pacitan Indartato bersama rombongan menyempatkan diri menjenguk Satria Yusril Suseno, anak laki-laki berusia 12 tahun yang memiliki masalah pada kakinya yang tumbuh tidak normal.

Satria Tinggal bersama sang Nenek di Dusun Ngelo, Ploso, Punung dan berstatus sebagai anak yatim. Pihak desa setempat mengupayakan satria untuk daily activity tanpa merepotkan yang lain yang nanti juga akan didukung Dinas Kesehatan Pacitan.

Sementara, Dinas Sosial Pacitan akan memeriksa identitas keluarga, jika memenuhi syarat Program Bansos akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan satria yang mempunyai masalah bawaan tersebut. (DiskominfoPacitan).

Sempat menjadi Zona Merah; Desa Pelem Tangkas Balik Situasi

Seluruh jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan sedikit merasa tenang. Awalnya siapa terka, di Dusun Janglot, Pelem Pringkuku yang tenang sempat geger gara-gara satu warga dinyatakan positif Covid-19.

Kini satu warga tersebut telah dua kali negatif swab dan menjalani karantina selama 2 pekan di rumahnya. Beruntung masalah tersebut tangkas dihadapi warga bersama pemdes setempat sehingga tidak sempat menjalar kemana-mana.

Selama perjalanan menuju lokasi, rombongan dimanjakan berbagai pemandangan hasil alam yang memanjakan mata. Hal tersebut lantas jajaran Satgas menafsirkan kekuatan ketahanan pangan yang kuat. “Hasil panen kami kuat untuk satu tahun ke depan jika dibutuhkan untuk warga kami,” ujar Jarno Kades Pelem membenarkan (24/06).

Kini tinggal program Kampung Tangguh Semeru untuk dimaksimalkan, utamanya pada pemahaman masyarakat supaya tidak mengucilkan orangnya, namun spesifik menjauhi virusnya dengan melaksanakan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. “Kampung Tangguh Semeru harus berhasil untuk memutus mata rantai Covid-19,” kata Indartato. (budi/wan31/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Usai Gelar Genduri Positif Corona

Rasa syukur Bupati Pacitan Indartato dan seluruh jajaran Penanganan Covid-19 Pacitan kembali diuji dengan bertambahnya satu pasien positif baru. Kasus berkode 21 ini berjenis kelamin laki-laki berusia kurang lebih 40 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai Satpam, dan telah dikarantina di Wisma Atlet Pacitan.

Penambahan ini merupakan cluster lain-lain atau abu-abu, diketahui pasien rekan sejawat pasien berkode 19 yang meninggal Sabtu kemarin (20/06). “Sekali lagi kami mohon maaf karena masih bertambah kasus baru,” kata Indartato (23/06) di Pendopo Kabupaten.

Melihat kondisi baru tersebut jajaran Satgas tangkas laksanakan tracing di dua kecamatan yakni Kecamatan Ngadirojo dan Sudimoro. Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengaku hingga sore tadi petugas terus melakukan tracing kesemua orang yang pernah bersinggungan langsung dengan pasien 19 dan 21. “Hari ini 10 orang yang kita swab,” kata Jubir.

Masalah semakin runyam, ketika pasien 21 mengaku habis menggelar Kondangan di rumahnya Kecamatan Sudimoro. Jajaran Satgas khawatir jika kejadian di Kabupaten Tulungagung terulang di Kabupaten Pacitan. “Ini teman-teman (Petugas medis) di sana was-was,” ungkap Dia.

Upaya tracing yang dilakukan oleh petugas kesehatan akan dilaksanakan secara menyeluruh, baik di tempat kerja maupun di rumah pasien 21. Demikian itu selain untuk menyelamatkan masyarakat juga sebagai upaya menentukan cluster yang masih abu-abu ini. (budi/not/alazim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Launching Industri Tangguh di Pt. PPIS

Mengawali kunjungan Launching (23/06), Bupati sekaligus Ketua Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato dna jajaran meresmikan Industri Tangguh Semeru di PT. Putera Pacitan Indonesia Sejahtera (PPIS), mitra PT. HM Sampoerna TBK.

Perusahaan rokok di Sidoharjo, Pacitan tersebut setidaknya memiliki karyawan sebanyak 843 orang yang tersebar diseluruh 12 Kecamatan, membuat pabrik tersebut memiliki potensi besar terhadap penyebaran covid-19 sehingga menjadi cluster baru.

Beruntung pihak perusahaan sebelum inisiatif Industri Tangguh Semeru sudah memberlakukan secara ketat protokol kesehatan, hasilnya kini seluruh karyawan yang ada sudah terbiasa dengan peraturan tersebut. (DiskominfoPacitan)

Buah Kompak dan Komitmen; Bangunsari Selalu Negatif Corona

Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan.  Letak yang strategis dengan pusat Kota menyimpan potensi besar terhadap penyebaran virus Covid-19. Padahal wilayah ini dihuni berbagai masyarakat baik dari dalam dan luar kota.

Lantas bagaimana pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mengemas desa ini menjadi kebal terhadap wabah dari Kota Wuhan, Hubei China itu, melalui Kampung Tangguh Semeru yang digagas Kapolda Jatim tersebut.

Disambut Wedang Secang, semangat pemuda, tokoh masyarakat dan seluruh perangkat desa serta tabuh Titir Kenthongan, Bupati Pacitan Indartato beserta jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan semangat menyusuri gang RT. 04 RW 06 Dusun Krajan, Bangunsari.

Didampingi Darminto, Kades setempat Bupati melihat lumbung pangan, rumah karantina mandiri hingga inovasi Trasi Jadam Covid-19 atau Tradisi Sistem Jempitan Atasi Dampak Covid-19. Satu inovasi kemandirian masyarakat yang kini dialih fungsikan untuk keperluan menangani pandemi.

Hasil jempitan cukup lumayan, diakui pengurus dalam semalam pemuda dapat mengumpulkan uang koin rata-rata Rp. 40.000, ke semua selama pandemi covid-19 diperbantukan kepada yang terdampak covid di desa tersebut sehingga tidak membebani pemdes.

Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto mengapresiasi program ini, ia berharap kekompakan yang telah mendarah daging ini dapat menjadi kemandirian terutama di masa transisi menuju New Normal ini. “Lingkungan ini saya harap dapat dicontoh lingkungan lain,” kata Dia (23/06).

Perasaan yang sama tampak di wajah Bupati, tidak adanya kasus positif di desa itu merupakan bentuk nyata dari semangat perang melawan covid-19. Selanjutnya bagaimana launching yang dilakukan kini terus dipupuk sehingga Bangunsari, Pacitan tidak ada yang terkonfirmasi Covid-19 selamanya. “Saya tersanjung, teringat saya dulu pernah tinggal di lingkungan ini ikut nenek sewaktu kecil,” katanya jujur sembari mengenang. (budi/notz/rch/tika/DiskominfoPacitan).

2 Pasien Positif Corona; 1 Meninggal

Awali penghujung bulan Juni, Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan kembali mengumumkan penambahan 2 kasus  positif baru. 1 pasien diantaranya adalah seorang PNS dari Kecamatan Pacitan, dan satu dari Kecamatan Ngadirojo berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) menjadi positif corona, dan telah meninggal dunia.

Penambahan ini menambah jumlah total kasus Covid-19 di Kabupaten Pacitan menjadi 20 orang. Kini satgas merawat dan mengkarantina 10 pasien tersisa, sembilan diantaranya berhasil sembuh.

Sedang untuk data keseluruhan PDP yang dirawat di rumah sakit kini berjumlah 17 orang, terkonfirmasi meninggal 4 orang dan dinyatakan sembuh 13 orang. “Untuk PDP positif dan meninggal memiliki riwayat bawaan penyakit paru-paru,” ujar Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto (22/06).

Untuk riwayat pasien yang berstatus PNS disampaikan Rachmad pernah menjalani kontak dengan pasien Temboro, anehnya Tes Swab pertama menunjukkan negatif Covid-19, ternyata tes kedua hasil menunjukkan hasil yang sebaliknya.

Ini membuat Rachmad kembali meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada, berhati-hati dengan menjalankan protokol kesehatan yang telah disampaikan pemerintah. “Dengan menjalankan protokol kesehatan masyarakat telah menjadi pahlawan kepada keluarga, tetangga dan negara,” ucap Dia.

Lalu bagaimana nasib Kabupaten Pacitan dengan penambahan tersebut akan rencana besar New Normal yang digadang-gadang. Bicara masalah bersama tersebut bersatunya semua masyarakat, pemerintah adalah jawaban terbaik.

Di satu sisi pemerintah terus melakukan tracking kepada seluruh masyarakat yang berpotensi covid-19, berdasar status yang terhimpun. “Ketika muncul data, maka kami akan melakukan tracking, minimal Rapid Tes,” pungkas Rachmad. (budi/alazim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Lihat Kesiapan Dua Toserba Jelang New Normal

Program New Normal sebagai jawaban menghadapi pandemi covid-19 tinggal menunggu hari, satu budaya baru yang tertib protokol kesehatan. Berbagai aspek menjadi perhatian bersama, termasuk di pusat perbelanjaan modern maupun pasar tradisional.

Melihat Toserba di sekitar perempatan Penceng, pihak manajemen terpaksa berlakukan peraturan keras dengan tak segan-segan melarang masuk calon pembeli yang tidak mengenakan masker. Begitu juga dengan pengunjung yang suhu tubuhnya di atas rata-rata.

Pemandangan serupa juga terjadi di Toserba di Arjowinangun, pihak keamanan tengah sibuk melakukan tes suhu tubuh setiap pengunjung yang akan masuk sekaligus membagikan Hand Sanitizer. Selebihnya membersihkan area toko dengan disinfektan di malam harinya.

Ratusan karyawan mengais rizki di dua toko itu, mereka juga potensi nyata. Menyadari itu Enggal Dua rajin melaksanakan giat apel pagi yang diisi berbagai materi akan protokol kesehatan termasuk saat saat melayani pembeli. “Bagaimana caranya agar anak-anak tetap bekerja namun tetap aman,” ujar Ninik Sugi Haryani Pemilik salah satu Toserba (22/06).

Cara serupa dilakukan Toserba di Arjowinangun, Tomas selaku Manajer Toko mengaku mereka menerapkan metode sistem 2 hari kerja, 1 hari libur untuk menjaga stamina karyawan agar tetap prima. Namun berbeda dengan yang pertama, Toko ini cenderung tidak mengenakan Face Shield di lokasi pembayaran dan diganti dengan penghalang plastik. “Masih aman,” kata Dia.

 Tidak ada masukan terhadap pemerintah, namun kedua toko tersebut mengaku kedisiplinan masyarakat menjadi catatan penting selama ini, menejemen hingga kini masih mendapati banyak masyarakat yang mencoba berbelanja tanpa masker. “Kami harap pemerintah lebih giat lagi melakukan kampanye,” harap Ninik.

Masyarakat tentu berhak beropini apa saja akan pandemi ini, itu adalah hak. Namun kewajiban mestinya juga dilaksanakan, supaya menjadi bijaksana menjadi bagian masyarakat maupun bernegara. Tujuannya program New Normal ini sukses dilakukan, tidak lahir korban baru covid baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. (budi/alazim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Ihwal Penangan Covid-19; Dandim dan Kapolres Buka Suara

Sejak awal merajalela, dua instansi besar yakni Kodim 0801 dan Polres Pacitan selalu terlibat aktif menangani pandemi covid-19. Bahkan hingga kini, memasuki masa transisi menuju peradaban baru yang akrab disebut New Normal.

Tim liputan Diskominfo Pacitan mencoba menggali pemikiran kedua perwira sekaligus orang nomor 1 di dua instansi tersebut. Melihat sisi lain yang dapat menjadi rujukan masyarakat dan bahkan pemerintah.

Kesadaran masyarakat untuk disiplin terhadap protokol kesehatan menjadi pasal penting yang disampaikan di awal percakapan bersama Komandan Kodim 0801 Pacitan Letkol Nuri Wahyudi. Meski diakuinya sudah banyak yang taat aturan, namun dari pengamatan ia menilai beberapa masyarakat masih tampak tak mau tahu terhadap bahaya pandemi covid-19 baik disisi  keselamatan dan ekonomi.

“Masih kita jumpai masyarakat yang tidak memakai masker, tidak melaksanakan physical distancing. Sikap ini menjadi kendala bagi kami dalam mencegah pandemi,” ujar Dia usai Launching Kampung Tangguh Semeru di Desa Nglaran, Tulakan. Pagi ini (19/06).

Di dapur pemerintahan, ia mengaku pemkab mesti memperhatikan masalah keakuratan data. Ini penting lantaran berbagai kebijakan yang dilakukan diawali dengan data yang diproyeksikan kepada pimpinan, semakin akurat data tentu berimbas pada keberhasilan kebijakan.

Perkara lain yang ada dalam benak mantan Paspampres era SBY itu selanjutnya soal bantuan langsung. Sokongan pemerintah mesti sesuai data, supaya tidak terjadi ketimpangan di masyarakat, sehingga seluruh penduduk merasa terlayani dengan baik.

Klop dengan Dandim, Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto di kesempatan yang sama mengaku bungah melihat beberapa rumah warga kini sudah disiapkan tempat cuci tangan, menunjukkan beberapa masyarakat cukup dewasa terhadap masalah bersama tersebut, apalagi didukung program kampung tangguh semeru.

Sembari menjalankan program kampung tangguh, diam-diam Didik menunggu masyarakat yang sebagian apatis tergerak untuk mendukung program pemerintah. Hasilnya jelas program New Normal akan segera lahir. Kehidupan setelahnya bakal kembali seperti sediakala. “Vaksin terbaik adalah disiplin, baik disiplin mengenakan masker, physical distancing dan cuci tangan dengan sabun,” katanya di kesempatan yang sama.

Menyoal berbagai langkah dari pemerintah, ia ogah berkata banyak. Pihaknya menilai kerjasama dan kekompakan termasuk dengan pemerintah desa adalah kunci utama keberhasilan. “Kita bergandengan tangan. Melalui tiga pilar. Pemerintah, TNI Polri dan masyarakat,” tambahnya. (budi/anj/rch/tika/DsikominfoPacitan).

Gali Kreativitas dan Kompak; Ampuh Lawan Corona

Tolak Braholo, disajikan spesial menyambut kedatangan Bupati Pacitan Indartato beserta jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan saat Launching Kampung Tangguh Semeru (18/06). Panganan berupa jenang sumsum 7 warna mulai putih, kuning, hijau, merah, biru, ungu dan hitam menjadi perantara usaha dan doa masyarakat desa Ngreco, Tegalombo menghalau pandemi Covid-19.

Umumnya setiap malam Jumat, desa ini menggelar doa bersama lengkap dengan Tolak Braholonya selama 7 kali malam jumat berturut-turut di rumah masing-masing, disempurnakan dengan titir kentongan sebagai media menumbuhkan kekompakan antar warga masyarakat termasuk menciptakan rasa aman masyarakat.

“Kita laksanakan ini untuk mengusir pageblug sebagaimana yang dilakukan nenek moyang,” ujar Kades Setempat Hadi Susilo.

Ini adalah keanekaragaman budaya yang diadopsi menjadi inovasi pada situasi genting, satu penanda masyarakat beserta seluruh jajaran kompak berkomitmen terhadap masa depan Kabupaten Pacitan. Sedekah tersebut juga meliputi beberapa jenis makanan penyempurna yang siap disodaqohkan.

Seterusnya kegiatan yang sama dilanjutkan di Desa Jeruk, Bandar. Desa ini memiliki peran vital karena letak geografisnya yang bersebelahan dengan Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Membuat akses masyarakat di dua Kecamatan banyak yang melintasi tempat tersebut, utamanya yang menjadi perhatian adalah para perantauan.

Saat ini posko perbatasan memang sudah dinonaktifkan, digantikan Kampung Tangguh Semeru. Bersyukur masyarakat juga memiliki kesadaran tinggi, walau beberapa waktu sebelumnya puluhan orang sempat dikarantina di tempat isolasi yang disiapkan pihak pemdes.

“Tidak ada yang terkonfirmasi Positif Corona. Karena semua terbuka, mereka yang hendak mudik WA (Whatsapp) dulu, sehingga kami banyak persiapan,” ujar  Haris Kuswanto Kades Setempat.

Lebih-lebih, saat ini masyarakat Desa Jeruk tengah panen raya, tentu bukan buah jeruk yang dipanen, yakni berupa bahan pangan pokok seperti Padi dan Jagung. Haris mengaku tak sedikit yang meyumbangkan hasil tani untuk kepentingan Covid-19. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Kerja Bagus; Pemkab Pacitan Kembali Raih WTP

Komitmen yang berbuah lebat, Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali menerima satu penghargaan bergengsi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Timur.

Meski kota berjuluk Paradise Of Java ini tengah dilanda ujian berupa Pandemi Covid-19, namun nyatanya pemerintah bersama-sama masyarakat tetap fokus menjalankan tugasnya dengan sesempurna mungkin.

Tercermin Kabupaten Pacitan dapat menciptakan sebuah tata kelola pemerintahan yang profesional dan bersih. Ini penting, sebab dengan bukti demikian masyarakat dapat merasakan dampaknya secara langsung. Alhamdulilah sudah 9 kali, yang 7 kali berturut-turut,” ujar Bupati Pacitan Indartato (16/06) di Halking Pendopo Kabupaten.

Sudah sepatutnya reward tersebut menjadi semangat pemerintah dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Selebihnya masyarakat pun mesti bersyukur selanjutnya berperan aktif pada tugas masing-masing. Karena pemerintah selanjutnya mempunyai tugas yang cukup berat, yakni menjaga Pacitan supaya tetap WTP. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Bentuk Kampung Tangguh di Bumi Jenderal Sudirman

Burung merpati sebagai simbol kebebasan dilepas liarkan oleh Indartato di depan Balai Desa Pakis Baru, Nawangan. Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan itu mengawali Launching Kampung Tangguh Semeru di wilayah sejuk yang pernah menjadi panggung perjuangan Jenderal Besar Sudirman saat menghadapi serdadu penjajah.

Mencetak Kampung Tangguh Semeru, berbagai aspek dikedepankan. Sumber Daya Manusia (SDM) tentu menjadi prioritas, selebihnya ketahanan pangan juga menjadi sasaran penunjang kalau-kalau situasi berubah menjadi kritis seperti karantina wilayah.

Kepala Desa setempat, Sugiyanto menyampaikan meski ada satu pasien positif dari cluster Temboro yang kini masih dikarantina di Wisma Atlet namun dirinya mengaku masih bisa bersyukur, karena penyakit itu tidak sampai menular kepada keluarga dan masyarakat lain. “Keberhasilan menghentikan laju pandemi di tempat kami merupakan buah dari kekompakan semua pihak,” Kata Dia di hadapan Bupati dan Jajaran Covid-19 Pacitan.

Kesiapan juga berlebih di Desa Ngromo, 3 pasien dari cluster Temboro pernah dicatat di desa tersebut membuat Pemdes melakukan upaya yang lebih serius, berharap tidak terjadi penambahan baru. Bersyukur, peran masyarakat hingga kini nyata adanya.

Gunawan, Kades Desa Ngromo lokasi kedua kegiatan launching mengaku pihaknya gencar melakukan kampanye masif kepada masyarakat yang berjumlah lebih dari 4500 jiwa. Sehingga meski hingga kini masih ada 4 orang yang menjalani tes Swab, masyarakat tidak resah karena paham betul akan bahaya pandemi Corona beserta dampaknya. “Bersyukur ketahanan pangan kami cukup karena mayoritas petani, jadi tidak terlalu membebani pemdes,” ujarnya. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Akhirnya! Pasien Covid No 1 Akhirnya Sembuh

Muhammad Nurul Huda pasien pertama Covid-19 di Pacitan akhirnya dinyatakan sembuh setelah menjalani Karantina di RSUD dr. Darsono dan di Wisma Atlet Pacitan selama 74 hari mengikuti 11 kali Swab dan 3 kali dinyatakan negatif.

Pernyataan sembuh tersebut disampaikan Bupati Pacitan Indartato bersama jajaran Satgas Covid-19 Pacitan di Pondok Tremas, Arjosari melihat langsung pencanangan Pondok Tangguh.

Sementara Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo pada momentum tersebut berkesempatan mengantar langsung pemulangan Huda di Wisma Atlet Pacitan. Saat itu Wabup Berharap pulangnya pasien 01 ini menjadi semangat pasien Covid-19 lain untuk mengikuti jejaknya dapat berkumpul bersama keluarga. “Kami mohon maaf jika saat melayani banyak kekurangan,” ucap Wabup. (15/06)

Selain Huda, 2 pasien lain juga dinyatakan sembuh hari ini, yakni dari Kecamatan Nawangan dan Pringkuku, kedua pasien tersebut adalah santri dari cluster Temboro yang kini juga dapat kembali berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga.

Hinar binar raut kebahagiaan begitu terpancar di wajah Huda, cluster Sukolilo ini tampak gondrong, ditanya oleh Diskominfo Pacitan terkait pelayanan yang diberikan oleh Satgas Covid-19 ia mengakui sangat baik. “Mereka (Petugas Penanganan Covid-19) luar biasa dengan segala inovasinya, sehingga kami senang dan imunitas kami jadi kuat,” terang Huda.

Pada momentum tersebut Huda juga berpesan kepada khalayak untuk bersikap positif kepada penderita Covid-19, dengan cara menjauhi penyakitnya bukan menjauhi orangnya. “Mari kita ikuti pesan-pesan pemerintah. Karena itu adalah perwakilan Allah yang ada dimuka bumi ini,” pungkas Dia.

Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan yang sama juga menyampaikan adanya pasien positif baru di Pacitan, pasien bernomor 18 tersebut berasal dari Kecamatan Tulakan. “Pasien baru ini mencari kerja di Surabaya dan dinyatakan Positif di sana. Saat ini berada di RSUD Pacitan,” tambah Rachmad. (budi/anj/rch/tika/DsikominfoPacitan)

Indartato Ingin Tremas Menjadi Contoh Nasional

Cepat atau lambat lembaga pendidikan non formal pesantren harus segera beroperasi mendidik para santri sebagai generasi penerus bangsa, di Kabupaten Pacitan Pondok Pesantren Tremas memiliki peranan strategis bahkan di kancah Nusantara.

Berbagai kesiapan matang harus dilakukan menyambut ribuan santri yang bakal memadati salah satu pondok tertua di Indonesia tersebut, dengan disiplin tinggi tanpa kesalahan sekecil apapun. Mengingat pondok tersebut umumnya memiliki santri dari berbagai wilayah di pulau Jawa bahkan Nasional.

“Kita hari ini bersama-sama dengan satuan gugus tugas melihat langsung kesiapan pondok. Ternyata sesuai dengan SOP yang berlaku. Nantinya pondok ini saya harapkan menjadi contoh bagi pesantren lain di Pacitan bahkan Nasional,” kata Bupati sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Pacitan Indartato (15/05) saat berkesempatan meninjau Pesantren Tangguh di Pacitan.

Sementara Luqman Al Hakim Harst Dimyathi atau akrab disapa Gus Lukman, salah satu Pengasuh Pondok Tremas mengaku mengapresiasi kunjungan Bupati beserta jajaran terhadap persiapan Pondok Tremas.

Meski disatu sisi pihaknya belum dapat memastikan pesantren yang mempunyai lebih dari 4000 lebih santri tersebut kapan benar-benar dibuka kembali. Namun yang pasti mekanisme yang bakal digunakan adalah mendahulukan para santri dari wilayah-wilayah yang aman dari pandemi Covid-19.

Ketua Gerakan Ayo Mondok Nasional tersebut juga menomorsatukan persetujuan pemerintah mulai Kabupaten hingga pemerintah desa. Hal tersebut mencerminkan Tremas enggan menorehkan masalah baru yang merugikan banyak pihak dalam pembukaan yang direncanakan.

Namun sesuai maklumat, pada tanggal 13 Juli mendatang rapat terkait hal tersebut bakal kembali dibahas. Karena Pihak Tremas memahami koordinasi dan kehati-hatian menjadi penentu dalam pembukaan tersebut. “Ada satu pesantren yang kembali dibuka, selang 2 hari digeruduk masyarakatnya,” kata Gus Lukman menghindari blunder semacam itu. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Pasar Kuat dan Kampung Tangguh

Disamping masyarakatnya, Desa memiliki peran vital menentukan tangguh atau tidaknya suatu wilayah dalam menghadapi ancaman pandemi Covid-19, melihat kenyataan tersebut Bupati Pacitan Indartato yang juga Ketua Satuan Gugus Tugas Covid-19 Pacitan mengukuhkan desa tangguh atau biasa disebut Kampung Tangguh Semeru.

Di Kecamatan Arjosari, Desa Jatimalang terpilih menjadi percontohan pertama, lantaran desa tersebut masih berstatus Hijau atau zero pasien corona. Banyak faktor yang harus disiapkan untuk menuju menjadi desa tangguh, selain sarana dan prasarana juga komitmen dari pemerintah dan masyarakatnya.

Indartato dalam kesempatan tersebut mengapresiasi komitmen penting tersebut, nantinya desa tangguh harus terinstal semua desa di Kabupaten Pacitan. “Kami berharap hal ini tidak hanya Ceremony belaka,” kata Bupati.

Sebelumnya rombongan Satgas Covid-19 Pacitan itu juga menyempatkan diri, melihat langsung Pasar Arjosari yang dilaunching menjadi Pasar Kuat. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Inflasi dan deflasi Kabupaten Pacitan pada bulan Mei 2020

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Bulan Mei 2020, Kabupaten Pacitan mengalami deflasi  sebesar 0,01 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,09 pada bulan April 2020 menjadi 104,08 pada bulan Mei 2020. Selama kurun waktu tahun 2018 s/d 2020 inflasi bulan Mei yang tertinggi terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar 0,31 persen.

Inflasi bulan Mei 2020 ini dipicu oleh beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga, antara lain  bawang putih, bawang merah, tongkol, wortel, minyak goreng, pepaya, salak, sawi hijau, ketela pohon, dan daging sapi. Sementara komoditi yang menyebabkan terjadinya deflasi adalah cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, pasir, daging ayam ras, layur, semen, jeruk, beras, dan pisang. Deflasi di Kabupaten Pacitan disebabkan karena turunnya indeks harga konsumen pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 0,15 persen, dan kelompok perumahan yaitu sebesar 0,07 persen.                                                                                               

Andil terbesar penyumbang deflasi di Kabupaten Pacitan adalah kelompok bahan makanan  yaitu dengan deflasi sebesar 0,15 persen dan memberikan sumbangan sebesar -0,03 persen. Kemudian diikuti kelompok perumahan  yaitu dengan deflasi sebesar 0,07 persen dan memberikan sumbangan sebesar -0,02 persen. Sementara andil terbesar terjadinya inflasi adalah kelompok makanan jadi dengan inflasi sebesar 0,18 persen dan memberikan sumbangan sebesar 0,02 persen, kelompok sandang dengan inflasi sebesar 0,09 persen dan memberikan sumbangan sebesar 0,01 persen, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan dengan inflasi sebesar 0.06 persen dan memberikan sumbangan sebesar 0,01 persen, kelompok kesehatan dengan inflasi sebesar  0,02 persen dan memberikan sumbangan sebesar 0,00 persen, dan  kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga dengan deflasi sebesar 0,00 persen dan memberikan sumbangan sebesar 0,00 persen. (statistik/DiskominfoPacitan)

New Normal Bukan Abnormal

Pandemi Covid-19 punya peran penting mempengaruhi situasi perekonomian masyarakat Kabupaten Pacitan. Khususnya mereka yang bergantung pada bisnis pariwisata, hampir-hampir mereka benar-benar tanpa pemasukan sama sekali tiga-empat bulan terakhir. Belum lagi pedagang, pelaku industri kreatif nelayan dan yang lain, menjadi peserta terdampak runtuhnya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Wacana New Normal yang tengah ramai menjadi pembahasan khalayak oleh media mainstream seakan memberi angin segar ditengah kehampaan. Mimpi perekonomian yang normal tanpa meninggalkan faktor kesehatan dan kemanusiaan memang tengah digodok pemerintah mulai tingkat pusat hingga wilayah-wilayah sehingga semua tidak berlarut-larut.

Dari teluk pantai Watu Karung, Pringkuku Suprapto menyambut gembira rencana ini, 10 kamar homestay yang ia gunakan untuk menjaring rupiah telah lama tidak dijamah tamu, bahkan selama ini karyawannya terpaksa ia pulangkan sementara karena bisnisnya mogok. “Sudah kami persiapkan segala hal untuk menyambut tamu,” ujar Dia begitu semangat.

Sesuai arahan pemerintah oleh Suprapto ia laksanakan sepenuhnya protokol kesehatan sesuai SOP, termasuk berbagai penyesuaian manajemen sehingga berjalannya New Normal tidak menjadi abnormal. “Pemantauan orang asing yang telah berjalan sepenuhnya kita laksanakan,” lanjut Dia.

Tak ayal, Watukarung bukan saja primadona wisatawan domestik, mereka para pehobi surfing dari belahan bumi lain begitu mengidolakan ombak Watu Karung. Kenyataan tersebut membikin momentum pada bulan-bulan terakhir 2020 tetap menjadi asa bagi mereka pelaku wisata. “Sudah banyak yang menelpon kemarin, tapi sesuai pemerintah masih kita tolak. Semoga New Normal segera dimulai,” harap Dia.

Diantara profesi yang yang lain, nelayan pun termasuk korban Covid-19, sebut saja Budi Santoso, nelayan yang fokus mencari lobster yang tinggal tak jauh dari bibir pantai Watu Karung ini juga merasakan dampak pandemi. “Karena tidak ada wisatawan pesanan lobster juga menurun,” ujar Budi.

Selama ini untuk menyambung hidup, budi dan rekan-rekannya mengaku mencari kesibukan lain supaya asap dapur tetap mengepul, termasuk bekerja sebagai kuli bangunan. Kepada Diskominfo Pacitan wajah lugunya menyiratkan semangat menyambut New Normal dengan segala mekanismenya, sehingga ekonomi tetap berjalan dan Covid-19 dapat dilumpuhkan.  (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan)

Bocah Bantu Covid-19

Arfa Fatkhi Dama F., Bocah usia 9 tahun yang menyerahkan uang tabungan sejumlah 800 ribu rupiah untuk membantu penanganan covid 19, mendapat apresiasi Bupati Pacitan.

Senin, 8 Juni 2020 kemarin, Pak In mengundangnya ke Pendopo Kabupaten untuk menerima penghargaan atas kepedulian siswa kelas 2 SD Alam Pacitan ini.

#bersatulawancovid19

Dari Seni; Masyarakat Harus Kompak dan Kreatif Menghadapi Covid-19

Malam kedua sekaligus malam terakhir Mbasuh Jiwa kembali menghibur sekaligus membuka wawasan masyarakat akan mewabahnya pandemi Covid-19. Ditemani rintik hujan di luar gedung pertemuan Hotel Srikandi Pacitan, Sanggar Gage, Wayang Beber Sakabendino dan penggiat seni rupa berkolaborasi demi mengabdi untuk Pacitan dan masyarakatnya.

Sekmentasi utama adalah mereka kaum milenial, panitia tahu bahwa mereka merupakan generasi penerus, tidak canggung dengan moderenisasi sehingga menerima baik pertunjukan yang dikemas secara live streaming bersama @pemkabpacitan. “Mereka tulang punggung bangsa, kelak,” ucap Choirul Anam, Sekretaris sekaligus ketua panitia (06/06).

Kesenian Pacitan bersama pelakunya punya lahan luas untuk berkarya lantaran kekayaan seni budaya yang dimiliki dan asli Pacitan, selain mengajak masyarakat bangkit dan bersatu hadapi pandemi, Mbasuh Jiwa merupakan satu upaya lain nguri uri warisan. “Kami juga mewadahi para seniman mudah yang belum sering terekspos,” pungkas Khoirul. (Budi/riyanto/DiskominfoPacitan).

Photo; Eko Prasetyo @mazz_jawa

Pasien Covid Tambah 1; Yudi Sumbogo Berharap Ini Pasien Terakhir

Malam Minggu yang panjang Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo mengumumkan penambahan 1 pasien positif Covid-19 di Kabupaten Pacitan. Pasien berkode 16 ini adalah cluster Temboro dari Desa Ngromo, Nawangan, Pacitan.

Menurut informasi yang dihimpun, hasil tes Swab positif tersebut diterima Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan siang tadi dan langsung diumumkan setelahnya, malam ini (06/06) di Pendopo Kabupaten. Pasien tersebut secepat mungkin akan dipindahkan ke Wisma Atlet Pacitan guna untuk di karantina bersama pasien lain.

Yudi Sumbogo pada kesempatan tersebut berharap penambahan ini adalah penambahan terakhir. “Jumlah keseluruhan 16, sembuh 3 orang. Mudah-mudahan ini adalah angka terakhir penambahan pasien baru di angka keramat 13,” harap Yudi. (budi/allazim/rch/tika/DiskominfoPacitan).

4 OTG Keluarga Pagerejo Ditemukan; 1 Anak Sulung Dalam Pencarian

Pemerintah tidak melakukan diskriminasi terhadap semua pasien positif Covid-19 dari cluster manapun termasuk cluster Temboro. Malahan Pemerintah begitu menumpukan harapan kepada semua santri, karena pemangku kebijakan paham mereka adalah salah satu generasi penerus kebanggaan bangsa.

Singkat cerita, keluarga OTG dari Pagerejo, Ngadirojo akhirnya dapat ditemukan kemarin malam (04/06) usai media resmi @pemkabpacitan merilis kejadian tersebut. Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengatakan yang bersangkutan ditemukan oleh tim di Lingkungan Slagi, Pucang Sewu, Pacitan.

Sayang, kondisi mereka tak lagi utuh berlima, satu anggota keluarga ternyata tidak berada ditempat yang sama. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya baru bagi petugas dan masyarakat. “Mereka langsung diamankan di Wisma Atlet dan sekarang melakoni uji Swab di rumah sakit. semoga hasilnya negatif,” harap Rachmad hari ini (05/06) di ruangnya.

Jubir baru mengaku ternyata satu keluarga adalah PNS, ini membuat satgas Covid-19 Pacitan memberlakukan tindakan tambahan melalui Badan Kepegawaian, Pendidikan Dan pelatihan Daerah (BKPPD). “PNS akan diproses lebih lanjut. Karena ini program pemerintah,” tegas Jubir.

Sekali lagi santri adalah tumpuan generasi muda, meski sebenarnya pemerintah tampak begitu segan menghadapi dilema ini, namun yang pasti pemerintah hanya ingin santri seluruhnya dalam kondisi sehat dan tidak menjadi sumber penularan dalam pandemi ini.

Baik kepada keluarga dan masyarakat di Kabupaten Pacitan termasuk kepada para ustadz dan Kyai di pondoknya Temboro, Magetan kelak ketika mereka kembali menimba ilmu agama. “Perlakuan ini semata karena kita sangat menyayangi mereka. Semua juga tidak dibebani biaya,” pungkas Rachmad.

Walaupun kini si sulung belum diketahui dimana rimbanya, namun pemerintah mengharap masyarakat untuk tetap tenang, tidak cemas. Selain tetap menjaga protokol kesehatan masyarakat dipersilahkan kooperatif dengan melapor kepada petugas jika mengetahui keberadaan si sulung.

Pemerintah tidak serta merta melaksanakan protokol penanganan pasien covid-19 secara kaku dan saklek. Bila yang bersangkutan antusias dan disiplin dengan seluruh aturan, maka tidak perlu melakoni karantina di Wisma Atlet, di rumah masing-masing pun cukup. Kecuali timbul gejala, barulah yang bersangkutan akan dirawat intensif di rumah sakit. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Mbasuh Jiwa; Kembalikan Nilai Sosial Budaya Masyarakat

Pandemi Covid-19 merubah tiap sendi peradaban umat manusia, termasuk sisi kebudayaan masyarakat Pacitan. Membuat 80 persen pelaku seni di kota 1001 goa ini harus terimbas langsung maupun tak langsung ganasnya virus tersebut.

Fenomena ini terbaca jelas oleh Dewan Kesenian Pacitan (DKP) usai menyaksikan perubahan sikap dan perilaku masyarakat disekitar. Dalam keseharian orang-orang mulai kehilangan pegangan dalam melakoni kehidupan.

Sekelumit kejadian itulah yang menggelitik DKP untuk bertindak nyata,  melalui pertunjukkan dengan nama Mbasuh Jiwa. Digelar 2 malam spesial teruntuk masyarakat dan Kabupaten Pacitan yang mereka cintai. “Pentas Live streaming, utamanya kepada seniman dan yang lain yang tidak bisa bergerak karena wabah ini,” kata Endro Wahyudi Ketua DKP disela pementasan (03/06) di Aula Hotel Srikandi Pacitan.

Bagaimanapun keadaannya, Endro bersikukuh nilai tenggang rasa, peduli, dan persaudaraan yang telah membudaya di masyarakat harus kembali tertancap dalam di lubuk hati, supaya sekali lagi semua tidak bingung dan kehilangan arah dengan ujian hidup.

Ekonomi, sosial, politik adalah pilar utama yang harus segera kembali pulih seperti sedia kala, meski Corona belum dapat diramalkan kapan enyah dari muka bumi. “Ada sanggar Pradnya, seni tunggal hingga pembacaan cerpen yang pentas malam ini menggambarkan ganasnya Covid-19,” jelas Endro.

DKP menyediakan wadah, siapapun bisa berpartisipasi dalam pertunjukkan ini, melalui nomor rekening yang telah disiapkan panitia. Demi membantu sesama yang terdampak wabah Covid-19. (budi/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Ambyar; 5 OTG Kabur Dari Rumah Jelang Tes Swab

Dua santri Temboro dan tiga keluarga dilaporkan kabur dari rumahnya di Desa Pagerejo, Ngadirojo Rabu sore kemarin (03/06), saat satgas Covid-19 hendak mengambil sampel mukosa sebagai bahan tes Swab.

Kabar tersebut dikonfirmasi Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Rachmadi Dwiyanto hari ini (04/06) di ruangan, kantor Diskominfo Pacitan.

Dari awal keluarga satu atap tersebut memang cenderung mengelabui petugas yang menawarkan untuk melakukan tes Swab di rumah sakit, beberapa kali tidak bersedia datang, akhirnya petugas berinisiatif untuk melakukan pengambilan jaringan mukosa di rumah mereka.

Namun betapa kagetnya petugas, rumah yang dituju tak berpenghuni. Terpaksa demi menghindari keadaan yang tidak diinginkan TNI, Polri hingga masyarakat terlibat dalam pencarian keluarga Pagerejo tersebut.

“Kami berharap yang bersangkutan untuk proaktif dengan satgas covid. Kami tidak melakukan diskriminasi kepada siapapun, pemerintah tugasnya melindungi,” tegas Rachmad. Karena meski sementara keluarga tersebut negatif tes Rapid, namun beberapa kejadian menunjukkan positif Swab.

Keputusan keluarga Pagerejo untuk kabur dari rumah tersebut jelas-jelas berisiko merugikan banyak pihak, menularkan Covid-19 kepada orang lain yang tidak tahu menahu. “Sekali lagi tolong mengikuti aturan pemerintah. Berikan teladan yang baik kepada masyarakat, jaga nama baik Temboro,” tutur Rachmad.

Alhasil saat ini masyarakat pun mempunyai persepsi negatif terhadap keputusan yang jauh dari kata arif dan bijaksana tersebut. Lebih lanjut Jubir menganalisa bahwa kaburnya keluarga tersebut disinyalir karena kurangnya pemahaman terhadap pandemi Covid-19. “Sepertinya mereka juga takut jika harus menjalani karantina jika kedapatan positif swab,” pungas Jubir. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Galau; Muncul Bayang-Bayang Cluster Pendidikan

Belum kelar pemerintah menangani penyebaran Covid-19 dari cluster Temboro dan Kembang, kini momok cluster baru di depan mata, media mainstream menamainya cluster pendidikan.

Alkisah, (20/05) Dinas Pendidikan bersama BKD Jatim menggelar pelantikan kepala sekolah SMK dan Pengawas dengan metode gelombang di antara wabah Covid-19 di Surabaya yang petanya kini tak lagi merah cerah, namun semakin menghitam, menandakan jumlah positif di angka ribuan di kota pahlawan tersebut.

Usai kegiatan itu tersebar kabar satu peserta meninggal dunia, belum jelas penyebab meninggalnya beberapa kabupaten berinisiatif mengkarantina peserta tersebut. Celakanya 4 peserta dari Kabupaten Pacitan kedapatan mengikuti giat tersebut. “Semua dari Kecamatan Pacitan,” ujar Rachmad Dwiyanto Jubir Covid-19 Pacitan (04/06).

Sayangnya kondisi ini baru ditindaklanjuti pemerintah Pacitan dua hari kemarin (02/06). Petugas medis lantas melakukan tes Rapid, bersyukur hasilnya non reaktif keempat-empatnya. Meski demikian ke semua diminta untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing hingga keluar hasil Swab. “Kabar terbaru, 1 positif yang dikabarkan media tadi pagi itu adalah hoax,” tarangnya.

Tergambar jelas pemerintah Pacitan enggan kembali kecolongan dalam menangani Covid-19, meski di satu sisi pemerintah telah merasa kebobolan dengan berangkatnya mereka mengikuti giat di Surabaya tersebut.

Apalagi pemerintah Pacitan semakin tidak bisa berbuat banyak lantaran SMA dan SMK kini di bawah provinsi. Sehingga yang bersangkutan merasa tak perlu melapor jika hendak mengikuti agenda.

Namun Jubir memiliki landasan penting menyikapi kejadian tersebut, pemerintah baik pusat maupun provinsi dengan segala peraturannya wajib diikuti dan dipatuhi, termasuk tidak membuat kegiatan yang melibatkan masa besar saat pandemi seperti ini. “Pelantikan secara simbolis boleh saja, kita juga bisa virtual seperti presiden upacara sendiri,” pungkas Dia. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Awas! Pancaroba Pengaruhi Covid-19 dan Demam Berdarah

Beban pekerjaan pemerintah semakin kesini kian komplek, belum jelas kapan berakhir masa pandemi Covid-19, kini pemerintah dihadapkan dengan dampak yang ditimbulkan kehadiran siklon mangga. Berpengaruh pada peningkatan intensitas curah hujan akibat kelembaban, tanah longsor bahkan gelombang tinggi yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Didik Alih Wibowo menyampaikan siklon mangga diramalkan berlangsung hingga besok (02/06). Sedang menurut prakiraan kemarau mestinya dimulai April kemarin dan berakhir hingga Oktober mendatang. “Disamping prihatin kami juga bersyukur masih ada curah hujan sehingga pemerintah sementara waktu tak perlu konsentrasi droping air bersih,” ungkap Didik.

Jika ditelaah dari kacamata lain yakni kesehatan, hujan dimusim kemarau yang tidak stabil tersebut beresiko terhadap daya tahan tubuh masyarakat. Di tengah pandemi covid-19 masyarakat terancam, lantaran penurunan daya tahan tubuh karena harus selalu menyesuaikan diri dengan cuaca yang ada. “Protokol kesehatan jangan lupa. Ditambah dengan meningkatkan stamina tubuh,” kata dr. Hendra Purwaka, Kadinkes Pacitan (01/06) melalui sambungan telepon.

Belum cukup, ancaman lain menghantui benak pemerintah. Bagaimana tidak, Nyamuk Aedes aegypti beranak pinak karena kelembaban dan hujan yang turun tidak stabil, jika semua komponen tetap berpangku tangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah (DB) menjadi keniscayaan di tengah virus corona yang merajalela.

Sebenarnya pemerintah tidak cuci tangan terhadap kenyataan ini, mereka terus berupaya supaya berbagai kemungkinan benar-benar tidak terjadi. Seperti disampaikan Hendra bahwa petugas medis di seluruh layanan kesehatan stay 24 jam nonstop. Itu mencerminkan komitmen pemerintah dalam melindungi dan melayani masyarakatnya.

Namun apakah yang dilakukan pemerintah tersebut menumbuhkan jaminan bahwa semua aman dari bahaya tersebut, tentu tidak. Masyarakatlah kunci utamanya yang harus banyak berperan aktif menyikapi masalah kesehatan dan ekonomi ini.

“Sekali lagi jalankan protokol kesehatan. Menjaga stamina tubuh dengan olahraga, makan cukup dan semimbang, istirahat cukup, menjanga cairan tubuh termasuk perhatikan kebersihan lingkungan,” jelas Hendra. Ini penting dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan, sehingga berujung menjadi budaya masyarakat Kabupaten Pacitan. Sebenarnya jika masalah tersebut tidak berlarut-larut maka tidak ada lagi yang menjadi korban, baik secara kesehatan maupun ekonomi, anggaran pun akan dialokasikan pada program lain untuk kesejahteraan. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Bersiap New Normal; 1 Cluster Temboro Positif Lagi

Masih dalam suasana lebaran di tengah pandemi Covid-19, pemerintah kembali harus beberkan kenyataan pahit penambahan kasus positif baru. Ia adalah santri Temboro dari Desa Ploso, Punung, Pacitan.

“Kita tetap prihatin ternyata masih ada kasus positif baru, sehingga menjadi 11,” kata Indartato, Bupati Sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan, malam ini (30/05) saat konferensi bersama awak media di Pendopo Kabupaten.

Bupati tak henti-henti menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk disiplin menggunakan masker saat keluar rumah, jaga jarak dalam berinteraksi dan rajin cuci tangan dengan sabun. Karena hal ini dapat memutus rantai penularan covid-19.

Sementara uji Swab yang dilakukan kepada pasien berkode 14 yang baru diumumkan tersebut tergolong baru dilaksanakan pada (27/05) kemarin. Sama seperti positif confirm sebelumnya pasien baru ini sebelumnya berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

Bila memungkinkan malam ini paling cepat pasien baru tersebut akan dipindahkan ke ruang isolasi yang disiapkan pemerintah yakni di Wisma Atlet. “Sementara sekarang yang bersangkutan masih karantina mandiri di rumahnya,” ujar Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan yang sama.

Lantas bagaimana dengan persiapan program besar New Normal di Kabupaten Pacitan, mengingat penambahan terus terjadi hingga saat ini. Hal tersebut menjadi pertanyaan bersama yang mesti secepatnya dijawab.

Meski di lain sisi masyarakat harus mengacungkan jempol lantaran replikasi positif Covid-19 di Pacitan juga cenderung rendah. “Kita lama stay di angka 13, kemudian baru tambah 1 pasien,” terang Jubir.

Anggap saja rendahnya penularan tersebut adalah rangsangan untuk semua warga Pacitan untuk semakin disiplin melaksanakan semua himbauan protokol kesehatan yang diberlakukan. Hingga nol penularan dan semua pasien terkonfirmasi positif dapat kembali sehat dan berkumpul bersama keluarga mereka masing-masing. (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Corona Merubah Peradaban

Kehadiran Virus Corona akhirnya menemui satu jalan panjang dan berkelok-kelok membentur semua sendi kehidupan, khususnya kemanusiaan dan ekonomi menjadi dua mata pisau yang berseberangan.

Bicara dampak, semua manusia di seluruh belahan bumi menjadi korban Covid-19 ini secara langsung dan tidak langsung. Begitu juga penduduk di Kabupaten Pacitan, Tercatat sekitar 25 ribu KK menjadi warga miskin baru, kelompok ini menambah akumulasi 13,85 persen dari angka statistik 2019.

Fakta ini semakin tak tak berujung lantaran vaksin yang ditunggu-tunggu belum juga terlahir. Jika tetap seperti ini maka masyarakat semakin terbenam  kedalam menjadi korban Covid-19 secara kesehatan maupun ekonomi.

Babak baru selesai dirancang di jilid 2 penanganan Covid-19, gebrakan nasional ini secara serentak akan teraplikasikan pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah. Mereka menyebutnya New Normal.

Sebuah kondisi baru mengubah peradaban manusia, semua orang harus terbiasa dengan virus tersebut dalam melakoni hidup dengan membudayakan protokol kesehatan yang telah diberlakukan pemerintah. Melalui 5 fase penerapan yang disiapkan, skenario tersebut berangsur-angsur akan kembalikan Indonesia dan Pacitan yang dulunya dinamis di segala sektor.

Jubir Penanganan Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto (26/05) pun teringat awal mula Virus Influenza merenggut jutaan nyawa saat di awal-awal kemunculannya, banyaknya korban jiwa karena saat itu obat belum ditemukan. “WHO juga merilis dalam jurnalnya baru-baru ini bahwa Covid-19 tidak bisa dihilangkan dari muka bumi,” kata Dia.

Alhasil New Normal menjadi pilihan para pakar yang harus segera diterapkan, sekali lagi bertujuan menyelamatkan manusia secara ekonomi maupun kesehatan dari gangguan Covid-19. Kehidupan akan kembali normal seperti sedia kala, namun istilah nongkrong (kongkow-kongkow) masih menjadi pengecualian, termasuk sektor pariwisata bisnis kebanggaan Kota 1001 goa. “Kita tidak bisa berpola hidup seperti corona belum sampai di Indonesia,” terang Rachmad.

Secepatnya masyarakat Pacitan harus memahami New Normal, bersiap dan beraktifitas seperti sedia kala sesuai peran masing-masing, kembali bangkitkan ekonomi yang sempat melambat dengan penuh kedisiplinan dan keikhlasan menerapkan protokol kesehatan. Ujungnya tidak ada korban Covid-19 maupun korban ekonomi. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan)

Halal BI Halal Melalui Zoom

H+3 lebaran pusat pemerintahan di Kabupaten Pacitan telah berjalan seperti biasa, momentum tersebut dimanfaatkan untuk Halal Bi Halal berbasis Video Confrence berpiranti aplikasi Zoom bersama Bupati Pacitan Indartato beserta Istri, Wabup Yudi Sumbogo beserta Istri dan sekda Heru Wiwoho dan Istri dan semua jajaran pemerintahan hingga tingkat kecamatan.

Selain bermaaf-maafan pada kegiatan ini Bupati juga mengingatkan masing-masing Perangkat Daerah pada bidang masing-masing dalam menjalankan tupoksinya, termasuk komitmen dalam menghadapi pandemi Covid-19. (DiskominfoPacitan)

Ribuan Masyarakat Halal Bi Halal Bareng Bupati

Momentum Hari Raya Idul Fitri ke-2 atau (25/05) dimanfaatkan Bupati Pacitan Indartato beserta Istri Luki Indartato untuk tetap menyambung silaturahmi dengan jajaran pejabat serta seluruh masyarakat Pacitan. Seakan tak pedulikan pandemi Covid-19 yang kini masih merajalela, tapi bermaaf-maafan kali ini cukup melalui aplikasi Zoom.

Masyarakat Pacitan dari dalam dan luar kota Pacitan tampak begitu antusias dengan kesempatan yang hanya 1 jam tersebut. “Ada masyarakat kita dari Sumatra, Madiun dan lainnya,” kata Indartato senang.

Sementara besuk (26/05), Indartato mengagendakan halal bi halal bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sarana yang digunakan masih tetap yakni bersilaturahmi jarak jauh. Demi tujuan bersama virus Corona hilang silaturahmi jalan terus. (budi/andri/rch/Tika/DiskominfoPacitan).

Cluster Temboro Kembali Dulang 4 Pasien Positif

Malam 30 ramadhan atau sehari jelang malam takbir (22/05) Kabupaten Pacitan kembali harus menelan pil pahit, dengan terkonfirmasi 4 kasus Positif baru dari cluster lama Ponpes Temboro, Magetan.

Dari 4 kasus baru tersebut terbagi 1 santri dari Desa Pelem, Pringkuku, 1 dari Desa Pakis, Nawangan dan 1 santri beserta ibu dari Desa Karangnongko, Kebonagung. Kenyataan ini membuat sebaran wabah Covid-19 semakin merata di Kabupaten Pacitan.

Bupati dan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Indartato saat pres rilis, memohon dan meminta masyarakat untuk disiplin dan jujur yang merupakan kunci dalam menghadapi pandemi ini. “Disamping tim gugus tugas bekerja, masyarakat adalah kunci bersama menanggulangi Covid-19 ini,” kata Indartato.

Sementara Rachmad Dwiyanto selaku Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan menyampaikan, tes Swab dari cluster Temboro dilaksanakan antara tanggal 11 sampai dengan 18 Mei lalu oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Kemenkes RI. “Sore tadi laporan penambahan kami terima,” ucap Dia yang juga Kadiskominfo Pacitan di kesempatan yang sama.

Terpenting walau sebaran semakin merata di Kabupaten Pacitan, namun Jubir meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang. Bukan menggampangkan, namun cluster lama ini sebelumnya sudah mendapat perhatian melalui puskesmas di kecamatan. “Sejak awal mencuat mereka sudah diburu dan diamankan,” lanjut Rachmad.

Angka ini ungkap Rachmad merupakan angka dinamis, kemungkinan tren positif masih menjadi keniscayaan jika melihat ke belakang puluhan peserta tes Swab, pemudik dan momentum lebaran.

“Masyarakat wajib menjalankan protokol kesehatan secara disiplin. Utamanya untuk stay at home, jangan keluar rumah bila tidak betul-betul mendesak. Dan selalu memakai masker bila keluar rumah dan berinteraksi sosial,” himbau Dia.

Utamanya pada momentum Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah yang jatuh akhir pekan depan, masyarakat harus dewasa dengan menjadi pelopor demi keselamatan bersama. (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Pabrik Rokok Jangan Jadi Cluster Baru

Indartato gundah gulana, bagaimana tidak salah satu pabrik rokok di Jawa Timur menjadi cluster penularan covid-19. Bupati Sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan tersebut lantas meninjau langsung kondisi Pabrik Rokok PT. Putra Pacitan Indonesia Sejahtera (PPIS) yang berada di kota Pacitan.

Perusahaan tersebut adalah mitra produksi PT H.M Sampoerna untuk rokok linting manual yang mempekerjakan 840 karyawan, mereka umumnya masyarakat dari 12 kecamatan di Pacitan dan rata-rata berusia 18 hingga 40 Tahun.

“Mudah-mudahan pabrik rokok di Pacitan tidak terkena (Covid-19),” harap Bupati usai menggelar rapat dengan pihak PPIS dan dilanjutkan meninjau langsung karyawan. Siang ini (22/05).

Ini adalah awal komunikasi antara Satgas Covid-19 Pacitan dan pihak perusahaan, bukan hanya di PPIS saja, ke depan Bupati mengaku bakal memantau seluruh pabrik rokok dan pabrik lain di demi menghindari risiko yang dapat merugikan masyarakat dan pemerintah. (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Face Shield Melindungimu, Pelangganmu, Lapakmu dan Pasarmu

Meski gerah dan pengap namun apalah daya Pelindung Wajah (Face Shield) haruslah tetap dikenakan. Karena virus corona hingga kini masih menjadi momok seluruh penduduk bumi. Di wilayah kecil kota 1001 goa ini pernah tercatat 9 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Bersyukur dua pasien diantaranya dinyatakan sembuh beberapa waktu kemarin.

Pelindung wajah dari awal diutamakan teruntuk pedagang makanan, mereka harus ekstra sabar dan penuh keikhlasan dalam mematuhi aturan pemerintah tersebut, ini semata-mata untuk mencegah supaya pasar tidak menjadi sumber penularan Covid-19.

Selain melindungi diri, pedagang harus tergerak menjadi teladan bagi pedagang lain. Lebih-lebih harus tidak segan menegur mereka yang tidak disiplin memakai pelindung wajah dan masker. “Saat ini kita bagikan sebanyak 600 face shield khusus kepada pedagang makanan,” kata Indartato, Bupati sekaligus ketua Satgas Covid-19 usai membagikan pelindung wajah di pasar Arjowinangun Pacitan. Pagi ini (22/05).

Dilain sisi, berdasar pengamatan tim liputan Diskominfo Pacitan, banyak pedagang pasar Minulyo tidak disiplin memakai alat yang sudah dibagikan secara cuma-cuma pada tahap pertama kemarin (16/05). Sontak perilaku mereka membuat prihatin masyarakat dan pemerintah.

Kenyataan itu pun diakui Bupati, kesadaran pedagang adalah yang utama sekali lagi supaya pasar tidak menjadi sumber penularan baru. Pedagang seakan tak sadar, satu saja pedagang terkonfirmasi Positif Covid-19 maka satu pasar tersebut akan ditutup.

Lantas siapa yang akan menjadi kambing hitam dan menjadi perbincangan, siapa juga yang akan menanggung rugi berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan akibat pasar ditutup, musuh tak kasat mata, ini adalah PR bersama. “Saya mohon kesadaran dan kejujuran yang utama,” harap Indartato.

Heru Sukrisno Kepala Disperindag Pacitan mengaku, pihaknya belum bisa berbuat banyak menyikapi persoalan ini. Hingga pada musim Prepekan (kebiasaan belanja yang dilakukan oleh warga sehari sebelum lebaran) berjalan seperti tak ada pandemi. “Kita menghimbau mereka setiap pagi untuk bermasker dan memakai pelindung wajah,” kata Heru.

Memang jika ingin keluar dari cengkraman virus corona ini tak ada pilihan terbaik kecuali bersatu, dimulai dari pribadi, kelompok dan seterusnya. Mustahil namanya jika hanya pemerintah yang ngeyel berantas Covid-19,  dan konyol bahasanya jika masyarakat tetap acuh dan semaunya saja. (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Jelang Lebaran; Inflasi 0,18 Persen

Bidang Statistik Dinas Kominfo Kabupaten Pacitan kembali merilis inflasi harga sembako jelang hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah/ Mei 2020.

Berdasar data yang dihimpun bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pacitan menunjukkan inflasi sebesar 0,18 Persen. Angka tersebut masih masuk pada kriteria wajar mengingat adanya Pandemi Covid-19 penghujung bulan ramadhan.

Sampel harga diambil dari tiga pasar berbeda, mulai dari pasar Minulyo, Kecamatan Pacitan, Pasar Arjowinangun, Pacitan dan pasar Arjosari, Arjosari. pada (19/05/2020) kemarin. (Statistik/DiskominfoPacitan)

Hadang Invasi Corona; Satgas Covid-19 Pasang Wastafel di 15 Titik Strategis

Kini giliran Wastafel karya peserta didik UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Koperasi Dan UM Pacitan maju di garda depan di medan laga, mereka ditugaskan pukul mundur tentara Covid-19 yang menguasai beberapa titik strategis di empat kecamatan, mulai Kecamatan Pacitan, Tulakan, Ngadirojo dan Nawangan.

Strategi ini tepat jika mengingat lebaran hanya tinggal menghitung hari, 15 titik lokasi di 12 kecamatan menjadi pos Wastafel ini, termasuk diantaranya titik perbatasan, tetapi yang utama adalah di zona keramaian.

Bupati sekaligus Ketua Gugus Tugas Covid-19 Pacitan Indartato, menyampaikan apresiasinya terhadap karya peserta BLK tersebut. Orang nomor 1 di Pacitan ini benar-benar berharap masyarakat menggunakan senjata tersebut untuk pukul mundur Covid-19. “Terima kasih (peserta didik BLK), termasuk yang bertugas di pos perbatasan,” ungkap Dia usai penyerahan di halaman Terminal Bus Pacitan (20/05)

Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto di kesempatan yang sama mengatakan, ekonomi  menggeliat dan tumbuh bak seperti tidak ada pandemi Corona, kata jubir itu mungkin masyarakat tak kuasa menyambut lebaran.

Dilain sisi, pemerintah tengah menyiapkan misi lain, yakni memulihkan perekonomian penduduk Pacitan yang sempat lumpuh beberapa bulan terakhir. Tentu tanpa menimbulkan masalah baru yakni kelalaian, sehingga pasukan Covid-19 kembali menjebol pertahanan Kabupaten Pacitan. “Masyarakat harus bisa mencermati keadaan ini. Protokol kesehatan, pakai masker dan jaga jarak jangan sampai ditinggalkan,” tegas Jubir.

Dikejar pertanyaan oleh Tim Peliputan Diskominfo Pacitan akan situasi tersebut, Rachmad mengawali kalimatnya dengan terkekeh, seakan tak ingin statemenya blunder, Kata Dia pemerintah menyiapkan strategi berani dengan tetap memutus mata rantai Covid-19, tanpa melumpuhkan ekonomi yang ada.

Lalu, apakah Kabupaten Pacitan mampu melakoni strategi ini, yang jelas semua kembali kepada masyarakat. “Kalau masyarakat tak acuh ya sudah kita lihat perkembangannya,” tegas mantan Kadinkes tersebut. (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan)

Lagi; Indartato Serahkan Piagam Kepada SMK Dan Masyarakat Peduli Covid-19

Meski sempat berkurang 2 beberapa waktu lalu menjadi 7 pasien terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Pacitan, namun pemerintah tetap masih belum dapat bernafas lega, pasalnya angka ini sewaktu-waktu dapat kembali meroket.

Menyadari kenyataan ini, Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato mengharap kerjasama semua komponen untuk bahu membahu menghadapi pandemi ini. Seperti yang dilakukan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan kelompok masyarakat ini, mereka membantu pemerintah dengan berbagai kerja keras serta inovasinya.

“Masalah Covid-19 bukan hanya masalah Gugus Tugas dan Pemda Pacitan saja, ibarat jari semua jempol pasti tidak bisa buat menggenggam,” kata Bupati usai menyerahkan Piagam kepada SMKN 3 Pacitan, SMKN 1 Donorojo, SMKN 1 Pacitan, SMKN PGRI Donorojo, SMKN 1 Sudimoro, SMKN Kebonagung, SMKN 2 Nawangan, SMKN Tulakan, SMKN 2 Pacitan, SMK PGRI Pacitan, SMK Bina Karya Pacitan, SMKN Bandar, SMK Kesehatan Bina Indonesia Medika Pacitan, SMKN Ngadirojo, SMKN Pringkuku, SMKN 2 Donorojo, SMKN Pembangunan Ponpes Al-Fattah Kikil Arjosari, SMKN 1 Nawangan, SMK Ma’arif Sabilul Hidayah Tulakan, SMK PGRI Ngadirojo dan atas nama Iwan Apriyanto, Kristanto Waluyo. Penyerahan ini dilaksanakan di Halaman Wingking (Halking) Pemkab Pacitan, (20/05). (budi/alazim/rach/tika/DiskominfoPacitan).

5 Perawat Medical Mandiri Negatif Swab

Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengumumkan hasil tes Swab petugas medis Rumah Sakit Medical Mandiri, sebelumnya rumah sakit ini sempat Viral lantaran petugas dinyatakan positif rapid tes, hal tersebut sontak membuat gaduh masyarakat.

“Kapan lalu sudah dinyatakan negatif Swab,” kata Rachmad kepada awak media siang ini (19/05), di ruang pertemuan Medical Mandiri Pacitan. Hasil Swab negatif dari lima perawat tersebut kemudian dapat kembali mengangkat Medical Mandiri dalam melayani masyarakat di bidang kesehatan.

Kelima perawat tersebut saat ini juga sudah kembali mengabdi kepada masyarakat di Medical Mandiri, sebelumnya menunggu hasil Swab para petugas medis tersebut menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Sementara dr. Warkim, Direktur rumah sakit tersebut berkomitmen untuk meningkatkan standar pelayanan kepada seluruh masyarakat, terlebih kepada masyarakat yang terindikasi Covid-19. “Dan saya menghimbau jangan kucilkan orangnya, cukup jauhi penyakitnya saja,” pungkas  Warkim. (budi/zaq/wan/rach/tika/DiskominfoPacitan).

86 Ribu Masyarakat Terima Bantuan Tahap Pertama

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) di Desa Donorojo, Donorojo, Pacitan pagi ini (19/05) disalurkan kepada masyarakat yang masuk dalam kriteria. Momentum ini disaksikan langsung Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato.

Termasuk mengintegrasikan data penerima bantuan berdasar pada Nomor Induk Penduduk (NIP) mulai dari tingkat RT. “Supaya yang berhak menerima betul-betul menerima, dan yang tidak berhak juga tidak menerima,” kata Bupati didampingi Wabup Yudi Sumbogo, Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, Komandan Kodim 0801 Pacitan Letkol Inf Nuri Wahyudi dan jajaran pejabat lingkup Pemda.

Ratusan masyarakat menggantungkan hidup terhadap sektor pariwisata pantai Klayar di Desa Sendang, Donorojo. Akibat Corona pantai yang viral akan seruling samuderanya ini terpaksa tutup sejak beberapa bulan lalu. “Karena penutupan tempat wisata ini mereka kehilangan pendapatan, pemerintah beri bantuan sembako” lanjut Bupati saat di Klayar.

Keseluruhan tercatat 86 ribu masyarakat memperoleh bantuan pada tahap pertama ini, mereka penerima dari jalur Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan bantuan untuk masyarakat terdampak Covid-19. jika kondisi belum membaik maka bantuan akan kembali diserahkan di tahap kedua. “Saya berharap semua lekas membaik,” harap Bupati.

Sebelumnya, Bupati dua periode ini berkesempatan memberangkatkan arak-arakan pembawa sembako TNI Polri Peduli Covid-19. Ini adalah wujud perhatian Kodim 0801 dan Polres Pacitan terhadap masyarakat Kabupaten Pacitan. (budi/zaq/wan31/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Awas! Ogah Pakai Face Shield; Pedagang Stop Jualan

Ratusan pedagang pasar Minulyo, Pacitan pagi ini (16/05) mendapat bantuan Face Shield atau pelindung wajah, dari pemerintah yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati sekaligus Ketua Gugus Tugas Covid-19 Pacitan Indartato.

Pembagian Face Shield tepat adanya utamanya kepada pedagang makanan, apa lagi selain menghindarkan kontak langsung antar pedagang dan pembeli. Karena jika apes pasar bisa berubah menjadi wadah penyebaran Virus Corona.

Perhatian tersebut harus disikapi bijak oleh para pedagang, bukan diterima lantas tidak dipakai melindungi wajah dengan berbagai alasan. Sadar hal itu Satgas Covid-19 selepas penyerahan ini akan memantau mereka yang enggan bermasker dan berpelindung wajah,  Pedagang nakal ini nanti tidak diizinkan berjualan.

“Kita akan minta Satpol PP dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memantau mereka. Seandainya tidak mau memakai (Face Shield), ya dilarang berjualan di tempat ini,” tegas Indartato.

Ke depan, kelar menuntaskan pasar lingkup kota, Indarato tetap berencana membagikan Face Shield ini ke pasar lain di Kabupaten Pacitan. “Kita menyesuaikan kedadaan (Pasar-pasar di kecamatan), kita terus memproduksi. Hasilnya nanti kita akan bagikan kepada pedagang makanan khususnya,” tambah Dia.

Lantas bagaimana pembeli dan orang yang berada di pasar, mereka sudah sepatutnya melindungi mulut dan hidung mereka sendiri dengan masker. Sebagaimana diketahui masker berfungsi melindungi diri pribadi dan orang lain, tak lupa Physical Distancing ditegakkan bersama-sama disemua tempat dan keadaan saat di luar rumah. Hasilnya, Pacitan bebas Covid-19 adalah keniscayaan. (budi/anj/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Serahkan Sembako; Ekonomi Pemulung Tergencet Covid

Ismirah hanya bisa menghela nafas dalam saat pandemi corona mengguncang perekonomian keluarganya. Bagaimana tidak, ia yang sehari-hari berkecimpung sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Dadapan, Pringkuku ini dalam sepekan hanya bisa mengais sampah 3 hari saja, separo dari kondisi biasanya saat tidak corona.

“Biasanya seminggu kita bisa dapat Rp. 200 – Rp. 300 Ribu. sekarang paling seratus lebih sedikit,” ungkapnya. Ketua Organisasi Pemulung Pacitan (ORPPI) itu juga mengaku kondisi semakin parah lantaran hampir semua harga rosok anjlok, cuma jenis kardus dan kresek yang masih bisa diandalkan menyambung hidup.

Kedatangan Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato ke TPA Dadapan pagi ini (15/05), dalam rangka penyerahan bantuan paket sembako dan makanan ringan diakui Ismirah dan rekan-rekannya sangat membantu. Meski sebatas mencukupi kebutuhan mereka, apalagi saat ini bulan puasa dan tinggal menghitung hari lebaran tiba.

Bupati Indartato mengaku, para pemulung dirasa perlu memperoleh paket sembako ini lantaran mereka berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Disamping kondisi ekonomi mereka yang terdampak cukup keras. “Bantuan yang kita serahkan ini tidak seberapa,” kata Bupati.

Ada beberapa program yang akan menyasar masyarakat sebagai penerima bantuan, pertama adalah bantuan berupa Jaring Pengaman Sosial (JPS), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Non Tunai, Grindulu Mapan dan termasuk program bantuan dari Pemprov Jatim. Begitu juga kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan akan mendapat perhatian dari Pemda, Pemprov hingga pemerintah Pusat.

“Bantuaan yang kami siapkan pada tahap pertama sampai hingga tanggal 29 Mei mendatang adalah 6 Miliar Rupiah, sementara cukup banyak diserap di sektor kesehatan. Kalau situasi diperpanjang jadi masalah baru lagi,” terang Bupati. (budi/wan31/rozaq/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Kerja Bagus; 1 Pasien Covid-19 Sembuh

Pasien Positif Covid-19 di Kabupaten Pacitan hari ini berkurang satu menjadi 8 orang. Ia adalah Badri, sebelumnya adalah pasien berkode 05 dari cluster Desa Kembang, Pacitan. 14 hari Badri menjalani karantina dan perawatan di ruang Tulip, RSUD dr. Darsono Pacitan.

Kepulangan Pasien berusia 70 Tahun tersebut dihadiri Sekda Kabupaten Pacitan Heru Wiwoho, didampingi Kadinkes Pacitan dr. Hendra Purwaka, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dan seluruh pejabat lingkup rumah sakit, siang ini (14/05) di halaman gedung Wijaya Kusuma.

Sekda Heru usai kegiatan mengantar kepulangan mengungkapkan apresiasinya atas kerja keras semua unsur RSUD dalam menghadapi pandemi corona ini. Satu pasien sembuh tersebut menurut sekda adalah gebrakan awal untuk lebih semangat dalam berjuang menghadapi virus yang pertama muncul dari Wuhan, Hubei, China ini.

“Ini adalah prestasi pertama teman-teman rumah sakit, dokter dan paramedis lain sehingga dari 9 terkonfirmasi saat ini berkurang menjadi 8 pasien,” kata Sekda.

Lebih lanjut Sekda berharap, delapan pasien lain dapat segera mengikuti Badri yang hari ini bisa kembali ke tengah-tengah keluarganya. “Kita dan para medis akan berupaya semaksimal mungkin untuk semua pasien. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan” tambahnya.

Didik Agus Santoso, dokter spesialis patologi klinik yang merawat pasien tersebut mengungkapkan berbagai cara dilakukan para medis untuk kesembuhan pasien, tanpa mengindahkan segala risiko yang bisa saja mengancam mereka.

Hadirkan Inovasi Ditengah Pandemi; Bupati Serahkan Penghargaan Siswi SDN 3 Candi dan SMAN 1 Pacitan

Kebijakan belajar di rumah yang diputuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, membuat siswa-siswi mesti Out Of The Box Thinking, jika ingin tetap mengembangkan bakat dan kreativitasnya.

Seperti yang dilakoni 4 siswi SDN 3 Candi, Pringkuku dan siswi SMAN 1 Pacitan, lantaran videonya kampanye bahaya Covid-19, mulai dari segi kesehatan, ekonomi maupun sosial budaya.

Mereka adalah Nanetta Azka Tabitta Kelas 5, Decha Fiorentina Rakasiwi Kelas 6, Balqis Alya Al Khalifi Kelas 6 dan Devina Jule Trisnawati Kelas 5 dari SDN Candi 3 dan Aisya Auliya Sudrajad dari Kelas XI IPA 7 SMAN 1 Pacitan.

Atas capaian itu mereka berkesempatan memperoleh penghargaan dari Bupati sekaligus Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato, hari ini (11/05) di Pendopo Kabupaten, penyerahan tersebut didampingi Wabup Yudi Sumbogo, Sekda Heru Wiwoho dan Kepala Dindik Daryono.

Seperti Nanetta Azka Tabitta, oleh dorongan gurunya Sri Wiharto saat pandemi mulai mewabah Indonesia ia diminta membuat pidato tentang virus corona. Meski sulit untuk ukuran siswi kelas 5 SD, namun berkat dukungan pidato tersebut kelar dibuat. Tak puas, visual pun akhirnya ditambahkan sehingga berubah wujud menjadi video yang kini viral di jagad Sosmed.

Lain kisah dengan Aisya Auliya Sudrajad atau akrab disapa Echa, awalnya ia gundah yang berujung tergerak membuat satu karya, lantaran ia melihat animo masyarakat Indonesia sangat kecil untuk memerangi Covid-19.

Tak lama Echa pun kaget, video berjudul Menjaga Nurani yang ia kerjakan 3 hari tersebut menjadi viral di Sosmed bahkan di Grup-grup Whatsapp. Sementara di akun Instagram miliknya ribuan orang menyaksikan karyanya dan ribuan lain menyukai. Satu gebrakan manis dari gadis berusia belasan tahun.

Kini, setidaknya Echa dan teman sebayanya dan semua orang yang melihat video itu minimal mengerti, ternyata ada yang lebih lelah dari sekolah, membantu orang tua, mengerjakan PR dan yang lain. Di tengah video berdurasi 2 menit 47 detik tersebut tergambar jelas Echa mengajak semua orang untuk bangkit, karena Echa tahu Covid-19 tidak dapat dikalahkan kecuali dengan kekompakan dan kebersamaan.

“Yang paling sulit adalah bagaimana video ini bisa ditangkap khalayak, sehingga pesan yang akan saya sampaikan benar-benar dapat diterima dan dimengerti. Hasilnya berujung pada perubahan positif,” pungkas Echa. (budi/anj/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Lagi; 2 Santri Cluster Temboro Positif Corona

Bertambah 2 Orang Tanpa Gejala (OTG) terkonfirmasi Positif Covid-19, ini menambah total keseluruhan menjadi 9 orang di Kabupaten Pacitan. Penambahan itu kata Indartato sebagai Bupati dan Ketua Satgas Covid-19 Pacitan (10/05) berasal dari Kecamatan Nawangan.

“Saya minta kepada jajaran kepala desa hingga tingkat RT/RW supaya protokol kesehatan untuk benar-benar dilakukan. Dan sekaligus mungkin ada sangsi-sangsi yang akan kita ( Satgas Covid-19 Kabupaten Pacitan) lakukan bersama. Misalnya penggunaan masker, karena ini penting sekali,” kata Bupati saat konferensi pers di Pendopo.

Secara detail, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto kepada pencari berita menuturkan, cluster tersebut sama dengan pasien terkonfirmasi berkode 07. Hanya saja 2 santri tersebut tes Swab selisih 3 hari dengan pasien 07. “Hasil Swab keluar tadi siang. Laki-laki, satu berusia 18 tahun dan yang satu 21 tahun,” kata Rachmad.

Lanjut Jubir sebenarnya sesuai regulasi yang ada, pasien terkonfirmasi yang tidak dengan penyakit bawaan cukup karantina di rumah masing-masing. Tetapi minimnya kedisiplinan termasuk masyarakat, terpaksa harus dikarantina di Wisma Atlet dengan pengawasan yang ketat. “Tidak perlu dibawa ke RSUD,” ungkap Dia.

Melanjutkan yang disampaikan oleh Ketua Gugus, sanksi penegakkan protokol kesehatan kepada masyarakat yang masih sembrono akan secepatnya ditegakkan. Fokus pertama pada pedagang pasar, selain bermasker ke depan pedagang wajib memakai pelindung wajah (Face Shield). “Pedagang dan pembeli tidak memakai masker. Disuruh pulang,” tegasnya. (budi/rozaq/rach/tika/DiskominfoPacitan)

Cluster Temboro Positif Swab

Satu Orang Tanpa Gejala (OTG) dinyatakan positif Covid-19. Penambahan ini kembali disampaikan Bupati sekaligus Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Indartato, malam ini di Pendopo Kabupaten (07/05).

Menurut kronologi, cluster Temboro berstatus anak-anak berusia 13 tahun ini berjenis kelamin laki-laki dan menjalani karantina di Wisma Atlet. Sebelumnya sepulang dari Temboro, Magetan tersebut melakoni karantina mandiri di Rumah Istirahat Mandiri (RIM) di tempat asalnya, Kecamatan Sudimoro.

Setelah hasil Rapid tes menunjukkan positif, santri tersebut dipindahkan ke Wisma Atlet Pacitan bersama 10 orang lain. “Saat ini dalam kondisi sehat, dan akan dipindahkan ke RSUD dr. Darsono Pacitan,” kata Jubir Satgas Covid-19 Rachmad Dwiyanto di kesempatan yang sama saat melayani pertanyaan awak media.

Meskipun dibawah umur, Jubir tegaskan tidak ada perlakuan dan terapi khusus, perlakuan sama dengan pasien dewasa. Beruntung pasien nomor 7 tersebut hingga detik ini dalam keadaan sehat. “Namun jika orang tua dan sakit maka perlu penanganan tersendiri,” ungkap Dia.

Keberuntungan selanjutnya seluruh keluarga pasien hingga saat ini dinyatakan negatif Rapid tes, artinya kondisi ini tidak menambah panjang kasus baru. Sehingga keluarga cukup melaksanakan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Semua cluster menjadi perhatian Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pacitan, terutama cluster PLTU yang kebetulan tinggal di Kecamatan Sudimoro Pacitan. Jika cluster PLTU positif Swab maka cluster ini juga menjadi tanggung jawab tim Satgas Pacitan. (budi/rozaq/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Heru Sukrisno “Terima Kasih; Operasi Pasar Tertib Physical Distancing”

Operasi Pasar penting segera dilaksanakan kepada semua lapisan masyarakat, ini untuk menekan harga pasar yang kian melambung jelang hari raya Idul Fitri di tengah pageblug Corona. Di lain sisi penerapan physical distancing menjadi perhatian khalayak, tak ayal karena semua tentu ingin pandemi global ini segera usai.

Benar saja, masyarakat sangat membutuhkan operasi pasar yang digelar di gedung Gasibu (06/05) tersebut. Didukung kedisiplinan mereka dengan protokol kesehatan secara ketat. Dimulai tertib mencuci tangan, senantiasa memakai masker dan menjaga jarak, tak peduli antrian mengekor panjang hingga depan SMP N 1 Pacitan.

Meski demikian; baik TNI, Polri dan Satpol PP terus berjaga di segala titik supaya tidak ada pelanggaran physical distancing, itu menunjukan harmonisasi yang indah dari seluruh instansi. Hasilnya jelas, harga terkendali, masyarakat senang dan diuntungkan. “Aman. Tanpa melanggar physical distancing,” kata Kepala Disperindag Heru Sukrisno penyelenggara.

Kerja Keras selanjutnya menurut Heru adalah meyakinkan Bulog, mereka sebagai pendukung utama kegiatan ini sebagai pemilik barang. demi tujuan mulia, menggelar Operasi Pasar di 12 kecamatan. “Kita akan intensif komunikasi dengan teman-teman Bulog. Prosesnya juga lama mohon dukungannya,” lanjut Heru.

Ada tiga jenis sembako yang dijajakan, mulai beras 1 Ton, gula 2 Ton dan minyak goreng 2000 Liter. Setiap pembeli maksimal bisa membeli beras 5 Kg, gula 2 Kg dan minyak 2 Liter. Harga yang dipatok meski tidak terlalu selisih dengan pasar tapi harga ini cukup untuk menekan kenaikan dan cukup menguntungkan masyarakat. (budi/wan31/riy/tika/DiskominfoPacitan).

Keluar Rumah Tak Bermasker; Kapolres Siapkan Langkah Persuasif.

Gerakan memakai masker tampaknya disaat-saat genting seperti ini begitu penting adanya. Apalagi agar supaya tetap sehat, tidak tertular pandemi Covid-19.

“Memakai masker adalah himbauan dari pemerintah pusat, seperti yang disampaikan Bapak Presiden dan WHO,” kata Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan sekaligus Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, kemarin (30/04) di Pendopo Kabupaten.

Disela Press Release perkembangan situasi terkini Covid-19 tersebut, pihaknya ke depan akan melakukan tindakan persuasif kepada masyarakat yang masih enggan pakai masker berupa himbauan dan larangan. Mengingat data resmi yang dihimpun masih menunjukkan tren negatif.

Taklupa ia juga mengapresiasi terhadap langkah dan upaya yang dilakukan para relawan yang mengabdikan diri bersama seluruh lapisan pemerintah dalam menghadapi Virus Corona ini. “Teman-teman (Relawan) selalu ada, terima kasih,” ungkap Dia.

Momentum bulan suci Ramadhan, Didik begitu memahami kondisi tersebut. Masyarakat harus berbelanja kebutuhan menjelang berbuka, pihaknya mempersilahkan masyarakat yang terpaksa keluar rumah untuk berbelanja, namun ia sangat menegaskan untuk seperlunya saja. “Cukup berbelanja saja,” imbuhnya. (budi/riy/Tika/DiskominfoPacitan).

Pak In Kembali Terima Bantuan; Hari Ini 20 Karton Kangen Water

Enagic 501 Kabupaten Pacitan serahkan bantuan 20 karton Kangen Water dan 20 botol Hand Sanitizer teruntuk pasien Positif Corona dan para medis yang menangani pandemi ini. Bantuan itu diterima secara simbolis oleh Bupati Pacitan Indartato sekaligus Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan didampingi Jubirnya Rachmad Dwiyanto, pagi ini di pendopo kabupaten (04/05).

Sri Puji Setyaningsih Ketua komunitas tersebut mengaku kepada Diskominfo Pacitan, pihaknya sangat bersyukur dapat ikut serta membantu pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 tersebut.

“Kami akan berusaha membantu para pasien dan petugas medis ini secara berkelanjutan. Namun saat ini masih terkendala botol yang susah dicari, namun kami tetap berusaha,” ujar Sri yang lebih akrab dipanggil Bu Iput Muid, istri Mantan Wakil Bupati Pacitan Abdul Muid tersebut mengungkapkan.

Bupati Pacitan usai penyerahan tampak bangga dengan hilir mudik masyarakat dan komunitas yang turut membantu pemerintah, termasuk yang dilakukan Enagic 501 ini. “Mudah-mudahan kepedulian dari para donatur ini membawa berkah untuk kesehatan,” kata Pak In.

Malahan, Pak in mengaku ternyata pemerintah butuh sesuatu yang teramat mendesak, harus segera dibantu seluruh lapisan masyarakat. Kebutuhan tersebut ialah partisipasi atau participation dalam bahasa Inggris, menurut KBBI berarti keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam satu tujuan.

Tujuannya apa? jelas, memberantas Covid-19 di negeri ini diawali dari kekompakan dan semangat masyarakat Kabupaten Pacitan. “Jujur saja kita butuhnya banyak, Partisipasi, mengawasi jalannya program, melaksanakan dan mengkampanyekan protokol kesehatan yang didukung Doa segenap masyarakat,” harap Dia. (budi/wan31/rch/tika/DsikominfoPacitan).

2 Masyarakat Kembali Positif; Satu Diantaranya Dari Tulakan

Kenyataan ini kembali disampaikan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Sekaligus Bupati Pacitan Indartato, malam ini (01/05) di Pendopo Kabupaten Pacitan.

Dua orang tersebut satu dari Kecamatan Pacitan dan satu Terpantau PDP dari Desa Ketro, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Pasien dari Ketro tersebut kini dirawat di salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Ponorogo.

Hal itu kata Bupati lantaran secara geografis Desa Ketro lebih dekat dengan Kabupaten Ponorogo. Sedang pasien dari Kecamatan Pacitan masuk dalam cluster pertama dan akan menjalani karantina dan perawatan di RSUD dr. Darsono Pacitan.

“Hari ini upaya kita masih gagal, karena yang positif bertambah lagi. Oleh sebab itu saya minta maaf kepada masyarakat Kabupaten Pacitan,” Kata Bupati didampingi seluruh Satuan Gugus Tugas Covid-19 Pacitan.

Sementara usai Press Release, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengaku Satgas tidak akan menarik pasien kembali ke Pacitan, hal ini lantaran di Ponorogo pasien menjalani karantina dan protokol kesehatan sama seperti di Pacitan.

Terpenting, Satgas Covid-19 Pacitan melakukan tindakan tegas terhadap keluarga dekat pasien di Desa Ketro, supaya penyebaran pandemi ini tidak menyebar dan merugikan masyarakat. “Secepatnya kita dalami, sebetulnya stock lama itu dan kita sudah awasi termasuk ringnya,” tambah Rachmad. (budi/rozaq/rach/riy/tika/DiskominfoPacitan).

Penghuni Wisma Atlet Malam Ini Bertambah 5 Orang

Sekali lagi, tidak ada waktu terlambat meningkatkan kewaspadaan dengan menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin tinggi, angka positif terus meningkat di kota 1001 Goa ini. Belum lagi malam ini Jubir satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengkonfirmasi 5 tenaga kesehatan positif Rapid tes.

Bertambahnya angka positif Rapid tersebut membuat angka total di Kabupaten pacitan menjadi 16 orang. Oleh sebab itu kata Rachmad mereka yang terkonfirmasi Rapid akan menjalani karantina di Wisma Atlet Pacitan hingga terkonfirmasi negatif Swab dan Rapid.

“Hal yang menggembirakan adalah Swab tes menunjukan negatif pada PDP lama,” katanya melalui siarannya kepada Diskominfo Pacitan (01/05), disela rapat terbatas dengan Satgas Covid-19 di ruang rapat Bupati.

Oleh sebab itu tidak henti-hentinya pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tertib menjalankan protokol kesehatan dengan penuh kesadaran tinggi. Mengingat dengan kerjasama yang baik pemerintah dan semua elemen, Virus Corona yang dapat mengakibatkan penyakit Covid-19 tersebut dapat diatasi. 

Sekali lagi, menggunakan masker saat keluar rumah ataupun saat berinteraksi sosial. Hal tersebut terbukti secara signifikan mencegah penyebaran Virus Corona. Mengingat lawan yang dihadapi saat ini tak kasat mata. (budi/rch/riy/tika/DiskominfoPacitan).

Merasa Layak Dapat Sembako; Lapor RT/RW

Dampak Corona begitu besar dan tidak hanya melumpuhkan aspek kesehatan masyarakat namun berimbas massif kepada sektor ekonomi dan sektor sosial lain.

Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto, mengatakan secara berkelanjutan pemerintah menyiapkan kebijakan namun untuk mewujudkannya membutuhkan waktu dan utamanya dukungan masyarakat. “Terutama mengawasi jalannya kebijakan,” katanya (30/04).

Secara umum penanganan Covid-19 dimulai dari aspek kesehatan, ini meliputi promosi preventif, surveilance dan tracing, pengobatan hingga proses rehabilitasi. Kemudian masuk pada aspek ekonomi, meliputi bantuan berupa sembako kepada masyarakat terdampak.

“Banyak yang tidak memiliki pekerjaan dan pendapatan pada masa pandemi ini. Pemerintah hadir untuk membantu memberikan sembako. Disamping aspek ekonomi gugus juga akan memberikan Jaring Pengaman Sosial untuk masyarakat, salah satunya memberikan Bantuan Non Tunai,” lanjut Dia.

Namun lagi-lagi program tersebut butuh waktu dan proses, tidak bisa instan. Ada proses dan mekanisme yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Gugus harus merencanakan dengan tepat baik pada sisi pelaksanaan maupun sisi anggaranya. Hal ini agar semua masyarakat secara adil mendapatkan bantuan, sehingga proses penyerahan tidak terjadi duplikasi. ” Kan kasihan, ada yang menerima lebih dan ada yang tidak menerima sama sekali,” terang Rachmad.

Untuk menghindari hal tersebut, pemerintah memerlukan validasi data. Agar data sasaran betul-betul tepat tujuan sesuai dengan rencana, dan pemerintah butuh waktu untuk memprosesnya.

“Diharapkan kesabaran bagi masyarakat memahami hal ini. Bagi yang belum menerima bantuan agar menghubungi RT atau RW setempat, supaya diverifikasi pihak desa dan kecamatan,” lanjud Dia.

Dasar verifikasi utamanya pada NIK kependudukan, selanjutnya NIK dimasukkan pada data sasaran bantuan. Hal ini dimungkinkan karena masih adanya laporan dan informasi masyarakat belum mendapatkan bantuan. (Budi/rch/Roy/tika/DiskominfoPacitan).

Tes Terbaru; 11 Orang Positif Rapid

Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pacitan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap pasien cluster covid confirm 1 dan  cluster baru dari Pondok Temboro, Kabupaten Magetan.

13 orang dari cluster covid confirm maupun dari Temboro telah dilakukan tes Swab dan tinggal menunggu hasilnya. 39 sasaran juga menjalani Rapid tes dengan hasil yang signifikan. “Total 11 reaktif Rapid test,” kata Rachmad Dwiyanto Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan, kemarin malam (30/04).

11 tersebut diantaranya dari PDP di Pacitan menunjukkan hasil 2 reaktif, tracking lanjutan covid confirm sebanyak 1 reaktif. Cluster Temboro 4 reaktif dan pasien RSUD dr. Darsono 4 menunjukan hasil reaktif.

Sementara untuk melindungi mereka yang terkonfirmasi maupun masyarakat yang sehat, sehingga penyebaran pandemi dapat ditangani maka pemerintah akan menempatkan pasien reaktif di Wisma Atlet. “Ini penting dilakukan, termasuk pendatang untuk menempati karantina yang telah disiapkan desa maupun mandiri,” pungkas Dia. (Budi/rch/Roy/Tika/DiskominfoPacitan).

Penghuni Wisma Atlet Bakal Terima Pelayanan Terbaik

Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan akan meningkatkan pelayanan kepada para penghuni wisma atlet. Hal tersebut dikemukakan Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto, kemarin (30/04).

Lantaran di tempat karantina itu akan ada penambahan penghuni baru sebanyak 11 orang. “Peningkatan ini diharapkan supaya penghuni wisma atlet mendapat pelayanan sesuai standar pelayanan minimal,” kata Rachmad.

Disamping peningkatan layanan kesehatan, gugus tugas juga berencana meningkatan kualitas makanan yang tersaji bagi penghuni wisma atlit.

Sehingga selama karantina bisa mendapatkan asupan makanan yang cukup dan bergizi untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan tubuh. “Bila masih kurang pas dengan menu di wisma, keluarga bisa mengirim menu sesuai kesukaan penghuni,” pungkasnya. (Budi/rch/riy/tika/DiskominfoPacitan).

Perketat Pintu Masuk; Termasuk Jalan Tikus

Bersyukur, laporan yang dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan disampaikan jumlah pendatang ke Pacitan mulai menurun di akhir April ini atau (30/04).

Ini disampaikan Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Pacitan saat berkesempatan mengunjungi dua titik perbatasan strategis yakni Cemeng dan Glonggong, Kecamatan Donorojo.

Hal tersebut adalah buah dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota-kota lain, termasuk Jakarta. Semakin lega, pasalnya Bupati juga mendapat laporan bahwa pendatang dalam kondisi sehat.

Namun demikian, kondisi perbatasan yang sebagian menjadi inisiatif Pemda seperti di Cemeng dan Glonggong tersebut akan diperketat. Begitu juga akses jalan tikus/alternatif yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dengan wilayah lain.

“Saya menghimbau kepada masyarakat yang hendak berkunjung ke Kabupaten Pacitan untuk mematuhi protokol kesehatan. Sehingga wabah ini tidak berkembang di Kabupaten Pacitan,” kata Bupati tegas kepada mereka yang berkepentingan ke Pacitan sementara waktu. (budi/wan31/rach/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Harus Bersatu Padu Hadapi Corona

Wakil Bupati (Wabup) Pacitan Yudi Sumbogo menyerahkan secara simbolis paket sembako kepada masyarakat yang terdampak Pandemi Covid-19 di Kabupaten Pacitan. Penyerahan simbolis tersebut diserahkan di Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan, siang ini (30/04).

Paket sembako tersebut bersumber dari keprihatinan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Pacitan atas mewabahnya Pandemi Virus Corona, dimana kondisi perekonomian global dan nasional berdampak olehnya, termasuk Pacitan.

Wabup Yudi mengapresiasi upaya mendukung pemerintah yang dilakukan seluruh lapisan masyarakat tersebut, ia berharap hal besar yang telah dilakukan ini dapat membantu masyarakat yang membutuhkan.

Karena Wabup sadar dan sangat memahami bahwa melawan pandemi Covid-19 mesti dibarengi dengan semangat mendukung. Menaati protokol kesehatan juga salah satu dukungan. “Semua unsur harus bersama-sama peduli dan bersatu padu,” ujar Wabup. (budi/wan31/rach/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato Tinjau Zona Merah Covid-19

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan beserta seluruh jajaran meninjau langsung kondisi karantina di RT/01 RW/02 Dusun Krajan, Kembang, Pacitan. Keputusan karantina terpaksa diberlakukan demi memutus penyebaran Pandemi Covid-19 di wilayah itu.

Pada kesempatan itu Bupati meminta tegas kepada seluruh komponen masyarakat untuk jujur dengan keadaannya supaya tidak memperburuk pandemi di Kabupaten Pacitan. “Kalau banyak yang sakit kan menjadi masalah. Dampak ekonomi lebih parah juga,” tegas Dia.

Rencananya karantina tersebut akan dilaksanakan dua pekan atau 14 hari, namun jika kondisi belum kembali steril tidak menutup kemungkinan masa karantina diperpanjang. “Urusan kebutuhan kita membantu,” Kata Indartato.

Bupati juga menyampaikan seluruh masyarakat di Wilayah zona merah tersebut dalam kondisi yang baik dan sehat. Nantinya usai di evaluasi bantuan yang sementara diberikan berupa makanan jadi kemungkinan akan diganti menjadi bahan mentah supaya lebih sesuai selera masing-masing.

Seluruh unsur terlibat dalam pengamanan lokasi karantina tersebut mulai unsur TNI, Polri, Dinkes, Pemdes hingga relawan berjaga ketat di radius 100 meter dari lokasi zona merah (budi/wan31/rach/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Dua Pasien Terkonfirmasi Positif Corona

Ramadhan di hari kelima Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan kembali merilis dua kasus baru. Pernyataan ini disampaikannya dihadapan awak media (28/04) di Halaman Wingking Lingkup Pemkab Pacitan.

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, ternyata covid di Kabupaten Pacitan masih berkembang,” kata Bupati. Temuan baru berdasar tes Swab tersebut menambah jumlah seluruh kasus di Pacitan menjadi empat pasien.

Saat ini kedua pasien baru tersebut berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD dr. Darsono Pacitan untuk dikarantina dan diberi perawatan. “Ada 6 kamar tersedia, dan rumah sakit mempersiapkan 7 kamar sehingga nanti total 13 kamar,” terang Bupati

Kondisi tersebut Pak In kembali mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk lebih disiplin dengan protokol kesehatan. Sehingga harapan bersama memberantas Pandemi Covid-19 di kabupaten Pacitan dapat tercapai. “Ayo kita tegakkan supaya Covid-19 tidak ada, yang positif lekas sembuh dan tidak ada lagi,” tambah Pak In.

Didampingi oleh seluruh jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan dalam kesempatan tersebut Pak In mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang peduli dan disiplin terhadap protokol kesehatan. (budi/rozaq/rach/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Harus Disiplin Melaksanakan Protokol Kesehatan

Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan, mewanti-wanti desa dan kecamatan mengedepankan penerapan protokol kesehatan, mengingat ini merupakan cara terbaik melindungi masyarakat dari pandemi Covid-19.

“Saya berharap Protokol kesehatan benar-benar dilaksanakan sebaik-baiknya,” kata Pak In dihadapan Camat Pacitan beserta seluruh kepala desa Wilayah Pacitan, pagi ini (28/04) di Pendopo Kecamatan Pacitan.

Selebihnya, Pak in meminta seluruh elemen pemerintah termasuk masyarakat untuk terbuka dan jujur terhadap kondisi yang ada. “Jika PDP yo ojo dolan,” tegas Pak In meminta semua untuk disiplin menghadapi Virus Corona.

Pak In dalam kesempatan itu juga menyampaikan dua tugas penting yang dilakukan Satgas Covid-19 Pacitan untuk memutus pandemi ini. Dimulai dari upaya antisipasi hingga langkah pencegahan. Kedua hal itu juga mesti didukung semua lapisan pemerintahan dan masyarakat.

Usai bertemu kepala desa dan camat di wilayah Pacitan, rombongan Bupati melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Pringkuku untuk melihat langsung kesiapan di Kecamatan tersebut. (budi/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Pasien Positif Corona di Pacitan Bertambah

Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan kembali mengumumkan penambahan pasien positif Covid-19. Ini disampaikan Bupati (26/04) di Halaman Wingking Lingkup Pemkab Pacitan. “Hari ini kita prihatin, karena yang positif menjadi 2 orang,” kata Bupati.

Pasien dari Kecamatan Pacitan tersebut dapat terjangkit Covid-19 lantaran kontak aktif dengan pasien pertama, sedang status pasien positif tersebut sebelumnya Orang Tanpa Gejala (OTG).

Dr. Hendra Purwaka Kadinkes Pacitan menyampaikan, pemeriksaan tes cepat atau Rapid Tes hasil ditunjukkan Negatif, namun satgas penanganan Covid-19 enggan kecolongan sehingga dilakukan Swab Tes, secara mengejutkan hasil tes menunjukkan hasil yang positif.

Terpaksa saat ini yang bersangkutan harus menjalani karantina di Rumah Sakit dr. Darsono Pacitan.

Bertambahnya satu pasien di Kabupaten Pacitan tersebut membuat pemerintah melakukan upaya lebih keras.

Senin besok (27/04) pemerintah akan melaksanakan tes kepada 66 orang santri dan santriwati dari pondok temboro. Tes dilakukan di rumah sakit ataupun di puskesmas. “Mudah-mudahan hasilnya negatif,” harap Bupati. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dari Hepatitis A hingga Covid-19; Riana Tak Kenal Lelah Pahamkan Masyarakat

Ini Dia Riana Wardani, seorang Promkes yang berdinas di Puskesmas Pembantu Desa Jeruk, Bandar, dikenal tidak kenal waktu menyumbangkan seluruh tenaganya mensosialisasikan pencegahan virus Corona hingga di luar wilayah kerjanya di Kecamatan Bandar.

“Setiap pasaran Pon dan Legi (Pasar di Kecamatan Bandar) mbak Riana selalu membawa megaphone dan bengok-bengok. selain itu Dia selalu ada di perbatasan menyemprotkan disinfektan,” kata Suwoto Camat setempat saat mendampingi Riana memperoleh penghargaan dari Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan, pagi ini (23/04) di Halking Pendopo Kabupaten.

Mendengar kisah yang disampaikan Suwoto, Luki Indartato ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan sekaligus istri Bupati tertegun atas berbagai kesah Kartini muda dari Kabupaten Pacitan itu. “Mbak Riana yang jauh dari keluarga tetap bisa melakukan hal yang luar biasa, tanpa pamrih dan tidak pernah mengeluh,” kata Luki.

Semangat Riana dalam bekerja demi kemanusiaan itu juga turut dirasakan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo, di kesempatan yang sama ia memuji semangatnya mencegah virus Corona supaya tidak semakin merugikan orang banyak, tak peduli kulitnya tangan dan lengannya legam terpapar terik matahari.

“Orang yang semangat seperti ini tolong di perhatikan (Dinkes Pacitan),” ujar Wabup. Supaya semangat Riana sebagai Kartini masa kini, merangsang Riana lain untuk berkarya melalui  wadah masing-masing untuk kemajuan diri, orang sekitar dan Kabupaten Pacitan.

Namun, perempuan 27 tahun tersebut merasa belum melakukan apa-apa, ia merasa banyak yang lebih pantas menerima penghargaan ini. “Masih banyak teman dan senior saya yang lebih pantas diundang ke Halking,” katanya rendah hati.

Namun pengakuan tersebut atas dasar pemikiran orang disekitar yang menyaksikan langsung semangatnya, penghargaan itu kini telah disematkan kepada perempuan yang hobi lintas alam dan menanam pohon tersebut. “Kini tidak ada kata lain selain lebih giat lagi berbuat sesuatu demi masyarakat,” kata Dia.

Melihat perjuangan petugas, sudah selayaknya sebagai masyarakat mematuhi setiap peraturan yang diberlakukan. Seperti selalu menggunakan masker saat di luar rumah atau saat interaksi dengan orang lain. Supaya tidak merugikan orang lain dan orang yang kita cintai.(budi/rozaq/riyanto/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Dari Hepatitis A hingga Covid-19; Riana Tak Kenal Lelah Pahamkan Masyarakat

Ini Dia Riana Wardani, seorang Promkes yang berdinas di Puskesmas Pembantu Desa Jeruk, Bandar, dikenal tidak kenal waktu menyumbangkan seluruh tenaganya mensosialisasikan pencegahan virus Corona hingga di luar wilayah kerjanya di Kecamatan Bandar.

“Setiap pasaran Pon dan Legi (Pasar di Kecamatan Bandar) mbak Riana selalu membawa megaphone dan bengok-bengok. selain itu Dia selalu ada di perbatasan menyemprotkan disinfektan,” kata Suwoto Camat setempat saat mendampingi Riana memperoleh penghargaan dari Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan, pagi ini (23/04) di Halking Pendopo Kabupaten.

Mendengar kisah yang disampaikan Suwoto, Luki Indartato ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan sekaligus istri Bupati tertegun atas berbagai kesah Kartini muda dari Kabupaten Pacitan itu. “Mbak Riana yang jauh dari keluarga tetap bisa melakukan hal yang luar biasa, tanpa pamrih dan tidak pernah mengeluh,” kata Luki.

Semangat Riana dalam bekerja demi kemanusiaan itu juga turut dirasakan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo, di kesempatan yang sama ia memuji semangatnya mencegah virus Corona supaya tidak semakin merugikan orang banyak, tak peduli kulitnya tangan dan lengannya legam terpapar terik matahari.

“Orang yang semangat seperti ini tolong di perhatikan (Dinkes Pacitan),” ujar Wabup. Supaya semangat Riana sebagai Kartini masa kini, merangsang Riana lain untuk berkarya melalui  wadah masing-masing untuk kemajuan diri, orang sekitar dan Kabupaten Pacitan.

Namun, perempuan 27 tahun tersebut merasa belum melakukan apa-apa, ia merasa banyak yang lebih pantas menerima penghargaan ini. “Masih banyak teman dan senior saya yang lebih pantas diundang ke Halking,” katanya rendah hati.

Namun pengakuan tersebut atas dasar pemikiran orang disekitar yang menyaksikan langsung semangatnya, penghargaan itu kini telah disematkan kepada perempuan yang hobi lintas alam dan menanam pohon tersebut. “Kini tidak ada kata lain selain lebih giat lagi berbuat sesuatu demi masyarakat,” kata Dia.

Melihat perjuangan petugas, sudah selayaknya sebagai masyarakat mematuhi setiap peraturan yang diberlakukan. Seperti selalu menggunakan masker saat di luar rumah atau saat interaksi dengan orang lain. Supaya tidak merugikan orang lain dan orang yang kita cintai.(budi/rozaq/riyanto/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Masih Mau Menjadi Penerima Bantuan Beras 10 Kg?

Selalu ramai menjadi perbincangan dalam komentar media resmi Pemkab Pacitan. Saat Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan men-share berita soal penyerahan bantuan Beras 10 Kilogram kepada masyarakat terdampak Covid-19.

Lalu siapakah sebenarnya yang berhak menerima bantuan tersebut? Pemkab Pacitan beberapa kali menginformasikan sarat penerima bantuan dari Jaring Pengamanan Sosial. Kali ini akan kembali diulas supaya masyarakat semakin memahaminya.

Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengatakan, pertama penerima bantuan ini ditujukan kepada masyarakat yang jatuh miskin karena pandemi Covid-19. Menyebabkan mereka kesulitan atau sama sekali tidak dapat mencukupi kebutuhan pangannya. “Pekerja Informal seperti itu harus kita bantu,” kata Rachmad (22/04).

Kurang mampu saja tidak cukup, bagi yang sudah tercatat dalam program BLT Non Tunai, Grindulu Mapan, PKH dan Rastra tidak akan memperoleh Jaring Pengamanan Sosial karena duplikasi.

Kemudian masyarakat yang Positif Covid-19 dari tes Swab dan harus menjalani karantina atau perawatan di rumah sakit. Mereka dijamin kebutuhannya seperti pangan dan obat-obatan yang diberikan. Termasuk biaya kamar.

“Masyarakat harus jujur. Jangan mengambil hak orang lain, begitulah caranya mendukung program pemerintah,” ungkap Rachmad.

Diancam Hukuman Mati

Masyarakat tidak perlu cemas memikirkan penyaluran bantuan jaring Pengamanan Sosial tersebut, pemerintah akan berpikir seribu kali jika memiliki niat menyelewengkan anggaran. Sesuai dengan Kejaksaan yang telah me-Warning akan menghukuman mati kepada pelaku yang memainkan dana kemanusiaan tersebut.

Ikuti saja mekanismenya, jika diketahui dan benar ada permainan saat penyaluran laporkan saja kepada pemerintah atau kepada aparat berwenang. “Penyaluran ini semua sudah ada peraturannya,” terang Dia.

Pada Fase pertama Penanganan Covid-19 di Pacitan pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp. 25 Miliar hingga akhir Mei 2020. Jika kondisi belum dapat stabil maka Fase kedua saat ini telah disiapkan hingga akhir Agustus 2020.

“Jika perlu seluruh APBD diperuntukkan untuk menangani Covid-19, meski tetap harus melewati mekanisme yang berlaku” pungkas Rachmad. (budi/rach/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Jangan Panik Dengan Video Penjemputan PDP di Sosmed

Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang Video penjemputan salah satu Pasien Dalam Pengawasan di seputaran Kota Pacitan yang terjadi kemarin (19/04) oleh mobil Ambulan Public Safety Center (PSC)  Dinkes Pacitan.

PDP 06 tersebut diakui Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto Positif Rapid Tes. namun ia menegaskan pasien belum dinyatakan positif Covid-19. “Kita melaksanakan Tes Swab Insya Allah hari ini,” juar Dia.

Pasien tersebut terpaksa harus dikarantina di RSUD dr. Darsono lantaran kondisinya habis terjangkit Demam Berdarah (DB), sehingga tindakan ini untuk mencegah pasien mengalami komplikasi yang membawa masalah menjadi serius. “Jika sehat cukup di rumah,” terang Rachmad.

Saat ini jumlah total PDP di Kabupaten Pacitan 8 orang, 3 diantaranya dinyatakan sembuh dan yang lain masih menjalani perawatan dan karantina. Sedang jumlah positif masih tetap 1. “Kami berharap tetap 1 pasien dan cepat sembuh,” harap Rachmad. (budi/anj/rach/tika/DsikominfoPacitan).

Serahkan Bantuan Kepada 2 PDP Berstatus Lansia

Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan kembali menyerahkan bantuan kepada dua orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang berada di Desa Kembang, Pacitan. Bantuan tersebut meliputi beras sebanyak 10 Kilogram, makanan ringan dan masker.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan itu (20/04) mengatakan, bantuan tersebut diserahkan kepada mereka lantara kedua PDP dari 2 KK tersebut sudah memasuki usia lanjut (Lansia), dan sedang menjalani karantina mandiri di rumahnya.

“Sesuai perintah Bapak Bupati Pacitan Indartato, kami diminta untuk menyerahkan bantuan tersebut supaya sedikit meringankan beban mereka,” kata Rachmad.

Seluruh masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 tetap akan mendapatkan bantuan dari Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan baik bersumber dari Bidang Ekonomi maupun dari Jaring Pengamanan Sosial, termasuk pemudik yang kehilangan pekerjaan dan yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. (budi/anjar/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Satgas Covid-19 Pacitan Apresiasi RIM Banjarsari

Pemdes Banjarsari, Pacitan mendapat apresiasi dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan lantaran berhasil menciptakan inovasi Rumah Istirahat Mandiri (RIM) atas dukungan dan kekompakan masyarakatnya.

Apresiasi tersebut ditunjukan dengan menyerahkan bantuan kepada penghuni RIM berupa paket sembako dan masker kepada masing-masing KK yang menghuni. “Saat ini dihuni oleh 4 orang dari 2 KK,” ujar Rachmad Dwiyanto, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan (20/04).

Penghuni RIM Desa Banjarsari ini akan menghuni RIM yang berada di Dusun Krajan tersebut selama 14 hari, sebelum dapat berkumpul bersama keluarganya. Untuk menghindari rasa jenuh, pemdes menyiapkan berbagai aktivitas yang menarik termasuk menyiapkan sarana olahraga yang sederhana.

Rachmad menegaskan, dukungan seluruh elemen masyarakat begitu berarti dalam menghadapi dan menumpas pandemi Corona ini. Inovasi yang dilakukan oleh Pemdes Banjarsari bisa diaplikasikan di desa-desa lain demi menumpas mata rantai Covid-19.

“Tanpa dukungan masyarakat dan inovasi Pemdes kita kesulitan menyelesaikan wabah ini,” kata Rachmad Dwiyanto. (budi/anj/rach/tika/DiksominfoPacitan).

Hati-hati Oknum Minta-Minta Sumbangan Atas Nama Satgas Covid-19 Pacitan

Terpantau adanya oknum yang memanfaatkan kondisi darurat nasional pancemi Covid19 dengan meminta-minta bantuan kepada masyarakat, mereka mengatasnamakan Satgas Covid-19 Kabupaten Pacitan untuk pengadaan masker dan lain-lain.

Kejadian tersebut secara tegas disangkal Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto. Tindakan itu tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pihaknya mengaku tidak mengadakan kebijakan tersebut kepada masyarakat. “Jangan sekali-kali direspon. Pemda Pacitan masih banyak anggaran,” tegas Rachmad.

Masyarakat dimohon untuk peduli dan berhati-hati dengan berbagai bentuk permintaan berupa sumbangan mengatasnamakan penanganan pandemi Covid19, meski beratas nama Bupati Pacitan Sekalipun, karena jelas jika mengatasnamakan Satgas Covid-19 Pacitan adalah tidak benar. “Waspada dengan modus seperti ini,” pesan Rachmad. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Korpri Belanja Masker dan Sembako Untuk Masyarakat Pacitan

Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) lingkup Pemda Pacitan turut peduli terhadap pandemi Covid-19 yang terjadi di Kabupaten Pacitan. Melalui iuran sukarela yang terkumpul sebesar Rp. 16 juta diwujudkan berupa masker dan paket sembako.

Bantuan ini diserahkan kepada masyarakat secara simbolis oleh Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 di Pasar Pringkuku dan Pasar Donorojo. Didampingi Wabup Pacitan Yudi Sumbogo, Sekda Heru Wiwoho dan seluruh pejabat Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengatakan, dipilihnya penyerahan simbolis di dua lokasi tersebut lantaran hari ini (17/04) bertepatan dengan pasaran di kecamatan itu.

Pemerintah berharap bagi-bagi masker tersebut merangsang masyarakat cepat beradaptasi menggunakan masker. Merujuk pantauan Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan, masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya menggunakan masker saat diluar rumah.

Sementara bantuan sembako juga diserahkan secara simbolis, Rachmad mengingatkan bahwa bantuan paket sembako diperuntukkan kepada masyarakat yang benar-benar terdampak pandemi Covid-19. “Utamanaya pekerja harian yang kehilangan pekerjaan,” pungkas Rachmad. (budi/rozaq/rac/tika/DiskoinfoPacitan).

Pak In Ancam Oknum Yang Bermain Dana Penanganan Covid-19

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan sekaligus Bupati Pacitan Indartato mengundang seluruh awak media baik cetak dan elektronik, pagi ini di (17/04) di Pendopo Kabupaten Pacitan.

Undangan tersebut sebagai wujud apresiasi pemerintah kepada dukungan media dalam rangka dukungan mereka dalam andil memerangi pendemi virus corona yang turut mengancam Kabupaten Pacitan.

Di Hadapan para pemburu berita tersebut Pak In menegaskan bahwa perang melawan virus ini dibutuhkan koordinasi antar instansi, lalu ditambahkan bumbu wajib yakni keterbukaan seluruh petugas yang terlibat.

Namun Pak In juga berharap kepada media untuk mengabarkan informasi sesuai dengan data fakta yang ada. Karena ini penting dan berdampak luas kepada pemerintah dan utamanya masyarakat di Kabupaten Pacitan.

“Keterbukaan itu perlu. Uang bencana ojo nyampek Kelong pada petugas, sebape akeh dosa,” kata Pak In yang juga disaksikan oleh seluruh jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan.

Seluruh anggaran yang telah disiapkan oleh Satgas harus benar-benar sampai pada masyarakat yang membutuhkan. Jika benar adanya ada oknum yang bermain maka tidak ragu Pak In akan menyerahkan kepada petugas berwajib. “Rakyat juga melihat,” tegas Pak In. (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

BRI Pacitan Serahkan Ribuan Masker dan Paket Sembako

BRI Cabang Pacitan enggan ketinggalan dukung Pemerintah Kabupaten Pacitan. Sebagai mitra terpercaya, BRI menyerahkan bantuan berupa sembako kepada Bupati Pacitan Indartato.

Selain sembako Bank berplat merah tersebut juga menyumbangkan masker dan Alat Pelindung Diri (APD) yang bakal sangat bermanfaat bagi petugas medis.

Partisipasi tersebut merupakan bentuk nyata eksistensi BRI Cabang Pacitan dengan segala perhatiannya kepada masyarakat Kabupaten Pacitan. Utamanya kepada mereka yang terdampak langsung pandemi Virus Corona.

Bantuan yang diserahkan kepada pemerintah Pacitan meliputi 8000 masker, 200 APD, 250 Paket Sembako dan 1 Wastafel. (DiskominfoPacitan).

Intan Pariwara Peduli Corona

Masyarakat Kabupaten Pacitan bersatu dalam menghadapi kesulitan, termasuk kali ini saat menghadapi pandemi Covid-19.

Seperti yang dilakukan oleh CSR Intan Pariwara yang menyerahkan bantuan kepada Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan berupa paket sembako dan thermogun.

Penyerahan ini diapresiasi Pak In, ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat di Kabupaten Pacitan. Termasuk memudahkan petugas penanganan Covid-19 dengan bertambahnya aset pengukur suhu.

Sebagaimana diketahui, Intan Pariwara senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kesulitan masyarakat Kabupaten Pacitan dengan respon cepatnya. (DiskominfoPacitan).

Siagakan Puskesmas Hadapi Covid-19

24 Puskesmas di Kabupaten Pacitan selasa kemarin (14/04) mendapat pelatihan Rapid Tes dan pengambilan jaringan mukosa untuk Swab Tes yang diselenggarakan Dinkes Pacitan bekerja sama dengan RSUD dr. Darsono Pacitan.

Ini diselenggarakan di Puskesmas Tanjungsari Pacitan sebagai langkah preventif jika terjadi hal yang tidak diinginkan, yakni ledakan angka positif Corona seperti di negara Italia ataupun di Amerika.

“Merujuk dari BNPB status darurat ini sampai dengan 29 Mei 2020. Masih ada kemungkinan perpanjangan jika kondisi masih belum dapat diatasi,” ujar Jubir Pemenangan Covid-19 Kabupaten Pacitan Rachmad Dwiyanto (16/04).

Pelatihan tersebut adalah langkah penting yang dilakukan pemerintah, dalam waktu dekat pemda juga berencana melakukan lobi ke pemprov untuk mendukung kemampuan para medis tersebut, dengan menyediakan sarana dan prasarana seperti alat Rapid Tes hingga APD.

Rachmad mengaku, meski memiliki anggaran untuk pengadaan tetapi pemerintah enggan membeli sendiri peralatan tersebut. Pemda lebih memilih mekanisme yang ditetapkan pemerintah pusat. “Kami khawatir peralatan tidak berstandar jika kita beli sendiri. Karena itu sangat berisiko,” lanjut Dia.

Langkah ini dinilai cerdas jika merujuk pada tupoksi puskesmas yang memiliki kedekatan kepada masyarakat hingga pelosok-pelosok desa. Meski sebatas tes dan observasi. Namun dalam kondisi khusus peningkatan kemampuan para medis di puskesmas tersebut bisa sangat penting dan dapat diandalkan. (budi/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Masyarakat Pacitan Dewasa

Perawat, dokter dan petugas medis lainnya adalah satu dari garda terdepan penanggulangan penyebaran pandemi Covid-19. Tugas paramedis penuh risiko sampai-sampai mempertaruhkan nyawa sendiri.

Masyarakat Kabupaten Pacitan harus bijaksana dan arif melihat mereka, tanpa petugas medis tersebut bagaimana pasien dapat dirawat dan diterapi supaya sembuh. Bayangkan jika pasien itu adalah keluarga kita, atau bahkan justru kita yang menjadi pasien.

Juru Bicara (Jubir) Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Rachmad Dwiyanto meminta masyarakat Pacitan untuk tidak mengucilkan petugas medis, tidak menganggap petugas medis sebagai momok yang harus dijauhi.

“Mereka sudah rela berkorban demi umat manusia dengan berbagai risikonya, jadi jangan halang-halangi mereka untuk pulang bertemu dengan keluarganya,” kata Rachmad.

Petugas medis telah memperhitungkan berbagai kemungkinan untuk memutus penyebaran Corona, mulai dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan berbagai sterilisasi sebelum mereka benar-benar keluar dari ruang isolasi. Termasuk berbagai tes yang ketat.

“Ingat jauhi penyakitnya bukan orangnya. Bagaimana caranya, berkali-kali saya sampaikan gunakan masker, cuci tangan, social distancing itu penting,” tambah Dia.

Termasuk menolak jenazah yang akan dikebumikan, hal ini melanggar hukum dan larangan agama. Jika ditinjau dari berbagai sudut pandang sekalipun jenazah tidak memiliki potensi menularkan penyakit apapun alasannya. Justru malah provokator kejadian tersebut berakhir di balik jeruji besi. (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Pos Perbatasan Luar Biasa Karena Didukung Seluruh Elemen Masyarakat dan Instansi

Benar adanya jika perbatasan adalah salah satu kunci penting penghambat penyebaran pandemi Covid-19. Di Kabupaten Pacitan ada 5 pintu masuk yang wajib dijaga 24 jam non stop oleh petugas.

Untuk mengetahui kondisi perbatasan pos perbatasan tersebut Bupati Pacitan Indartato sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan meninjau langsung pintu masuk perbatasan Ponorogo-Pacitan di Desa Ketro, Tulakan dan Jalan Lorok-Trenggalek di Kecamatan Sudimoro.

Bupati mengaku bersyukur sekaligus bangga, lantaran ia menyaksikan kekompakan masyarakat Kabupaten Pacitan, didukung Karang Taruna hingga Banser dan ormas lain yang melibatkan diri di garda terdepan pengamanan, apalagi petugas tersebut disupport Kepala Desa, Camat bahkan Anggota DPRD.

Beberapa catatan yang diperoleh pada pemantauan tersebut oleh Bupati akan segera dicukupi, utamanya adalah sarana dan prasarana pendukung para petugas yang bekerja siang dan malam tersebut.

“Keamanan luar biasa. Oleh sebab itu saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran Polres dan Kodim 0801 Pacitan,” kata Bupati menutup program kerja hari ini (14/04). (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

47 Ribu KPM Terima Bantuan Bulan Ini

Bupati Pacitan Indartato kembali menyerahkan secara simbolis Bantuan Pangan Non Tunai kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Program keluarga Harapan (PKH) dan Non PKH bersumber dari basis data Kesejahteraan Sosial (Kesos) di Kantor Desa Semanten, Kecamatan Pacitan. hari ini (14/04).

Bantuan tersebut meliputi Beras Berkualitas sebanyak 15 kilogram, Telur 1 kilogram, susu dan buah yang akan segera diserahkan kepada penerima melalui 90 petugas yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Pacitan.

Usai penyerahan Indartato menyampaikan bahwa penyerahan tersebut dipastikan dapat terealisasi di semua wilayah Kabupaten Pacitan pada bulan ini, kepada masyarakat tanpa terkecuali sesuai dengan ketentuan.

“Kita segera cairkan supaya meringankan beban masyarakat di tengah mewabahnya pandemi virus corona yang berdampak pada ekonomi masyarakat,” kata Indartato didampingi Wakilnya Yudi Sumbogo, Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, Dandim 0801 Pacitan Letkol Nuri Wahyudi dan jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan.

Meskipun pagebluk yang muncul pertama dari Kota Wuhan, China tersebut melemahkan ekonomi masyarakat Pacitan, namun Indartato berharap KPM, PKH dan Non PKH tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yakni pangan.

Indartato juga mengaku penyerahan tersebut bukanlah Jaring Pengamanan Sosial, ini adalah program tetap dari pemerintah yang dihimpun sejak tahun 2015 melalui Basis Data Terpadu. “Jaring Pengamanan Sosial ada lagi. Jadi ini beda,” pungkas Indartato. (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Posko Induk Covid-19 Pindah Di Kantor PUPR Lama

Bupati Pacitan Indartato sekaligus ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan melihat langsung gedung baru Posko Induk Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan. Posko ini saat ini berada di kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR) lama yang sementara tidak digunakan.

Sebelumnya Posko Induk tersebut berada di gedung Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berada di lingkup Pemkab Pacitan, mengingat tempat tersebut kurang strategis dan sempit maka diputuskan dipindah di gedung kosong tersebut.

Posko baru ini cukup untuk menampung seluruh petugas, relawan dan awak media. Ada juga ruang gudang sebagai penyimpanan segala kebutuhan penanganan virus corona di Kabupaten Pacitan. “Semua data dan kebutuhan dan peralatan kita simpan disini, termasuk ada ruang untuk wartawan,” kata Bupati (14/04).

Dengan dipindahkannya posko baru ini diharapkan penanganan bahaya covid-19 di Kabupaten Pacitan lebih cepat dan maksimal, supaya kondisi segera kembali normal seperti sedia kala. (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Abang Ojek Terminal Dapat Beras Dan Masker

Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan kembali menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak Pandemi Covid-19. Hari ini (13/04) Abang Ojek seputaran Terminal Pacitan mendapat giliran menerima 10 kilogram beras berkualitas super yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati Pacitan Indartato didampingi Wabup Yudi sumbogo, Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto dan Dandim 0801 Pacitan Letkol Nuri Wahyudi di halaman terminal Pacitan.

Bukan hanya sembako, pada saat itu istri Bupati Luki Indartato juga berkesempatan membagikan masker kepada seluruh Abang Ojek secara cuma-cuma, hal tersebut lantaran besarnya risiko terjangkitnya virus corona saat membawa penumpang.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan yang sama mengatakan stok bantuan sembako cukup hingga bulan Agustus mendatang, karena didukung musim panen yang terjadi hampir di semua wilayah Pacitan. “Semua yang terdampak tetap akan didata,” pungkas Rachmad. (budi/rozak/riyanto/tika/DsikominfoPacitan).

Terpaksa Hanya Ijab Qobul

Bagi siapapun yang telah terlanjur menjadwalkan pesta pernikahan di tengah pandemi Covid-19, pemerintah senantiasa mewanti wanti untuk meniadakan kegiatan resepsi dan pengumpulan massa dalam jumlah sedang maupun besar.

“Cukup ijab qobul saja,” kata Rachmad Dwiyanto Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan (13/04).

Dukungan dan kekompakan masyarakat penting untuk mencegah penularan virus corona yang dapat mengakibatkan penyakit menular Covid-19.

Tuan rumah diharap mengundang tamu seperlunya, menyediakan tempat cuci tangan dan disiplin melaksanakan Physical Distancing. “Harus juga menggunakan masker,” tambah Rachmad. (DiskominfoPacitan).

1 PDP Terkonfirmasi Positif

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan sekaligus Bupati Pacitan Indartato mengkonfirmasi 1 pasien positif Covid-19. Kenyataan ini disampaikan langsung malam ini (09/04) di Halaman Wingking (Halking) Pendopo Kabupaten.

Pasien berkode 04 tersebut saat ini menjalani perawatan dan isolasi di RSUD dr. Darsono Pacitan. Berdasar hasil pantauan, pasien hingga detik ini dalam keadaan sehat tanpa gejala apapun dan dipastikan tidak akan dirujuk ke luar Pacitan. “Kesiapan pihak rumah sakit luar biasa,” kata Bupati.

Langkah strategis lain untuk menyelamatkan seluruh orang yang pernah kontak dengan pasien termasuk keempat Pasien Dalam Pengawasan (PDP) untuk kembali di tes ulang, baik menggunakan Rapid tes maupun Swab.

Terkonfirmasi nya satu pasien membuat status siaga yang diberlakukan di Kabupaten Pacitan saat ini berubah menjadi tanggap darurat sekaligus Kejadian Luar Biasa (KLB). Pihaknya lebih jauh akan melakukan secara masif kampanye kepada masyarakat, demi mencegah penularan Virus Corona di Pacitan dengan memanfaatkan pengeras suara di masjid dan mushola di semua wilayah di jam efektif.

Sementara Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Rachmad Dwiyanto meminta kepada masyarakat untuk semakin disiplin dengan larangan yang diberlakukan pemerintah. “Jaga jarak, jangan keluar rumah kecuali kepepet dan gunakan selalu masker,” kata Dia.

Kepala Diskominfo Pacitan itu juga kembali meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang terhadap seluruh informasi yang beredar, baik di sosmed ataupun di media elektronik setelah konfirmasi tersebut. (budi/anj/rozaq/dzakir/tika/DiskominfoPacitan).

Perpanjangan Sensus Penduduk 2020

Merebaknya Pandemi covid-19 di indonesia, maka Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pacitan menyatakan, bahwa kegiatan Sensus Penduduk Tahun 2020 diperpanjang. Masa perpanjangan tersebut akan berlangsung sampai tanggal 29 Mei 2020. Pastikan seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan berpartisipasi.

Kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Pacitan agar supaya menjadi contoh penyelenggaraan Sensus Penduduk secara Online. Mengingat gelaran ini akan melahirkan satu data Indonesia, sebagai penentu kebijakan pemerintah.

Capaian partisipasi ASN dalam Sensus Penduduk tahun 2020 sampai pada (09/04/2020) sebagai berikut, tertera dalam lampiran foto. (Statistik DiskominfoPacitan).

Murah! Masker Karya Siswa SMKN 3 Pacitan

Bupati Pacitan Indartato mengaku berterimakasih dan sekaligus bangga terhadap komitmen SMKN 3 Pacitan yang turut serta membantu pemerintah dalam menangani penyebaran Virus Corona di Kabupaten Pacitan. Melalui inovasinya menciptakan masker oleh para siswa dan siswi Tata Busana.

Hal ini disampaikannya usai melihat langsung proses pengerjaan di ruang praktek sekolah tersebut, hari ini (09/04). “Kami terima kasih Kepala Sekolah dan jajaran dan para siswa siswi telah berupaya meringankan beban pemerintah dalam menghadapi Covid-19 ini,” kata Bupati.

Atas inisiatif tersebut Indartato juga berencana memberikan satu tanda penghargaan kepada siswa dan siswi. Mereka merelakan waktu belajar dirumah untuk praktek langsung di sekolah demi memproduksi masker.

Selain itu pemerintah juga berencana mendukung marketing, sehingga penyebarannya merata untuk masyarakat dan  seluruh wilayah di Kabupaten Pacitan. Masker tersebut cukup terjangkau, masker dengan kain dobel yang dapat diisi tisu di dalamnya manajemen mematok harga Rp. 50.000, berisi 10 masker. Sedang untuk masker single kain dengan isi sama dihargai Rp.40.000. (budi/rozaq/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

65 Ton Beras Premium Diserahkan Kepada Masyarakat Terdampak Corona

Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan beserta seluruh jajaran membagikan sembako berupa beras berkualitas premium kepada masyarakat terdampak perekonomiannya karena pandemi Virus Corona. Mereka yang mendapatkan bantuan tersebut diantaranya adalah para pelaku UMKM, PKL hingga Ojek Online (Ojol), diserahkan secara simbolis oleh Bupati Pacitan Indartato, pagi ini (09/04).

Tidak hanya di seputaran kota, Bupati mengatakan pembagian ini akan diserahkan kepada masyarakat hingga di pelosok desa melalui berbagai ketentuan yang sesuai. “Kita bersama pemerintah pusat, pemprov melalui Jaring Pengamanan Sosial mendata masyarakat. Pemda Pacitan membagikan beras 10 Kilogram,” kata Bupati.

Pemerintah juga berencana merubah konsep pasar murah menjadi bantuan langsung untuk mendukung kebijakan tersebut sehingga lebih memudahkan masyarakat. “Kita akan laksanakan secara berkala. Jadi hari ini bersifat simbolis,” lanjut Bupati.

Secara konsep bantuan langsung tersebut akan disesuaikan, sehingga seluruh wilayah ada program tersebut. Termasuk ketentuan bagi penerima saat ini tengah dirumuskan, diharapkan Jaring Pengamanan Sosial ini tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan dan tidak terjadi kecemburuan.

Sementara Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan lain mengungkapkan, ada sekitar 25.000 sampai dengan 30.000 masyarakat terdampak pandemi Virus Corona yang akan memperoleh perhatian. Termasuk mereka yang menjadi pengangguran. (budi/rozak/riyanto/tika/DiskominfoPacitan).

Sekali Lagi; Rapid Test Bukan Penentu Positif Covid-19

Penentunya adalah tes Swab, oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Puskesmas maupun Rumah Sakit di dalam jajaran Pemda dan Pemprov tidak memiliki kewenangan tersebut.

Ini kembali dikemukakan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan sekaligus Kadiskominfo Pacitan Rachmad Dwiyanto, yang mendapat beberapa aduan dari masyarakat melalui aplikasi Wadule, kemarin (07/04).

Secara teknis Rachmad yang juga mantan Kadinkes Pacitan itu mengatakan bahwa Rapid tes bersifat mengkonfirmasi adanya infeksi pada tubuh seseorang, namun Rapid tidak dapat membedakan bakteri atau virus secara spesifik baik Virus Influensa, MERS, Sars atau Covid-19.

“Hasilnya Reaktif saat ini oleh para dokter akan mengarah pada tindakan Covid-19. Karena sekarang sedang Pandemi Virus Corona,” ujar Dia. Keputusan menggunakan Rapid tes tersebut sebagai upaya dini dari pemerintah atas mewabahnya Virus Corona di ratusan negara di Dunia.

Rachmad juga menghimbau kepada masyarakat di kabupaten Pacitan supaya membaca segala informasi yang disampaikan oleh media dengan cermat hingga usai. Disamping itu Pemda Pacitan selama membangun akun resmi melalui sosmed Pemkab Pacitan dan website pacitankab.go.id yang selalu update setiap hari.

“Saya sebagai Juru Bicara Satgas Penanganan Pandemi Covid-19 di dalam etika berkomunikasi kepada siapapun adalah jujur dan tidak ada yang kami tutup-tutupi,” pungkas Rachmad. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Perkembangan Indeks Harga Konsumen / Inflasi Kabupaten Pacitan Edisi Maret 2020 Inflasi 0,18 persen

Pada bulan Maret 2020 Kabupaten Pacitan mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,01 persen dan Nasional mengalami inflasi sebesar 0,10 persen.

Dari tujuh kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi ada 5 kelompok dan yang mengalami deflasi 2 kelompok. Kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan yaitu sebesar 0,76 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yaitu sebesar 0,23 persen, kelompok kesehatan yaitu sebesar 0,16 persen, kelompok sandang yaitu sebesar 0,12 persen, kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami deflasi sebesar 0,03 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah gula pasir, bawang putih, bawang merah, rokok kretek filter, rokok kretek, cabai rawit, vitamin, ikan layur, daging ayam ras dan emas perhiasan.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah pasir, semen, cabai merah, kue basah, ikan tongkol, daging ayam kampung, salak, tauge, apel, dan beras.

Laju inflasi tahun kalender (Desember 2019 – Maret 2020) Kabupaten Pacitan  sebesar 0,92 persen. Inflasi year-on-year (Maret 2020 terhadap Maret 2019) Kabupaten Pacitan  sebesar  3,54  persen. (Statistik DiskominfoPacitan)

4179 Ton Beras Siap Untuk Puasa Dan Idul Fitri

Stock ketersediaan pangan untuk masyarakat Kabupaten Pacitan aman hingga tiga bulan ke depan. Cukup untuk kebutuhan ibadah bulan puasa dan perayaan hari raya idul fitri 1441 Hijriyah di tengah pandemi Covid-19.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) yang dipimpin Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, diikuti sejumlah Menteri terkait dan seluruh Gubernur, Walikota dan Bupati se-Indonesia. kemarin (07/04) melalui Video Conference dengan aplikasi Zoom di ruang rapat Bupati.

Stok ketersediaan pangan berupa beras saat ini mencapai 4179 Ton dan jagung sebanyak 100 Ton. Untuk dan daging sapi dan daging ayam justru mengalami surplus, berbanding terbalik dengan daging ayam yang saat ini mengalami defisit. “Tidak perlu khawatir, ketersediaan pangan cukup untuk masyarakat Kabupaten Pacitan,” ungkap Wabup.

Momentum panen di Kabupaten Pacitan sekarang menjadi alternatif cadangan pangan yang cukup besar. Saat ini Kecamatan Kebonagung memulai panen, meski panen raya belum merata di semua wilayah. Hal tersebut membuat Dinas Pangan belum dapat mengkalkulasi cadangan penambahan ini. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Kapolres Pacitan; Penutupan Wilayah RT/RW Bukan Lockdown

Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto mengamini penutupan wilayah di sejumlah titik tingkat RT/RW hingga desa dan kelurahan yang diberlakukan baru-baru ini di lingkup kota. Tetapi hal tersebut bukanlah Lockdown seperti yang dibicarakan banyak masyarakat. “Itu adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai turut serta mereka mengamankan wilayahnya,” katanya (07/06).

Namun demikian Kapolres menekankan PSBB harus sesuai mekanisme yang berlaku jika diterapkan di area yang lebih luas, seperti kota atau tingkat Kabupaten yang tertuang pada peraturan yang ada dari pemerintah pusat penanganan Covid-19 di Indonesia.

Sebenarnya PSBB tersebut telah dilaksanakan pemerintah sejak pertama Virus Corona mulai masuk di Indonesia, tercermin dari kegiatan belajar di rumah masing-masing bagi  seluruh siswa siswi dan mahasiswa. Begitu juga para karyawan yang diizinkan bekerja dari rumah dan sistem sehari masuk sehari libur.

Saat ini wilayah yang terpantau jajaran Polres Pacitan yang melakukan tertib Physical Distancing, salah satunya di Perumahan Barehan, Kelurahan Ploso. Namun Kapolres mengapresiasi wilayah lain yang melakukan itu. “Itu berarti menunjukan kesadaran masyarakat yang tinggi dari karang taruna hingga pemerintah desa yang turut menjaga dan mendata setiap tamu yang datang,” lanjutnya.

Menghadapi pandemi Virus Corona bagusnya seluruh elemen masyarakat dan pemerintah bersatu dengan berbagai upaya, namun Kapolres meminta melalui Sekda hingga kecamatan untuk memberikan sosialisasi terhadap mekanisme PSBB. “Yang penting tetap berhati-hati, tetap sosialisasikan kepada masyarakat. Karena cara terbaik melawan Corona itu,” tandas Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Disparpora Pacitan Siapkan Kejutan Usai Pandemi Covid-19

Penutupan sementara sembilan destinasi wisata di bawah Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pacitan dan satu dikelola desa kembali diperpanjang hingga 21 April 2020. Keputusan tak lain memutus mata rantai penyebaran Covid-19, karena beberapa kota sekitar menjadi zona merah pandemi virus corona.

Melihat penutupan panjang ini ternyata Disparpora sadar ada celah inovasi demi mendorong kemajuan pariwisata di Kabupaten Pacitan setelah nanti dibuka kembali. Di luar mensterilkan semua lokasi dengan desinfektan secara teratur.

“Kita melakukan perbaikan-perbaikan untuk mempersiapkan diri ketika wisata kita kembali dibuka, mulai dari perbaikan tempat parkir hingga lokasi wisatanya. Terutama kita bangun spot-spot yang akan mempercantik destinasi kita,” kata T. Andi Faliandra kepada Diskominfo Pacitan (06/04/2020).

Kapan lagi ada kesempatan baik untuk meremajakan kembali area wisata sehingga semakin indah dan kembali asri, sehingga seluruh wisatawan yang selama ini harus tetap di rumah akan terkejut dengan berbagai inovasi  dari Disparpora Pacitan.

Andi dikesempatan tersebut juga juga mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan promosi masif kepada khalayak, mengingat ini tidak melanggar aturan. Baik melalui wadah sosial media atau yang lain. Sehingga tidak menutup kemungkinan usai pandemi corona, wisata di Kabupaten Pacitan viral dan menjadi satu kejutan para wisatawan.

Terlebih itu didukung para pelaku wisata dan warga masyarakat yang kompak melakukan pembersihan hingga terlibat dalam peremajaan, disempurnakan oleh komitmen Disparpora Pacitan.

Saat ini kendala yang dihadapi Disparpora menurut Andi adalah pelaku UMKM dan pemilik homestay yang menggantungkan ekonomi kepada pengunjung wisata. Penutupan tersebut diakui berdampak langsung pada pemasukan mereka. “Hari ini akan segera kami data dan kita rapatkan. Lalu kita pikirkan bersama Bidang Perekonomian, Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan,” ujar Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Positif Rapid Test Belum Tentu Terpapar Virus Corona

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan, Rachmad Dwiyanto membenarkan satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan dinyatakan positif pemeriksaan Rapid test. Namun demikian, ASN tersebut tidak bisa dinyatakan sebagai pasien Positif Covid-19.

“Kami terus memantau kesehatannya. Cukup sehat tidak ada gejala apapun hingga detik ini,” ujar Rachmad yang juga Kepala Diskominfo Pacitan hari ini  di ruangannya (03/04/2020).

Dari pengakuan, ASN tersebut beberapa waktu lalu mengaku sempat mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Haji di Kota Surabaya, setelah pandemi corona merebak di Indonesia.

“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang bersangkutan kini menjalani karantina mandiri selama 14 hari sembari menunggu hasil test Swab di Jakarta,” lanjut Rachmad.

Mantan Kadinkes Pacitan itu juga minta masyarakat tetap tenang soal kondisi yang ada, apalagi didukung ramainya pemberitaan yang beredar di media maupun sosmed di Kabupaten Pacitan.

Terpenting saat ini masyarakat kompak membantu pemerintah, dengan ikut serta memantau yang bersangkutan untuk disiplin mengikuti karantina mandiri. Jika diketahui melanggar karantina maka masyarakat dapat melapor kepada Satgas Penanganan Covid-19.

Mulai hari ini Pemerintah Kabupaten Pacitan juga mewajibkan kepada seluruh masyarakat untuk selalu menggunakan masker di luar rumah, apapun tidak harus masker medis. Terutama ketika ditempat-tempat umum seperti di pasar, minimarket yang banyak aktivitasnya manusia dan didukung dengan Social Distancing.

“Yang penting selalu jaga kesehatan, dengan menjaga asupan makanan dan bergizi, bila perlu minum vitamin teratur dan jaga kebersihan dengan banyak mencuci tangan dengan sabun,” pungkas Dia. (budi/rch/wira/DiskominfoPacitan)

Pandemi Corona; Indartato Dukung Inovasi untuk Pertahankan Status Siaga

Peran individu masing-masing masyarakat sangat penting untuk menghadapi ancaman Corona Virus yang menjadi perhatian seluruh warga dunia akhir-akhir ini.

Indonesia tentu ogah menjadi Cina, Italia atau  Amerika yang menjadi top pasien Covid-19 terbanyak. Jelas, di negara itu seluruh sektor mendapat jatah imbasnya. Mulai ekonomi bahkan nyawa sekalipun.

Cermat menyaksikan itu, Bupati Pacitan Indartato mengapresiasi seluruh ASN ataupun masyarakat yang berinovasi membantu pemerintah dalam memerangi pandemi ini melalui bidangnya masing-masing, mulai programmer, petugas medis hingga Kepala Desa.

Penghargaan inovator tersebut diberikan secara simbolis kepada Hesna Dwi Rahmawati dan Antin Mustika Sari, inovator dan penggerak pembuatan APD, Setyobudi, Rorik Setyobudi, Hendrik Mulyanarko, Gunawan Susanto, Moch. Fahrudin Hariadi, Ekhi Kharisma Prihangka, Ary Setyo Nugroho, Perancang APD. Kepala Desa Sedeng, Tinatar dan Banjarsari, partisipasi menyediakan alat cuci tangan setiap rumah. Lurah Ploso, Partisipasi keswadayaan warga dan pengaturan jalur lingkungan dalam rangka waspada Covid-19.

“Tadi malam saya muter-muter, naik mobil pribadi di perbatasan, saya di stop. Awalnya saya tidak mau turun. Akhirnya saya dipaksa turun untuk diperiksa, begitu tahu mereka kaget,” kata Bupati (02/04).

Momentum itu menunjukkan totalitas dan disiplin tinggi dari semua unsur, menjadi piranti penting semua petugas di lapangan. Tanpa terkecuali seluruh masyarakat.

Di kacamata yang lebih luas, Bupati juga meminta kepada seluruh jajaran untuk senantiasa jujur dan apa adanya. Membuka seluruh kenyataan sehingga kondisi Kabupaten Pacitan yang saat ini berada pada status siaga dapat dipertahankan.

Misi mencegah pandemi yang dapat melumpuhkan seisi Kota 1001 Goa dengan bentang alamnya yang indah, tentu dengan inovasi yang dibumbui kesadaran tinggi. Tidak perlu takut, tapi selalu waspada dan mematuhi semua larangan pemerintah.

“Saat ini masalah kita adalah anggaran, tapi saya sudah perintahkan Pak Sekda untuk mengurusnya,” pungkas Bupati. (budi/rch/wira/DiskominfoPacitan).

Penanganan Corona Tugas Bersama; Harus Tahu Tugas Masing-masing

Bupati Pacitan Indartato mengajak seluruh jajaran untuk menyamakan persepsi antar lembaga dalam menghadapi ancaman Covid-19 di Kabupaten Pacitan.

Sesuai Kepres RI No. 7 Tahun 2020 Tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19), Keputusan Kepala BNPB No.13.A Tahun 2020 Tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona Di Indonesia dan Permendagri No. 20 Tahun 2020 Tentang Percepatan Penanganan Corona Virus Desease di Lingkungan Pemerintah Daerah yang ditindaklanjuti Keputusan Bupati Pacitan Nomor 188.45/535/KPTS/408.12/2020 Tentang Pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). “Mulai antisipasi, penanganan hingga rehabilitasi,” kata Bupati (01/04).

Tim gugus harus segera terbentuk yang didukung dengan tim anggaran yang nanti akan dibahas dengan DPRD. “Termasuk memperhatikan ketersediaan pangan,” lanjut Bupati.

Penanganan Covid-19 di Kabupaten Pacitan disampaikan Wakil Bupat (Wabup)i Pacitan Yudi Sumbogo tidak boleh main-main dan ragu. Termasuk menggunakan anggaran. “Lalu kedepannya seperti apa, bisa kita evaluasi kembali” kata Wabup.

Penanganan yang maksimal diharap Wabup dapat segera teratasi sebelum akhir Mei, seperti yang ditargetkan BNPB. “Setiap desa juga bisa menggunakan DD. Laksanakan itu,” katanya.

Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto di kesempatan yang sama menyampaikan seluruh lini Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan harus memahami tugas pokoknya. “Jangan sampai kecolongan. Kalau seperti Jakarta susah penanganannya,” ujarnya.

Kesadaran dari masing-masing wilayah terbawah, seperti lingkungan, dusun dan desa menjadi harapan Kapolres, kemandirian ini ia nilai paling efektif dibanding cara yang lain. “Termasuk kami berencana menurun sebagian jalan untuk mempersempit ruang gerak masyarakat,” lanjut Didik.

Sinkronisasi juga menyinggung soal perencanaan mitigasi, sehingga tidak ada berjalan tanpa perencanaan, meski diharap Komandan Kodim 0801 Pacitan Nuri Wahyudi tidak terjadi di Kabupaten Pacitan.

“Penambahan pembatasan yang mulai ditambah pusat diharap ditindaklanjuti oleh Kabupaten Pacitan. Termasuk pendataan orang asing di Pacitan,” kata Nuri.

Bencana urusan bersama, seperti tagline BPBD menjadi pondasi untuk mengenyahkan Covid-19 yang dimulai dari Kabupaten Pacitan. “Semua harus terlibat dalam penanganan ini,” tambahnya. (Budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bupati Minta PNS Tidak Hilir Mudik di Akhir Pekan

Hilir mudik Aparatur Sipil Negara (PNS) yang bertugas di Kabupaten Pacitan dari luar Kabupaten Pacitan akan segera di pantau Bupati Pacitan Indartato, sebagai upaya mencegah penyebaran Corona Virus utamanya di Pacitan.

Pak In secepatnya akan memerintahkan Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan Heru Wiwoho sebagai Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19. “Segera saya perintahkan Pak Sekda untuk memantau masalah ini,” kata Pak In (31/03)

Bupati menuturkan, sudah semestinya seluruh PNS yang bertugas di Kabupaten Pacitan dari luar Pacitan untuk tetap di Kabupaten Pacitan sesuai tugas masing-masing.

Meski dalam kondisi ini tetap ada kelonggaran, namun Pak In berharap kedisiplinan harus tetap tercermin para PNS. “Sudah jadi PNS Alhamdulilah, jangan memanfaatkan situasi,” imbuhnya tegas.

Selain sebagai upaya memutus mata rantai Covid-19, langkah ini juga sebagai upaya melindungi masing-masing ASN, Kabupaten Pacitan dan kota asal mereka.

Senada dengan Bupati, Muhammad Nurul Huda Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan melalui sambungan telepon meminta, seluruh jajarannya yang sementara off untuk tetap tinggal di tempat, tidak lalu lalang baik di dalam maupun keluar kota. “Laksanakan tugas di rumah dan jangan menyalahi aturan,” kata Huda. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Stop Nelayan Andon dan Manfaatkan Stock Panen Layur

Keberadaan para pencari ikan dari luar Kabupaten Pacitan jauh-jauh hari telah dipantau UPT. PPP Tamperan beserta  Pemda Pacitan. Bahkan mulai tanggal (16/03), pemerintah terpaksa menyetop kedatangan nelayan andon terutama dari zona merah pandemi Covid-19.

Ninik Setyorini Kepala UPT. PPP Tamperan Kabupaten Pacitan kepada Diskominfo Pacitan (31/03) membeberkan, saat ini terdapat sekitar 300 nelayan Andon yang datang sebelum tanggal penutupan. Mereka terus dipantau keberadaan dan kesehatannya. “Mereka secara rutin kami periksa, baik kesehatan dan yang lain,” ujar Ninik.

Apalagi saat ini adalah musim berburu ikan layur (Trichiuridae Lepturus), memaksa mereka mengabaikan larangan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah sampai keadaan kembali kondusif. “Beruntung hasil rapat kemarin memutuskan para juragan kapal bersedia membantu pemerintah untuk pengadaan desinfektan dan peralatan lain penunjang kesehatan,” lanjut Ninik.

Menurut data terakhir dari UPT PPP Tamperan, dalam sehari tidak kurang dari dua kapal sekoci yang berlabuh dengan total bongkaran mencapai 2 ton per kapal.

Keberadaan nelayan yang sudah terlanjur di dermaga Tamperan dan ditunjang dengan musim ikan layur yang melimpah ini dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan pangan masyarakat, jika sewaktu-waktu kondisi penyebaran virus semakin memburuk. “Aman kalau hanya untuk kebutuhan masyarakat Pacitan,” tambahnya.

Tidak dipungkiri, sikap nelayan yang terkadang ngeyel dengan berbagai larangan pemerintah tidak menyurutkan kewaspadaan jajaran untuk terus memantau nelayan tersebut. Bahkan Ninik menegaskan, setiap nelayan yang keluar masuk harus melalui prototipe kesehatan yang berlaku, baik cuci tangan hingga tes suhu tubuh. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

PKK Kabupaten Serahkan Tandon di 12 Desa

PKK Kabupaten Pacitan turut tanggap atas merebaknya Covid-19, dengan menyerahkan secara langsung tandon air dan sabun cair di 12 desa peserta lomba desa di 12 kecamatan.

Penyerahan yang dilakukan langsung oleh ketua tim penggerak PKK kabupaten Luki Indartato  tersebut juga turut diserahkan tidak langsung 2 gorong-gorong sebagai alas tempat cuci tangan.

Luki mengaku bantuan tersebut bersumber dari partisipasi anggota tim PKK Kabupaten Pacitan, mereka begitu peduli dengan kesehatan masyarakat, khususnya ancaman Virus Corona.

Meningkatnya angka pemudik yang nekat pulang dari berbagai kota di Indonesia termasuk dari zona merah, ia berpesan  kepada PKK Kecamatan untuk turut memantau pemudik sesuai protokol kesehatan.

“Pemudik berpotensi membawa Covid-19. Pergerakan PKK dari bawah, Dasa Wisma sudah ditegakkan maka semua akan tercover semuanya,” tegas Luki.

Peran nyata harus masif dan berkelanjutan oleh seluruh anggota PKK di Kabupaten Pacitan, seorang ibu harus tampil di depan memerangi ancaman Corona.(budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Akhir Belajar Di Rumah Menunggu Instruksi Pusat

Pemerintah Daerah baik provinsi maupun kabupaten belum bisa menentukan akhir proses belajar di rumah siswa dan siswi mulai Paud, TK, SD, SMP hingga SMA/SMK di Kabupaten Pacitan yang terpaksa dilakukan karena mewabahnya pandemi virus Corona.

“Yang pasti mereka tidak libur, kemarin rencananya anak-anak masuk tanggal 30, tapi diperpanjang lagi hingga tanggal 6,” terang Yusuf Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Pacitan hari ini (30/03).

Senada dengan Yusuf, Daryono Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dindik) Kabupaten Pacitan saat ini memantau kondisi terakhir pandemi Covid-19.

“Akan kita evaluasi kondisi terkini Covid-19 lalu akan disampaikan ke pusat. Selanjutnya keputusan akhir tetap wewenang pusat,” tambah Daryono.

Pemerintah juga berharap wali murid tetap memantau putra dan putri selama proses belajar di rumah ini, termasuk membatasi sepenuhnya kegiatan yang tidak perlu di luar rumah yang dapat membahayakan diri dan orang lain. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jenazah Dari Jakarta Bukan Pasien Covid-19

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan langsung memberikan konfirmasi terkait jenazah dari Jakarta yang viral pagi ini (27/03) di sosial media.

“Warga Pagerejo yang meninggal di Jakarta bukan sakit karena virus Corona,” tegas dr. Hendra Purwaka Plt. Dinkes Pacitan kepada Diskominfo Pacitan.

Namun demikian, ditengah bahaya pagebluk Covid-19, membuat protokol kesehatan diberlakukan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, lantaran jenazah tersebut meninggalnya di Jakarta yang masuk dalam zona merah Covid-19. “Ini adalah wujud antisipasi yang kita lakukan,” kata Dia.

Hendra juga meminta kepada masyarakat Kabupaten Pacitan untuk tidak panik dengan informasi tersebut, namun tetap waspada pada setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Termasuk tanggap terhadap pendatang atau keluarga yang mudik dengan mengkonfirmasi identitas kepada petugas. “budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dishub Disiplinkan Kebersihan Untuk Bebas Corona

Foto dari Budi Muhamad

Dunia dalam angka, dampak dari penyebaran virus corona telah memasukkan Indonesia khususnya Jawa Timur dalam kondisi darurat. Mengutip maklumat Gubernur, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan Wasi Prayitno pada 24/02/2020 mengatakan kondisi di Jawa Timur sangat serius, tentang Corona tidak lagi sebagai guyonan. “Maka kmai akan menyikapi keadaan ini juga dengan sangat serus,” tandasnya.

Langkah utama upaya pencegahan penyebaran Corona adalah penyediaan 8 wastafel pada lokasi strategis yang dilalui pendatang, seperti pintu masuk, ruang tunggu bis, titik penjemputan, tempat istirahat dan lainnya. Selain itu Wasi juga memberlakukan sistem satu pintu masuk dan keluar yang dijaga 1 staff, pengunjung wajib melakukan cuci tangan terlebih dahulu.

Kedepan pihaknya akan menyiapkan alat pengukur suhu pada pengunjung, jika diketahui ada pengunjung dengan kondisi suhu tinggi maka harus menjalani prosedur sesui SOP, yakni dibawa ke Posko Kesehatan terminal kemudian dikirim melalui 119 ke Rumah Sakit setempat.

“Jauh sebelum ini kami melakukan sterelisasi desinfektan diarea terminal dan dalam bus,” tutur Wasi. Kegiatan tersebut dilakukan bersama Dinas Kesehatan, Polres, pihak terminal, dan disaksikan Wakil Bupati Pacitan. Wasi menjelaskan sterelisasi akan dilakukan secara periodik 3 hari sekali.

Data statistic di terminal tipe A Pacitan mulai 1-23 Maret 2020 adalah  1.647 bus datang dengan 9.381 penumpang dan 1.578 bus berangkat dengan 7.786 penumpang. Hal ini lantas menjadi tema bisik-bisik tentang Lockdown. Wasi menjelaskan Pacitan mempunyai 5 titik perbatasan Sudimoro, Gemaharjo, Belah, Jeruk, Cemeng untuk keputusan Border Screening hingga Lockdown bukan tupoksi Dishub. Hal tersebut masuk dalam ranah keamanan, secara keseluruhan melibatkan Polisi, Tentara, Pemerinthan Wilayah, Dishub, Satpol PP, Dinkes dan lainnya.

“Dishub proporsional saja. Kita sudah melakukan rapat dengan Kasatpel Terminal Tipe A Pacitan, Kepala UPT Pelabuhan dan mendapat arahan dari Asisten II Pemerintah Kabupaten Pacitan,” tandas Wasi. Juga melakukan pertemuan dengan pihak Unit Pelaksana Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor (UPP KB), hal ini sebagai tindakan waspada jika ada mobil datang dari luar kota seperti Surabaya yang kemungkinan besar terpapar Virus Corona.

Perangi Virus Corona Melalui DD

Foto : Budi Muhamad

2380 warga Desa Tinatar, Punung khawatir atas merebaknya Corona Virus yang dapat menimbulkan penyakit Covid-19. Menyikapi hal itu Kades setempat, Himo Wahyudi bersama perangkatnya melakukan rapat terbatas melalui grup WhatsApp untuk membuat ruang sterilisasi pintu masuk utama ke desa tersebut. “Sore ini langsung bisa digunakan,” ujarnya melalui sambungan telepon kepada DiskominfoPacitan (26/03).

Hal ini bukan tindakan berlebihan, lantaran sebagian warga Tinatar kata Himo banyak yang merantau ke luar kota bahkan Malaysia. Sering terdengar masyarakat ketakutan ketika keluarga atau kerabat pulang. “Dengan fasilitas ini masyarakat sedikit lebih lega. Minimal setiap orang yang masuk sudah steril, dan sudah melakukan SOP pencegahan penyebaran corona dengan benar,” kata Dia.

Ia sadar, inisiatif yang langsung didukung perangkat dan masyarakat bukan penyelesaian akhir atas Corona Virus, namun langkah ini begitu berarti untuk pencegahan dan menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat. Para relawan yang berjaga di Pintu Masuk Desa yang kini mulai beroperasi masih resmi sebagai bentuk dukungan moril tanpa upah.

“Keamanan petugas tetap kami prioritaskan dengan peralatan seadanya. Seperti masker, kami hanya memesan dari penjahit sekitar yang kami dobel, dan mereka dilarang menyentuh apa saja selama bertugas, didukung kipas angin yang menyala 24 jam untuk mengarahkan angin ke satu titik, tempat duduk juga kami beri jarak dari lokasi penyemprotan,” ungkap Dia gamblang.

Himo mengaku, terdapat 4 pintu masuk ke Desa Tinatar, namun karena banyaknya keterbatasan peralatan pihaknya memilih pintu utama yang dijaga, ratusan kendaraan roda dua dan empat keluar masuk kini sedikit terkendali.

Tugas lain yang dipikirkan Himo saat ini adalah legalitas Dana Desa untuk memerangi Corona Virus, jika regulasi telah terbit para relawan yang sift tetap akan mendapatkan perhatian. “Penyediaan fasilitas dan penjagaan hingga kini resmi sukarela masyarakat kami,” tambahnya.

Sementara Diannita Agustinawati Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Pacitan disambungan terpisah menegaskan, Dana Desa dapat digunakan untuk gerakan pencegahan penularan Virus Corona, sesuai dengan Surat Edaran Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Nomor 8 Tahun 2020.

Langkah tersebut juga dilakukan desa lain seperti Desa Hadiwarno, Ngadirojo dan Desa Sidomulyo, Klesem, Kebonagung  dan desa lain yang telah mendapatkan edukasi di Destana dengan bentuk  berbeda. (budi/riyanto/wira/Diskominfopacitan).

Hari Ini Seluruh Lokasi Wisata Resmi Ditutup

Mulai Senin 23 Maret 2020, seluruh destinasi wisata di Kabupaten Pacitan resmi ditutup sementara waktu, hal tersebut sebagai langkah waspada terhadap pandemi Virus Corona yang dapat mengakibatkan Covid-19.

“Penutupan juga dibarengi dengan penutupan hotel, homestay, rumah makan yang berada di lokasi wisata,” ujar T. Andi Faliandra (23/03/2020) melalui sambungan telepon kepada Diskominfo Pacitan.

Keputusan ini sesuai dengan surat edaran Bupati Pacitan yang selanjutnya dilakukan penyemprotan cairan desinfektan di tempat wisata sebagai langkah sterilisasi seluruh objek wisata di kabupaten Pacitan bersama masyarakat dan dunia usaha.

Usai penutupan sepekan tersebut Disparpora Pacitan akan kembali mengkaji kondisi terkini penyebaran pandemi Virus Corona. Jika masih tidak memungkinkan, dipastikan penutupan akan kembali dilakukan hingga kondisi benar-benar aman. “Disparpora melihat kepentingan yang lebih luas,” lanjut Andi.

Pelaku UMKM yang menggantungkan diri terhadap wisatawan oleh Disparpora Pacitan sementara waktu untuk fokus ke sektor perdagangan lain, hingga kondisi kembali stabil seperti sedia kala. “Mereka tidak protes lantaran sosialisasi terhadap kemungkinan penutupan telah disampaikan jauh-jauh hari,” pungkas Andi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jamin Ketersediaan Bahan Pokok dan Keamanan

Seorang pedagang ikan di komplek ikan pasar Arjowinangun Pacitan langsung melapor kepada rombongan Satgas Penanganan Covid-19 yang berkesempatan meninjau pasar dan suwalayan pagi ini (21/03).

Pedagang itu mengaku ikan dagangannya sering hilang, membuat ia terus merugi. Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto yang ikut serta dalam kegiatan tersebut langsung mencatat laporan tersebut.

Pihaknya secepatnya akan melakukan tindakan guna menjamin keamanan utamanya di pasar, termasuk gelar operasi sesuai jam pencurian. “Termasuk kita akan upayakan pengadaan kamera sisi tv sehingga semua aktivitas dapat terekam,” kata Dia.

Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan yang kali ini dinahkodai Wabup Yudi Sumbogo memastikan ketersediaan pangan dan kestabilan harga. Beberapa bahan pokok yang naik seperti gula secepatnya akan disikapi sehingga tidak merugikan dan meresahkan masyarakat. “Termasuk keamanan harus terjamin,” tambah Sumbogo. (Budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Siaga Covid-19 PSC dan BPBD Pantau Keramaian

Public Safety Center (PSC) bersama BPBD Pacitan melaksanakan pengecekan suhu tubuh sebagai deteksi awal virus Covid-19 di tempat keramaian.

Salah satunya di kegiatan hajatan yang berlokasi di Dusun Krajan, Mangunharjo, Arjosari, Hari ini (21/03).

Masyarakat dilokasi tersebut oleh Pemdes setempat juga diwajibkan menjaga jarak antar individu dan melaksanakan cuci tangan sebelum memasuki lokasi maupun keluar dari lokasi acara. (DiskominfoPacitan).

Siaga Covid-19 dan Ramadhan Hindari Timbun dan Borong Kebutuhan

Status darurat Covid-19 di Indonesia oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diperpanjang waktunya sampai 29 Mei 2020. Keputusan tersebut bakal berdampak langsung terhadap berbagai hal penting dan mendasar.

Seperti masalah ketersediaan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) berskala nasional maupun di wilayah-wilayah jika tidak disikapi serius.

Lutfi Azza Azizah Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Perindag) Pacitan bersyukur, lantaran sampai saat ini seluruh kebutuhan bahan pokok di Kabupaten Pacitan masih tercukupi.

Namun demikian lamanya status darurat membuat pemerintah melakukan upaya-upaya penting, sesuai dengan surat edaran yang ditandatangani Sekda Pacitan, Lutfi menghimbau masyarakat dan pedagang untuk tidak melakukan penimbunan bahan pokok dan penting.

“Kami Instruksikan kepada masyarakat, pedagang, pemasok dan distributor untuk tidak melakukan penimbunan,” ujarnya gamblang, kemarin (18/03). Ini tidak berlebihan jika mengingat penimbunan niscaya merugikan semua pihak dan pemerintah.

Larangan selanjutnya adalah pedagang untuk tidak membandrol dagangannya di atas harga yang ditentukan pemerintah. Begitu juga tidak melayani pembeli yang memborong barang dagangan.

Menghadapi bulan puasa dan hari raya idul fitri. Potensi kelangkaan bahan pokok juga menjadi perhatian selanjutnya pemerintah. Namun Lutfi menegaskan rantai pasok bahan pokok adalah dari pusat.

Dipastikan, sesuai perhitungan segala kebutuhan dalam rangka menghadapi wabah dan hari besar umat muslim dapat diatasi. “Selama tidak ada penimbunan dan Money Buying,” tambah Lutfi.

Kapolres Pacitan, AKBP Didik Hariyanto dikesempatan terpisah menghimbau masyarakat dan pedagang mematuhi segala peraturan yang berlaku yakni Pasal 105, 106 dan 107 UU Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.

“Apabila itu terjadi ya mohon maaf dengan sangat, pasti nanti peraturan dan ketentuan kita tegakkan” kata Didik tegas.

Namun demikian langkah preventif menjadi yang utama bagi Didik, pembentukan satgas pangan yang diawaki Reskrim dan intel akan terus memantau keberadaan rantai pasokan bahan pokok di Pacitan. Termasuk pembentukan operasi ketupat jelang ramadan dan hari raya idul fitri. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tes Suhu Karyawan Dan Tamu

Mulai hari ini (19/03), Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pacitan melakukan pengetesan suhu badan kepada seluruh karyawan maupun tamu yang akan memasuki lingkungan Pendapa. Hal tersebut sebagai upaya siaga atas mewabahnya Covid-19. (DiskominfoPacitan)

Pacitan mengeluarkan surat edaran tentang peningkatan Kewaspadaan Terhadap Corona Virus Disease (Covid-19)

Memperhatikan perkembangan terkait virus Corona (Covid-19) serta untuk meminimalkan penyebarannya maka Pemerintah Kabupaten Pacitan mengeluarkan surat edaran tentang peningkatan Kewaspadaan Terhadap Corona Virus Disease (Covid-19) di Kabupaten Pacitan.

Berdasar surat Edaran nomor: 443/066/408.21/2020, dihimbau untuk menjadi perhatian bersama beberapa hal sebagai berikut:

1. Menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS) salah satunya rajin cuci tangan dengan sabun

2. Menghindari kerumunan masa dan apabila terpaksa untuk menggunakan masker

3. Istirahat yang cukup dan konsumsi makanan atau minuman bergizi serta meningkatkan daya tahan tubuh

4. Mengurangi jabat tangan / sentuhan fisik apapun yang tidak diperlukan.

5. Mengurangi kegiatan yang dilakukan dengan pengumpulan masa dalam jumlah banyak.

6. Sesegera mungkin mendatangi fasilitas kesehatan apabila sakit dengan gejala flu, batuk, demam disertai dengan sesak nafas.

7. PNS/Kepala Desa dan perangkatnya tetap masuk kerja sesuai seperti biasa

8. Absensi elektronik ditiadakan mulai tanggal 17 Maret 2020 sampai diaktifkan kembali dan diganti dengan absensi manual.

9. Siswa agar melakukan kegiatan belajar mengajar dirumah selama 14 hari

Sehubungan dengan hal itu diharapkan seluruh masyarakat Pacitan untuk mematuhi dan menjalankan himbauan tersebut.

Tanpa Masker; UNBK Aman

Hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kabupaten Pacitan berjalan normal tanpa kendala berarti, meski saat ini Covid-19 tengah berkembang di Indonesia. Wakil Bupati (Wabup) Pacitan Yudi Sumbogo berkesempatan memantau pelaksanaan mengaku bersyukur tidak ada Absen karena sakit atau faktor lain.

Bersama dengan UPT Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Pacitan Pemda Pacitan menekankan sarana kebersihan seperti cuci tangan menjadi prioritas peserta UNBK. Disamping itu siswa dan siswi diminta terus menjaga kesehatan dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditambah pola makan.

“Masker diperuntukkan untuk orang sakit. Sehingga mencegah penyebaran penyakit,” kata Sumbogo soal ditanya awak media perihal peserta UNBK yang tidak memakai masker. Disatu sisi diketahui bersama ketersediaan masker lenyap dipasaran.

Sumbogo juga mengapresiasi berbagai kemandirian sekolah dalam mensukseskan UNBK di tahun sulit ini, termasuk hal teknis seperti listrik dan jaringan internet yang kerap kali mengganggu di luar seputaran kota. “Secara umum kondusif, tidak ada kendala yang berarti,” tegas Dia.

Masih di kesempatan yang sama, Yusuf Kepala UPT Dindik Provinsi Jawa Timur Wilayah Pacitan memastikan 3000 lebih peserta UNBK yang tersebar di sekolah-sekolah seluruhnya siap menghadapi UNBK yang akan berakhir hingga (19/03) mendatang. “Kita juga telah bekerjasama dengan PLN dan pihak pendukung lain,” tambah Yusuf. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tim Penilai Lomba Desa Kabupaten Masuk Desa Tremas

Lomba Desa Tingkat Kabupaten dan Evaluasi 10 Program Pokok PKK sementara ini tetap dilaksanakan di Kabupaten Pacitan, di tengah merebaknya Covid-19 di Indonesia. Hari ini (16/03) rombongan tim penilai dari kabupaten Pacitan melaksanakan rangkaian penilaian di Desa Tremas Kecamatan Arjosari.

Kegiatan rutin tahunan tersebut dilaksanakan pemerintah untuk mendorong desa sebagai ujung tombak Negara menjadi semakin maju dengan berbagai potensi yang dimiliki. Selain itu lomba desa ini juga berfungsi sebagai media evaluasi berbagai program yang lakukan.

“Termasuk pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas masyarakat, partisipasi masyarakat, penanggulangan kemiskinan dan swadaya gotong royong masyarakat di desa,” Kata Asisten Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat Mahmud pada sambutannya.

Pada kesempatan tersebut Mahmud juga mengingatkan bahwa kegiatan lomba desa ini juga bertepatan dengan Pilkada, diharapkan kegiatan dapat mengutamakan prinsip efisiensi dan objektivitas serta tidak bersifat ceremony belaka. “Sehingga tidak menjadi beban dan aktifitas masyarakat,” lanjutnya.

Pada kegiatan tersebut Mamud juga mengajak seluruh undangan untuk berdoa bersama, berharap Kabupaten Pacitan khususnya terbebas dari pageblug virus corona. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Cuaca Ekstrim; Wabup Minta Tingkatkan Waspada DB Dan Longsor

Saat ini cuaca ekstrem melanda Kabupaten Pacitan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan, hal itu dapat memicu berbagai ancaman, termasuk ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menyikapi hal tersebut Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo mengundang awak media Pacitan untuk duduk bersama membicarakan pagebluk tersebut, siang ini (13/03) di ruangnya lingkup Pemkab Pacitan. “Media harus terlibat dalam masalah ini,” kata Sumbogo.

Disamping itu Sumbogo juga telah meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan untuk memfokuskan peran RSUD dr. Darsono terhadap DBD, dan memaksimalkan peran petugas kesehatan hingga level bidan desa dan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk menghambat penyebaran Aedes Aegypti.

“Kita harus fokus meski angka belum tinggi,” lanjut Sumbogo yang meyakini DBD dapat diatasi dengan berbagai langkah dan kerjasama dengan semua pihak dengan upaya jemput bola.

Sementara itu, cuaca ekstrem juga berpotensi menghadirkan bencana, baik banjir dan tanah longsor. Termasuk yang menjadi perhatian Sumbogo adalah potensi longsor di sepanjang jalan Arjosari-Ponorogo.

Tragedi bencana akhir tahun 2017 menghancurkan sektor pariwisata Pacitan yang telah susah payah dibangun. Kini pariwisata kembali menggeliat, Sumbogo meminta seluruh pihak terkait tidak terkecuali cabang dinas Provinsi dan pusat untuk ekstra bekerja. “Saya harus tegas menyikapi ini,” Ujarnya.

Terpenting keterjaminan akses tersebut di akhir pekan untuk semakin dimaksimalkan, selain untuk memberikan pelayanan kepada wisatawan juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. “Infrastruktur pariwisata harus nyaman dan sesuai standar,” pungkas Sumbogo. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Akhirnya! Jembatan Gedangan, Borang dan Tremas kini bisa Digunakan

Warga Desa Gedangan, Kebondalem, Ngreco Kecamatan Tegalombo dan Ngile Kecamatan Tulakan hari ini wajahnya hinar binar dipenuhi rasa syukur, lantaran jembatang penghubung antar desa dan kecamatan secara resmi dapat digunakan. Setelah diresmikan oleh Wakil Bupati (Wabup) Pacitan Yudi Sumbogo. Hari ini  (12/03).

Tiga tahun lamanya jembatan yang berada di Dusun Kalilongan, Gedangan ini roboh akibat diterjang banjir bandang Oktober 2017 silam. Jika musim hujan masyarakat terpaksa harus memutar 5 kilometer menggunakan jembatan di Desa Kebondalem. “Jika kemarau kita bisa lewat sungai,” terang Eko Prayitno warga sekitar.

Ini bukan satu-satunya jembatan yang selesai rehabilitasi dan rekonstruksi, ada juga jembatan Borang di Desa Borang dan jembatan Tremas Di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari.

Erwin Widyatmoko Camat setempat di kesempatan itu mengaku, jembatan begitu dinanti masyarakat untuk menunjang mobilitas. Baik ekonomi, pendidikan dan kesehatan antar desa dengan kendaraan roda empat. “Ini juga menginspirasi kita akan pentingnya jembatan sebagai penghubung semua bidang,” kata Edwin.

BPBD Pacitan sebagai pelaksana rehabilitasi di tiga titik tersebut mengatakan masih ada 21 titik rehab dan rekon lain dengan total anggaran senilai Rp. 27 Miliar. Bersyukur di tahap ini pengerjaan dapat rampung tepat waktu sehingga tidak ada beban kepada masyarakat. “Targetnya harus jadi. Tidak boleh setengah-setengah,” kata Didik Alih Wibowo Kepala BPBD Pacitan di kesempatan yang sama.

Didik juga mengaku bangga dengan masyarakat, mereka tidak sungkan melibatkan diri dalam pembangunan jembatan Gedangan. Bahkan beberapa warga ikhlas merelakan tanah miliknya untuk pembangunan rehabilitasi jembatan ini.

Sementara itu dalam sambutannya di hadapan warga Kecamatan Tegalombo Wabup Sumbogo mengatakan tragedi banjir bandang 2017 cukup membuat lumpuh sektor perumahan dan umum Kabupaten Pacitan. Tiga tahun lalu banjir merendam 49 desa dan tanah longsor mengisolasi 99 desa di seluruh kecamatan di Pacitan.

Berbagai upaya dilakukan Pemda Pacitan dengan pemanfaatan program APBD serta meminta bantuan BNPB untuk mengatasi masa sulit tersebut. Akhirnya Jembatan Gedangan salah satu diantaranya bisa kelar dan bisa mendukung mobilitas warga. “Jembatan harus mendorong mobilitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Sumbogo.

Tidak lupa, untuk menjaga berbagai risiko daerah bantaran sungai Grindulu dan wilayah bukit, pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan penanaman rumput Vetiver (Akar Wangi) oleh Sumbogo dan segenap Pejabat yang mendampingi. “Akar Wangi bisa menahan longsor, erosi, korosi dan abrasi sedimen pada badan sungai,” tambah Sumbogo. (budi/mg/riyanto/wira/DsikominfoPacitan).

Johan Budi; Apresiasi Inovasi Dukcapil Pacitan

Kunjungan kerja Johan Budi Sapto Prabowo atau akrab Johan Budi ke Kabupaten Pacitan hari ini (11/03) menyoroti beberapa hal penting, diantaranya di Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pacitan tentang ketersediaan Blangko E KTP.

“Ternyata tidak ada masalah. Mereka malah menargetkan di akhir Maret ini sudah tidak ada lagi Suket (Surat Keterangan) ini adalah kabar gembira,” kata mantan Jubir Istana Kepresidenan tersebut kepada awak media yang mengikuti kegiatannya.

Mantan Wartawan berusia 54 tahun tersebut justru mengaku bangga dengan berbagai inovasi yang dilakukan Dukcapil Pacitan. Diantaranya adalah dilibatkannya PT. Pos untuk mengirim E KTP atau surat lain jika sudah jadi. Ia mengaku terobosan tersebut tidak pernah dilihatnya di wilayah lain.

Aspek penting yang akan diusung ke Jakarta kata Johan adalah masalah distribusi blangko, ia sependapat jika cukup provinsi yang mengambil blangko k Jakarta. “Masih untung jika di Jawa, jika di Papua bagaimana, makanya nanti kami coba akan rapatkan dengan Pak Mendagri” lanjut Dia.

Mantan Juru Bicara KPK tersebut juga mengapresiasi totalitas Dukcapil Pacitan dalam menghadapi Pilbup 23 September mendatang dengan tetap membuka pelayanan di hari pemilihan. Hal tersebut ia anggap penting mengingat beberapa hari sampai dengan hari pencoblosan pasti ada masyarakat yang baru menginjak tujuhbelas tahun.

Pada masa Reses di Pacitan ini Johan Budi juga akan melakukan pertemuan dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Bawaslu, KPU, BPN dan diakhiri dengan pertemuan dengan para Dalang Pacitan di Kecamatan Arjosari, Pacitan. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Berita Ekonomi Kabupaten Pacitan

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kabupaten Pacitan Bulan Februari 2020 Inflasi 0,17 Persen

Pada bulan Februari 2020 Kabupaten Pacitan mengalami inflasi sebesar 0,17 persen. Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,31 persen.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, semuanya mengalami inflasi. Kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan yaitu sebesar 0,61 persen, diikuti kelompok sandang yaitu sebesar 0,09 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yaitu sebesar 0,08 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar  yaitu sebesar 0,07 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen,  kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,02 persen, dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah ikan tongkol, bawang merah, batu bata, terong panjang, tahu mentah, minyak goreng, gula pasir, daging ayam kampung, bayam dan kelapa.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah cabai rawit, semen, pepaya, cabai merah, bawang putih, pisang, layur, tengiri, kangkung, lele, dan kacang tanah.

Laju inflasi tahun kalender (Desember 2019 – Februari 2020) Kabupaten Pacitan  sebesar 0,74 persen. Inflasi year-on-year ( Februari 2020 terhadap Februari 2019) Kabupaten Pacitan  sebesar  3,41  persen

*(StatistikDiskominfoPacitan)

Kethek Ogleng Resmi Kantongi Hak Cipta

Setelah melalui perjuangan panjang, seni tari Kethek Ogleng resmi mengantongi hak cipta. Karya seni hasil cipta Sukiman seniman asal Desa Tokawi Kecamatan Nawangan itu, telah sah terdaftar dikementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan nomor pencatatan 090997.

Dalam selembar piagam yang ditandatangani Kemenkum HAM RI Dirjen Kekayaan Intelektual U.b. Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Kemenkum HAM RI, tertera pemohon atas nama Sukiman alamat Dusun Jelok RT 01 RW 11 Desa Tokawi Kecamatan Nawangan. Pemegang hak cipta tertulis atas nama Sukiman, jenis cipta adalah seni tari dengan judul ciptaan Kethek Ogleng. “Kula bingah sanget, mugi kethek ogleng saget ngrembaka turun temurun (saya sangat senang sekali, semoga kethek ogleng dapat berkembang sampai anak cucu)” ungkap Sukiman, saat menerima piagam hak cipta yang diserahkan Bupati Pacitan, Senin (09/03/20). Bupati Indartato juga merasa bangga karena karya seni kethek ogleng sudah memiliki hak cipta. Namun demikian, yang terpenting adalah melestarikan karya seni tersebut. Bupati berharap, tari kethek ogleng nantinya masuk dalam muatan lokal pendidikan. “Kita semua punya kewajiban untuk melestarikan kesenian asli Pacitan” pinta bupati.

Tari kethek ogleng merupakan karya asli seniman Pacitan asal Desa Tokawi Kecamatan Nawangan. Tarian yang terinspirasi dari tingkah polah kera ini menjadi sajian indah ketika dipadu dengan gamelan. Tari kethek ogleng pertama kali diumumkan atau ditampilkan ke publik sejak tahun 1963 di daerah asalnya Desa Tokawi. (HumasPacitan/DiskominfoPacitan)

Segera Ada Penanganan Fasum

Bupati meninjau SDN Gondang 1 Kecamatan Nawangan yang terdampak longsor, Senin (09/03/20)

Bupati Pacitan Indartato menginginkan pemulihan terhadap Fasilitas umum yang terdampak bencana segera terealisasi. Pasalnya, selain fungsinya yang vital beberapa fasilitas umum yang rusak seperti sekolah kondisinya membahayakan. “Kita tangani dengan memanfaatkan anggaran bencana dari APBD” kata bupati saat meninjau SDN Gondang 1 Kecamatan Nawangan yang terdampak longsor, Senin (09/03/20). SDN Gondang 1 mengalami longsor yang dapat mengancam bangunan gedung. Longsor sepanjang 35 meter dengan ketinggian sekitar 7 meter itu menyebakan pagar halaman belakang ambruk serta bangunan ruang yang berdekatan retak.

Melihat kondisi longsor yang membahayakan keselamatan, bupati Indartato minta kepala sekolah untuk mengamankan area dari jangkauan anak anak. Bahkan, untuk ruangan UKS yang berdekatan dengan longsoran untuk tidak digunakan terlebih dahulu. “Saya minta ada penanganan segera karena SDN Gondang 1 sebentar lagi akan menghadapi penilaian sekolah Adiwiyata” ungkapnya lagi.

Guna mengamankan gedung sekolah dengan jumlah siswa 105 anak itu akan dibangun talud. Demikian pula dengan saluran air akan ditata agar tidak memicu longsor kembali. (HumasPacitan/DiskominfoPacitan)

PHBS dan Sholawat Tibbil Qulub Cara Ampuh Tangkal Covid-19

Ratusan masyarakat Kabupaten Pacitan pagi ini kompak melafalkan sholawat Tibbil Qulub sebelum melakukan senam bersama, dalam Kampanye Pacitan Sehat Cegah Covid-19 melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Alun-alun Pacitan (08/03).

Ditinjau dari penelitian dan data, Covid-19 yang merebak di 62 negara di dunia akhir-akhir ini tidak lebih berbahaya ketimbang virus lain seperti Sindrom Pernafasan Akut Berat (SARS). Pasalnya lebih dari 94 persen penderita umumnya berhasil sembuh.

Justru yang memperkeruh keadaan dan penting untuk segera disikapi adalah berita hoax, masyarakat harus paham dan dewasa terhadap Covid-19 supaya hoax tidak merajalela. “Pasien meninggal rata-rata karena panik,” kata Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto yang hadir dalam kegiatan itu.

Senada dengan Kapolres, Dandim 0801 Pacitan, Letkol. Nuri Wahyudi mengatakan masyarakat harus tetap tenang tanpa mengindahkan larangan pemerintah.”Intinya Covid-19 ini tidak seganas yang disampaikan berita,” ujar mantan Paspampres di era SBY tersebut.

Bupati Pacitan Indartato senang melihat semangat peserta senam, meski alun-alun sempat diguyur hujan, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk dapat hidup sehat.

Pak In sapaan Bupati juga berpesan supaya materi yang disampaikan Panitia tersebut agar nanti diaplikasikan dalam kehidupan dan disampaikan kepada keluarga dan lingkungan masing-masing. “Semoga virus ini tidak sampai di Pacitan. (Budi/timDiskominfoPacitan).

Kicau Burung Ikut Serta Memeriahkan Hajatan 275

Burung kicau komunitas terbaik Jatim, Jateng dan DIY andil meriahkan gelaran Hajatan ke-275 tahun, dalam wadah Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 3 Pacitan yang dilaksanakan kemarin (08/03) di Alun-alun Pacitan.

Bupati Pacitan Indartato berkesempatan menyaksikan acara tersebut didampingi Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto dan Komandan Kodim 0801 Pacitan Nuri Wahyudi. Pada kesempatan tersebut Pak In juga berkesempatan “menggantakan” burung berjenis Kacer atau Kucica Kampung (Oriental magpie-robin), hal tersebut sontak membuat lomba tersebut semakin meriah.

Pak In diakhir kegiatan juga berkesempatan menyerahkan hadiah piala kepada pemenang dalam kontes tersebut. (DiskominfoPacitan).

Kontes Dan Pameran Bonsai

Bupati Pacitan Indartato secara resmi membuka Pameran Bonsai bertajuk “Pacitan Ngremboko”. Kontes dan pameran tersebut rencananya akan dilaksanakan selama sepekan ke depan, hingga (14/03). Acara ini masih dalam rangkaian Hajatan ke 275 yang digagas oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Pacitan. (DiskominfoPacitan).

Soal CPNS; SKB Tunggu Jadwal BKN

Tahap pertama Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Pacitan usai dilaksanakan akhir Februari lalu. Peserta yang berhasil lolos SKD tersebut nantinya akan masuk ke tahapan selanjutnya pada bulan ini.

“Kapan tanggalnya masih belum ada informasi dari pemerintah pusat (Badan Kepegawaian Negara/BKN),” ujar Supomo, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pacitan, kemarin (04/02/2020) kepada Diskominfo Pacitan.

Mekanism tahapan kedua atau Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) dikabarkan tidak jauh berbeda dari tahapan pertama. Namun sesuai namanya, seleksi lebih spesifik pada teknis bidang yang dilamar. Mengenai lokasi tes di tahap kedua tersebut juga masih menunggu informasi dari BKN.

Dari sekian formasi yang dibuka di Kabupaten Pacitan, 35 persen diantaranya diisi oleh peserta dari luar kota Pacitan, sisanya 65 persen adalah pelamar dari putra daerah. Dari hasil SKD akan diambil 3 peserta untuk mengikuti SKB. “Dari sekian formasi akan diambil 3 untuk mengikuti SKB,” tambah Supomo.

Panitia kabupaten kembali menegaskan bahwa seluruh mekanisme penerimaan CPNS adalah mutlak wewenang pemerintah pusat, panitia kabupaten hanya memfasilitasi segala sesuatu yang bersifat persaratan. “Kami hanya sampai diluar ruangan,” pungkas Supomo. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tidak Mustahil; Coronavirus Bisa Saja Serang Pacitan

Bupati Pacitan Indartato melihat langsung ruang isolasi berstandar hingga ambilan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Darsono

Covid-19 atau Coronavirus sejak awal tahun 2020 bak artis yang menjadi perbincangan utama ribuan media, namun juga membikin was-was warga dunia tanpa terkecuali masyarakat Indonesia termasuk Kabupaten Pacitan.

Sebenarnya jika dilihat secara geografis Kabupaten Pacitan jauh dari Provinsi Wuhan, China tempat asal virus yang menyerang saluran pernafasan mirip Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pertama kali ditemukan pada Juli 2003 silam.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan sejak dilaporkannya 2 pasien positif Covid-19 di Indonesia nantinya menjalar ke Pacitan. Skenario terburuk itulah menjadi modal, Mengingat kota berjuluk Paradise Of Java ini adalah salah satu gerbang wisata di Jawa Timur.

Turis asing biasa lalu lalang dan bersinggungan langsung dengan pelaku wisata dan masyarakat, disisi lain banyak warga masyarakat Pacitan yang merantau dikota besar atau sebaliknya.

Untuk itu sesuai perintah, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Darsono mengambil langkah cepat meski hal tersebut teramat jauh kemungkinannya, dengan menyiapkan segala piranti manajemen perawatan dan pengobatan Covid-19 berupa ruang isolasi berstandar hingga ambilan.

Bupati Pacitan Indartato usai melihat langsung ruang isolasi tersebut mengatakan, kesiapan rumah sakit berplat merah ini nantinya juga bakal diperkuat kesiapan seluruh Puskesmas dan puskesmas pembantu di semua wilayah sesuai dengan pemerintah pusat.

“Pertama kita menyiapkan rujukan di rumah sakit yang saat ini kita tinjau bersama kapolres dan dandim. Antisipasi supaya tidak ada coronavirus di Pacitan,” terang Bupati kemarin (04/03/2020). Tidak cukup, selanjutnya Pemda akan menerbitkan Instruksi Bupati berkaitan pencegahan Covid-19 yang melibatkan semua komponen termasuk kepala desa dan camat.

Sementara di kesempatan berbeda, T. Andi Faliandra Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan menyampaikan, sesuai mekanisme pemeriksaan terhadap wisatawan asing dapat dilakukan di titik masuk baik di Bandara ataupun di pelabuhan. “Pemeriksaan tidak bisa dilakukan di lokasi wisata,” kata Andi melalui sambungan telepon (05/03/2020).

Beruntung data menunjukan jarang ada wisatawan yang berasal dari negeri tirai bambu dan sekitar, umumnya wisatawan datang ke Pacitan dari Benua Eropa dan Australia yang memilih pantai Pancer Door dan Watukarung.

Disparpora jauh-jauh hari ternyata telah melakukan berbagai himbauan kepada para pelaku wisata di Pacitan untuk siaga dan waspada berbagai kemungkinan tanpa mengurangi pelayanan dan kenyamanan. “Kita sudah siap dari awal, tapi kita tidak bikin heboh,” pungkas Andi.

Sejak dini, pemerintah mewanti-wanti masyarakat Kabupaten Pacitan untuk senantiasa menjaga kebersihan dan hidup sehat untuk menghadapi pagebluk ini. Termasuk hindari mengunggah informasi hoax di sosmed yang justru dapat membuat salah kaprah masyarakat dalam menyikapi Covid-19. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Gerak Cepat Atasi Bencana

Pemerintah sangat memahami keresahan warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai dan anak sungai Grindulu hingga hulu di wilayah proyek pengerjaan Waduk Tukul Desa Karanggede, Arjosari. Curah hujan meningkat membuat air sungai acap kali naik ke pekarangan warga.

Termasuk mengakibatkan erosi ratusan meter di Dusun Ngawen 1, Desa Semanten dan mengancam setidaknya 4 rumah warga dan membuat roboh Jembatan Trobakal di Desa Karangrejo, Arjosari. Apalagi Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan adanya peningkatan curah hujan sepekan ke depan.

Berbagai masukan yang disampaikan masyarakat begitu penting bagi Bupati Pacitan Indartato yang melihat langsung kondisi masyarakat  terdampak. Hari ini (04/02/2020) di Desa Semanten dan Desa Tambakrejo Kecamatan Pacitan. Kemudian di belakang pasar Arjosari, Desa Nggayuhan, Karangrejo dan Karanggede Kecamatan Arjosari.

Kepada masyarakat Pak In, sapaan Bupati mengatakan bahwa secepatnya kondisi yang membuat warga was-was tersebut dapat segera diatasi. Namun disisi lain masalah sungai bukanlah kewenangan Pemda tetapi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

Beruntung BBWS telah menggelar kaji cepat kondisi erosi di Desa Manten, dan gambar yang diambil oleh tim sudah mendapatkan verifikasi pemerintah pusat, kemungkinan bronjong yang dibutuhkan sepanjang 400 meter akan segera dipasang. “Dana bisa diambil dengan mekanisme, kita tunggu saja,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang (PUPR) Pacitan di kesempatan yang sama.

Pak In dihadapan warga juga menyampaikan  akan terus melakukan berbagai upaya sehingga masalah semua bencana segera ditangani. Karena dirinya mengaku khawatir tatkala turun hujan dengan intensitas tinggi.

Upaya pengalihan aliran sungai juga menjadi perhatian dan harus segera dilakukan pihak terkait, ditambah mengupayakan pembangunan jembatan Trobakal. “Daerah pomo duwe duit lan kewenangan wes tak garap dewe,” ungkap Dia.

Hingga artikel ini ditulis, rombongan Bupati melanjutkan kegiatan di Kecamatan Bandar, melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak longsor di Desa Bangunsari, Petungsinarang, Bandar dan meninjau jembatan ambrol di Desa Jeruk. Pada kesempatan tersebut Pak In juga berkesempatan memberikan bantuan berupa paket sembako, makanan siap saji, terpal dan selimut kepada para korban. (Budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tenang dan Waspada; Curah Hujan Meningkat Sepekan Ke Depan

Prakiraan cuaca yang dirilis Badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) menunjukan peningkatan intensitas hujan khususnya di Kabupaten Pacitan selama sepekan ke depan. Hal tersebut berdampak langsung seperti di lokasi Waduk Tukul di Desa Karanggede dan Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari yang membuat jembatan Trobakal putus. “Bersyukur, air tidak sampai masuk ke rumah,” kata Putatmo Sukandar Camat setempat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Didik Alih Wibowo menyampaikan peningkatan volume air di sungai grindulu seperti video yang viral di sosmed kemarin (02/03/2020) tersebut masih dalam kondisi normal dan tidak perlu disikapi berlebihan. “Namun kami bersama seluruh unsur relawan tetap waspada,” ujarnya (03/03/2020) kepada Diskominfo Pacitan.

Disamping itu BPBD telah melakukan berbagai langkah preventif, salah satunya menyiagakan tim BPBD, dilanjutkan menyiagakan seluruh relawan baik dari unsur pemerintah, TNI, Polri dimulai dengan memberikan pemahaman terhadap update informasi.

Dilanjutkan pergerakan seluruh relawan menuju pos-pos penting guna menambah kesiapsiagaan jika intensitas hujan terus meningkat. Belum cukup sampai disitu, BPBD yang telah terafiliasi dengan tim siaga banjir dan longsor di kecamatan melakukan komunikasi guna memantau seluruh perkembangan yang ada di Kabupaten Pacitan. “Jika dibutuhkan kapanpun seluruh relawan siap diaktifkan,” tambah Didik.

Menyikapi berbagai informasi yang beredar di sosmed, masyarakat diharap untuk tetap tenang meski kewaspadaan perlu tetap ditingkatkan. Pemerintah akan berupaya maksimal melayani masyarakat, utamanya akses masyarakat akan menjadi prioritas, karena Negara harus hadir di semua kondisi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Rock Reunion 2020 Lengkapi Hajatan 275

Tidak ada rasa canggung saat Sekretaris Daerah (Sekda) Heru Wiwoho diminta naik keatas panggung, menyumbangkan tembang dalam acara Rock Reunion Pacitan 2020 rangkaian Hajatan 275, kemarin (29/02/2020) di Alun-alun Kabupaten Pacitan.

Sesaat sebelumnya, Isteri Wabup Yudi Sumbogo,  Ninik Setyorini juga diminta memeriahkan acara tersebut dengan tembang terbaik Niki Astria yang pernah tenar di tahun 90an ‘Biar Semua Hilang’.

Bertambah hangat karena di kesempatan Ngerock bersama tersebut para pejabat menyanyikan lagu Jamrud ‘Selamat Ulang Tahun’. Dilanjutkan tembang God Bless ‘Rumah Kita’ atas usulan Kepala Dishub Pacitan, Wasi Prayitno.

Sebelumnya Sekda dalam sambutannya mewakili Bupati Pacitan Indartato menyampaikan kegiatan non fisik dirasa sangat perlu diperhatikan disamping kegiatan fisik yang terus dilaksanakan. “Ini perlu ditingkatkan di masa-masa yang akan datang,” ujar Dia.

Heru juga berharap, semangat para rocker senior Pacitan dapat menggugah generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kreativitas dalam bidang masing-masing. “Semua untuk kemajuan Kabupaten Pacitan,” pungkasnya. (budi/web/zaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Ayo!Tanam Rumput Akar Wangi untuk Cegah Longsor, Abrasi dan Erosi

Salah satu awak media merasa pesimis dengan penanaman rumput Vetiver (Akar Wangi/Lara Setu) di tepian sungai Grindulu pagi ini, (28/02/2020). “Pohon saja tumbang dan hanyut, apa lagi hanya rumput,” gumamnya, yang akhirnya menjadi perbincangan kecil para awak media sebelum wawancara.

Tidak disangka, rumput tersebut memiliki akar yang kuat, akarnya dapat menjalar dan menghujam tanah sedalam Lima meter di usianya 10 bulan, bisa menghambat tanah yang memiliki potensi longsor dan abrasi.

Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo Hadir dalam kegiatan ini, didampingi Dandim 0801 Letkol Inf. Nuri Wahyudi dan Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto S.I.K memulai kegiatan dengan apel bersama dan dilanjutkan penanaman rumput.

“Semoga mampu memberi motivasi dan dorongan serta pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat terhadap kelestarian alam dan lingkungannya, selanjutnya harus ditindaklanjuti di kecamatan-kecamatan,” harap Yudi.

Kondisi geografis Kabupaten Pacitan yang mempunyai potensi besar terjadinya tanah longsor, abrasi dan erosi, termasuk disepanjang tepian sungai grindulu dan sungai lain, pemerintah dan masyarakat harus bersatu mencegah dan meminimalisir potensi tersebut melalui program Nasional penanaman Vetiver. (budi/amjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Saatnya Kompak Hadapi Demam Berdarah

Sepertinya urusan kebersihan rumah dan lingkungan ogah dikesampingkan, apalagi di bulan Januari dan Februari dengan musim seperti ini, Aedes Aegypti si pembawa Dengue merajalela.

Jika dibiarkan keadaan dapat berubah menjadi runyam, ditandai naiknya status Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti pada 2015 silam yang berisiko mengancam korban jiwa.

Jangan biarkan air menggenang dimanapun, itu bisa menjadi media nyamuk berkembangbiak, dimulai dari telur dan tak lama menjadi jentik. Sementara di baju yang menggantung, vas bunga atau dibalik pigura juga harus diperhatikan, karena tempat tersebut persembunyian yang nyaman para indukan.

Sekali lagi tak ada cara paling ampuh kecuali bahu membahu melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui Menguras, Menutup dan Mengubur (3M) untuk menghadapi siklus tahunan Demam Berdarah Dengue (DBD) ini.

Seperti yang dilakukan masyarakat Temon, Ploso, Pacitan sore ini (27/02/2020). “Kita juga akan melakukan PSN di sekolah-sekolah,” kata Bupati Pacitan Indartato yang berkesempatan hadir di acara itu.

Sebagaimana rilis akun resmi Pemkab Pacitan bersama Dr. Eko Budiono, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan bahwa Fogging bukan cara terbaik membasmi nyamuk demam berdarah. Karena hanya akan membuat nyamuk menjadi resisten (Kebal), bahkan pada obat nyamuk sekalipun.

Keadaan tersebut harus dimengerti dan dipahami  seluruh komponen Masyarakat Kabupaten Pacitan sebelum keadaan berubah. Hanya karena kebersihan rumah dan lingkungan yang acap kali dikesampingkan. “Menjaga kebersihan tidak harus dilakukan saat menunggu banyak kasus DBD, tapi setiap waktu,” pungkas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tim Terbaik Se Eks Karisidenan Madiun, Wonogiri Dan Gunungkidul Rebutan Piala Bupati

Sebanyak 33 tim voli Se Eks Karisidenan Madiun, Wonogiri dan Gunungkidul akan berlaga merebutkan piala bergilir Bupati Pacitan Indartato di Turnamen Bola Voli OSIS XX SMAN 1 Pacitan, event tahunan tersebut merupakan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pacitan (Hajatan) Ke-275.

Andra Al Kahfi Nasution, Ketua Penyelenggara menyampaikan Turnamen Bola Voli OSIS akan digelar di Gor Pacitan mulai hari ini (26-29/02/2020). Selain piala bergilir, panitia juga menyiapkan uang pembinaan dengan total sebesar 16 juta rupiah.

“Kegiatan ini penting dilakukan, sebagai upaya kreatif kami dalam pembentukan karakter individu pada bidangnya masing-masing,” kata Andra.

Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo yang berkesempatan hadir dan membuka secara resmi kegiatan tersebut memahami olahraga bola voli sangat digemari semua kalangan di Kabupaten Pacitan. Tak jarang dari kegandrungan tersebut membuahkan berbagai piala bergengsi baik di kancah regional dan nasional.

“Kegiatan ini harus terus dilaksanakan untuk menemukan bibit unggul baru atlet masa depan yang akan mengharumkan Kabupaten Pacitan,” kata Yudi. Selain itu olahraga juga sebagai sarana silaturahmi antar masyarakat dan pemerintah dan memperkokoh persatuan dan kesatuan. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tetap Antusias Lihat Langsung Pandu Swarga

Masalah pagelaran wayang kulit, antusias masyarakat kabupaten Pacitan tidak tergadaikan dengan rintik hujan yang berubah menjadi lebat. Malahan, terdengar riuh masyarakat bergumam, deras hujan adalah berkah Tuhan untuk Pacitan yang telah berusia 275 tahun

Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo menyerahkan tokoh wayang Werkudoro kepada Ki Dalang Seno Nugroho, pertanda pagelaran wayang kulit semalam penuh dimulai, beruntung hujan pun berangsur-angsur reda.

Malam ini, disaksikan semangat nguri-uri budaya jawa, Ki Dalang dengan suluk-suluknya memilih lakon Pandu Swarga.

Sebelumnya, Wabup bersama pejabat lintas vertikal dan Pemda Pacitan berkesempatan menyerahkan piala Juara 1 Bola Voli FKKD Kepada Kecamatan Pringkuku, juara 2 Kecamatan Pacitan, juara 3 Kecamatan Kebonagung dan Ngadirojo. Diserahkan juga hasil Permainan Hadang, juara 1 kembali diboyong Kecamatan Pringkuku, juara 2 Desa Purworejo dan juara 3 oleh bersama Kecamatan Bandar dan Desa Widoro. (TimDiskominfoPacitan).

Festival Karawitan Pelajar Keren Tapi Dindik Harus Berinovasi

Di lubuk jiwa masyarakat Kabupaten Pacitan, tersimpan ragam kebudayaan yang terus dijaga dan dilestarikan. Meski diluar sana arus deras budaya asing mengancam sendi-sendi generasi muda. Bukannya alergi dengan kebudayaan lain, tapi budaya yang kelihatannya indah itu tidak relevan jika diaplikasikan masyarakat ketimuran, gara-gara minimnya norma dan nilai sosial.

Saat ini generasi muda begitu melek informasi, berpotensi besar menjadi pelaku aktif budaya asing, mereka harus segera diberi wadah dan pemahaman. Untungnya pemangku kepentingan menyadarinya, melalui Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dindik) Kabupaten Pacitan rutin memfasilitasi pelajar untuk berkarya melalui Festival Karawitan Pelajar (Hajatan ke-275).

Di kota berjuluk Paradise Of Java ini gelaran tersebut sangat bergengsi dan digandrungi, siapa yang menjadi juara tampak begitu bangga. Bukan sombong, tetapi sebagai wujud syukur telah turut berkontribusi menjaga budaya jawa sebagai warisan yang tak ternilai.

Daryono, Kepala Dindik Pacitan berkomitmen untuk profesional mewadahi peserta didik dalam menunjukkan kebolehannya, dengan selalu mengundang juri netral dari akademisi seni dari kota lain. Begitu juga peserta yang harus dapat menunjukan kartu pelajar dan surat rekomendasi dari kepala sekolah masing-masing sebagai syarat mutlak.

Ketatnya peraturan ternyata tidak menyurutkan minat sekolah untuk mengirim grupnya, menyuguhkan performa terbaik lalu memboyong juara dalam pagelaran ini. “Puluhan grup terdaftar, acara akan berlangsung hingga besok (25/02),” ujar Dia.

Sementara Pemda Pacitan akan terus mengalokasikan dana untuk kepentingan ini, setidaknya dari tahun 2015 sebanyak 24 set gamelan diserahkan kepada sekolah di Kabupaten Pacitan, untuk tahun ini kata Staf Ahli Bidang Sosial dan SDM, Sumoro Hadi kembali akan menyerahkan 8 set gamelan kepada sekolah terpilih.

“Pemda mengapresiasi guru, pengawas, pembimbing dan yang lain yang telah mengantar siswa memahami budaya sendiri,” kata Sumoro, di kesempatan yang sama (24/02/2020), mewakili Bupati Pacitan Indartato yang berhalangan hadir.

Tiga kali Pujiani dipercaya panitia menjadi salah satu juri, perempuan yang menamatkan Pascasarjana Pendidikan Seni Budaya tersebut menilai agenda semacam ini penting dilakukan. Usia sekolah dasar, menengah dan atas yang memahami seni budaya Jawa akan mendorong mereka menggali potensi yang dimiliki.

“Seni budaya yang paling urgen adalah untuk menetralkan jiwa,” jelas Suci. Namun disatu sisi panitia juga mesti memperhatikan aspek lain dalam rangka melakukan inovasi. Seperti menambah kegiatan menjadi dua kali setahun.

Tidak bermodel festival, tetapi berbagai kegiatan pelatihan yang melibatkan para pakar dibidangnya. Sehingga meningkatnya kualitas para siswa dan siswi, berdampak lahir banyak seniman-seniman besar dari kota 1001 Goa ini. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

SBY “Rasanya tidak berlebihan jika saya membangun museum di tanah kelahiran saya”

Pembangunan Museum Dan Galeri Seni SBY*ANI yang berada Jalur Lintas Selatan (JLS), Kelurahan Ploso, Pacitan akan segera terlaksana, hal tersebut menjadi mimpi bersama antara warga masyarakat Kabupaten Pacitan dan keluarga Cikeas.

Bangunan diatas tanah seluas 1,5 hektar ini resmi dilaksanakan ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekan tombol sirine, sebelumnya Ia didampingi kedua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Budiono Wakil Presiden RI Ke-11, Chairul Tanjung, Pramono Edhie Wibowo,  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ratna Joko Suyanto dan Bupati Pacitan Indartato melakukan Groundbreaking.

SBY mengaku bahwa pembangunan museum dan galeri tersebut terinspirasi dari lawatanya ke Museum Bung Karno bersama istri saat ia masih menjabat sebagai Presiden RI. Usai SBY di periode ke-2, ia bersama istri lalu melakukan studi banding ke Amerika untuk melihat langsung empat museum presiden guna menambah inspirasinya.

“Rasanya tidak berlebihan jika saya membangun museum di tanah kelahiran saya,” kata SBY yang mengaku pembangunan tersebut sebenarnya akan direalisasikan bersama mendiang istri tercintanya Krristiani Herawati (Ani Yudhoyono). Lantaran rasa cinta yang luar biasa Ani kepada Kabupaten Pacitan, dimulai pertama kali SBY mengajak Ani ke kampung halamanya tahun 1973 silam.

Perencanaan dan pembangunan Museum Dan Galeri SBY*ANI tersebut melibatkan banyak sosok, termasuk diantaranya adalah mahasiswa Trisakti. Sesuai dengan gambar, museum tersebut nanti akan memuat berbagai hal tentang perjalanan hidup dan karir SBY, mulai lahir dan tumbuh, hingga ia mengemban amanah menjadi orang nomor satu di Indonesia selama dua periode.

“Dari depan berdiri enam pilar, sebagai representasi Presiden RI ke-6, ada juga Batik Pace mewakili Kabupaten Pacitan dan bunga flamboyan yang mewakili Ibu Ani Yudhoyono,” kata Direktur Pembangunan Museum Ossy Darmawan saat sambutannya (22/02/2020).

Diakui oleh Gubernur dan Bupati, pembangunan Museum Dan Galeri SBY*ANI yang dilaksanakan di Pacitan ini membuat keki mereka gemeteran, rasa syukur dan ucapan terima kasih diucapkan kedua pemimpin tersebut berkali-kali.

Tak ayal, Bagi Khofifah rencana besar SBY di kampung halamanya ini akan memacu generasi muda di Jawa Timur dan Pacitan khususnya untuk lebih memacu diri menjadi manusia yang memiliki kualitas. “Hadiah yang luar biasa di Hari Jadi Kabupaten Pacitan yang ke-275 tahun,” ujar Khofifah.

Lalu, kontribusi apa yang bakal didapat Kabupaten Pacitan, diantara deretan hal positif termasuk yang disampaikan Khofifah adalah semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Pacitan. Jelas berdampak langsung pada peningkatan perekonomian dan lapangan pekerjaan. “Tahun ini 2,3 Juta kunjungan, semoga tahun depan 5 juta kunjungan ke Pacitan,” harap Indartato. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

SBY Awali Kunjungan Dengan Kibarkan Bendera Start Jalan Sehat Hajatan 275

Rangkaian kunjungan Presiden Ri Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kabupaten Pacitan diawali dengan mengibarkan bendera start jalan sehat dalam rangka (Hajatan) ke-275, Pagi ini (21/02/2020). Kunjungan tersebut merupakan kali pertama pasca wafatnya sang istri Kristiani Herrawati atau akrab dipanggil Ani Yudhoyono.

SBY didampingi putra keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) dan rombongan kemarin (20/02), ia disambut langsung Bupati Pacitan Indartato beserta jajaran. Rencananya SBY akan berada di kampung halaman hingga pekan depan (24/02/2020).

Berbagai kegiatan penting akan dilakukan SBY di Pacitan, utamanya Groundbreaking Museum Dan Galeri Seni SBY-Ani. Berlokasi di Jalan Lintas Selatan (JLS) Kelurahan Ploso, Pacitan, diatas tanah 1,5 hektar.

Sesuai jadwal resminya putra terbaik Pacitan tersebut juga akan membuka penyisihan Invitasi Bola Voli Pacitan, SBY Cup 2020, yang akan digelar di Gelanggang Olah Raga (GOR) Pacitan pukul 14:00 WIB nanti.

Agenda penutup, dikabarkan SBY juga akan melakukan pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan tim voli pada Minggu malam (23/02/2020). Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Gedung Gasibu Swadaya Pacitan. (tim/DiskominfoPacitan).

Ciptakan Model Pendidikan Berkualitas Dalam Pertunjukan Geguritan

Kebudayaan dan seni menjadi bagian penting di bangku sekolah, untuk  pendidikan generasi muda di Kabupaten Pacitan yang berkualitas, termasuk pada kesenian Geguritan. Selalu digelar dan menjadi rangkaian Hari Jadi Pacitan (Hajatan).

Diikuti oleh 24 peserta dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Pacitan, para guru paud dan sederajat tersebut diatas panggung berusaha keras menampilkan performa terbaiknya. Dengan durasi yang ditentukan berbagai pesan disampaikan, tentang norma berkehidupan, dan sebagainya.

Geguritan kali ini kembali dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pacitan, Hari ini (20/02/2020), orang nomor satu di Pacitan, Indartato berkesempatan membuka acara tersebut, didampingi istri, Wakilnya Yudi Sumbogo dan jajaran Pemkab Pacitan.

Saat sambutannya Pak In, Sapaan Bupati Indartato meminta, setiap fragmen yang disajikan peserta agar dipahami maknanya dengan mendalam. “Mari kita gagas, supaya hidup kita lebih baik,” minta Pak In.

Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dikbud) Pacitan berkomitmen nguri-uri kebudayaan jawa yang dimiliki. Berharap dengan Geguritan para guru dapat menciptakan satu model pembelajaran yang dapat diterapkan pada peserta didik. “Alhamdulilah animo peserta meningkat sekali setiap tahun,” kata Ririh Enggar Murwati, Kabid Paud Dan Dikmas Dindik Pacitan.

Selain itu Dindik juga telah menyiapkan strategi, sebagai inovasi kegiatan Geguritan supaya dapat menjadi sebuah tontonan yang asyik bagi masyarakat luas di Kabupaten Pacitan. “Sudah kami bicarakan, tunggu saja,” pungkas Enggar. (budi/mg/riyanto/wira/DikominfoPacitan).

Sempurnakan Hajatan 275; Baznas Gelar Doa Bersama Dan Tasarufkan Dana

Sebanyak 480 orang di Kecamatan Pacitan hari ini (17/02/2020) berkumpul di Pendopo Kabupaten Pacitan, mereka adalah para guru ngaji di masjid dan mushola, anak-anak yatim piatu yang masih sekolah di sekolah dasar dan menengah serta tukang becak dan keluarga kurang beruntung.

Bersama Bupati Pacitan Indartato dan jajaran melaksanakan istighosah dan doa bersama, menyempurnakan Hari Jadi Kabupaten Pacitan (Hajatan) ke-275 yang dilanjutkan pentasyarufan dana Baznas Pacitan periode Januari 2020.

Pelaksana Harian Baznas, Harminto mengatakan para guru ngaji, anak yatim dan keluarga kurang beruntung tersebut masing-masing mendapat bantuan Rp.200.000, sedang tukang becak mendapat Rp.150.000.

Baznas juga menyerahkan modal dana tanpa bunga kepada pedagang terpilih di pasar Arjowinangun dan Minulyo sebesar Rp.2.500.000 dan bantuan pelaku usaha mikro di desa ketro sebesar Rp.3.500.000. “Hari ini juga kami serahkan dana baznas kepada 3 orang mualaf,” terang Harminto kepada Diskominfo Pacitan.

Kerja keras dan keterbukaan yang dilakukan Baznas Pacitan membuahkan hasil nyata, audit syari’ah yang digelar oleh Kementerian Agama Provinsi Jawa timur pada 7 dan 8 Januari lalu menyatakan pengelola infaq dan zakat para ASN di Pacitan ini profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Hasil lain menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun dana yang diterima Baznas Pacitan selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Termasuk pada tahun 2020 ini sesuai RKA target penyerapan infaq dan zakat dinaikkan menjadi Rp. 3,8 milyar, sebelumnya Rp. 3,2 milyar.

Bupati Pacitan Indartato mengapresiasi capaian yang diperoleh Baznas Pacitan, dirinya yakin capaian tersebut akan berbuah pada peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. “Saya mengucapkan terima kasih atas keterbukaan Baznas Pacitan. Ternyata benar-benar membawa berkah bagi Kabupaten Pacitan,” kata Bupati. (budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Enggan Lupakan; Bupati Istiqomah Ziarah Cikal Bakal Bupati Pacitan

Setiap perhelatan Hari Jadi Pacitan (Hajatan) selalu menyimpan makna pada setiap rangkaian kegiatannya bagi seluruh lapisan masyarakat. Begitu juga untuk para pendahulu, mereka berjasa bagi perjalanan Kabupaten Pacitan yang semakin madani ini.

Mengingat jasa tersebut, Bupati Pacitan Indartato beserta jajaran istiqomah melaksanakan Ziarah Makam Cikal Bakal Bupati Pacitan yang dilaksanakan di Makam Kanjeng Jimat, Setroketipo dan Notopuro. Hari ini, (18/02/2020).

Bupati Pacitan Indartato kelar ziarah menyampaikan, hal tersebut adalah bentuk rasa hormat kepada para pendahulu, sembari memohon kan ampun supaya dan tetap diterima di sisi Alloh. “Kita memohon kepada Allah, juga supaya generasi penerus bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan beliau agar Pacitan lebih baik lagi,” kata Bupati.

Penghormatan tersebut juga dilakukan kepada para keluarga dan ahli waris pendahulu tersebut, caranya dengan selalu mengundang dan melibatkan mereka pada setiap kegiatan penting Kabupaten Pacitan. “Minimal setiap kegiatan Hajatan kita undang,” pungkas Bupati. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Ini Pengakuan Peserta Pacitan Mountain Bike Fun Enduro

Bagaimana untuk tidak kembali mengikuti Pacitan Mountain Bike Fun Enduro jika panitia selalu menciptakan inovasi yang selalu memanjakan. Begitu juga bagi Hari Sumarsono, warga Solo, Jawa Tengah tersebut kembali datang ke Pacitan bersama rombongan karena rasa penasarannya akan trek yang ditawarkan di ajang ke-3 tersebut.

“Kami kesini 25 orang, dari Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam,” kata Hari sambil menyeting sepeda kesayangannya sebelum start. Hari ini, (16/02/2020).

Lain cerita bagi Aditia Cahyo Anggono, warga Kabupaten Wonogiri ini selalu penasaran dan menunggu-nunggu ajang ke-3 tersebut, selain rute yang pasti menantang adrenalin Aditia yakin sepasang matanya akan dimanjakan hijau pohon yang asri dan tentu bebas polusi. “Untuk panitia gak ada masukan, sangat baik dan profesional” ungkap Dia ditanya kritik untuk penyelenggara.

Memang, gelaran Pacitan Mountain Bike Fun Enduro selalu ditunggu-tunggu pecinta MTB baik di dalam dan diluar kota, terbukti hampir ribuan peserta selalu terlibat dalam acara ini. Berdasar pantauan Diskominfo Pacitan peserta datang dari berbagai kota, mulai Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan lain-lain.

Peserta menang banyak mengikuti Pacitan Mountain Bike Fun Enduro ke-3, termasuk Pemerintah Kabupaten Pacitan, selain memasyarakatkan olahraga, acara ini juga menjadi ajang promosi wisata yang ampuh.

Peserta yang mayoritas dari luar kota akan merasa tidak cukup jika hanya menaklukan rute saja. Wajib rasanya setelah lelah mengayuh sepeda lalu menikmati alam dan memanjakan lidah dengan kuliner khas yang ditawarkan. (budi/anj/wawan/pkl/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Lomba Mewarnai Tingkat TK/BA Se-Kabupaten Pacitan Masih Selalu Menjadi Ikon Event Pameran dan Bazar Buku Dinas Perpustakaan

Kamis, 13 Februari 2020, mulai dari pagi sekitar pukul 07.00 WIB, beberapa anak TK/BA beserta wali murid dan guru sudah datang ke Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, sambil menunggu waktu perlombaan mewarnai dimulai.

Bahkan ada beberapa sekolah TK/BA dari luar Kecamatan Pacitan sengaja datang lebih awal sebelum pukul 07.00 WIB, demi menghindari keterlambatan dalam mengikuti lomba yang dijadwalkan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Antusias peserta lomba dan pendampingnya kali ini memang sangat luar biasa, sejumlah 282 peserta lomba yang sudah mendaftarkan diri sebelum hari H, sama sekali tidak ada satu pun yang tidak hadir.

Sebelum lomba dimulai, Sumartiani (Kasi Pembinaan Sumber Daya Perpustakaan) selaku pembawa acara dan Tri Abadi, S. Sos (Kabid Pengembangan) mengajak anak-anak untuk menyanyi bersama dan bermain tebak-tebakan agar anak-anak tidak merasa jengah saat menunggu waktu lomba.

Lomba mewarnai ini memang selalu menjadi ajang perlombaan terbesar dalam event Pameran Bazar Buku di Dinas Perpustakaan Kab. Pacitan. Peserta selalu meluber sampai ke halaman kantor saking banyaknya peserta yang mengikuti lomba.  Tim Juri penilai lomba mewarnai kali ini merupakan gabungan dari Diva Press Yogyakarta (Ismanto, Wijayanto dan Nuzul) selaku rekanan acara dan perwakilan Dinas Perpustakaan Pacitan (Deni Andriana).

Keputusan Dewan Juri pun diumumkan pada pukul 11.30 WIB, dan didapatkan pemenang sebagai berikut:

–          Juara 1 diraih peserta nomor urut 148 atas nama Andara Alesha Azmanto dari BA Aisyiyah Pacitan

–          Juara II diraih peserta nomor urut 146 atas nama Inaya Hafiza Sindikoro dari BA Aisyiyah Pacitan

–          Juara III diraih peserta nomor urut 55 atas nama Cynara Qinan Salsabila dari TK Negeri Pembina Tanjungsari

–          Juara Harapan I diraih peserta nomor urut 52 atas nama Karim Dwi P dari TK Negeri Pembina Tanjungsari

–          Juara Harapan II diraih peserta nomor urut 149 atas nama Anindya Dirgahayu Prewesti dari BA Aisyiyah Pacitan

–          Juara Harapan III diraih peserta nomor urut 145 atas nama Mirza Zafarani dari BA Aisyiyah Pacitan

Piala, piagam dan bingkisan diserahkan oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan Pacitan Dra. Jayuk Susilaningtyas, M.M, Kabid Pengembangan Triyono Abadi, S. Sos, dan perwakilan Tim Juri dari DIVA Press Yogyakarta.

(Penulis: Ryn Surya&Nisa Permana/Doc: Nisa Permana, Yuznafizha, Tegar Priambodo, Ryn Surya/Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan/Diskominfo Pacitan/Pemkab Pacitan)

Ajak Generasi Muda Lestarikan Permainan Tradisional

Bagi generasi milenial, jenis permainan tradisional mungkin tak lagi mengenal. Maklum, mereka berada pada masa serba digital dimana permainan-permainan tradisional itu mulai jarang dimainkan. “Saya mengajak generasi muda untuk memainkan kembali permainan tradisional agar tidak hilang” kata Luki Indartato, Ketua Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Kabupaten Pacitan saat membuka lomba permainan hadang/gobak sodor antar perwakilan kecamatan dan desa/kelurahan se-Kecamatan Pacitan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Pacitan, Jumat (14/02/20).

Menurut Luki, FORMI mengembangkan beberapa jenis olahraga termasuk olahraga tradisional dan kekayaan budaya. Salah satunya adalah permainan hadang atau yang sering dikenal masyarakat permainan “gobak sodor”. “Selain menjalin silaturahmi dari permainan gobak sodor ini kita dapat mengambil pelajaran yakni, pentingnya kerjasama dan kebersamaan”ungkapnya lagi.

Gobak sodor merupakan permainan olah ketangkasan, kecerdikan dan kerjasama. Satu regu beranggotakan 8 orang dengan 5 orang pemain inti serta 3 orang cadangan. Dalam aturan pemain kedua tim akan saling menyerang di area berbentuk persegi yang setiap garisnya diibaratkan pintu. Pemenang ditentukan seberapa banyak pemain lolos dari hadangan tim lawan.

Manfaat positif yang bisa diperoleh dari olah raga ini adalah melatih ketangkasan, kecepatan, hingga mampu meningkatkan kekuatan tubuh. Lomba hadang/gobak sodor dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-275 Kabupaten Pacitan ini diikuti 36 regu perwakilan kecamatan se-Kabupaten Pacitan dan desa/kelurahan se-Kecamatan Pacitan. (Rizky/Luky/Arif/HumasPacitan)

Kembangkan Keterampilan Dan Kemapuan Pendidik SMA Sederajat

Sebanyak 275 peserta mengikuti Bimbingan Teknis Pengembangan Literasi Penulisan Buku dan Kaya Tulis Ilmiah, kegiatan tersebut masuk dalam rangkaian Hajatan ke-275. Lantaran peningkatan ketrampilan dan kemampuan menulis buku, materi, atau buku lainnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan SMA Sederajad.

Pelatihan tersebut berlangsung selama empat hari mulai (13/02/2020) di dua lokasi berbeda, yakni di Pendopo dan Gedung Karya Darma Kabupaten Pacitan. berbagai bahasan materi dikupas pada forum tersebut, termasuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada ranah pendidikan menengah atas di Kabupaten Pacitan. (DiskominfoPacitan).

Wa Mendes PDTT; “DD Merupakan Instrumen Distribusi Keadilan Sosial”

Ada 171 desa dan kelurahan di Kabupaten Pacitan, mereka adalah ujung tombak seluruh kebijakan pemerintah. Jika desa-desa tersebut maju maka kemakmuran akan terwujud bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun kenyataanya, baru ada satu desa yang masuk dalam kategori maju, enam desa tertinggal dan sisanya masih berada pada kondisi berkembang.

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wa mendes PDTT) RI, Budi Arie Setiadi di hadapan seluruh kepala desa di Kabupaten Pacitan mengatakan, segala potensi yang dimiliki Pacitan mesti digarap maksimal baik melalui Dana Desa (DD) yang efektif dan transparan. “DD merupakan instrumen distribusi keadilan sosial,” kata Dia, hari ini (12/02/2020) Pendopo Kabupaten.

Nyaris Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi piranti terpenting supaya instrumen keadilan sosial tersebut benar-benar dapat bermanfaat dan dirasakan semua orang. Kepala desa harus membuka diri dengan ilmu termasuk diantaranya adalah pemahaman terhadap kualitas administrasi desa.

Wa mendes juga meminta kepala desa untuk tenang terkait pencairan DD yang belum 100 persen. Dipastikan dalam waktu dekat dana 1 Milyar Rupiah akan terealisasi. “Dipastikan naik, hemat saya tahun depan target DD di Pacitan akan benar-benar 100 persen,” tambah Dia.

Perihal Blank Spot yang terjadi di beberapa desa, menurut Wa mendes tergantung komitmen dari Pemda Pacitan melalui Telkom dan Dinas Kominfo. “Ya harus menjadi perhatian, mengingat literasi digital harus didukung dengan sinyal,” lanjut Wa mendes.

Bupati Pacitan Indartato menyambut perhatian Kemendes PDTT terhadap kota yang memiliki panjang pantai 70 Kilometer ini. Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih berada pada angka 67 persen sedikit tertinggal dibanding Jatim yang kini berada pada angka 70 persen.

Belum lagi masalah kemiskinan, meskipun berangsur turun dari 14,19 persen menjadi 13,60 persen, tapi angkat tersebut belum bisa membuat Pemda Pacitan bernafas lega jika melihat jumlah total keseluruhan penduduk Pacitan.

Dengan menangkap berbagai realita yang tertuang pada angka, Indartato tidak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut, anggaran akan terkonsentrasi pada ranah ini, yakni mengangkat desa tertinggal dan desa berkembang, menjadi desa maju. “Kita harus menangkap yang telah disampaikan Wa Mendes demi kesejahteraan,” pungkas Indartato. (Budi/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tingkatkan Kebersamaan Di Lapangan Voli

Koordinasi antar instansi perlu dijaga dan ditingkatkan dengan berbagai cara, supaya seluruh program dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Peringatan Hajatan ke-275 ini, seluruh instansi mulai Forum Komunikasi Kepala Desa hingga lintas vertikal mengikuti lomba voli yang dilaksanakan di Gor Pacitan, Hari ini (11/02/2020).

Pelaksana kegiatan T. Andi Faliandra sekaligus Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan mengatakan Lomba Voli tersebut diikuti oleh 18 peserta termasuk TNI dan Polri. Peserta merebutkan juara 1, 2, 3 dan Harapan 1, 2. “Bukan hadiah yang kita kejar hari ini, tapi kebersamaannya,” kata Andi.

Bupati Pacitan Indartato bersama Istri Luki Indartato, didampingi Wakilnya Yudi Sumbogo bersama Istri Ninik Yudi Sumbogo beserta jajaran tampak tersanjung melihat semangat para peserta. Ekspresi tersebut menggambarkan hubungan yang positif.

Bupati berprinsip, Hajatan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi tercapainya mimpi Kabupaten Pacitan, berawal dari kesatuan dan persatuan semua lembaga. Meski diakuinya kerjasama yang terjalin selama ini sudah berjalan baik. “Tujuannya jelas bagaimana memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat,” kata Bupati.

Bupati tidak bergeming saat ditanya soal tim yang dijagokan, namun dari Lomba Bola Voli tersebut ia berharap semua bermain baik, agar dapat melihat potensi yang mungkin bisa dikambangkan. Karena bukan tidak mungkin kedepan akan menumbuhkan atau mengelola tim baru yang lebih berkualitas. “Pemain harus maksimal, kalau maksimal bola voli di Pacitan lebih maju,” pungkas Dia. (budi/anj/wawan/pkl/mg/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Awali Hajatan; Perpusda Gelar Bazar Buku Murah 2020

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan (Hajatan) ke-275 tahun dimanfaatkan Dinas Perpustakaan (Perpusda) Kabupaten Pacitan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Seperti tahun sebelumnya, instansi tersebut menggandeng Diva Press dari Yogyakarta berbentuk Bazar Buku Murah 2020.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Perpusda, dibuka hari ini (10/02/2020) oleh Bupati Pacitan Indartato dan berakhir hingga (25/02/2020).

Kepala Perpusda Pacitan Cipto Yuwono meyakini, kegiatan lebih dari dua pekan tersebut akan meningkatkan kunjungan, bakal berimbas pada peningkatan minat baca. Hal ini didukung dengan jam buka hingga pukul 21:30 Wib. “Jumlah kunjungan lebih dari 114 Ribu, sudah melebihi target,” ucap Cipto.

Bazar Buku Murah yang digelar Perpusda dan Diva Press tersebut menyediakan berbagai buku berkualitas dengan harga terbaik dan terjangkau untuk ekonomi masyarakat Pacitan. Didukung panggung hiburan yang disediakan panitia untuk menambah daya tarik, sehingga kunjungan juga dapat dinikmati masyarakat umum.

Semantara Bupati Pacitan Indartato saat membuka secara resmi kegiatan ini mengatakan, Perpusda harus semakin berkualitas. Artinya menjadi rujukan masyarakat untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), ini komitmen pemerintah, dengan memindahkan Perpusda ketempat yang lebih strategis, yakni bekas hotel Pacitan. “Tahun 2021 mendatang,” kata Indartato.

Indartato juga berpendapat bahwa Perpusda selain menjadi pusat buku dan ilmu juga menjadi pusat kegiatan pelatihan yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Pacitan. 

“Mari Bazar Buku Murah kita manfaatkan sebaik-baiknya supaya Kabupaten Pacitan dapat melahirkan genarasi yang semakin berkualitas,” pungkas Bupati. (budi/anj/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Semprot Cairan Disinfektan Anti Antraks

Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan hari ini, (07/02/2020) melakukan penyemprotan larutan desinfektan ke kendaraan pengangkut hewan di Pasar Hewan Kabupaten Pacitan. ini dilakukan dalam rangka menyikapi menularnya penyakit antraks yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Kabid Kesehatan Hewan, Agus Sumarno yang turun langsung pada pencegahan tersebut mengatakan bahwa cara ini cukup efektif memutus mata rantai penularan. Mengingat kendaraan tersebut memiliki mobilitas tinggi mengangkut binatang ternak baik didalam maupun diluar Pacitan.

Pada penyemprotan tersebut Agus menerjunkan 13 petugas yang terbagi menjadi tim penyemprot dan tim pembagi leaflet antraks kepada sopir dan pemilik hewan ternak.

Meskipun cara tersebut efektif, namun Agus lebih berharap kepada pemilik kendaraan untuk lebih mandiri memperhatikan kebersihan diri dan kendaraan, dengan mencuci kendaraan dengan sabun usai mengangkut binatang ternak. “Hati-hati, Antraks dapat menular kepada manusia,” ucap Dia.

Upaya lain tetap akan dilakukan Bidang Kesehatan Hewan meski hingga tulisan ini dibuat tidak ada laporan ditemukannya antraks di Kabupaten Pacitan, mulai Sosialisasi, pemantauan di daerah perbatasan, hingga pemberian vaksin kepada binatang ternak. (budi/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Menarik Biaya Parkir AE-X Dan Y Melanggar Peraturan

Sesuai peraturan biaya parkir jalan di wilayah Kabupaten Pacitan menggunakan sistem berlangganan yang dibayar per tahun, saat kendaraan melakukan pajak tahunan dengan tarif Rp. 12.000 untuk roda 2 dan Rp. 20.000. untuk roda 4,  diberlakukan sejak tahun 2011 lalu.

“Parkir berlangganan ini hanya untuk parkir yang di pinggir jalan,” ujar Wasi Prayitno Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pacitan. Hari ini, (05/02/2020). Di luar area khusus, seperti di pasar, Rumah Sakit dan terminal dan yang lain tetap dikenai tarif sesuai dengan kebijakan masing-masing.

Sedang untuk penataan parkir, Dishub Pacitan telah menyiagakan 60 petugas. Mereka berkewajiban menata parkir, dan mengenai tarif kepada kendaraan berplat luar Pacitan atau AE-X dan Y. “Saya tidak mengatakan tidak apa-apa (memberi uang kepada petugas parkir), tapi itu terserah kepada kedua belah pihak (pemilik kendaraan dan petugas parkir Dishub). Yang salah itu yang menarik” tegas Wasi.

Sementara di lokasi dan momentum tertentu acap kali bermunculan parkir liar, mereka secara terang-terangan menarik biaya parkir kendaraan, Wasi menegaskan bahwa hal tersebut tidak memiliki dasar hukum dan melanggar peraturan.

Sehingga keadaan ini menjadi perhatian baik Dishub Pacitan dan instansi terkait. “Menarik biaya parkir pasti salah. Berarti pelanggaran, kalau pelanggaran urusannya aparat,” tegas Dia. Menandakan kegiatan parkir liar di pinggir jalan beresiko karena melanggar Perda Kabupaten Pacitan Nomor 19 Tahun 2010 Tentang Retribusi Pelayanan Parkir Ditepi Jalan Umum.

Meski demikian Wasi menegaskan tidak semua tepi jalan dapat digunakan sebagai tempat parkir. Semisal sekitaran Alun-alun, termasuk Jalan Ahmad Yani, sesuai tanda marka ruas itu digunakan untuk pengguna sepeda “Ini sudah sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Badan Libang dan forum lalu lintas,” pungkasnya. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Atasi Ancaman Pemadaman Sepanjang Musim Hujan PLN Rayon Pacitan Siagakan Seluruh Petugas

Apapun keadaannya listrik harus tetap menyala. Ini adalah harapan semua orang, termasuk PT PLN Rayon Pacitan. Datangnya musim hujan acap kali menimbulkan gangguan di hampir semua wilayah di Kabupaten Pacitan.

Irham Maulana, Manajer PLN Rayon Pacitan hari ini, (04/02/2020) di ruangnya mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan dengan menerjunkan tim Right Of Way (ROW) yang bakal menyapu ranting dan pohon yang berpotensi menyentuh jaringan. “Kegiatan ini kami laksanakan setiap pagi yang melibatkan 17 personil,” ujar Irham.

Irham melanjutkan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Pacitan sebetulnya memiliki potensi gangguan, pasalnya kondisi geografisnya yang berbukit yang didukung dengan banyaknya pohon yang terlalu dekat dengan jaringan, sehingga ketika hujan tiba biasanya pohon yang berada di tebing tumbang lalu mengenai jaringan.

Selain tim ROW, PLN Rayon Pacitan juga telah siagakan seluruh petugas, terbagi menjadi 3 shift yang selalu siap 24 jam. Sehingga apabila terjadi gangguan, tim yang dibekali dengan berbagai pengalaman dan peralatan tersebut akan melakukan pelayanan cepat.

“Kita juga meminta bantuan kepada masyarakat, apabila tim PLN melaksanakan pengamanan jaringan mohon diijinkan. Takutnya satu dahan malah memadamkan satu kecamatan. Termasuk menginformasikan ke teman-teman jika ada pohon yang berpotensi menimpa jaringan. Juga ketika terjadi pemadaman, supaya diinfokan agar segera kita tindaklanjuti. Jangan dilakukan sendiri. Bahaya,” himbau Irham. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Antraks Merebak Di Gunung Kidul; Pacitan Tetap Terkendali

Kasus antraks di awal tahun 2020 cukup meresahkan peternak di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan melakukan berbagai upaya pencegahan supaya penyakit yang menyerang binatang dan bisa menular kepada manusia tersebut tetap terkendali.

Utamanya yang menjadi pusat perhatian adalah di Lima kecamatan yang telah tertular antraks di tahun 2016 silam, Agus Sumarno Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian kepada Diskominfo Pacitan mengungkapkan, upaya pencegahan telah dilakukan sejak awal antraks merebak di Gunung Kidul mulai sosialisasi, vaksinasi hingga desinfeksi. “Sejak tahun 2016 kita telah melakukan vaksinasi sebanyak 60.000 dosis,” ujar Agus, hari ini, (03/01/2020).

 Langkah pencegahan penting mengingat antraks cukup berbahaya, dengan ciri-ciri binatang ternak akan menunjukkan gejala demam disertai gelisah, lalu secara mendadak akan mati dengan tanda keluarnya darah dari lubang hidung, mulut, telinga dan anus. Tetapi disisi lain semua jenis antibiotik dengan dosis tertentu sebenarnya dapat melumpuhkan bakteri tersebut.

 Upaya lain, Agus ke depan juga akan melaksanakan program pelayanan hewan terpadu di beberapa titik wilayah perbatasan, termasuk pengawasan dan disempurnakan dengan pemberian vaksinasi. Karena lalu lintas ternak dari luar Kabupaten Pacitan tetap menjadi perhatian utama supaya Kabupaten Pacitan tetap terkendali. “Dalam waktu dekat kita juga akan menyemprotkan desinfektan pada kendaraan yang mengangkut ternak,” terangnya.

 Agus bersyukur, pemahaman dan kesadaran peternak terhadap bakteri yang bernama lengkap Bacillus Anthracis ini cukup tinggi. Membuat masalah tersebut dapat cepat tuntas di tahun 2016 lalu. Hal ini modal dasar yang penting supaya antraks tidak lagi merebak di Kabupaten Pacitan, meski kota lain saat ini sedang darurat Antraks.

 Beberapa langkah mandiri juga kembali diingatkan oleh Agus kepada para peternak di Kabupaten Pacitan, terutama menjaga kebersihan kandang dan lingkungan kandang dan memberikan pakan yang baik sesuai dengan kebutuhan hewan. Kedua hal tersebut merupakan pencegahan dasar yang dapat dilakukan. “Segera melapor kepada petugas jika menemukan tanda-tanda pada binatang ternak. Secepatnya,” pungkas Agus. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Gerabah Purwoasri; Kental Nilai Seni Dan Sejarah

Keterampilan Surati dan sebagian besar perempuan di Dusun Gunung Cilik, Purwoasri, Kebonagung, dalam menciptakan kerajinan gerabah menyimpan nilai seni dan sejarah, jemari terampilnya terlatih sejak mereka masih belia, diturunkan dari orang tuanya secara turun temurun.

“Saya sejak kecil kelas 2 SD sudah belajar membuat gerabah,” kata Surati saat ditemui di rumahnya, hari ini (31/012020). Pengakuan tersebut secara tidak langsung menunjukan bahwa keterampilan yang dimiliki perempuan di Gunung Cilik tidak perlu dipertanyakan.

Tanah sebagai media utama dalam membuat gerabah harus memenuhi standar, selanjutnya berbagai campuran lain dimasukkan dengan komposisi tertentu, hasilnya gerabah yang yang dihasilkan dari Gunung Cilik memiliki kualitas tinggi yang tidak akan lekang oleh waktu.

Termasuk pada proses finishing dilakukan dengan ketelatenan tinggi untuk menjaga kualitas, baik pengecatan untuk jenis pot dan vas bunga. Termasuk proses pembakaran dengan jenis kayu tertentu menciptakan kematangan sempurna ditandai warna merah.

Gerabah, satu kerajinan tradisional di masa kini tetap elok meskipun bersanding dengan barang elektronik di ruang minimalis, atau diantara porselen mahal di meja makan dan di dapur. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Sensus Penduduk 2020; Cara Online Lebih Mudah Dan Simple

Semua warga masyarakat Kabupaten Pacitan harus dewasa, bersatu padu dalam menyambut gelaran sensus penduduk ketujuh tahun 2020 ini. Melalui dua tahapan yang ditetapkan, sensus berbasis online dan manual nantinya akan berpengaruh langsung terhadap kebijakan pemangku kebijakan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pacitan, Bagyo Trilaksono kepada Diskominfo Pacitan menyampaikan tahapan berbasis online akan dilakukan mulai pertengahan Februari hingga akhir Maret 2020 melalui laman resminya sensus.bps.go.id dengan mengupdate data diri.

Saat ini BPS Pacitan telah mendapat data resmi dari Ditjen Kependudukan dan Dukcapil Kabupaten Pacitan, sementara NIK dan KK yang dimiliki menjadi acuan data BPS Pacitan. Menandakan bahwa data kependudukan di Indonesia sudah menunjukan data statistik cukup baik.

“Sensus berbasis online itu sangat sederhana pertanyaannya, terkait keberadaan penduduk, jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaannya apa, ada sedikit pertanyaan tentang kondisi tempat tinggalnya itu seperti apa,” kata Bagyo, hari ini, (30/01/2020).

Kemudian, pada tahapan kedua, sensus akan menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akses internet dengan metode wawancara. Dengan merekrut 1200 petugas dari masing-masing desa yang sebelumnya akan dibekali beberapa pelatihan.

“Nah untuk bapak ibu yang sibuk dan yang aktivitasnya banyak disarankan untuk memilih yang online, karena tidak akan terganggu. Cuma tetap akan ada konfirmasi saat wawancara itu di bulan Juli. Petugas kami tetap akan melakukan pengecekkan dan berkoordinasi dengan RT setempat. Termasuk mengkonfirmasi pendatang baru dengan segala kelengkapan berkas kependudukannya,” jelas Bagyo.

Langkah menekan kesalahan pada saat sensus, BPS Pacitan juga telah mengatur jadwal dengan seluruh kepala desa di Kabupaten Pacitan. mereka nantinya juga memperoleh ilmu pengisian data yang nantinya dapat disosialisasikan kepada masyarakat.

Melihat kondisi geografis Kabupaten Pacitan yang berpengaruh pada jaringan internet, Bagyo menghimbau kepada masyarakat untuk menyesuaikan diri saat akan melakukan sensus online, terkait data yang disampaikan, pihaknya menegaskan data yang dikonfirmasi sangat dijaga kerahasiaannya. “Sangat terjamin rahasianya. Melalui Undang-Undang bahwa BPS tidak akan membocorkan semua data tersebut,” tegas Dia.

Bicara prioritas, Bagyo mengatakan sama dengan wilayah lain, yakni sinkronisasi data dengan instansi terkait yakni Dukcapil yang menggunakan sistem De Jure, sedangkan BPS menggunakan sistem De facto. Perbedaan tersebut nantinya akan disikapi dengan penerapan metode kombinited. “Banyak yang sudah ber-KTP Pacitan, tapi sekarang tinggal di luar. Nah, saat mereka nanti mengisi data di tempat-tempat itu akan ketahuan nanti,” lanjut Bagyo.

Segala kemudahan yang diberikan oleh BPS diharapkan masyarakat Kabupaten Pacitan dapat berpartisipasi aktif. Sekali lagi gelaran sepuluh tahunan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat tersebut berdampak langsung pada setiap kebijakan yang dipilih para pemangku kepentingan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pilkada 2020; KPU Fokus Tahapan Dan Tinggikan Partisipasi Pemilih

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Pacitan 23 September 2020 mendatang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pacitan fokus pada tahapan demi tahapan, demi terselenggaranya pesta demokrasi yang sukses dan aman.

Saat ini KPU Pacitan telah sampai pada rekrutmen Badan Ad Hoc panitia kecamatan dan panitia pengumumutan suara tingkat desa. Tersaring 230 dari 156 yang akan menjalani tes tulis. Melalui rekomendasi KPU Pusat, KPU Pacitan melaksanakannya dengan metode Computer Assisted Test (CAT) besuk (30/01/2020).

Sebelumnya, berbagai tahapan yang telah sesuai dengan perundang-undangan dilakukan KPU Pacitan, dimulai perencanaan program anggaran pada September 2019 lalu. dilanjutkan penyusunan petunjuk teknis dan sosialisasi pada awal November 2019.

“Tahapan pencalonan sudah kita mulai pada 26 Oktober 2019 kemarin, dengan penetapan jumlah dukungan minimal untuk pasangan calon perseorangan,” kata Ketua KPU Pacitan Sulis Styorini spesial kepada Diskominfo Pacitan hari ini, (29/01/2020).

Sementara KPU RI telah menerima Data Potensial Pemilih Pemilu (DP4) dari Kemendagri untuk pemutakhiran data pemilih, selanjutnya DP4 tersebut akan diserahkan kepada KPU Provinsi dan KPU Kabupaten pada Maret nanti.

Rini juga mengatakan pihaknya masih membuka pendaftaran pemantau dan pelaksana pada bidang jajak pendapat dan lembaga survey, meski di satu sisi KPU Pacitan sangat membuka lebar masukan dan aspirasi dari masyarakat.

Di pertengahan Juni, usai penyerahan dukungan dari bakal calon, kemudian dilanjutkan pendaftaran bakal calon pasangan baik dari parpol maupun gabungan parpol, yang dilanjutkan dengan seleksi administrasi. “Barulah pemeriksaan kesehatan pada 08 Juni 2020,” lanjut Rini.

 Disatu sisi KPU Pacitan mempunyai tugas lain, fenomena menurunnya partisipasi pemilih pada pilkada 2015 kemarin berada pada angka dibawah 60 persen. Namun penghargaan yang disandang KPU Pacitan sebagai lembaga yang paling terintegrasi nomor satu di Nasional menjadi modal awal.

 “2020 energi cukup baik, didukung pemilu serentak yang baru dilaksanakan kami optimis angka partisipasi meningkat, meski kami tahu ini bukan pekerjaan mudah. KPU Pacitan butuh masukan, bantuan, motivasi dari semua pihak. seluruh elemen masyarakat harus bahu mambahu,” pungkas Rini. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Lirik Media Film; BPBD Dan Diskominfo Pacitan Galakkan Tanggap Tangguh Bencana

Ada sebelas dari dua belas potensi bencana berpotensi terjadi di Wilayah berjuluk Kota 1001 Goa ini, fakta tersebut menjadi perhatian semua pihak, pemerintah daerah, provinsi bahkan pusat yang melahirkan berbagai kebijakan diantaranya pemahaman yang bersifat mitigasi.

Termasuk memanfaatkan media film untuk memberikan edukasi berupa mitigasi bencana, utamanya bencana gempa bumi yang disertai tsunami. Jenis bencana ini dipilih lantaran besarnya risiko karena keberadaan Kabupaten Pacitan yang berhadapan dengan samudera hindia dan berdiri di atas patahan Sesar Grindulu yang sewaktu-waktu menunjukan aktivitasnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan sebagai leading sektor bersama Bidang Informasi, Diskominfo Kabupaten Pacitan menciptakan film berdurasi pendek yang memberikan pemahaman saat terjadi gempa bumi baik di dalam gedung atau di luar ruang yang dilakukan oleh staf dan karyawan Pemda Pacitan.

“Video yang kita hasilkan nantinya dapat kita putar disela berbagai kegiatan,” kata Agus Anshori Mudzakir, Kepala Bidang Informasi Diskominfo Pacitan disela pembuatan film hari ini, (28/01/2020) dihalaman Pendopo Kabupaten.

Semua media digunakan oleh pemangku kebijakan demi menumbuhkan pemahaman kepada seluruh masyarakat akan pentingnya memahami sebelas potensi bencana tersebut. Sehingga meski tidak diharap, semua masyarakat dapat siap dan tangguh jika sekonyong-konyong bencana itu datang, begitu juga peran pemerintah bersama sektor terkait dalam rangka manajemen kebencanaan. (timDiskominfoPacitan).

BPBD Pacitan Angkat Bicara Soal Musim Yang Terjadi

Musim hujan tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Didik Alih Wibowo, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, mengatakan saat ini Kabupaten Pacitan mengalami musim hujan tapi dengan intensitas sedang bahkan rendah.

“Kondisi ini perlu kita maklumi,” kata Didik menyampaikan kondisi sebenarnya, hari ini di Halaman Pendopo Kabupaten (27/01/2020). Sesuai rilis resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dipastikan fenomena tersebut berakhir pada awal Februari mendatang, meski disisi lain proyeksi yang ditampilkan satelit dapat berubah sewaktu-waktu.

Meski demikian Didik pada kesempatan tersebut meminta seluruh masyarakat untuk tetap mewaspadai segala potensi yang bisa terjadi dengan berbagai kemungkinan. “Cuaca mudah berubah, bisa menimbulkan cuaca ekstrem, sebagaimana rilis BMKG kita harus waspada,” lanjut Dia.

Bahkan saat ini, droping air bersih dilakukan BPBD Pacitan ke Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, juga melakukan verifikasi lapangan di Desa Sambong, Kecamatan Pacitan, menindaklanjuti laporan kekurangan air bersih.

Kondisi tersebut diharap Didik untuk tidak dikesampingkan, mengingat kondisi geografis Pacitan yang dikelilingi perbukitan serta sungai. “Amati setiap perubahan disekitar kita,” pesannya. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Pertamina Synergy Touring 2020 Singgah Di Pacitan

Ferdianto Pamungkas ketua panitia Pertamina Synergy Touring 2020 bersama rombongan merasa tertantang menaklukan jalan berkelok di Kabupaten Pacitan, ia merasa route yang ditempuh dari Yogyakarta hingga Malang utamanya di Pacitan menyimpan beragam keindahan yang layak untuk dieksplorasi.

“Kita bukan komunitas motor besar, kita butuh santai yang tidak butuh kecepatan sembari menikmati keindahan,” ujarnya saat disambut Bupati pacitan Indartato di Pendopo Kabupaten, siang ini (24/01/2020).

Direktur manajemen aset pertamina, Haryo Yunianto yang ikut dalam kegiatan touring mengaku terkejut dengan sambutan yang dilakukan. Ia menyadari hal tersebut menunjukan komitmen Kabupaten Pacitan terhadap pariwisata yang tengah dibangun. “Pertamina bisa terlibat di dalam pengembangan pariwisata Pacitan,” ungkap Dia disambut riuh tepuk tangan.

Sementara Bupati Pacitan Indartato pada kesempatan yang sama menyampaikan ucapan terima kasih telah bersedia mampir di Kabupaten Pacitan, ke depan Ia mengaku siap apabila berencana ke Pacitan dalam waktu yang lama. “Satu bulan pun kami siap menjadi tuan rumah,” pungkas Bupati.

Usai kegiatan penyambutan tersebut, ratusan rombongan vespa dengan berbagai tipe tersebut melanjutkan perjalanan dan berakhir di Kota Malang besok (25/01). (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Fokus Hapus Pernikahan Anak Dan Pernikahan Dini

Pernikahan anak dan pernikahan dini memiliki ragam dampak negatif bagi pelaku dan orang disekitarnya, masalah ini sebenarnya dihadapi oleh kebanyakan Negara di dunia, bahkan Negara-negara di eropa yang telah diakui lebih tinggi peradabannya.

Melihat itu pemerintah Kabupaten Pacitan bersama semua lembaga berusaha keras menyikapinya, Kali ini memaksimalkan peran media baik Televisi, cetak hingga penggiat sosial media dalam Training Penggunaan Data Bagi Media Dan Organisasi Masyarakat Sipil Melalui Open Government. Yang digagas Bappeda Pacitan, Diskominfo Pacitan dan Kinerja Provinsi Jawa Timur.

Dimulai dengan pengenalan Dashboard penghapusan pernikahan anak di Pacitan, dalam laman tersebut termuat seluruh fakta tentang berbagai hal pernikahan anak dan pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Pacitan yang dapat digunakan sebagai senjata untuk kampanye memerangi masalah bersama tersebut.

“Sejak 2018 kita bersama-sama mengumpulkan berbagai data dalam rangka penghapusan pernikahan anak, yang sekarang kita share di laman dashboard.pacitankab.go.id” kata Dina Limanto Coordinator Kinerja Provinsi Jawa Timur kemarin di Gedung KPRI (23/01/2020).

Lahirnya dashboard tersebut menjadi penanda bahwa pemerintah bersama dengan seluruh elemen memusatkan konsentrasi mengakhiri masalah pernikahan anak dan dini. Dimana media menjadi corong utama membeberkan berbagai fakta dari data riil yang ada. “Menulislah dengan data dan fakta agar ada ujung pangkalnya,” kata supriyono, Kabid TI Diskominfo Pacitan Saat membuka acara. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hari Jadi Pacitan Ke-275 Tahun Dipastikan Lebih Spektakuler

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan Ke-275 Tahun dipastikan akan berlangsung meriah dibanding tahun-tahun kemarin. Hal tersebut disampaikan Daryono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindik) Kabupaten Pacitan, sebelum mengikuti Rapat Pleno Agenda Hari Jadi Di Ruang Rapat Bupati. Hari ini, (22/01/2020).

Secara umum konsep hari jadi sama dengan tahun sebelumnya, hanya saja di acara inti pada tanggal 19 Februari Kirab Tirto Wening dan Rucuh Pace akan dimulai dari Perempatan Penceng hingga Pendopo Kabupaten, melibatkan siswa-siswi SMA dan SMK.

“Untuk kegiatan belum bisa saya Share. Kita masih menunggu beliau (Bupati), nanti kalau sudah Clear akan diumumkan secara massif kepada masyarakat. Termasuk tema masih digodok,” ujar Daryono.

Namun yang baku lanjut Daryono adalah pagelaran wayang kulit semalam penuh diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan. salah satu simbol Hari Jadi Kabupaten Pacitan adalah milik seluruh warga masyarakat Kabupaten Pacitan.

Di Kesempatan yang sama T. Andi Faliandra, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pacitan mengatakan bahwa dominasi seni dan budaya pada peringatan hari jadi memiliki daya Tarik tersendiri bagi calon wisatawan.

Kemasan seluruh rangkaian hari jadi harus sebaik mungkin, karena selanjutnya akan diviralkan kepada khalayak dengan berbagai media baik media resmi pemerintahan maupun yang lain, baik di Pacitan maupun diluar kota Pacitan.

“Termasuk Pendopo, mengingat Pendopo bukan untuk para pejabat saja. Bagaimana kemasan nanti menghadirkan selain masyarakat juga wisatawan. Dikemas dengan keunikan dan keindahan seni budaya kita,” pungkas Andi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo, Kunjungan Perdana Tingkat Paud Tahun 2020 di Dinas Perpustakaan Kab. Pacitan

Selasa, 21 Januari 2020, sejumlah 128 pengunjung dari Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo yang terdiri dari 122 siswa-siswi dan 6 guru datang berkunjung Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan pagi ini. Kunjungan ini merupakan kunjungan perdana setingkat Paud di awal tahun 2020 yang berkunjung di ruang layanan.

 Kedatangan rombongan dibagi menjadi 2 kloter, kloter pertama diawali oleh KB (Kelompok Bersama) yang terdiri dari 28 anak dan 3 guru. Kloter berikutnya adalah TK A dan TK B yang terdiri dari 92 anak dan 3 guru. Guru dan petugas Bidang Layanan dan Koleksi membimbing mereka untuk memanfaatkan fasilitas di ruang layanan anak yang sudah tersedia. Kelompok Bermain (KB) dan TK A+TK B secara bergantian memanfaatkan ruang layanan anak. Setyo Budi, S. Sos selaku Kepala Seksi Layanan & Otomasi yang baru dilantik 7 Januari 2020 kemarin, ini merupakan pengalaman pertama beliau dalam melayani pengunjung Paud di Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Beliau dengan senang hati dan telaten ikut membimbing anak-anak bermain di ruang layanan. Nampak beliau sangat antusias melihat tingkah polah anak-anak kecil, dan sesekali bercengkerama dengan guru ABA Baleharjo tersebut. Sedangkan bagi Kepala Bidang Layanan dan Koleksi Joko Wahyudi, S.Sos., M. Pd, ini bukanlah kali pertama pengalaman beliau dalam melayani pengunjung. Tapi hal tersebut juga tidak menyurutkan beliau untuk melayani pengunjung dengan baik pagi ini.

Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo termasuk Paud yang sangat sering berkunjung ke Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Hal ini tidak terlepas dari hasil perjanjian kerjasama (MOU) di antara kedua belah pihak yang berkomitmen untuk saling bekerjasama demi meningkatkan Literasi anak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan fasilitas layanan anak kepada pihak Paud di ruang layanan dan koleksi Perpusda.

Pihak Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan berharap semoga ke depannya tidak hanya Paud ABA Baleharjo yang aktif mengajak anak didiknya untuk berkunjung. Untuk itu, Bidang Layanan dan Koleksi mulai lebih menggiatkan kembali promosi Layanan Perpustakaan Umum ke lembaga sekolah di Pacitan, melalui kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan KEMENAG Pacitan. Tujuannya, selain untuk mengenalkan Perpusda ke seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Pacitan, harapannya adalah untuk mendongkrak jumlah pengunjung perpustakaan umum agar mampu mencapai target tahunan.

(Penulis: Ryn Surya/Doc: Ryn Surya/Bidang Layanan dan Koleksi Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan)

Workshop Literasi BA. Aisyiyah Baleharjo di Dinas Perpustakaan Pacitan

Sabtu, 18 Januari 2020, bertempat di ruang layanan Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan (mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.30 siang), telah diadakan Worshop Literasi BA. Aisyiyah Baleharjo. Sebanyak 34 wali murid BA. Aisyiyah Baleharjo menghadiri undangan, dengan narasumber yang sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan Kabupaten Pacitan, seorang pejuang literasi yang terus bergerak demi meningkatkan literasi masyarakat Kabupaten Pacitan utamanya untuk para orang tua dari anak usia dini. Narasumber dalam acara tersebut adalah Dr. Sri Pamungkas, M. Hum atau yang akrab disapa dengan panggilan “Bu Mamung”

Worshop Literasi kali ini mengambil tema “Strategi Menyiapkan Generasi di Era 4.0”. Sudah kita ketahui bahwa arus globalisasi yang masuk di Indonesia sudah tidak terbendung lagi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih itu menuntun kita masuk ke dalam dunia masa kini yaitu dunia era revolusi industri 4.0, dimana di dalam era sekarang ini lebih menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, atau fenomena disruptive innovation. Maka untuk mengantisipasi dari hal ketertinggalan, orang tua mempunyai kewajiban penuh di awal perkembangan anak sejak usia dini dalam menyiapkan mereka menjadi generasi yang siap menghadapi era 4.0. Bu Mamung di dalam kesempatan tersebut memberikan beberapa strategi bagaimana sebaiknya orang tua menyusun langkah-langkah strategis, utamanya dengan strategi membangun literasi anak sejak usia dini.

Acara tersebut disisipi dengan sesi pembacaan puisi oleh “Adek Echa” yang kebetulan puteri dari Ibu Mamung Narasumber utama workshop kali ini. Puisi indah yang menggambarkan dan mewakili perasaan semua anak kecil yang menginginkan dimengerti dan dibimbing dengan bijaksana oleh kedua orang tua. Alhasil puisi yang dibawakan dengan sangat apik dan syahdu oleh Echa tersebut mampu “menghipnotis” orang tua dan guru yang hadir sehingga terbawa ke dalam imajinasi puisi tersebut.  

(Penulis: Ryn Surya/ Doc: Deni Andriana/Bidang Layanan Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan)

Ketua PA Pacitan “Pikir 1000 Kali Sebelum Bercerai”

Dari tahun ketahun angka perceraian terus mengalami peningkatan yang signifikan, kondisi tersebut memang tidak hanya terjadi di Kabupaten Pacitan, rata di setiap kota di Indonesia. Hingga akhir 2019 Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pacitan memutuskan perkara sebesar 1458 dan kecenderungan terus meningkat.

Sumarwan, Ketua PA Pacitan spesial kepada Diskominfo Pacitan mengatakan umumnya perceraian di tahun 2019 terjadi pada masyarakat yang memasuki usia produktif, yakni antara 20 tahun sampai dengan 40 tahun. Terbanyak pertama dari wilayah Pacitan timur, disusul Pacitan tengah dan Pacitan utara.

“Umumnya masyarakat yang mengajukan cerai dari segi pendidikan lebih banyak didominasi tingkat pendidikan menengah atas (SMA), ada juga sebagian yang Sarjana, dan lebih banyak lagi menegah kebawah (SMP). Kemudian penyebabnya didominasi oleh masalah ekonomi rumah tangga yang tidak tercukupi,” kata Sumarwan hari ini, (21/01/2020).

Meskipun perceraian memang diperbolehkan dari segi agama namun pihaknya mengatakan hal tersebut adalah keputusan yang dibenci Allah, ia mengibaratkan bahwa cerai merupakan pintu darurat dalam sebuah rumah. Bisa dipilih, tapi tatkala tidak ada pilihan lain dan bersifat penyelamatan. “Dalam rumah tangga yang sudah sangat darurat yang sudah tidak mungkin lagi dipertahankan dan sendi rumah tangga sudah rapuh dan hancur maka perceraian adalah jalan keluar dari masalah,” lanjut Dia.

Sumarwan mengklasifikasikan masalah perceraian menjadi tiga motivasi, pertama pasangan yang benar-benar ingin menyelesaikan masalah rumah tangga mereka yang dinilai sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Misalnya KDRT, penelantaran, perselisihan yang sudah tidak mungkin disatukan.

Klasifikasi kedua adalah ketika pasangan yang mengalami keretakan, dalam perjalanannya pasangan tersebut masih bersatu. Namun jika datang orang ketiga maka umumnya salah satu pihak akan berusaha untuk mengurus administrasi perceraian. “Dalam rangka untuk menikah lagi,” lanjut Sumarwan.

Terakhir perceraian yang terjadi karena seseorang ingin keluar dari Status Quo, satu pasangan suami istri tapi pada pergaulannya seperti tidak berpasangan. Umumnya mereka memilih untuk mengakhiri status tersebut, istilah lokalnya untuk membersihkan diri dan umumnya mereka akan fokus dengan masa depannya dan anak-anaknya.

“Berpikirlah 1000 kali untuk bercerai, dan jangan terlalu mudah untuk mengungkapkan kata yang berbau perceraian meskipun dalam situasi permasalahan dan perselisihan sehebat apa pun,” tegas Sumarwan.

Ia pun membagikan lima prinsip yang dapat dilakukan supaya keluarga yang dibina bersama dapat bahagia meski masalah dalam keluarga akan tetap ada. Diawali dengan membiasakan musyawarah saat akan melakukan atau memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga.

Kemudian membudayakan tolong menolong antar pasangan dan anak, hal ini penting untuk meningkatkan rasa saling membantu kesulitan masing-masing. Mengingat tidak ada pekerjaan yang spesifik yang dapat dikerjakan satu orang dalam rumah tangga. Pekerjaan akan lebih baik apabila dikerjakan semua anggota keluarga. “Kecuali hamil dan melahirkan,” katanya.

Tenggang Rasa juga menjadi kiat ketiga dalam menjaga hubungan rumah tangga. Ini penting, Sumarwan mencontohkan bahwa saat seseorang akan melakukan sesuatu supaya memikirkan dampak yang akan terjadi pada pasangan. Jika merasa tidak nyaman maka disarankan untuk tidak dilakukan.

Menciptakan rasa seperti satu badan atau memiliki, artinya ketika pasangan merasa bahagia ataupun sebaliknya pasangan harus merasa sama, begitu juga saat pasangan sedang sakit. Hal tersebut juga menjadi rahasia untuk menjalin keluarga agar selalu hangat.

Kiat terakhir yang harus dilakukan adalah menjaga empat prinsip tersebut dengan kontinu (istiqomah). Dimulai dari pasangan yang sedang menjadi pengantin baru hingga ajal menjemput. Sumarwan mengatakan meskipun cobaan selalu datang silih berganti, “Apabila kita memegang prinsip tadi maka keluarga dapat berdiri kokoh seperti batu karang yang tidak bisa digulingkan oleh ombak samudra sebesar apapun,” pungkas Dia. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bertukar Ilmu; Soimah Bertamu Ke SACPA

Kehadiran Soimah selebritis papan atas Nasional di studio alam Sampang Agung Center for Performing Art (SACPA) Pelem, Pringkuku, Pacitan, pekan kemarin (16/01/2020) semakin menambah semangat siswa-siswi sanggar tersebut untuk lebih mendalami seni.

Soimah bersama timnya tersebut disambut langsung oleh Sukarman seniman legendaris asli Pacitan dan dilanjutkan mengelilingi studio SACPA. Disela kunjungannya perempuan asli Pati, Jawa Tengah itu tanpa ragu memenuhi permintaan selfie keluarga besar SACPA ataupun masyarakat yang datang.

Bermodal tingginya rasa penasarannya terhadap SACPA yang kompak berkesenian bersama masyarakat di Desa Pelem dan banyaknya prestasi yang telah diperoleh membuat Soimah benar-benar datang berkumpul dan menjadi satu.

“Saya salut warga disini antusias berkesenian,” Katanya yang ternyata menganggap Agung Gunawan (Direktur SACPA) seperti kakaknya sendiri, karena kedekatan Agung dengan tantenya Soimah (Tini) sewaktu sekolah di Yogyakarta.

Perempuan yang mempunyai nama panjang Soimah Pancawati itu juga mengajak murid-murid SACPA untuk tekun dan serius dalam berkesenian. Fokus pada karya yang dilandasi rasa cinta  dan kesabaran.

“Cintai seni! Seperti saya sampai saat ini kebetulan seni adalah mata pencaharian utama. Padahal dulu saya tidak pernah punya cita-cita jadi selebritis, blas tidak ingin. Tapi setelah kemudian jadi selebritis ya Alhamdulillah. Saya hanya senang berkesenian. Tambah Dia.

Pada kesempatan tersebut Soimah juga berkesempatan menari Eklek bersama seluruh keluarga besar SACPA, lantaran tarian tersebut membutuhkan tenaga ekstra, maka Mak’e panggilan Soimah tampak terengah-engah. Namun diakuinya bahwa dapat menari Eklek bersama merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan.

 Sementara Dr.Deasylina Da Ary Co-Director SACPA mengatakan, kedatangan Mak’e merupakan isyarat positif penghapus gap antara dunia seni entertainment dengan seni tradisi dengan balutan silaturahmi yang hanggat dan kaya wawasan.

 “Ini merupakan sarana memotivasi anak-anak dan generasi muda, bahwa kerja keras tidak akan menghianati hasil. Selain itu juga menyiratkan kerendahhatian seorang seniman popular yang sangat terkenal di Indonesia, yang mempunyai banyak fans,” pungkas Deasylina. (DiskominfoPacitan).

Kunjungan Pak Menteri Desa, Pertengahan 2020 Semua Desa Full Sinyal

Kehadiran Abdul Halim Iskandar sebagai Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Desa PDTT) dalam Kunjungan Kerja di Kabupaten Pacitan merupakan satu penghormatan dan penghargaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan.

Menteri pertama yang berkenan datang usai dilantik tersebut diharapkan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo membawa perubahan yang signifikan bagi 171 desa dan kelurahan di Kabupaten Pacitan, khususnya bagi 6 desa yang masih tertinggal.

“Dukungan dari pusat masih sangat kami harapkan sekali,” ujar Wabup di hadapan Menteri dan seluruh undangan termasuk seluruh Kepala Desa dan perangkatnya. Hari ini, (16/01/20) di Balai Desa Sirnoboyo, Pacitan.

Menteri Halim dalam sambutannya, mengatakan bahwa usai mendapat mandat sebagai Menteri benaknya langsung tertuju pada Kabupaten Pacitan. Ia tidak tahu alasannya, namun hal tersebut merupakan modal bagi dirinya dan seluruh desa kelurahan di Pacitan untuk bangkit menjadi semakin maju.

“Pacitan semakin kesana harus semakin bagus,” tegas Halim. Dengan kunci utama adalah kepala desa, mengingat, DPRD, bupati, gubernur hingga jajaran menteri hanyalah fasilitator saja. Melalui berbagai upaya konkrit seperti pengetasan Blank Spot.

Karena menurut Halim, sinyal adalah prasyarat wajib untuk membangun desa. Bekerjasama bersama Kominfo ataupun dengan penyedia jaringan telekomunikasi sehingga seluruh kegiatan dapat dilakukan dengan cepat. “Beberapa desa tanpa sinyal pertengahan tahun selesai,” tegas Halim berkomitmen.

Berbagai komitemen yang dilakukan oleh seluruh jajaran pemerintahan merupakan satu harapan nyata bagi desa supaya menjadi maju, dana desa yang kini berada pada angka Rp. 72 Triliun oleh Presiden Joko Widodo rencananya juga akan dilipatgandakan menjadi Rp. 400 Triliun.

Artinya desa mempunyai peluang untuk bertransformasi menjadi desa maju dan kuat melalui keterampilan kepala desa. Sedang seluruh jajaran pemerintah akan mengadvokasi dan memfasilitasi. “Semua fokus ke desa,” pungkas Menteri. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Perumahan Bersubsidi Harus Layak Dan Berseri

Seiring meningkatnya jumlah penduduk di seluruh wilayah termasuk di Kabupaten Pacitan, kebutuhan rumah sebagai tempat tinggal setiap tahun terus mengalami peningkatan. Hal tersebut membuat pemerintah pusat, provinsi hingga kabupaten dan kota melaksanakan pembangunan untuk mencukupi kebutuhan dasar tersebut.

Melalui program stimulan perumahan swadaya, dana alokasi khusus bidang perumahan serta KPR bersubsidi, sistem kredit pembiayaan pemilikan rumah mendapat bantuan dan kemudahan memperoleh rumah dari pemerintah. Berupa dana rumah jangka panjang dan subsidi perolehan rumah yang diterbitkan bank pelaksana baik secara konvensional maupun dengan prinsip syariah.

Selain harus terjangkau bagi masyarakat di Kabupaten Pacitan supaya sesuai dengan daya beli, sebuah perumahan menurut Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo harus Berseri (bersih, sehat, rapi dan indah). sehingga penghuni merasa nyaman disamping rumah tersebut sederhana.

“Kalau rumahnya bersih, hati kita bersih. Kalau rumahnya indah, hidup kita juga indah. Insya Allah rumah tangga juga tentram, dapat menjalani kehidupan lebih baik menuju masa depan,” ujar Wabup saat Launching Rumah Bersubsidi Berkualitas Gunas Abadi Pilar di Desa Sedeng, Pacitan, hari ini (15/01/2020).

Wabup juga berpesan kepada Developer (pengembang) untuk memperhatikan dan mengedepankan prasarana dasar, seperti akses jalan, listrik, air bersih, fasilitas ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Mengingat rumah yang layak menjadi hak bagi seluruh warga Negara Indonesia. Oleh karena itu dengan kemampuan yang ada, maka pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota akan terus menerus membangun perumahan-perumahan rakyat.

“Dengan harapan saudara-saudara kita memiliki tempat tinggal yang layak dalam lingkungan yang baik dan sehat, demi dapat mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin,” pungkas Wabup. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kunjungan Wisata 2019 Over Target

Nampaknya kerja keras Pemerintah Kabupaten Pacitan di bidang andalan yakni pariwisata membuahkan hasil manis, lantaran target kunjungan wisata yang ditentukan kembali tercapai, dengan total kunjungan Rp. 13,059 Milyar dari Rp. 12,5 Milyar target yang disepakati tahun 2019 atau 107 persen.

Tren positif yang ditunjukkan dari tahun ketahun tersebut menunjukkan bahwa pariwisata Pacitan memang layak menjadi andalan minimal di kancah regional, nasional, bahkan mancanegara. Hal tersebut tentu tidak berlebihan lantaran didukung dengan pembenahan di berbagai lini serta update dengan berbagai perkembangan zaman.

“Kerjasama itu berkaitan dengan link. Menghadirkan journey travel agent se Jawa-Bali ternyata dampaknya luar biasa,” kata T. Andi Faliandra Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparora) Pacitan eksklusif kepada Diskominfo Pacitan. Hari ini, Senin (13/01/2020).

Menghadapi tahun 2020, Disparpora ternyata telah menyiapkan gebrakan cerdas untuk memancing wisatawan betah berlama-lama tinggal di Pacitan. Ini tidak sulit, kondisinya yang aman, masyarakatnya yang ramah serta segala kebutuhan yang terjangkau membuat rencana tersebut akan direalisasikan Andi dan jajarannya dalam waktu dekat. “Target kita tamu berkunjung minimal 2 hari 1 malam,” terangnya.

Terlebih kabar beredar menunjukkan target kunjungan akan kembali dinaikkan menjadi 2.650.000 kunjungan atau Rp. 16,6 Miliar, pada tahun ini rata-rata para tamu didominasi wisatawan Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 70 persen, dan sisanya 30 persen Jawa Timur dan mancanegara.

Masalah sarana dan prasarana tetap menjadi perhatian apalagi karakter Andi yang tidak gampang puas dengan hasil kerja, didukung Disparpora sangat berkomitmen membuat nyaman seluruh tamu. Pembangunan dan perawatan selanjutnya akan didukung dengan peningkatan kapasitas SDM pelaku wisata di Pacitan dengan berbagai pertemuan dan pelatihan.

“Termasuk semua lembaga dan instansi yang terlibat disana kita akan beri pelatihan,” lanjut Andi. Dikabarkan berbagai kegiatan akan menghiasi destinasi dengan bermacam-macam festival sepanjang 10 bulan dalam satu tahun.

Menarik jika mengingat program lama tinggal yang akan digalakkan, ditambah puluhan warisan kekayaan seni budaya Pacitan sangat beraneka ragam dan layak untuk dipertontonkan kepada tamu yang datang, ini tentu berimbas langsung kepada masyarakat. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bapenda; Berhasil Cetak Masal SPPT PBB-P2 Diawal Waktu

Pemerintah Kabupaten Pacitan, melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) mulai melaksanakan cetak masal Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan (PBB-P2) oleh Bupati Pacitan Indartato dan Wakil Bupati Yudi Sumbogo di ruang pertemuan Bapenda hari ini, Jumat (10/01/2020).
Kepala Bapenda Pacitan Sakundoko mengatakan jumlah objek pajak pada tahun 2020 sebesar 646.642, dan wajib pajak sebanyak 628.032 lembar. Sementara luas bumi 930.918.759, dan luas bangunan sebesar 5.393.657 sehingga menghasilkan ketetapan sebesar Rp. 17.801.784.592. “Syukur Alhamdulilah Badan Pendapatan Daerah dapat melaksanakan cetak masal lebih awal, karena bisa melaksanakan cetak massal bulan maret,” kata Sakundoko.
Keberhasilan melaksanakan cetak di awal tahun tersebut merupakan capaian untuk target yang diharapkan kepatuhan untuk membayar pajak dapat dimaksimalkan, dengan perhitungan musim yang mendukung para petani untuk membayar SPPT, jangka waktu 3 sampai 4 bulan lebih dari cukup hingga musim panen tiba. “Sehingga tidak membebani masyarakat,” jelas Sakundoko.
Untuk target dari tahun ke tahun lanjut Sakundoko mengatakan target selalu terpenuhi, ia juga mengaku bahwa target malah terlampaui meskipun angka yang diperoleh tidak signifikan. Tanpa terkecuali para wajib pajak yang berada di luar kota, melalui berbagai langkah pihaknya akan melakukan penyisiran sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut dapat diperoleh secara maksimal.
Sementara Bupati Pacitan pada sambutannya menyampaikan apresiasi kerja Bapenda Kabupaten Pacitan dalam menyelesaikan tugasnya dengan berbagai capaian yang diharapkan, dilain target pendapatan Indartato juga berharap data yang dimiliki benar-benar akurat. “Data harus benar,” Tutur Indartato.
Semua itu terlepas dari kinerja Bapenda yang selalu berhubungan langsung dengan para wajib pajak, tidak menutup kemungkinan mendapat persepsi lain dari masyarakat, namun tugas harus tetap dilaksanakan demi Visi dan Misi Pacitan. “Bapenda biasanya dibenci orang karena tukang nagih,” ucap Bupati sambil terkekeh. (budi/riyanto/wira/DsikominfoPacitan).

Soft Opening Shelter Pusat Kuliner PLUT KUMKM Pacitan

Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2020 dirangkaikan dengan senam sehat dan dialog umkm sebagai bentuk promosi dan memperkenalkan pusat kuliner yang ada di PLUT KUMKM pacitan. Layanan kuliner di PLUT KUMKM pacitan merupakan salah satu food court yang menyediakan berbagai menu kuliner yang merupakan produk umkm kabupaten pacitan.

Terdapat sekitar 30 – 50 pelaku umkm kuliner yang akan menyajikan berbagai menu kuliner yang bisa dinikmati di shelter plut kumkm pacitan. Beberapa umkm yang menjual kuliner seperti

  1. Marine food – ayam goreng
  2. Mamels – bakaran sosis pedas
  3. Jagorani – aneka jamur olahan
  4. TigaDee – Pizza
  5. Bakso beranak
  6. Gudeg Jogja
  7. Warsan – Lontong kare
  8. Rawon dan soto pacitan
  9. Ikan laut goreng
  10. Gulai dan opor lontong
  11. Wisnu milk – susu & bakso keju
  12. Pawon pedas – soto lamongan
  13. Bluder manna – roti dan dawet
  14. Samawa cafe – ayam geprek
  15. Sumber roso – es campur
  16. Dare to drink – jus kacang ijo – coklat
  17. Teller duren
  18. Bogati food – roti dan kuliner olahan tepung mocaf
  19. Annisa Fresh Drink dan Coklat Aren Mbah Uti
  20. Sate Laler Pak’e Ismo
  21. Depot Kembang Sore – pecel lele
  22. dan masih banyak lainnya

Bagi anda warga kabupaten pacitan yang ingin menikmati kuliner makanan setiap hari dapat hadir pada Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan . Shelter Plut kumkm pacitan akan beroperasional setiap hari dari pukul 06.00 – 21.00 WIB untuk melayani kebutuhan kuliner masyarakat pacitan untuk makanan yang siap saji, makanan ringan serta jajanan pasar yang sehat dan bersih.

Selain itu shelter kuliner plut kumkm pacitan juga tempat yang cocok untuk nongkrong bersama teman dan keluarga dengan layanan yang mendukung untuk internet yang cepat yaitu wifi.id. tempat parkir juga tersedia, tempat makan yang nyaman serta jaminan service yang baik. Untuk berkuliner di awal tahun 2020 dan seterusnya tidak usah bingung nantinya langsung ke shelter PLUT kUMKM pacitan saja. selain itu tempat ngopi dan makanan juga pasti tersedia

Yuk hadiri nanti pada acara Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan

Awas Bencana Hidrometeorologi Mengancam; Pemda Gelar Apel Kesiapan Pasukan Dan Perlengkapan.

Skenario terburuk dipilih dalam menghadapi segala kemungkinan yang ditimbulkan bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi di Kabupaten Pacitan di musim ini. Bersama TNI, Polri, Satpol-PP, BPBD dan yang lain apel serta gelar pasukan dilaksanakan di Lapangan Peta (09/01/2020).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo mengatakan berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, kewaspadaan harus terus ditingkatkan meskipun rilis resmi menunjukkan gambar positif, tapi alam bisa saja berubah sewaktu-waktu.

“Kita tidak berharap kejadian, tetapi yang kita siapkan kesiapsiagaannya seperti yang kita lakukan. Bukan bencananya tapi sekali lagi kesiapsiagaannya,” kata Didik yang paham betul bencana tidak dapat diprediksi meski dengan alat secanggih apapun.

Pemangku kebijakan kini mengetahui seberapa jauh kondisi seluruh personil baik pasukan hingga seluruh peralatan yang dimiliki. Apalagi Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo yang hadir pada apel tersebut mengatakan, upaya mendasar meningkatkan kewaspadaan dan budaya siaga adalah melalui latihan kesiapsiagaan. “Bersama seluruh aparatur pemerintah daerah dan sebagai langkah koordinasi semua unsur baik relawan dan dunia usaha,” kata Yudi.

Itu berlebihan jika menoleh kebelakang akan kondisi banjir dan tanah longsor yang terjadi 28 November 2016 silam karena sapuan ekor siklon tropis. Sempat beberapa waktu lalu BMKG secara resmi merilis adanya badai di timur Indonesia, meski akhirnya berjalan menjauh dari Indonesia namun hal tersebut membuat pemerintah pusat bersikap.

Mulai melakukan pemantauan rilis resmi baik dari BMKG, BNPB dan PVMBG yang diteruskan dengan pembentukan posko, menyiagakan seluruh aparat pemerintah daerah dan mengkoordinasikan dengan instansi terkait, menyiapkan sarana dan prasarana hingga menyiapkan alokasi anggaran dan menginformasikan potensi bencana kepada masyarakat.

Karena bencana semua dapat hilang dalam sekejap, baik hasil pembangunan yang telah dilaksanakan selama puluhan tahun hingga kondisi psikologi masyarakat yang terdampak. “Semoga dengan apel ini, koordinasi antar pemangku kepentingan di Kabupaten Pacitan semakin kuat dan menjadi tangguh dalam menghadapi ancaman bencana khususnya ancaman hidrometeorologi,” pungkas Yudi. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Lanjutkan Visi Misi; Lantik 77 Pejabat Struktural Dan Fungsional

Untuk melanjutkan Visi dan Misi yang telah disepakati, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan kembali melantik 77 Pejabat Struktural dan Fungsional, siang ini (07/01/2019) di Pendopo Kabupaten Pacitan.

Saat sambutan Bupati Pacitan Indartato menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian yang telah dilaksanakan selama bertugas ditempat lama. “Di Jabatan baru meski tidak cocok mohon sekiranya untuk dipahami,” tutur Indartato.

Bupati juga mengingatkan kepada seluruh ASN agar selalu bekerja dengan sebaik mungkin, mengingat rakyat selalu mengawasi pekerjaan yang dilaksanakan, demi menciptakan kepuasan di seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan pelantikan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, meliputi Kecamatan Bandar, Arjosari dan Donorojo yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Luki Indartato. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Sertijab Kapolres Pacitan

Secara resmi Kapolres Pacitan AKBP. Sugandi. S.I.K., M. Hum digantikan oleh AKBP. Didik Hariyanto. S.I.K, mulai kemarin (05/01/20). Sugandi mulai tanggal tersebut akan berpindah tugas ke Polres Situbondo, setelah menyelesaikan tugasnya di Pacitan selama satu tahun. (DiskominfoPacitan).

Indartato “Pemerintah desa dan pusat harus seia sekata,”

Segudang pekerjaan rumah menjadi beban kepala desa terpilih yang dilantik hari ini oleh Bupati Pacitan Indartato di Pendopo Kabupaten hari ini (06/01/2020), dalam rangka mewujudkan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Bila dijabarkan berbagai kondisi seperti kesenjangan sosial, kebodohan dan kemiskinan harus segera disikapi. Bicara kemiskinan Kabupaten Pacitan masih pada angka 14 persen, jauh ditinggal Nasional dan Provinsi yang berada pada angka 9 persen.

Hal tersebut mendasar lantaran desa merupakan ujung tombak segala bentuk kebijakan nasional. Sudah sepatutnya desa dan seluruh instrumen pemerintahan satu suara dalam berbagai kebijakan yang diputuskan. “Pemerintah desa dan pusat harus seia sekata,” kata Bupati dalam sambutannya di hadapan 113 Kepala Desa terpilih dan seluruh undangan.

Jika merujuk pada arahan Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini mengutamakan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), pembenahan birokrasi dan melakukan transformasi ekonomi. Kemudian ditindaklanjuti Gubernur Khofifah dengan Nawa Bhakti Satya. “Berujung pada menyukseskan tata kelola pemerintahan yang baik (dari desa),” lanjut Indartato.

Sehingga cita-cita menekan angka kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) termasuk harapan lama sekolah dapat terkejar dengan modal utama angka harapan hidup yang tinggi. “Dana desa juga dapat digunakan untuk pendidikan,” tambah Bupati.

Untuk menyukseskan berbagai tugas tersebut kepala desa tidak dapat bekerja sendiri, melalui wewenang yang dimiliki kepala desa harus bekerjasama dengan perangkat desa, tokoh masyarakat termasuk pengusaha. Serta mampu mengimplementasikan berbagai program pusat. “Kepala desa juga harus tetap menciptakan suasana yang selalu kondusif, aman dan tentram,” pungkas Indartato. (budi/anj/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Air PDAM Tetap Aman Di Musim Hujan

Banyak yang bertanya-tanya, amankah mengkonsumsi air Sungai Grindulu yang keruh akibat datangnya turun hujan. Termasuk perusahaan berplat merah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pacitan yang memanfaatkan air dari sungai tersebut untuk pelanggan wilayah kota mengambilnya dari Desa Purworejo, Pacitan.

Direktur PDAM Kabupaten Pacitan Agus Suseno secara tegas menyampaikan kepada Diskominfo Pacitan bahwa air yang dialirkan kepada masyarakat sangat aman. Karena telah memenuhi berbagai proses penyaringan, “Ada proses panjang sebelum kami alirkan,” kata Dia (03/01/20).

Di Kesempatan tersebut ia juga mengaku jika kualitas air saat musim hujan tidak sejernih saat kemarau, begitu juga di 16 instalasi PDAM di 10 kecamatan di Kabupaten Pacitan, rata-rata tingkat kejernihan air pasti menurun. “Tapi masih tahap wajar, aman dikonsumsi,” lanjut Agus.

Tidak hanya itu, Agus juga meyakinkan bahwa PDAM Kabupaten Pacitan adalah perusahaan yang selalu profesional dibidangnya sebagai pelayan yang baik kepada seluruh pelanggan. Setiap bulan uji kualitas air juga tertib dilakukannya sebagai satu standar operasional yang haram jika ditinggalkan.

“Memang waktu-waktu musim hujan inikan peralihan kemarau ke hujan tidak sejernih saat kemarau, tapi sekali lagi pengelolaan sudah memenuhi standar kesehatan sehingga aman dikonsumsi,” pungkas Agus yakin. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Berendam dan Kuliner saja di Jaten

Terletak di di pusat kota yang sejuk menjadi keunggulan kolam renang ini, sehingga cocok menjadi alternatif bagi mereka yang bermacet-macet. Dengan tiga kolam yang bervariasi,  membuat kolam renang ini cocok berendam bersama keluarga di tahun baru.

Setelah lelah berenang anda pun bisa menikmati aneka kuliner yang beragam di dalam area ini, dimasak khusus warga sekitar dengan khas bumbu Pacitan.

Rizki pramudita

SMK N 1 PACITAN

Akses Mudah; Soge Menjadi Pilihan

Pantai Soge adalah salah satu destinasi wisata pantai di Pacitan yang memiliki kemiripan dengan satu pantai Pandawa yang terletak di Provinsi Bali.

Pantai ini menjadi destinasi unggulan karena aksesnya lang mudah. Berada di antara Jalur Lintas Selatan 40 Kilometer dari pusat kota.

Soge selalu dipadati wisatawan khususnya pada hari hari libur seperti libur tahun baru ini. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke pantai soge. Salah satunya adalah wisatawan yang berasal dari Kabupaten Ponorogo. Pamuji, mengaku pantai soge cocok menjadi pilihan saat berlibur bersama keluarga.

“Menurut saya pantai ini bagus dan indah fasilitas yang diberikan juga sesuai dengan harga tiket yang terjangkau, hanya saja kurang nya pepohonan untuk tempat wisatawan berteduh.” Kata pak Pamuji.

Mohammad Hengki Tirana

SMKN Ngadirojo

Ke Watukarung Juga Boleh

Pantai yang memiliki ombak yang dahsyat dan cocok untuk para surfer ini tetap menjadi pilihan wisatawan, lanskap yang indah, didukung keramahan masyarakat dan kuliner yang beraneka ragam menjadi Pantai Watukarung ramai di akhir tahun.

Belum lagi masyarakat sangat menjaga kebersihan dan keasrian pantai, membuat wisatawan disana betah untuk berlama-lama. Sambil bermain di hamparan pantai putih yang dikelilingi karang yang mencuat ke permukaan, semakin menambah eksotisme destinasi ini.

Anggita Nur Fadilah

SMK N 1 Donorojo

Air Coklat; Sungai Maron Tetap Menjadi Pilihan

Sayang, di moment tahun baru air sungai berwarna coklat akibat musim hujan,namun tidak mengurangi animo wisatawan baik dalam maupun luar kota Pacitan untuk datang berkunjung ke Amazonnya Pacitan ini.

Tempat ini mulai dijadikan sebagai tempat wisata sejak tahun 2012 lalu. Sungai yang awalnya hanya menjadi sarana transportasi warga setempat menuju sawah ini dikelola dengan baik sehingga menjadi destinasi wisata pilihan wisatawan yang menginginkan pengalaman baru.

Tarif masuk ke wisata Sungai Maron ini terbilang sangat terjangkau yaitu hanya Rp.5000,00 untuk dewasa dan anak anak tidak dipungut biaya dan parkir untuk roda dua hanya Rp.2000,00 sedangkan roda 4 Rp.5000,00

Para wisatawan yang ingin menyusuri sungai yang memiliki panjang 4 Kilometer ini bisa menyewa kapal Jukung, dapat muat untuk 5 orang dengan sewa mulai Rp. 100.000,00.

“Antusias pengunjung untuk menikmati keindahan sungai ini sangat tinggi, terutama saat momen spesial seperti tahun baru ini”.Kata Arya Taufik Petugas Karcis.(1/1/20)

Danni Wahyudianto

SMKN 1 PACITAN

Manjakan Mata Di Pantai Siwil

Pantai Siwil merupakan salah satu pantai yang ada di timur kota Pacitan, tepatnya di Desa Sidomulyo, Ngadirojo, Pacitan. Pantai ini memiliki keindahan alam yang patut untuk dikunjungi, karena memiliki batu karang yang bagus serta lanskap yang indah dari atas bukit.

Seperti Ado Verdiatama, bersama temannya memilih merayakan tahun baru ke Pantai Siwil karena tempatnya lebih asri dibanding pantai yang lain, Namun sayangnya pantai ini memang masih baru di buka dan akses jalannya masih sulit untuk dilalui.

namun , bukan tidak mungkin Pantai Siwil akan berubah menjadi destinasi wisata favorit karena keindahannya, sejajar dengan Pantai Klayar atau yang lain.

Muhamad Nuralam

Smkn Ngadirojo

Beiji Park Destinasi Instagramable 2020

Tahun baru 2020 memasukkan Baiji Park menjadi destinasi wisata tahun baru yang menarik untuk dikunjungi. Lokasi barat daya tidak jauh dari pusat kota dengan suguhan spot foto menarik. Dapat pula menikmati view kota dari dataran tinggi.

Destinasi wisata keluarga di kecamatan Pringkuku tersebut rampung direhab tahun 2019 ini berhasil memikat wisatawan luar dan dalam kota Pacitan. Bukan hanya tempat berfoto para pengunjung juga menikmati bercengkerama dengan keluarga dibawah rindangnya hutan.

Ida Royani, salah satu pengunjung mengaku tidak rugi datang. Pasalnya kabar Baiji Park yang selama ini didengar dari media sosial tersebut benar-benar istagramable. Bersamaan dengan pernyataan tersebut Ida sekaligus mengupload beberapa foto dimedsosnya.

“Saya suka semua spot foto yang ada disini, di perahu yang besar itu, kita bisa melihat laut Pacitan dari atas, pokoknya keren banget.” Sambungnya menjelaskan pada Diskominfo 01/01/2020.

Ia pun memungkasi obrolan dengan rasa bangga sekaligus pesan pada semua pengunjung dan pemerintah untuk konsisten menjaga keasrian Baiji Park.

Putri Zetha Alviany

SMKN 1 PACITAN

Pilih Nge-Camp Di Srau

Pantai Srau masuk dalam tujuan wisata favorit karena tempatnya yang indah dan perawan, lokasinya di Desa Candi, Pringkuku, Pacitan ini terdiri dari tiga bibir pantai yang dibatasi oleh batu karang.

Satu hal paling spesial dari Pantai Srau adalah pengunjung dapat menyaksikan sunset indah dari bibir pantai. Sunset dapat diamati dari bagian pantai ke tiga. Tidak hanya untuk melihat sunset dan pemandangan dari atas, bukit karang yang menyerupai sabana ini juga dapat dijadikan sebagai spot camping.

Untuk dapat memasuki lokasi wisata Pantai Srau hanya dikenai tarif sebesar Rp 5.000 per orang dengan jam operasional selama 24 jam non-stop sehingga pengunjung dapat dengan leluasa memanfaatkan momen bersantai tanpa gangguan waktu.

“Pantai srau sangat unik karena memiliki bibir pantai yang luas, sehingga meskipun di hari libur banyak pengunjung kita bisa tetap leluasa,” ujar Herfi salah satu pengunjung yang nge-camp kemarin (01/01/20).

Selain itu pengunjung dimanjakan oleh sarana dan prasarana yang lengkap, seperti mushola, pedagang dan toilet, kata Herfi pantai Srau adalah destinasi terbaik untuk bersantai menghabiskan tahun baru khusus bersama teman ataupun keluarga.

Ulfiyana Anggi Saputri

SMK Negeri 1 Donorojo

Pantai Perawan Mbenges

Pantai Mbenges, demikian tempat itu dikenal oleh warga sekitar. Terletak di Dusun Krajan,Desa Jetak, Kecamatan Tulakan. Suguhan pantai perawan dapat ditemui dikedalaman hutan akasia sepanjang 1km dengan jalan tanah berbatu.

Perjalanan panjang dan tidak mudah bukan penghalang wisatawan untuk datang. “Daya tariknya dipemandangan yang masih perawan, pantai baru, membuat saya dan keluarga penasaran,” tutur Wasoso yang mengaku tidak tertipu dengan kabar keindahan pantai Mbenges.

Liburan tahun baru 01/01/20 membuat pantai Mbenges kedatangan banyak tamu wisatawan. Beberapa pengunjung menyayangkan belum adanya penjual makanan disana. Sementara wisata dan kuliner adalah satu kesatuan yang dibutuhkan bersamaan.

Rendi Nanda putra

Smkn ngadirojo

Eksotika Pasir Kerikil Pantai Pidakan

Dari puluhan pantai di Pacitan yang digandrungi pengunjung pada liburan tahun baru 2020 ini Pantai Pidakan adalah salah satunya. Menyuguhkan wisata alam dengan pasir berkerikil membuat pidaka memiliki menu berbeda.

Bukan hanya pengunjung luar kota pertama kali datang yang mengakui keelokannya, beberapa wisatawan dari dalam kota pun masih menyisihkan waktu menikmati libur dibibir Pantai Pidakan Desa Jetak, Ngadirojo, Pacitan.

“Ini kunjungan pertama saya dan keluarga ke Pidakan, dan sangat memuaskan,” ujar pak Eko 01/01/20.

Eko bahkan mengatakan jika ada waktu liburan lagi pasti akan kembali berkunjung ke Pidakan. Kenyamanan dan keasrian masih sangat terjaga.

Dimas Rizqi Reihan

Smkn Ngadirojo

Klayar Tetap Primadona

Pantai Klayar pada pukul 09:00 WIB pada (01/01/2020), setelah selanjutnya pantai dengan pasir putih dan batu karang serta tebing-tebing batu yang mengelilingi ini penuh sesak, jalan menuju lokasi tersebut macet total.

Memang pantai ini selalu dipadati pengunjung khususnya pada saat liburan dan tahun baru. Eka salah satunya, mengaku Pantai Klayar menjadi pilihannya lantaran alamnya yang indah lengkap dengan debur ombak dan seruling samuderanya.

“Pantai klayar sangat bagus pemandangannya dan seruling laut seperti air mancur saat ombaknya datang”. Terang Eka. Apa lagu selfie dengan baground pantai klayar merupakan satu prestise tersendiri pagi siapa saja, terlebih saat momen tahun baru ataupun hari raya.

Yustika Rahmawati

SMKN 1 Donorojo

Selamat Tahun Baru 2020

Satu kesempatan baik menuju tahun baru 2020, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melaksanakan berbagai kegiatan yang meliputi pameran produk UMKM dan IKM, gelar seni dan ditutup dengan pengajian serta doa bersama, memohon berkah untuk tahun baru yang semakin bersinar bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan.

Warga bersama pemerintah yang menjadi satu tersebut pun tampak terhanyut dengan doa tutup dan awal tahun, setelah sebelumnya pengajian bersama DR. H. Zainur Rosikin yang mengemas materi pengajian dengan gaya jenaka..

Mengutip sambutan Bupati di akhir pemutaran kaleidoskop, ia mengajak kepada seluruh pihak untuk  turut serta mensukseskan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan tahun 2020. Satu ajang penting bagi masa depan Kabupaten Pacitan Supaya Pacitan tetap adem, ayem dan tentrem “jadikan kesempatan ini menjadi ajang silaturahmi dan evaluasi diri,” tambah Bupati dalam sambutannya sesaat sebelum menyalakan kembang api. (Tim/DiskominfoPacitan).

Pembangunan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Momen spesial penghujung tahun 2019 menjadi saksi diresmikannya puluhan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Pacitan oleh Bupati Pacitan Indartato. Penandatangan prasasti tersebut meliputi sektor jalan, kesehatan, sarana gedung, sekolah, pasar hingga tugu, pagi ini berpusat di pasar Arjosari (31/12/19).
Inovasi kreatif berupa e-Retribusi juga dilaunching oleh Bupati pada kesempatan itu, menunjukan semakin mantabnya komitmen pemerintah terhadap kesehatan, pendidikan dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pacitan.
Muhammad Yunus Asisten II Bidang Perekonomian Dan Pembangunan, sebagai panitia kegiatan menyampaikan ribuan paket pekerjaan rampung sesuai rencana. Meski ia mengakui kendala yang mungkin ada supaya dibicarakan bersama “Untuk menemukan titik temu sehingga seluruh capaian benar-benar bisa dinikmati masyarakat,” kata Yunus.
Sementara Bupati pada kesempatan tersebut mengatakan peresmian pemanfaatan yang berpusat di pasar arjosari merupakan kebanggan masyarakat di kabupaten pacitan, hasil pembangunan lebih baik dengan bangunan yang lama.
“Sekaligus di pasar Arjosari menjadi awal diberlakukannya e-Retribusi, semoga ini benar-benar bermanfaat,” kata Bupati.
Sementara pembangunan yang berkelanjutan di sektor kesehatan di RSUD dr. Darsono diharap Bupati semakin menambah kualitas pelayanan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan. Termasuk sektor pendidikan SD dan SMP Satu Atap di Desa Karanggede, Arjosari.
Bupati juga menyinggung maksud dibangunnya tugu Parasamya Purnakarya Nugraha di perempatan penceng, ternyata hal tersebut sebagai barometer pemerintah untuk terus melaksanakan pembangunan dengan baik. “Inilah tantangan kita kedepan,” pungkasnya. (Budi/Anjar/Riyanto/Wira/DiskominfoPacitan).

Sambut Tahun Baru, Maksimalkan Pasar IKM Dan UMKM

Masyarakat Kabupaten Pacitan benar- benar terhibur dengan penampilan Denny Cak Nan malam ini (30/12/19), hal itu terbukti dengan alun-alun kota Pacitan yang penuh sesak oleh penonton baik dari dalam maupun luar kota Pacitan.

Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan memang berkomitmen memberikan hiburan kepada masyarakat dan wisatawan yang menikmati libur tahun baru dengan suguhan terbaik melalui bingkai Gelar Kreasi Seni, Produk UMKM dan IKM asli kota 1001 goa ini.

Sehingga selain menghibur, pasar UMKM dan IKM Pacitan semakin memperoleh kesempatan, yakni pasar yang lebih luas. Dilain sisi gelaran selama tiga hari ini semakin meyakinkan khalayak atas komitmen Pemerintah Kabupaten Pacitan sebagai kota pariwisata.

Tari Krenova menjadi pembuka acara sekaligus menjadi penanda kedatangan Bupati Pacitan Indartato beserta rombongan, dilanjutkan dengan membuka secara resmi pameran produk UMKM dan IKM.

Tidak cukup sampai disitu, band terkemuka Mahameru dari Solo Provinsi Jateng, turut memeriahkan acara tersebut, penonton pun seakan terhanyut seluruh penampilan yang tersaji, didukung dengan cuaca yang bersahabat malam itu.

Tidak ketinggalan, kesenian Kethek Ogleng asli Kabupaten Pacitan menunjukan performanya di atas panggung, hal tersebut menunjukkan hadirnya pemerintah dan komitmen terhadap seluruh potensi Kabupaten Kabupaten Pacitan.

Di malam yang spesial tersebut Bupati juga berkesempatan menyerahkan hadiah kreatif inovatif kepada para pemenang.

Kepada insan media Bupati berharap dari kegiatan ini dapat memicu pasar UMKM dan IKM yang lebih luas. “Begitu juga pertanian, mengingat pertanian merupakan ibu dari semua kegiatan yang ada, hari ini kita juga pamerkan,” kata Dia (tim/DiskominfoPacitan).

Bahaya! Jangan mengunjungi Lokasi Pantai Antara Pancer Dan Teleng.

Wisatawan benar-benar dihimbau untuk tidak berkunjung ke area kosong antara pantai Pancer Door dan pantai Teleng Ria atau belakang arena Pacuan Kuda. Titik kosong tersebut selain tidak ada penjagaan ternyata dibawahnya terdapat pusaran air bawah yang cukup membahayakan wisatawan yang berkunjung lalu tiba-tiba berenang.
“Perenang profesional saja bahaya berenang disitu,” ujar T. Andi Faliandra Kepala Disparpora Pacitan kepada Diskominfo, Usai melaksanakan pemasangan rambu tanda bahaya, bersama Polres Pacitan yang memasang Police Line di sepanjang lokasing tersebut.
Rapat koordinasi bersama jajaran terkait tersebut dilakukan usai adanya 2 korban meninggal asal Jombang, akibat memaksakan diri berenang di area kosong tersebut. kemarin Sabtu (27/12/19).
Andi melanjutkan pemasangan rambu peringatan itu saat ini hanya bersifat sementara, ke depan pihaknya akan memasang tanda yang bersifat permanen. “Makanya kita tidak kembangkan karena daerah tersebut sangat berbahaya untuk dikunjungi,” pungkasnya. (timDiskominfoPacitan).

Duta Wisata 2019 Dorong Seni, Budaya Dan Wisata Pacitan

Satu ajang bergengsi bagi para kaum milenial di Kabupaten Pacitan kembali dilaksanakan Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan. Guna melanjutkan visi dan misi memajukan kepariwisataan di dalam nuansa Gala Night Kethuk Kenang 2019. Juga demi mengemban satu nama besar Pacitan Paradise Of Java.

Disparpora Pacitan mengemas ini begitu spesial. Spektakuler, karena digelar di Alun-alun Kota Pacitan sekaligus menjadi pembuka rangkaian Gelar Kreasi Seni Produk UMKM Dan IKM Yang juga akan dimeriahkan artis yang lagi naik daun Denny Caknan.

Duta wisata yang terpilih setahun kedepan akan memikul tugas berat, utamanya mengembangkan dan memajukan kepariwisataan yang dipunyai Pacitan, baik melalui program kerja dari Disparpora maupun inovasi yang mereka miliki.

Kadis Disparpora sekaligus Ketua Panitia Kegiatan, T. Andi Faliandra pada sambutannya menyampaikan pemilihan kegiatan bergengsi ini telah dimulai sejak bulan September lalu. Menyaring muda-mudi terbaik dari 12 kecamatan, yang nanti akan menyisakan 6 Kenang dan 6 Kethuk. “Nanti akan mengembangkan seni, budaya dan tentu pariwisata Pacitan,” katanya kemarin malam (29/12/19).

Bagi Guntoro dan Avi Vivilana Kethuk Kenang 2018, setahun masa jabatannya mereka habiskan untuk promosi dengan memanfaatkan sosial media (Medsos). Tugas terberat yang tidak ada habisnya adalah mengenalkan pariwisata Pacitan kepada generasi muda. “Supaya mereka juga turut menjaga dan ikut promosi,” kata Avi dan Guntoro usai mereka berpamitan.

Dari seluruh rangkaian penilaian, akhirnya Kenang finalis atas nama Ferdytian Yogi dan Kethuk Novika Mei One Saputri terpilih menjadi Duta Wisata 2019. Kepada Diskominfo Pacitan mereka mengatakan secepatnya akan memviralkan satu demi satu seni, budaya dan pariwisata Kabupaten Pacitan. “Kami juga akan menggelar sharing untuk menambah pengetahuan terhadap kepariwisataan kepada semua pelaku wisata,” terang mereka. (budi/Rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Luncurkan Gaspol; Polres Pacitan Bertekad Beri Layanan terbaik Untuk Masyarakat

Polisi Resor Pacitan (Polres Pacitan) berinovasi dalam rangka melayani masyarakat dengan meluncurkan Aplikasi Gaspol (Kegiatan Sambang Polisi Pelayanan Polres Pacitan). Layanan berbasis TI ini nantinya akan memudahkan masyarakat mulai surat kehilangan, laporan, saran maupun pengaduan, informasi pelayanan kepolisian bahkan pelayanan SIM, pajak ranmor, SKCK.

Kapolres Pacitan, AKBP Sugandi mengatakan hal tersebut sebagai langkah awal untuk memicu investasi dan menambah lapangan pekerjaan sesuai dengan arahan Presiden. “Target besar bagaimana pelayanan publik mudah, murah dan cepat. Dengan mengandalkan teknologi informasi yang dapat dijangkau seluruh masyarakat,” kata Sugandi saat Launching Gaspol di gedung Karya Dharma hari ini (27/12/19).

Dengan menggandeng Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Pacitan (Diskominfo Pacitan) aplikasi Gaspol dapat langsung digunakan oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan dengan tampilan Website maupun di download melalui Playstore yang mudah dimengerti semua kalangan dan  usia. “Nanti Polsek-Polsek terlibat, supaya menjadi pelayan hingga pelosok-pelosok desa,” lanjut Sugandi.

Seperti Wadah Aspirasi Dan Pengaduan Layanan Secara Elektronik Kabupaten Pacitan (Wadule Pacitan) yang dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui kritik dan saran. Gaspol selanjutnya diharap bisa bersinergi dengan instansi lain untuk memaksimalkan laman yang telah dibangun itu.

Bupati Pacitan Indartato mengapresiasi langkah Polres tersebut, mengingat Gaspol mampu menambah khasanah pelayanan yang cepat di kabupaten Pacitan, apalagi jika mau kembali pada tiga prinsip sebuah negara, yakni menciptakan keamanan dan ketertiban, kesejahteraan, dan penengah jika terjadi perselisihan.

Di era disrupsi ini Bupati menegaskan bahwa seluruh instansi pemerintahan harus cepat dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Itu terbukti dengan dibentuknya SMS Center pada tahun 2012, sebagai cikal bakal Wadule Pacitan. Dan disempurnakan dengan berdirinya LikIn (Aplikasi Terintegrasi Pemerintah Kabupaten Pacitan) dibawah Diskominfo Pacitan.

“Inilah komitmen kami dalam melayani masyarakat dengan informasi yang kami sampaikan,” kata Bupati. diluncurkannya Gaspol tentu merupakan capaian yang luar biasa Polres Pacitan untuk pelayanan terbaik seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Pacitan tanpa terkecuali. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Kabupaten Pacitan Tidak Kenal Mayoritas Dan Minoritas

Di Kabupaten Pacitan pemeluk agama non muslim hanya sekitar 2 persen dari jumlah total masyarakat yang ada, namun itu tidak membuat mereka merasa tidak nyaman dan terganggu. Mereka dapat hidup berdampingan, dapat melaksanakan semua kegiatan termasuk saat perayaan Natal yang dilaksanakan hari ini (25/12/19).

Usai perayaan natal di Gereja Bethel Indonesia (GBI) di kelurahan Pacitan Pendeta Suwandi mengaku, semua elemen masyarakat dan pemerintahan begitu perhatian untuk segala kegiatan peribadatan agamanya.

“Kami mendapat perhatian dari semua unsur dari bapak-bapak pengaman baik Polisi, TNI dan Satpol PP. Mereka selalu berada di tengah-tengah kami,” katanya lega.

Pada perayaan Natal ini pemeluk Nasrani mengambil tema “Hidup adalah sahabat bagi semua orang”. Tema tersebut dinilai semakin memantapkan kota seribu satu goa ini dalam perbedaan, tidak sedikitpun mengurangi adem ayem dan tentram yang menjadi ciri khas masyarakatnya.

Di Hari sebelumnya (24/12/19), Bupati Pacitan Indartato melaksanakan Patroli Motor bersama unsur TNI dan Polri. Sinergitas tersebut sangat perlu diadakan untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat perayaan natal dan tahun baru.

Dari rilis laman Humas Pemkab Pacitan Indartato melaksanakan patroli hingga Kecamatan Punung, meninjau langsung gereja yang ada di sana. “Pacitan harus tetap kondusif di semua momentum,” tutur Indartato.

Sementara Kepala Kementerian Agama Pacitan Muhammad Nurul Huda mengatakan, di Pacitan tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas semua dapat hidup berdampingan tanpa adanya gesekan yang berarti. “Kami merupakan wadah bagi seluruh agama,” ujar Huda. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jauh Dari Belanda; Memilih Liburan Di Pacitan

Rich dan keluarganya enggan menyia-nyiakan kesempatan libur panjang Natal dan tahun baru cukup di negaranya Belanda.

Ia, Ibu Koen Hariga dan adik-adiknya lebih memilih berjalan-jalan ke Indonesia selama 20 hari, salah satunya menikmati indahnya pantai di Kabupaten Pacitan.

“Aku dan keluarga sangat menikmati segalanya disekitar selama disini (Pacitan),” kata Rich usai di translate ke bahasa Indonesia saat diwawancara di salah satu cafe (24/12/19).

Ditanya soal kemajuan kepariwisataan Pacitan, ia mengaku tidak banyak yang harus perbaiki, karena Rich yang bekerja di jasa konstruksi tersebut sudah cukup mengagumi keasrian Pacitan. “Kita datang kemari karena disini masih alami,” lanjutnya yang memiliki nama panjang Rich Haringa itu.

Keluarga tersebut mengaku enggan cepat-cepat meninggalkan Pacitan, selain masih banyak destinasi wisata yang belum dikunjungi Rich sangat menikmati keramahtamahan masyarakatnya. (Budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hebat! Dinas PUPR Pacitan Selesaikan Program Pembangunan Tahun 2019

Penghujung tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang (PUPR) menyelesaikan pembangunan dengan pagu anggaran mencapai 156 Miliar. Program tersebut sesuai target yang diharapkan melalui tiga Bidang dengan 15 program dan 54 kegiatan.

Bidang Bina Marga fokus pada tiga kegiatan, mulai pembangunan, rehabilitasi jalan dan rehabilitasi infrastruktur jalan. Pada tahun ini Muhammad Muslih Kepala Bidang Bina Marga mengatakan fokus lebih pada perbaikan area Black Spot yang memiliki kerawanan kecelakaan tinggi, sedang kewenangan jalan kabupaten di Pacitan sepanjang 798 Kilometer.

“Seperti jalan Bangunsari-Ngadirejan kilometer 300 Desa Sedeng, sering terjadi laka lantas karena kondisi tikungan yang tajam kita perbaiki. 2019 insya Allah selesai,” beber Muslih kemarin (19/12/19) kepada Diskominfo Pacitan.

Bina Marga juga memprioritaskan pembangunan sesuai dengan kesepakatan Musrenbang. Meski konsentrasi utama adalah pembangunan penghubung akses wisata utamanya di tiga desa di Kecamatan Pringkuku, yakni jalan penghubung Desa Dadapan dan Desa Watukarung serta Desa Dersono.

“Kita prioritaskan kawasan wisata utamanya pantai dan karst,” lanjut Muslih. Menegaskan pembangunan di tiga desa tersebut juga kelar di tahun 2019. Sementara pembangunan jembatan, seperti di Desa Gunungsari yang dipastikan selesai pada tahun 2020.

Sementara untuk mempercantik kawasan kota, pembangunan trotoar menjadi pekerjaan utama Bidang Cipta Karya. Dengan total pembangunan sepanjang 2 kilometer, dan ditambah pembangunan fasilitas MCK untuk mendukung pelayanan pada masyarakat dan wisatawan.

“Kita juga melaksanakan pembangunan gedung dan rehab. Salah satunya yang tuntas adalah pembangunan gedung Badan Kepegawaian Pembangunan Sumber Daya Manusia (BKPPD) dan Balai Kelurahan Pacitan yang masuk pada tahap 2,” ungkap Tonny Setyo Nugroho Kasi Tata Bangunan.

Melihat fenomena kekeringan di setiap musim kemarau, Seksi Penyehatan Lingkungan Dan Air Bersih Bidang Cipta Karya tanggap dengan memaksimalkan sumber air bersih supaya dapat digunakan oleh masyarakat. Pembangunan tersebut dilaksanakan secara bertahap dan difokuskan di titik kekeringan paling parah.

Tiga pilar Pengelolaan sumberdaya Air pertama konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air dan pengendalian daya rusak air. Lebih lanjut Yudo Tri Kuncoro Kepala Bidang Sumber Daya Air menjelaskan pilar-pilar pengelolaan tersebut akan diwujudkan dalam 2 program yakni pengelolaan dan pengembangan jaringan irigasi, rawa dan jaringan sumberdaya air laut serta program pengembangan dan pengelolaan konservasi sungai dan danau. Program pertama diwujudkan dalam 6 kegiatan sebanyak 102 paket pekerjaan, mendapatkan alokasi anggaran kurang lebih 20 Milyar.

Pada program kedua terdapat 4 kegiatan sebanyak 27 paket pekerjaaan dengan alokasi anggaran 6 Milyar. Menurut Yudo, Yang menjadi prioritas adalah rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan Embung. Hal ini sebagai wujud dukungan pada program pemerintan yaitu penciptaan lahan baru sebesar 1 juta Hektar tersebar di seluruh Indonesia. “Untuk irigasi target kita seluas 160 Ha/tahun tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan, sampai saat ini sudah 488 Ha dengan target 2019 seluas 480 Ha,” terang Yudo.

Dampak positif dari kemarau panjang di Pacitan adalah pada percepatan pembangunan sehingga target terpenuhi, seperti rencana 17 Embung, di tahun 2019 dapat menyelesaikan 18 Embung. Pihaknya berharap   terwujudnya konsep pengelolaan Sumberdaya air yang benar, yakni menampung semaksimal mungkin, meresapkan, dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerusakan. Secara spesifik Yudo berharap dengan adanya Embung dapat menjadi penyedia air baku dan berfungsi sebagai konservasi.

Kepala Dinas PUPR Pacitan Edy Yunan Ahmadi mengatakan hingga kini tidak ada kendala berarti pada puluhan kontrak yang dikerjakan bersama pihak ketiga tersebut, begitu juga dengan proses administrasi, meski ada keterbatasan tenaga di bidang tersebut namun diharapkan dapat rampung sesuai dengan kesepakatan.

Dari keseluruhan anggaran tersebut konsentrasi berada pada kesempurnaan pekerjaan, sehingga apa yang telah dikerjakan memiliki kesamaan persepsi dengan masyarakat. Sesuai dengan fokus yang ada, baik mendukung pariwisata, pertanian dan perikanan dan kelautan. Sesuai dengan komitmen kepala daerah tersebut masuk dalam program jangka panjang yang ditargetkan selesai tahun 2028. “Pada prinsipnya kita mengerjakan kegiatan-kegiatan yang direncanakan RPJMD dan RPJP,” pungkas Yunan. (budi/anj/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pantau Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal Dan Tahun Baru

Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2019 Bupati Pacitan Indartato bersama wakilnya Yudi Sumbogo memantau langsung harga bahan pokok di Pasar Arjowinangun dan Pasar Kelapa Pacitan. Dilaksanakan pagi tadi (20/12/19).

Dari temuan yang didapat di dua pasar tersebut Indartato mengakui beberapa harga bahan pokok diakui naik, namun pihaknya bersyukur karena masih dalam kategori wajar.

Untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan dalam perayaan ini, pemerintah jika perlu akan melakukan operasi pasar secara berkelanjutan. “Saya berharap kepada masyarakat (Pedagang) supaya menjaga kestabilan harga. Jangan sampai kekurangan dalam rangka menghadapi Natal dan Tahun Baru,” kata Bupati.

Sementara untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas Elpiji diakui Bupati dalam kondisi aman. Ia juga berharap kepada Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) untuk buka 24 jam selama momentum tersebut.

Hal ini guna mengantisipasi arus mudik yang terjadi dan tingginya lonjakan wisatawan yang bakal bertamu ke Kabupaten Pacitan. “Yang pasti kami sudah mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan,” tambah Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jaga Sumber Air Tetap Mengalir, Indartato Bersama-Sama Tanam Ribuan Pohon Produktif Di Kali Mason

Pohon aren yang memiliki sifat menahan air ditanam Bupati Pacitan Indartato tepat diatas sumber mata air sungai mason, di Dusun Krajan Lor, Desa Mantren, Kecamatan Punung. Gerakan Tanam Pohon Nasional 2019 ini digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, melibatkan semua unsur pemerintahan, tokoh masyarakat hingga pelajar.

Mata air sungai mason memiliki peran vital bagi masyarakat baik yang berada di Kecamatan Punung, Donorojo bahkan hingga Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Kata bupati setiap hari lima sampai enam tangki diambil untuk dikirim kepada masyarakat yang mengalami kekeringan. “Satu bulan ini saja sudah diambil 1100 tangki,” kata Bupati (19/12/19).

Pemerintah ingin berbagai program pelestarian alam terus dilakukan secara berkelanjutan, baik di wilayah yang mengalami kerusakan maupun di lokasi-lokasi sumber mata air. Mengingat krisis air bersih terus mengancam disetiap musim kemarau.

Indartato juga meminta kepada semua Camat Kabupaten Pacitan untuk terus memonitor pohon yang telah ditanam, minimal selama setahun usai penanaman.

Setidaknya tahun 2019 Kabupaten Pacitan telah menanam sebanyak 1.628.377 bibit, baik tanaman produktif atau pun tanaman konservasi. Tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan yang umumnya ditanam di hutan rakyat.

Melihat itu Indartato meminta kesadaran masyarakat untuk memahami kondisi alam saat ini, masyarakat harus terlibat menjaga dan merawat pohon, supaya ditahun yang akan datang masyarakat tidak mengalami kekeringan lagi. “Kami meminta kepala desa dan perangkatnya untuk turut menjaga tamanan ini,” pungkas Indartato. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tugu Parasamnya; Simbol Keberhasilan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.

Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha akhirnya selesai dibangun, prasasti tepat berdiri di tengah Perempatan Penceng, salah satu pusat lalu lintas kota Pacitan. Banyak masyarakat banyak yang belum tahu apa itu Parasamya.

Kasi Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Tonny Setyo Nugroho kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, Tugu Parasamya merupakan satu simbol kerja pemerintah bersama masyarakat Kabupaten Pacitan yang telah berhasil menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan bersama. Diserahkan Presiden kepada Gubernur, Walikota ataupun Bupati.

Meski proses perencanaan pembangunan sempat mengalami berbagai pro dan kontra, namun bersama dengan berbagai tokoh termasuk budayawan akhirnya pembangunan tugu tersebut akhirnya disepakati.

Untuk proses pengerjaan lanjut Tonny menghabiskan waktu selama 3 bulan, dengan anggaran sebesar 478 juta Rupiah. Hal tersebut lantaran seluruh kualitas material menggunakan bahan terbaik. “Kita menggunakan pondasi dalam, kemudian ada beton. Serta kita finishing dengan marmer,” paparnya hari ini (18/12/19).

Secara umum pembangunan sudah selesai dikerjakan, namun tugu itu belum sepenuhnya dapat dinikmati khususnya di malam hari, lantaran lighting yang dipasang ternyata belum sesuai dengan konsep awal, “Terpaksa kita kembalikan. Karena Lighting kita khusus, jadi harus kita instal dengan baik untuk memberikan keindahan yang sempurna,” pungkas Tonny. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hari Ibu Ke-91; Dorong Pemangku Kepentingan Tingkatkan Kualitas Perempuan Indonesia

Hari Kebangkitan Perempuan atau Hari Ibu ke-91 kembali dirayakan Pemerintah Kabupaten Pacitan, dengan berbagai kegiatan termasuk Upacara Bendera, dilaksanakan di Halaman Pendopo Kabupaten pagi ini (17/12/19), dipimpin langsung Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo.

Pada sambutannya Sumbogo mengatakan, perempuan merupakan sumber daya potensial yang dapat mendorong pembangunan bangsa, harus mendapat tempat untuk berperan aktif sehingga mereka tidak hanya sebagai pengguna hasil pembangunan semata. “Perempuan harus berperan aktif di segenap aspek pembangunan nasional,” ucap Dia.

Perempuan memiliki hak yang sama dan integral dengan hak asasi manusia. Oleh karenanya perlu tetap dipelihara kodrat, harkat dan martabatnya sebagai ibu bangsa yang berhasil membina keluarga yang harmonis dan sejahtera.

Melalui tema “Perempuan Berdaya Indonesia maju” diharap dapat memicu seluruh lapisan pemerintahan agar berkomitmen meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia.

Hari Ibu juga dirangkaikan dengan hari Bela Negara ke-71 yang jatuh setiap 19 Desember. Ini adalah upaya menghormati dan mengajak semua warga Negara untuk senantiasa membela Negara, bahkan melebihi panggilan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

“Kesadaran bela Negara berakar pada nilai-nilai luhur bangsa, harus tertanam dalam jiwa dan raga seluruh warga Negara atau bangsa Indonesia sejak dini melalui pendidikan serta aksi nasional bela Negara diberbagai bidang. Melalui cara inovatif dan adaptif dengan perkembangan zaman,” jelas Sumbogo.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) juga diperingati hari ini, merupakan peristiwa penting bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia yang selalu diperingati pada tanggal 20 Desember. HKSN adalah sarana melestarikan nilai moral untuk tolong menolong dan gotong royong.

“Indonesia adalah Negara dengan masyarakat majemuk, dengan bermacam suku, ras, warna kulit dan agama. Kita tidak boleh terkotak-kotak karena perbedaan itu,” tambah Sumbogo.

Upacara diakhiri dengan penyerahan penghargaan yang diraih Kabupaten Pacitan, mulai penghargaan Kabupaten Peduli HAM 2018 dari Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI. Sentono Genthong memperoleh Juara III Tingkat Provinsi kategori Desa Wisata dan Juara Harapan II Tingkat Nasional pada Lomba Desa Wisata. SDN 1 Ploso Pacitan, SMPN 2 Kebonagung dan SMKN 1 Nawangan sebagai sekolah Adiwiyata mandiri tahun 2019. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pengentasan Kemiskinan Masih Menjadi Prioritas

Pemkab Pacitan tetap berkomitmen untuk terus mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Pacitan. Demikian disampaikan Bupati Pacitan Indartato saat melakukan tilik warga di Desa Bangunsari Kecamatan Bandar, hari ini, Jum’at (13/12/2019).
“Di sisa masa jabatan saya sebagai Bupati Pacitan, dengan program-program pengentasan kemiskinan yang telah kita jalankan selama ini mudah-mudahan bisa terus mengurangi jumlah warga miskin di Pacitan” ucapnya.
Lebih lanjut, bupati yang telah menjabat 2 periode ini menjelaskan bahwa salah satu prioritas pengentasan kemiskinan adalah meningkatkan akses pendidikan. ” Anak-anak harus disekolahkan. Kalau kurang biaya akan dibantu pemerintah. Dengan bersekolah mereka akan menjadi pintar. Dengan pintar maka akan bisa memperbaiki taraf kesejahteraannya” jelasnya.

Tilik warga di Desa Bangunsari Kecamatan Bandar difokuskan di dua dusun yang kategori terpencil yaitu Dusun Sepring dan Sono. Dusun diujung perbatasan ini berpenduduk
572 jiwa 167 KK,.
Dalam tilik warga kali ini Bupati menyerahkan berbagai bantuan diantaranya bantuan sembako, bantuan pangan, semen, APK. Juga diserahkan KTP elektronik bagi warga setempat. (arif/danang/humas pacitan/kominfopacitan/pemkabpacitan)

Kompetisi Jawara 2019; Dampingi 50 Wirausaha Muda Yang Ingin Sukses

Kompetisi Jawara 2019 memasuki tahap ke-2, dari 300 peserta tahap sebelumnya telah menyisakan 120 peserta, mereka bakal mempresentasikan ide dan gagasan berwirausaha di hadapan para penguji untuk merebutkan 50 tiket di tahap ke-3.

Kegiatan bergengsi di Kabupaten Pacitan tersebut didukung United States Agency for International Development (USAID), adalah badan independen dari pemerintahan Amerika Serikat yang mendukung bantuan baik dibidang ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan untuk negara-negara lain didunia.

Robert Gardnier Management Advisor Prestasi Junior Indonesia USAID, usai memberikan materi merasa senang dapat bertatap muka langsung dengan pemuda Pacitan, karena para peserta adalah poros bisnis Kabupaten Pacitan. “Mereka harus mempunyai pengetahuan dan percaya diri,” terang Robert di Gedung Karya Dharma kemarin (10/12/19).

Menurut Robert kepercayaan diri menjadi satu hal penting untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri, dengan mental tersebut orang akan tumbuh keberanian sehingga Usaid dan Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro (DinKOP Dan UM) Pacitan tinggal menginstalasi pengetahuan baik manajemen maupun yang lain.

“Harapannya dengan membuka bisnis lebih baik untuk diri mereka sendiri, baik untuk keluarga, untuk komunitas, dan untuk ekonomi Pacitan, karena lebih banyak uang disini” tambah Robert dengan logat khas bule.

Sementara Eny Setiorini Kepala DinKOP dan UM Pacitan mengharap peserta tumbuh motivasi mengikuti kegiatan tersebut demi usaha yang digeluti. “Jangan sia-siakan kesempatan ini, mengingat di tahap ke-3 ada pendampingan selama enam bulan,” pungkas Eny. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

2019 Disdukcapil Pacitan Berhasil Penuhi 94 Persen Permohonan Dokumen Kependudukan

Dari target yang ditentukan Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pacitan berhasil memenuhi 94 persen dari jumlah total wajib E-KTP 476.718 jiwa, 6 persen sisanya optimis terpenuhi akhir Desember nanti.

Animo masyarakat dalam memenuhi administrasi kependudukan di Kabupaten Pacitan juga dinilai sangat baik, meskipun terkendala kondisi geografis dan tenaga kerja diluar kota membuat instansi tersebut harus menciptakan berbagai inovasi untuk menyikapinya.

Kepala Disdukcapil Supardiyanto kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, meski terhalang oleh jumlah petugas namun secara bertahap seluruh permintaan perekaman dan yang lain dapat terpenuhi. Walau angka 100 persen sukar diperoleh, lantaran usia 17 tahun selalu bertambah tiap harinya, yang membuat selalu ada permintaan baru.

“Banyak masyarakat yang belum memenuhi dokumen kependudukan utamanya yang E-KTP masih berada di perantauan. Sehingga dia akan mengurus dihari raya atau libur panjang,” kata Supardiyanto (10/12/19). Membuat petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut agar permintaan dapat terlayani dengan baik.

Sebenarnya proses tidak membutuhkan waktu lama, namun seperti E-KTP yang membutuhkan blanko ketersediaannya sangat terbatas. Ini membuat Disdukcapil harus selektif memprioritaskan masyarakat yang paling membutuhkan.

“Kami selalu mengajukan permintaan blanko. Misal kita mengajukan 10.000 biasanya kita hanya mendapatkan sekitar 500, segitu 2 hari sudah habis,” ungkap mantan Kepala Satpol PP tersebut.

Kondisi demikian memang harus disampaikan kepada masyarakat. Supaya tidak menuai pemahaman yang salah terhadap pelayanan primer di Kabupaten Pacitan. Karena Disdukcapil sangat paham akan pentingnya dokumen kependudukan.

Di Tahun 2020 Disdukcapil mengharap masalah blanko dapat terpenuhi sepenuhnya, sehingga kebutuhan dokumen kependudukan masyarakat di Kabupaten Pacitan dapat terpenuhi tanpa harus lama menunggu. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Sering Sabet Penghargaan; Diskominfo Ponorogo Melawat Ke Diskominfo Pacitan

Dinas Kominfo (Diskominfo) Ponorogo mengaku merasa perlu belajar bersama dengan Diskominfo Pacitan, dalam rangka meningkatkan pelayanan utamanya di bidang informasi kepada masyarakat melalui lawatannya hari ini (09/12/19).

Disambut langsung Kepala Diskominfo Pacitan Rachmad Dwiyanto beserta Pejabat dan Staf di ruang pertemuan PPID Diskominfo Pacitan, tampak suasana silaturahmi yang penuh keakraban tampak dari kegiatan tersebut. “Kami merasa perlu menyerap apa yang Ponorogo belum ada,” ujar Wahyu Paripurnawan Sekretaris Diskominfo Ponorogo.

Diskominfo Ponorogo merasa tidak perlu belajar jauh-jauh ke kota lain, pasalnya selain bertetangga Wahyu merasa antara Ponorogo dan Pacitan begitu pantas jika disebut keluarga dekat, baik secara kultur dan sosial. Membuat proses study tiru sangat mudah dipahami.

Semantara Rachmad usai sambutan mengatakan, tidak ada yang spesial dari Diskominfo Pacitan, sepintas seluruh program, agenda bahkan anggaran hampir sama dengan Diskominfo Ponorogo. Namun kebetulan setiap tahun Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi (PPID) Kabupaten Pacitan selalu mendapat nominasi dari Komisi Informasi (KI) Jatim.

“Kami mewakili Pemkab Pacitan sangat mengapresiasi Diskominfo Ponorogo dalam rangka mensinkronkan segala potensi maupun kendala yang berkenaan di Dinas Kominfo,” kata Rachmad.

Untuk dua Bidang yakni Informasi dan Statistik Diskominfo Pacitan yang dinilai lebih baik oleh Diskominfo Ponorogo dengan inovasi yang dilakukan, menurut Rachmad semua hal tersebut terpenting ada terlebih dahulu. “Untuk kualitas kita perbaiki sambil berjalan. Misalnya Dashboard, minimal saya atau Bapak Bupati dapat mengakses dulu,” lanjutnya.

Rachmad tegas mengatakan bahwa Pacitan sangat terbuka untuk kegiatan belajar bersama tersebut, hal ini semata demi menjadi pelayan masyarakat yang baik. “Kita mungkin hanya lebih baik nol koma sekian persen saja,” tandas Rachmad. (DiskominfoPacitan).

Sentono Genthong Destinasi Terbaik se-Jatim

East Java Culture and Tourism  Award 2019 menobatkan Sentono Genthong menjadi destinasi wisata alam terbaik III se-Jawa Timur.

Anugerah tersebut diserahkan Gubernur Jawa timur Khofifah Indar parawansa kepada Bupati Pacitan Indartato, Jumat kemarin (06/12/19) di Harris Hotel and Conventions Surabaya.

Secara nyata capaian tersebut semakin mematangkan pariwisata Pacitan di kancah regional. “Kami akan terus meningkatkan pariwisata demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Indartato.

Indartato juga mengapresiasi capaian tersebut, semua dapat diraih karena buah dari usaha yang dilakukan. Ia berharap sektor wisata benar-benar dikembangkan secara menyeluruh.

“Semoga dengan penghargaan ini bisa memotivasi dalam rangka memaksimalkan semua potensi pariwisata kita,” tambah Indartato. (DiskominfoPacitan).

PAUD AZ-ZALFA KEMBALI GANDENG MOBIL PUSLING DINAS PERPUSTAKAAN KABUPATEN PACITAN

Membacakan buku cerita dan dongeng kepada anak usia dini merupakan salah satu kegiatan sederhana sebagai awal pengenalan dan menumbuhkan literasi pada anak. Paud Az-Zalfa sebagai salah satu lembaga pendidikan usia dini,  begitu kencang melancarkan program literasi di lembaganya. Salah satunya dengan mengadakan Festival Literasi untuk kedua kalinya di Kabupaten Pacitan pada Sabtu, 7 Desember di Pendopo Kabupaten Pacitan. Kegiatan yang rencananya  akan diadakan tiap tahun ini, menggandeng 2 armada Pusling (Perpustakaan Keliling) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Ini kedua kali pihaknya bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan untuk memeriahkan acara Festival Literasi.

Dua MPK (Mobil Perpustakaan Keliling) menjadi bagian fasilitas dari acara, tepatnya sebelum acara inti dimulai. Pukul 07.15 WIB Pusling sudah terparkir apik di halaman parkir pendopo Kabupaten Pacitan. Anak-anak pun segera berlarian menghampiri Pusling dan memilih buku dengan didampingi petugas dan para Guru Paud Az-Zalfa. Setelah itu orang tua membacakan buku yang sudah dipilih anak-anak dengan duduk bersama di tikar yang sudah disiapkan, ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian dari GERNAS BAKU (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku).

Acara inti dimulai pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 11.00 WIB, dengan dihadiri oleh seluruh orang tua murid Paud Az-Zalfa dan narasumber yakni Dr. Sri Pamungkas, M.Hum. Narasumber dan Kepala Az-Zalfa Suyanti, S.Pd memberikan pengarahan terhadap undangan yang hadir akan arti pentingnya mengenalkan literasi terhadap anak usia dini dan memberikan trik-trik mengatasi permasalahan yang timbul saat mengenalkan literasi kepada anak-anak mereka.

Mrs. Winda sebagai Ketua Penyelenggara menyampaikan terimakasih kepada Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan yang selalu mendukung kegiatan mereka, utamanya dalam meningkatkan program Literasi anak didik mereka. Pihaknya berharap kerjasama ini akan terus berkesinambungan dan tidak cukup berhenti dalam program Festival Literasi saja.

(Penulis: Ryn Surya/Doc: Ryn Surya/Bidang Layanan/Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan/Diskominfo Pacitan)

Dari Pacitan; Perempuan Berdaya Untuk Indonesia Maju

Penasihat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Pacitan Luki Indartato, berharap peran wanita di Pacitan semakin maju dari waktu ke waktu, mengingat wanita memiliki peran sentral di dalam keluarga, bangsa, Negara dan agama khususnya.

Harapan itu disampaikan Luki saat berkesempatan menghadiri Peringatan Hari Ibu ke-91 tahun 2019 pagi ini (07/11/19). Berbagai acara dilaksanakan panitia, seperti senam bersama dan jalan santai yang berpusat di alun-alun Kabupaten Pacitan

Melalui olahraga, tema “Perempuan Berdaya Indonesia Maju” yang diusung tahun ini dapat membawa nilai positif bagi wanita. Supaya memiliki jiwa dan raga yang sehat, yang berdampak pada pikiran yang jernih. “Supaya dalam melaksanakan kegiatan apapun akan lebih baik hasilnya,” tambah Luki.

Luki juga meminta perempuan Pacitan yang dipelopori kaum ibu tetap menjadi perempuan yang tangguh, dapat diandalkan dan mampu mendukung segala hal positif yang ada disekitar. (timDiskominfoPacitan).

Gandeng Influencer; Disparpora Satukan Tekad Maksimalkan Pariwisata Pacitan

Dewasa ini membumingkan pariwisata lambat jika dilakukan hanya dari mulut ke mulut, tapi lebih masif jika dari Sosial Media (Sosmed) ke sosmed. Menyadarinya Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) mengundang pelaku sosmed di Kabupaten Pacitan dalam wadah Pacitan Tourism Influencer di KipKop Café kemarin (05/12/19).

Kepala Disparpora, T. Andi Faliandra mengatakan bahwa sektor pertanian dan pariwisata merupakan harapan Kabupaten Pacitan yang wajib didukung seluruh masyarakat. Peran serta pemuda sebagai pelaku sosmed tentu patut untuk diapresiasi dan diwadahi.

Setidaknya, hingga akhir tahun ini target kunjungan yang ditentukan sebesar 12, 2 milyar hampir tercapai. Data terakhir Disparpora kunjungan mencapai 10 miliar lebih, sisanya Andi optimis angka tersebut bisa diraih. Melalui peran Influencer, dua event besar yakni libur natal dan tahun baru di bulan Desember dapat menutupnya.

Pertemuan itu merupakan langkah awal memaksimalkan kepariwisataan Pacitan. Berbagai program yang diusulkan dari masing-masing pegiat sosmed ditampung baik oleh Disparpora, meskipun Andi mengakui bahwa program inti belum ditentukan. “Mereka harus terwadahi dahulu, dan kita berikan tujuan yang jelas,” ujar Dia kepada Diskominfo Pacitan.

Disparpora juga sadar, selain mereka masih banyak pelaku sosmed yang berjasa bagi perkembangan pariwisata Pacitan, terutama kaum milenial yang rata-rata pengguna aktif sosmed, menurut Andi ruang khusus akan disiapkan untuk memfasilitasi mereka.

Khoirul Amin, Sekretaris Dewan Kesenian Pacitan (DKP) menilai, dirangkulnya Influencer adalah langkah cerdas memaksimalkan pariwisata, berbagai peran dan fasilitas yang layak baiknya disiapkan Disparpora supaya lebih maksimal hasilnya.

Bidang kebudayaan yang kini menjadi kewenangan Dinas Pendidikan sempat membuat Khoirul kecewa, namun demikian kedua hal tersebut tetap dapat disatukan. “Harapannya ada kerja bareng lagilah yang ideal,” harap Dia yang memandang kesenian memiliki daya untuk mendongkrak pariwisata.

Untuk itu inovasi kreatif telah dilaksanakan Disparpora, dengan memadukan pariwisata, budaya dan seni utamanya. Disparopa juga berusaha menyajikan hal tersebut senatural mungkin dengan berbagai standar kemasan berkualitas sehingga benar-benar memanjakan wisatawan. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kembangkan Kejari Ceria; Puskesmas Candi Raih Penghargaan Kovablik

Kembangkan inovasi Kejari Ceria, Puskesmas Candi Kecamatan Pringkuku masuk 25 Top Puskesmas dan 10 Puskesmas Terbaik se-Jawa Timur, sehingga berhak menerima penghargaan bergengsi pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) se-Jawa Timur.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parangsa kepada Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo di Hotel Bumi Kota Surabaya (03/12/19).

Kejari Ceria merupakan kepanjangan dari Kelas Edukasi Remaja Putri Yang Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif Dan Adaptif, digagas sebagai sarana untuk mencegah masalah pernikahan anak dan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.

Kejari Ceria diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dan kelompok remaja putri khususnya, akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman risiko pernikahan anak dan bahaya Married By Accident (MBA) atau kehamilan yang tidak diinginkan, melalui banyak pendekatan yang mudah diterima dan dimengerti.

“Inovasi untuk menurunkan angka kehamilan tidak diinginkan, mencegah pernikahan dini, Dinas kesehatan Pacitan berkomitmen mendukung inovasi Kejari ceria ke puskesmas di kabupaten Pacitan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan dr. Eko Budiono dari laman Youtube Puskesmas Candi. (DiskominfoPacitan).

Konser Denny Caknan Gratis!

Beredar kabar konser Denny Caknan di Kabupaten Pacitan di penghujung tahun 2019 di jejaring Sosial Media (Sosmed), kabarnya artis yang lagi hits dengan lagunya Kartonyono Medot Janji tersebut dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan dan digelar di Gedung Gasibu Pacitan.

Uniknya masyarakat harus membeli tiket untuk menyaksikannya, mulai Rp. 50.000 untuk tiket reguler sampai dengan Rp. 125.00 untuk kursi VIP. Jika diamati kabar itu adalah hoax adanya, pasalnya penyelenggaran kegiatan semacam itu jelas-jelas bukan kewenangan Bappeda.

Ternyata Denny Caknan memang diundang Pemda Pacitan melalui Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora), T. Andi Faliandra Kepala instansi tersebut menyatakan, berbagai kegiatan akan dilaksanakan Disparpora, termasuk mengundang Denny Caknan.

“Kita akan menggelar satu paket hiburan khusus akhir tahun 2019. Kita kemas dengan bentuk tampilan UMKM binaan Pemda Pacitan selama 3 hari mulai tanggal 29, dan untuk tanggal 30 kita undang khusus Denny Caknan untuk menghibur masyarakat,” terang Andi di kantornya (04/12/19).

Di tanggal 29 diawali dengan pemilihan Kethuk Kenang, dan diakhiri dengan pemutaran kaleidoskop 2019, pengajian akbar dan doa bersama serta pesta kembang api untuk menutup tahun.

Hal itu menurut Andi selain memberikan hiburan yang bermanfaat bagi masyarakat, juga sebagai upaya untuk menarik wisatawan supaya memilih Kabupaten Pacitan untuk menikmati pergantian tahun. tentu yang berkualitas tanpa meninggalkan kesempatan ekonomi bagi para pelaku UMKM Pacitan. “Hiburan lokal juga kita libatkan, karena kita punya hiburan lokal yang banyak dan berkualitas,” lanjut Dia.

Andi juga menegaskan bahwa kabar yang beredar adalah hoax yang tidak perlu dipercaya, berbagai kegiatan merupakan sarana pemerintah untuk melayani masyarakat, bukan semata masyarakat Pacitan tapi juga wisatawan yang berkunjung dan bermalam di Pacitan. “Semua bisa menikmati indahnya wisata pacitan, aneka ragam produk UMKM Pacitan yang dimeriahkan oleh Denny Caknan,” pungkas Andi.(DiskominfoPacitan)

Konversi BBM Ke BBG Diharap Semakin Sejahterakan Nelayan Pacitan

180 nelayan dari berbagai  wilayah di Kabupaten Pacitan mendapat bantuan Paket Konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), ini merupakan salah satu program Kemitraan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi VII DPR RI.

Paket bernilai hampir tujuh juta rupiah tersebut kata Ahmad Wahyu Wardono perwakilan Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi, merupakan sarana memberi solusi bagi para nelayan saat melaut, yang diklaim dapat menghemat modal antara 40 persen sampai 70 persen. “Tergantung kondisi melautnya,” kata Dia usai penyerahan hari ini (03/12) di halaman Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan.

Paket konversi tersebut diutamakan untuk para nelayan yang menggunakan alat tangkap yang ramah terhadap lingkungan, menggunakan kapal yang berbahan bakar bensin dibawah 5 GT, dan nelayan yang belum pernah memperoleh bantuan serupa dari instansi lain.

Ahmad pada kesempatan tersebut juga mengklaim mesin tersebut disamping lebih irit juga ramah lingkungan, selain itu juga lebih aman saat digunakan untuk mengarungi lautan yang luas. “Yang jelas secara teknis aman. Dan ini bukan barang baru. Artinya sudah banyak diaplikasikan,” tagas Dia.

Bupati Pacitan Indartato mengaku merasa terbantu dengan bantuan yang baru dilaksanakan pertama kali itu, dengan menurunnya modal untuk melaut ia berharap peningkatan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Pacitan dapat semakin meningkat.

Tetapi disisi lain, tabung gas melon sering langka dipasaran, ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi Bupati. Pemerintah akan lebih meningkatkan komunikasi dengan pihak-pihak terkait khususnya pertamina untuk menyikapinya. “Kita harus saling mendukung supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan (Kelangkaan gas 3 Kg) red.,” harapnya.

Pemberian paket konversi dari BBM ke BBG bagi para nelayan tersebut merupakan awal semakin nyatanya dukungan pemerintah pusat kepada para nelayan Pacitan, tugas selanjutnya adalah selalu memenuhi berbagai persyaratan atau kriteria yang dibutuhkan supaya tahun depan nelayan Pacitan kembali mendapat bantuan. (Budi/Rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato Lihat Kondisi 2 Sekolah Retak Di Pringkuku

Ratusan siswa dan siswi di SD Negeri Ngadirejan  dan SD Negeri Pelem 2 Kecamatan Pringkuku merasa was-was saat mengikuti jam pelajaran, pasalnya tembok di beberapa ruang sekolah di 2 sekolah tersebut retak sampai pada pondasi.

Kepala BPBD Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo mengatakan bahwa retakan tersebut dikarenakan jenis tanah di kedua sekolah tersebut bergerak. “Namun Kita tunggu tim teknis untuk memberi kepastian,” kata Didik saat berkesempatan mendampingi Bupati Pacitan Indartato melihat langsung sekolah itu pagi tadi (02/12).

Daryono, Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Pacitan mengatakan kondisi tersebut sebenarnya terjadi saat Kabupaten Pacitan terkena Badai Siklon Tropis  2017 silam, namun saat itu kondisinya belum separah ini, kondisi tanah mengakibatkan retakan semakin melebar.

Mendekati datangnya musim hujan, ditambah risiko gempa bumi membuat kegiatan belajar mengajar semakin terganggu. Daryono juga mengatakan bahwa sampai sekarang sekolah hanya melakukan penanganan darurat dengan memberi penyangga dari kayu dan pengosongan ruang.

Usai melihat langsung kondisi yang ada, Bupati Pacitan Indartato meminta kepada instansi terkait untuk melakukan langkah cepat, sehingga masalah tanah gerak yang mengakibatkan retakan tembok dan pondasi cepat segera teratasi. “Harus segera, Sekarang kita menunggu hasil tim teknis  yang meneliti,”pungkas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

SPBE; Integrasikan Seluruh Data Pada Satu Pintu

Menatap era baru berbasis digital yang didukung lahirnya revolusi industri 4.0 yang mengaburkan batas fisik, digital dan biologis dan serba cepat. Memaksa pemerintah pusat mengambil langkah strategis melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) atau E-Governments yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2019.

Di Kabupaten Pacitan sistem tersebut belum berjalan maksimal seperti yang diharapkan. Salah satunya SPBE antar instansi belum saling terintegrasi satu sama lain, padahal fungsi utama SPBE adalah  mengintegrasikan seluruh informasi yang ada, baik data atau pun yang lain dari masing masing instansi sekelas Perangkat Daerah (PD) hingga Desa.

SPBE mempunyai banyak keuntungan jika sudah berjalan, misalnya saja jika pemerintah hendak mengambil satu kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dapat menggunakan data valid yang ada. Namun jika data yang disampaikan simpang siur, maka sudah pasti sang pimpinan akan mengambil keputusan yang kurang tepat bahkan salah, hal ini dikarenakan data yang disampaikan tidak tervalidasi.

Demikian urgensinya SPBE membuat Leading Sector yakni Dinas Kominfo, Bappeda dan BPS akan bekerja keras demi menyelesaikan program tersebut di tahun 2020. “Saat ini kami mereview ulang,” kata Rachmad Dwiyanto Kepala Diskominfo disela kegiatan Review Masterplance SPBE Bersama Pihak Ketiga Gamatechno kemarin (28/11).

Sebelumnya system ini dinamai E-Governments yang di launching pada tahun 2016 silam. Namun sayang system tersebut di tahun ini kurang sesuai untuk mendukung revolusi industri 4.0, satu langkah cerdas jika pemerintah up grade piranti E-Governments ke SPBE yang lebih sempurna dan komprehensif. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Raih Keterbukaan Informasi; Satu Tekad Menuju Pemerintahan Yang Profesional

Sebanyak 32 penghargaan diraih Kabupaten Pacitan pada upacara bendera memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-55, HUT Korpri Ke-48, HUT PGRI Ke-74, HUT Ke-20 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Tahun 2019 yang dilaksanakan pagi ini di Halaman Pendopo Kabupaten Pacitan (29/11).

Satu dari sekian penghargaan tersebut adalah Keterbukaan Informasi yang diserahkan oleh Komisi Informasi (KI) Jawa Timur kepada Bupati Pacitan Indartato tadi malam di Hotel Samator Surabaya. Dengan kategori Badan Publik Menuju Informative Kabupaten Kota Se-Jawa Timur dan PPID Desa Ngumbul yang berhasil memboyong Kategori Pendokumentasian Informasi Terbaik Desa Se-Jawa Timur.

Usai kegiatan upacara Bupati Indartato mengatakan puluhan penghargaan yang didapat merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen baik pemerintahan maupun lembaga masyarakat dalam melaksanakan tugas masing-masing. “Semua ini demi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan agar bahagia dan sejahtera,” kata Bupati.

 Khusus keterbukaan informasi, Bupati menyampaikan bahwa keterbukaan begitu penting di pemerintahan pada satu program yang dilakukan. Mulai perencanaan, pelaksanaan hingga pada tahapan terakhir yakni evaluasi dan pertanggungjawaban. “Keterbukaan akan menimbulkan partisipasi masyarakat,” tegasnya.

 Bupati juga mengatakan bahwa kondisi media sebagai salah satu pilar demokrasi juga memiliki tempat yang baik, berbagai media baik online, cetak hingga televise dipastikan memperoleh keterbukaan dari semua kerja pemerintah. Kecuali keterbukaan yang memang dikecualikan. “Semua bisa kita lihat, apa lagi ada Wadule dan Likin. Supaya keterbukaan informasi bisa dirasakan oleh masyarakat,” harap Bupati.

 Sementara menyikapi penghargaan tersebut, Kepala Diskominfo Pacitan, Rachmad Dwiyanto mengatakan bahwa itu merupakan indikator untuk lebih memeratakan kembali keterbukaan informasi semua instansi di Kabupaten Pacitan, Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi (PPID) di level pembantu hingga desa akan diupayakan dapat segera berjalan.

 Meski diketahui bersama bahwa di tahun 2020 ada rasionalisasi anggaran, namun hal tersebut bukan satu masalah dalam menyukseskan keterbukaan informasi di Pacitan. “Justru ini menjadi cambuk bagi insan Diskominfo Pacitan untuk semakin berinovasi,” kata Rachmad.

 Hal ini sesuai dengan sambutan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang dibacakan oleh Bupati, mulai saat ini jika bermimpi menjadi bangsa yang besar maka Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang kerja linier, tapi harus memahami berbagai perubahan dengan mencetuskan berbagai inovasi.

 Akhirnya, dengan keterbukaan informasi yang merata di setiap instansi di Kabupaten Pacitan, secara langsung akan melahirkan pemerintahan yang sehat dalam setiap program kerjanya. Ujungnya jelas, yakni pelayanan yang prima di semua sektor tanpa adanya masalah ataupun kesalahpahaman, maksudnya korupsi atau yang lain, karena dilandasi keterbukaan dari awal hingga tahapan evaluasi atau pertanggungjawaban. (budi/rozaq/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato Pastikan Kekosongan Jabatan Kelar Awal Januari 2020

Pelantikan Pejabat Lingkup Pemkab Pacitan kembali digelar pagi ini (28/11) di Pendopo Kabupaten dan dipimpin langsung oleh Bupati Pacitan Indartato. 54 pejabat tersebut meliputi Eselon  II, III dan IV bakal  menduduki posisi baru demi menyempurnakan kerja pemerintah disemua lini, demi tercapainya seluruh visi dan misi yang tertuang pada Perda Nomor 5 Tahun 2016.

Mengingat besarnya tanggung jawab para ASN tersebut, Bupati Pacitan dalam sambutannya menyinggung rencananya menaikkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Karena disadari bahwa TPP ASN di Kabupaten Pacitan tergolong paling rendah dibanding kota lain di Jawa Timur.

“Kami berusaha memenuhi hak-hak mereka meskipun secara bertahap,” ujar Bupati yang sangat menyadari bahwa penghasilan atau kesejahteraan yang semakin membaik akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja para ASN.

Begitu juga nasib para Guru Tidak Tetap (GTT) di juga disampaikan bakal naik tahun depan, sesuai dengan persetujuan anggota DPRD. Didesak para awak media terkait nominal secara terang-terangan dari Pemda Pacitan akan menambah Rp. 500.000.

Disisi lain pelantikan yang baru saja dilaksanakan belum menyelesaikan masalah kekosongan jabatan. Bahkan kekosongan ini sampai pada level jabatan Staf Ahli, dan diperkirakan masih akan semakin bertambah karena pensiun.

Tetapi Indartato tidak cukup berpangku tangan menyaksikan fenomena ini, diperkirakan awal tahun 2020 masalah tersebut dapat segera teratasi. Karena usai tanggal 8 Januari mutasi pada jabatan tertentu harus mendapat dukungan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), jadi pada posisi pelayanan primer secepatnya harus diupayakan segera terisi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kethek Ogleng; Era Baru Menjadi Kebanggan Pacitan

Usai ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) Kethek Ogleng Pacitan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201900988 yang diterbitkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan Indonesia tahun 2019.

Warisan Budaya Takbenda bersifat tak dapat dipegang (intangible/abstrak), seperti konsep dan teknologi; dan sifatnya dapat berlalu dan hilang dalam waktu seiring perkembangan zaman seperti misalnya bahasa, musik, tari, upacara, serta berbagai perilaku terstruktur lain.

Hak Cipta Gerakan Pokok Kethek Ogleng dengan Nomor Pencatatan 000144781, yang diterbitkan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Kethek Ogleng kesenian kebanggan Kabupaten Pacitan percaya diri melenggang menjadi primadona semua khalayak.

 Pengakuan berjudul Gerakan Pokok Kethek Ogleng, menandai era baru kesenian yang terlahir dari kreatifitas Sukiman pada tahun 1962 silam yang ternyata pernah mengalami masa vakum sampai tahun 1970 an. Setelah berganti generasi yang didukung pengakuan itu Kethek Ogleng akan fokus menjadi satu kesenian yang dapat menghibur siapapun dengan berbagai penyempurnaannya.

 Selama ini semua mengetahui kerja keras Pelaku Kethek Ogleng dalam mengangkatnya ke permukaan, supaya tidak termakan peradaban di kemudian hari, tentu dengan dukungan semua pihak termasuk pemerintah.

 Seperti Sukiman konon pernah diceritakan sempat mengurung diri di salah satu kebun binatang di Kota Solo, belakangan diketahui ia mendalami segala tingkah laku kera, mulai makan, bersosialisasi hingga sifat dasarnya yang bergelantungan di pohon dan dahan. “Totalitas Sukiman luar biasa, bersyukur semangatnya ditiru semua penerusnya,” ujar Agoes Hendriyanto pemegang Hak Cipta kepada Diskominfo Pacitan (27/11).

 Langkah baru ini lanjut Agoes merupakan awal yang baik, ibarat pesawat kini tengah lepas landas untuk memecah cakrawala, dikagumi semua orang yang menyaksikannya. Dan semua orang diluar sana akan tersadar bahwa Kethek Ogleng terlahir di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. “Kethek Ogleng milik Pacitan, bukan Milik komunitas,” pungkasnya yang kini tengah menyelesaikan Studi Doktoralnya yang berjudul Produksi Simbol Masyarakat Pacitan dengan Perspektif Bourdieu. (DiskominfoPacitan).

Pengukuran Bidang Tanah untuk Pensertifikatan Perluasan Tanah Puskesmas Jeruk, Kecamatan Bandar

Untuk menjamin kepastian hak atas tanah aset Pemerintah Daerah, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan terus mensertifikatkan aset tanah yang ada. Salah satunya adalah tanah yang digunakan untuk Perluasan Puskesmas Jeruk, Kecamatan Bandar, hasil dari pengadaan tanah tahun 2019 yang belum bersertifikat atas nama Pemerintah Daerah.

Puskesmas Jeruk, berdiri di atas bidang tanah aset Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan. Untuk peningkatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, dilakukan perluasan lahan dengan cara pembelian tanah warga masyarakat. Karena pembelian tanah adalah seluruh dari luas sertifikat yang ada, maka untuk pengurusan pensertifikatannya tidak melalui proses pemecahan sertifikat.

Selain Puskesmas Jeruk Kecamatan Bandar, secara bertahap, semua aset yang ada akan disertifikatkan. Pada tahun ini ditarget 15 bidang, Pengajuan ini akan terus dilakukan hingga semua aset memiliki kepastian hukum.(PemkabPacitan/DiskominfoPacitan)

Perkim Laksanakan Program Peningkatan jalan lingkungan Desa Kalak, Donorojo

Pemerintah kabupaten Pacitan melalui Dinas Kawasan Permukiman, Perumahan dan Pertanahan (Perkim) di tahun anggaran 2019 melaksanakan program kegiatan pembangunan jalan lingkungan yang bersumber dari dana APBD 2019 di Dusun Bolo, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo.

 Melalui paket pekerjaan peningkatan jalan lingkungan yang berupa perkerasan lapen sepanjang 370 meter, dengan pagu dana senilai Rp 94.000.000,00 Masyarakat disana beberapa waktu kedepan akan merasakan dampaknya secara langsung.

 Sebelumnya jalan tersebut berjenis jalan rabuat dua sisi dengan kondisi yang mulai rusak, alhasil jalan tersebut menghambat mobilitas masyarakat. Program ini diharapkan secara langsung memberi dampak positif, utamanya mempermudah akses transportasi. (Perkim/DiskominfoPacitan).

Tingkatkan Derajat Kesehatan Bagi Seluruh Generasi Muda

Memaknai Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-55 Tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan tentu ingin menjadi bagian untuk berkontribusi dalam rangka mewujudkan generasi sehat Indonesia unggul yang selaras dengan tema pada tahun ini.

 Berbagai acara dilaksanakan pemerintah, melalui Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dr. Darsono untuk menciptakan derajat kesehatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat di kota yang baru saja memperoleh penghargaan Kabupaten sehat dengan kategori swasti saba wistara atas kesigapan saat menyikapi pageblug Hepatitis A beberapa bulan lalu.

 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dr. Eko Budiono di sela Semarak HKN hari ini (24/11) menyampaikan berbagai langkah harus ditempuhnya untuk merealisasikan tema itu, dengan mempersiapkan generasi Kabupaten Pacitan saat masih berupa janin hingga terlahir ke dunia dan tumbuh menjadi dewasa atau berusia 18 tahun. “Untuk tumbuh kembang, kita deteksi terus membaik,” beber Eko.

 Namun disudut lain kata Eko masih ada 0,5 persen generasi muda Pacitan mengalami disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, angka kecil tersebut tentu tidak lepas dari perhatian Dinas Kesehatan. Berbagai pendekatan dilakukan demi menjamin mereka supaya memiliki kesamaan dengan yang lain. “Jadi kita samakan hak di dalam tumbuh kembang, itu salah satu upayanya,” tambah Dia.

 Untuk itu, berbagai syarat harus dipenuhi. Seperti deteksi dini tumbuh mereka, dengan berbagai pemeriksaan yang harus rutin dilaksanakan, termasuk imunisasi, ditimbang berat badannya sampai usai 5 tahun, sedang dibangku sekolah melalui kartu tumbuh kembang mereka akan terus diperhatikan hingga berumur 15 tahun.

 Raihan pemerintah terkait Kabupaten Sehat dimaknai Bupati Pacitan Indartato untuk kembali mengingatkan seluruh komponen untuk terus bergandengan tangan, bersama-sama supaya tidak kembali terjadi serangan penyakit yang berugikan masyarakat tersebut. Berlandaskan kesadaran dan keikhlasan dalam membudayakan hidup bersih dan sehat baik di pemerintahan atau pun di lapisan masyarakat.

 Menyikapi angka disabilitas, Bupati mengatakan hal tersebut merupakan masalah penting yang mesti disikapi serius, peran dokter dena tenaga kesehatan sangat diapresiasi mengingat mereka adalah garda terdepan dalam menyikapinya. “Dengan segala komponen yang ada bisa melaksanakan tugas seiklas-iklasnya didukung etikat baik demi derajat kesehatan Kabupaten Pacitan,” pungas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Terima Tim Surveillance; PA Pacitan Komitmen Wujudkan ZI

Assessment Surveillance II atau Akreditasi Penjaminan Mutu (APM) kembali dilakukan di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pacitan oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya yang dilaksanakan kemarin (20/11). Kesempatan yang baik tersebut menurut Dedy Kusnadi sebagai Ketua Tim (APM) merupakan satu langkah demi mempertahankan pelayanan yang optimal kepada seluruh pemohon.

Pada tahapan ke 2 itu Dedy Bersama Tim melihat langsung segala aktivitas yang dilaksanakan PA Pacitan, nantinya menjadi penentu predikat A Excellence yang dipunya PA Pacitan dapat dipertahankan atau berakhir. “Alhamdulilah hasilnya membanggakan,” kata Dedy puas.

PA Pacitan saat ini berada pada kelas 1b, meski saat ini sulit untuk naik kelas menjadi 1a karena berbagai faktor seperti keberadaan Perguruan Tinggi Negeri, jumlah perkara dan lain-lain. Namun yang utama adalah bagaimana PA Pacitan tersebut dapat melayani dengan baik seluruh pemohon utamanya menerapkan 9 aplikasi hasil inovasi Mahkamah Agung (MK).

“Kita tidak sekedar melayani dengan baik. Tapi juga cepat,” kata Ketua PA Pacitan Sumarwan kemarin (20/11). Ia juga mengakui adanya beberapa temuan penting, utamanya masalah dokumen pendukung, meski tidak banyak namun pihaknya telah berkomitmen akan memperbaiki masalah tersebut kurang dari satu bulan.

Sumarwan juga sadar APM tersebut merupakan awal untuk menuju Zona Integritas (ZI) maka berbagai poin standar yang ada harus teraplikasi dengan baik kepada seluruh karyawan, yang akhirnya menjadi satu budaya kerja yang positif. “Bisa terjadi karena dilakukan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (budi/wan/Riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Desain Ulang Alun-alun Barat Pacitan; Supaya Semakin Rindang Dan Nyaman

Secara berkelanjutan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya meremajakan Alun-alun Kabupaten Pacitan, khususnya di sisi barat yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Darul Falah, bangunan kios pedagang di sepanjang trotoar tersebut terpaksa dirobohkan untuk direhabilitasi supaya suasana semakin segar.

Joni Maryono Kepala DLH Pacitan mengatakan peremajaan tersebut merupakan hasil dukungan dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jatim Cabang Pacitan sepakat menata ulang tanpa meninggalkan fungsi asli tempat tersebut, hanya saja harus semakin rindang yang merupakan salah satu syarat Kota Adipura.

Proyek tersebut ujar Joni juga tidak membutuhkan waktu lama, sebelum tahun baru 2020 atau satu setengah bulan ke depan ia pastikan telah rampung. “Sesuai komitmen teman-teman jasa teknis kami pastikan selesai sesuai jadwal,” katanya kemarin (19/11).

Selanjutnya Kepala DLH tersebut meminta kepada seluruh pedagang dan masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan, sebagai salah satu karakter Kota Adipura yang cinta lingkungan dan kebersihan. “Perabot pedagang, usai berjualan harus segera dibersihkan,” lanjut Joni.

 Prinsipnya Alun-alun harus mengakomodir seluruh aktivitas masyarakat, tempatnya yang berada di pusat kota harus memberikan kenyamanan bagi siapapun, tanpa meninggalkan sisi ekonomi. Terlebih Alun-alun juga sering kali menjadi pusat kegiatan pemerintah maupun masyarakat.

 Adanya tanggung jawab sosial terhadap Kota Pacitan adalah salah satu alasan keterlibatan Bank Jatim Pacitan, program CSR diharapkan Bank Milik Pemprov Jatim tersebut dapat membantu pemerintah supaya dapat dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat Pacitan.

“Komitmen tersebut sesuai misi kami untuk turut mengembangkan usaha mikro di Kabupaten Pacitan,” ujar Kepala Bank Jatim Palti Oloan P. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

140 Milyar Proyek 2019; PUPR Pacitan Pastikan Rampung Akhir Desember.

Mendekati penghujung tahun 2019 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan merilis proyek pembangunan fisik telah menyentuh angka 85 persen dari jumlah total 645 proyek yang dikerjakan.

Sekretaris PUPR Kabupaten Pacitan, Suparlan Kepada Diskominfo Pacitan di kantornya (19/11) mengatakan 15 persen yang tersisa dipastikan bakal rampung di akhir Desember mendatang. “Masih ada waktu untuk tepat waktu” ujar Dia yang mengaku tidak ada kendala berarti.

Proyek pada tahun ini lanjut Suparlan lebih diutamakan untuk peningkatan infrastruktur demi mendukung pariwisata di Kabupaten Pacitan. Misalnya pembangunan jalan menuju wisata Pantai Watukarung di Kecamatan Pringkuku yang masuk dalam jenis proyek lanjutan, dan proyek peningkatan infrastruktur untuk mendukung mobilitas para nelayan. “Banyak kegiatan kita yang bersifat lanjutan,” katanya.

Sementara untuk pembangunan Tugu Parasamya di perempatan Penceng yang kini terus di garap masuk dalam kategori proyek baru berskala kecil, dipastikan rampung bersama proyek lain.

Suparlan menegaskan bahwa semua proyek yang menghabiskan dana 140 Miliar tersebut adalah hadiah untuk seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan. “Semoga Menjadi Kado Tahun Baru nanti,” tambah Suparlan.

Sedang demi mendukung seluruh pekerjaan besar tersebut PUPR tengah fokus untuk administrasi yang ternyata baru 65 persen, rampungnya pekerjaan yang dilakukan para penyedia jasa yang kesemua adalah putra daerah mesti dibarengi dengan rampungnya seluruh administrasi. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Diskominfo Tak Segan Lapor Ke Bupati Jika PD Tidak Mengurusi Websitenya

Berjalannya roda pemerintahan yang disertahi berbagai keberhasilan pembangunan harus di dukung dengan keterbukaan informasi sebagaimana tertuang pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, melalui era yang serba digital dimasa sekarang peran website dinilai strategis supaya segala informasi dapat tersampaikan dan terserap sepenuhnya oleh khalayak.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo Pacitan) Rachmad Dwiyanto melihat fenomena ini sehingga mengambil upaya dengan mengingatkan istansi Pemerintah Lingkup Pemkab Pacitan, untuk kembali memaksimalkan laman yang telah disediakan tersebut. “Kita mendapat masukan dari teman-teman DPRD Pacitan,” ujar Dia (14/11).

Dari ratusan website resmi pemerintah kata Rachamd di hadapan seluruh undangan hanya 10 saja yang memenuhi syarat kelengkapan dan keaktifannya. Hal tersebut sudah barang tentu menghambat keterbukaan informasi kepada masyarakat, artinya keterbukaan informasi dapat diasumsikan terhambat. “Itu bisa terwujud melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi,” kata Rachmad.

Masukan tersebut sangat diterima baik Dinas Kominfo, berbagai terobosan akan dilakukan supaya keterbukaan informasi di Kabupaten Pacitan benar-benar menjadi kenyataan, mengingat undang-undang yang disahkn pemerintah tentu mempunyai banyak sisi positif terutama kepada masyarakat. “Harus ada evaluasi dan pendampingan yang struktur,” tegas Dia. Bahkan tidak main-main Rachmad akan melaporkan kepada Bupati jika masing-masing PD tetap memilih vakum.

Sementara Kepala Bidang Informasi Agus Anshori Mudzakir berkomitmen menggunakan pendekatan ketelatenan, ia beserta stafnya selain melakukan berbagai evaluasi akan datang langsung ke instansi untuk memberikan pelatihan khusus jika PD tersebut benar-benar maengalami kesulitan. “Mereka para personil terbatas dan tidak pada satu konsentrasi,” beber Dzakir.

Sudah selayaknya masyarakat mendapat informasi siapa pun dan kapan pun, kecuali informasi yang dikecualikan yang bersifat rahasia. Ini masuk 4 standar informasi yang kudu dipenuhi masing-masing website milik pemerintah. “Nanti kita kasih simbol, yang aktif hijau, kuning stengah aktif dan merah yang tidak aktif,” pungkas Dia. (DiskominfoPacitan).

LPG 3 Kg Hanya Untuk Masyarakat Yang Kurang Beruntung

Kelangkaan Gas LPG 3 kilogram atau biasa disebut Tabung Melon seringkali langka dipasaran, menindaklanjuti hal tersebut pemerintah kembali mengingatkan kepada para ASN Pusat, ASN Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berdomisili di Kabupaten Pacitan dan ASN Lingkup Pemkab Pacitan supaya tidak menggunakan tabung gas tersebut.

Selanjutnya surat himbauan tersebut juga disampaikan kepada Pimpinan atau Karyawan BUMN dan BUMD yang tinggal di Pacitan serta masyarakat Kabupaten Pacitan yang tidak memenuhi syarat menggunakan Gas LPG 3 Kilogram.

Untuk Pengusaha Mikro yang asetnya di atas Rp. 50.000.000 selain rumah dan bangunan atau memiliki omset di atas Rp. 300.000.000  dalam satu tahun dihimbau untuk tidak menggunakan gas melon. Sedang untuk kepemilikan LPG 3 Kg untuk konsumen rumah tangga maksimal 3 tabung, konsumen usaha maksimal 9 tabung.

Selanjutnya untuk sektor HEROKOIN yang meliputi Hotel, Restoran, Peternakan, Pertanian, Batik, jasa Binatu, Jasa Las yang bukan masuk kriteria usaha kecil di Kabupaten Pacitan supaya beralih ke tabung gas LPG Non Subsidi.

Pemberitahuan tersebut ditandatangai Bupati Pacitan Indartato dan diketahui Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, PT Pertamina Regional IV Madiun, Hiswana Magas di Madiun dan SPBE di Pacitan. (DiskominfoPacitan).

Maksimalkan Pacitan Job Fair Season II

Hanya dua hari saja, Season II Pacitan Job Fair digelar oleh Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro Kabupaten Pacitan dengan 5925 lowongan pekerjaan menanti. Bursa kerja kali ini digelar di halaman Kampus Akademi Komunitas Negeri Pacitan.

Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo usai membuka acara pagi tadi (13/11) mengatakan bahwa kondisi tenaga kerja di Pacitan menunjukan angka yang semakin baik dibanding dengan angka pada tahun sebelumnya, dengan menurunnya angka pengangguran terbuka sebanyak 0,6 persen. Dari 0,84 persen menjadi 0,78 persen.

Meskipun mengalami penurunan tingkat pengangguran namun ada hal yang perlu diwaspadai, yakni mayoritas pencari kerja 2018 didominasi lulusan SD dan SMP sebanyak 72,6 persen dan SMA Sederajat sebanyak 13,14 persen. “Untuk itu bursa kerja kali ini harus dapat memberi solusi bagi para pencari kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya,” harap Yudi.

Oleh karenanya pencari kerja diharap dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana mengisi kegiatan sehingga dapat produktif. Yudi juga berpesan kepada dinas terkait supaya dapat meningkatkan berbagai fungsi layanan para pencari kerja. “Guna mendukung upaya penurunan pengangguran,” pesannya.

Wicaksono Kepala Bidang Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Berharap Season II dengan 43 perusahaan yang bergabung dapat menyerap sepenuhnya para pencari kerja di Pacitan. “Pencari kerja tinggal memilih pekerjaan yang mereka anggap cocok,” terang Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Dinkes Pacitan Serius Sikapi Masalah Nikah Anak

Pernikahan anak menjadi permasalahan serius di Kabupaten Pacitan. Tapi itu dulu, menurut data dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan menunjukan setiap tahun angka terus menurun, namun demikian Pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) enggan kecolongan, berbagai sikap ditunjukan seperti mengumpulkan instansi terkait serta perwakilan pelajar se-Kabupaten Pacitan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Ratna Susy Rahayu menyampaikan pernikahan anak mesti disikapi serius walaupun tren terus turun. Karena angka bisa saja kembali naik jika pemerintah teledor. Apalagi banyak hal negatif mengancam pelaku, mulai gangguan mental, gangunan kesehatan jasmani, bahkan kondisi bayi yang dilahirkan berpotensi stunting. “Kami juga memberikan pengetahuan terhadap penyakit anemia, penyakit ini banyak terjadi pada generasi muda,” ujar Ratna.

Kegiatan yang masuk dalam Rangkaian Hari Kesehata