Fokus Hapus Pernikahan Anak Dan Pernikahan Dini

Pernikahan anak dan pernikahan dini memiliki ragam dampak negatif bagi pelaku dan orang disekitarnya, masalah ini sebenarnya dihadapi oleh kebanyakan Negara di dunia, bahkan Negara-negara di eropa yang telah diakui lebih tinggi peradabannya.

Melihat itu pemerintah Kabupaten Pacitan bersama semua lembaga berusaha keras menyikapinya, Kali ini memaksimalkan peran media baik Televisi, cetak hingga penggiat sosial media dalam Training Penggunaan Data Bagi Media Dan Organisasi Masyarakat Sipil Melalui Open Government. Yang digagas Bappeda Pacitan, Diskominfo Pacitan dan Kinerja Provinsi Jawa Timur.

Dimulai dengan pengenalan Dashboard penghapusan pernikahan anak di Pacitan, dalam laman tersebut termuat seluruh fakta tentang berbagai hal pernikahan anak dan pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Pacitan yang dapat digunakan sebagai senjata untuk kampanye memerangi masalah bersama tersebut.

“Sejak 2018 kita bersama-sama mengumpulkan berbagai data dalam rangka penghapusan pernikahan anak, yang sekarang kita share di laman dashboard.pacitankab.go.id” kata Dina Limanto Coordinator Kinerja Provinsi Jawa Timur kemarin di Gedung KPRI (23/01/2020).

Lahirnya dashboard tersebut menjadi penanda bahwa pemerintah bersama dengan seluruh elemen memusatkan konsentrasi mengakhiri masalah pernikahan anak dan dini. Dimana media menjadi corong utama membeberkan berbagai fakta dari data riil yang ada. “Menulislah dengan data dan fakta agar ada ujung pangkalnya,” kata supriyono, Kabid TI Diskominfo Pacitan Saat membuka acara. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hari Jadi Pacitan Ke-275 Tahun Dipastikan Lebih Spektakuler

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan Ke-275 Tahun dipastikan akan berlangsung meriah dibanding tahun-tahun kemarin. Hal tersebut disampaikan Daryono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindik) Kabupaten Pacitan, sebelum mengikuti Rapat Pleno Agenda Hari Jadi Di Ruang Rapat Bupati. Hari ini, (22/01/2020).

Secara umum konsep hari jadi sama dengan tahun sebelumnya, hanya saja di acara inti pada tanggal 19 Februari Kirab Tirto Wening dan Rucuh Pace akan dimulai dari Perempatan Penceng hingga Pendopo Kabupaten, melibatkan siswa-siswi SMA dan SMK.

“Untuk kegiatan belum bisa saya Share. Kita masih menunggu beliau (Bupati), nanti kalau sudah Clear akan diumumkan secara massif kepada masyarakat. Termasuk tema masih digodok,” ujar Daryono.

Namun yang baku lanjut Daryono adalah pagelaran wayang kulit semalam penuh diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan. salah satu simbol Hari Jadi Kabupaten Pacitan adalah milik seluruh warga masyarakat Kabupaten Pacitan.

Di Kesempatan yang sama T. Andi Faliandra, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pacitan mengatakan bahwa dominasi seni dan budaya pada peringatan hari jadi memiliki daya Tarik tersendiri bagi calon wisatawan.

Kemasan seluruh rangkaian hari jadi harus sebaik mungkin, karena selanjutnya akan diviralkan kepada khalayak dengan berbagai media baik media resmi pemerintahan maupun yang lain, baik di Pacitan maupun diluar kota Pacitan.

“Termasuk Pendopo, mengingat Pendopo bukan untuk para pejabat saja. Bagaimana kemasan nanti menghadirkan selain masyarakat juga wisatawan. Dikemas dengan keunikan dan keindahan seni budaya kita,” pungkas Andi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo, Kunjungan Perdana Tingkat Paud Tahun 2020 di Dinas Perpustakaan Kab. Pacitan

Selasa, 21 Januari 2020, sejumlah 128 pengunjung dari Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo yang terdiri dari 122 siswa-siswi dan 6 guru datang berkunjung Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan pagi ini. Kunjungan ini merupakan kunjungan perdana setingkat Paud di awal tahun 2020 yang berkunjung di ruang layanan.

 Kedatangan rombongan dibagi menjadi 2 kloter, kloter pertama diawali oleh KB (Kelompok Bersama) yang terdiri dari 28 anak dan 3 guru. Kloter berikutnya adalah TK A dan TK B yang terdiri dari 92 anak dan 3 guru. Guru dan petugas Bidang Layanan dan Koleksi membimbing mereka untuk memanfaatkan fasilitas di ruang layanan anak yang sudah tersedia. Kelompok Bermain (KB) dan TK A+TK B secara bergantian memanfaatkan ruang layanan anak. Setyo Budi, S. Sos selaku Kepala Seksi Layanan & Otomasi yang baru dilantik 7 Januari 2020 kemarin, ini merupakan pengalaman pertama beliau dalam melayani pengunjung Paud di Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Beliau dengan senang hati dan telaten ikut membimbing anak-anak bermain di ruang layanan. Nampak beliau sangat antusias melihat tingkah polah anak-anak kecil, dan sesekali bercengkerama dengan guru ABA Baleharjo tersebut. Sedangkan bagi Kepala Bidang Layanan dan Koleksi Joko Wahyudi, S.Sos., M. Pd, ini bukanlah kali pertama pengalaman beliau dalam melayani pengunjung. Tapi hal tersebut juga tidak menyurutkan beliau untuk melayani pengunjung dengan baik pagi ini.

Paud Aisyiyah Bustanul Athfal Baleharjo termasuk Paud yang sangat sering berkunjung ke Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Hal ini tidak terlepas dari hasil perjanjian kerjasama (MOU) di antara kedua belah pihak yang berkomitmen untuk saling bekerjasama demi meningkatkan Literasi anak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan fasilitas layanan anak kepada pihak Paud di ruang layanan dan koleksi Perpusda.

Pihak Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan berharap semoga ke depannya tidak hanya Paud ABA Baleharjo yang aktif mengajak anak didiknya untuk berkunjung. Untuk itu, Bidang Layanan dan Koleksi mulai lebih menggiatkan kembali promosi Layanan Perpustakaan Umum ke lembaga sekolah di Pacitan, melalui kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan KEMENAG Pacitan. Tujuannya, selain untuk mengenalkan Perpusda ke seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Pacitan, harapannya adalah untuk mendongkrak jumlah pengunjung perpustakaan umum agar mampu mencapai target tahunan.

(Penulis: Ryn Surya/Doc: Ryn Surya/Bidang Layanan dan Koleksi Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan)

Workshop Literasi BA. Aisyiyah Baleharjo di Dinas Perpustakaan Pacitan

Sabtu, 18 Januari 2020, bertempat di ruang layanan Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan (mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.30 siang), telah diadakan Worshop Literasi BA. Aisyiyah Baleharjo. Sebanyak 34 wali murid BA. Aisyiyah Baleharjo menghadiri undangan, dengan narasumber yang sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan Kabupaten Pacitan, seorang pejuang literasi yang terus bergerak demi meningkatkan literasi masyarakat Kabupaten Pacitan utamanya untuk para orang tua dari anak usia dini. Narasumber dalam acara tersebut adalah Dr. Sri Pamungkas, M. Hum atau yang akrab disapa dengan panggilan “Bu Mamung”

Worshop Literasi kali ini mengambil tema “Strategi Menyiapkan Generasi di Era 4.0”. Sudah kita ketahui bahwa arus globalisasi yang masuk di Indonesia sudah tidak terbendung lagi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih itu menuntun kita masuk ke dalam dunia masa kini yaitu dunia era revolusi industri 4.0, dimana di dalam era sekarang ini lebih menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, atau fenomena disruptive innovation. Maka untuk mengantisipasi dari hal ketertinggalan, orang tua mempunyai kewajiban penuh di awal perkembangan anak sejak usia dini dalam menyiapkan mereka menjadi generasi yang siap menghadapi era 4.0. Bu Mamung di dalam kesempatan tersebut memberikan beberapa strategi bagaimana sebaiknya orang tua menyusun langkah-langkah strategis, utamanya dengan strategi membangun literasi anak sejak usia dini.

Acara tersebut disisipi dengan sesi pembacaan puisi oleh “Adek Echa” yang kebetulan puteri dari Ibu Mamung Narasumber utama workshop kali ini. Puisi indah yang menggambarkan dan mewakili perasaan semua anak kecil yang menginginkan dimengerti dan dibimbing dengan bijaksana oleh kedua orang tua. Alhasil puisi yang dibawakan dengan sangat apik dan syahdu oleh Echa tersebut mampu “menghipnotis” orang tua dan guru yang hadir sehingga terbawa ke dalam imajinasi puisi tersebut.  

(Penulis: Ryn Surya/ Doc: Deni Andriana/Bidang Layanan Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan)

Ketua PA Pacitan “Pikir 1000 Kali Sebelum Bercerai”

Dari tahun ketahun angka perceraian terus mengalami peningkatan yang signifikan, kondisi tersebut memang tidak hanya terjadi di Kabupaten Pacitan, rata di setiap kota di Indonesia. Hingga akhir 2019 Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pacitan memutuskan perkara sebesar 1458 dan kecenderungan terus meningkat.

Sumarwan, Ketua PA Pacitan spesial kepada Diskominfo Pacitan mengatakan umumnya perceraian di tahun 2019 terjadi pada masyarakat yang memasuki usia produktif, yakni antara 20 tahun sampai dengan 40 tahun. Terbanyak pertama dari wilayah Pacitan timur, disusul Pacitan tengah dan Pacitan utara.

“Umumnya masyarakat yang mengajukan cerai dari segi pendidikan lebih banyak didominasi tingkat pendidikan menengah atas (SMA), ada juga sebagian yang Sarjana, dan lebih banyak lagi menegah kebawah (SMP). Kemudian penyebabnya didominasi oleh masalah ekonomi rumah tangga yang tidak tercukupi,” kata Sumarwan hari ini, (21/01/2020).

Meskipun perceraian memang diperbolehkan dari segi agama namun pihaknya mengatakan hal tersebut adalah keputusan yang dibenci Allah, ia mengibaratkan bahwa cerai merupakan pintu darurat dalam sebuah rumah. Bisa dipilih, tapi tatkala tidak ada pilihan lain dan bersifat penyelamatan. “Dalam rumah tangga yang sudah sangat darurat yang sudah tidak mungkin lagi dipertahankan dan sendi rumah tangga sudah rapuh dan hancur maka perceraian adalah jalan keluar dari masalah,” lanjut Dia.

Sumarwan mengklasifikasikan masalah perceraian menjadi tiga motivasi, pertama pasangan yang benar-benar ingin menyelesaikan masalah rumah tangga mereka yang dinilai sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Misalnya KDRT, penelantaran, perselisihan yang sudah tidak mungkin disatukan.

Klasifikasi kedua adalah ketika pasangan yang mengalami keretakan, dalam perjalanannya pasangan tersebut masih bersatu. Namun jika datang orang ketiga maka umumnya salah satu pihak akan berusaha untuk mengurus administrasi perceraian. “Dalam rangka untuk menikah lagi,” lanjut Sumarwan.

Terakhir perceraian yang terjadi karena seseorang ingin keluar dari Status Quo, satu pasangan suami istri tapi pada pergaulannya seperti tidak berpasangan. Umumnya mereka memilih untuk mengakhiri status tersebut, istilah lokalnya untuk membersihkan diri dan umumnya mereka akan fokus dengan masa depannya dan anak-anaknya.

“Berpikirlah 1000 kali untuk bercerai, dan jangan terlalu mudah untuk mengungkapkan kata yang berbau perceraian meskipun dalam situasi permasalahan dan perselisihan sehebat apa pun,” tegas Sumarwan.

Ia pun membagikan lima prinsip yang dapat dilakukan supaya keluarga yang dibina bersama dapat bahagia meski masalah dalam keluarga akan tetap ada. Diawali dengan membiasakan musyawarah saat akan melakukan atau memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga.

Kemudian membudayakan tolong menolong antar pasangan dan anak, hal ini penting untuk meningkatkan rasa saling membantu kesulitan masing-masing. Mengingat tidak ada pekerjaan yang spesifik yang dapat dikerjakan satu orang dalam rumah tangga. Pekerjaan akan lebih baik apabila dikerjakan semua anggota keluarga. “Kecuali hamil dan melahirkan,” katanya.

Tenggang Rasa juga menjadi kiat ketiga dalam menjaga hubungan rumah tangga. Ini penting, Sumarwan mencontohkan bahwa saat seseorang akan melakukan sesuatu supaya memikirkan dampak yang akan terjadi pada pasangan. Jika merasa tidak nyaman maka disarankan untuk tidak dilakukan.

Menciptakan rasa seperti satu badan atau memiliki, artinya ketika pasangan merasa bahagia ataupun sebaliknya pasangan harus merasa sama, begitu juga saat pasangan sedang sakit. Hal tersebut juga menjadi rahasia untuk menjalin keluarga agar selalu hangat.

Kiat terakhir yang harus dilakukan adalah menjaga empat prinsip tersebut dengan kontinu (istiqomah). Dimulai dari pasangan yang sedang menjadi pengantin baru hingga ajal menjemput. Sumarwan mengatakan meskipun cobaan selalu datang silih berganti, “Apabila kita memegang prinsip tadi maka keluarga dapat berdiri kokoh seperti batu karang yang tidak bisa digulingkan oleh ombak samudra sebesar apapun,” pungkas Dia. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bertukar Ilmu; Soimah Bertamu Ke SACPA

Kehadiran Soimah selebritis papan atas Nasional di studio alam Sampang Agung Center for Performing Art (SACPA) Pelem, Pringkuku, Pacitan, pekan kemarin (16/01/2020) semakin menambah semangat siswa-siswi sanggar tersebut untuk lebih mendalami seni.

Soimah bersama timnya tersebut disambut langsung oleh Sukarman seniman legendaris asli Pacitan dan dilanjutkan mengelilingi studio SACPA. Disela kunjungannya perempuan asli Pati, Jawa Tengah itu tanpa ragu memenuhi permintaan selfie keluarga besar SACPA ataupun masyarakat yang datang.

Bermodal tingginya rasa penasarannya terhadap SACPA yang kompak berkesenian bersama masyarakat di Desa Pelem dan banyaknya prestasi yang telah diperoleh membuat Soimah benar-benar datang berkumpul dan menjadi satu.

“Saya salut warga disini antusias berkesenian,” Katanya yang ternyata menganggap Agung Gunawan (Direktur SACPA) seperti kakaknya sendiri, karena kedekatan Agung dengan tantenya Soimah (Tini) sewaktu sekolah di Yogyakarta.

Perempuan yang mempunyai nama panjang Soimah Pancawati itu juga mengajak murid-murid SACPA untuk tekun dan serius dalam berkesenian. Fokus pada karya yang dilandasi rasa cinta  dan kesabaran.

“Cintai seni! Seperti saya sampai saat ini kebetulan seni adalah mata pencaharian utama. Padahal dulu saya tidak pernah punya cita-cita jadi selebritis, blas tidak ingin. Tapi setelah kemudian jadi selebritis ya Alhamdulillah. Saya hanya senang berkesenian. Tambah Dia.

Pada kesempatan tersebut Soimah juga berkesempatan menari Eklek bersama seluruh keluarga besar SACPA, lantaran tarian tersebut membutuhkan tenaga ekstra, maka Mak’e panggilan Soimah tampak terengah-engah. Namun diakuinya bahwa dapat menari Eklek bersama merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan.

 Sementara Dr.Deasylina Da Ary Co-Director SACPA mengatakan, kedatangan Mak’e merupakan isyarat positif penghapus gap antara dunia seni entertainment dengan seni tradisi dengan balutan silaturahmi yang hanggat dan kaya wawasan.

 “Ini merupakan sarana memotivasi anak-anak dan generasi muda, bahwa kerja keras tidak akan menghianati hasil. Selain itu juga menyiratkan kerendahhatian seorang seniman popular yang sangat terkenal di Indonesia, yang mempunyai banyak fans,” pungkas Deasylina. (DiskominfoPacitan).

Kunjungan Pak Menteri Desa, Pertengahan 2020 Semua Desa Full Sinyal

Kehadiran Abdul Halim Iskandar sebagai Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Desa PDTT) dalam Kunjungan Kerja di Kabupaten Pacitan merupakan satu penghormatan dan penghargaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan.

Menteri pertama yang berkenan datang usai dilantik tersebut diharapkan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo membawa perubahan yang signifikan bagi 171 desa dan kelurahan di Kabupaten Pacitan, khususnya bagi 6 desa yang masih tertinggal.

“Dukungan dari pusat masih sangat kami harapkan sekali,” ujar Wabup di hadapan Menteri dan seluruh undangan termasuk seluruh Kepala Desa dan perangkatnya. Hari ini, (16/01/20) di Balai Desa Sirnoboyo, Pacitan.

Menteri Halim dalam sambutannya, mengatakan bahwa usai mendapat mandat sebagai Menteri benaknya langsung tertuju pada Kabupaten Pacitan. Ia tidak tahu alasannya, namun hal tersebut merupakan modal bagi dirinya dan seluruh desa kelurahan di Pacitan untuk bangkit menjadi semakin maju.

“Pacitan semakin kesana harus semakin bagus,” tegas Halim. Dengan kunci utama adalah kepala desa, mengingat, DPRD, bupati, gubernur hingga jajaran menteri hanyalah fasilitator saja. Melalui berbagai upaya konkrit seperti pengetasan Blank Spot.

Karena menurut Halim, sinyal adalah prasyarat wajib untuk membangun desa. Bekerjasama bersama Kominfo ataupun dengan penyedia jaringan telekomunikasi sehingga seluruh kegiatan dapat dilakukan dengan cepat. “Beberapa desa tanpa sinyal pertengahan tahun selesai,” tegas Halim berkomitmen.

Berbagai komitemen yang dilakukan oleh seluruh jajaran pemerintahan merupakan satu harapan nyata bagi desa supaya menjadi maju, dana desa yang kini berada pada angka Rp. 72 Triliun oleh Presiden Joko Widodo rencananya juga akan dilipatgandakan menjadi Rp. 400 Triliun.

Artinya desa mempunyai peluang untuk bertransformasi menjadi desa maju dan kuat melalui keterampilan kepala desa. Sedang seluruh jajaran pemerintah akan mengadvokasi dan memfasilitasi. “Semua fokus ke desa,” pungkas Menteri. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Perumahan Bersubsidi Harus Layak Dan Berseri

Seiring meningkatnya jumlah penduduk di seluruh wilayah termasuk di Kabupaten Pacitan, kebutuhan rumah sebagai tempat tinggal setiap tahun terus mengalami peningkatan. Hal tersebut membuat pemerintah pusat, provinsi hingga kabupaten dan kota melaksanakan pembangunan untuk mencukupi kebutuhan dasar tersebut.

Melalui program stimulan perumahan swadaya, dana alokasi khusus bidang perumahan serta KPR bersubsidi, sistem kredit pembiayaan pemilikan rumah mendapat bantuan dan kemudahan memperoleh rumah dari pemerintah. Berupa dana rumah jangka panjang dan subsidi perolehan rumah yang diterbitkan bank pelaksana baik secara konvensional maupun dengan prinsip syariah.

Selain harus terjangkau bagi masyarakat di Kabupaten Pacitan supaya sesuai dengan daya beli, sebuah perumahan menurut Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo harus Berseri (bersih, sehat, rapi dan indah). sehingga penghuni merasa nyaman disamping rumah tersebut sederhana.

“Kalau rumahnya bersih, hati kita bersih. Kalau rumahnya indah, hidup kita juga indah. Insya Allah rumah tangga juga tentram, dapat menjalani kehidupan lebih baik menuju masa depan,” ujar Wabup saat Launching Rumah Bersubsidi Berkualitas Gunas Abadi Pilar di Desa Sedeng, Pacitan, hari ini (15/01/2020).

Wabup juga berpesan kepada Developer (pengembang) untuk memperhatikan dan mengedepankan prasarana dasar, seperti akses jalan, listrik, air bersih, fasilitas ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Mengingat rumah yang layak menjadi hak bagi seluruh warga Negara Indonesia. Oleh karena itu dengan kemampuan yang ada, maka pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota akan terus menerus membangun perumahan-perumahan rakyat.

“Dengan harapan saudara-saudara kita memiliki tempat tinggal yang layak dalam lingkungan yang baik dan sehat, demi dapat mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin,” pungkas Wabup. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kunjungan Wisata 2019 Over Target

Nampaknya kerja keras Pemerintah Kabupaten Pacitan di bidang andalan yakni pariwisata membuahkan hasil manis, lantaran target kunjungan wisata yang ditentukan kembali tercapai, dengan total kunjungan Rp. 13,059 Milyar dari Rp. 12,5 Milyar target yang disepakati tahun 2019 atau 107 persen.

Tren positif yang ditunjukkan dari tahun ketahun tersebut menunjukkan bahwa pariwisata Pacitan memang layak menjadi andalan minimal di kancah regional, nasional, bahkan mancanegara. Hal tersebut tentu tidak berlebihan lantaran didukung dengan pembenahan di berbagai lini serta update dengan berbagai perkembangan zaman.

“Kerjasama itu berkaitan dengan link. Menghadirkan journey travel agent se Jawa-Bali ternyata dampaknya luar biasa,” kata T. Andi Faliandra Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparora) Pacitan eksklusif kepada Diskominfo Pacitan. Hari ini, Senin (13/01/2020).

Menghadapi tahun 2020, Disparpora ternyata telah menyiapkan gebrakan cerdas untuk memancing wisatawan betah berlama-lama tinggal di Pacitan. Ini tidak sulit, kondisinya yang aman, masyarakatnya yang ramah serta segala kebutuhan yang terjangkau membuat rencana tersebut akan direalisasikan Andi dan jajarannya dalam waktu dekat. “Target kita tamu berkunjung minimal 2 hari 1 malam,” terangnya.

Terlebih kabar beredar menunjukkan target kunjungan akan kembali dinaikkan menjadi 2.650.000 kunjungan atau Rp. 16,6 Miliar, pada tahun ini rata-rata para tamu didominasi wisatawan Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 70 persen, dan sisanya 30 persen Jawa Timur dan mancanegara.

Masalah sarana dan prasarana tetap menjadi perhatian apalagi karakter Andi yang tidak gampang puas dengan hasil kerja, didukung Disparpora sangat berkomitmen membuat nyaman seluruh tamu. Pembangunan dan perawatan selanjutnya akan didukung dengan peningkatan kapasitas SDM pelaku wisata di Pacitan dengan berbagai pertemuan dan pelatihan.

“Termasuk semua lembaga dan instansi yang terlibat disana kita akan beri pelatihan,” lanjut Andi. Dikabarkan berbagai kegiatan akan menghiasi destinasi dengan bermacam-macam festival sepanjang 10 bulan dalam satu tahun.

Menarik jika mengingat program lama tinggal yang akan digalakkan, ditambah puluhan warisan kekayaan seni budaya Pacitan sangat beraneka ragam dan layak untuk dipertontonkan kepada tamu yang datang, ini tentu berimbas langsung kepada masyarakat. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bapenda; Berhasil Cetak Masal SPPT PBB-P2 Diawal Waktu

Pemerintah Kabupaten Pacitan, melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) mulai melaksanakan cetak masal Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan (PBB-P2) oleh Bupati Pacitan Indartato dan Wakil Bupati Yudi Sumbogo di ruang pertemuan Bapenda hari ini, Jumat (10/01/2020).
Kepala Bapenda Pacitan Sakundoko mengatakan jumlah objek pajak pada tahun 2020 sebesar 646.642, dan wajib pajak sebanyak 628.032 lembar. Sementara luas bumi 930.918.759, dan luas bangunan sebesar 5.393.657 sehingga menghasilkan ketetapan sebesar Rp. 17.801.784.592. “Syukur Alhamdulilah Badan Pendapatan Daerah dapat melaksanakan cetak masal lebih awal, karena bisa melaksanakan cetak massal bulan maret,” kata Sakundoko.
Keberhasilan melaksanakan cetak di awal tahun tersebut merupakan capaian untuk target yang diharapkan kepatuhan untuk membayar pajak dapat dimaksimalkan, dengan perhitungan musim yang mendukung para petani untuk membayar SPPT, jangka waktu 3 sampai 4 bulan lebih dari cukup hingga musim panen tiba. “Sehingga tidak membebani masyarakat,” jelas Sakundoko.
Untuk target dari tahun ke tahun lanjut Sakundoko mengatakan target selalu terpenuhi, ia juga mengaku bahwa target malah terlampaui meskipun angka yang diperoleh tidak signifikan. Tanpa terkecuali para wajib pajak yang berada di luar kota, melalui berbagai langkah pihaknya akan melakukan penyisiran sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut dapat diperoleh secara maksimal.
Sementara Bupati Pacitan pada sambutannya menyampaikan apresiasi kerja Bapenda Kabupaten Pacitan dalam menyelesaikan tugasnya dengan berbagai capaian yang diharapkan, dilain target pendapatan Indartato juga berharap data yang dimiliki benar-benar akurat. “Data harus benar,” Tutur Indartato.
Semua itu terlepas dari kinerja Bapenda yang selalu berhubungan langsung dengan para wajib pajak, tidak menutup kemungkinan mendapat persepsi lain dari masyarakat, namun tugas harus tetap dilaksanakan demi Visi dan Misi Pacitan. “Bapenda biasanya dibenci orang karena tukang nagih,” ucap Bupati sambil terkekeh. (budi/riyanto/wira/DsikominfoPacitan).

Soft Opening Shelter Pusat Kuliner PLUT KUMKM Pacitan

Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2020 dirangkaikan dengan senam sehat dan dialog umkm sebagai bentuk promosi dan memperkenalkan pusat kuliner yang ada di PLUT KUMKM pacitan. Layanan kuliner di PLUT KUMKM pacitan merupakan salah satu food court yang menyediakan berbagai menu kuliner yang merupakan produk umkm kabupaten pacitan.

Terdapat sekitar 30 – 50 pelaku umkm kuliner yang akan menyajikan berbagai menu kuliner yang bisa dinikmati di shelter plut kumkm pacitan. Beberapa umkm yang menjual kuliner seperti

  1. Marine food – ayam goreng
  2. Mamels – bakaran sosis pedas
  3. Jagorani – aneka jamur olahan
  4. TigaDee – Pizza
  5. Bakso beranak
  6. Gudeg Jogja
  7. Warsan – Lontong kare
  8. Rawon dan soto pacitan
  9. Ikan laut goreng
  10. Gulai dan opor lontong
  11. Wisnu milk – susu & bakso keju
  12. Pawon pedas – soto lamongan
  13. Bluder manna – roti dan dawet
  14. Samawa cafe – ayam geprek
  15. Sumber roso – es campur
  16. Dare to drink – jus kacang ijo – coklat
  17. Teller duren
  18. Bogati food – roti dan kuliner olahan tepung mocaf
  19. Annisa Fresh Drink dan Coklat Aren Mbah Uti
  20. Sate Laler Pak’e Ismo
  21. Depot Kembang Sore – pecel lele
  22. dan masih banyak lainnya

Bagi anda warga kabupaten pacitan yang ingin menikmati kuliner makanan setiap hari dapat hadir pada Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan . Shelter Plut kumkm pacitan akan beroperasional setiap hari dari pukul 06.00 – 21.00 WIB untuk melayani kebutuhan kuliner masyarakat pacitan untuk makanan yang siap saji, makanan ringan serta jajanan pasar yang sehat dan bersih.

Selain itu shelter kuliner plut kumkm pacitan juga tempat yang cocok untuk nongkrong bersama teman dan keluarga dengan layanan yang mendukung untuk internet yang cepat yaitu wifi.id. tempat parkir juga tersedia, tempat makan yang nyaman serta jaminan service yang baik. Untuk berkuliner di awal tahun 2020 dan seterusnya tidak usah bingung nantinya langsung ke shelter PLUT kUMKM pacitan saja. selain itu tempat ngopi dan makanan juga pasti tersedia

Yuk hadiri nanti pada acara Soft Opening shelter pusat kuliner PLUT KUMKM Pacitan

Awas Bencana Hidrometeorologi Mengancam; Pemda Gelar Apel Kesiapan Pasukan Dan Perlengkapan.

Skenario terburuk dipilih dalam menghadapi segala kemungkinan yang ditimbulkan bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi di Kabupaten Pacitan di musim ini. Bersama TNI, Polri, Satpol-PP, BPBD dan yang lain apel serta gelar pasukan dilaksanakan di Lapangan Peta (09/01/2020).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo mengatakan berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, kewaspadaan harus terus ditingkatkan meskipun rilis resmi menunjukkan gambar positif, tapi alam bisa saja berubah sewaktu-waktu.

“Kita tidak berharap kejadian, tetapi yang kita siapkan kesiapsiagaannya seperti yang kita lakukan. Bukan bencananya tapi sekali lagi kesiapsiagaannya,” kata Didik yang paham betul bencana tidak dapat diprediksi meski dengan alat secanggih apapun.

Pemangku kebijakan kini mengetahui seberapa jauh kondisi seluruh personil baik pasukan hingga seluruh peralatan yang dimiliki. Apalagi Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo yang hadir pada apel tersebut mengatakan, upaya mendasar meningkatkan kewaspadaan dan budaya siaga adalah melalui latihan kesiapsiagaan. “Bersama seluruh aparatur pemerintah daerah dan sebagai langkah koordinasi semua unsur baik relawan dan dunia usaha,” kata Yudi.

Itu berlebihan jika menoleh kebelakang akan kondisi banjir dan tanah longsor yang terjadi 28 November 2016 silam karena sapuan ekor siklon tropis. Sempat beberapa waktu lalu BMKG secara resmi merilis adanya badai di timur Indonesia, meski akhirnya berjalan menjauh dari Indonesia namun hal tersebut membuat pemerintah pusat bersikap.

Mulai melakukan pemantauan rilis resmi baik dari BMKG, BNPB dan PVMBG yang diteruskan dengan pembentukan posko, menyiagakan seluruh aparat pemerintah daerah dan mengkoordinasikan dengan instansi terkait, menyiapkan sarana dan prasarana hingga menyiapkan alokasi anggaran dan menginformasikan potensi bencana kepada masyarakat.

Karena bencana semua dapat hilang dalam sekejap, baik hasil pembangunan yang telah dilaksanakan selama puluhan tahun hingga kondisi psikologi masyarakat yang terdampak. “Semoga dengan apel ini, koordinasi antar pemangku kepentingan di Kabupaten Pacitan semakin kuat dan menjadi tangguh dalam menghadapi ancaman bencana khususnya ancaman hidrometeorologi,” pungkas Yudi. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Lanjutkan Visi Misi; Lantik 77 Pejabat Struktural Dan Fungsional

Untuk melanjutkan Visi dan Misi yang telah disepakati, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan kembali melantik 77 Pejabat Struktural dan Fungsional, siang ini (07/01/2019) di Pendopo Kabupaten Pacitan.

Saat sambutan Bupati Pacitan Indartato menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian yang telah dilaksanakan selama bertugas ditempat lama. “Di Jabatan baru meski tidak cocok mohon sekiranya untuk dipahami,” tutur Indartato.

Bupati juga mengingatkan kepada seluruh ASN agar selalu bekerja dengan sebaik mungkin, mengingat rakyat selalu mengawasi pekerjaan yang dilaksanakan, demi menciptakan kepuasan di seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan pelantikan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, meliputi Kecamatan Bandar, Arjosari dan Donorojo yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Luki Indartato. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Sertijab Kapolres Pacitan

Secara resmi Kapolres Pacitan AKBP. Sugandi. S.I.K., M. Hum digantikan oleh AKBP. Didik Hariyanto. S.I.K, mulai kemarin (05/01/20). Sugandi mulai tanggal tersebut akan berpindah tugas ke Polres Situbondo, setelah menyelesaikan tugasnya di Pacitan selama satu tahun. (DiskominfoPacitan).

Indartato “Pemerintah desa dan pusat harus seia sekata,”

Segudang pekerjaan rumah menjadi beban kepala desa terpilih yang dilantik hari ini oleh Bupati Pacitan Indartato di Pendopo Kabupaten hari ini (06/01/2020), dalam rangka mewujudkan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Bila dijabarkan berbagai kondisi seperti kesenjangan sosial, kebodohan dan kemiskinan harus segera disikapi. Bicara kemiskinan Kabupaten Pacitan masih pada angka 14 persen, jauh ditinggal Nasional dan Provinsi yang berada pada angka 9 persen.

Hal tersebut mendasar lantaran desa merupakan ujung tombak segala bentuk kebijakan nasional. Sudah sepatutnya desa dan seluruh instrumen pemerintahan satu suara dalam berbagai kebijakan yang diputuskan. “Pemerintah desa dan pusat harus seia sekata,” kata Bupati dalam sambutannya di hadapan 113 Kepala Desa terpilih dan seluruh undangan.

Jika merujuk pada arahan Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini mengutamakan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), pembenahan birokrasi dan melakukan transformasi ekonomi. Kemudian ditindaklanjuti Gubernur Khofifah dengan Nawa Bhakti Satya. “Berujung pada menyukseskan tata kelola pemerintahan yang baik (dari desa),” lanjut Indartato.

Sehingga cita-cita menekan angka kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) termasuk harapan lama sekolah dapat terkejar dengan modal utama angka harapan hidup yang tinggi. “Dana desa juga dapat digunakan untuk pendidikan,” tambah Bupati.

Untuk menyukseskan berbagai tugas tersebut kepala desa tidak dapat bekerja sendiri, melalui wewenang yang dimiliki kepala desa harus bekerjasama dengan perangkat desa, tokoh masyarakat termasuk pengusaha. Serta mampu mengimplementasikan berbagai program pusat. “Kepala desa juga harus tetap menciptakan suasana yang selalu kondusif, aman dan tentram,” pungkas Indartato. (budi/anj/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Air PDAM Tetap Aman Di Musim Hujan

Banyak yang bertanya-tanya, amankah mengkonsumsi air Sungai Grindulu yang keruh akibat datangnya turun hujan. Termasuk perusahaan berplat merah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pacitan yang memanfaatkan air dari sungai tersebut untuk pelanggan wilayah kota mengambilnya dari Desa Purworejo, Pacitan.

Direktur PDAM Kabupaten Pacitan Agus Suseno secara tegas menyampaikan kepada Diskominfo Pacitan bahwa air yang dialirkan kepada masyarakat sangat aman. Karena telah memenuhi berbagai proses penyaringan, “Ada proses panjang sebelum kami alirkan,” kata Dia (03/01/20).

Di Kesempatan tersebut ia juga mengaku jika kualitas air saat musim hujan tidak sejernih saat kemarau, begitu juga di 16 instalasi PDAM di 10 kecamatan di Kabupaten Pacitan, rata-rata tingkat kejernihan air pasti menurun. “Tapi masih tahap wajar, aman dikonsumsi,” lanjut Agus.

Tidak hanya itu, Agus juga meyakinkan bahwa PDAM Kabupaten Pacitan adalah perusahaan yang selalu profesional dibidangnya sebagai pelayan yang baik kepada seluruh pelanggan. Setiap bulan uji kualitas air juga tertib dilakukannya sebagai satu standar operasional yang haram jika ditinggalkan.

“Memang waktu-waktu musim hujan inikan peralihan kemarau ke hujan tidak sejernih saat kemarau, tapi sekali lagi pengelolaan sudah memenuhi standar kesehatan sehingga aman dikonsumsi,” pungkas Agus yakin. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Berendam dan Kuliner saja di Jaten

Terletak di di pusat kota yang sejuk menjadi keunggulan kolam renang ini, sehingga cocok menjadi alternatif bagi mereka yang bermacet-macet. Dengan tiga kolam yang bervariasi,  membuat kolam renang ini cocok berendam bersama keluarga di tahun baru.

Setelah lelah berenang anda pun bisa menikmati aneka kuliner yang beragam di dalam area ini, dimasak khusus warga sekitar dengan khas bumbu Pacitan.

Rizki pramudita

SMK N 1 PACITAN

Akses Mudah; Soge Menjadi Pilihan

Pantai Soge adalah salah satu destinasi wisata pantai di Pacitan yang memiliki kemiripan dengan satu pantai Pandawa yang terletak di Provinsi Bali.

Pantai ini menjadi destinasi unggulan karena aksesnya lang mudah. Berada di antara Jalur Lintas Selatan 40 Kilometer dari pusat kota.

Soge selalu dipadati wisatawan khususnya pada hari hari libur seperti libur tahun baru ini. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke pantai soge. Salah satunya adalah wisatawan yang berasal dari Kabupaten Ponorogo. Pamuji, mengaku pantai soge cocok menjadi pilihan saat berlibur bersama keluarga.

“Menurut saya pantai ini bagus dan indah fasilitas yang diberikan juga sesuai dengan harga tiket yang terjangkau, hanya saja kurang nya pepohonan untuk tempat wisatawan berteduh.” Kata pak Pamuji.

Mohammad Hengki Tirana

SMKN Ngadirojo

Ke Watukarung Juga Boleh

Pantai yang memiliki ombak yang dahsyat dan cocok untuk para surfer ini tetap menjadi pilihan wisatawan, lanskap yang indah, didukung keramahan masyarakat dan kuliner yang beraneka ragam menjadi Pantai Watukarung ramai di akhir tahun.

Belum lagi masyarakat sangat menjaga kebersihan dan keasrian pantai, membuat wisatawan disana betah untuk berlama-lama. Sambil bermain di hamparan pantai putih yang dikelilingi karang yang mencuat ke permukaan, semakin menambah eksotisme destinasi ini.

Anggita Nur Fadilah

SMK N 1 Donorojo

Air Coklat; Sungai Maron Tetap Menjadi Pilihan

Sayang, di moment tahun baru air sungai berwarna coklat akibat musim hujan,namun tidak mengurangi animo wisatawan baik dalam maupun luar kota Pacitan untuk datang berkunjung ke Amazonnya Pacitan ini.

Tempat ini mulai dijadikan sebagai tempat wisata sejak tahun 2012 lalu. Sungai yang awalnya hanya menjadi sarana transportasi warga setempat menuju sawah ini dikelola dengan baik sehingga menjadi destinasi wisata pilihan wisatawan yang menginginkan pengalaman baru.

Tarif masuk ke wisata Sungai Maron ini terbilang sangat terjangkau yaitu hanya Rp.5000,00 untuk dewasa dan anak anak tidak dipungut biaya dan parkir untuk roda dua hanya Rp.2000,00 sedangkan roda 4 Rp.5000,00

Para wisatawan yang ingin menyusuri sungai yang memiliki panjang 4 Kilometer ini bisa menyewa kapal Jukung, dapat muat untuk 5 orang dengan sewa mulai Rp. 100.000,00.

“Antusias pengunjung untuk menikmati keindahan sungai ini sangat tinggi, terutama saat momen spesial seperti tahun baru ini”.Kata Arya Taufik Petugas Karcis.(1/1/20)

Danni Wahyudianto

SMKN 1 PACITAN

Manjakan Mata Di Pantai Siwil

Pantai Siwil merupakan salah satu pantai yang ada di timur kota Pacitan, tepatnya di Desa Sidomulyo, Ngadirojo, Pacitan. Pantai ini memiliki keindahan alam yang patut untuk dikunjungi, karena memiliki batu karang yang bagus serta lanskap yang indah dari atas bukit.

Seperti Ado Verdiatama, bersama temannya memilih merayakan tahun baru ke Pantai Siwil karena tempatnya lebih asri dibanding pantai yang lain, Namun sayangnya pantai ini memang masih baru di buka dan akses jalannya masih sulit untuk dilalui.

namun , bukan tidak mungkin Pantai Siwil akan berubah menjadi destinasi wisata favorit karena keindahannya, sejajar dengan Pantai Klayar atau yang lain.

Muhamad Nuralam

Smkn Ngadirojo

Beiji Park Destinasi Instagramable 2020

Tahun baru 2020 memasukkan Baiji Park menjadi destinasi wisata tahun baru yang menarik untuk dikunjungi. Lokasi barat daya tidak jauh dari pusat kota dengan suguhan spot foto menarik. Dapat pula menikmati view kota dari dataran tinggi.

Destinasi wisata keluarga di kecamatan Pringkuku tersebut rampung direhab tahun 2019 ini berhasil memikat wisatawan luar dan dalam kota Pacitan. Bukan hanya tempat berfoto para pengunjung juga menikmati bercengkerama dengan keluarga dibawah rindangnya hutan.

Ida Royani, salah satu pengunjung mengaku tidak rugi datang. Pasalnya kabar Baiji Park yang selama ini didengar dari media sosial tersebut benar-benar istagramable. Bersamaan dengan pernyataan tersebut Ida sekaligus mengupload beberapa foto dimedsosnya.

“Saya suka semua spot foto yang ada disini, di perahu yang besar itu, kita bisa melihat laut Pacitan dari atas, pokoknya keren banget.” Sambungnya menjelaskan pada Diskominfo 01/01/2020.

Ia pun memungkasi obrolan dengan rasa bangga sekaligus pesan pada semua pengunjung dan pemerintah untuk konsisten menjaga keasrian Baiji Park.

Putri Zetha Alviany

SMKN 1 PACITAN

Pilih Nge-Camp Di Srau

Pantai Srau masuk dalam tujuan wisata favorit karena tempatnya yang indah dan perawan, lokasinya di Desa Candi, Pringkuku, Pacitan ini terdiri dari tiga bibir pantai yang dibatasi oleh batu karang.

Satu hal paling spesial dari Pantai Srau adalah pengunjung dapat menyaksikan sunset indah dari bibir pantai. Sunset dapat diamati dari bagian pantai ke tiga. Tidak hanya untuk melihat sunset dan pemandangan dari atas, bukit karang yang menyerupai sabana ini juga dapat dijadikan sebagai spot camping.

Untuk dapat memasuki lokasi wisata Pantai Srau hanya dikenai tarif sebesar Rp 5.000 per orang dengan jam operasional selama 24 jam non-stop sehingga pengunjung dapat dengan leluasa memanfaatkan momen bersantai tanpa gangguan waktu.

“Pantai srau sangat unik karena memiliki bibir pantai yang luas, sehingga meskipun di hari libur banyak pengunjung kita bisa tetap leluasa,” ujar Herfi salah satu pengunjung yang nge-camp kemarin (01/01/20).

Selain itu pengunjung dimanjakan oleh sarana dan prasarana yang lengkap, seperti mushola, pedagang dan toilet, kata Herfi pantai Srau adalah destinasi terbaik untuk bersantai menghabiskan tahun baru khusus bersama teman ataupun keluarga.

Ulfiyana Anggi Saputri

SMK Negeri 1 Donorojo

Pantai Perawan Mbenges

Pantai Mbenges, demikian tempat itu dikenal oleh warga sekitar. Terletak di Dusun Krajan,Desa Jetak, Kecamatan Tulakan. Suguhan pantai perawan dapat ditemui dikedalaman hutan akasia sepanjang 1km dengan jalan tanah berbatu.

Perjalanan panjang dan tidak mudah bukan penghalang wisatawan untuk datang. “Daya tariknya dipemandangan yang masih perawan, pantai baru, membuat saya dan keluarga penasaran,” tutur Wasoso yang mengaku tidak tertipu dengan kabar keindahan pantai Mbenges.

Liburan tahun baru 01/01/20 membuat pantai Mbenges kedatangan banyak tamu wisatawan. Beberapa pengunjung menyayangkan belum adanya penjual makanan disana. Sementara wisata dan kuliner adalah satu kesatuan yang dibutuhkan bersamaan.

Rendi Nanda putra

Smkn ngadirojo

Eksotika Pasir Kerikil Pantai Pidakan

Dari puluhan pantai di Pacitan yang digandrungi pengunjung pada liburan tahun baru 2020 ini Pantai Pidakan adalah salah satunya. Menyuguhkan wisata alam dengan pasir berkerikil membuat pidaka memiliki menu berbeda.

Bukan hanya pengunjung luar kota pertama kali datang yang mengakui keelokannya, beberapa wisatawan dari dalam kota pun masih menyisihkan waktu menikmati libur dibibir Pantai Pidakan Desa Jetak, Ngadirojo, Pacitan.

“Ini kunjungan pertama saya dan keluarga ke Pidakan, dan sangat memuaskan,” ujar pak Eko 01/01/20.

Eko bahkan mengatakan jika ada waktu liburan lagi pasti akan kembali berkunjung ke Pidakan. Kenyamanan dan keasrian masih sangat terjaga.

Dimas Rizqi Reihan

Smkn Ngadirojo

Klayar Tetap Primadona

Pantai Klayar pada pukul 09:00 WIB pada (01/01/2020), setelah selanjutnya pantai dengan pasir putih dan batu karang serta tebing-tebing batu yang mengelilingi ini penuh sesak, jalan menuju lokasi tersebut macet total.

Memang pantai ini selalu dipadati pengunjung khususnya pada saat liburan dan tahun baru. Eka salah satunya, mengaku Pantai Klayar menjadi pilihannya lantaran alamnya yang indah lengkap dengan debur ombak dan seruling samuderanya.

“Pantai klayar sangat bagus pemandangannya dan seruling laut seperti air mancur saat ombaknya datang”. Terang Eka. Apa lagu selfie dengan baground pantai klayar merupakan satu prestise tersendiri pagi siapa saja, terlebih saat momen tahun baru ataupun hari raya.

Yustika Rahmawati

SMKN 1 Donorojo

Selamat Tahun Baru 2020

Satu kesempatan baik menuju tahun baru 2020, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melaksanakan berbagai kegiatan yang meliputi pameran produk UMKM dan IKM, gelar seni dan ditutup dengan pengajian serta doa bersama, memohon berkah untuk tahun baru yang semakin bersinar bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan.

Warga bersama pemerintah yang menjadi satu tersebut pun tampak terhanyut dengan doa tutup dan awal tahun, setelah sebelumnya pengajian bersama DR. H. Zainur Rosikin yang mengemas materi pengajian dengan gaya jenaka..

Mengutip sambutan Bupati di akhir pemutaran kaleidoskop, ia mengajak kepada seluruh pihak untuk  turut serta mensukseskan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan tahun 2020. Satu ajang penting bagi masa depan Kabupaten Pacitan Supaya Pacitan tetap adem, ayem dan tentrem “jadikan kesempatan ini menjadi ajang silaturahmi dan evaluasi diri,” tambah Bupati dalam sambutannya sesaat sebelum menyalakan kembang api. (Tim/DiskominfoPacitan).

Pembangunan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Momen spesial penghujung tahun 2019 menjadi saksi diresmikannya puluhan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Pacitan oleh Bupati Pacitan Indartato. Penandatangan prasasti tersebut meliputi sektor jalan, kesehatan, sarana gedung, sekolah, pasar hingga tugu, pagi ini berpusat di pasar Arjosari (31/12/19).
Inovasi kreatif berupa e-Retribusi juga dilaunching oleh Bupati pada kesempatan itu, menunjukan semakin mantabnya komitmen pemerintah terhadap kesehatan, pendidikan dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pacitan.
Muhammad Yunus Asisten II Bidang Perekonomian Dan Pembangunan, sebagai panitia kegiatan menyampaikan ribuan paket pekerjaan rampung sesuai rencana. Meski ia mengakui kendala yang mungkin ada supaya dibicarakan bersama “Untuk menemukan titik temu sehingga seluruh capaian benar-benar bisa dinikmati masyarakat,” kata Yunus.
Sementara Bupati pada kesempatan tersebut mengatakan peresmian pemanfaatan yang berpusat di pasar arjosari merupakan kebanggan masyarakat di kabupaten pacitan, hasil pembangunan lebih baik dengan bangunan yang lama.
“Sekaligus di pasar Arjosari menjadi awal diberlakukannya e-Retribusi, semoga ini benar-benar bermanfaat,” kata Bupati.
Sementara pembangunan yang berkelanjutan di sektor kesehatan di RSUD dr. Darsono diharap Bupati semakin menambah kualitas pelayanan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan. Termasuk sektor pendidikan SD dan SMP Satu Atap di Desa Karanggede, Arjosari.
Bupati juga menyinggung maksud dibangunnya tugu Parasamya Purnakarya Nugraha di perempatan penceng, ternyata hal tersebut sebagai barometer pemerintah untuk terus melaksanakan pembangunan dengan baik. “Inilah tantangan kita kedepan,” pungkasnya. (Budi/Anjar/Riyanto/Wira/DiskominfoPacitan).

Sambut Tahun Baru, Maksimalkan Pasar IKM Dan UMKM

Masyarakat Kabupaten Pacitan benar- benar terhibur dengan penampilan Denny Cak Nan malam ini (30/12/19), hal itu terbukti dengan alun-alun kota Pacitan yang penuh sesak oleh penonton baik dari dalam maupun luar kota Pacitan.

Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan memang berkomitmen memberikan hiburan kepada masyarakat dan wisatawan yang menikmati libur tahun baru dengan suguhan terbaik melalui bingkai Gelar Kreasi Seni, Produk UMKM dan IKM asli kota 1001 goa ini.

Sehingga selain menghibur, pasar UMKM dan IKM Pacitan semakin memperoleh kesempatan, yakni pasar yang lebih luas. Dilain sisi gelaran selama tiga hari ini semakin meyakinkan khalayak atas komitmen Pemerintah Kabupaten Pacitan sebagai kota pariwisata.

Tari Krenova menjadi pembuka acara sekaligus menjadi penanda kedatangan Bupati Pacitan Indartato beserta rombongan, dilanjutkan dengan membuka secara resmi pameran produk UMKM dan IKM.

Tidak cukup sampai disitu, band terkemuka Mahameru dari Solo Provinsi Jateng, turut memeriahkan acara tersebut, penonton pun seakan terhanyut seluruh penampilan yang tersaji, didukung dengan cuaca yang bersahabat malam itu.

Tidak ketinggalan, kesenian Kethek Ogleng asli Kabupaten Pacitan menunjukan performanya di atas panggung, hal tersebut menunjukkan hadirnya pemerintah dan komitmen terhadap seluruh potensi Kabupaten Kabupaten Pacitan.

Di malam yang spesial tersebut Bupati juga berkesempatan menyerahkan hadiah kreatif inovatif kepada para pemenang.

Kepada insan media Bupati berharap dari kegiatan ini dapat memicu pasar UMKM dan IKM yang lebih luas. “Begitu juga pertanian, mengingat pertanian merupakan ibu dari semua kegiatan yang ada, hari ini kita juga pamerkan,” kata Dia (tim/DiskominfoPacitan).

Bahaya! Jangan mengunjungi Lokasi Pantai Antara Pancer Dan Teleng.

Wisatawan benar-benar dihimbau untuk tidak berkunjung ke area kosong antara pantai Pancer Door dan pantai Teleng Ria atau belakang arena Pacuan Kuda. Titik kosong tersebut selain tidak ada penjagaan ternyata dibawahnya terdapat pusaran air bawah yang cukup membahayakan wisatawan yang berkunjung lalu tiba-tiba berenang.
“Perenang profesional saja bahaya berenang disitu,” ujar T. Andi Faliandra Kepala Disparpora Pacitan kepada Diskominfo, Usai melaksanakan pemasangan rambu tanda bahaya, bersama Polres Pacitan yang memasang Police Line di sepanjang lokasing tersebut.
Rapat koordinasi bersama jajaran terkait tersebut dilakukan usai adanya 2 korban meninggal asal Jombang, akibat memaksakan diri berenang di area kosong tersebut. kemarin Sabtu (27/12/19).
Andi melanjutkan pemasangan rambu peringatan itu saat ini hanya bersifat sementara, ke depan pihaknya akan memasang tanda yang bersifat permanen. “Makanya kita tidak kembangkan karena daerah tersebut sangat berbahaya untuk dikunjungi,” pungkasnya. (timDiskominfoPacitan).

Duta Wisata 2019 Dorong Seni, Budaya Dan Wisata Pacitan

Satu ajang bergengsi bagi para kaum milenial di Kabupaten Pacitan kembali dilaksanakan Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Pacitan. Guna melanjutkan visi dan misi memajukan kepariwisataan di dalam nuansa Gala Night Kethuk Kenang 2019. Juga demi mengemban satu nama besar Pacitan Paradise Of Java.

Disparpora Pacitan mengemas ini begitu spesial. Spektakuler, karena digelar di Alun-alun Kota Pacitan sekaligus menjadi pembuka rangkaian Gelar Kreasi Seni Produk UMKM Dan IKM Yang juga akan dimeriahkan artis yang lagi naik daun Denny Caknan.

Duta wisata yang terpilih setahun kedepan akan memikul tugas berat, utamanya mengembangkan dan memajukan kepariwisataan yang dipunyai Pacitan, baik melalui program kerja dari Disparpora maupun inovasi yang mereka miliki.

Kadis Disparpora sekaligus Ketua Panitia Kegiatan, T. Andi Faliandra pada sambutannya menyampaikan pemilihan kegiatan bergengsi ini telah dimulai sejak bulan September lalu. Menyaring muda-mudi terbaik dari 12 kecamatan, yang nanti akan menyisakan 6 Kenang dan 6 Kethuk. “Nanti akan mengembangkan seni, budaya dan tentu pariwisata Pacitan,” katanya kemarin malam (29/12/19).

Bagi Guntoro dan Avi Vivilana Kethuk Kenang 2018, setahun masa jabatannya mereka habiskan untuk promosi dengan memanfaatkan sosial media (Medsos). Tugas terberat yang tidak ada habisnya adalah mengenalkan pariwisata Pacitan kepada generasi muda. “Supaya mereka juga turut menjaga dan ikut promosi,” kata Avi dan Guntoro usai mereka berpamitan.

Dari seluruh rangkaian penilaian, akhirnya Kenang finalis atas nama Ferdytian Yogi dan Kethuk Novika Mei One Saputri terpilih menjadi Duta Wisata 2019. Kepada Diskominfo Pacitan mereka mengatakan secepatnya akan memviralkan satu demi satu seni, budaya dan pariwisata Kabupaten Pacitan. “Kami juga akan menggelar sharing untuk menambah pengetahuan terhadap kepariwisataan kepada semua pelaku wisata,” terang mereka. (budi/Rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Luncurkan Gaspol; Polres Pacitan Bertekad Beri Layanan terbaik Untuk Masyarakat

Polisi Resor Pacitan (Polres Pacitan) berinovasi dalam rangka melayani masyarakat dengan meluncurkan Aplikasi Gaspol (Kegiatan Sambang Polisi Pelayanan Polres Pacitan). Layanan berbasis TI ini nantinya akan memudahkan masyarakat mulai surat kehilangan, laporan, saran maupun pengaduan, informasi pelayanan kepolisian bahkan pelayanan SIM, pajak ranmor, SKCK.

Kapolres Pacitan, AKBP Sugandi mengatakan hal tersebut sebagai langkah awal untuk memicu investasi dan menambah lapangan pekerjaan sesuai dengan arahan Presiden. “Target besar bagaimana pelayanan publik mudah, murah dan cepat. Dengan mengandalkan teknologi informasi yang dapat dijangkau seluruh masyarakat,” kata Sugandi saat Launching Gaspol di gedung Karya Dharma hari ini (27/12/19).

Dengan menggandeng Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Pacitan (Diskominfo Pacitan) aplikasi Gaspol dapat langsung digunakan oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan dengan tampilan Website maupun di download melalui Playstore yang mudah dimengerti semua kalangan dan  usia. “Nanti Polsek-Polsek terlibat, supaya menjadi pelayan hingga pelosok-pelosok desa,” lanjut Sugandi.

Seperti Wadah Aspirasi Dan Pengaduan Layanan Secara Elektronik Kabupaten Pacitan (Wadule Pacitan) yang dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui kritik dan saran. Gaspol selanjutnya diharap bisa bersinergi dengan instansi lain untuk memaksimalkan laman yang telah dibangun itu.

Bupati Pacitan Indartato mengapresiasi langkah Polres tersebut, mengingat Gaspol mampu menambah khasanah pelayanan yang cepat di kabupaten Pacitan, apalagi jika mau kembali pada tiga prinsip sebuah negara, yakni menciptakan keamanan dan ketertiban, kesejahteraan, dan penengah jika terjadi perselisihan.

Di era disrupsi ini Bupati menegaskan bahwa seluruh instansi pemerintahan harus cepat dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Itu terbukti dengan dibentuknya SMS Center pada tahun 2012, sebagai cikal bakal Wadule Pacitan. Dan disempurnakan dengan berdirinya LikIn (Aplikasi Terintegrasi Pemerintah Kabupaten Pacitan) dibawah Diskominfo Pacitan.

“Inilah komitmen kami dalam melayani masyarakat dengan informasi yang kami sampaikan,” kata Bupati. diluncurkannya Gaspol tentu merupakan capaian yang luar biasa Polres Pacitan untuk pelayanan terbaik seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Pacitan tanpa terkecuali. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Kabupaten Pacitan Tidak Kenal Mayoritas Dan Minoritas

Di Kabupaten Pacitan pemeluk agama non muslim hanya sekitar 2 persen dari jumlah total masyarakat yang ada, namun itu tidak membuat mereka merasa tidak nyaman dan terganggu. Mereka dapat hidup berdampingan, dapat melaksanakan semua kegiatan termasuk saat perayaan Natal yang dilaksanakan hari ini (25/12/19).

Usai perayaan natal di Gereja Bethel Indonesia (GBI) di kelurahan Pacitan Pendeta Suwandi mengaku, semua elemen masyarakat dan pemerintahan begitu perhatian untuk segala kegiatan peribadatan agamanya.

“Kami mendapat perhatian dari semua unsur dari bapak-bapak pengaman baik Polisi, TNI dan Satpol PP. Mereka selalu berada di tengah-tengah kami,” katanya lega.

Pada perayaan Natal ini pemeluk Nasrani mengambil tema “Hidup adalah sahabat bagi semua orang”. Tema tersebut dinilai semakin memantapkan kota seribu satu goa ini dalam perbedaan, tidak sedikitpun mengurangi adem ayem dan tentram yang menjadi ciri khas masyarakatnya.

Di Hari sebelumnya (24/12/19), Bupati Pacitan Indartato melaksanakan Patroli Motor bersama unsur TNI dan Polri. Sinergitas tersebut sangat perlu diadakan untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat perayaan natal dan tahun baru.

Dari rilis laman Humas Pemkab Pacitan Indartato melaksanakan patroli hingga Kecamatan Punung, meninjau langsung gereja yang ada di sana. “Pacitan harus tetap kondusif di semua momentum,” tutur Indartato.

Sementara Kepala Kementerian Agama Pacitan Muhammad Nurul Huda mengatakan, di Pacitan tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas semua dapat hidup berdampingan tanpa adanya gesekan yang berarti. “Kami merupakan wadah bagi seluruh agama,” ujar Huda. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jauh Dari Belanda; Memilih Liburan Di Pacitan

Rich dan keluarganya enggan menyia-nyiakan kesempatan libur panjang Natal dan tahun baru cukup di negaranya Belanda.

Ia, Ibu Koen Hariga dan adik-adiknya lebih memilih berjalan-jalan ke Indonesia selama 20 hari, salah satunya menikmati indahnya pantai di Kabupaten Pacitan.

“Aku dan keluarga sangat menikmati segalanya disekitar selama disini (Pacitan),” kata Rich usai di translate ke bahasa Indonesia saat diwawancara di salah satu cafe (24/12/19).

Ditanya soal kemajuan kepariwisataan Pacitan, ia mengaku tidak banyak yang harus perbaiki, karena Rich yang bekerja di jasa konstruksi tersebut sudah cukup mengagumi keasrian Pacitan. “Kita datang kemari karena disini masih alami,” lanjutnya yang memiliki nama panjang Rich Haringa itu.

Keluarga tersebut mengaku enggan cepat-cepat meninggalkan Pacitan, selain masih banyak destinasi wisata yang belum dikunjungi Rich sangat menikmati keramahtamahan masyarakatnya. (Budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hebat! Dinas PUPR Pacitan Selesaikan Program Pembangunan Tahun 2019

Penghujung tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang (PUPR) menyelesaikan pembangunan dengan pagu anggaran mencapai 156 Miliar. Program tersebut sesuai target yang diharapkan melalui tiga Bidang dengan 15 program dan 54 kegiatan.

Bidang Bina Marga fokus pada tiga kegiatan, mulai pembangunan, rehabilitasi jalan dan rehabilitasi infrastruktur jalan. Pada tahun ini Muhammad Muslih Kepala Bidang Bina Marga mengatakan fokus lebih pada perbaikan area Black Spot yang memiliki kerawanan kecelakaan tinggi, sedang kewenangan jalan kabupaten di Pacitan sepanjang 798 Kilometer.

“Seperti jalan Bangunsari-Ngadirejan kilometer 300 Desa Sedeng, sering terjadi laka lantas karena kondisi tikungan yang tajam kita perbaiki. 2019 insya Allah selesai,” beber Muslih kemarin (19/12/19) kepada Diskominfo Pacitan.

Bina Marga juga memprioritaskan pembangunan sesuai dengan kesepakatan Musrenbang. Meski konsentrasi utama adalah pembangunan penghubung akses wisata utamanya di tiga desa di Kecamatan Pringkuku, yakni jalan penghubung Desa Dadapan dan Desa Watukarung serta Desa Dersono.

“Kita prioritaskan kawasan wisata utamanya pantai dan karst,” lanjut Muslih. Menegaskan pembangunan di tiga desa tersebut juga kelar di tahun 2019. Sementara pembangunan jembatan, seperti di Desa Gunungsari yang dipastikan selesai pada tahun 2020.

Sementara untuk mempercantik kawasan kota, pembangunan trotoar menjadi pekerjaan utama Bidang Cipta Karya. Dengan total pembangunan sepanjang 2 kilometer, dan ditambah pembangunan fasilitas MCK untuk mendukung pelayanan pada masyarakat dan wisatawan.

“Kita juga melaksanakan pembangunan gedung dan rehab. Salah satunya yang tuntas adalah pembangunan gedung Badan Kepegawaian Pembangunan Sumber Daya Manusia (BKPPD) dan Balai Kelurahan Pacitan yang masuk pada tahap 2,” ungkap Tonny Setyo Nugroho Kasi Tata Bangunan.

Melihat fenomena kekeringan di setiap musim kemarau, Seksi Penyehatan Lingkungan Dan Air Bersih Bidang Cipta Karya tanggap dengan memaksimalkan sumber air bersih supaya dapat digunakan oleh masyarakat. Pembangunan tersebut dilaksanakan secara bertahap dan difokuskan di titik kekeringan paling parah.

Tiga pilar Pengelolaan sumberdaya Air pertama konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air dan pengendalian daya rusak air. Lebih lanjut Yudo Tri Kuncoro Kepala Bidang Sumber Daya Air menjelaskan pilar-pilar pengelolaan tersebut akan diwujudkan dalam 2 program yakni pengelolaan dan pengembangan jaringan irigasi, rawa dan jaringan sumberdaya air laut serta program pengembangan dan pengelolaan konservasi sungai dan danau. Program pertama diwujudkan dalam 6 kegiatan sebanyak 102 paket pekerjaan, mendapatkan alokasi anggaran kurang lebih 20 Milyar.

Pada program kedua terdapat 4 kegiatan sebanyak 27 paket pekerjaaan dengan alokasi anggaran 6 Milyar. Menurut Yudo, Yang menjadi prioritas adalah rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan Embung. Hal ini sebagai wujud dukungan pada program pemerintan yaitu penciptaan lahan baru sebesar 1 juta Hektar tersebar di seluruh Indonesia. “Untuk irigasi target kita seluas 160 Ha/tahun tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan, sampai saat ini sudah 488 Ha dengan target 2019 seluas 480 Ha,” terang Yudo.

Dampak positif dari kemarau panjang di Pacitan adalah pada percepatan pembangunan sehingga target terpenuhi, seperti rencana 17 Embung, di tahun 2019 dapat menyelesaikan 18 Embung. Pihaknya berharap   terwujudnya konsep pengelolaan Sumberdaya air yang benar, yakni menampung semaksimal mungkin, meresapkan, dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerusakan. Secara spesifik Yudo berharap dengan adanya Embung dapat menjadi penyedia air baku dan berfungsi sebagai konservasi.

Kepala Dinas PUPR Pacitan Edy Yunan Ahmadi mengatakan hingga kini tidak ada kendala berarti pada puluhan kontrak yang dikerjakan bersama pihak ketiga tersebut, begitu juga dengan proses administrasi, meski ada keterbatasan tenaga di bidang tersebut namun diharapkan dapat rampung sesuai dengan kesepakatan.

Dari keseluruhan anggaran tersebut konsentrasi berada pada kesempurnaan pekerjaan, sehingga apa yang telah dikerjakan memiliki kesamaan persepsi dengan masyarakat. Sesuai dengan fokus yang ada, baik mendukung pariwisata, pertanian dan perikanan dan kelautan. Sesuai dengan komitmen kepala daerah tersebut masuk dalam program jangka panjang yang ditargetkan selesai tahun 2028. “Pada prinsipnya kita mengerjakan kegiatan-kegiatan yang direncanakan RPJMD dan RPJP,” pungkas Yunan. (budi/anj/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pantau Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal Dan Tahun Baru

Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2019 Bupati Pacitan Indartato bersama wakilnya Yudi Sumbogo memantau langsung harga bahan pokok di Pasar Arjowinangun dan Pasar Kelapa Pacitan. Dilaksanakan pagi tadi (20/12/19).

Dari temuan yang didapat di dua pasar tersebut Indartato mengakui beberapa harga bahan pokok diakui naik, namun pihaknya bersyukur karena masih dalam kategori wajar.

Untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan dalam perayaan ini, pemerintah jika perlu akan melakukan operasi pasar secara berkelanjutan. “Saya berharap kepada masyarakat (Pedagang) supaya menjaga kestabilan harga. Jangan sampai kekurangan dalam rangka menghadapi Natal dan Tahun Baru,” kata Bupati.

Sementara untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas Elpiji diakui Bupati dalam kondisi aman. Ia juga berharap kepada Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) untuk buka 24 jam selama momentum tersebut.

Hal ini guna mengantisipasi arus mudik yang terjadi dan tingginya lonjakan wisatawan yang bakal bertamu ke Kabupaten Pacitan. “Yang pasti kami sudah mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan,” tambah Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Jaga Sumber Air Tetap Mengalir, Indartato Bersama-Sama Tanam Ribuan Pohon Produktif Di Kali Mason

Pohon aren yang memiliki sifat menahan air ditanam Bupati Pacitan Indartato tepat diatas sumber mata air sungai mason, di Dusun Krajan Lor, Desa Mantren, Kecamatan Punung. Gerakan Tanam Pohon Nasional 2019 ini digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, melibatkan semua unsur pemerintahan, tokoh masyarakat hingga pelajar.

Mata air sungai mason memiliki peran vital bagi masyarakat baik yang berada di Kecamatan Punung, Donorojo bahkan hingga Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Kata bupati setiap hari lima sampai enam tangki diambil untuk dikirim kepada masyarakat yang mengalami kekeringan. “Satu bulan ini saja sudah diambil 1100 tangki,” kata Bupati (19/12/19).

Pemerintah ingin berbagai program pelestarian alam terus dilakukan secara berkelanjutan, baik di wilayah yang mengalami kerusakan maupun di lokasi-lokasi sumber mata air. Mengingat krisis air bersih terus mengancam disetiap musim kemarau.

Indartato juga meminta kepada semua Camat Kabupaten Pacitan untuk terus memonitor pohon yang telah ditanam, minimal selama setahun usai penanaman.

Setidaknya tahun 2019 Kabupaten Pacitan telah menanam sebanyak 1.628.377 bibit, baik tanaman produktif atau pun tanaman konservasi. Tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan yang umumnya ditanam di hutan rakyat.

Melihat itu Indartato meminta kesadaran masyarakat untuk memahami kondisi alam saat ini, masyarakat harus terlibat menjaga dan merawat pohon, supaya ditahun yang akan datang masyarakat tidak mengalami kekeringan lagi. “Kami meminta kepala desa dan perangkatnya untuk turut menjaga tamanan ini,” pungkas Indartato. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tugu Parasamnya; Simbol Keberhasilan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.

Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha akhirnya selesai dibangun, prasasti tepat berdiri di tengah Perempatan Penceng, salah satu pusat lalu lintas kota Pacitan. Banyak masyarakat banyak yang belum tahu apa itu Parasamya.

Kasi Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Tonny Setyo Nugroho kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, Tugu Parasamya merupakan satu simbol kerja pemerintah bersama masyarakat Kabupaten Pacitan yang telah berhasil menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan bersama. Diserahkan Presiden kepada Gubernur, Walikota ataupun Bupati.

Meski proses perencanaan pembangunan sempat mengalami berbagai pro dan kontra, namun bersama dengan berbagai tokoh termasuk budayawan akhirnya pembangunan tugu tersebut akhirnya disepakati.

Untuk proses pengerjaan lanjut Tonny menghabiskan waktu selama 3 bulan, dengan anggaran sebesar 478 juta Rupiah. Hal tersebut lantaran seluruh kualitas material menggunakan bahan terbaik. “Kita menggunakan pondasi dalam, kemudian ada beton. Serta kita finishing dengan marmer,” paparnya hari ini (18/12/19).

Secara umum pembangunan sudah selesai dikerjakan, namun tugu itu belum sepenuhnya dapat dinikmati khususnya di malam hari, lantaran lighting yang dipasang ternyata belum sesuai dengan konsep awal, “Terpaksa kita kembalikan. Karena Lighting kita khusus, jadi harus kita instal dengan baik untuk memberikan keindahan yang sempurna,” pungkas Tonny. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hari Ibu Ke-91; Dorong Pemangku Kepentingan Tingkatkan Kualitas Perempuan Indonesia

Hari Kebangkitan Perempuan atau Hari Ibu ke-91 kembali dirayakan Pemerintah Kabupaten Pacitan, dengan berbagai kegiatan termasuk Upacara Bendera, dilaksanakan di Halaman Pendopo Kabupaten pagi ini (17/12/19), dipimpin langsung Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo.

Pada sambutannya Sumbogo mengatakan, perempuan merupakan sumber daya potensial yang dapat mendorong pembangunan bangsa, harus mendapat tempat untuk berperan aktif sehingga mereka tidak hanya sebagai pengguna hasil pembangunan semata. “Perempuan harus berperan aktif di segenap aspek pembangunan nasional,” ucap Dia.

Perempuan memiliki hak yang sama dan integral dengan hak asasi manusia. Oleh karenanya perlu tetap dipelihara kodrat, harkat dan martabatnya sebagai ibu bangsa yang berhasil membina keluarga yang harmonis dan sejahtera.

Melalui tema “Perempuan Berdaya Indonesia maju” diharap dapat memicu seluruh lapisan pemerintahan agar berkomitmen meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia.

Hari Ibu juga dirangkaikan dengan hari Bela Negara ke-71 yang jatuh setiap 19 Desember. Ini adalah upaya menghormati dan mengajak semua warga Negara untuk senantiasa membela Negara, bahkan melebihi panggilan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

“Kesadaran bela Negara berakar pada nilai-nilai luhur bangsa, harus tertanam dalam jiwa dan raga seluruh warga Negara atau bangsa Indonesia sejak dini melalui pendidikan serta aksi nasional bela Negara diberbagai bidang. Melalui cara inovatif dan adaptif dengan perkembangan zaman,” jelas Sumbogo.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) juga diperingati hari ini, merupakan peristiwa penting bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia yang selalu diperingati pada tanggal 20 Desember. HKSN adalah sarana melestarikan nilai moral untuk tolong menolong dan gotong royong.

“Indonesia adalah Negara dengan masyarakat majemuk, dengan bermacam suku, ras, warna kulit dan agama. Kita tidak boleh terkotak-kotak karena perbedaan itu,” tambah Sumbogo.

Upacara diakhiri dengan penyerahan penghargaan yang diraih Kabupaten Pacitan, mulai penghargaan Kabupaten Peduli HAM 2018 dari Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI. Sentono Genthong memperoleh Juara III Tingkat Provinsi kategori Desa Wisata dan Juara Harapan II Tingkat Nasional pada Lomba Desa Wisata. SDN 1 Ploso Pacitan, SMPN 2 Kebonagung dan SMKN 1 Nawangan sebagai sekolah Adiwiyata mandiri tahun 2019. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pengentasan Kemiskinan Masih Menjadi Prioritas

Pemkab Pacitan tetap berkomitmen untuk terus mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Pacitan. Demikian disampaikan Bupati Pacitan Indartato saat melakukan tilik warga di Desa Bangunsari Kecamatan Bandar, hari ini, Jum’at (13/12/2019).
“Di sisa masa jabatan saya sebagai Bupati Pacitan, dengan program-program pengentasan kemiskinan yang telah kita jalankan selama ini mudah-mudahan bisa terus mengurangi jumlah warga miskin di Pacitan” ucapnya.
Lebih lanjut, bupati yang telah menjabat 2 periode ini menjelaskan bahwa salah satu prioritas pengentasan kemiskinan adalah meningkatkan akses pendidikan. ” Anak-anak harus disekolahkan. Kalau kurang biaya akan dibantu pemerintah. Dengan bersekolah mereka akan menjadi pintar. Dengan pintar maka akan bisa memperbaiki taraf kesejahteraannya” jelasnya.

Tilik warga di Desa Bangunsari Kecamatan Bandar difokuskan di dua dusun yang kategori terpencil yaitu Dusun Sepring dan Sono. Dusun diujung perbatasan ini berpenduduk
572 jiwa 167 KK,.
Dalam tilik warga kali ini Bupati menyerahkan berbagai bantuan diantaranya bantuan sembako, bantuan pangan, semen, APK. Juga diserahkan KTP elektronik bagi warga setempat. (arif/danang/humas pacitan/kominfopacitan/pemkabpacitan)

Kompetisi Jawara 2019; Dampingi 50 Wirausaha Muda Yang Ingin Sukses

Kompetisi Jawara 2019 memasuki tahap ke-2, dari 300 peserta tahap sebelumnya telah menyisakan 120 peserta, mereka bakal mempresentasikan ide dan gagasan berwirausaha di hadapan para penguji untuk merebutkan 50 tiket di tahap ke-3.

Kegiatan bergengsi di Kabupaten Pacitan tersebut didukung United States Agency for International Development (USAID), adalah badan independen dari pemerintahan Amerika Serikat yang mendukung bantuan baik dibidang ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan untuk negara-negara lain didunia.

Robert Gardnier Management Advisor Prestasi Junior Indonesia USAID, usai memberikan materi merasa senang dapat bertatap muka langsung dengan pemuda Pacitan, karena para peserta adalah poros bisnis Kabupaten Pacitan. “Mereka harus mempunyai pengetahuan dan percaya diri,” terang Robert di Gedung Karya Dharma kemarin (10/12/19).

Menurut Robert kepercayaan diri menjadi satu hal penting untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri, dengan mental tersebut orang akan tumbuh keberanian sehingga Usaid dan Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro (DinKOP Dan UM) Pacitan tinggal menginstalasi pengetahuan baik manajemen maupun yang lain.

“Harapannya dengan membuka bisnis lebih baik untuk diri mereka sendiri, baik untuk keluarga, untuk komunitas, dan untuk ekonomi Pacitan, karena lebih banyak uang disini” tambah Robert dengan logat khas bule.

Sementara Eny Setiorini Kepala DinKOP dan UM Pacitan mengharap peserta tumbuh motivasi mengikuti kegiatan tersebut demi usaha yang digeluti. “Jangan sia-siakan kesempatan ini, mengingat di tahap ke-3 ada pendampingan selama enam bulan,” pungkas Eny. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

2019 Disdukcapil Pacitan Berhasil Penuhi 94 Persen Permohonan Dokumen Kependudukan

Dari target yang ditentukan Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pacitan berhasil memenuhi 94 persen dari jumlah total wajib E-KTP 476.718 jiwa, 6 persen sisanya optimis terpenuhi akhir Desember nanti.

Animo masyarakat dalam memenuhi administrasi kependudukan di Kabupaten Pacitan juga dinilai sangat baik, meskipun terkendala kondisi geografis dan tenaga kerja diluar kota membuat instansi tersebut harus menciptakan berbagai inovasi untuk menyikapinya.

Kepala Disdukcapil Supardiyanto kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, meski terhalang oleh jumlah petugas namun secara bertahap seluruh permintaan perekaman dan yang lain dapat terpenuhi. Walau angka 100 persen sukar diperoleh, lantaran usia 17 tahun selalu bertambah tiap harinya, yang membuat selalu ada permintaan baru.

“Banyak masyarakat yang belum memenuhi dokumen kependudukan utamanya yang E-KTP masih berada di perantauan. Sehingga dia akan mengurus dihari raya atau libur panjang,” kata Supardiyanto (10/12/19). Membuat petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut agar permintaan dapat terlayani dengan baik.

Sebenarnya proses tidak membutuhkan waktu lama, namun seperti E-KTP yang membutuhkan blanko ketersediaannya sangat terbatas. Ini membuat Disdukcapil harus selektif memprioritaskan masyarakat yang paling membutuhkan.

“Kami selalu mengajukan permintaan blanko. Misal kita mengajukan 10.000 biasanya kita hanya mendapatkan sekitar 500, segitu 2 hari sudah habis,” ungkap mantan Kepala Satpol PP tersebut.

Kondisi demikian memang harus disampaikan kepada masyarakat. Supaya tidak menuai pemahaman yang salah terhadap pelayanan primer di Kabupaten Pacitan. Karena Disdukcapil sangat paham akan pentingnya dokumen kependudukan.

Di Tahun 2020 Disdukcapil mengharap masalah blanko dapat terpenuhi sepenuhnya, sehingga kebutuhan dokumen kependudukan masyarakat di Kabupaten Pacitan dapat terpenuhi tanpa harus lama menunggu. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Sering Sabet Penghargaan; Diskominfo Ponorogo Melawat Ke Diskominfo Pacitan

Dinas Kominfo (Diskominfo) Ponorogo mengaku merasa perlu belajar bersama dengan Diskominfo Pacitan, dalam rangka meningkatkan pelayanan utamanya di bidang informasi kepada masyarakat melalui lawatannya hari ini (09/12/19).

Disambut langsung Kepala Diskominfo Pacitan Rachmad Dwiyanto beserta Pejabat dan Staf di ruang pertemuan PPID Diskominfo Pacitan, tampak suasana silaturahmi yang penuh keakraban tampak dari kegiatan tersebut. “Kami merasa perlu menyerap apa yang Ponorogo belum ada,” ujar Wahyu Paripurnawan Sekretaris Diskominfo Ponorogo.

Diskominfo Ponorogo merasa tidak perlu belajar jauh-jauh ke kota lain, pasalnya selain bertetangga Wahyu merasa antara Ponorogo dan Pacitan begitu pantas jika disebut keluarga dekat, baik secara kultur dan sosial. Membuat proses study tiru sangat mudah dipahami.

Semantara Rachmad usai sambutan mengatakan, tidak ada yang spesial dari Diskominfo Pacitan, sepintas seluruh program, agenda bahkan anggaran hampir sama dengan Diskominfo Ponorogo. Namun kebetulan setiap tahun Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi (PPID) Kabupaten Pacitan selalu mendapat nominasi dari Komisi Informasi (KI) Jatim.

“Kami mewakili Pemkab Pacitan sangat mengapresiasi Diskominfo Ponorogo dalam rangka mensinkronkan segala potensi maupun kendala yang berkenaan di Dinas Kominfo,” kata Rachmad.

Untuk dua Bidang yakni Informasi dan Statistik Diskominfo Pacitan yang dinilai lebih baik oleh Diskominfo Ponorogo dengan inovasi yang dilakukan, menurut Rachmad semua hal tersebut terpenting ada terlebih dahulu. “Untuk kualitas kita perbaiki sambil berjalan. Misalnya Dashboard, minimal saya atau Bapak Bupati dapat mengakses dulu,” lanjutnya.

Rachmad tegas mengatakan bahwa Pacitan sangat terbuka untuk kegiatan belajar bersama tersebut, hal ini semata demi menjadi pelayan masyarakat yang baik. “Kita mungkin hanya lebih baik nol koma sekian persen saja,” tandas Rachmad. (DiskominfoPacitan).

Sentono Genthong Destinasi Terbaik se-Jatim

East Java Culture and Tourism  Award 2019 menobatkan Sentono Genthong menjadi destinasi wisata alam terbaik III se-Jawa Timur.

Anugerah tersebut diserahkan Gubernur Jawa timur Khofifah Indar parawansa kepada Bupati Pacitan Indartato, Jumat kemarin (06/12/19) di Harris Hotel and Conventions Surabaya.

Secara nyata capaian tersebut semakin mematangkan pariwisata Pacitan di kancah regional. “Kami akan terus meningkatkan pariwisata demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Indartato.

Indartato juga mengapresiasi capaian tersebut, semua dapat diraih karena buah dari usaha yang dilakukan. Ia berharap sektor wisata benar-benar dikembangkan secara menyeluruh.

“Semoga dengan penghargaan ini bisa memotivasi dalam rangka memaksimalkan semua potensi pariwisata kita,” tambah Indartato. (DiskominfoPacitan).

PAUD AZ-ZALFA KEMBALI GANDENG MOBIL PUSLING DINAS PERPUSTAKAAN KABUPATEN PACITAN

Membacakan buku cerita dan dongeng kepada anak usia dini merupakan salah satu kegiatan sederhana sebagai awal pengenalan dan menumbuhkan literasi pada anak. Paud Az-Zalfa sebagai salah satu lembaga pendidikan usia dini,  begitu kencang melancarkan program literasi di lembaganya. Salah satunya dengan mengadakan Festival Literasi untuk kedua kalinya di Kabupaten Pacitan pada Sabtu, 7 Desember di Pendopo Kabupaten Pacitan. Kegiatan yang rencananya  akan diadakan tiap tahun ini, menggandeng 2 armada Pusling (Perpustakaan Keliling) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan. Ini kedua kali pihaknya bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan untuk memeriahkan acara Festival Literasi.

Dua MPK (Mobil Perpustakaan Keliling) menjadi bagian fasilitas dari acara, tepatnya sebelum acara inti dimulai. Pukul 07.15 WIB Pusling sudah terparkir apik di halaman parkir pendopo Kabupaten Pacitan. Anak-anak pun segera berlarian menghampiri Pusling dan memilih buku dengan didampingi petugas dan para Guru Paud Az-Zalfa. Setelah itu orang tua membacakan buku yang sudah dipilih anak-anak dengan duduk bersama di tikar yang sudah disiapkan, ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian dari GERNAS BAKU (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku).

Acara inti dimulai pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 11.00 WIB, dengan dihadiri oleh seluruh orang tua murid Paud Az-Zalfa dan narasumber yakni Dr. Sri Pamungkas, M.Hum. Narasumber dan Kepala Az-Zalfa Suyanti, S.Pd memberikan pengarahan terhadap undangan yang hadir akan arti pentingnya mengenalkan literasi terhadap anak usia dini dan memberikan trik-trik mengatasi permasalahan yang timbul saat mengenalkan literasi kepada anak-anak mereka.

Mrs. Winda sebagai Ketua Penyelenggara menyampaikan terimakasih kepada Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan yang selalu mendukung kegiatan mereka, utamanya dalam meningkatkan program Literasi anak didik mereka. Pihaknya berharap kerjasama ini akan terus berkesinambungan dan tidak cukup berhenti dalam program Festival Literasi saja.

(Penulis: Ryn Surya/Doc: Ryn Surya/Bidang Layanan/Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan/Diskominfo Pacitan)

Dari Pacitan; Perempuan Berdaya Untuk Indonesia Maju

Penasihat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Pacitan Luki Indartato, berharap peran wanita di Pacitan semakin maju dari waktu ke waktu, mengingat wanita memiliki peran sentral di dalam keluarga, bangsa, Negara dan agama khususnya.

Harapan itu disampaikan Luki saat berkesempatan menghadiri Peringatan Hari Ibu ke-91 tahun 2019 pagi ini (07/11/19). Berbagai acara dilaksanakan panitia, seperti senam bersama dan jalan santai yang berpusat di alun-alun Kabupaten Pacitan

Melalui olahraga, tema “Perempuan Berdaya Indonesia Maju” yang diusung tahun ini dapat membawa nilai positif bagi wanita. Supaya memiliki jiwa dan raga yang sehat, yang berdampak pada pikiran yang jernih. “Supaya dalam melaksanakan kegiatan apapun akan lebih baik hasilnya,” tambah Luki.

Luki juga meminta perempuan Pacitan yang dipelopori kaum ibu tetap menjadi perempuan yang tangguh, dapat diandalkan dan mampu mendukung segala hal positif yang ada disekitar. (timDiskominfoPacitan).

Gandeng Influencer; Disparpora Satukan Tekad Maksimalkan Pariwisata Pacitan

Dewasa ini membumingkan pariwisata lambat jika dilakukan hanya dari mulut ke mulut, tapi lebih masif jika dari Sosial Media (Sosmed) ke sosmed. Menyadarinya Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) mengundang pelaku sosmed di Kabupaten Pacitan dalam wadah Pacitan Tourism Influencer di KipKop Café kemarin (05/12/19).

Kepala Disparpora, T. Andi Faliandra mengatakan bahwa sektor pertanian dan pariwisata merupakan harapan Kabupaten Pacitan yang wajib didukung seluruh masyarakat. Peran serta pemuda sebagai pelaku sosmed tentu patut untuk diapresiasi dan diwadahi.

Setidaknya, hingga akhir tahun ini target kunjungan yang ditentukan sebesar 12, 2 milyar hampir tercapai. Data terakhir Disparpora kunjungan mencapai 10 miliar lebih, sisanya Andi optimis angka tersebut bisa diraih. Melalui peran Influencer, dua event besar yakni libur natal dan tahun baru di bulan Desember dapat menutupnya.

Pertemuan itu merupakan langkah awal memaksimalkan kepariwisataan Pacitan. Berbagai program yang diusulkan dari masing-masing pegiat sosmed ditampung baik oleh Disparpora, meskipun Andi mengakui bahwa program inti belum ditentukan. “Mereka harus terwadahi dahulu, dan kita berikan tujuan yang jelas,” ujar Dia kepada Diskominfo Pacitan.

Disparpora juga sadar, selain mereka masih banyak pelaku sosmed yang berjasa bagi perkembangan pariwisata Pacitan, terutama kaum milenial yang rata-rata pengguna aktif sosmed, menurut Andi ruang khusus akan disiapkan untuk memfasilitasi mereka.

Khoirul Amin, Sekretaris Dewan Kesenian Pacitan (DKP) menilai, dirangkulnya Influencer adalah langkah cerdas memaksimalkan pariwisata, berbagai peran dan fasilitas yang layak baiknya disiapkan Disparpora supaya lebih maksimal hasilnya.

Bidang kebudayaan yang kini menjadi kewenangan Dinas Pendidikan sempat membuat Khoirul kecewa, namun demikian kedua hal tersebut tetap dapat disatukan. “Harapannya ada kerja bareng lagilah yang ideal,” harap Dia yang memandang kesenian memiliki daya untuk mendongkrak pariwisata.

Untuk itu inovasi kreatif telah dilaksanakan Disparpora, dengan memadukan pariwisata, budaya dan seni utamanya. Disparopa juga berusaha menyajikan hal tersebut senatural mungkin dengan berbagai standar kemasan berkualitas sehingga benar-benar memanjakan wisatawan. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kembangkan Kejari Ceria; Puskesmas Candi Raih Penghargaan Kovablik

Kembangkan inovasi Kejari Ceria, Puskesmas Candi Kecamatan Pringkuku masuk 25 Top Puskesmas dan 10 Puskesmas Terbaik se-Jawa Timur, sehingga berhak menerima penghargaan bergengsi pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) se-Jawa Timur.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parangsa kepada Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo di Hotel Bumi Kota Surabaya (03/12/19).

Kejari Ceria merupakan kepanjangan dari Kelas Edukasi Remaja Putri Yang Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif Dan Adaptif, digagas sebagai sarana untuk mencegah masalah pernikahan anak dan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.

Kejari Ceria diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dan kelompok remaja putri khususnya, akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman risiko pernikahan anak dan bahaya Married By Accident (MBA) atau kehamilan yang tidak diinginkan, melalui banyak pendekatan yang mudah diterima dan dimengerti.

“Inovasi untuk menurunkan angka kehamilan tidak diinginkan, mencegah pernikahan dini, Dinas kesehatan Pacitan berkomitmen mendukung inovasi Kejari ceria ke puskesmas di kabupaten Pacitan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan dr. Eko Budiono dari laman Youtube Puskesmas Candi. (DiskominfoPacitan).

Konser Denny Caknan Gratis!

Beredar kabar konser Denny Caknan di Kabupaten Pacitan di penghujung tahun 2019 di jejaring Sosial Media (Sosmed), kabarnya artis yang lagi hits dengan lagunya Kartonyono Medot Janji tersebut dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan dan digelar di Gedung Gasibu Pacitan.

Uniknya masyarakat harus membeli tiket untuk menyaksikannya, mulai Rp. 50.000 untuk tiket reguler sampai dengan Rp. 125.00 untuk kursi VIP. Jika diamati kabar itu adalah hoax adanya, pasalnya penyelenggaran kegiatan semacam itu jelas-jelas bukan kewenangan Bappeda.

Ternyata Denny Caknan memang diundang Pemda Pacitan melalui Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora), T. Andi Faliandra Kepala instansi tersebut menyatakan, berbagai kegiatan akan dilaksanakan Disparpora, termasuk mengundang Denny Caknan.

“Kita akan menggelar satu paket hiburan khusus akhir tahun 2019. Kita kemas dengan bentuk tampilan UMKM binaan Pemda Pacitan selama 3 hari mulai tanggal 29, dan untuk tanggal 30 kita undang khusus Denny Caknan untuk menghibur masyarakat,” terang Andi di kantornya (04/12/19).

Di tanggal 29 diawali dengan pemilihan Kethuk Kenang, dan diakhiri dengan pemutaran kaleidoskop 2019, pengajian akbar dan doa bersama serta pesta kembang api untuk menutup tahun.

Hal itu menurut Andi selain memberikan hiburan yang bermanfaat bagi masyarakat, juga sebagai upaya untuk menarik wisatawan supaya memilih Kabupaten Pacitan untuk menikmati pergantian tahun. tentu yang berkualitas tanpa meninggalkan kesempatan ekonomi bagi para pelaku UMKM Pacitan. “Hiburan lokal juga kita libatkan, karena kita punya hiburan lokal yang banyak dan berkualitas,” lanjut Dia.

Andi juga menegaskan bahwa kabar yang beredar adalah hoax yang tidak perlu dipercaya, berbagai kegiatan merupakan sarana pemerintah untuk melayani masyarakat, bukan semata masyarakat Pacitan tapi juga wisatawan yang berkunjung dan bermalam di Pacitan. “Semua bisa menikmati indahnya wisata pacitan, aneka ragam produk UMKM Pacitan yang dimeriahkan oleh Denny Caknan,” pungkas Andi.(DiskominfoPacitan)

Konversi BBM Ke BBG Diharap Semakin Sejahterakan Nelayan Pacitan

180 nelayan dari berbagai  wilayah di Kabupaten Pacitan mendapat bantuan Paket Konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), ini merupakan salah satu program Kemitraan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi VII DPR RI.

Paket bernilai hampir tujuh juta rupiah tersebut kata Ahmad Wahyu Wardono perwakilan Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi, merupakan sarana memberi solusi bagi para nelayan saat melaut, yang diklaim dapat menghemat modal antara 40 persen sampai 70 persen. “Tergantung kondisi melautnya,” kata Dia usai penyerahan hari ini (03/12) di halaman Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan.

Paket konversi tersebut diutamakan untuk para nelayan yang menggunakan alat tangkap yang ramah terhadap lingkungan, menggunakan kapal yang berbahan bakar bensin dibawah 5 GT, dan nelayan yang belum pernah memperoleh bantuan serupa dari instansi lain.

Ahmad pada kesempatan tersebut juga mengklaim mesin tersebut disamping lebih irit juga ramah lingkungan, selain itu juga lebih aman saat digunakan untuk mengarungi lautan yang luas. “Yang jelas secara teknis aman. Dan ini bukan barang baru. Artinya sudah banyak diaplikasikan,” tagas Dia.

Bupati Pacitan Indartato mengaku merasa terbantu dengan bantuan yang baru dilaksanakan pertama kali itu, dengan menurunnya modal untuk melaut ia berharap peningkatan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Pacitan dapat semakin meningkat.

Tetapi disisi lain, tabung gas melon sering langka dipasaran, ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi Bupati. Pemerintah akan lebih meningkatkan komunikasi dengan pihak-pihak terkait khususnya pertamina untuk menyikapinya. “Kita harus saling mendukung supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan (Kelangkaan gas 3 Kg) red.,” harapnya.

Pemberian paket konversi dari BBM ke BBG bagi para nelayan tersebut merupakan awal semakin nyatanya dukungan pemerintah pusat kepada para nelayan Pacitan, tugas selanjutnya adalah selalu memenuhi berbagai persyaratan atau kriteria yang dibutuhkan supaya tahun depan nelayan Pacitan kembali mendapat bantuan. (Budi/Rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato Lihat Kondisi 2 Sekolah Retak Di Pringkuku

Ratusan siswa dan siswi di SD Negeri Ngadirejan  dan SD Negeri Pelem 2 Kecamatan Pringkuku merasa was-was saat mengikuti jam pelajaran, pasalnya tembok di beberapa ruang sekolah di 2 sekolah tersebut retak sampai pada pondasi.

Kepala BPBD Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo mengatakan bahwa retakan tersebut dikarenakan jenis tanah di kedua sekolah tersebut bergerak. “Namun Kita tunggu tim teknis untuk memberi kepastian,” kata Didik saat berkesempatan mendampingi Bupati Pacitan Indartato melihat langsung sekolah itu pagi tadi (02/12).

Daryono, Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Pacitan mengatakan kondisi tersebut sebenarnya terjadi saat Kabupaten Pacitan terkena Badai Siklon Tropis  2017 silam, namun saat itu kondisinya belum separah ini, kondisi tanah mengakibatkan retakan semakin melebar.

Mendekati datangnya musim hujan, ditambah risiko gempa bumi membuat kegiatan belajar mengajar semakin terganggu. Daryono juga mengatakan bahwa sampai sekarang sekolah hanya melakukan penanganan darurat dengan memberi penyangga dari kayu dan pengosongan ruang.

Usai melihat langsung kondisi yang ada, Bupati Pacitan Indartato meminta kepada instansi terkait untuk melakukan langkah cepat, sehingga masalah tanah gerak yang mengakibatkan retakan tembok dan pondasi cepat segera teratasi. “Harus segera, Sekarang kita menunggu hasil tim teknis  yang meneliti,”pungkas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

SPBE; Integrasikan Seluruh Data Pada Satu Pintu

Menatap era baru berbasis digital yang didukung lahirnya revolusi industri 4.0 yang mengaburkan batas fisik, digital dan biologis dan serba cepat. Memaksa pemerintah pusat mengambil langkah strategis melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) atau E-Governments yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2019.

Di Kabupaten Pacitan sistem tersebut belum berjalan maksimal seperti yang diharapkan. Salah satunya SPBE antar instansi belum saling terintegrasi satu sama lain, padahal fungsi utama SPBE adalah  mengintegrasikan seluruh informasi yang ada, baik data atau pun yang lain dari masing masing instansi sekelas Perangkat Daerah (PD) hingga Desa.

SPBE mempunyai banyak keuntungan jika sudah berjalan, misalnya saja jika pemerintah hendak mengambil satu kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dapat menggunakan data valid yang ada. Namun jika data yang disampaikan simpang siur, maka sudah pasti sang pimpinan akan mengambil keputusan yang kurang tepat bahkan salah, hal ini dikarenakan data yang disampaikan tidak tervalidasi.

Demikian urgensinya SPBE membuat Leading Sector yakni Dinas Kominfo, Bappeda dan BPS akan bekerja keras demi menyelesaikan program tersebut di tahun 2020. “Saat ini kami mereview ulang,” kata Rachmad Dwiyanto Kepala Diskominfo disela kegiatan Review Masterplance SPBE Bersama Pihak Ketiga Gamatechno kemarin (28/11).

Sebelumnya system ini dinamai E-Governments yang di launching pada tahun 2016 silam. Namun sayang system tersebut di tahun ini kurang sesuai untuk mendukung revolusi industri 4.0, satu langkah cerdas jika pemerintah up grade piranti E-Governments ke SPBE yang lebih sempurna dan komprehensif. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Raih Keterbukaan Informasi; Satu Tekad Menuju Pemerintahan Yang Profesional

Sebanyak 32 penghargaan diraih Kabupaten Pacitan pada upacara bendera memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-55, HUT Korpri Ke-48, HUT PGRI Ke-74, HUT Ke-20 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Tahun 2019 yang dilaksanakan pagi ini di Halaman Pendopo Kabupaten Pacitan (29/11).

Satu dari sekian penghargaan tersebut adalah Keterbukaan Informasi yang diserahkan oleh Komisi Informasi (KI) Jawa Timur kepada Bupati Pacitan Indartato tadi malam di Hotel Samator Surabaya. Dengan kategori Badan Publik Menuju Informative Kabupaten Kota Se-Jawa Timur dan PPID Desa Ngumbul yang berhasil memboyong Kategori Pendokumentasian Informasi Terbaik Desa Se-Jawa Timur.

Usai kegiatan upacara Bupati Indartato mengatakan puluhan penghargaan yang didapat merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen baik pemerintahan maupun lembaga masyarakat dalam melaksanakan tugas masing-masing. “Semua ini demi seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan agar bahagia dan sejahtera,” kata Bupati.

 Khusus keterbukaan informasi, Bupati menyampaikan bahwa keterbukaan begitu penting di pemerintahan pada satu program yang dilakukan. Mulai perencanaan, pelaksanaan hingga pada tahapan terakhir yakni evaluasi dan pertanggungjawaban. “Keterbukaan akan menimbulkan partisipasi masyarakat,” tegasnya.

 Bupati juga mengatakan bahwa kondisi media sebagai salah satu pilar demokrasi juga memiliki tempat yang baik, berbagai media baik online, cetak hingga televise dipastikan memperoleh keterbukaan dari semua kerja pemerintah. Kecuali keterbukaan yang memang dikecualikan. “Semua bisa kita lihat, apa lagi ada Wadule dan Likin. Supaya keterbukaan informasi bisa dirasakan oleh masyarakat,” harap Bupati.

 Sementara menyikapi penghargaan tersebut, Kepala Diskominfo Pacitan, Rachmad Dwiyanto mengatakan bahwa itu merupakan indikator untuk lebih memeratakan kembali keterbukaan informasi semua instansi di Kabupaten Pacitan, Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi (PPID) di level pembantu hingga desa akan diupayakan dapat segera berjalan.

 Meski diketahui bersama bahwa di tahun 2020 ada rasionalisasi anggaran, namun hal tersebut bukan satu masalah dalam menyukseskan keterbukaan informasi di Pacitan. “Justru ini menjadi cambuk bagi insan Diskominfo Pacitan untuk semakin berinovasi,” kata Rachmad.

 Hal ini sesuai dengan sambutan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang dibacakan oleh Bupati, mulai saat ini jika bermimpi menjadi bangsa yang besar maka Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang kerja linier, tapi harus memahami berbagai perubahan dengan mencetuskan berbagai inovasi.

 Akhirnya, dengan keterbukaan informasi yang merata di setiap instansi di Kabupaten Pacitan, secara langsung akan melahirkan pemerintahan yang sehat dalam setiap program kerjanya. Ujungnya jelas, yakni pelayanan yang prima di semua sektor tanpa adanya masalah ataupun kesalahpahaman, maksudnya korupsi atau yang lain, karena dilandasi keterbukaan dari awal hingga tahapan evaluasi atau pertanggungjawaban. (budi/rozaq/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato Pastikan Kekosongan Jabatan Kelar Awal Januari 2020

Pelantikan Pejabat Lingkup Pemkab Pacitan kembali digelar pagi ini (28/11) di Pendopo Kabupaten dan dipimpin langsung oleh Bupati Pacitan Indartato. 54 pejabat tersebut meliputi Eselon  II, III dan IV bakal  menduduki posisi baru demi menyempurnakan kerja pemerintah disemua lini, demi tercapainya seluruh visi dan misi yang tertuang pada Perda Nomor 5 Tahun 2016.

Mengingat besarnya tanggung jawab para ASN tersebut, Bupati Pacitan dalam sambutannya menyinggung rencananya menaikkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Karena disadari bahwa TPP ASN di Kabupaten Pacitan tergolong paling rendah dibanding kota lain di Jawa Timur.

“Kami berusaha memenuhi hak-hak mereka meskipun secara bertahap,” ujar Bupati yang sangat menyadari bahwa penghasilan atau kesejahteraan yang semakin membaik akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja para ASN.

Begitu juga nasib para Guru Tidak Tetap (GTT) di juga disampaikan bakal naik tahun depan, sesuai dengan persetujuan anggota DPRD. Didesak para awak media terkait nominal secara terang-terangan dari Pemda Pacitan akan menambah Rp. 500.000.

Disisi lain pelantikan yang baru saja dilaksanakan belum menyelesaikan masalah kekosongan jabatan. Bahkan kekosongan ini sampai pada level jabatan Staf Ahli, dan diperkirakan masih akan semakin bertambah karena pensiun.

Tetapi Indartato tidak cukup berpangku tangan menyaksikan fenomena ini, diperkirakan awal tahun 2020 masalah tersebut dapat segera teratasi. Karena usai tanggal 8 Januari mutasi pada jabatan tertentu harus mendapat dukungan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), jadi pada posisi pelayanan primer secepatnya harus diupayakan segera terisi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kethek Ogleng; Era Baru Menjadi Kebanggan Pacitan

Usai ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) Kethek Ogleng Pacitan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201900988 yang diterbitkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan Indonesia tahun 2019.

Warisan Budaya Takbenda bersifat tak dapat dipegang (intangible/abstrak), seperti konsep dan teknologi; dan sifatnya dapat berlalu dan hilang dalam waktu seiring perkembangan zaman seperti misalnya bahasa, musik, tari, upacara, serta berbagai perilaku terstruktur lain.

Hak Cipta Gerakan Pokok Kethek Ogleng dengan Nomor Pencatatan 000144781, yang diterbitkan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Kethek Ogleng kesenian kebanggan Kabupaten Pacitan percaya diri melenggang menjadi primadona semua khalayak.

 Pengakuan berjudul Gerakan Pokok Kethek Ogleng, menandai era baru kesenian yang terlahir dari kreatifitas Sukiman pada tahun 1962 silam yang ternyata pernah mengalami masa vakum sampai tahun 1970 an. Setelah berganti generasi yang didukung pengakuan itu Kethek Ogleng akan fokus menjadi satu kesenian yang dapat menghibur siapapun dengan berbagai penyempurnaannya.

 Selama ini semua mengetahui kerja keras Pelaku Kethek Ogleng dalam mengangkatnya ke permukaan, supaya tidak termakan peradaban di kemudian hari, tentu dengan dukungan semua pihak termasuk pemerintah.

 Seperti Sukiman konon pernah diceritakan sempat mengurung diri di salah satu kebun binatang di Kota Solo, belakangan diketahui ia mendalami segala tingkah laku kera, mulai makan, bersosialisasi hingga sifat dasarnya yang bergelantungan di pohon dan dahan. “Totalitas Sukiman luar biasa, bersyukur semangatnya ditiru semua penerusnya,” ujar Agoes Hendriyanto pemegang Hak Cipta kepada Diskominfo Pacitan (27/11).

 Langkah baru ini lanjut Agoes merupakan awal yang baik, ibarat pesawat kini tengah lepas landas untuk memecah cakrawala, dikagumi semua orang yang menyaksikannya. Dan semua orang diluar sana akan tersadar bahwa Kethek Ogleng terlahir di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. “Kethek Ogleng milik Pacitan, bukan Milik komunitas,” pungkasnya yang kini tengah menyelesaikan Studi Doktoralnya yang berjudul Produksi Simbol Masyarakat Pacitan dengan Perspektif Bourdieu. (DiskominfoPacitan).

Pengukuran Bidang Tanah untuk Pensertifikatan Perluasan Tanah Puskesmas Jeruk, Kecamatan Bandar

Untuk menjamin kepastian hak atas tanah aset Pemerintah Daerah, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan terus mensertifikatkan aset tanah yang ada. Salah satunya adalah tanah yang digunakan untuk Perluasan Puskesmas Jeruk, Kecamatan Bandar, hasil dari pengadaan tanah tahun 2019 yang belum bersertifikat atas nama Pemerintah Daerah.

Puskesmas Jeruk, berdiri di atas bidang tanah aset Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan. Untuk peningkatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, dilakukan perluasan lahan dengan cara pembelian tanah warga masyarakat. Karena pembelian tanah adalah seluruh dari luas sertifikat yang ada, maka untuk pengurusan pensertifikatannya tidak melalui proses pemecahan sertifikat.

Selain Puskesmas Jeruk Kecamatan Bandar, secara bertahap, semua aset yang ada akan disertifikatkan. Pada tahun ini ditarget 15 bidang, Pengajuan ini akan terus dilakukan hingga semua aset memiliki kepastian hukum.(PemkabPacitan/DiskominfoPacitan)

Perkim Laksanakan Program Peningkatan jalan lingkungan Desa Kalak, Donorojo

Pemerintah kabupaten Pacitan melalui Dinas Kawasan Permukiman, Perumahan dan Pertanahan (Perkim) di tahun anggaran 2019 melaksanakan program kegiatan pembangunan jalan lingkungan yang bersumber dari dana APBD 2019 di Dusun Bolo, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo.

 Melalui paket pekerjaan peningkatan jalan lingkungan yang berupa perkerasan lapen sepanjang 370 meter, dengan pagu dana senilai Rp 94.000.000,00 Masyarakat disana beberapa waktu kedepan akan merasakan dampaknya secara langsung.

 Sebelumnya jalan tersebut berjenis jalan rabuat dua sisi dengan kondisi yang mulai rusak, alhasil jalan tersebut menghambat mobilitas masyarakat. Program ini diharapkan secara langsung memberi dampak positif, utamanya mempermudah akses transportasi. (Perkim/DiskominfoPacitan).

Tingkatkan Derajat Kesehatan Bagi Seluruh Generasi Muda

Memaknai Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-55 Tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan tentu ingin menjadi bagian untuk berkontribusi dalam rangka mewujudkan generasi sehat Indonesia unggul yang selaras dengan tema pada tahun ini.

 Berbagai acara dilaksanakan pemerintah, melalui Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dr. Darsono untuk menciptakan derajat kesehatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat di kota yang baru saja memperoleh penghargaan Kabupaten sehat dengan kategori swasti saba wistara atas kesigapan saat menyikapi pageblug Hepatitis A beberapa bulan lalu.

 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dr. Eko Budiono di sela Semarak HKN hari ini (24/11) menyampaikan berbagai langkah harus ditempuhnya untuk merealisasikan tema itu, dengan mempersiapkan generasi Kabupaten Pacitan saat masih berupa janin hingga terlahir ke dunia dan tumbuh menjadi dewasa atau berusia 18 tahun. “Untuk tumbuh kembang, kita deteksi terus membaik,” beber Eko.

 Namun disudut lain kata Eko masih ada 0,5 persen generasi muda Pacitan mengalami disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, angka kecil tersebut tentu tidak lepas dari perhatian Dinas Kesehatan. Berbagai pendekatan dilakukan demi menjamin mereka supaya memiliki kesamaan dengan yang lain. “Jadi kita samakan hak di dalam tumbuh kembang, itu salah satu upayanya,” tambah Dia.

 Untuk itu, berbagai syarat harus dipenuhi. Seperti deteksi dini tumbuh mereka, dengan berbagai pemeriksaan yang harus rutin dilaksanakan, termasuk imunisasi, ditimbang berat badannya sampai usai 5 tahun, sedang dibangku sekolah melalui kartu tumbuh kembang mereka akan terus diperhatikan hingga berumur 15 tahun.

 Raihan pemerintah terkait Kabupaten Sehat dimaknai Bupati Pacitan Indartato untuk kembali mengingatkan seluruh komponen untuk terus bergandengan tangan, bersama-sama supaya tidak kembali terjadi serangan penyakit yang berugikan masyarakat tersebut. Berlandaskan kesadaran dan keikhlasan dalam membudayakan hidup bersih dan sehat baik di pemerintahan atau pun di lapisan masyarakat.

 Menyikapi angka disabilitas, Bupati mengatakan hal tersebut merupakan masalah penting yang mesti disikapi serius, peran dokter dena tenaga kesehatan sangat diapresiasi mengingat mereka adalah garda terdepan dalam menyikapinya. “Dengan segala komponen yang ada bisa melaksanakan tugas seiklas-iklasnya didukung etikat baik demi derajat kesehatan Kabupaten Pacitan,” pungas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Terima Tim Surveillance; PA Pacitan Komitmen Wujudkan ZI

Assessment Surveillance II atau Akreditasi Penjaminan Mutu (APM) kembali dilakukan di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pacitan oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya yang dilaksanakan kemarin (20/11). Kesempatan yang baik tersebut menurut Dedy Kusnadi sebagai Ketua Tim (APM) merupakan satu langkah demi mempertahankan pelayanan yang optimal kepada seluruh pemohon.

Pada tahapan ke 2 itu Dedy Bersama Tim melihat langsung segala aktivitas yang dilaksanakan PA Pacitan, nantinya menjadi penentu predikat A Excellence yang dipunya PA Pacitan dapat dipertahankan atau berakhir. “Alhamdulilah hasilnya membanggakan,” kata Dedy puas.

PA Pacitan saat ini berada pada kelas 1b, meski saat ini sulit untuk naik kelas menjadi 1a karena berbagai faktor seperti keberadaan Perguruan Tinggi Negeri, jumlah perkara dan lain-lain. Namun yang utama adalah bagaimana PA Pacitan tersebut dapat melayani dengan baik seluruh pemohon utamanya menerapkan 9 aplikasi hasil inovasi Mahkamah Agung (MK).

“Kita tidak sekedar melayani dengan baik. Tapi juga cepat,” kata Ketua PA Pacitan Sumarwan kemarin (20/11). Ia juga mengakui adanya beberapa temuan penting, utamanya masalah dokumen pendukung, meski tidak banyak namun pihaknya telah berkomitmen akan memperbaiki masalah tersebut kurang dari satu bulan.

Sumarwan juga sadar APM tersebut merupakan awal untuk menuju Zona Integritas (ZI) maka berbagai poin standar yang ada harus teraplikasi dengan baik kepada seluruh karyawan, yang akhirnya menjadi satu budaya kerja yang positif. “Bisa terjadi karena dilakukan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (budi/wan/Riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Desain Ulang Alun-alun Barat Pacitan; Supaya Semakin Rindang Dan Nyaman

Secara berkelanjutan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya meremajakan Alun-alun Kabupaten Pacitan, khususnya di sisi barat yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Darul Falah, bangunan kios pedagang di sepanjang trotoar tersebut terpaksa dirobohkan untuk direhabilitasi supaya suasana semakin segar.

Joni Maryono Kepala DLH Pacitan mengatakan peremajaan tersebut merupakan hasil dukungan dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jatim Cabang Pacitan sepakat menata ulang tanpa meninggalkan fungsi asli tempat tersebut, hanya saja harus semakin rindang yang merupakan salah satu syarat Kota Adipura.

Proyek tersebut ujar Joni juga tidak membutuhkan waktu lama, sebelum tahun baru 2020 atau satu setengah bulan ke depan ia pastikan telah rampung. “Sesuai komitmen teman-teman jasa teknis kami pastikan selesai sesuai jadwal,” katanya kemarin (19/11).

Selanjutnya Kepala DLH tersebut meminta kepada seluruh pedagang dan masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan, sebagai salah satu karakter Kota Adipura yang cinta lingkungan dan kebersihan. “Perabot pedagang, usai berjualan harus segera dibersihkan,” lanjut Joni.

 Prinsipnya Alun-alun harus mengakomodir seluruh aktivitas masyarakat, tempatnya yang berada di pusat kota harus memberikan kenyamanan bagi siapapun, tanpa meninggalkan sisi ekonomi. Terlebih Alun-alun juga sering kali menjadi pusat kegiatan pemerintah maupun masyarakat.

 Adanya tanggung jawab sosial terhadap Kota Pacitan adalah salah satu alasan keterlibatan Bank Jatim Pacitan, program CSR diharapkan Bank Milik Pemprov Jatim tersebut dapat membantu pemerintah supaya dapat dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat Pacitan.

“Komitmen tersebut sesuai misi kami untuk turut mengembangkan usaha mikro di Kabupaten Pacitan,” ujar Kepala Bank Jatim Palti Oloan P. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

140 Milyar Proyek 2019; PUPR Pacitan Pastikan Rampung Akhir Desember.

Mendekati penghujung tahun 2019 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan merilis proyek pembangunan fisik telah menyentuh angka 85 persen dari jumlah total 645 proyek yang dikerjakan.

Sekretaris PUPR Kabupaten Pacitan, Suparlan Kepada Diskominfo Pacitan di kantornya (19/11) mengatakan 15 persen yang tersisa dipastikan bakal rampung di akhir Desember mendatang. “Masih ada waktu untuk tepat waktu” ujar Dia yang mengaku tidak ada kendala berarti.

Proyek pada tahun ini lanjut Suparlan lebih diutamakan untuk peningkatan infrastruktur demi mendukung pariwisata di Kabupaten Pacitan. Misalnya pembangunan jalan menuju wisata Pantai Watukarung di Kecamatan Pringkuku yang masuk dalam jenis proyek lanjutan, dan proyek peningkatan infrastruktur untuk mendukung mobilitas para nelayan. “Banyak kegiatan kita yang bersifat lanjutan,” katanya.

Sementara untuk pembangunan Tugu Parasamya di perempatan Penceng yang kini terus di garap masuk dalam kategori proyek baru berskala kecil, dipastikan rampung bersama proyek lain.

Suparlan menegaskan bahwa semua proyek yang menghabiskan dana 140 Miliar tersebut adalah hadiah untuk seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan. “Semoga Menjadi Kado Tahun Baru nanti,” tambah Suparlan.

Sedang demi mendukung seluruh pekerjaan besar tersebut PUPR tengah fokus untuk administrasi yang ternyata baru 65 persen, rampungnya pekerjaan yang dilakukan para penyedia jasa yang kesemua adalah putra daerah mesti dibarengi dengan rampungnya seluruh administrasi. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Diskominfo Tak Segan Lapor Ke Bupati Jika PD Tidak Mengurusi Websitenya

Berjalannya roda pemerintahan yang disertahi berbagai keberhasilan pembangunan harus di dukung dengan keterbukaan informasi sebagaimana tertuang pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, melalui era yang serba digital dimasa sekarang peran website dinilai strategis supaya segala informasi dapat tersampaikan dan terserap sepenuhnya oleh khalayak.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo Pacitan) Rachmad Dwiyanto melihat fenomena ini sehingga mengambil upaya dengan mengingatkan istansi Pemerintah Lingkup Pemkab Pacitan, untuk kembali memaksimalkan laman yang telah disediakan tersebut. “Kita mendapat masukan dari teman-teman DPRD Pacitan,” ujar Dia (14/11).

Dari ratusan website resmi pemerintah kata Rachamd di hadapan seluruh undangan hanya 10 saja yang memenuhi syarat kelengkapan dan keaktifannya. Hal tersebut sudah barang tentu menghambat keterbukaan informasi kepada masyarakat, artinya keterbukaan informasi dapat diasumsikan terhambat. “Itu bisa terwujud melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi,” kata Rachmad.

Masukan tersebut sangat diterima baik Dinas Kominfo, berbagai terobosan akan dilakukan supaya keterbukaan informasi di Kabupaten Pacitan benar-benar menjadi kenyataan, mengingat undang-undang yang disahkn pemerintah tentu mempunyai banyak sisi positif terutama kepada masyarakat. “Harus ada evaluasi dan pendampingan yang struktur,” tegas Dia. Bahkan tidak main-main Rachmad akan melaporkan kepada Bupati jika masing-masing PD tetap memilih vakum.

Sementara Kepala Bidang Informasi Agus Anshori Mudzakir berkomitmen menggunakan pendekatan ketelatenan, ia beserta stafnya selain melakukan berbagai evaluasi akan datang langsung ke instansi untuk memberikan pelatihan khusus jika PD tersebut benar-benar maengalami kesulitan. “Mereka para personil terbatas dan tidak pada satu konsentrasi,” beber Dzakir.

Sudah selayaknya masyarakat mendapat informasi siapa pun dan kapan pun, kecuali informasi yang dikecualikan yang bersifat rahasia. Ini masuk 4 standar informasi yang kudu dipenuhi masing-masing website milik pemerintah. “Nanti kita kasih simbol, yang aktif hijau, kuning stengah aktif dan merah yang tidak aktif,” pungkas Dia. (DiskominfoPacitan).

LPG 3 Kg Hanya Untuk Masyarakat Yang Kurang Beruntung

Kelangkaan Gas LPG 3 kilogram atau biasa disebut Tabung Melon seringkali langka dipasaran, menindaklanjuti hal tersebut pemerintah kembali mengingatkan kepada para ASN Pusat, ASN Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berdomisili di Kabupaten Pacitan dan ASN Lingkup Pemkab Pacitan supaya tidak menggunakan tabung gas tersebut.

Selanjutnya surat himbauan tersebut juga disampaikan kepada Pimpinan atau Karyawan BUMN dan BUMD yang tinggal di Pacitan serta masyarakat Kabupaten Pacitan yang tidak memenuhi syarat menggunakan Gas LPG 3 Kilogram.

Untuk Pengusaha Mikro yang asetnya di atas Rp. 50.000.000 selain rumah dan bangunan atau memiliki omset di atas Rp. 300.000.000  dalam satu tahun dihimbau untuk tidak menggunakan gas melon. Sedang untuk kepemilikan LPG 3 Kg untuk konsumen rumah tangga maksimal 3 tabung, konsumen usaha maksimal 9 tabung.

Selanjutnya untuk sektor HEROKOIN yang meliputi Hotel, Restoran, Peternakan, Pertanian, Batik, jasa Binatu, Jasa Las yang bukan masuk kriteria usaha kecil di Kabupaten Pacitan supaya beralih ke tabung gas LPG Non Subsidi.

Pemberitahuan tersebut ditandatangai Bupati Pacitan Indartato dan diketahui Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, PT Pertamina Regional IV Madiun, Hiswana Magas di Madiun dan SPBE di Pacitan. (DiskominfoPacitan).

Maksimalkan Pacitan Job Fair Season II

Hanya dua hari saja, Season II Pacitan Job Fair digelar oleh Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro Kabupaten Pacitan dengan 5925 lowongan pekerjaan menanti. Bursa kerja kali ini digelar di halaman Kampus Akademi Komunitas Negeri Pacitan.

Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo usai membuka acara pagi tadi (13/11) mengatakan bahwa kondisi tenaga kerja di Pacitan menunjukan angka yang semakin baik dibanding dengan angka pada tahun sebelumnya, dengan menurunnya angka pengangguran terbuka sebanyak 0,6 persen. Dari 0,84 persen menjadi 0,78 persen.

Meskipun mengalami penurunan tingkat pengangguran namun ada hal yang perlu diwaspadai, yakni mayoritas pencari kerja 2018 didominasi lulusan SD dan SMP sebanyak 72,6 persen dan SMA Sederajat sebanyak 13,14 persen. “Untuk itu bursa kerja kali ini harus dapat memberi solusi bagi para pencari kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya,” harap Yudi.

Oleh karenanya pencari kerja diharap dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana mengisi kegiatan sehingga dapat produktif. Yudi juga berpesan kepada dinas terkait supaya dapat meningkatkan berbagai fungsi layanan para pencari kerja. “Guna mendukung upaya penurunan pengangguran,” pesannya.

Wicaksono Kepala Bidang Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Berharap Season II dengan 43 perusahaan yang bergabung dapat menyerap sepenuhnya para pencari kerja di Pacitan. “Pencari kerja tinggal memilih pekerjaan yang mereka anggap cocok,” terang Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Dinkes Pacitan Serius Sikapi Masalah Nikah Anak

Pernikahan anak menjadi permasalahan serius di Kabupaten Pacitan. Tapi itu dulu, menurut data dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan menunjukan setiap tahun angka terus menurun, namun demikian Pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) enggan kecolongan, berbagai sikap ditunjukan seperti mengumpulkan instansi terkait serta perwakilan pelajar se-Kabupaten Pacitan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Ratna Susy Rahayu menyampaikan pernikahan anak mesti disikapi serius walaupun tren terus turun. Karena angka bisa saja kembali naik jika pemerintah teledor. Apalagi banyak hal negatif mengancam pelaku, mulai gangguan mental, gangunan kesehatan jasmani, bahkan kondisi bayi yang dilahirkan berpotensi stunting. “Kami juga memberikan pengetahuan terhadap penyakit anemia, penyakit ini banyak terjadi pada generasi muda,” ujar Ratna.

Kegiatan yang masuk dalam Rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2019 tersebut bukan satu-satunya, Ratna membeberkan berbagai pendekatan terhadap remaja terus dilakukan disepanjang tahun baik kesekolah-sekolah maupun ke komunitas-komunitas remaja. tidak jarang Dinkes mendatangkan para tokoh remaja untuk memberi motivasi kepada mereka. “Mengingat remaja acapkali mengikuti gaya orang yang dikagumi, seperti artis dan lain-lain,” tambah Dia.

Agnes Safitri Adi salah satu narasumber yang diundang dalam acara itu secara gamblang memaparkan berbagai kerugian ketika anak memilih menikah diusia muda yakni di bawah 19 tahun. Kenyataan yang disampaikan tersebut dipastikan dapat merangsang remaja untuk berfikir dua kali ketika hendak menikah muda atau hal-hal yang bisa menimbulkan hamil sehingga berujung pada Marred By Accident (MBA). Kendati tersebut peran orang tua dan lingkung sudah barang tentu nomor satu. “Pernikahan anak juga berdampak kondisi ekonomi hingga pesikologi,” ujar Dokter Spesialis Ibu Dan Anak tersebut.

Enggan forum tersebut berakhir sia-sia, Agnes mengharap kehadiran Media benar-benar nyata, sehingga seluruh khalayak dapat ikut mengerti kondisi tersebut, karena menurutnya pernikahan anak erat hubungannya dengan tradisi dan budaya di wilayah tersebut, jadi perubahan tidak serta merta terjadi begitu saja mesti terus menerus dan berkelanjutan.

Bangsa Indonesia yang akan mendapat bonus demografi harus didukung, masyarakat Kabupaten Pacitan sudah pasti ingin terlibat di kabar gembira itu dengan menjadi bagian dari 18 persen usia produktif Indoneisa di Dunia, ramalan itu tahun 2050 bangsa Indonesia diperkirakan berada pada urutan ke-4 ekonomi global. Momentum itu harus disikapi dengan berbagai progam supaya generasi muda yang digadang benar-benar berkualitas dalam rangka membangun Indonesia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Peringati Hari Jadi Jatim Ke-74; Pemda Gelar Seni Untuk Pelajar

Memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur Ke-74 Tahun Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan menggelar Gelar Seni Pelajar. Acara tersebut dilaksanakan di Halaman Pendapa Kabupaten Pacitan pagi tadi (12/11) yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Pacitan Indartato.

Asisten Administrasi Umum Hario Jumanto sebagai kutua panitia kegiatan tersebut menyampaikan animo peserta cukup baik dari tahun ke tahun, itu menunjukan bahwa partisipasi genarasi muda di Kabupaten Pacitan akan budaya asli Indonesia sangat baik ditengah derasnya arus budaya luar yang dinilai tidak sesuai dengan adat ketimuran.

Situasi positif ini diapresiasi Bupati Pacitan Indartato, khusunya para guru yang telah telaten mengenalkan dan mengajarkan seni budaya asli Indonesia kepada para anak didiknya tersebut. “Seni budaya kita harus menghiasi kehidupan kita sehari-hari,” ujar Bupati usai membuka acara.

Begitu juga di Kabupaten Pacitan yang kaya akan seni budaya, ia berharap siapa saja turut andil dalam menjaga dan melestarikannya sehingga tidak lekang oleh peradapan zaman, dengan cara melibatkannya disetiap kesempatan.

Salah satu peserta Vanesa Wibowo dan kawannya Devi Nofla dari SMP Negeri 2 Pacitan dikesempatan itu berkesempatan menari Remo, mereka mengaku bangga dengan aneka ragam seni budaya yang dipunya Indonesia. Baginya untuk andil dalam menjaga seni budaya cukup dengan bergabung disanggar. “Meskipun harus menari, bisa menulis atau yang lain,” ungkap Vanesa. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

2021 Bisa Petik Durian Atau Mancing Di Waduk Tukul

Desa Karanggede, Arjosari tengah bersiap-siap menyambut kehadiran Waduk Tukul, proyek bersekala nasional yang mulai digarap tahun 2017 silam dijadwalkan rampung lima tahun setelahnya atau tahun 2021.

Bambang, Kepala Desa Karanggede mengaku telah menyiapkan semua hal pasca pembangunan bendungan tersebut, bernuansa desa wisata yang mandiri dan menguntungkan semua pihak. “Desa dan masyarakat harus diuntungkan dengan hadirnya Waduk Tukul,” ujarnya kemarin 11/11.

Namun demikian pihaknya belum membuka pembicaraan dengan Pemda Pacitan, tapi angan-angan itu diyakini Bambang bakal sesuai ekspektasi, tinggal menunggu penyelesaian pembangunan, melihat wajah sebenarnya si Waduk Tukul.

Sektor lain menjadi pendukung adalah agrowisata, tengah dikembangkan di tanah seluas 10 hektar yang berlokasi di Dusun Tukul sekitaran waduk. Didukung sepenuhnya oleh Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Hutbun) Jatim. “Sidah dimulai. Ada pohon durian, alpokat, mangga,” jalas Bambang.

Perihal yang menjadi perhatian adalah masalah Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat sebagai tuan rumah para wisatawan. Jika tidak segera dilakukan berbagai peningkatan kapasitas maka bukan tidak mungkin hadirnya bendungan tidak memberi dampak yang signifikan.

Diseputaran waduk air pasti melimpah ruah, berarti konsep pertanian dinilai strategis dan menjanjikan karena didukung tanah yang subur. Namun demikian petani di utara Kecamatan Arjosari tersebut tidak mampu berbuat banyak lantaran serangan babi hutan yang menghancurkan apapun yang ditanam. “Kami hanya menanam padi,” pungkas Dia.

Kedepan dalam perkembangannya, bukan tidak mungkin pengelolaan tempat pemancingan air tawar dengan view berbeda dapat menjadi pendamping agrobisnis Waduk Tukul. Sebagai salah satu spot penghobi mancing dan diperuntukkan pada pengunjung yang menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

PACITAN BUKA SELEKSI PENERIMAAN CPNS TAHUN 2019

Berdasarkan Pengumuman Panitia Pelaksana Seleksi CPNS Nomor 810/2829/408.54/2019 Tentang Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan Tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Pacitan membuka Peluang bagi Masyarakat untuk mengikuti Seleksi CPNS Tahun 2019. Seperti kita ketahui bersama bahwa Lowongan CPNS memang sudah menjadi idola bagi Masyarakat dalam beberapa tahun terakhir ini. Ini merupakan kabar berita yang paling ditunggu oleh Masyarakat dalam beberapa bulan terakhir setelah santer diberitakan akan ada pembukaan Seleksi Penerimaan ASN.

Penerimaan ASN tahun ini berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, karena pada Pelaksanaan Seleksi Penerimaan ASN Tahun 2019 ini multi year yang artinya tahun ini hanya untuk penepatan kelulusan administrasi, sedangkan Pelaksanaan Ujian akan di beritahukan jadwal selanjutnya.

Pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Pacitan membuka Lowongan CPNS sebanyak 340 Formasi CPNS yang terdiri dari :

1. 319 Formasi Umum

2. 6 Formasi Disabilitas

3. 15 Formasi Cumlaude

Sedangkan pembagian formasi berdasarkan fungsinya :

1. Tenaga Pendidikan : 267

2. Tenaga Kesehatan : 42

3. Tenaga Teknis : 31

Sumber : BKPPD Kabupaten Pacitan (http://bkd.pacitankab.go.id)

Abadikan Bokong Semar Selagi Masih Perawan

Beragam destinasi wisata di Kota 1001 Goa telah diakui khalayak baik nasional dan mancanegara, termasuk spot lanskapnya yang dapat memanjakan indera penglihatan pehobi foto. Satu diantaranya yang belum terjamah adalah wajah elok Teluk Pacitan yang dilihat secara High Angle dari Bukit Bokong Semar. Satu surga dunia menanti fotografer dan wisatawan.

Berada di Desa Ponggok, Pacitan, Bokong Semar dihimpit Bukit Seribu dan Gunung Limo menambah apik destinasi yang perawan itu. Belum lagi nuansa keemasan akan tampak saat sunrise ataupun sunset. Wahyu Deni Setiawan salah satu fotografer yang berkunjung ke Bokong Semar mengaku tidak puas jika hanya datang sekali, ia berencana akan datang kembali sembari melengkapi peralatan kameranya demi menambah koleksi foto lanskapnya. “Saya harus datang lagi kesini,” katanya.

Didik Hartanto Pehobi olahraga Sepeda Gunung dari seputaran kota pacitan mengaku cukup sering datang ke Bokong Semar, usai ia menaklukan tanjakan Manten sontak seluruh letihnya akan terobati saat matanya menyaksikan Teluk Pacitan dari tempat itu. “Alangkah baiknya jika tempat ini dikembangkan,” kata Didik.

Pemerintah Desa Ponggok yang memiliki potensi tersebut telah menyiapkan rencana besar demi mengorbitkan Bokong Semar, menjadi daya tarik baru yang tidak membosankan dan menjadi list para wisatawan.

Suriyadi Sekretaris Desa Ponggok mengaku perencanaan pembangunan telah siap dengan menyerap Dana Desa (DD) dan APBdes, walaupun mimpi itu mesti harus tertunda lantaran pergantian Kepala Desa. Namun ia memastikan pembangunan harus memanjakan seluruh tamu yang datang dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta keasrian tetap terjaga. “Gambaran persis belum ada, kita harus ada rapat besar dulu,” ujar Dia kepada Diskominfo Pacitan kemarin (09/11).

Bokong Semar terlanjur cantik, cepat atau lambat tempat tersebut akan tumbuh menjadi andalan. Tugas selanjutnya adalah bagaimana masyarakat Pacitan mendukung Bokong Semar supaya naik ke permukaan dengan cara sederhana yakni berkunjung kesana. Sekali lagi memanjakan mata, menyaksikan Kota Pacitan dengan latar belakang Teluk dan Samudera Hindia yang luas. “Kami tetap berharap perhatian dari Pemda Pacitan demi cita-cita itu,” harap Suriyadi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hasil Kejuaraan Lomba Gerak Jalan Palagan Tumpak Rinjing Tahun 2019

Kategori umum putra

Juara 1: Rutan Pacitan regu 1

Juara 2: CV Blumbang Sejati

Juara 3: Desa Arjowinangun

Juara Harapan: Saka Wirakarya Koramil 01 Pacitan

Kategori umum putri

Juara 1: Srikandi Areja

Juara 2: Srikandi Mahakarya

Juara 3: Saka Bhayangkara Poksek Kebonagung

Juara Harapan: PKK Nglumbu Sambong

Kategori Pelajar Putra

Juara 1: SMAN 1 Pacitan regu 2

Juara 2: SMAN Punung

Juara 3: MTSN 1 Pacitan

Juara Harapan: MAN Pacitan regu 2

Kategori Pelajar Putri

Juara 1: SMKN Ngadirojo

Juara 2: SMKN 1 Pacitan

Juara 3: SMKN 2 Pacitan

Juara Harapan: SMKN Kebonagung

Juara Umum: Rutan Pacitan Regu 1

(Pemkabpacitan/diskominfo)

Penilaian “Monev Hasil Pengawasan 2018” Depo Arsip Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan Oleh Disperpusip Provinsi Jatim

Dimulai sejak Rabu, 6 November 2019, bertempat di Depo Arsip Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, telah dilaksanakan penilaian Monev Hasil Pengawasan 2018″ oleh Disperpusip Provinsi Jatim. Penilaian ini dilakukan selama 2 hari (sampai 7 November 2019), dengan tim penilai sejumlah 2 orang, yakni Wahyu Setiawan, S.H., M.H (Seksi Pengawas Kearsipan) dan Hari Sugiyanto, S.H.

Tujuan diadakannya Monev (Monitoring dan Evaluasi) ini adalah sebagai tindak lanjut dari pengawasan tahun 2018 yang lalu, untuk melihat dan memantau sudah sejauh mana Depo Arsip telah melaksanakan seluruh program dan kegiatan kearsipannya sesuai Standar Nasional Kearsipan.

Undang – undang No. 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan menyatakan bahwa penyelenggaraan kearsipan bertujuan untuk menjamin tercipta dan ketersediaan arsip yang autentik dan terpercaya, terwujudnya pengelolaan arsip yang andal , perlindungan kepentingan negara dan hak – hak keperdataan rakyat, keselamatan dan keamanan arsip, keselamatan aset nasional serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka diperlukan penyelenggaraan kearsipan yang sesuai dengan prinsip, kaidah dan standar kearsipan. Untuk menjamin bahwa pencipta Arsip baik pusat ,maupun daerah menyelenggarakan kearsipan sesuai dengan peraturan perundang – undangan perlu dilakukan pengawasan kearsipan.

Selanjutnya, sebagaimana diatur dalam Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Nomor 30 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah, bahwa nilai hasil Pengawasan Kearsipan merupakan salah satu komponen dalam Penilaian Birokrasi.

Dengan diberlakukannya Peraturan Arsip Nasional Nasional RI No 6 Tahun 2019 tentang Pengawasan Kearsipan, maka nilai hasil pengawasan kearsipan suatu instansi baik pusat maupun daerah pada tahun 2021 merupakan akumulasi nilai pengawasan kearsipan eksternal ( 60 % ) ditambah nilai rata – rata pengawasan kearsipan internal ( 40 % ).

Hari  kedua jadwal penilaian (7 November 2019), dilaksanakan Rapat Penataan Arsip Daerah di RKP Pacitan, yang dihadiri oleh Bupati Dr. Indartato, M.M, Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan Dr. Ir. Heru Wiwoho. S. P., M.Si, Kepala Dinas Perpustakaan Drs. Cipto Yuwono, M. Pd, Sekretaris Dinas Perpustakaan Dra. Jayuk Susilaningtyas, M.M, dan perwakilan dari 31 OPD se-Kabupaten Pacitan.

Sehubungan dengan hal terkait di atas, diberitahukan kepada semua jajaran OPD se-Kabupaten Pacitan untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
a) Pada tahun 2020 masing masing Instansi sudah harus melaksanakan pengawasan kearsipan Internal sesuai ketentuan pasal 14 Peraturan Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2019 tentang Pengawasan Kearsipan ;
b) Mempersiapkan pengelolaan arsip aktif di setiap central file ( unit pengolah ) terutama arsip yang tercipta dari pelaksanaan kegiatan tahun anggaran 2019, karena pengawasan kearsipan Internal tahun 2020 terdiri dari :
1) Pengawasan sistem kearsipan internal,
2) Pengawasan pengelolaan arsip aktif

Harapan ke depannya, Depo Arsip mampu melaksanakan seluruh kegiatan dan program Kearsipan sesuai ketetapan Undang – undang No. 43 Tahun 2009, sehingga mampu menjadi contoh sekaligus pembina bagi OPD seluruh Kabupaten Pacitan dalam penataan arsip yang benar sesuai standart yang ada.(Penulis:Nisa Permana/Doc:Nisa & Yudhis/Depo Arsip/Dinas Perpustakaan Pacitan)

Hanya Kebetulan; Bom Tidak Menimbilkan Gempa

Masyarakat Kabupaten Pacitan semalam (07/11) panik setelah mendengar suara seperti ledakan yang disertai goncangan. Sebelumnya TNI AU dari Pangkalan Lanud Iswahjudi menggelar kegiatan latihan pengeboman di Permukaan Teluk Laut Pacitan. belakangan hal tersebut bukanlah bom yang dijatuhkan, melainkan gempa bumi tektonik dengan maknitudo 3,1 Episenter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo kepada Diskominfo Pacitan mengatakan hal tersebut merupakan kebetulan semata. Suara seperti ledakan menurutnya dikarenakan gempa dangkal dengan kedalaman 11 Kilometer.

Tegas Didik menyampaikan kepada masyarakat bahwa itu murni fenomena alam yang tidak ada sangkut pautnya dengan latihan pengeboman yang dilaksanakan. “Untuk masyarakat tolong hindari isu-isu yang merampas,” tegas Didik.

Kabupaten Pacitan yang berada dalam zona keamanan Nasional di bawah Pangkalan Lanud Iswajudi sudah menjadi kewajiban digelar berbagai latihan semacam itu. menyangkut bagaimana risiko yang akan ditimbulkan Kepala UPT PPP Tamperan Ninik Yudi Sumbogo pagi ini 08/11 kepada diskoinfo mengatakan bahwa dirinya dengan instansi terkait ke depan akan melakukan berbagai penelitian dan kajian akan dampaknya. “Nelayan ada kekhawatiran, maka perlu kita melakukan kajian mendalam,” pungkas Ninik. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dinkes Kembali Kampanye Hidup Sehat Dan Bugar

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan tahun ini kembali menggelar tes kesehatan dan kebugaran jasmani di Alun-Alun dan Pendapa Kebupaten Pacitan dengan melibatkan seluruh pejabatnya, demi mengkampanyekan prilaku hidup sehat kepada masyarakat.

dr. Eko Budiyono Kepala Dinkes Pacitan menyampaikan tes tersebut meliputi jantung, paru dan otot dengan berbagai tekanan dengan aktifitas yang akhirnya melalui perhitungan sehingga menghasilkan angka kebugaran. “Ada jarak yang harus ditempuh kemudian ada penskoran,” kata Eko.

Kegiatan ini adalah upaya menyehatkan masyarakat, melalui seluruh petugas puskesmas yang tersebar di seluruh Wilayah Kabupaten Pacitan yang terlibat pada acara itu, dari kelompok-kelompok kecil baik RT ataupun RW dapat melakukan kegiatan tersebut.

Bupati Pacitan Indartato yang turut mengikuti kegiatan menunjukkan hasil tesnya cukup sehat namun kurang bugar. Hal itu diakuinya karena kurang olahraga dan kurang istirahat, mengingat padatnya kegiatan Bupati.

Namun sesuai arahan dari petugas untuk olahraga minimal dua kali dalam seminggu akan ia penuhi demi kesehatan dan kebugaran yang diharapkan. “Untuk masyarkat mari kita olahraga untuk meingkatkan kesehatan dan kebugaran kita,” pungkas Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Tilik Warga Bupati Indartato dan PD Kabupaten Pacitan di Kecamatan Pringkuku, Punung dan Donorojo

Pelihara Sumber Air Bersih Kelestarian sumber-sumber air bersih harus dijaga. Caranya dengan rebosisasi tanaman yang mampu menyimpan air. Namun dengan catatan tanamannya jenis yang tidak terlalu diminati masyarakat. “Seperti beringin, aren, atau klampok,” ujar Bupati Pacitan Indartato saat kegiatan tilik warga di Desa Mantren, Punung, Rabu (6/11/2019). Kenapa bupati menganjurkan tanaman “tak laku,” ?. Pertimbangannya tidak lain untuk keberlangsungan hidup jenis vegetasi itu. Sebab, jika tanaman tersebut tidak laku, baik untuk pakan ternak atau kayu, maka dipastikan akan berumur panjang. Dengan demikian dapat menjaga sumber air lestari. Indartato lantas berharap dalam satu tahun pasca penanaman, pohon-pohon jenis itu mulai terlihat manfaatnya. Sehingga paling tidak dalam satu dekade mendatang fungsi pokoknya sebagai pelindung pada sumber-sumber air dapat optimal. Menurutnya sumber air adalah kemakmuran. Karenanya butuh peran serta banyak pihak, tidak hanya pemerintah saja, tetapi masyarakat juga. “Tugas kita semua menjaga agar sumber air lestari. Penghijauan harus ditata. Kapan mulai menanam, memeliharanya, sampai kemudian nanti kita dapat merasakan manfaatnya bersama. Tidak hanya saat ini, tapi juga nanti untuk anak cucu kita,”tandas bupati. Selain mendatangi sumber air bersih di Kali Mason, Desa Mantren, pada kegiatan tilik warga kali ini bupati bersama OPD terkait juga memberikan bantuan air bersih untuk warga, bantuan paket sembako, serta alat APE untuk PAUD. Bantuan serupa juga diberikan untuk warga desa-desa di kawasan Kecamatan Pringkuku dan Donorojo yang menjadi sasaran tilik warga.(Pemkabpacitan/diskominfopacitan)

Putra-Putri Pacitan Menyongsong Generasi Indonesia Emas

Direktur The Southeast Asian Ministers of Education Organization Center for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) Dwi Priyono penasaran dengan Sosok Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), utamanya adalah orang tuanya yang berhasil mendidik anaknya menjadi orang besar dan berpengaruh di Indonesia dan Dunia.

Hal itu disampaikan ke ratusan guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan Paud di Kabupaten Pacitan pekan kemarin (31/10) di halaman Pendapa Kabupaten Pacitan, bersamaan dengan pengambilan dokumentasi video pembelajaran TK Plus Az-Zalfa yang dinilai mumpuni sehingga diakui lima Negara di Asia sehingga menjadi percontohan. “Masyarakat harus menulis orang tua pak SBY,” kata Dwi. Mengingat pasti ada kiat-kiat sehingga “Sus” nama kecil SBY menjadi sosok seperti SBY seperti sekarang ini.

Pengaruh orang tua dan orang terdekat dalam tumbuh kembang anak memang memiliki peran sentral dalam kualitas anak kelak jika sudah menjadi manusia dewasa. Terutama tumbuh kembang anak sampai usia lima tahun yang dinilai begitu penting.

Terlebih pemikiran Dwi begitu jauh melesat ke depan, pada tahun 2045 ia menginginkan anak-anak Paud dari Kabupaten Pacitan ini mempunyai posisi strategis pada perayaan indoneisa emas nanti. “Anak-anak kita jangan hanya menjadi penonton,” harap Dia.

Az-Zalfa yang melenggang ke kancah internasional tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah dengan segala kebijakannya, namun tugas selanjutnya bagaimana sistem pendidikan para guru di TK tersebut dapat dilakukan di satuan pendidikan lain di Kabupaten Pacitan. “Saya kira karena jarak yang dekat hal itu mudah dilakukan. Tentu dengan berbagai evaluasi,” kata Daryono kepada Diskominfo Pacitan.

Harapan yang sama juga disampaikan Luki Indartato Bunda Paud Kabupaten Pacitan, melalui kerjasama yang baik antar, guru, kepala sekolah dan orang tua maka akan tercipta satu suasana pendidikan yang berkulitas. Sehingga harapan untuk menyaksikan genarasi penerus handal yang berasal dari Kabupaten Pacitan niscaya tecapai. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

F-16 Dan Golden Eagle Berencana Guncang Teluk Pacitan

Komandan Detasemen TNI AU Lanud Iswahjudi Pacitan Kapten LEK Muhammad Arfan membenarkan adanya edaran tentang latihan pengeboman di Permukaan Laut Teluk Pacitan oleh Pangkalan TNI AU Lanud Iswahjudi Magetan besuk (07/11) pukul 18:00 WIB.

Pengeboman tersebut kata Arfan akan melibatkan pesawat pengebom berjenis F-16D/C buatan Amerika dan T-50i Golden Eagel yang yang dikembangkan Korean Aerospace Industries tersebut akan menembak sasaran Selatan Teluk Pacitan ±5 NM dengan koordinat S. 08o14’40” E. 111o05’05”, pada ketinggian 0 sampai dengan 15.000 kaki.

Bom yang akan dijatuhkan adalah MK-82 Live dengan berat 250 Kilogram yang akan dibawa 6 pesawat secara bergantian, untuk masyarakat Arfan mengizinkan untuk melihat latihan tersebut di titik-titik aman dari jatuhnya bom tersebut. “Bisa di tepi pantai atau pun di atas bukit teluk Pacitan Desa Dadapan, Pringkuku,” katanya kepada pagi ini (04/11) Diskominfo Pacitan. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pertahankan WTP Dan Tekan Angka Kemiskinan

Heru Wiwoho; Sekda Baru Kabupaten Pacitan

Dr. Ir H. Heru Wiwoho hari ini resmi dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pacitan, menggantikan Drs. Suko Wiyono MM yang berakhir masa jabatannya pada akhir Oktober kemarin. Prosesi pelantikan tersebut dipimpin langsung Bupati Pacitan Indartato di Pendapa Kabupaten pagi ini Jumat (01/11).

Indartato dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan jabatan Sekda tersebut sepenuhnya ia serahkan pada peraturan yang ada utamanya UU Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), kemudian ditindak lanjuti PP Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Menejemen Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Dari berbagai proses yang melibatkan Panitia Seleksi (Pansel) oleh Pemerintah Provinsi, menghasilkan tiga nama yang tertulis pada isi surat dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawangsa yang selanjutnya dikirim kepada Bupati Pacitan.

Pada dasarnya Bupati dalam pemilihan Sekda mempunyai kewenangan menentukan nama-nama tersebut. Yang belakangan diketahui selain Heru Wiwoho ada nama Budianto dan Eny Sulistyowati. namun pihaknya lebih memilih menyerahkan hasil tersebut pada proses seleksi yang dilakukan Pansel, yakni Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Timur, Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan unsur Perguruan Tinggi.

“Jadi bebas kami memilih salah satu, namun pikiran saya sederhana, saya harus menghargai kerja Pansel sehingga saya memilih yang nomor satu (Heru Wiwoho),” kata Indartato. Mencari jalan bijaksana untuk meneruskan tugas berat Pemda Pacitan.

Menekan angka kemiskinan adalah Pekerjaan rumah yang mesti terus dilakukan, mengingat di Pacitan masih diatas provinsi bahkan nasional. Belum lagi perolehan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan lima kali tanpa catatan yang wajib dipertahankan, kesehatan dan yang lain.

Sementara Heru Wiwoho kepada Diskominfo Pacitan mengatakan, dirinya akan melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan Sekda sebelumnya. Untuk proses mempertahankan WTP dirinya akan melakukan koordinasi dengan seluruh instansi, utamanaya menyikapi masalah aset bakal lebih ditertibkan dengan kunci kebersamaan.

“Untuk kemiskinan saya kira sudah banyak yang kita lakukan, terutama melalui program Grindulu Mapan,” kata Heru. Dengan inovasi bersama PD membuat program terintegrasi ke wilayah yang jumlah kemsikinannya tinggi, sehingga angkat terakhir 14,19 persen bisa menurun diakhir masa jabatan Bupati pada angka 13 persen. (budi/anj/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Urusan Kebencanaan; Semua Orang Harus Terlatih

Semua kegiatan terkait kebencanaan selalu mendapat dukungan dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Pacitan, mengingat ancaman bencana utamanya gempa dan tsunami selalu mengintai. Bupati Pacitan Indartato kemarin (31/10) berkesempatan meninjau langsung Simulasi Gladi Ruang dan Gladi Posko yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan.

Indartato menilai, antisipasi penting adanya jika sewaktu-waktu bencana terjadi, dengan berbagai latihan dan simulasi, semua yang terlibat akan memiliki respon dan mengerti tugas masing-masing.

Kemudian materi yang diperoleh pada latihan harus dikembangkan kepada yang lain, sehingga seluruh instansi memiliki kesiapan dengan tupoksi masing-masing,  mengetahui apa yang harus dilakukan. Mulai mitigasi, penyelamatan korban hingga proses rekonsiliasi. “Tugas selanjutnya masyarakat harus terlatih dan siap. Meskipun doa kita tidak terjadi bencana” kata Bupati.

Masalah anggaran terkait kebencanaan di tahun 2020 disampaikan Bupati tidak ada masalah, artinya pemerintah membuka diri sepanjang ada koordinasi melalui BPBD yang harus aktif mengusulkan kegiatan semacam ini. (budi/rozaq/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Soal CPNS; Jangan Terpengaruh Kabar Hoax

Kepala Badan Kepegawaianan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPPD) Kabupaten Pacitan Supomo mengatakan pihaknya belum memberikan rilis resmi terkait lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) periode November 2019.

Terkait beredarnya isu tersebut ia meminta kepada seluruh masyarakat di Kabupeten Pacitan sapaya bersabar. “Isi berita yang beredar tidak benar dan hoax adanya,” kata Dia (31/10). (DiskominfoPacitan).

Maaf; BPBD Pacitan Fokus Droping Dari Pemerintah

Memasuki kemarau dibulan ke tujuh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kabupaten Pacitan akan memfokuskan droping air bersih hanya dari pemerintah. Hal itu disampaikan Didik Alih Wibowo, sebagai kepala BPBD kepada Diskominfo Pacitan melalui sambungan Telepon hari ini (31/10).

Bentuk sinergitas mulai dunia usaha dan organisasi yang telah berjalan terpaksa harus dihentikan lantaran berbagai faktor penting, terutama kata Didik untuk mengoptimalkan droping kepada titik yang benar-benar membutuhkan air bersih.

“Berkaitan dengan hal tersebut prasarana kami berupa tanki akan diopresionlakan untuk melaksanakan bantuan yang berasal dari pemerintah,” kata Didik.

Sementara Asisten Bidang Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat Mahmud pada apel pagi tadi di Lingkup Pemkab Pacitan menyampaikan, bantuan air bersih dari masyarakat seharusnya melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pacitan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. “PDAM kan menjual dan berorientasi pada provit,” kata Mahmud. (DiskominfoPacitan).

Dinas Partanian Dan Unej Atasi Masalah Kakao Di Pacitan

Produktivitas tanaman kakao di Kabupaten Pacitan dinilai masih rendah ketimbang wilayah lain, berkisar 200 kilogram per hektar, kondisi demikian membuat Dinas Pertanian setempat mencari penyelesaian menjalin kerjasama dengan Universitas Jember (Unej).

Kerjasama tersebut berbentuk kegiatan KKN dan Magang Mahasiswa, serta penelitian dan pengabdian baik Dosen maupun Mahasiswa Unej.  Kegiatan KKN telah dilaksanakan pada Bulan Agustus sampai November ditiga desa di Kabupaten Pacitan yaitu Wonoanti, Gembuk dan Punung. 

 Hasil kegiatan Mahasiswa dapat ditangkap beberapa permasalahan dalam perkakaoan di Pacitan. Beberapa permasalahan tersebut antara lain pertama masalah harga kakao yang tidak menentu dan cenderung dibeli dengan harga murah. Kedua biji kakao dijual di pasar tradisional.

Ketiga kualitas biji kakao yang rendah dikarenakan biji kakao tidak difermentasi. Keempat pada musim hujan buah kakao akan terserang sejenis penyakit Phytophthora yang menyebabkan buah busuk sehingga menurunkan produksi, belum lagi usai pohon yang telah tua karena ditanam pada tahun 1995-1996 dan klon yang tidak jelas.

Masalah lain tanaman kakao bukan tanaman utama (Tumpangsari) dengan berbagai tanaman keras seperti kelapa, cengkeh, durian, mahoni dan tanaman tahunan lainnya. diperparah perawatan mulai pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian (Organisme pengganggu Tanaman (OPT) tidak dilakukan.

Permasalahan pada sisi kelembagaan yakni kelompok tani kakao masih tergabung dalam kelompok tani dengan komoditi pertanian secara menyeluruh, meskipun pertemuan dilakukan secara rutin tetapi tidak membahas masalah-masalah pertanian.

Anggota kelompok tani cenderung melakukan semua kegiatan pertaniannya secara perseorangan dan tidak bersama-sama dalam kelompok. Kendala di teknik budidaya, maupun perawatan tidak pernah didiskusikan di pertemuan rutin kelompok.

Kualitas biji kakao yang tidak difermentasi karena hasil dari masing-masing petani sedikit, kurang dari kapasitas minimal kotak fermentasi. Itu membuat petani memutuskan untuk menjualnya ke pasar tradisional dengan jumlah atara 0,5-1 Kilogram yang menyebabkan kakao dihargai murah.

Solusi agar masalah ini terpecahkan adalah petani harus mau mengumpulkan hasil panen kakaonya ke kelompok untuk kemudian diolah bersama-sama agar bisa memenuhi kapasitas minimal kotak fermentasi. Biji kakao hasil fermentasi inilah baru dijual ke pasar.  Namun hal ini hanya bisa dilakukan apabila semua anggota kelompok tani berkomitmen dan ingin meningkatkan kualitas biji kakao yang mereka hasilkan.

Jumino, Kepala Dusun Bulih, Wonoanti, Tulakan dan Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah 4. mengatakan, tanaman kakao daerahnya sudah tua berharap adanya bantuan bibit yang jelas klonnya. Kelompok tersebut juga memerlukan pendampingan karena mayoritas anggota kelompok tidak merawat tanaman kakao dan seakan-akan pasrah terhadap keadaan. “ada buah kami panen, tidak ada buah ya tidak masalah,” kata Jumino.

Sementara itu, Diana Fauziyah, Dosen PS Agribisnis (UNEJ) bersedia membantu mencarikan pasar penjualan biji kakao dengan harga tinggi namun dengan catatan biji kakao harus difermentasi dengan baik. “Cukup banyak pasar yang bersedia menampung,” terangnya.

Ada tiga sarat minimal terhadap biji kakao yang memiliki harga tinggi, mulai biji harus fermentasi, kadar air maksimal 7,5 % dan kadar kotoran maksimal 2%. Ada juga mansyaratkan kontinuitas dan volume minimal 1 pick up dalam satu kali pengiriman.

Tentunya syarat-syarat ini hanya akan terpenuhi jika petani melakukan tahap pasca panen secara bersama-sama di kelompok.  Oleh karena itu, peran kelembagaan Kelompok Tani harus lebih besar. Peran kelompok diawal mungkin bisa dimulai dengan mengumpulkan buah kakao milik anggota yang selanjutnya secara bersama-sama melakukan fermentasi.

Pada sosialisasi Diana bersama yang lain juga mengunjungi Kelompok Tani Gemah Ripah 04, menghasilkan anggota bersemangat dan sepakat untuk mengumpulkan buah kakao ke kelompok dan melakukan fermentasi bersama di kelompok sebelum melakukan penjualan.

 Hal ini dipertegas juga oleh Rena Yunita Dosen PS Agribisnis (UNEJ), langkah ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan harga jual biji kakao. Dengan melakukan pengolahan bersama, jika biji kakao sudah kualitasnya bagus maka pasar akan datang sendiri untuk berebut membeli biji kakao. “Terpenting semua anggota kelompok harus punya komitmen yang sama untuk meningkatkan kualitas biji kakao” jelasnya.

Unej juga memberi bantuan klon kakao berjenis MCC 02; Sulawesi 1 dan ICS 60 dari bibit hasil sambung sebanyak 100 batang. Berharap menjadi solusi untuk membuat kebun entres dan meremajakan tanaman kakao yang sudah tua secara bertahap.

Mereka juga membagikan ilmu sambung bibit kakao dengan melibatkan 30 petani untuk dilatih dalam sambung bibit kakao. Berharap petani nantinya dapat melakukan pembibitan secara mandiri dan mengetahui teknik sambung bibit pada kakao. Sambung kakao dewasa (peremajaan) caranya tidak jauh berbeda dengan sambung bibit, namun pada kakao dewasa entres kakao ditempelkan pada batang tanaman kakao tua. (Istimewa/Unej/DinasPertanian/DiskominfoPacitan).

Ribuan Masyarakat Sholat Istisqo; Memohon Hujan Segera Turun

Ribuan warga masyarkat Kabupaten Pacitan pagi ini (29/10) berkumpul di Lapangan Lanud Iswahyudi Pacitan untuk melaksanakan Sholat Istisqo, berdoa bersama agar hujan segera turun. Bupati Pacitan Indartato yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kemarau sudah berlangsung tujuh bulan. “Sumber-sumber banyak yang berkurang,” kata Indartato.

Jika hujan yang diharapkan tidak kunjung datang maka pemerintah akan menggunakan dana cadangan yang ada untuk membantu masyarakat yang kekurangan, Indartato menambahkan anggaran takterduga tersebut semoga tidak terpakai untuk kebutuhan lain. Sementara ribuan tanki air bersih sudah tersalurkan ke titik-titik kekeringan yang tersebar diseluruh Wilayah Pacitan.

Muhammad Nurul Huda Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan mengaku bahwa ide tersebut sebenarnya dari Bupati, lalu ia ditunjuk untuk merealisasikan doa bersama tersebut. Dua ekor kerbau juga tampak di lokasi, kata Huda itu merupakan bagian sarat Sholat Istisqo. “Semoga segera turun hujan yang berkah yang tidak menimbulkan musibah,” pungkas Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

BNPB Turun Gunung; Gelar Gladi Ruang Dan Posko Di Pacitan

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tiga hari ke depan menggelar simulasi Gladi Ruang dan Gladi Posko terhadap ancaman bencana khususnya potensi gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Pacitan.

Acara yang didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan tersebut melibatkan semua unsur Perangkat Daerah (PD) lingkup Pemda Pacitan, organisasi kebencanaan dan awak media.

dr. Bagus Tjahyono, MPH Plt. Kepala Biro Umum dan SDM BNPB dan Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat PB mengatakan simulasi ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian pemahaman terhadap risiko bencana dengan mengaplikasikan langsung apa yang telah dipelajari sebelumnya pada tataran pimpinan di Kabuapaten Pacitan.

“Pada gladi posko mereka akan dikasih permasalahan-permasalahan. Begaimana mereka membuat status tanggap darurat, menerapkan sistim tanggap darurat, mamaksimalkan potensi masyarakat dan aparat untuk mencari sumber daya yang akan diserahkan kepada korban-korban,” kata Bagus.

Tahapan tertinggi yang digelar selama tiga hari yang bertempat di Parai Teleng Ria 29-01/11 tersebut merujuk pada peta risiko bencana Indonesia, di mana Kabupaten Pacitan mempunyai potensi nyata akan bahaya bencana ini. “Mudah-mudahan tidak, meskipun nyata,” ungkap Bagus.

Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Pacitan Suko Wiyono bersyukur terhadap perhatian pemerintah pusat kepada Kabupaten Pacitan. Bahkan ia lebih lega lantaran kegiatan ini dapat diadopsi pemerintah sebagai tindak lanjut dalam memahamkan seluruh masyarakat terhadap potensi yang ada. “Kita bagikan dimasing-masing tempat dengan membuat materi yang hampir sama,” ujar Suko.

Sekda juga akan memaksimalkan peran Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk mendukung rencana ini, karena bencana gempa dan tsunami tidak dapat diprediksi, berbeda dengan banjir, tanah longsor serta yang lain sebagai kesiap-siagaan.

Masalah lain yang dihadapi pemerintah adalah kesadaran masyarakat yang tetap membangun rumah di zona rawan bencana, hal itu terjadi lantran masyarakat tidak memiliki lokasi lain untuk membangun rumah. “Pemukiman adalah satu persoalan besar,” tegas Suko.

Sementara tiga unsur yang ada pada BPBD baik kesiapsiagaan, kedaruratan hingga rekonstruksi akan dimaksimalkan untuk menindaklanjuti kegiatan simulasi tersebut. Didik Alih Wibowo Kepala BPBD sadar bahwa mitigasi dan pengurangan risiko bencana menjadi prioritasnya. “Sebagai awal masyarakat harus memahami risiko lingkungannya sendiri,” kata Didik dikesempatan yang sama.

Pelatihan ini menjadi sangat berarti bagi Wiwit Peni kepala desa Watukarung Kecamatan Pringkuku yang mempunyai potensi bencana gempa dan tsunami utamanya di dua dusun dengan 550 warganya. Ia berencana usai kegiatan secepatnya akan memberikan pelatihan kepada warga yang memiliki potensi besar tersebut. “Kami juga sudah menganggarkan untuk menyikapi ini,” kata Wiwit. (budi/rozak/riyanto/wira/DsikominfoPacitan).

Hari Sumpah Pemuda; Pacitan Kota Layak Pemuda

Pemerintah Kabupaten Pacitan memperoleh kado istimewa pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 28/10 hari ini, yakni diakuinya sebagai Kota Layak Pemuda yang disematkan oleh Kementerian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) Tahun 2019 yang diberikan nanti malam di Jakarta.

Bupati Pacitan Indartato mengatakan untuk mendapat predikat tersebut bukan perkara mudah dan patut untuk diapresiasi serta dipertahankan. Perolehan tersebut lantaran pemerintah selalu berkomitmen melibatkan pemuda disetiap kesempatan.

Bupati juga mengajak pemuda di Kabupaten Pacitan untuk terus bersatu padu dan bersama-sama diatas setiap perbedaan. Ini penting mengingat pemuda diakui ataupun tidak memiliki peran penting dalam setiap sendi kehidupan khususnya dalam berbangsa dan bernegara. “Ini adalah kunci untuk mempertahankan bangsa,” kata Bupati.

Pemuda harus dapat berfikir dan berbuat banyak hal sesuai dengan lini masing-masing dalam melanjutkan cita-cita kemerdekaan Negara yang besar ini, dengan menghargai perjuangan para pendahulu yang telah banyak berbuat demi bangsa dan utamanya untuk kemajuan Kabupaten Pacitan.

Sementara Anugerah Pandu Negeri dua kali diraih Kabupaten Pacitan, Bupati menyampaikan hal tersebut merupakan apresiasi terhadap keberhasilan Pemerintah Pacitan dalam mengelola keuangan yang selalu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), bahkan lima kali tanpa catatan, didukung kinerja pemerintahan serta kinerja ekonomi pada porsi mengurangi penduduk miskin melalui berbagai inovasi.

Pemuda yang terlibat pada setiap kesempatan disertai berbagai penghargaan pada setiap bidang, serta pemerintahan berjalan sangat baik melalui indikator capaian-capaiannya. Dapat disimpulkan kota 1001 Goa dengan semua potensinya lambat laun akan tumbuh menjadi kota yang semakin diakui dan dikagumi dengan kekhasan masyarakat yang adem, ayem dan tentrem. (budi/rozak/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

KUNJUNGAN SMKN 1 PACITAN KE DEPO ARSIP ( BIDANG KEARSIPAN ) DINAS PERPUSTAKAAN KABUPATEN PACITAN

Kamis, 24 Oktober 2019, Depo Arsip ( Bidang Kearsipan ) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan menerima Kunjungan dari SMKN 1 Pacitan. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan yang diadakan dalam rangka pembelajaran di luar jam kelas. Kelas X UPW ( Usaha Perjalanan Wisata ) datang berkunjung dengan didampingi oleh Guru Kelas mereka, yakni Ibu Eky Suryaningsih.

Sebanyak 32 siswa disambut dengan antusias oleh para staf karyawan Depo Arsip (Bidang Kearsipan) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, termasuk di dalamnya Kabid Kearsipan ( Bambang Budhidarma, SE ), Kasi Pengelolaan ( Supriyono, S.Sos ), Kasi Perlindungan (Drs. Supriyanto), Arsiparis ( Slamet Riyanto A.Md.), Slamet Riyadi, serta para staf karyawan yang lainnya.

Drs. Supriyanto selaku Kasi Perlindungan Depo Arsip ( Bidang Kearsipan ) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan memberikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan selamat datang serta menyampaikan terima kasih atas kedatangan siswa dan siswi dari SMKN 1 Pacitan yang telah mau berkunjung ke Depo Arsip.

Slamet Riyanto A.Md selaku Arsiparis Depo Arsip ( Bidang Kearsipan ) Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan juga memberikan beberapa informasi mengenai jenis – jenis Arsip serta menjelaskan mengenai pentingnya Arsip di dalam Pemerintahan Daerah.

Terakhir, Bambang Budhidarma, SE mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan dari para siswa maupun siswi dari SMKN 1 Pacitan, dan semoga kedepannya sekolah-sekolah lain mempunyai langkah yang sama agar aktif mengenalkan kearsipan kepada siswa dan siswinya. (Penulis&Doc: Nisa Permana/Depo Arsip/Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan/PemkabPacitan)

Gebyar Seni Kethek Ogleng; Menapaki Langkah Menuju Suguhan Internasional

Semangat masyarakat Kecamatan Nawangan utamanya Sanggar Condro Wanoro dalam membumikan tari Kethek Ogleng diapresiasi pemerintah, Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan Suko Wiyono yang hadir dalam Gebyar Seni Kethek Ogleng  Pacitan 2019 hari ini (27/10) mengungkapkan, evaluasi terus dilakukan demi menyuguhkan pertunjukan yang semakin menarik.

Rencananya ini akan terealisasi tahun depan sesuai dengan capaian yang diraih, Kethek Ogleng Pacitan ciptaan Sukisman ini diam-diam ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2019. Utamanya masalah waktu penyajian bagi Suko baik pagi ataupun sore pemerintah akan tetap mendukung dan menyaksikan. “Yang jelas acara ini sudah masuk pada agenda Kabupaten. Setiap tahun tentu akan kita perbaiki,” jelas Suko.

Sesuai arahan tersebut berbagai lini akan memperoleh perhatian khusus, orang nomor 1 di Kecamatan Nawangan Sukarwan membeberkan, pertunjukan ini benar-benar harus dapat menghibur seluruh penonton. Menggandeng Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan serta melibatkan pelaku seni di Desa dengan membentuk sanggar-sanggar. “Dari sisi SDM sudah sangat cukup. Tinggal koordinasi,” kata Dia.

Agoes Hendriyanto ketua panita dan ketua komunitas pengembangan sosial budaya mengatakan proses panjang ini akan dimaksimalkan demi cita-cita menyuguhkan satu pertunjukan yang diinginkan. Ia juga mengintip berbagai pertunjukan di kota-kota lain seperti event di Candi Prambanan. Pihaknya juga akan berusaha mandiri bekerjasama dengan pihak swasta sehingga tidak bergantung pada dana pemerintah. “Wisatawan luar kota dan Internasional menjadi sasaran kita,” kata Dia.

Sementara Daryono Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pacitan menegaskan Gebyar Seni Kethek Ogleng kali ke-3 ini bukan sekedar ada Kethek Ogleng, namun ia melihat sisi pertunjukan yang lebih variatif. “Pengunjung harus seneng. Karena akan kita garap dengan lebih baik lagi,” tambah Dia.

Monumen Jendral Sudirman yang terus dipromosikan Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Pacitan dan didukung jalan penghubung Purwantoro-Arjosari merupakan satu instrumen yang berkaitan untuk mewujudkan mimpi bersama tersebut. Andi Faliandra Kepada Dinas Pariwisata mengaku melalui Pacitan Journey yang belum lama dilakukan secara otmatis akan mendukung mimpi bersama tersebut. “Kita ingin seperti Ramayana, di Prambanan,” kata Andi.

Tinggal menunggu waktu, event yang telah dikemas dalam Calendar Of Even Kabupaten Pacitan lambat laun satu persatu akan menjadi daya Tarik wisatawan, dengan kerjasama dan profesionalitas seluruh pelaku, sehingga semua agenda akan berbuah manis untuk masyarakat Pacitan. (budi/notz/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Lolos 16 besar; masyarakat harus memahami kualitas Perspa

Lagi-lagi Persatuan Sepak Bola (Perspa) Pacitan tidak mampu menaklukan Perseta Tulungagung pada putaran kedua Liga 3 PSSI Jawa Timur dipertandingan terakhirnya sore tadi (26/10) di Stadion Pacitan. Nahrowi Pratama Pelatih Persepa mengatakan lawannya tersebut memang beda level ketimbang kesebelasannya.

Namun Pratama mengaku cukup puas dengan permainan Perspa, sepanjang pertandingan anak asuhnya dapat menerapkan seluruh aba-aba yang ia sampaikan, meskipun satu gol yang menjebol gawang Persepa diakuinya karena faktor kelalaian lini belakang.

Pada berbagai pertemuan baik sebagai tuan rumah atau di kandang lawan, bertanding dengan Peseta menjadi perhatian khusus. Pasalnya Perseta cukup menggambarkan ganasnya 16 besar. “Secara umum semua sudah bagus, tinggal jam terbang kita,” kata Pratama.

Kepada tim liputan Diskominfo Pacitan, Pelatih Perseta Ungki Prasetio blak-blakan menyampaikan kekurangan tim kebanggaan Kabupaten Pacitan tersebut. Menurut Dia tidak ada alasan untuk bertahan di kandang sendiri. “Ini hak mereka. Tapi kalo buat saya, ngapain bertahan dikandang sendiri?,” tandas Ungki.

Langkah cepat sudah disiapkan Hudiono, sebagai manejer Perspa dirinya akan secepatnya menggelar manejer meeting yang dilaksanakan 28/10 nanti. Terpenting kata Hudi adalah pemahaman masyarakat tentang kualitas lawan Perspa yang memang jauh diatas kelas persepakbolaan Pacitan. “Kita tingkatkan kwalitas Perspa dan mudah-mudahan kita bisa menambah pemain baru lagi,” ujar Hudi. (budi/anjar/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

BPBD Pacitan Bangun Sekolah Tangguh Bencana Di SLB YKK Pacitan

Ema Dian Pratiwi dan teman di sekolahnya Geoval Fikri Premadana kini semakin paham apa yang harus dilakukan jika sekonyong-konyong terjadi bencana. Termasuk gempa bumi, mereka hafal pertama harus melindungi kepala dengan sesuatu disekitarnya, masuk ke kolong meja sampai dengan berlari keluar dari ruangan.

Salah satu program Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang difasilitasi BPBD Provinsi Jawa Timur kini direalisasikan BPBD Kabupaten Pacitan di SLB YKK Pacitan. “Karena anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak sama terhadap materi kebencanaan,” kata Diannitta Agustinawati Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan hari ini (25/10).

Dian mengaku pemahaman terhadap bencana baru pertama kali masuk ke ranah ini, dengan berbagai tantangan mulai dari penyampaian materi yang harus dibantu penerjemah dan lain sebagainaya membuat waktu pelaksanaan hingga tiga hari lamanya.

Karena BPBD sangat paham untuk menciptakan sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana harus di dukung dengan lingkungan, manajemen dan infrastruktur yang mendukung. “Manajemen kebencanaan sangat perlu diperhatikan dan dilaksanakan, mengingat pada jam sekolah, anak-anak adalah tanggungjawab sekolah,” tambah dia.

Hingga hari akhir pelaksanaan Dian mengaku materi dapat diserap murid hingga 85 persen. Namun ia gundah, pasalnya sebagian sarana dan prasarana belum mendukung sepenuhnya, baik dari pintu yang sempit dan belum maksimalnya jalan khusus untuk korsi roda.

Kalimat senada juga disampaikan Totok Handoyo sebagai Kepala Sekolah SLB YKK Pacitan, 87 peserta didiknya memang harus mendapat perhatian terhadap kebencanaan, apalagi ia sadar sekali kondisi geografis Kabupaten Pacitan. “Sekiranya pemda maupun pusat memperhatikan fasilitas-fasilitas kami demi keselamatan, karena bencana dapat terjadi kapan saja,” harap Totok.

Heni Purwati juga merasa senang dengan pelatihan ini, wali murid salah satu siswa tersebut mengaku baru pertama memperoleh materi kebencanaan, sebelumnya yang ia hanya menarika anaknya saat terjadi gempa kini lebih tahu apa yang harus dilakukan. “Kalau bisa kegiatan ini juga dilaksanakan di tempat dan kesempatan lain,” harap Dia. (budi/rozak/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Mutasi Bukan Kepentingan Pribadi Bupati

Demi menyukseskan cita-cita bersama, mutasi 85 Pejabat Fungsional dan 37 Struktural di Lingkup Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali digelar pagi (24/10) ini di Pendapa Kabupaten oleh Bupati Pacitan Indartato. Mengingat Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran penting sebagaimana tertuang pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2016.

Menurut Bupati ASN harus melaksanakan tiga tugas pokok, pertama menjadi pelayan publik utamanya pada perizinan serta barang dan jasa, melaksanakan ketertiban maupun kelembagaan serta pembangunan aspek mental ataupun sosial ekonomi.

Namun pada sisi lain kebijakan tersebut kadang tidak sesuai dengan hati, hal tersebut supaya disadari dan dengan iklas, karena setidaknya pemerintah telah berupaya maksimal agar tidak menyulitkan ASN. “Mutasi ini bukan kepentingan saya pribadi,” kata Bupati Pacitan 2 periode tersebut. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

UU Pesantren Kado Istimewa Hari Santri 2019

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun mengakui keberadaan santri sebagai agen perdamaian dunia, disampaikan Muhammad Nurul Huda sebagai kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan dan ketua panitia peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 yang jatuh pada hari ini (22/10).

Pengakuan tersebut melahirkan tema pada peringatan ini, yakni Santri Indonesia Untuk Perdamaian, tidak cukup di Indonesia tapi Dunia. Melalui peningkatan kualitas santri menuju Indonesia yang makmur. “Bagaiamana santri harus berbuat yang terbaik sesuai dengan profesi masing-masing di setiap kesempatan,” ujar Huda.

KH. Lukman Haris Dimyati Ketua Gerakan Ayo Mondok hadir pada kesempatan itu, merasa bangga dengan Pemda dan Kemenag Pacitan yang mendukung setiap Kegiatan HSN sehingga selalu sukses dilaksanakan setiap tahunnya.

Lebih jauh Pengasuh Ponpes. Tremas Arjosari Pacitan tersebut menyampaikan konteks santri dimasa yang akan datang disamping harus beragama, bermasyarakat juga harus bisa bernegara dengan baik, hal itu penting adanya mengingat berbagai probelamtika Negara acap kali muncul mengancam keutuhan. “Santri Pacitan Gedruk bumi merajut NKRI,” katanya menerangkan konsep santri Pacitan.

Kalimat senada juga disampaikan Mahmud, Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pacitan itu menerangkan melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 Tentang Pesantren yang baru disahkan, nantinya santri hasil didikan pondok pesantren akan mendapat porsi sama dengan lembaga pendidikan formal lain.

Dari awal Bupati Pacitan Indartato kagum akan kemandirian dan kesopanan seorang santri, menumbuhkan sejuta asa menuju Kabupaten Pacitan yang akan semakin baik melalui keilmuan dan sikap-siakpnya. “Dengan lahirnya UU Pesantren kami akan mengikuti sesuai aturan yang berlaku,” terang Bupati. (budi/rozak/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bangun Zona Integritas PA Pacitan Tampil Sempurna

Tidak ada tawar menawar untuk mengabdi kepada rakyat dan negeri kita tercinta ini, Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Kabupaten Pacitan sangat menjunjung tinggi prinsip tersebut, membuat mereka sepakat hari ini (21/10) mendeklarasikan diri menjadi Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) berbentuk Pencanangan Pakta Integritas.

Komitmen tersebut membuat Bupati Pacitan Indartato bukan main bangganya, ia diundang menjadi saksi sangat paham, berkomitmen menjadi satu instansi pemerintah yang bersih dan bebas dari korupsi serta pelayanan yang maksimal bukan perkara gampang. “Selamat. Membuat kegiatan ini tidak semudah yang kita bayangkan,” kata Indartato Bangga.

Menjadi orang nomor satu di Kabupaten Pacitan membuat Indartato sadar bagaimana sulitnya melayani masyarakat, bentuk kerja PA yang baik sehingga zero pengaduan sampai kini dirasa Indartato patut diapresiasi. Disamping capaian tersebut sudah selayaknya dipertahankan. “PRnya ya tindaklanjut dari komitmen hari ini dan bagaimana mempertahankan prestasi yang diraih,” pesannya.

Batapapun itu, penandatanganan Pakta Integritas harus dilaksanakan, mengingat Sumarwan Ketua PA Pacitan dan seluruh jajarannya ingin apa yang mereka kerjakan bukan semata menjalankan tugas, tapi juga bagaimana hal tersebut menjadi satu ibadah sehingga bertabur manfaat bagi semua orang.

Kehadiran banyak tokoh pada pengucapan sumpah dan janji tersebut menurut Sumarwan merupakan langkah cerdas, supaya semua orang turut mengawasi PA dalam melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawab. “Pada setiap momen kami akan saling mengingatkan komitmen yang telah kita sepakati,” terang Dia.

Muhammad Nurul Huda Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan turut hadir pada kesempatan itu merasa mendapat cambuk yang sangat keras, pelajaran berharga tersebut cepat atau lambat dipastikan akan sampai dikantornya.

“Contoh ini supaya dapat dilaksanakan semaksimal mungkin dan nanti kita geser ke Kemenag,” kata Huda dengan dukungannya yang mengusung satu program Bimbingan Perkawinan (Binwin), merupakan salah satu upaya menekan angka perceraian di Pacitan yang diketahui selalu meningkat setiap tahunnya.

Bagaimanapun sukarnya, pembangunan Zona Integritas sudah dilaksanakan. Sumarwan berharap seluruh jajarannya untuk bekerja sebaik mungkin dengan menghindari segala kemungkinan yang berakibat kesalahan. Melalui slogan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas yang bermuara pada satu pekerjaan yang tuntas. (timDiskominfoPacitan).

Rumah Kreatif; Inovasi Baru Tingkatkan UKM Dan UMKN

Dewasa ini peran Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sungguh memberi dampak nyata pada laju perekonomian, di Kabupaten Pacitan setidaknya tercatat lebih dari 23 ribu dengan berbagai macam bidang usaha dan kualitas.

Bupati Pacitan Indartato saat meresmikan Rumah Kreatif BUMN pagi ini (21/10) teringat, dari seluruh warga Pacitan 14 persen diantaranya masih hidup dibawah garis kemiskinan. Menjadi sangat berharap Rumah Kreatif yang berada di PLN Rayon Pacitan ini benar-benar membantu PR pemerintah tersebut.

“Rumah Kreatif harus menekan angka miskin di Pacitan,” kata Indartato. Sehingga UKM dan UMKN tersebut benar-benar seluruhnya berdaya dari segi kualitas, kapasitas maupun kapabilitasnya.

Bukan satu kebetulan, kehadiran BUMN pada ranah tersebut merupakan wujud pemerintah untuk mendukung PR tersebut, Rasyid Naja sebagai Senior General Affair PLN UID Jawa Timur pada kesempatan yang sama mengatakan Rumah Kreatif ini hadir juga sebagai wadah para pelaku UKM dan UMKM untuk belajar, selain itu juga menyiapkan data yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha. “Mereka para pelaku juga kami arahkan ke mode digital untuk mendukung era Industeri 4.1,” kata Rasyid. (budi/anj/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bawaslu Pacitan Gandeng Pelaku Seniman dan Budayawan

Kenalkan Tugas dan Fungsi Pada Masyarakat

Besarnya tugas dan tanggungjawab Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pacitan dalam mewujudkan Pemilihan Umum (Pemilu) yang berkualitas harus didukung semua komponen, tidak hanya Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPPU) tapi juga para pelaku seni budaya yang ada di Kabupaten Pacitan.

Dengan melaksanakan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan di Alun-alun Kabupaten Pacitan (19/10), kegiatan ini disaksikan banyak pihak termasuk Ketua Bawaslu Jawa Timur Muhammad Amin.

Momen penting tersebut diapresiasi Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo, dalam sambutannya ia mengatakan tugas pokok Bawaslu Pacitan sudah selayaknya diketahui semua orang, supaya masyarakat semakin paham hak mereka pada setiap kontestasi politik.

“Mudah-mudahan MoU dan sosialisasi ini akan berdampak pada penyelenggaran pemilu yang semakin baik sesuai perundang-undangan yang berlaku,” harap Yudi. Sehingga mimpi Indonesia dalam rangka membangun peradaban politik yang sehat dan dewasa dapat terlaksana. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Janda Dan Duda Di Pacitan Terus Bertambah Tiap Tahun

Tren negatif tentang perceraian di Indonesia mengalami peningkatan, termasuk di Kabupaten Pacitan menunjukan grafik yang signifikan. Menurut data tahun 2018 angka perceraian di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pacitan sebanyak 1071 perkara. “Sampai pada bulan ini telah tercatat sebanyak 1066 perkara,” kata Sumarwan Kepala PA kemarin (17/10).

Menurut Sumarwan masalah ini menjadi perhatian bersama, mengingat yang menjadi penyebabnya adalah ekonomi. Sama seperti yang disampaikan wanita berusia 37 tahun yang enggan disebutkan namanya, lebih memilih mengakhiri hubungan pernikahan yang ia bina 17 tahun lamanya. Pekerjaan suami yang serabutan dan dirinya sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) ia nilai membuat hubungan rumah tangga mereka tidak harmonis. “Saya rasa ini adalah pilihan terbaik,” kata Dia yang tinggal di Kecamatan Pacitan kepada Diskominfo Pacitan.

Ini dinilai terbalik oleh Sumarwan, hakim senior tersebut membandingkan dengan jaman dulu, kondisi ekonomi sekarang tentu lebih banyak kesempatan yang dapat dipilih untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Sayang, disisi lain PA tidak memiliki kesempatan untuk aktif dalam upaya preventif, terbentur masalah kewenangan dan anggaran, Sumarwan hanya dapat berpagku tangan. Meski pun disisi lain Kabupaten Pacitan masih menduduki posisi ke 4 lingkup Karisidenan Madiun.

Tangan terbuka selebar-lebarnya, jika ada satu inovasi yang dapat mendukung PA pada langkah preventif tersebut. Sumarwan melanjutkan patner tidak harus instansi pemerintah, pihak swasta pun bukan menjadi soal.

Ditinjau dari penyebab, perceraian dapat disebabkan oleh banyak faktor, ekonomi mungkin hanya sebagai kambing hitam belaka. Bisa karena pengetahuan masyarakat yang rendah, pergaulan, lingkungan dan lain sebagainya yang dapat disikapi dengan berbagai sosialisasi. “Pola hidup, gaya hidup dan pengetahuan agama serta kesiapan berumah tangga mungkin menjadi masalah yang sebenarnya,” ungkap Dia.

Angka kemiskinan yang terus ditekan dan masuk pada program utama pemerintah Kabupaten Pacitan juga digadang-gadang menjadi satu langkah menekan angka cerai masyarakat di Pacitan, hal ini jika sama-sama mengamini ekonomi menjadi masalah yang sebenarnya. “Jika ada lembaga khusus untuk menangani satu penelitian perceraian maka kami sangat membuka diri,” tambah Sumarwan.

Tegar Rachmad, pria berusia 22 tahun yang tinggal di Widoro Pacitan berencana pertengahan bulan Desember nanti akan membina rumah tangga dengan sang pujaan hatinya yang berusia 20 tahun asal Blora Jawa Tengah. Ia merasa pernikahan begitu indah diangan-angannya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai sales handphone ini bingung bukan kepalang saat ditanya Diskominfo Pacitan terkait rencananya membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. “Saya binggung. Kita pikir sambil jalan saja,” kata Dia.

 (budi/rozak/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Komisi Informasi Jatim; Jajah Desa Milang Kori Di Bumi Pacitan

Jelang Monev, Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur melaksanakan visitasi ke Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kabupaten di Diskominfo Pacitan hari ini (15/10). Terkandung maksud memantau langsung seluruh kegiatan yang berkaitan dengan keterbukaan informasi, sesuai amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008.

Ahmad Nur Aminudin Komesioner Komisi Informasi beserta dua stafnya tampak fokus mendengar berbagai hal yang dipresentasikan di Ruang PPID, pihaknya menyimpulkan bahwa keterbukaan informasi di Kabupaten Pacitan sudah cukup baik dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. Salah satu diantaranya yakni perencanaan yang langsung terintegrasi dengan aset. “Yang lain juga sangat lengkap mulai aduan sampai dasbord,” kata Ahmad.

Tidak cukup sampai di situ, Ahmad beserta tim juga mendapat penjelasan mengenai berbagai sosial media yang disuguhkan pemerintah Pacitan kepada khalayak, mulai Instagram @pemkabpacitan, Facebook Pemkab Pacitan, twitter @pemkabpacitan, Youtube Pemkab Pacitan dan Website pacitankab.go.id serta kominfo.pacitankab.go.id yang semua itu terintegrasi dengan bakohumas.jatimprov.go.id.

Komitmen kepala daerah untuk selalu responsif terhadap aduan yang dilayangkan oleh masyaraka juga menjadi poin tambahan, membuat Ahmad cukup mengaprsiasi kerja Diskominfo Pacitan melalui akun resmi Wadule Pacitan, yang bisa diakses dengan komputer dan smartphone.

Pihaknya juga menjelaskan bahwa capaian tersebut dapat sempurna tatkala semua itu dapat terintegrasi dengan pemerintahan di bawahnya, baik tingkat kecamatan dan desa yang ada di Pacitan. karena di tingkatan itu berbagai informasi khususnya yang vital seperti info cuaca atau bahkan bencana dapat segera terbagi kepada masyarakat sebagai peringatan.

Masih dalam tujuan yang sama, rombongan tim juga menyempatkan diri mengunjungi Desa Dadapan Kecamatan Pringkuku dan Desa Ngumbul Kecamatan Tulakan. (timDiskominfoPacitan).

Tetap Coblos Meski Digendong

Panitia Pilkades Desa Gawang berhasil memotret semangat salah seorang warga bernama Tukiran warga Dusun Plalangan Desa Gawang, yang mengalami cacat permanen terpaksa digendong saudaranya menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hal pilihnya pada Pilkades serentak (14/10) kemarin. Foto ini diambil di Desa Gawang Kecamatan Kebonagung. (istimewa/DiskominfoPacitan).

Pantau Pilkades Serentak; Partisipasi Pemilih Luar Biasa

Partisipasi masyarakat Kabupaten Pacitan dalam menentukan masa depan desanya di apresiasi Bupati Pacitan Indartato. Hal itu diutarakan saat memantau langsung proses pemungutan suara Pilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 113 desa pagi ini (14/10) di Kantor Desa Sambong Kecamatan Pacitan.

“Partisipasi adalah penting sekali. Ini menendakan bahwa rakyat sudah sadar untuk memilih pemimpin untuk kemajuan desa,” ujar Bupati menyampaikan kesimpulan sementara. Kesiapan panitia juga tidak luput dari pantauannya, utamanya pada aspek keamanan juga administrasi.

Sementara, pemerintah pada gelaran pesta demokrasi tingkat desa ini mentargetkan jumlah partisipasi mencapai 90 persen. Mengingat gelaran ini dinilai Bupati sebagai pemilihan paling murni dengan kemasan modern yang sama dengan Pemilu atau yang lain.

Sementara kendala yang menjadi perhatian pemda adalah jumlah Tempat Pemilihan Suara (TPS) yang hanya disediakan satu tempat yakni di kantor desa. Hal tersebut menyebabkan pemilih yang berada jauh dari lokasi pemilihan sedikit mengalami kesulitan. “Demi mendapat partisipasi tinggi panitia harus menyediakan angkutan,” terang Bupati.  Jumlah TPS yang hanya satu memiliki pertimbangan untuk menumbuhkan nilai persatuan dan kesatuan antar warga masyarakat di Pacitan.

Bupati juga menghimbau kepada seluruh calon utamanya yang gagal untuk senantiasa lilo legowo dengan hasil yang ada, karena menurut Dia itu merupakan satu jalan hidup yang mesti dilalui dengan keiklasan. Sedang untuk yang terpilih ia juga meminta untuk tidak sombong, mengingat menang atau kalah adalah satu kepastian dalam pemilihan.

Kapolres Pacitan AKBP Sugandi kepada Diskominfo Pacitan mengatakan pihaknya akan terus pemantau jalannya kegiatan ini hingga nanti pasca pencoblosan, dengan melakukan himbauan-himbauan kepada para calon utamanya yang gagal terpilih. “Apabila ada permasalahan himbauan kami untuk menempuh jalur hukum,” kata Sugandi. (budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Kurang Tenang; Perspa Gagal Dapat Poin Di Kandang Sendiri

Menghadapi Persemag Magetan di kandang sendiri pada putaran kedua Liga 3 PSSI Jawa Timur, kesebelasan Perspa Pacitan harus menerima kekalahan dengan skor 0-1, pertandingan ini digelar sore tadi di Stadion Pacitan (13/10).

Nahrowi Pratama pelatih Perspa Pacitan usai pertandingan menyayangkan para pemain besutannya yang terus-terusan gagal dalam mengeksekusi bola hingga menit akhir. Berakibat timnya gagal memperoleh poin. “Mereka kurang tenang dalam finishing,” ungkap Dia.

Mengenai target yang banyak diperbincangkan bahwa Perspa Pacitan bakal lolos di 16 besar, pihanya mengatakan bahwa hal itu ia anggap semata sebagai bonus. Dirinya akan lebih fokus pada jadwal pertandingan melawan Perseta Tulungagung dengan berbagai disiplin latihan.

Hasil pertandingan kali ini diakui Pratama tidak begitu berpengaruh terhadap hasil klasemen, namun Perspa Pacitan harus bekerja keras jika ingin menghadiahi masyarakat Pacitan dengan tiket 16 besar. “Kita evaluasi kembali pertandingan ini untuk pembelajaran kami,” pungkasnya yang tetap berusaha keras memberi yang terbaik kepada semua. (budi/anj/wawan/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

KWT Kamboja dari Desa Jeruk Jadi Nomor Satu Di Jawa Timur

Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja Desa Jeruk Kecamatan Bandar raih penghargaan juara 1 Lomba Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura Tingkat Jawa Timur Tahun 2019. Penghargaan diberikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Pembukaan Jatim Fair dalam rangka Peringatan Hari Jadi Jawa Timur di Grand City Convention Centre (08-13/10).

Lomba Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura Tahun 2019 dilaksanakan pada (11/08) di KWT Kamboja Desa Jeruk. Pelaksanaan lomba diikuti oleh anggota KWT Kamboja, petugas penyuluh lapangan, Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan serta Perangkat Desa Jeruk, dinilai langsung oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Aspek yang dinilai dalam Lomba Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura ini ditekankan pada administrasi, kelembagaan serta proses produksi.

KWT Kamboja beranggotakan 80 orang  dan terus berkembang hingga saat ini baik jumlah anggota kelompok maupun keuangannya. KWT Kamboja berupaya mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada dan hasil biofarmaka daerah untuk diolah menjadi produk yang berdaya jual tinggi.

Hasil biofarmaka yang melimpah antara lain seperti komoditas jahe, kunyit, temulawak dan singkong. Komoditas yang ada tersebut diolah dengan cara diparut, diendapkan serta dikeringkan. “Output yang dihasilkan tidak kalah dengan mesin pengering yang ada di pasaran.,” ujar Dian Anggarimurni Kasi Hortikultura Dinas Pertanian Pacitan.

Hasil yang diperoleh berbentuk serbuk minuman yang diracik sedemikian rupa dan dikemas dalam botol serta kemasan yang lengkap sehingga menarik konsumen. Produk KWT Kamboja sangat beragam antara lain instan jahe merah, instant temulawak, instan kunyit, manisan jahe gajah, kopi jahe,  thiwul gunung, sambel pecel dan peyek.

Usaha yang dirintis ini pada awalnya untuk menjawab kegelisahan akan harga komoditas biofarmaka yang rendah karena hasil panen yang melimpah, sehingga dengan diolah harganya lebih meningkat dan bisa meningkatkan pendapatan keluarga. Ternyata produk yang dihasilkan diminati oleh konsumen bahkan pengiriman hingga luar jawa.

“Prestasi yang diperoleh KWT Kamboja semoga bisa meningkatkan kemandirian kelompok dan sebagai sarana motivasi  kepada wanita khususnya KWT Kamboja.  Selain itu juga diperlukan  paling semangat yang tinggi, tanpa ada semangat dorongan dalam bentuk apapun tidak akan bisa bisa berjalan,” tambah Dia.

Masih sangat diperlukan pembinaan dari stake holder agar produk dari KWT Kamboja bisa lebih baik dan bisa meningkatkan penjualannya, karena goalnya adalah menambah income dan meningkatkan pendapatan keluarga. (istimewa/DiskominfoPacitan).

BPBD Pacitan; Gunakan Air Secukupnya

Kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga ahir bulan Oktober mendatang, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Deraha BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo di ruangannya 11/10 kepada Diskominfo Pacitan, sesuai buletin harian yang dikirim Badan Meteorologi Krimatologi dan Geofisika (BMKG). “Atau bergeser di bulan November. Ini perlu kita sikapi,” katanya.

1127 stok tanki air bersih diterima Kabupaten Pacitan pada tahun ini, dan telah disalurkan sebanyak 1000 tanki lebih, tinggal menyisakan seratusan tanki saja. “Kapan turun hujan masih menjadi prakiraan, jadi mari guanakan air bersih seperlunya saja,” himbau Didik.

Tidak hanya di Kabupaten Pacitan krisis air bersih ini terjadi, sejumlah wialayah di Pulau Jawa umumnya mengalami hal serupa, membuat himbauan yang disampaikan didik tersebut tidak berlebihan. Meski pihaknya merasa bersyukur dengan berbagai gerakan droping  yang dilakukan pihak lain teramat sangat membantu.

Sementara, inovasi yang dilakukan Bupati Pacitan Indartato terkait memfungsikan kembali ratusan sumur bor di Pacitan akan membuat BPBD tetap pada porsinya, namun Didik menegaskan bahwa droping nantinya hanya bersifat kedaruratan.

“Jika nanti sumur bor telah berfungsi tentu akan memudahkan semua masyarakat. Mereka secara mandiri akan mengelola sendiri, sedang yang tidak memiliki sumur bor akan mendapat perhatian lebih dari pemerintah melalui droping,” tambah Dia. BPBD selanjutnya akan lebih fokus pada sisi aspek, kesiapsiagaan dilakukan, memotifasi masyarakat terkait situasi kekeringan serta turut menjaga alat yang ada di sumur bor tidak rusak. (budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Dinkes Pacitan Kembali Pilih Doter Kecil dan Duta Kesehatan Remaja 2019

Pemilihan Doter Kecil dan Duta Kesehatan Remaja tahun 2019 kembali digelar di Kabupaten Pacitan oleh Dinas Kesehatan Pacitan kemarin 10/10 di Gedung Karya Darma. Ratusan siswa dan siswi tersebut telah mengikuti berbagai  rangkaian tes dan ujian hingga dapat mengikuti pemilihan ini.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Ratna Susy Rahayu mengatakan kegiatan ini kembali digelar karena banyak manfaat yang akan diperoleh para generasi muda di Pacitan, nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat akan tertanam pada anak sejak mereka masih belia.

Perilaku tersebut tidak bisa ditanam melalui orang tua dan guru saja, berbagai rangsangan harus dilakukan dengan berbagai cara. Metode tersebut tidak hanya akan menguntungkan peserta dan pemenang.

Secara langsung dan tidak langsung pengalaman yang mereka peroleh akan mereka bagikan kepada orang-orang disekitarnya baik keluarga, teman dan yang lain. “Mereka yang terpilih secara otomatis akan menjadi kader kesehatan disekolahan dan setiap kegiatan program UKS akan terlibat,” kata Ratna. (budi/rozak/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Ketua BPD, Panwas dan Pemilihan Tanda Tangani Pakta Integritas

Supaya berjalan dengan baik tanpa ada kendala sekecil apa pun yang merupakan harapan bersama. Perayaan pesta demokrasi tingkat desa yang bakal digelar tidak lama lagi ini hanya mempunyai dua jawaban, pertama menang dan satunya adalah kalah.

Kondisi ini dapat memicu tejadinya hal yang tidak diinginkan jika kemasan Pilkades Serentak ini keluar dari regulasi yang ada. Penyamaan persepsi perlu dilakukan melalui Penandatangan Pakta Integritas Pilkades Serentak 2019 oleh Ketua BPD, Ketua Panwas dan Ketua Pemilihan di 113 desa hari ini 10/10.

Beberapa poin yang terkandung pada nota pakta integritas diharapkan Bupati Pacitan Indartato menjadi modal dalam menjalankan tugas tersebut. Sehingga keinginan menyelenggarakan Pilkades yang aman lancar dan damai dapat terlaksana. “Mari kepada penyelenggara Pilkades untuk Profesional dalam menjalankan tugas,” harap Indartato.

Kapolers Pacitan AKBP Sugandi menilai penandatangan tersebut merupakan hal yang baik dilaksanakan, supaya semua yang terlibat langsung ini bekerja sesuai dengan aturan yang ada. “Mereka bagian dari sistem harus dapat menjalankan pekerjaan sesuai aturan,” kata Sugandi.

Inovasu baru juga dilakukan dalam mendukung pemilihan ini, berbentuk Kelompok Kerja (Pokja) Hukum, bekerja membantu seluruh panitia dalam mengurai segala sesuaitu permasalahan yang timbul. “wadah komunikasi dan diskusi dan koordinasi antar panitia ditingkat bawah dan kabupaten,” tambah Dia. (budi/rozak/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Digital Signature Satu Icon Menuju Pacitan Yang Lebih Maju

Pemerintah terus berupaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, percepatan menjadi satu hal yang penting di jaman serba digital seperti sekarang. Model baru Digital Signature atau Tanda Tangan Digital menjadi hal yang kini tengah disosialisasikan oleh Diskominfo Kabupeten Pacitan bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Digital Signature mempunyai banyak manfaat yakni cepat, mudah dan dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Tanpa meninggalkan tiga jenis aspek keamanan, mulai integritas data, kerahasiaan yang dapat diverifikasi dan anti penyangkalan.

Piranti tersebut direspon baik Bupati Pacitan Indartato, melalui arahannya meminta seluruh instansi untuk menerapkan, hal ini disampaikan Sandi Prasetiawan Kasi Pelayanan Sertifikat Elektronik BSSN bisa secepatnya terealisasi. “Teknologi ini tidak sulit, ini mudah,” kata Sandi.

Mudah, jika seluruh sistem yang ada di Kabupaten Pacitan sudah terintegrasi, berdasar kenyataan beberapa instansi sudah siap pada model tersebut. Melalui dua pecontohan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (BPMPTSP) Pacitan dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pacitan. Namun keberhasilan secara keseluruhan semua kembali pada semangat Diskominfo Pacitan dalam mewujudkannya.

“Digital Signature menjadi perhatian kami supaya atensi Bapak Bupati segera terealisasi,” kata Kepala Diskominfo Pacitan Rachmad Dwiyanto kemarin 09/10. Menyatakan komitmennya untuk segera merealisasikan harapan tersebut. (budi/anjar/notz/wawan/rozak/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Dadapan Masuk 28 Besar Lomba Desa Wisata Nasional 2019

Desa Dadapan saat ini berahasil duduk di 28 dalam Lomba Desa Wisata Tahun 2019, yang digelar oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonsia (Kemendes). Tim Verifikasi lomba kemarin 09/10 datang untuk membuktikan langsung bagaimana Setono Gentong dan yang lain dikemas oleh Desa Dadapan.

Melalui dana desa, Dadapan terus tumbuh untuk menjadi desa yang maju dan mandiri dari wisata yang dibangun dan diolah serta didukung produk unggulan yang dimiliki. Terlebih Pemda Pacitan selalu support setiap langkah inovasi desa ini.

Ahmad Robiul Fuad Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa (PMD) Provinsi Jawa Timur dikesempatan ini menyampaikan, Kabupaten Pacitan melalui semangat Dadapan sangat layak menjadi yang terbaik pada lomba tersebut, selain lanskap yang indah tersebar di mana-mana, Fuad mengaku masyarakatnya sangat ramah. “satu rangkaian untuk menjadi juara,” ungkap Dia.

Beberapa aspek akan menjadi perhatian Minarni Masbun Ketua Tim Verifikasi dalam sambutannya, adalah bagaimana sebuah desa menjual wisatanya, kesiapan menyambut tamu, membuat siapa pun yang datang, baik wisatawan lokal, nasional atau mancanegara dapat tertarik dan betah di desa tersebut.

“Yang masuk 10 besar akan di undang ke Jakarta,” kata Minarni. Melanjutkan bahwa konsep desa wisata mesti fokus pada kaum milenial, masih muda yang mampu berkujung kesatu destinasi meski jarak yang ditempuh cukup jauh. (budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan)

Pacitan Sport Fun Festival 2019 Harus Menjadi Andalan Pacitan

Edi Nurendra Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Rekreasi Kementerian Pariwisata Pemuda Dan Olaharga (Kemenpora) melihat pantai Pancer Door yang asri sangat strategis menjadi pusat aktivitas olahraga, satu hal yang sejalan dengan Kemenpora dalam upaya mengolahragakan masyarakat melalui program Ayo Olahraga, Kapan Saja, Di Mana Saja, Bersama Siapa Saja. “Pacitan Sport Fun Festival 2019 harus menjadi program yang bisa kita andalkan,” kata Edi kepada Diskominfo Pacitan kemarin 05/10.

 Sementara Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo mengatakan Pemerintah Kabupaten Pacitan merasa senang dapat menggelar kegiatan ini, pihaknya berharap berbagai olahraga Tantangan seperti Paralayang, Surfing dan yang lain ini dapat berkembang di Pacitan.

 Mengingat kegiatan ini akan menarik semua orang, utamanya untuk para pemuda akan lebih tertarik mencobanya. “Olaharga ini juga akan mendorong terciptanya kompetisi yang baik, pembangunan keterampilan dan persahabatan,” kata Wabup.

 Wabup juga berharap Pacitan Sport Fun Festival 2019 lebih jauh juga menjadi sarana untuk meningkatkan ekonomi baru bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan. Ini selain meningkatkan jumlah wisatawan dan minat Aerosport. (budi/wawan/rozak/anjar/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Beton Ikut Hadir Droping Air Bersih

Bencana kekeringan setiap tahunnya menarik perhatian berbagai pihak, begitu juga Komunitas Driver Pemda Pacitan ini, telah mengirim setidaknya 6 tangki air bersih ke berbagai titik desa yang terdempak kekeringan.

Seperti kemarin (06/10), mereka yang menamai dirinya Beton (Betah Ora Nesu) Tersebut membantu warga kekeringan yang ada di Wilayah Tulakan. Hal tersebut merupakan wujud rasa simpati anggota Beton pada kekeringan ini.

“Setiap arisan sengaja memang kita sisihkan sedikit yang kita punya, untuk saudara kita yang kesulitan,” kata Agung Sedayu Driver Dinas Lingkungan Hidup melalui sambungan telepon. Selain terlibat pada masalah kekeringan, Beton juga melibatkan diri ke berbagai kegiatan sosial lain, seperti menjadi Driver untuk orang sakit yang akan dirujuk dan lain sebagainya. (suyudi/budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Siswa SLB Dapat Tambahan Ilmu Membatik

Sebentar lagi keterampilan siswa dan siswi SLB di Kabupaten Pacitan bakal bertambah, berkat digelarnya Bimtek Keterampilan membatik yang dilaksanakan di SLB YKK Pacitan selama empat hari 02-04/10 oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus kepada para guru SLB di Kabupaten Pacitan.

Bekal ini dinilai tepat diberikan pada para siswa dan siswi SLB, mereka yang mempunyai hambatan tertentu dirasa memiliki bakat lebih pada seni warisan asli Indoneisa ini karena memiliki konsentrasi tinggi pada setiap langkah pengerjaan.

Keterampilan menjadi bekal bagi para siswa dan siswi, sehingga mereka dapat mandiri seperti masyarakat yang lain. “Syukur-syukur mereka dapat membuat usaha batik sendiri,” kata Totok Handoyo Kepala SLB YKK Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

FKP 2019; Awali Kopi Pacitan Melambung Tinggi

Kopi, bicara biji yang satu ini hampir semua orang mengidolakannya. Di Kabupaten Pacitan pelaku usaha kopi yang tergabung dalam Paguyuban Kopi Pacitan (PKP) berinisiatif membuat satu gebrakan di Hari Kopi Sedunia 1 Oktober kemarin.

Festival Kopi Pacitan (FKP), perwujutan niat demi menciptakan satu ruang kopi yang lebih menjanjikan dan kompetitif, mengingat semua jenis kopi dari Pacitan mempunyai kualitas dan karakter yang cukup memiliki tempat di kancah Nasional dan dunia. “Kami berkumpul karena mempunyai impian yang sama,” kata Muhammad Anshari ketua PKP 05/10.

Masyarakat menemui jawaban atas apa yang dilakukan PKP selama 2 hari itu, tampak seluruh stan begitu padat dijejali pembeli, disisi lain stan kopi gratis yang di siapkan panitia penuh sesak, ini cukup membuktikan dukungan masyarakat tentang inovasi mereka. “Sungguh ini diluar ekspektasi kita,” kata Ketua Pelaksana Robby Adhitama. Monique Maureen anggota PKP mengungakapkan hal senada tentang gambaran Festival Kopi Pacitan tahun depan, tentu stan akan lebih kaya kreativitas  yang bertujuan memuliakan masyarakat.

Jene Fia dan Riza Mahasiswa Pasca Sarjana dari salah satu Universitas di Malang, sepekan ini melakukan penelitian kopi di Wilayah Bandar dan Nawangan dan berkesempatan mampir di acara itu, kepada Diskominfo Pacitan mereka mengatakan kopi tersaji mesti didukung dengan berbagai hal, salah satunya adalah suasana, “Orang kota tidak segan-segan datang ke Pacitan untuk menikmati kopinya dengan suasana yang mereka inginkan,” kata mereka memberi masukan. Merasa layout FKP cukup membuat mereka betah berlama-lama menikmati kopi Liberika yang mereka pesan.

FKP 2019 ini dibuka oleh Wabup Pacitan Yudi Sumbogo, ditandai dengan meracik kopi bersama-sama di atas panggung dengan didampingi oleh Sekda Pacitan Suko Wiyono dan sejumlah pejabat pemerintahan, hal tersebt turut menjadi saksi FKP sebagai jembatan seluruh pelaku kopi  Pacitan.

Orang nomor satu di kabupaten Pacitan Indartato berkesempatan menutup acara tersebut kemarin (06/10), menilai kegiatan ini memiliki potensi yang mengagumkan jika ditindaklanjuti dengan baik. Dari kacamatanya, ini bisa mengangkat ekonomi seluruh pelaku kopi di Pacitan. “Jadi saya mohon untuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengadvokasi kegiatan ini,” kata Bupati. Harapan kopi Pacitan menjadi satu kebanggaan, lebih dicintai dan berada di hati penikmat kopi, bukan hanya masyarakat Pacitan melainkan untuk masyarakat diluar Pacitan dengan konsep matang yang menarik.

Menyikapi statment Bupati, Heru Sukrisno Kepala Disperindag telah menyiapkan beberapa formula atas arahan tersebut, melalui Paguyuban yang telah berjalan ini pihaknya kemudian akan melakukan pemetaan secara menyeluruh dan mendetail. Disinggung masalah kampung kopi, pihaknya mengaku hal itu mungkin saja terjadi. “Tapi sementara kami akan lebih fokus untuk melihat potensi-potensi mereka,” pungkas Heru. (budi/rozak/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kembangkan Kemampuan Demi Turut Bangun Pacitan

Seperti organisasi lain, Persaudaraan Muslimah (Salimah) Kabupaten Pacitan juga merasa ingin berkontribusi dalam membangun Kota 1001 Goa ini melalui berbagai hal, salah satunya adalah menggelar pelatihan kepemimpinan, digelar kemarin di gedung Badan Kesejahteraan Masjid (BKM). Bertema Satukan Langkah Kokoh kan Barisan Tebarkan Manfaat.

 Dipercaya sebagai Narasumber Yanti Robiyana Ketua Salimah Jawa Timur membagikan ilmunya tentang ke Salimahan dan Pembuatan Proker yang bisa diaplikasikan di Kabupaten Pacitan. Menurut Dian Anggarimurni Ketua Salimah Kabupaten Pacitan hal itu penting adanya. “Supaya kita Profesional dalam berorganisasi,” kata Dia 05/10.

 Akhirnya diharapkan Salimah menjadi Agile Organization. Satu organisasi yang terhadap segala situasi, memiliki strategi dan tata kelola Best Practise dalam rangka menuju Next Practise. Melalui tiga tahapan, mulai literasi, inovasi dan disrupsi. Sehingga Salimah lebih bermanfaat untuk masyarakat khususnya di Kabupaten Pacitan. (istimewa/DiskominfoPacitan).

Pimpinan DPRD Pacitan Laksanakan Sumpah/Janji

Pengucapan Sumpah/Janji Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Periode 2019-2024 Kabupaten Pacitan Dilaksanakan hari ini (03/09) Oleh Hakim Pengadilan Negeri Pacitan Yogi Arsono di Gedung DPRD Pacitan.

Indarta Nur Bayu Aji terpilih sebagai Ketua, Gagarin sebagai Ketua Satu, sebagai Ketua Tiga adalah Eko Setyo Ranu dan Fibi Irawan menjabat sebagai Wakil Tiga.

Menyadari duduk di posisi penting, menjadi mitra Pemerintah Kabupaten Pacitan, Indarta dalam sambutannya di hadapan seluruh undangan mengajak seluruh anggota untuk selalu menjaga hubungan, senantiasa kompak dan kerja sama yang baik. “Harapan maju dan sejahtera bersama rakyat dapat tercapai,” kata Indarta.

Amanah menjadi satu peranti untuk mewujudkan misi bersama tersebut, beberapa poin yang menjadi perhatian bersama dan harus segera disikapi adalah masalah kemiskinan. Bupati Pacitan Indartato pada sambutannya menegaskan angka 14,19 persen harus cepat disikapi bersama. “Angka tersebut di atas Provinsi dan Nasional,” kata Indartato.

Begitu juga masalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), beberapa Peraturan Daerah yang harus segera diselesaikan. Tentu melalui sinergi demi Kabupaten Pacitan yang diharapkan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Batik Pace; Warisan Berharga Pacitan Dan Indonesia

Identitas lain dari kota 1001 Goa adalah Batik Pace. Karya seni tulis tangan asli dari Pacitan tersebut menjadi tombak perkembangan Pacitan di kancah Internasional. Luki Indartato Ketua Deskranasda Kabupaten Pacitan mengaku baru saja mendapat ucapan selamat dari Dirjen UKM, bahwa Batik Pace banyak dipakai di Korea.

 Tahun 2012 adalah Tahun bersejarah yang dicatat dalam perkembangan sejarah Batik Pace, karena tahun tersebut Batik Pace resmi di Hak Patenkan sebagai milik Pacitan. Sebelum menjelaskan hal tersebut Luki bercerita, dalam satu pameran ada stan batik yang mengakui Batik Pace adalah milik daerah mereka. “Saya yakinkan bahwa ciri khas Pace hannyalah milik Pacitan, kemudian mereka mengakui bahwa pelatihnya mendatangkan orang dari Pacitan,” tuturnya.

 Lebih lanjut luki menyampaikan terima kasih pada para pengrajin batik yang bersedia melestarikan, menjaga dan mengembangkan batik, sehingga batik Pacitan turun temurun sebagai warisan yang berharga. Pembinaan dan kerja sama dari seluruh pihak khususnya Dinas Perindustrian sebagai pelopor pembinaan, kegiatan study banding, pameran batik dan lainnya juga tak luput dari ungkapan terima kasih Luki. 

 Hasil kerja keras tersebut adalah pengakuan Deskranasda Jatim mempercayakan pada Deskranasda dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan untuk membuat seragam batik gotong-royong nasional yang dipusatkan di Sidoarjo. Hasil selanjutnya adalah kesejahteraan pembatik dan masyarakat Pacitan pada umumnya. “PR-nya adalah pada pemasaran, semoga ke depan lebih baik lagi,” harap Luki yang hobi mengoleksi batik, terlepas dari jabatannya sebagai ketua Deskranasda Pacitan.

Gelar Upacara Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Bersama seluruh instansi vertikal Pemerintah daerah kabupaten Pacitan melaksanakan upacara bendera dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Pendapa yang jatuh hari ini Selasa 1 Oktober 2019. Peringatan ini juga melibatkan pelajar dan mahasiswa di Pacitan, mengusung tema Pancasila Sebagai Dasar Penguatan Karakter Bangsa Menuju Indonesia Maju Dan Sejahtera. (DiskominfoPacitan)

Bulan Ndadari Hadirkan Kreatifitas Anak Melalui Pertunjukan

Masih lekat dalam ingatan, saat temaram semburat purnama, rembulan utuh itu menjadi pertanda malam yang hidup di pedesaan, anak-anak dan orang dewasa keluar rumah menikmati malam yang cerah dengan berbagai tradisi.

Bulan purnama memiliki banyak kisah yang menjadi ide Sanggar LKP seni Pradapa Loka Bhakti untuk menyuguhkan momentum hangat itu, biar tetap terasa meski listrik kini telah menerangi kampung-kampung, termasuk di Desa Pelem Kecamatan Pringkuku, ujung barat Kota Pacitan.

Mereka kali kelima mewadahi bocah-bocah untuk unjuk gigi, memamerkan bakat yang telah mereka pelajari tentang seni pertunjukan yang dikemas apik dialam terbuka dan tentu dibawah purnama beratap langit cerah lengkap dengan bintang-bintang, dinamai Pentas Bulan Ndadari atau Pentas Bulan Purnama.

Direktur kegiatan ini Deasylina da Ary mengungkapkan penikmatnya bukan saja masyarakat Pelem, tidak sedikit yang datang dari luar kota Pacitan, seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bandung dan lainnya.

“Anak-anak yang bahagia akan mudah menerima dan menyerap beragam informasi yang diterima panca indera. Mereka berani untuk mengeluarkan pendapat tanpa takut disalahkan,” kata Deasylina Kepada Diskominfo Pacitan 28/09.

Pentas Bulan Ndadari menambah panjang deretan seni budaya yang dimiliki Kabupaten Pacitan. Meskipun hanya bocah-bocah yang tampil di atas panggung, tapi Kedatangan Warga dari luar kota ini adalah bukti Bulan Ndadari menyuguhkan seni budara berkelas internasional yang layak untuk dinikmati.

Utamanya usai letih menghibur semua orang, Pentas Bulan Ndadari menjadi sarana anak-anak peserta didik Sanggar tersebut untuk menunjukan nilai raport kepada orang tua dengan suguhan berkualitas melalui kemandirian seluruh proses pertunjukan, tanpa campur tangan siapapun.

“Kami memandang hal ini penting, bahwa pendidikan seni dapat mendukung dan memperkuat pendidikan formal di sekolah, memberi ruang lebih bagi kreatifitas untuk pengembangan budi pekerti dan karakter anak dengan kegiatan nyata. Tujuan akhirnya untuk menumbuhkan spirit kemandirian dan jiwa kepemimpian (Leadership) anak. Senada Konsep Ki Hadjar Dewantara tentang esensi Pendidikan Indonesia, yang diadopsi menjadi prinsip utama pendidikan nasional kita, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang mempunyai karakter bangsa Indonesia yang berbudaya,” pungkas Deasylina. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

42 Tanki Air Bersih, ARPAC Sikapi Kekeringan

Selama musim kemarau, di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan mengalami kekeringan secara merata, demikian ini menarik perhatian sejumlah kalangan termasuk Paguyuban Anak Rantau Pacitan (ARPAC).

Komunitas ini telah menyalurkan 42 tanki air bersih di 34 titik. Berangkat dari keikhlasan anggota ARPAC yang tersebar di seluruh kota di Indonesia, dengan dorongan Dewan Pembantu Pengurus Pusat DP3 di Pacitan.

Agung Wahono Sekretaris umum ARPAC yang pernah merasakan susahnya kekurangan air saat kemarau, mewakili seluruh anggota ARPAC berharap bantuan yang telah tersalur di 12 wilayah di Kabupaten Pacitan dapat meringankan beban masyarakat. “Kita akan selalu ada untuk Pacitan,” kata Agung.

Selain menyikapi kekeringan di Pacitan tahun ini, ARPAC juga aktif dalam berbagai kegiatan demi membangun Kota 1001 Goa, diantaranya melibatkan diri membantu masyarakat dan pemerintah saat terjadi banjir bandang akhir 2017 silam.

Diskominfo Resmi Rilis Pemenang Lomba Website 2019

Diskominfo Kabupaten Pacitan kembali menggelar Lomba Website 2019, seperti biasa lomba ini selalu bertepatan dengan HUT RI. Pemenang telah diumumkan akhir Agustus lalu, terpilih menjadi yang terbaik tahun ini adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan 196 poin, menjadi Runner Up Dinas Perpustakaan Daerah dengan 194 Poin dan peringkat ke tiga diduduki Badan Kepegawaian Daerah dengan 193 Poin.

Secara umum agenda tahunan Diskominfo ini semata merujuk pada keterbukaan informasi publik yang terkandung pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, di dalamnya termaktub semua badan publik diwajibkan untuk menyediakan informasi publik. “Tahun ini ada peningkatan berupa uang  pembinaan untuk Admin (Pengelola) yang menang dan tentu piala,” ujar Kabid Informasi Diskominfo Pacitan Agus Anshori Mudzakir 26/09.

Melalui kegiatan ini haruslah seluruh instansi pemerintahan termotivasi untuk terus membangun Website-nya demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui informasi yang selalu Up Date dan berkualitas. Sehingga diharap masyarakat yang membutuhkan informasi tidak mengalami kesulitan. “Umumnya Up Date dilakukan setiap hari,” terang Dzakir.

Mengacu pada kriteria pemenang pada Lomba Website Perangkat Daerah kata Dzakir, pertama adalah kelengkapan isian data perangkat daerah, hal tersebut penting dan wajib untuk diisi sempurna dan tentu belakangnya adalah keaktifan mengunggah informasi terbaru atau Up Date tentang kegiatan dan program perangkat daerah. Selanjutnya didukung kualitas isi, fitur, layanan dan inovasi yang dilakukan.

Lomba ini tidak main-main, menurut pengamatan Tim Peliputan Diskominfo, proses penilaian Website dari masing-masing instansi membutuhkan waktu hingga 15 hari, Dzakir mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk melihat Website yang terbaik dengan didukung tiga penilai independen.

Instansi pemerintah harus termotivasi pada gelaran ini, supaya masyarakat puas dengan apa-apa yang telah dilakukan pemerintah dengan detail termasuk berbagai program yang dilaksanakan, hingga bagaimana capaian yang diperoleh instansi melalui program yang telah direncanakan demi pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bupati Dan Ketua DPRD Secepatnya Layangkan Unek-Unek Mahasiswa Pacitan

Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kepemudaan Pacitan turun ke jalan menggelar aksi menolak pengesahan RUUKPK. mereka menyuarakan aspirasinya di tiga titik sekaligus, diawali di Depan Kantor Bupati, dilanjutkan di Perempatan Penceng dan diakhiri di depan DPRD.

Bupati Pacitan Indartato berkesempatan hadir pada kesempatan itu mengapresiasi masukan yang disampaikan, selanjutnya pemerintah daerah akan menindaklanjuti berbagai masukan yang diterima. “Kami semaksimal mungkin akan berusaha sampaikan aspirasi ini. Meskipun hasil akhir tetap menjadi wewenang Pemerintah Pusat,” kata Bupati.

Setidaknya ada Sembilan poin yang disampaikan pada aksi tersebut, pertama penolakan RUUKPK, RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU P-KS, masalah Kebakaran Hutan, Penindasan Papua, Demokrasi Dikebiri dan terakhir Dwi Fungsi Aparat. “Kita tetap akan menggelar aksi sampai kebenaran tersebut benar-benar ditegakkan,” ujar Imam Rifai Asisten Koordinator usai orasinya.

Kalimat senada Bupati diucapkan Ketua DPRD Pacitan Ronny Wahyono di halaman Gedung DPRD Pacitan, Secepatnya berbagai masukan akan dilayangkan ke Pusat, mengingat segala aspirasi tersebut tidak lain adalah suara rakyat yang mesti menjadi perhatian. “Kami tadi minta surat resmi yang dapat kami kirim pusat, agar tidak terjadi perbedaan persepsi,” kata Ronny mengakhiri. (budi/royanto/DiskominfoPacitan).

Jambore PKK Kabupaten Pacitan; Libatkan Diri Kendalikan Stunting

Stunting menjadi masalah Bangsa, termasuk di kota yang mempunyai Pantai Watukarung ini. Semua komponen bergerak bergandengan tangan menyikapi masalah kekurangan gizi kronis tersebut. Antaranya PKK Kabupaten Pacitan, organisasi wanita ini cukup fokus ambil bagian dengan berbagai gebrakannya karena semua sadar masalah ini kudu segera disikapi.

 Di Pacitan teridentifikasi dua sumber penyebab Stunting, pertama adalah kemiskinan, sampai detik ini pemerintah mencatat masyarakat Pacitan yang masuk katagori miskin berada pada angka 14 persen dan faktor ketidaktahuan.

 “Sekitar 27 persen Stunting di Pacitan, jika ditinjau dengan persentase Nasional sebenarnya masih rendah, namun demikian harus tetap disikapi,” kata Bupati Pacitan Indartato saat berkesempatan menghadiri Jambore Kader PKK Kabupaten Pacitan hari ini 24/09.

 Di hadapan para Kader Pak In, panggilan akrabnya menyampaikan bahwa pemerintah sangat bersyukur dengan kerja keras para anggota PKK Kabupaten Pacitan, meskipun tanpa upah dalam bekerja tapi mampu bekerja penuh semangat. “Terus jaga kekompakan, jangan selegenje,” tambah Pak In. Seraya mengharap kerja keras anggota PKK terus dapat menekan angka Stunting di Pacitan.

 Secara terperinci Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan Luki Indartato memaparkan kerja anggota dalam menghadapi Stunting, mulai menggelar berbagai sosialisasi kepada masyarakat di berbagai kelompok masyarakat di desa dan kecamatan. “Pada kegiatan rutin kita ini juga kami laksanakan evaluasi dari apa yang telah kita lakukan,” terang Luki di damping Ninik Yudi Sumbogo sebagai Wakil Ketua Kabupaten dan Betty Suko Wiyono sebagai Ketua Pelaksana.

 Suci Hariati, Koreografer Line Dance jauh-jauh dari Kota Pahlawan datang menciptakan Atmosfer sehat dan semangat melalui Senam pada pembukaan Jambore, dilanjut sebagai MC untuk Lomba Jingle mengaku terkesan melihat para Kader PKK Kabupaten Pacitan, melihat Kader yang cukup Up Date dengan perkembangan jaman membuat masalah Stunting bakal semakin mudah dikendalikan.

 Sebagai wanita kekinian yang datang dari kota besar, Suci melihat harapan cerah pada masa depan Kabupaten Pacitan, melalui semangat para anggota PKK tersebut. “Up Date wajib ya, tapi jangan melepas Kultur Pacitan, karena sebagai identitas,” terang Suci. Secara alami membuat para Kader dalam menjalankan tugasnya akan muncul bermacam-macam inovasi yang akhirnya memudahkan kerja mereka. (budi/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Lagi; Dinas Pertanian Kembangkan Potensi Hortikultura Berbasis Kawasan Di Arjosari

Kecamatan Arjosari mempunyai lahan sawah seluas 989 ha. Biasa ditanami padi oleh masyarakat setempat, dan bisa hasilkan panen padi sebanyak 2-3 kali dalam satu tahun. Kondisi ini dapat dimaksimalkan untuk peningkatan dan pengembangan tanaman hortikultura untuk menambah penghasilan petani.

Tanaman hortikultura sebenarnya sudah menjadi bagian dari sumber penghasilan masyarakat Arjosari sejak lama. Strategi selanjutnya, untuk meningkatkan produksi hortikultura adalah dengan pembentukan kawasan hortikultura.

Dibentuknya kawasan hortikultura akan memudahkan pengembangan budidaya, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penanganan pasca panen hingga tahapan pemasaran.

“Secara spesifik pendekatan kawasan dirancang untuk meningkatkan efektivitas kegiatan, efisiensi biaya dan mendorong keberlanjutan kawasan komoditi unggulan,” kata Dian Anggarimurni Kasi Produksi Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian kemarin19/09.

Strategi dasar pengembangan kawasan hortikultura di Arjosari dapat diawali dengan optimalisasi komoditas unggulan yang telah berkembang seperti sayuran, cabai, pepaya, semangka, durian dan biofarmaka yang secara terfokus dan terarah kemudian dikembangkan melalui pendekatan agribisnis dengan memperhatikan keterkaitan hulu-hilir secara berkesinambungan. “Harapannya daerah menjadi maju dan masyarakatnya menjadi sejahtera sesuai dengan yang dicita-citakan,” harapnya.

Sedangkan Kelompok Tani di Kecamatan Arjosari sudah mulai mengembangkan tanaman-tanaman hortikultura seperti cabai, melon, semangka, pepaya california, durian dan biofarmaka. Tanaman cabai tumbuh baik di beberapa desa, antaranya ada di Desa Kedungbendo, Pagutan, Gunungsari, Borang, dan Gembong.

Di Desa Kedungbendo, petani menanam cabai varietas Dewata sekitar seluas 3 ha. Tanaman cabai bisa tumbuh sehat dan subur dengan hasil panen yang melimpah.  Hasil panen cabai dapat meningkatkan kesejahteraan petani, dengan harga jual cabai saat ini mencapai Rp.25.000-Rp.30.000 per kilogram. Dengan harga sebesar itu, petani sudah memperoleh keuntungan.

Kendala di lapangan tidak terlalu banyak, keluhan yang sering dijumpai menurut Sartono salah satu petani cabai, adalah masalah harga mulsa yang dinilai mahal, yakni sekitar Rp. 700.000 satu gulung.

Menyikapi masalah Sartono dan kawan-kawannya sesama petani cabai, Dinas Pertanian tahun ini memberi pendampingan bimbingan teknis dan  bantuan sarana produksi pertanian berupa mulsa dan pupuk. Bantuan ini bersifat stimulan yang digunakan untuk pengembangan kawasan cabai seluas 6 hektar di Desa Gembong, Pagutan dan Temon.  Luas tanam cabai rawit  tahun 2018 mencapai 17 ha dengan produksi 41 ton dan produktivitas 45 ku/ha (data  Dinas Pertanian 2018).

Berdasarkan data Dinas Pertanian tahun 2018, tanaman buah lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan di Arjosari adalah pisang, durian dan pepaya. Jumlah tanaman durian sekitar 15.541 pohon, produksi 202 ton dan rata-rata produksi 0,22 ku/pohon.  Tanaman pisang 22.522 rumpun, produksi 846 ton dan provitas 0,60 ku/rumpun.  Sedangkan pepaya jumlah pohonnya 9.822, produksinya 160 ton dan provitas 0,18 ku/pohon.

Tanaman pepaya banyak dikembangkan oleh kelompok tani di Desa Gunungsari dan Pagutan. Pada saat ini, Pepaya jenis California telah dibudidayakan pada lahan seluas sekitar 0,5 ha. Pepaya jenis ini sangat laku di pasaran.  Selain rasanya yang manis, juga teksturnya lebih keset dibanding pepaya jenis lainnya sehingga tahan lebih lama.  Harga pepaya yang cenderung stabil sekitar Rp.6.000/kg  bisa menjadi tambahan pendapatan petani.

Dinas Pertanian dan petugas lapangan terus berupaya untuk mengembangkan potensi hortikultura di wilayah Arjosari. Pengembangan kawasan hortikultura membutuhkan dukungan dari semua pihak terutama dari pemerintah setempat. Peran kelompok tani menjadi dominan sebagai sarana untuk bimbingan, pendampingan dan diskusi untuk mengatasi masalah yang timbul hasilnya kawasan hortikultura terwujud di Kecamatan Arjosari. (DinasPertanian/budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Angkat Isu di Sekitar; Kecamatan Pringkuku Kembali Juara Umum

Durbala Singkir, berhasil membuat Kecamatan Pringkuku kembali menjadi juara dua kali berturut-turut pada gelaran Festival Ronthek 2019. Melalui tangan dingin banyak nama, di malam kedua santri Raung Bambu sukses menghipnotis ribuan pencinta Ronthek dan tiga juri, ditandai riuh tepuk tangan.

Pringkuku melihat kesenian Ilir, atau di daerah lain Edan-edanan tampak mulai ditinggalkan saat upacara pernikahan, Padahal itu penting jika sedikit mau menengok fungsi sebenarnya, konon dalam cerita yang beredar, Ilir berfungsi sebagai penolak balak saat kedua mempelai melaksanakan ritual temu manten.

Terangkatlah Ilir, menjadi Durbala Singkir atau Pengusir Kekuatan Jahat itu menjadi judul yang mewakili Kecamatan Pringkuku, tersaji apik dan penuh warna. Dr. Deasylina da Ary, satu nama yang tertulis pada sinopsis melalui sambungan telepon menjelaskan konsep yang diusung pada penyajian Durbala Singkir mengedepankan sajian sederhana tanpa bermewah-mewah. “Karena seni tidak harus mewah,” ujar Dia kemarin 18/09. 

Kalimat Deasylina tersebut tidak Ngelantur. Pasalnya, meskipun Kecamatan Pringkuku hanya didukung Bedug serta Teropet pada pembukaan, namun pada durasi penyajian kurang lebih 15 menit hampir tidak terbuang sia-sia, ditandai dengan lensa para Fotografer yang tidak henti-hentinya membidik seluruh Gesture yang membentuk momentum, didukung aransemen musik yang benar-benar berbeda. “Semua harus pas komposisinya, di mana semua itu saling mendukung pertunjukan yang kita suguhkan,” Paparnya.

Daryono Camat Pringkuku pada 15/09 pukul 03:00 WIB belum terlelap di rumahnya, sekonyong-konyong sang istri mengabarkan rilis juara Festival Ronthek 2019 dari salah satu grup Whatsapp. Kabar Grup menyampaikan Kecamatan Pringkuku kembali Penjadi Juara Umum. “Awalnya saya tidak percaya, Aku kira kabar Hoax,” Katanya 16/09. Namun akhirnya Daryono percaya informasi tersebut usai ia mengklarifikasi kepada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan sebagai panitia. 

“Sungguh persiapan yang singkat, kata Daryono mereka bersiap hanya kurang dari 3 minggu, namun mereka profesional dan sangat disiplin dalam berseni,” tambah Dia. Menjadikan waktu singkat tersebut dapat dimaksimalkan. Daryono mengatakan bahwa Raung bambu jika melatih memiliki target. Meskipun kurang persiapan namun dukungan konsep yang sempurna membuat Raung Bambu dapat kembali menjadi yang terbaik.

Ronthek harus benar-benar berkarakter, kalimat itu mungkin selalu ada pada banyak kepala, baik para pemangku kebijakan, seniman, wartawan bahkan masyarakat sebagai penikmat, Deasylina yang menyelesaikan Disertasinya berjudul Pacitanian (Model Pendidikan Seni Berorientasi Lingkungan) mengaku dari tiga malam pertunjukan Ronthek,  dua malam ia di antara penonton menikmati persembahan Ronthek mengaku banyak kejutan dari tiap-tiap penampil.

Bahkan kepada Diskominfo Pacitan ia mengaku kalau wakil desa ternyata lebih siap dan kompetitif, sudut pandangnya menujukan bahwa Ronthek bukan masalah besaran biaya yang ada, namun lebih pada selera seni yang diwujudkan melalui berbagai disiplin keilmuan seni. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pertama Tandatangani (NPHD); KPU RI Minta Daerah Lain Contoh Pacitan

Kabupaten Pacitan menjadi Wilayah Pertama di Provinsi Jawa Timur yang menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) Pemilihan Bupati/Wakil Bupati Tahun 2020 nanti. Penandatanganan antara Bupati Pacitan Indartato dan Ketua KPU Pacitan Sulis Styorini tersebut disaksikan sejumlah pejabat dan Ketua KPU RI Arif Budiman, dilaksanakan di Halaman Wingking (Halking) 18/09.

 Saat sambutannya Pak In sapaan Bupati menyampaikan hal ini bisa segera terlaksananya karena dukungan dan kerja keras banyak pihak, serta sebagai wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Pacitan dan KPU Pacitan. “Mudah-mudahan ini nanti bermanfaat supaya bisa menghasilkan pemimpin baru yang lebih baik lagi yang membawa kesejahteraan semua masyarakat,” Harap Pak In.

 Sementara Sulis Sebagai Ketua KPU juga merasa senang dengan terselenggaranya kesepakatan melalui penandatanganan ini, ia sadar tim anggaran Pemkab Pacitan pasti bekerja luar biasa sehingga semua dapat berjalan dengan cepat.

 Sebagai yang pertama, Kabupaten Pacitan harus dicontoh 18 Kabupaten dan Kota lain di Jawa Timur, itu disampaikan Arif Budiman. Di kesempatan yang sama tersebut dari pengalamannya daerah yang Incumbent dan dua periode cenderung lemot dalam pengurusan (NPHD), tapi ini tidak terjadi di Kabupaten Pacitan. “KPU Pacitan Harus cermat dalam membelanjakan uang hibah ini,” pesannya. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

DWP Pacitan Masak Ikan; Terobosan Ekonomi Bernilai Gizi Tinggi

Semua tahu jika Pacitan kaya akan Sumber Daya Bahari, 71 Kilometer garis pantai terbentang dari Kecamatan Donorojo hingga Kecamatan Sudimoro, ribuan nelayan menggantungkan hidup di kolam raksasa tersebut, setiap bulannya tidak kurang 900 ton berbagai jenis ikan diangkat dari lautan.

 Kekayaan itu wajib diapresiasi warga Pacitan, salah satunya adalah Gemar Makan Ikan yang menjadi slogan unggulan Instansi Perikanan dan Kelautan, dikarenakan nilai gizi yang terkandung di dalamnya sangat baik untuk kesehatan.

 Sadar akan berbagai keuntungan tersebut, para istri Aparatur Sipil Negara (ASN) melakukan sosialisasi pengolahan makanan berbahan ikan, dilakukan di Pendapa Kabupaten kemarin pagi 18/09. Mereka para anggota Darma Wanita Persatuan (DWP) memiliki peran strategis pada ranah ini, minimal ikan laut tersebut setiap hari tersaji di meja makan dengan berbagai varian yang menggugah selera.

 Lebih dari pada itu, semakin mengenal berbagai macam ikan yang disajikan, secara perlahan diharap Betty Suko Wiyono sebagai Ketua (DWP) Kabupaten Pacitan menjadi ladang ekonomi baru. “Peningkatan ekonomi yang membantu pendapatan para anggota,” ujar Betty yang mengaku menyukai menu ikan Merlin itu.

 Sempolan Ikan Krispy dan Bakso Ikan Goreng dipraktikkan Dian Kurnia Widyamayanti Kasi Pengendalian Mutu Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan secara gamblang kepada ratusan anggota Darma Wanita disertai antusias luar biasa. “Tujuan utamanya para ibu-ibu dapat menyajikan menu tambahan berbahan dasar ikan, pentingnya lagi dapat membantu pemasukan keluarga,” tutur Dian.

 Pihaknya menegaskan bahwa usaha Sempolan crispy dan Bakso Ikan Goreng belum ada kompetitor jadi masih dapat menjadi peluang usaha baru di Pacitan. Betty Sukowiyono setuju dengan hal tersebut, selain pintar memasak ibu-ibu juga dapat berkontribusi pada peningkatan ekonomi di Kabupaten Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Menjadi Refleksi Untuk Sektor Perhubungan

Hari Perhubungan Nsional (Harhubnas) ke-48 tahun 2019 hendaknya menjadi refleksi untuk insan perhubungan. Karena tantangan zaman akan kian bertambah. “Sekaligus menyamakan persepsi untuk menyamakan pelayanan kepada masyarakat,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam sambutan yang dibacakan Bupati Pacitan Indartato saat upacara peringatan Harhubnas, Hari Olahraga Nasional ke-36, dan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-74di halaman pendapa kabupaten, Selasa (17/9/2019).

Menteri juga mengingatkan bahwa peran sektor perhubungan sangat strategis. Khususnya dalam upaya mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Sebab, dengan sistem perhubungan yang mumpuni, program maupun proses pembangunan di Indonesia dapat terwujud.

Pada kesempatan itu pula, usai pelaksanaan upacara, diserahkan sejumlah penghargaan untuk atlet-atlet berprestasi. Baik tingkat internasional maupun regional. Diantaranya kepada Amel Candra Novita Sari yang meraih juara 1 kejuaraan internasional angkat besi remaja kategori 40+Kg pre youth. Selain itu diserahkan pula piagam untuk delapan orang pendonor aktif di PMI dan seragam Linmas ke Desa Penggung, Kecamatan Nawangan. Pada penghujung kegiatan dilaksanakan kirab piala Wahana Tata Nugraha 2019 yang kembali diraih Kabupaten Pacitan. (humaspacitan/DiskominfoPacitan)

Indonesia Dan Australia Pantau Kinerja Pemda Pacitan Dan KOMPAK Di Pucangombo

Piter Edward terang-terangan mengaku terkesan dengan Pemerintah Kabupaten Pacitan atas antusias dan komitmen dalam rangka menjadi pelayan masyarakat, termasuk berbagai kerja sama yang dilakukan dengan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK).

Ini disampaikan DFAT, Human Development Kedutaan Australia itu kepada tim Diskominfo Pacitan disela agenda Pemantauan Bersama Pemerintah Indonesia dan Australia pada implementasi program KOMPAK, di Desa Pucangombo Kecamatan Tegalombo 16/09. Berbagai bentuk terobosan yang telah dilaksanakan di lini pelayanan dasar dipantau kualitasnya yang berujung pada peningkatan taraf hidup masyarakat Pacitan. “Sehingga dapat menekan angka kemiskinan,” ujar Piter.

Tiga program unggulan yang dilakoni KOMPAK bersama Pemda Pacitan, mulai pengentasan kemiskinan, Adminduk dan pengembangan ekonomi lokal diharap tidak sekedar ceremony belaka, namun benar-benar terkonsep dan terlaksana sempurna. Jika baik menurut Piter Kabupaten dan Kota lain akan mencontoh program tersebut.

Seperti halnya Tombak, ujungnya mesti setajam silet. Begitu juga sebuah Negara yang memiliki desa sebagai tangan terluar. Harus diberdayakan dan difasilitasi. Menurut Ahmad Gading Gunadi Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Jawa Timur mengungkapkan, Negara sudah waktunya hadir ditengah-tengah masyarakat untuk melayani. “Masalah KTP itu kan kebutuhan Negara. Negara Butuh data, gitu kan?,” kata Gading mencontohkan.

Diakui Gading, komitmen Kabupaten Pacitan patut diacungi jempol, bahkan dirinya tidak segan-segan akan menginformasikan kepada Kabupaten dan Kota lain supaya mengikuti komitmen pemerintah dan KOMPAK tersebut. “Supaya mereka tertarik mencontoh,” tegas Dia.

Persentase kemiskinan di kota 1001 Goa menurut kacamata Gading tergolong tinggi dan harus terus ditekan melalui langkah-langkah inovasi pemerintah. Hal yang sudah dilakukan bersama KOMPAK harus terus didukung supaya semangat memberantas kemiskinan berhasil.

Termasuk inovasi baru khususnya pada aspek Ekonomi sebagai stimulus langsung. “Pemerintah terus memberikan bantuan dasar, tapi alangkah baiknya jika kita tingkatkan kemampuan mereka dari sisi ekonominya,” tambah Dia.

Banyak yang mesti digarisbawahi oleh Bupati Pacitan Indartato, di kesempatan yang sama ia menekankan pada perubahan sikap, seperti para kaum marginal yang harus diangkat kondisinya bersama-sama utamanya dengan KOMPAK yang telah mendukung semua PR Pemda Pacitan.

Masih banyak waktu bersama KOMPAK sebagai pendukung pemerintah, masyarakat harus benar-benar merasakan manfaatnya secara langsung melalui berbagai peningkatan dan penyempurnaan inovasi. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bercita-cita “Go” Ronthek Pacitan Selalu Digelar Profesional

Festival Ronthek Pacitan 2019 usai digelar, ditandai penampilan Kelurahan Baleharjo sebagai penyaji terakhir. Pengumuman pemenang seketika dilaksanakan melalui akun resmi Pemerintah Kabupaten Pacitan. “Rampung peserta terakhir, para juri langsung rapat pemenang dan seketika kita umumkan,” ujar Daryono Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Diknas) Pacitan 14/09 usai acara.

 Tepatnya pukul 03:00 WIB Zulkarnain Mistortoify M.Hum, Joko Suranto, S.Sn, M.Hum dan Sigit Setiawan, M.Sn. menandatangani Surat Keputusan Dewan Juri Festival Ronthek Kemerdekaan Tahun 2019 disaksikan Daryono, seluruh Pejabat dan Staf Diknas serta Kabid Informasi Dikominfo Pacitan Agus Anshori Mudzakir sebagai ketua Tim Peliputan  Pemkab Pacitan.

 Mengingat Ronthek adalah kegiatan Pemda Pacitan paling bergengsi dan selalu menjadi sorotan, maka keputusan hasil pemenang dibuat cepat. Tidak ingin beredar suara sumbang pasca penetapan dan sebagai komitmen pemerintah, sebab acara besar selama tiga hari itu menguras banyak energi seluruh instansi.

 Sebagai contoh Dinas Lingkungan Hidup yang harus kerja keras membersihkan sampah sebelum dan sesudah acara tiap malam dengan menerjunkan seluruh staf. Begitu juga Tim Peliputan Live Streaming Diskomunfo Pacitan, seluruh tim harus kerja siang malam demi memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua pencinta Ronthek di mana pun berada.

 Masih lekat dalam ingatan, Diskominfo sempat merilis komentar Bupati Pacitan Indartato beberapa hari sebelum perhelatan dimulai, Pak In sapaan akrabnya mengatakan,  harapan terbesar adalah kesenian Ronthek menjadi salah satu hiburan unggulan yang dicintai masyarakat di dalam dan luar Pacitan, berujung pada peningkatan jumlah pariwisata.

 Sudah barang tentu profesionalitas wajib menjadi tumpuan, tercermin dari pemilihan dewan juri dari praktisi pendidik baik dari Kota Solo dan Yogyakarta yang mengedepankan standar tinggi pada setiap penilaian dari masing-masing penyaji untuk menjadi sang juara.

 Kembali, usai penetapan juara umum, 17/09 Pak In menyampaikan ucapan terima kasih kepada 36 peserta yang penampilannya memukau membuat sepanjang rute menjadi lautan manusia. Itu adalah penanda, bahwa prestise Festival Ronthek sangat tinggi dimata masyarakat, bahkan sebagian dari mereka mengaku harus berangkat dari siang hari demi mendapat tempat. “Jika ada kekurangan saya kira adalah wajar,” kata Pak In.

 Namun demikian, berbagai masukan yang ada adalah bentuk cinta masyarakat terhadap Festival Ronthek melalui berbagai dukungan dan apresiasi. Cerminan ini wajib untuk dicatat sebagai bahan evaluasi, hasilnya perhelatan di waktu yang akan datang niscaya akan lebih baik lagi. (budi/riyanto/wira/Dzakir/DiskominfoPacitan).

Simulasi Siap siaga dan Tanggap Di Laboratorium Bencana

 Bupati Indartato menyampaikan terdapat 10 potensi bencana di Pacitan, antaranya abrasi, gempa bumi, kebakaran hutan/lahan, kekeringan, tanah longsor, tanah amblas, ancaman tsunami dan lainnya. 

 Selanjutnya dalam sambutan Simulasi Pemberdayaan Peran dan Kesiapsiagaan Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Dan Masyarakat Dalam Penanganan Tanggap Darurat Bencana Tahun 2019 Jumat 13/09 tersebut Indartato memaparkan, bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan masih dihadapkan dengan tugas yang cukup berat yaitu bagaimana membangun kesadaran perorangan warganya agar dapat melindungi diri apabila terjadi bencana.

 Dalam hal ini Budi Santoso Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan bahwa Simulasi tersebut harus ada di Pacitan agar petugas dan masyarakat tahu tentang pencegahan atau Early Warning System. “Karena Pacitan Laboratorium bencana Jawa Timur, terlengkap,” tuturnya disertai data pada tahun 2018 Jawa Timur terdapat 444 bencana dari 2000 benacana di Indonesia.

 Harapan besar juga disampaikan Widi Sumardji Kepala Satuan Polisi Pamong Paraja Kabupaten Pacitan, melalui Satlinmas simulasi ini dapat dikembangkan ditingkat Kecamatan dan Desa, sehingga masyarakat tahu dan dapat bertindak sebagaimana fungsinya saat terjadi bencana. Selain itu 3 hal yang dibutuhkan Pacitan dapat terwujud yakni, tanggap bencana, kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana. “Tujuan utamanya untuk meningkatkan kemampuan anggota Limnas,” tandasnya.

 Tidak menampik kenyataan bahwasanya linmas dan relawan adalah garda paling depan dan paling dekat dengan masyarakat atau korban saat terjadi bencana, untuk itu harus disiapkan kader yang militan agar tangap bencana tepat sasaran. Selain itu kehadiran Linmas sebagai jembatan dengan masyarakat tentu mempermudah pemerintah dalam hal mempersiapkan warga Pacitan yang sadar dan sigap bencana. (budi/anjar/riyanto/wawan/wira/DiskominfoPacitan).

Live Streaming Ronthek 2019 Diskominfo Suguhkan Liputan Yang Terbaik

Festival Ronthek 2019 yang akan digelar nanti malam 12/09 hingga 14/09, kembali disiarkan secara Live Streaming oleh Diskominfo Pacitan melalui akun resminya pacitankab.go.id/live

 Siaran langsung itu merupakan bentuk komitmen pemerintah kepada masyarakat dalam memberikan pelayanan maksimal. Karena Pemerintah sadar tidak sedikit warga Pacitan yang berdomisili di luar Pacitan, atau warga Pacitan yang berhalangan hadir, mereka dipastikan masih dapat menonton Festival Ronthek 2019.

 Agus Anshori Mudzakir Kabid Informasi Diskominfo menceritakan, demi menyuguhkan liputan terbaik pihaknya harus menerjunkan seluruh staf dari semua bidang selama tiga malam penyelenggaraan. Belum puas, Diskominfo juga berkolaborasi dengan berbagai pihak. “Kami bertekat memberi yang terbaik untuk masyarakat melalui informasi,” ungkap Dia disela persiapan Live 12/09. (DiskominfoPacitan)

Oktober Nanti 113 Desa Laksanakan Pilkades Serentak; Ini Wadah Masyarakat Untuk Belajar Berdemokrasi

Tahun ini, Pilihan Kepala Desa (Pilkades) bakal kembali digelar serentak, tepatnya 14 Oktober nanti. Tercatat 113 desa di seluruh Wilayah Kabupaten Pacitan akan memilih pemimpin desa untuk 6 tahun ke depan.

Pemkab Pacitan sebagai Panitia Kabupaten telah melakukan banyak persiapan, meskipun panitia sebenarnya adalah desa masing-masing, antaranya membentuk tim khusus, ini gabungan dari berbagai Perangkat Daerah (PD), mulai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Bakesbangpol) dan Bagian Hukum. Diketuai oleh Mahmud sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.

 Semua tahapan mesti dilalui oleh panitia desa, saat ini kata Chusnul Faozi Kasubag Pembinaan Wilayah Bagian Pemerintahan Setda Pacitan, Pilkades telah masuk pada tahap penetapan calon. Sedang 2 desa harus masuk proses tes karena calon lebih dari 5 orang, dan 3 desa sisanya harus kembali membuka pendaftaran calon, di tahap kedua.

 Sementara, mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, panitia kabupaten berusaha memetakan desa yang berpotensi, termasuk peta desa yang kondusif. Sehingga sejak dini pemerintah bersama pihak terkait mengetahui kondisi secara jelas. “Perebutan kekuasaan pasti ada intrik,” kata Chusnul diruangnya 11/09.

 Seluruh mekanisme yang telah diatur harus dilaksanakan seluruhnya, sesuai dengan tahapan demi tahapan. Karena jika terabaikan gesekan mudah terjadi yang berujung pada konflik. Memberi pemahaman kepada warga masyarakat sebagai calon pemilih tentang pedoman Pilkades juga dirasa perlu guna mengurangi kesalahpahaman persepsi.

 Perhelatan Pilkades disadari atau tidak merupakan wadah yang diberikan Negara untuk berdemokrasi, masyarakat dilatih cerdas dalam memilih pemimpinnya, paling simpel tidak mudah tergiur dengan iming-iming politik uang demi desa masing-masing yang lebih maju. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Baritan; Kebanggaan Masyarakat Gawang Dan Pacitan

Kambing kendit kembali disembelih masyarakat Dusun Wati, Desa Gawang, Kebonagung. Satu pertanda Upacara Adat Baritan kembali dilaksanakan, kemarin 08/09. Baritan atau Berwiridan adalah satu cara memohon keselamatan kepada Tuhan, mengingat pagebluk pernah melanda desa ini.

Berjalannya waktu, Baritan tidak sekedar sarana memanjatkan doa, tapi bertransformasi menjadi satu seni budaya yang elok, sehingga sayang jika sampai terlewat. Akhirnya menjadi kebanggaan bukan hanya orang Gawang, tapi juga masyarakat Pacitan.

Baritan harus terus lestari, kebal terhadap peradaban global yang mengalir deras, karena Baritan adalah tradisi yang harus mengakar kuat di hati masyarakat Gawang dan Pacitan. Karena dalam konteks pengembangan dan pelestarian budaya bangsa kegiatan seperti ini sangat penting.

 “Harus kita lestarikan dan kita kembangkan. Sebagai penguat jati diri bangsa, yang lebih popular dengan istilah “Nation And Character Building,” Disampaikan Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo yang berkesempatan hadir pada kegiatan itu. Penting karena generasi muda umumnya terpengaruh kultur asing yang belum tentu sesuai dengan adat ketimuran.

Didukung dengan alam yang sejuk dan masyarakat yang ramah kian memanjakan siapa pun yang menyaksikan Upacara Adat Baritan akan dimanjakan, bisa juga menyaksikan Baritan sembari memotretnya, karena setiap momentum terasa kuat, apa lagi didukung latar belakang alam alaminya. (budi/notz/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Festival Ronthek 2019; Mimpi Menjadi Ikon Dan Idola

Festival Ronthek 2019 bakal digelar sebentar lagi, kesenian yang bermula dari kegiatan gugah sahur oleh masyarakat di bulan Ramadhan ini setiap tahun begitu diminati warga Pacitan.

 Bupati Pacitan Indartato di ruang kerjanya menyampaikan, pemerintah memang fokus dengan kesenian yang satu ini, tidak sekedar menghibur masyarakat, pemerintah bersama semua elemen berharap Festival Ronthek menjadi Ikon Kabupaten Pacitan. 

 Untuk sampai pada harapan besar ini, pemerintah melakukan berbagai berkolaborasi dengan berbagai pihak, utamanya para seniman, baik pelaku seni di Pacitan dan para akademisi seni baik solo dan Yogyakarta. “Kita serahkan kepada teman-teman kita yang tahu masalah itu, minta tolong agar rontek menjadi budayanya orang Pacitan seperti Reog Ponorogo,” ujarnya kepada Diskominfo Pacitan 05/09.

 Persatuan dan kesatuan disampaikan Indartato menjadi tema ditahun ini, dinilai penting sebagai stimulus semua elemen untuk Pacitan yang semakin maju. Ini selaras jika melihat pagelaran Rontek yang selalu melibatkan puluhan orang dengan tugas masing-masing, sudah tentu membutuhkan persatuan dan kesatuan. “Saya yakin jika tabuhan tidak seirama dengan yang lain maka didengarkan tidak enak,” kata Indartato.

 Terlebih mimpi pemerintah menghadirkan Ronthek sebagai ikon, atau bahkan idola bagi masyarakat di dalam dan luar Pacitan, sebuah harapan baik yang perlu diapresiasi bersama melalui berbagai bentuk dukungan. Bupati optimis mimpi itu bisa terwujud asal resep kekompakan terus dibangun dan dijaga pada setiap wadah yang disediakan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

PKK dan DWP Kabupaten Pacitan Belajar Pemulasaraan Jenazah

Anggota PKK dan Darma Wanita harus menguasai semua hal, termasuk terjadi kematian (Kesripahan), perempuan harus berperan dalam pemulasaraan jenazah dengan baik, benar dan sesuai dengan syariat Agama Islam. 

Ini diakui penting dan diapresiasi Ketua Tim Penggerak PKK dan Penasihat Darma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Pacitan Luki Indartato, digelarnya pelatihan Pemulasaraan Jenazah di Pendapa Kabupaten pagi ini 06/09/19 itu Luki benar-benar berharap anggotanya bisa bersikap saat terjadi kematian. “Tidak harus menunggu siapa-siapa, tapi anggota kita bisa langsung bersikap,” ujar Luki usai acara.

Dipercaya sebagai pemateri, Muhammad Nurul Huda sebagai orang nomor satu di Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan, menyampaikan secara detail segala sesuatu tentang pemulasaraan jenazah. Pasalnya kematian dapat terjadi kapan pun, dan bersifat urgensi, sosok perempuan acapkali dibutuhkan jika jenazahnya perempuan.

Berbagai pemahaman disampaikan, mulai dari memandikan jenazah, mengafani, salat jenazah hingga mengubur jenazah tanpa kesalahan sekecil apa pun. “Kita praktik bersama-sama materi-materi pemulasaraan jenazah ini supaya bisa langsung diterapkan saat terjadi Kesripahan,” ungkap Huda.

Di kesempatan yang sama, Ketua DWP Kabupaten Pacitan Betty Suko Wiyono menyampaikan bahwa pelatihan ini sudah masuk pada program kolaborasi Sosbud dan Pokja PKK itu merasa senang dengan pelatihan tersebut, ia yang selalu terinspirasi Luki Indartato, yang selalu aktif mengambil bagian saat tetangga atau saudara mengalami kematian sangat fokus dengan penyampaian materi, berharap memahami seluruh teknis pemulasaraan jenazah. “Selama ini kami ingin tahu, ingin bisa, karena ini bagian dari ibadah yang pahalanya sangat besar,” pungkas Betty. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Salurkan Air Bersih Untuk Warga Terdampak Kekeringan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakatnya. Khususnya pada wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Seperti dilakukan Bupati Indartato bersama Wakil Bupati Yudi Sumbogo dan jajaran terkait di Dusun Jatisari, Desa/Kecamatan Punung. “Semoga bantuan dan penyaluran air bersih dapat meringankan beban masyarakat ditengah musim kemarau,” katanya, Senin (2/9/2019).

Selain ikut memberikan bantuan Indartato juga berkesempatan mendatangi aktifitas warga setempat yang tengah menggali sumur. Melihat hal itu ia lantas menginstruksikan OPD terkait untuk ikut memberikan dukungan dalam proses pendistribusiannya nanti.

Sesuai data yang disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Didik Alih Wibowo melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Aswin Rikha Wijaya, kini, diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan terdapat 45 desa mengalami kekeringan. Puluhan desa terdampak itu secara bergilir mendapatkan pasokan air bersih dari BPBD maupun pihak-pihak lain yang memberikan bantuan. “Total sebanyak 355 rit bantuan air bersih disalurkan. Dari BPBD sebanyak 231 rit. Sisanya dari pihak swasta atau kelompok masyarakat yang peduli,” jelas dia. (arif/danang/juremi tomas/humaspacitan)

Perspa Pacitan Menang Lagi

Perspa Pacitan kembali meraih kemenangan pada pertandingan terakhir melawan kesebelasan Bojonegoro FC dengan 2 gol di Stadion Pacitan 31/08. Kemenangan tersebut cukup membuat  Perspa duduk di posisi kedua pada putaran pertama ini.

Nahrowi Pratama pelatih Perspa Pacitan menjelaskan berbagai persiapan akan dilakukan demi putaran kedua meski jadwal pertandingan belum keluar. Namun pihaknya yakin dengan evaluasi pasca bertanding akan ditemukan jurus terbaik menghadapi lawan-lawannya nanti. “Kuncinya menjalankan instruksi pelatih sehingga apa yang kita lakukan dalam pertandingan tidak sia-sia,” tutur Nahrowi. 

 Dalam Liga Tiga Kapal Api PSSI Jatim ini Perspa mampu menunjukkan geliatnya, sehingga kesebelasan ini tidak perlu khawatir untuk maju menjadi yang terbaik untuk Kabupaten Pacitan. “Untuk kabar  klasemen saat ini Perspa meraih 7 poin dengan 2 kemenangan 1 imbang dan 1 kalah,” tandas Nahrowi. (budi/anj/nonot/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dindik Dan Kemendikbud Bangun Siswa Pacitan Cerdas, Berkarakter yang Siap Hadapi Bencana

Diawali terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menindaklanjuti kebijakan tersebut dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan melalui Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan turut memperkuat implementasi Kebijakan Pendidikan Karakter dengan menyelenggarakan Bimtek Pengimbasan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) terintegrasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi Tenaga Kependidikan di seluruh Indonesia, termasuk di Pacitan.

Pacitan dinilai perlu menjadi contoh program ini dengan menggelar langsung kepada fasilitator darah yang dibentuk demi tugas tersebut, Daryono Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan mengatakan ada tiga tahapan pada proses ini. Pertama para fasilitator yang mendapat pelatihan, diteruskan kepada seluruh tenaga pendidik dan baru kepada siswa siswi. “Butuh waktu lama pada program baru ini.” Ujar Daryono 27/09.

Pristiadi Teguh Cahya sebagai Fasilitator nasional (Fasnas) kepada Diskominfo Pacitan mengatakan Pacitan dipilih menjadi contoh program PPK terintegrasi SPAB lantaran hampir semua potensi bencana di miliki Kabupaten Pacitan. kesemua ini mengingat satuan pendidikan memiliki peran strategis dalam menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap segala potensi bencana.

Ketua OSIS SMP Negeri 2 Pacitan Muhammad Galih Bayu Saputra mengaku bingung apa yang harus dilakukan jika sekonyong-konyong terjadi Gempa yang disertai Tsunami, melihat kegitan ini berharap cepat segera terealisasi sehingga para siswa siap dan tangguh sewaktu-waktu bencana datang.

Beberapa waktu lalu terjadi gempa, saat itu Tri Asti Wuryaningsih Guru Bahasa Inggris melihat peserta didiknya kebingungan dalam menyelamatkan diri, hal itu menjadi perhatian dirinya supaya program tersebut segera sampai pada Dia sehingga para guru lekas dapat membagiakan materinya. “Saya sendiri belum begitu tahu proses mitigasi bencana,” terang Asti.

Pelaksanaan program tersebut digadang-gadang menjadi rujikan dalam membangun generasi muda cerdas, berkarakter dan tangguh bencana sebagai karakter bangsa Indonesia, rasa bangga sebab PPK terintegrasi SPAB tersebut di mulai pertama di Kabupaten Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Peringati Tahun Baru Islam Nelayan Pacitan Gelar Tasyakuran

Bersama warga masyarakat menggelar Tasyakuran dan Doa Bersama jelang satu Muharram yang jatuh kemarin 31/08 di sepanjang Teluk Pacitan. Berdasar pantauan Diskominfo Pacitan, pusat kegiatan berada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan. Berbagai kegiatan dilaksanakan pada momen itu, yakni Sedekah Laut, Wayang Kulit Semalam Penuh, Festival Layang-Layang, Festival Njolo, Festival Mancing hingga Bakar Ikan Gratis. (budi/anjar/nonot/wawan/rista/riyanto/wira/dzakir/DiskominfoPacitan).

Layang-layang Hias Dan Njolo Di 1 Muharram

Diskominfo Pacitan juga berkesempatan mengabadikan Festival Njolo dan Layang-Layang Hias, rangkaian Festival Nelayan 2019 kemarin 01/09. Acara ini merebutkan Piala Bupati Pacitan dan selalu dilaksanakan setiap tahun dalam rangka HUT RI dan Peringatan 1 Muharram 1441 Hijriah. (wawan/anjar/riyanto/dzakir/DiskominfoPacitan).

Pemda Pacitan Dan KOMPAK Penghujung Tahun Target Program Sikab Running Di 40 Desa

Pemanfaatan percepatan teknologi informasi menjadi solusi inovatif disegala sektor birokrasi dan kemasyarakatan. Berbagai kemudahan yang ditawarkan dan terutama reliabel dimasa sekarang. Termasuk menyelesaikan program besar transformasi Sistim Informasi Desa (SID) menjadi Sistim Informasi Kabupaten (Sikab), semakin efektif pada penyimpanan dan validasi data terintegrasi.

Nurul Afandi Koordinator Kecamatan dan Desa KOMPAK Jawa Timur menjelaskan bahwa semua data yang dibutuhkan dalam sistem integrasi penanggulangan kemiskinan sudah siap. Sehingga hal pertama yang akan dilakukan adalah memasang sistem Sikap dan input database kependudukan dan kemiskinan tingkat desa yang dapat diakses di kabupaten. “Sesuai rencana kita akan melakukan uji coba melalui anggaran Pemda akan mereplikasi di 40 desa,” terangnya pada tindaklanjut Lokakarya Program Sikab kemarin20/08 di Ruang Rapat.

Tiga hal besar yang kemudian diungkapkan Nurul, pertama integrasi data secara Online mulai tingkat desa hingga kabupaten, kedua Perangkat Daerah (PD) dan Badan dapat meng-entry data penanggulangan kemiskinan sehingga pemerintah mengetahui apa saja yang dapat dijadikan resolusi menuju penanggulangan kemiskinan. Ketiga tersedianya menu layanan publik Admindik Online, yakni masyarakat dapat mengurus pengajuan ke Dukcapil melalui Sikap, hasil KK atau KTP dan lainnya dapat di unggah oleh Dukcapil dan di Download di desa masing-masing, sementara untuk berkas asli akan bekerja sama melalui kantor pos.

Bisa dibayangkan jika Sikab berhasil digarap, seperti Bappeda akan semakin mudah mengakses berbagai data yang dibutuhkan dalam mendukung pekerjaan. Yang kini dilakukan Bappeda adalah verifikasi dan validasi data kependudukan maupun kemiskinan segaris dengan program Grindulu Mapan.

Sutarman Kasubdit Pengembangan Manusia dan Masyarakat Sektor III Bappeda merasa lega, karena tidak ada kendala berarti menyelesaikan proyek ini. Lantaran komitmen terjalin dari masing-masing tim yang menduduki semua posisi yang dibutuhkan. “Apa yang kami butuh mereka menyediakan,” kata Dia.

Setelah tahapan itu, selanjutnya Bappeda sebagai koordinator akan membentuk tim untuk menindaklanjuti semua hasil yang diperoleh. Menyelesaikan Pilot Project Tried 10 desa di 2 kecamatan, dan 40 desa akhir tahun nanti. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Panjat Pinang Ritual Wajib Agustusan

Ini adalah pesta rakyat yang dinanti semua kalangan, Panjat Pinang. Kembali digelar hari ini 30/08 di Alun-alun Kabupaten Pacitan sebagai persembahan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pacitan dalam memeriahkan HUT RI Ke-73 Tahun.

Panjat Pinang turun temurun menjadi satu keharusan di agenda Agustusan, Suparlan Sekretaris Dinas PUPR menjelaskan, momen kebersamaan antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat selalu terangkai manis dalam kegiatan ini. “Nuansa islami kami tambahkan dengan ditambahkannya Sholawat, berharap berkah dari silaturahmi kita,” kata Dia.

Kurang lengkap jika Panjat Piang tidak disuguhi sejumlah hadiah, peserta dari perwakilan seluruh kecamatan di Pacitan akan dimanjakan dengan itu, yang juga selalu didukung dengan hadiah tambahan dari pejabat dan pengusaha. Tambahan lain berupa kesenian tari khas Pacitan juga akan disuguhkan sebagai pemanis acara.

Sesuai tugasnya, pemerintah harus selalu mewadahi segala yang dibutuhkan rakyatnya, termasuk kemeriahan HUT RI yang sarat rasa syukur dan suka cita ini, dan tentu sangat digemari yang juga sebagai ladang subur bagi pedagang asli Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiskoinfoPacitan).

Polres Pacitan Gelar Operasi Patuh Semeru 2019 Fokus Pelajar Belum Cukup Umur

Mulai hari ini 29/08 hingga 11/09 Operasi Patuh Semeru 2019 digelar, guna menekan angka pelanggaran lalu lintas dan lakalantas. Waka Polres Pacitan Komisaris Polisi Hendry Soelistiawan menjabarkan sasaran prioritas yang menjadi perhatian utama, meliputi helm tidak standar, melebihi batas kecepatan, ranmor dalam pengaruh alkohol, menggunakan Handphone saat mengemudi, penggunaan lampu strobo dan utamanya adalah pengemudi di bawah umur (pelajar).

 “Tujuannya untuk menekan angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas, khususnya di Kabupaten Pacitan,” kata Hendry. Operasi ini rencananya akan menerjunkan 28 personil serta dibantu polsek dari masing-masing wilayah.

 Sementara itu turut mendulang pelanggaran lalulintas dan lakalantas yang lebih diwarnai para pelajar, Hendry mengatakan pihaknya akan tetap akan menindak sesuai pada peraturan yang berlaku. Orang tua yang berperan pada kondisi ini, dengan melarang anak-anaknya untuk mengendarai kendaraan sebelum cukup umur. “Kita juga akan menggelar sosialisasi kepada para pelajar,” tambah Dia.

 Keberhasilan operasi ini harus didukung semua pihak, menanggapi permasalahan pengendara di bawah umur, Wabup Yudi Sumbogo meminta orang tua supaya lebih menyayangi anak-anaknya dengan tidak mengizinkan mengendarai kendaraan.

 Yudi melanjutkan, sejauh ini pemda sudah memfasilitasi pelajar dengan disediakannya Bis Sekolah yang tersebar di masing-masing kecamatan. Sekolah juga diharapkan mengambil peran secara aktif dengan berbagai penjelasan secara berkelanjutan. “Harus tertib, sesuai peraturan yang ada,” kata Yudi. Mengingat pemerintah enggan menyaksikan generasi penerus bangsa dari Kabupaten Pacitan mengalami nasib buruk di jalan raya. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Libatkan Ribuan Orang DLH Gelar Bersih Sampah

Lagi secara serentak, Pemerintah Kabupaten Pacitan melaksanakan bersih pantai di Pantai Pancer Door yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan, dan menjadi menarik karena kerja bakti hari ini juga didukung pasukan berbaju loreng.

Mereka adalah Siswa Smata PK Angkatan 77 TNI AU yang melaksanakan Latihan Berganda yang berjumlah 406 siswa, kebut-kebutan bersama kelompok lain mengais berbagai jenis sampah yang terbawa aliran air dari hulu Sungai Grindulu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Joni Maryono pada kesempatan itu mengatakan, masalah sampah sebenarnya tidak cukup dengan gerakan kerja bakti seperti ini saja, kesadaran masyarakat menjadi perhatian lanjutan untuk menghadapinya. “Mengingat masim hujan tiba sampah bisa datang lagi dengan jumlah yang lebih besar,” kata Joni pagi ini 30/08.

Melalui upaya mendorong desa untuk menciptakan peraturan tentang sampah, secepatnya terang Joni akan dilakukan, kebijakan lokal tersebut dinilai sesuai karena sampah yang memprihatinkan adalah sampah rumah tangga yang umumnya plastik. “Jika ranting dan pohon kering saya kira wajar, karena dapat cepat terurai,” tambahnya.

Sudah waktunya semua elemen masyarakat terlibat aktif dengan sampah, Pacitan yang dikenal akan alamnya yang indah harus disyukuri bersama-sama dengan peduli sampah. Keterlibatan pemerintah ini akan didorong melalui berbagai sosialisasi, karena Perdes saja tidak cukup, semua lapisan harus sadar, termasuk siswa dan siswi di sekolah. (Budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pemda Pacitan Dan KOMPAK Kembangkan SID Menjadi Sikab

Di lingkup pemerintahan, data acapkali menjadi acuan pemimpin untuk menentukan langkah dalam mengambil satu kebijakan. Namun sayangnya data yang ada khususnya di desa sebagai ujung tombak pemerintahan belum terintegrasi dalam satu wadah.

Sejak tahun 2017 ini sudah menjadi perhatian Pemda Pacitan, bersama Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan (KOMPAK), perhatian itu berujung pada penyamaan persepsi antar pihak. Melalui Sistim Informasi Desa (SID), data yang terhimpun dari desa-desa selanjutnya akan diintegrasikan ke dalam wadah baru yang diberi nama Sistem Informasi Kabupaten (Sikab).

“Dulu fokus kita ada di desa, sekarang bagaimana data terintegrasi ditingkat kabupaten,” kata Bob Sarwo Supervisor Manajer KOMPAK Jawa Timur 29/09/10 di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan.

Sementara Grace Palayukan Sebagai Kecamatan and Village Strengthening Lead dari KOMPAK Jakarta mengungkapkan inisiatif ini dirasa perlu didukung, bahkan sejak KOMPAK terbentuk di Pacitan 2016 silam. “Kita bantu memperkuat dan mengakselerasi,” kata Grace. Yang melihat SID sebagai bank data dari desa terhubung menjadi satu kesatuan, sehingga mendukung berbagai kebijakan.

Kabupaten Pacitan mempunyai 171 desa dan kelurahan. Sementara pekerjaan ini disepakati rampung akhir tahun mendatang, banyak instansi terlibat di sini, mulai Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dukcapil, Pemerintah Desa dan Diskominfo sebagai penyedia instrumen.

Supriyono Kepala Bidang Teknologi Informasi Diskominfo mengaku kendala yang terjadi saat ini masalah verifikasi data yang membutuhkan waktu untuk uji coba sistem, sementara menggunakan data dari desa Pucangombo yang akhirnya disepakati desa tersebut menjadi salah satu Pilot Project.

Meskipun dibantu oleh tim TI dari KOMPAK, Supriyono mengatakan akan mengerahkan seluruh stafnya demi menyelesaikan target yang diharapkan. “Diawali kami pilih dua desa yang menjadi Pilot Project. Baru disusul yang lain,” ungkap Dia. Desa yang masih pasif mengupload data juga menjadi perhatian sehingga membutuhkan perhatian bersama. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Room Tour oleh SD Alam Pacitan dan Pembelajaran SD IC di Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan

Kamis, 22 Agustus 2019 pagi, Bidang Layanan dan Koleksi menerima kunjungan dari SD IC dan SD Alam Pacitan di jam yang berbeda hanya selang kurang lebih setengah jam. Nuri Nurchalimah, S.Pd. Si, Guru Pendamping dari SD IC membawa anak didiknya sejumlah 34 orang berkunjung ke Disperpusda untuk melakukan pembelajaran tematik menggambar cover buku. Beliau termasuk menjadi Guru yang terbilang sering mengajak anak didiknya ke Disperpusda Pacitan.  Sedangkan SD Alam mengajak anak didiknya sebanyak 26 siswa untuk Room Tour dan mengetahui profil maupun fasilitas Perpusda. Ini merupakan salah satu trik untuk mendidik anak-anak SUKA BUKU dan GEMAR MEMBACA sejak usia dini.
Dengan didampingi oleh petugas layanan Dinas Perpustakaan Pacitan yakni Deni Andriana dan Iis Saputri, siswa-siswi SD Alam melakukan Room Tour. Antusias mereka sangat tinggi terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mereka kepada petugas layanan dan respon mereka menanggapi penjelasan petugas.
Acara Room Tour tersebut diakhiri dengan foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan oleh SD Alam ke Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan.

(PerpusdaPacitan/DiskominfoPacitan)

Indartato Jadi Pembicara di Asean Mayor Forum Ke-5

Bupati Pacitan Indartato berkesempatan menjadi salah satu pembicara di depan 300 kepala daerah dalam Asean Mayor Forum (AMS) Ke-5. Acara tersebut dilaksanakan Gedung PBB di Kota Bangkok Thailand 26-28/08/19.

 Selama dua hari para kepala daerah terpilih se-Asia Tenggara dan perwakilan dari Asean dan Korea Selatan tersebut membahas berbagai isu yang ada di wilayah masing-masing, mulai pembangunan berkelanjutan (SDGs), Smart City hingga masalah perubahan iklim (Bencana).

 Dikutip dari laman Tempo.Co, Bernadia Irawati Tjandradewi, Sekjen United Cities and Local Government Asia Pasific, penyelenggara forum, mengatakan banyak inisiatif yang justru muncul dari para kepala daerah. Melalui AMS diharap kepala daerah bertukar pengalaman masing-masing saat memimpin kota mereka, sehingga capaian pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan dapat dilaksanakan.

 Termasuk masalah perubahan iklim secara global berdampak pada potensi berbagai ancaman bencana, Kabupaten Pacitan yang mempunyai pengalaman banjir bandang dan tanah longsor akibat siklon tropis cempaka akhir 2017 silam menjadi materi yang disampaikan Bupati Indartato di hadapan 300 undangan, ditambah ancaman Tsunami karena letak geografis Pacitan yang berhadapan dengan Samudera Hindia.

 Masalah bencana sangat kompleks, pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri menghadapi bencana yang datang, semua instansi harus dikerahkan melalui Renstra PD dalam mendukung upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Sementara implementasi di lapangan diserahkan kepada BPBD melalui program kerja yang ada.

 Termasuk inovasi mitigasi  bencana yang terus dilakukan, supaya pengetahuan tentang semua potensi bencana yang benar-benar diketahui masyarakat baik anak-anak hingga lansia. Serta yang utama penerapan program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang terus digalakkan seluruh desa di Pacitan. (budi/riyanto/wira/DiakominfoPacitan).

Pasang Camera Trap Pantau Keberadaan Harimau Jawa

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur bersama Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) I Madiun dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan melakukan pemasangan Camera Trap untuk mencari tahu keberadaan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) di Dusun gayam Desa Gemaharjo Tegalombo.

 Menindaklanjuti laporan warga yang mengaku melihat aktivitas 2 Harimau Jawa yang sedang minum disalah satu sumber air yang tidak jauh dari permukiman sekitar dua bulan yang lalu. “Disusul warga lain yang juga melihat lagi 5 ekor, 2 dewasa dan yang 3 anakan, belum lama ini. Kemungkinan mereka satu keluarga” kata Misgianto Kasi Perlindungan Dan Konservasi DLH 26/08.

 Jika 5 Camera Trap yang dipasang dititik strategis berhasil memotret keberadaan Harimau Jawa maka secara otomatis foto tersebut mematahkan pernyataan kepunahan Harimau Jawa. Dari berbagai sumber, Harimau Jawa dinyatakan punah pada tahun 1980, akibat perburuan liar dan pengembangan lahan pertanian yang merajalela.

 Ternyata warga masyarakat yang pernah memergoki harimau tidak hanya terjadi di Tegalombo saja, Ahmad Islahudin warga Desa Plumbungan mengaku pernah bertemu dengan harimau saat memancing di Pantai Gelon Desa Kembang. “Saat itu malam hari, kami memancing bersama beberapa teman, tahu-tahu ada suara di belakang kami, ternyata ada harimau, warnanya loreng,” terang Ahmad.

 Satu kebanggaan jika Harimau Jawa ternyata belum punah, terlebih harimau tersebut ditemukan di Kabupaten Pacitan. Misgianto menghimbau kepada semua masyarakat jika berpapasan untuk tidak bersikap yang menunjukkan ancaman, meskipun secara naluri harimau takut dengan manusia, tapi jika harimau merasa terancam akan berusaha menyerang sebagai upaya mempertahankan diri. “Tapi segera menghindar dan melapor untuk kami tindaklanjuti,” pungkasnya. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kemarau Masih Panjang

Kabupaten Pacitan dua hari terakhir mengalami mendung, beberapa wilayah  dilaporkan turun hujan dengan intensitas rendah. Namun hujan tersebut menurut Kepala BPBD Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo bukan pertanda musim hujan telah tiba.

 “Ada perubahan arah angin,” ujar Dia di ruang Pusat Data Dan Informasi (Pusdatin) saat ikut memantau rilis prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG pagi tadi 26/08. Perubahan arah angin disampaikan Didik sebelumnya berembus dari arah utara, kini bergeser dari arah tenggara membawa kelembaban 94-73 persen dengan kecepatan 8-21 Km/jam, kondisi ini diproyeksikan terjadi sampai pada malam hari nanti.

Sejauh ini tidak ada hal yang perlu disikapi berlebih, semua aman terkendali. Kecuali peningkatan gelombang ombak di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dengan tinggi gelombang mencapai 3-4 Meter, masyarakat yang berada di lokasi pesisir untuk lebih meningkatkan kewaspadaannya.

Masyarakat juga dihimbau untuk melakukan penghematan air bersih karena musim kemarau masih panjang. Berdasar rilis terakhir Diskominfo Pacitan dari laporan BPBD Pacitan pekan kemarin, disampaikan hujan diramalkan turun pertengahan Oktober 2019 mendatang. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Indartato; “PD dan Badan Kurang Tanggap Terhadap Wadule Dan PPID Laporkan Ke Saya,”

Tegas! Bupati Pacitan Indartato meminta PD dan Badan yang kurang tanggap dengan Wadule Pacitan dan PPID untuk segera dilaporkan kepadanya. Karena dua wadah tersebut adalah sarana pemangku kebijakan mengevaluasi seluruh pekerjaan yang telah dilaksanakan. “Laporkan kepada saya, segera” kata Bupati.

 Pemerintah sebagai pelayan rakyat harus mawas diri ucap Indartato, yang disampaikan dirasa tidak berlebihan, jika mau menoleh ke belakang, mengingat tugas pokok pejabat pemerintah dan politik intinya itu. Sementara kerja pemerintah bisa saja gagal karena hambatan komunikasi antara rakyat dan pemangku kebijakan.

 Khususnya Wadule Pacitan, media tersebut adalah alat kontrol utama sang pemrakarsa untuk evaluasi melalui berbagai unek-unek masyarakat di Pacitan.

 Saat ini tren pelaporan menurun, tersebut lantas tidak serta merta disambut baik oleh Bupati, katanya tren menurun bisa jadi pemerintah berhasil dalam segudang pekerjaannya, tapi sebaliknya hal itu merupakan wujud sikap apatis terhadap pemerintahan yang berlangsung.

 “Jika yang terjadi masyarakat apatis maka kita segera harus turun,” tambahnya. Oleh sebab itu dua media  Wadule Pacitan dan PPID Pacitan yang digarap Diskominfo Pacitan harus menjadi prioritas seluruh PD dan Badan.

 Rachmad Dwiyanto, pimpinan Diskominfo Pacitan di kesempatan berbeda mengemukakan dukungan rakyat penting dalam laju pemerintahan yang sehat, disisi lain banyaknya tanggung jawab menjadi satu permasalahan.

 Kendala lain yang terjadi adalah keberadaan PPID Pembantu di mana petugasnya terbentur masalah SDM. Menyadari PPID juga tidak kalah penting maka kualitas SDM harus disiapkan. Mereka harus mengerti seluruh permasalahan yang ada di PD. “Meskipun hanya pada kulit luarnya saja,” ucap Rachmad.

 Sebagai Front Office di PD dan Badan, masing-masing harus memiliki bekal tersebut, juga senantiasa aktif memasukkan berbagai kinerja yang dilakukan serta perencanaan ke dalam wadah atau situs yang sudah disiapkan oleh Diskominfo Pacitan.

 Birokrasi dewasa ini harus terbuka kepada masyarakat dan lembaga apa pun yang membutuhkan informasi, walau diketahui bersama ada informasi yang dikecualikan. “Kita harus terbuka, apa adanya,” tambah Dia. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Indartato Kembali Lantik 46 Pejabat

46 Pejabat Struktural Lingkup Pemkab Pacitan kembali dilantik pagi ini Jumat 23/08/19 di Pendapa Kabupaten oleh Bupati Pacitan Indartato. Dalam sambutannya ia mengingatkan untuk menjunjung tinggi Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 dan Pancasila, karena dua hal tersebut adalah landasan negeri ini. “Jadi kita pilih hari Jumat dan pasaran Kliwon yang nilainya 4 dan 5, jadi 45,” terang Bupati disambut tawa seluruh hadirin.

 Pemerintah terus berupaya membangun Pacitan sebaik mungkin berlandaskan berbagai indikator yang ada, meskipun indikator pemerintah dalam melayani masyarakat sangat banyak, sementara kekurangan di sana-sini Bupati meminta untuk tetap optimis dan bersemangat dalam mengemban tugas. “Ingat kita semua diambil sumpahnya,” kata Dia.

 Bicara indikator pelayanan salah satunya ialah Wadah Aspirasi dan Pengaduan Secara Online atau Wadule Pacitan, media komunikasi masyarakat kepada pemerintah Pacitan tersebut harus benar-benar diperhatikan. Semakin banyak laporan maka bisa dikatakan bahwa kebijakan atau kerja pemerintah kurang diterima. “Jika tidak banyak maka bisa saja baik,” tambah Bupati.

 Seperti apa pun beratnya tugas yang diterima, pemerintah harus benar-benar hadir ditengah-tengah masyarakat, ini menjadi penekanan Bupati, karena Dia ingin maju dan sejahtera bersama rakyat terlaksana secara sempurna. “Saya mohon bantuan Bapak dan Ibu, Hierarki kita laksanakan sebaik-baiknya,” pungkasnya mengakhiri. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Pacitan Karnaval 2019 Menyongsong Pacitan Unggul

Pacitan Karnaval benar-benar menghibur masyarakat Kabupaten Pacitan siang hari ini 22/08/19. Wasi Prayitno Ketua Seksi PPHBN 2019 mengatakan, penekanan utama adalah pesan yang harus tersampaikan kepada masyarakat yang sesuai Sub Tema yakni Pariwisata, Pelayanan Publik, Geopark Gunung Sewu dan Pangan yang mesti dikemas menjadi hiburan yang enak ditonton.

 Ini juga menjadi sarana elemen pemerintahan di Kabupaten Pacitan untuk melaporkan kepada masyarakat semua hasil pembangunan yang dilaksanakan. Hal ini menjadi penting karena masyarakat mesti tahu seluruh informasi capaian pembangunan yang telah dilaksanakan dalam bentuk visual mobil hias dan teatrikal yang penuh kreativitas.

 Selanjutnya kelompok peserta yang terbagi menjadi delapan kelompok mulai dari Forkopimda, PD, BUMD, Sekolah, Perguruan Tinggi, Perbankan dan Perusahaan Swasta tahun ini berlomba-lomba menjadi yang terbaik, karena pelaksana kegiatan menyiapkan hadiah puluhan juta rupiah.

 “Semangat 17 Agustus Pemerintah Membangun Perekonomian Masyarakat Melalui Segala Potensi Yang Dimiliki Untuk Pacitan Unggul” menjadi semangat rangkaian HUT RI tahun ini, masih tetap bertumpu pada tema Nasional, yakni “74 Tahun Indonesia Unggul”.

 “Jadi semangat dulu, bangun perekonomian masyarakat, menggerakkan potensi daerah, ujungnya adalah Pacitan unggul,” jelas Wasi Yang selanjutnya digodok menjadi sub tema penilaian lomba yang penting. Tersurat kepada khalayak luas dengan segala potensi Pacitan demi kemajuan bersama. (budi/riyanto/wira/TimDiskominfoPacitan).

SLB Pacitan Meriahkan HUT RI; Sarana Terapi dan Tanamkan sikap Nguwongne Uwong

Kemeriahan HUT RI turut dirasa siswa siswi Yayasan Keluarga Kependidikan Sekolah Luar Biasa (SLB YKK) Pacitan melalui lomba-lomba yang digelar sekolah kemarin 20-21/08/19. Lilik Mugianto Wakasek Kesiswaan mengatakan, generasi muda yang mempunyai berbagai hambatan tersebut didorong mengenali bangsa mereka yang besar serta sarana bersyukur telah terlahir di Negara besar berusia 74 tahun.

 Lebih jauh, Lilik melanjutkan dari berbagai lomba yang dilaksanakan diharap anak-anak memiliki nilai semangat juang dalam mengisi kemerdekaan dengan segenap kemampuan yang dimiliki. “Mengingat kita semua sama,” kata Dia.

 Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi sekolah untuk mensosialisasikan kedekatan antara anak dengan hambatan tersebut kepada keluarga, masyarakat dan yang lain. Ini penting mengingat semua mempunyai kesempatan untuk turut serta membangun bangsa melalui kemampuan masing-masing. “Kita berusaha jangan sampai mereka dipandang rendah. Kata Pak Bupati Nguwongne Uwong” tegas Dia.

 Dari pantauan Tim DiskominfoPacitan, berbagai lomba yang digelar selama 2 hari tersebut peserta lomba yang juga melibatkan orang tua dan masyarakat tersebut sangat meriah, para siswa maupun orang tua sangat menikmati lomba yang disiapkan, juga menjadi tontonan yang berbeda pada peringatan HUT RI tahun ini.

 Karisma Putri Ferdianti salah satu siswa yang mempunyai hambatan pendengaran senang menjadi salah satu peserta lomba, ia juga bangga bisa ikut serta memeriahkan HUT RI. Saat ditanya cita-cita risma hanya ingin dapat bekerja, mandiri dan tidak lagi merepotkan orang lain. “Bekerja di pabrik,” kata Risma dengan bantuan gerakan tangan. Risma terinspirasi dari kakak kelasnya yang kini telah bekerja dibanyak perusahaan dan salah satunya pabrik sepatu.

 Lomba yang disiapkan panitia, baik makan kerupuk, pecah balon, makan jambu sampai menangkap ikan lele juga satu sarana terapi bagi para siswa, membentuk jalinan yang lebih erat antara orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar, terutama yang menjadi jembatan ialah semangat orang tua dan keluarga. “Jangan Minder, dorong dan dukung mereka melalui sekolah inklusi atau sekolah kami,” pungkas Lilik. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bisakah Musim Kemarau Tanpa Krisis Air?

Musim kemarau tahun ini akan lebih panjang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramal hujan turun pertengahan bulan Oktober. Ini jadi masalah, karena krisis air sudah berlangsung di 45 desa, untuk kebutuhan primer masyarakatnya mengandalkan droping air bersih dari pemerintah. Kenyataannya angka itu pasti akan terus bertambah, terlebih jika hujan terlambat datang.

 Sementara stok air yang dipunya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan sudah berkurang 188 tangki, tersalur ke berbagai desa yang masuk pada kriteria kering kritis dari jumlah stok 360 tangki. “Jumlah total hasil dari anggaran yang kami alihkan untuk kemarau ditahun ini,” ujar Didik Alih Kepala pelaksana BPBD kemarin 19/08.

 Beruntung, BPBD masih memiliki tambahan 300 tangki, diperoleh dari hasil koordinasi dengan Gubernur Jatim melalui BPBD Provinsi. Tugas selanjutnya adalah memanajemen angka tersebut sehingga tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sampai pada akhir kemarau yang belum pasti kapan berakhir.

 Tapi akankah musim kemarau ditahun-tahun yang akan datang selalu terjadi krisis air, masyarakat kebingungan air bersih, mengandalkan droping dari pemerintah yang hanya cukup untuk kebutuhan primer? 

 Menjaga alam mesti dilakukan, sarat wajib supaya sumber tetap mengalirkan air. Dengan berbagai kearifan lokal yang dimiliki masing-masing wilayah. “Masyarakat harus sadar akan ini (Menjaga Alam), sederhananya menjaga pohon sekitar sumber air, atau justru menambah pohon, atau menjaga ikan yang diyakini dapat mencari sumber air dan lain sebagainya,” papar Didik.

 Semua ancaman umumnya sudah dapat diprediksi, termasuk kekeringan. Diannitta Agustinawati, Kasi Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan menyampaikan, wilayah harus membuka diri dengan ancaman ini. “Kita menoleh ke belakang, melihat apa yang terjadi dilingkungan kita,” ucap Diann.

 Sumber air hilang tentu mempunyai disertai banyak sebab, yang bisa dipelajari bersama, seperti memahami jenis-jenis pohon yang dapat mengikat air atau pun sebaliknya, masyarakat harus paham jika ingin air mengalir di seluruh sendi kehidupan setiap musim sepanjang tahun. Terlepas dari kepentingan ekonomi yang sejatinya bisa disesuaikan, supaya alam dan ekonomi berjalan berdampingan.

 Siap tidak siap, tahun depan kemarau akan kembali datang, durasinya tidak bisa dirumuskan dengan pasti, pemerintah dan semua elemen harus melek, memulai sesuatu bersama-sama dalam rangka mengembalikan fungsi alam sebagaimana mestinya, supaya Pacitan bebas krisis air dan tidak disalahkan anak cucu kelak. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Kembangkan Bumdes; Desa Sidomulyo Mandiri Hadapi Kekeringan

Krisis air tidak berlaku di Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo. Berkat tangan dingin pemerintah desa dan masyarakatnya yang menjaga dan memaksimalkan sumber air dari Kali Cilik yang berada di Dusun Tempursari.

 Tim Liputan Diskominfo Pacitan bersama BPBD Pacitan berkesempatan mengunjungi Kali Cilik yang kini menjadi pertahanan masyarakat desa saat terjadi kemarau. Tampak sumber air mengalir, air di bendungan terlihat jernih sehingga memantulkan warna biru, ikan-ikan berenang seakan tidak takut dengan aktivitas pengelola Bumdes Rejo Mulyo yang sejak awal tahun lalu memproduksi air tersebut menjadi air kemasan bermerek Anyess.

 Tyas Anggoro Kepala Dusun setempat mengatakan biasanya saat kemarau warga masyarakat Dusun Ledok Kulon dan Ledok Wetan krisis air bersih karena kondisi geografis dua dusun tersebut lebih tinggi ketimbang dusun lain.

 Kini perusahaan air minum tersebut setiap harinya mampu menjual 150 galon, angka yang besar dengan usia Anyess yang masih seumur jagung, angka itulah yang membuat Dusun Ledok Wetan dan Ledok Kulon terbantu dari hasil penjualan yang disisihkan untuk mengirim air lewat pipa dengan kekuatan listrik. “Tidak memenuhi sepenuhnya, tapi masyarakat di sana tidak perlu minta droping air,” kata Tyas.  

Sementara, Bumdes Rejo Mulyo tidak serta merta tumbuh dan berdiri begitu saja, banyak kekurangan yang menghadang, mulai dari alat, jumlah karyawan hingga stok galon yang dimiliki menjadi masalah diawal-awal berdiri, namun Arif Murdani karyawan yang kini menjadi Bendahara itu mengatakan bahwa kekompakan yang selalu dibentuk kepala desa membuat berbagai kesulitan dapat dilewati. “Anyess memberikan ekonomi lebih kepada kami,” ujar Arif yang sebelumnya bekerja di salah satu pabrik triplek.

 Kini produk tersebut mulai memasuki desa lain di sekitar Desa Sidomulyo, Arif mengatakan promosi dilakukan pada waktu yang telah dijadwalkan, karena menurutnya masyarakat akan lebih memilih air kemasan yang bermerek nasional jika tidak telaten dijelaskan, karena kenyataannya kandungan Total Dissolve Solid (TDS) 10 kali lebih rendah. “Semua izin sudah lengkap, dan kualitas produk kami lebih baik,” ungkap Dia.

 Melalui inovasi yang dimaksimalkan, desa bukan saja berdaya, namun kemungkinan terbaiknya desa tidak lagi bergantung dengan pemerintah di atasnya, Tyas mengatakan bahwa pemerintah Sidomulyo bersemangat dalam berinovasi dengan berbagai potensi yang dimiliki desa. “Kami harus bekerja keras, sebelum dana desa yang berlimpah disetop satu saat nanti,” terang Tyas.

Ini diapresiasi Didik Alih Wibowo Kepala BPBD Pacitan yang berkesempatan mendampingi Tim Diskominfo Pacitan, berbagai strategi mesti dilakukan demi memaksimalkan desa, termasuk di dalamnya penguatan terhadap berbagai kemungkinan bencana. 

 Kemandirian perlu dilakukan masyarakat Pacitan, mengingat Bumdes yang baru berdiri 8 bulan dapat tangguh dari kemarau panjang ditahun ini. “Kami berharap dengan adanya sampel ini, desa lain tumbuh daya kreatif walaupun tidak menyangkut tentang air. Tapi dengan inovasi yang meningkat kemudian akan berdampak pada kemampuan mempertahankan diri dari ancaman bencana khususnya kekeringan,” harap Didik. /tim liputan Diskominfo (budi/riyanto/wira/Diskominfopacitan).

Jamaah Haji Pacitan Dapat Perlakuan Istimewa Dari Negara Saudi

Rombongan tamu Allah akhirnya sampai di Kabupaten Pacitan petang ini 19/08, disambut langsung Bupati Pacitan Indartato di Halaman Pendapa. Muhammad Nurul Huda Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan melaporkan jumlah total 196 peserta dalam kondisi sehat, sedang satu peserta meninggal dunia di Tanah Suci.

 Ini membuat pemerintah bersyukur, pasalnya Kloter 4 pada tahun ini mendapat perlakuan istimewa dari Arab Saudi, menidak lanjuti program baru untuk memaksimalkan pelayanan para haji yang jumlahnya ratusan juta jiwa dari seluruh Negara di dunia setiap tahunnya. 

 “Mereka memperoleh perlakuan istimewa sebagai percontohan, sampai ada tukang pijatnya juga,” kata Huda. Kloter 4 yang kebetulan dari Kabupaten Pacitan sebagai percontohan karena Jamaah dari Indonesia terkenal akan ketertibannya, teratur dan terbaik dengan jumlah masyarakat muslim terbesar di Dunia.

 Hasilnya seluruh dunia mencontoh pembentukan karakter dari Kloter tersebut, kharom hingga di bawahnya lagi kharu yang tersusun satu komando yang memberikan efek keteraturan pada seluruh rangkaian haji selama 40 hari tersebut. “Paham Syafi’iyah juga menjadi pertimbangan,” tambah Huda.

 Ini disambut baik oleh Bupati Pacitan Indartato, mengingat perhatian luar biasa kepada jamaah haji melalui dana APBD dilakukan setiap tahunnya demi mengharap berkah untuk Pacitan. Pengembangan perhatian pada para Calon Jamaah Haji (CJH) akan terus dilakukan demi memberikan yang terbaik pada setiap pemberangkatan.

 Masukan dari para CJH juga akan diserap pemerintah, sebagai upaya untuk mengikuti perkembangan, tapi secara umum Indartato bangga kepada panitia penyelenggara haji Pacitan. “Semoga menjadi haji mabrur, karena ini berkah bagi Pacitan,” Harap Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

HUT RI Ke-74 Tahun di Pemkab Pacitan; Wadah Untuk Bersyukur Dan Evaluasi

74 tahun Negara ini berdiri. Berbagai bentuk tantangan telah dilalui, seiring dengan itu, pembangunan terus dilaksanakan untuk menciptakan tatanan Negara maju yang membawa masyarakatnya menjadi sejahtera.

 Momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) selalu terfokus pada tanggal 17 Agustus atau hari ini (17/08), penyelenggaraan Upacara Detik-Detik Proklamasi dilaksanakan di seluruh tempat baik di Istana hingga desa-desa di Indonesia lengkap bersama rangkaiannya.

 Tapi ini juga sebagai sarana introspeksi, melihat ke belakang dengan sudut pandang kekurangan yang harus secepatnya disikapi. Prinsip itulah selalu dipegang teguh Indartato sebagai orang nomor satu di bumi Pacitan ini.

 “Kita Evaluasi apa yang telah kita laksanakan,” kata Bupati usai Upacara di Halaman Pendapa. Jika dikaitkan dengan tema yang dipilih “SDM Unggul Indonesia Maju” kalimat yang dikatakan Indartato tersebut adalah senada. 

 Mengingat jika bicara kualitas manusia, di Pacitan lama sekolah berada pada 7 tahun, 2 bulan, usai yang tergolong dini ditahun sekarang ini. Ini adalah masalah serius yang segara harus disikapi bersama. “Tantangan kita (Kabupaten Pacitan) adalah seperti itu,” ujarnya.

 Disisi lain, kondisi kemiskinan juga menjadi PR Bupati untuk segera teratasi, karena Indartato ingin semua masyarakat di Pacitan sejahtera tanpa kekurangan. Meskipun data selalu menunjukkan penurunan yang signifikan.

 Tapi Bupati bersama seluruh jajaran tidak berhenti sampai di sini, mereka terus bekerja, karena Bupati ingin angka kemiskinan di Pacitan Nol persen, melalui berbagai cara yang tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tepatnya pada Perda Nomor 5 Tahun 2016. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Pacitan Expo 2019 Tingkatkan Daya Saing Dan Perluasan Pasar

Pasar UKM di Pacitan harus terus didorong supaya jaringan pasar kian luas, tujuan itu tentu sebagai sarana meningkatkan perekonomian masyarakat melalui beragam wadah yang tepat.

Salah satunya adalah Pacitan Expo 2019, kegiatan rutin yang dilaksanakan Dinas Perindusterian dan Perdagangan (Disperindag) Pacitan dalam rangka HUT RI. 

Bukan semata memberi wadah berupa pameran produk, Pacitan Expo dikemas menjadi menarik dengan balutan pasar rakyat yang menarik untuk dikunjungi, terlebih acara tersebut juga diramaikan dengan Festival Band dan Festival Kembang Api yang diikuti 25 desa.

Disisi lain Pacitan Expo 2019 juga meningkatkan jaringan informasi bagi mereka para pengusaha Pacitan, yang berujung pada daya saing antar produk, sehingga semakin kompeten jika disandingkan dengan produk wilayah lain. “Mereka harus terus didorong dengan berbagai kegiatan seperti ini,” ujar Supomo Kepala Disperindag 16/08 padap Pembukaan acara tersebut.

Bicara Pasar, Bupati Pacitan Indartato menegaskan itu adalah tanggungjawab Pemerintah Daerah yang mesti disikapi, karena Indartato meyakini Potensi Produk Pacitan sangat mumpuni disemua aspek. “Masalah pasar ini saya kira harus kita hadapi bersama-sama,” terang Bupati. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan.

Lomba Sepeda Hias; Kampanye Kembali Bersepeda

Hari yang cerah nan penuh semangat di kemeriahan HUT RI, semua orang seakan larut dalam kebahagiaan, tanpa terkecuali anak-anak yang mendapat wadah untuk merias sepeda mereka dengan keunikan berbagai tema yang dipilih.

 Ini selalu dilakukan setiap tahun, dari berbagai sekolah di Kecamatan Pacitan, murid SD/MI dan SMP/MTS tersebut selalu bersemangat mengeksplorasi jiwa seni mereka menjadi warna-warni yang menarik untuk ditonton, Diantara berbagai wadah siswa-siswi termasuk Lomba Defile, Drum Band, atau pun yang lain.

 Ribuan siswa yang terbagi menjadi 84 kelompok mendapat iming-iming hadiah jika mereka mampu menjadi juara, dan yang pasti yang paling membanggakan adalah mereka mampu membawa nama baik sekolah.

 Terlebih dan menjadi yang utama adalah bagaimana generasi muda itu memiliki jiwa seni yang dipadu ilmu pengetahuan mereka yang tertuang pada tiap tema yang dipilih. Seperti keindahan Pantai Pacitan, Kesenian Kethek Ogleng bahkan warisan Wayang Beber yang terangkum dalam ikon Kabupaten Pacitan Kota 1001 Goa.

 Yang utama dan menjadi kunci Lomba Sepeda Hias adalah kampanye untuk kembali bersepeda, utamanya kepada para siswa-siswi yang belum cukup umur, mengingat berbagai kemungkinan bisa terjadi di jalan raya yang disebabkan pengemudi kendaraan di bawah umur. “Akan terus kami kampanyekan dengan berbagai bentuk,” ucap Daryono Kepala Dinas pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan 14/08.

 Meskipun semua persiapan mepet, namun Sri Budiarti Guru Pembimbing SDN Baleharjo 2 tetap berharap anak didiknya mendapat nilai terbaik diajang itu. Karena Sri tahu selain keindahan yang tergambar pada sepeda ada nilai pesan yang harus disampaikan kepada para juri dan masyarakat Pacitan. (pkl/budi/riyanto/DiskominfoPacitan).

Tahun Ini Pawai Pembangunan Dinilai dan Berhadiah

Pawai Pembangunan pada Peringatan HUT RI Ke-74 Tahun 2019 rencananya dilaksanakan hari Kamis 22/08 mendatang. Dengan Rute Start depan Pendapa, ke arah timur menuju Pasar Arjowinangun, belok ke selatan menuju Jalur Lintas Selatan (JLS) sampai pada Pertigaan JLS barat belok kanan menuju Perempatan Cuik, masuk ke utara ke Perempatan Bapangan dan Finish di Alun-alun.

 Penyelenggaraan Pawai Pembangunan atau Mobil Hias pada tahun ini kata Kepala Dinas Perhubungan Pacitan Wasi Prayitno akan lebih meriah, pasalnya panitia menyiapkan hadiah bagi peserta dengan hadiah total 15 Juta Rupiah. “Kita rangsang supaya lebih ramai,” ungkap Wasi dikantornya 15/08.

 Tema yang dipilih pada acara ini kata Wasi sinkron dengan Tema Nasional “74 Tahun SDM Unggul Indonesia Maju” melalui Sub Tema “Semangat 17 Agustus Kita Bangun Perekonomian Masyarakat Dengan Menggerakkan Potensi Daerah Menuju Pacitan Unggul.

 “Ada beberapa kata kunci, Semangat Kemerdekaan, Membangun Perekonomian Masyarakat dan Menggerakkan Potensi Derah. Tujuannya kita adalah Pacitan yang unggul,” beber Wasi. Karena momentum HUT RI ini harus dimaksimalkan untuk menimbulkan semangat kemerdekaan untuk memajukan Pacitan, mempublikasikan capaian pembangunan serta menginformasikan pelayanan publik kepada masyarakat.

 Karena Pacitan mempunyai Khasanah Pariwisata yang begitu menjanjikan sehingga terpilih lima fokus lomba yang dinilai, yakni Pariwisata, Produk Unggulan, Pelayanan Publik serta Geopark Gunung Sewu.

 kelima hal tersebut harus terus dikomunikasikan kepada khalayak luas, didukung dengan aspek lain termasuk Pemaksimalan Geopark Gunung Sewu, yang sesuai dengan Perintah Presiden, pernah Presiden meminta Labuan Bajo dan Danau Toba masuk dalam Jaringan Geopark Internasional. Sementara Gunung Sewu yang telah masuk dalam jaringan,  menduduki posisi kedua di bawah Danau Batur.

 Kerja sama antar lembaga yang berkelanjutan di setiap kesempatan niscaya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang signifikan. Termasuk dalam tampilan Pawai Pembangunan yang melibatkan Forkopimda, Perangkat Daerah (PD) Instansi Vertikal, BUMD, Sekolah, Perbankan, Perusahaan dan Organisasi Kemasyarakatan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

PELAKSANAAN GERNAS BAKU BUSTANUL ATHFAL AL-MUHAJIRIN SIDOHARJO DI DINAS PERPUSTAKAAN KABUPATEN PACITAN

Jum’at 9 Agustus 2019, Bustanul Athfal Muhajirin melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan dalam rangka melaksanakan kegiatan GERNAS BAKU, yaitu Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Kegiatan kali ini diikuti oleh 27 peserta didik beserta wali murid dengan didampingi 3 guru pendamping.

Sebelum acara dimulai, guru pendamping terlebih dahulu memberikan pengenalan tentang Perpustakaan Daerah Kabupaten Pacitan kepada peserta acara. Tepat pada pukul 8 pagi, acara dimulai dan diawali dengan kegiatan senam Gernas Baku yang diikuti oleh semua peserta.

Ibu Sri Lestari, selaku Kepala Bustanul Athfal Al-Muhajirin, dalam sambutannya mengemukaan bahwa Dinas Perpustakaan telah menyambut kunjungan Bustanul Athfal Al-Muhajirin dengan sangat baik. “Kami berharap kunjungan seperti ini terus berlanjut dan akan kami agendakan”, kata beliau selanjutnya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan yang diwakili oleh Joko Wahyudi, S.Sos, M.Pd, selaku Kasi Layanan dan Otomasi. “Dinas Perpustakaan memiliki koleksi yang sangat banyak, oleh karena itu mohon dimanfaatkan dengan baik” jelasnya. Para orang tua dapat meminjam buku koleksi Dinas Perpustakaan untuk anak-anak, sehingga dapat membimbing anak-anak dengan membacakan buku yang sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak.

Di sela kegiatan tersebut, dilakukan penyerahan plakat dan bingkisan dari Bustanul Athfal Al-Muhajirin (diwakili oleh adik-adik peserta didik) kepada Dinas Perpustakaan (diwakili oleh Joko Wahyudi). Acara diakhiri dengan kegiatan pembacaan buku oleh para wali murid kepada anak-anak di ruang layanan anak Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, sebagai kegiatan utama dari pelaksanaan Gernas Baku kali ini.

(Penulis: Rosda / Doc&Video by: Ryn Surya/Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan)

Pramuka harus Hadir Menyikapi Tantangan Bangsa

Berbagai masalah hadir menerpa negeri ini, mulai dari tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme, merebaknya paham radikalisme hingga penyalahgunaan narkoba. Menjadi masalah yang harus disikapi bersama, termasuk pramuka. Mengingat itu, di momentum Peringatan Hari Pramuka Nasional  Ke-58 menjadi satu kesempatan pramuka untuk bangkit menjadi pionir dalam rangka menanamkan nilai-nilai untuk kejahatan luar biasa.

 Peringatan Hari Pramuka Nasional itu, Komjen Pol. (Purn) Drs. Budi Waseso berpesan yang disampaikan Ketua Majelis Pembimbing dan juga Bupati Pacitan Indartato meminta pramuka terlibat dalam memerangi praktik kejahatan luar biasa (Extra Ordinary Crimes) tersebut. Karena Kwartir Nasional secara terus menerus menjalin komunikasi dan menjajaki berbagai instansi yang terkait. 

 “Kwartir Nasional juga menyambut baik inisiasi beberapa kwartir daerah yang membentuk Satuan Karya Pramuka (Saka) Antu Narkoba, atau menjadikan kemampuan mendeteksi dini dan menanggulangi bahaya narkoba sebagai salah satu krida yang ada,” kata Bupati di Halaman Pendapa 14/08.

 Pramuka juga dinilai mempunyai peran strategis dalam mengamankan NKRI dari masalah tersebut, mengingat pramuka memiliki jiwa yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab sehingga mempunyai kesiapan dalam menghadapi kondisi itu.

 Kemudian globalisasi. Juga menjadi sorotan Kwartir Nasional, aspek positif dari kondisi itu tentu tidak terlepas sari sisi yang lain (Negatif) yang perlu untuk disikapi bersama, karena globalisasi bersifat tanpa batas (Borderless).

 Lalu lintas orang dan barang berpindah dengan mudah. Itu secara tidak langsung mengancam keberlangsungan para petani, karena murah dan mudahnya bahan pangan dari Negara lain yang mesti disikapi seluruh kwartir di Indonesia.

 Supaya ketahanan pangan nasional tidak rentan. Dengan gerakan perlindungan petani dengan banyak mengonsumsi produk petani lokal, begitu juga dengan masalah lingkungan hingga standar seragam pramuka baik desain, warna dan atribut, termasuk teta cara penggunaannya.

 Sementara, selain menyikapi arahan Ketua Kwartir Nasional, Kwartir Pacitan juga berbenah demi menyiapkan kader pramuka yang bisa diandalkan untuk seluruh masyarakat. Utamanya adalah pembentukan karakter generasi muda yang Amazing, sesuai dengan yel-yel Pramuka Pacitan. “Jadikan juga momentum ini untuk mengembalikan peran dan fungsi Pramuka Pacitan,” kata Wakil Majelis Pembimbing Pacitan Yudi Sumbogo pada kegiatan Tasyakuran usai Upacara.

 Ketua Kwartir Pramuka Pacitan, Suko Wiyono menyambut baik seluruh masukan yang ada, setahun ke depan fokus yang dilakukannya adalah penyempurnaan mental dan karakter Pramuka Pacitan dengan program dan pemantauan yang berkelanjutan. Sedang untuk prestasi yang didapat Kwartir Pacitan hingga Provinsi Suko Wiyono berharap dapat dimaksimalkan ditahun yang akan datang. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Endang; “Saya ingin kesempatan ini menjadi bekal di dalam jenjang pendidikan selanjutnya,”

Tidak gampang menjadi pasukan pengibar bendera saat detik-detik proklamasi di Pendapa Kabupaten, semua harus berjalan sempurna tanpa kesalahan sekecil apa pun. Otomatis peserta terpilih selama 12 hari harus memisahkan diri dengan dunia luar, dikarantina tidak boleh seenaknya.

 Tapi mereka yang terpilih, meskipun kini wajahnya hitam legam karena terik matahari, namun satu waktu nanti menjadi Paskibraka akan penjadi pengalaman berharga yang tidak bisa dilupakan.

 Tidak Cuma itu, berbagai tanda yang diperoleh juga dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, ini cukup membanggakan kata Endang Surjasri Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pacitan saat berkesempatan menengok latihan di Halaman Pendapa hari ini 14/08. “Saya ingin kesempatan ini menjadi bekal di dalam jenjang pendidikan selanjutnya,” harap Dia.

 Proses rekrutmen juga dilakukan obyektif sesuai prosedur yang ada, tanpa sedikit pun praktik-praktik menyimpang, hal ini menurut Endang supaya seluruh generasi muda di Pacitan mendapat kesempatan sama dan pada saat menjalankan tugas nanti ditanggal 17 adalah generasi pilihan kebanggaan bersama.

 “Dari sini saya ingin membagikan sedikit spirit kepada mereka tentang bagaimana muda-mudi Pacitan bertambah kedisiplinannya, memiliki jiwa korsa, kepedulian, persatuan dan kesatuan yang bisa dibagikan antar masyarakat, utamanya disekolah masing-masing,” tambah Endang.(budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

4 Hari Lagi, Paskibraka 2019 Serap Materi 75 Persen

Tinggal menghitung hari Detik-Detik Proklamasi dilaksanakan diberbagai wilayah, termasuk di Halaman Pendapa Kabupaten Pacitan. Di hari itu pengibaran Bendera Merah Putih menjadi kesatuan di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, dilakukan putra dan putri terbaik terpilih yang masuk dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2019.

 Mereka adalah siswa dan siswi dari berbagai sekolah atas Se-Kabupaten Pacitan. Masuk karantina pada 06/08 lalu, sampai pada hari ini kata Purwo Ketua Instruktur Paskibraka 2019 telah menerima materi dengan sempurna sebanyak 75 persen, sisa diharapkan sebelum geladi bersih 95 persen materi yang meliputi langkah tegap, hormat dan formasi mampu diserap. 

 “Latihan dilaksanakan cukup keras untuk kelas pelajar baik di lapangan, dikarantina. Bahkan di meja makan sekalipun mereka mendapat pelatihan khusus,” kata Purwo. Semua itu tidak berlebihan mengingat tugas yang diemban 70 anggota Paskibraka tersebut tidaklah mudah.

 Rasa bangga anggota membuat tugas tersebut terasa lebih ringan dipikul, namun wajah yang memerah karena terik matahari tidak dapat disembunyikannya. Kondisi ini tidak menjadi soal bagi Yulia Vernanda yang memperoleh tugas istimewa nan sulit yakni pembawa baki.

 Ia mensyukuri itu, meski disisi lain ada rasa gugup jika mengingat pengibaran Bendera Merah Putih di Halaman Pendapa adalah tugas yang harus diselesaikan dengan sempurna tanpa kesalahan sekecil apa pun. “Dukungan orang tua dan orang terdekat yang membuat saya yakin dan semangat dengan amanah ini,” ungkap Yulia disela latihan 13/08.

 Berbagai persiapan dilakukan dengan begitu matang, karena 4 hari lagi anggota Paskibraka ini tidak latihan lagi, namun benar-benar mengibarkan bendera di hadapan banyak orang utamanya Bupati dan seluruh jajarannya, sekali lagi tanpa kesalahan apa pun. “Evaluasi terus kami lakukan, kesalahan yang muncul langsung kami respons, termasuk menggelar doa bersama memohon kepada Tuhan yang maha kuasa,” tambah Purwo. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan.

Kompetisi Wirausaha 2019 Wadah Pengusaha Yang Ingin Maju

Pengusaha Pacitan mesti berkembang, supaya segala potensi yang dimiliki tidak terbuang sia-sia. Mereka harus dimaksimalkan untuk kepentingan peningkatan ekonomi masyarakatnya.

 Satu wadah yang digelar pada peringatan HUT RI ke-74 Tahun adalah Kompetisi Wirausaha 2019, sebuah sarana merangsang dan mengembangkan minat usaha para kawula muda Pacitan di bawah usia 45 tahun.

 Eny Sulistyowati Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Pacitan menegaskan, dewasa ini untuk bisa merintis  satu bisnis seseorang tidak bisa secara individu, diperlukan sebuah jaringan atau pendamping yang mengawal mereka, mulai ide, produksi, marketing hingga tata keuangannya. “Ini merupakan satu langkah yang bagus yang perlu kita garap bersama,” kata Eny disela Kompetisi yang digelar di Lantai 2 Gedung PLUT Pacitan 12/08/19.

 Banyak hal yang diperoleh peserta, usaha yang dirintis akan dikawal secara berkelanjutan sehingga produk yang dilahirkan banar-benar diterima konsumen yang berujung pada pasar yang lebih menjanjikan. Meskipun disayangkan, animo masyarakat Pacitan masih dinilai kurang oleh Eny ditahun ke-2 penyelenggaraan.

 Tapi menurut peserta , Kompetisi Wirausaha 2019 adalah kesempatan emas yang harus diikuti sebagai langkah awal atau lanjutan peningkatan usaha yang dirintis, termasuk Nurvita Rustiana yang telah merintis Gula Semut Kalak sejak 2017 silam.

 “Kami sangat berharap Gula Semut kami bisa semakin dikenal masyarakat,” harap Dia mengingat keberadaan pohon kelapa di Pacitan yang sangat banyak, namun dinilai belum dapat mengangkat ekonomi masyarakat, karena pengolahannya masih dilakukan secara tradisional.

 Muhlisin, Ketua Asosiasi UMKM Jawa Timur Pengurus Pacitan merasa perlu mengikuti acara ini dengan bisnis tusuk sate yang ia garap. ia berprinsip pengusaha tidak boleh berdiam diri, harus terus mengikuti perkembangan termasuk wadah yang disediakan KUKM.

 “Acara ini harus dilaksanakan setiap tahun, promo juga harus semakin gencar supaya peminatnya semakin banyak. Jadikan acara ini lebih bergengsi,” harap Muhlisin. (budi/anj/wawan/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Puluhan Ribu Kambing dan Sapi di Pacitan Dalam Kondisi Sehat

Seluruh aspek patut diwaspadai jelang Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, khususnya penyakit yang mengancam hewan ternak. Apa lagi di Kabupaten Pacitan penyakit antraks pernah berulah di beberapa wilayah yang sempat membikin pusing pemerintah dan peternak.

 “Bersyukur sampai saat ini tidak ada laporan,” kata Kepala Dinas Pertanian Pamuji. Usai melaksanakan pemantauan bersama Bupati Pacitan Indartato pagi tadi 06/08. Namun dirinya tidak ingin kecolongan dengan memperketat uji pemeriksaan kambing dan sapi yang beredar di pasar dan titik penyembelihan yang dilakukan tim dokter hewan.

 Saat ini harga sapi di pasaran disampaikan berada pada angka yang menguntungkan peternak, yakni Rp. 45.000 sampai dengan Rp. 48.000. menurut Pamuji harga itu adalah harga yang cenderung normal pada momentum hari raya kurban dan tidak membertkan pembeli.

 Bupati Indartato bersyukur tidak ada temuan, karena stok hewan di Pacitan akan dikirim ke berbagai kota besar di Indonesia, utamanya Jabodetabek. Dipastikan akan terus meningkat di pekan terakhir jelang Idul Adha ini. “Terus dipantau, jangan sampai kecolongan,” perintah Bupati.

 Himbauan.

Ada beberapa ciri yang perlu di perhatikan saat hendak membeli hewan kurban yang sehat, menurut drh. Alek Arisona pertama hewan harus tampak lincah dan aktif, mempunyai kulit yang mengilat, mata yang bersih dan hewan tersebut berdiri pada empat kaki.

 Saat pemotongan, perhatikan saat merebahkan hewan, usahakan menggulingkan dengan pelan sehingga terhindar dari benturan, gunakan tali untuk memudahkan. Pada saat membagikan daging hindari penggunaan plastik, karena ternyata plastik berpotensi besar penjadi penular penyakit. Dan terakhir cucilah yang diperoleh dengan bersih menggunakan air yang bebas dari penyakit. (budi/dzakir/riyanto/wira/diskominfoPacitan).

Lomba Defile Tumbuhkan Jiwa Disiplin dan Patriotisme

Ratusan siswa dan siswi SMP/MTS/SMA/SMK/MA Se-Kecamatan Pacitan menjadi peserta lomba defile yang dilaksanakan pagi tadi 05/08 di depan Pendapa Kabupaten. 

 Rasa senang dan bangga dirasakan Adilla peserta yang berasal dari  SMA 2 Pacitan. Dengan latihan kurang dari satu minggu gadis itu bersama teman-temannya tetap optimis memberi yang terbaik pada sekolah. “Kompak, disiplin, dan yang terpenting tetap fokus pada tujuan,” Katanya.

 Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Pacitan Daryono mengatakan, Peserta yang mengikuti lomba sebanyak 36 peleton yang terbagi menjadi  8 peleton putra SMP/MTS, 10 peleton putra SMA/SMK/MA, 9 peleton putri SMP/MTS, dan  9 peleton putri SMA/SMK/MA. 

 Daryono juga mengatakan bahwa acara ini sangat patut untuk terus digelar, karena dapat menumbuhkan jiwa disiplin di masing-masing peserta, juga kerja sama, tanggung jawab, dan membangun jiwa patriotisme dan nasionalisme. (pklDiskominfoPacitan).

Lakon Wahyu Jadmiko Retno Hibur Masyarakat Pacitan

Negara Amarta hancur berkeping-keping disebabkan bencana alam, rakyat memprihatinkan. Dengan bimbingan Kyai Semar Raden Bima diminta untuk bertapa di Sungai Serayu tidur mengambang diatas airnya.

 Itu menyebabkan pengikut Bethara Durga banyak yang  tersiksa dan kepanasan karena kekuatan Dzikir Raden Bima. Bathari Durga meminta bantuan Bathara Guru untuk mengingatkan Raden Bima untuk mengakhiri pertapanya.

 Terjadilah debat diantara ketiganya yang akibatkan Raden Bima dimasukkan ke Kawah Candradimuka. Itu mengakibatkan Puntadewa dan Kresna marah dan berubah wujud menjadi raksasa. Para dewa pun kocar-kacir karena raksasa tersebut mengamuk dengan hebatnya.

 Ternyata Raden Bima di dalam Kawah yang mengerikan tidak merasakan apapun, karena Raden Bima mendapat anugerah berupa Wahyu Jatmiko Retno, sebuah Wahyu kesempurnaan dan hatinya telah berada pada capaian kemuliaan yang ternyata telah diketahui oleh Bathara Guru.

 Disisi lain, Bathara Guru yang merasa kuwalahan oleh kedua Raksasa tadi, meminta kepada Raden Bima untuk memukul mundur raksasa. Terjadilah pertempuran sengit diantara ketiganya, yang akhirnya raksasa itu kalah, kembali wujud raksasa tadi yakni Punthadewa dan Kresna. Raden Bima kembali ke Amarta yang sebelumnya porak-poranda menjadi kedamaian dan kemuliaan.

 Rangkuman kisah yang dimainkan oleh Ki Dalang Cahyo Kuntadi dengan Judul Wahyu Jadmiko Retno diharap oleh Daryono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pacitan dapat menghibur masyarakat Pacitan di rangkaian Hari Ulang Tahun RI Ke-74 Tahun. “Dan terutama dapat mengambil hikmah yang terkandung dalam acara pagelaran wayang semalam penuh ini,” harapnya. (TimDiskominfoPacitan).

1.411 Siswa SD/MI Ramaikan Lomba Gerak Jalan

Awal Agustus yang cerah, ratusan putra-putri dari berbagai sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) mengikuti Lomba Gerak Jalan dengan penuh semangat, nada perintah komandan peleton terdengar lantang. Ini adalah agenda tahunan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74 Tahun. 

 Ini penting untuk terus dilakukan, mengingat gerak jalan dapat meningkatkan nilai kebersamaan antar individu, memupuk rasa cinta tanah air dan ternyata dapat meningkatkan semangat kepahlawanan kepada generasi penerus bangsa tersebut.

 Kata Daryono Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Pacitan, ratusan peserta itu terbagi menjadi 40 regu perempuan dan 43 regu laki-laki, tiap-tiap regu terdiri dari 17 anak. Mereka merebutkan Juara 1, 2 dan 3 dan Harapan 1, 2, 3. (pkl/budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Disperindag Tingkatkan Kualitas Kemasan Produk

Tampilan kemasan akhirnya menjadi penentu supaya memikat hati konsumen, meski isi adalah utamanya. Aneka produk Khas Pacitan tidak perlu ditanyakan lagi, misilnya Batik, Kopi atau camilan yang lain yang beraneka ragam.

 Para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) akhirnya kudu melek desain kemasan, jika ingin produksinya semakin meningkat, dan bisa bersaing di pasar regional atau pun nasional.

 Melihat itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pacitan menggelar Pelatihan Teknis Desain Kemasan bagi IKM Makanan dan Minuman (Mamin) yang sudah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). “Kita mengakui, daya saing di luar kami sedikit tertinggal, salah satu penyebab utama adalah Packaging-nya,” kata Kusumo Kabid Perindustrian disela kegiatan 01/08.

 Peningkatan kapasitas ini juga melibatkan Disperindag Provinsi Jawa Timur, dengan dikirimnya Mobil Pelayanan Desain Kemasan (Mobdeska) didukung narasumber yang ahli dalam desain kemasan. Waktu tiga hari yakni 31/07-02/07 akan memprioritaskan peningkatan kualitas kemasan produk secara detail. “Produk yang bagus didukung kemasan yang oke bisa meningkatkan nilai jualnya,” ujar Rizki Fajrianto sebagai Narasumber.

 Tapi umumnya kemasan bagus tentu membutuhkan anggaran yang lebih besar, apakah dapat dijangkau oleh para pelaku IKM? Ternyata Disperindag Jatim bersama UPT Mamin memberikan fasilitas desain kemasan yang bersaing harganya. Bahkan desain kemasan dari Mamin tanpa biaya. “Untuk cetak sangat bersaing dengan perusahaan swasta, kita juga menawarkan cetak tanpa minimal order dengan sarat-sarat tertentu,” tambah Dia.

 Ini tentu disambut baik oleh Much Anshari atau akrab disapa Aan salah satu peserta, dunia kopi yang semakin ramai membuat Aan merasa tertantang untuk mengeksplorasi Kopi Pacitan ke pasar yang lebih luas, karena ia tahu persis bagaimana kualitas kopi Pacitan. “Saya sudah isi formulir, sudah saya konsultasikan ke tim Mamin, tinggal besuk display kemasannya bagaimana,” katanya.

 Beberapa produk telah mempunyai pangsa pasar sendiri, hal itu harus dikembangkan dengan mengangkat produk lain melalui berbagai inovasi, termasuk memperhatikan desain kemasan. Sehingga minimal pada momen-momen tertentu berbagai produk dari IKM Pacitan semakin menarik perhatian masyarakat luas. “Hasilnya seluruh produk Pacitan memiliki pasar yang luas,” (budi/pkl/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

KIM Pena Pacitan Jadi Juara 1 Anugerah Pewarta Jatim 2019

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pena Kabupaten Pacitan berhasil menjadi juara 1 Anugerah Pewarta Jawa Timur (APW) yang digelar pada Rabu (31/7/2019) di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

KIM Pena yang beralamatkan di Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, Pacitan ini berhasil meraih juara 1 APW atas nama Frend Mashudi untuk kategori infografis. KIM Pena Pacitan sendiri mengirimkan karya infografis dengan judul Pendidikan Gratis dan Berkualitas (Kantistas).

Ada lima kategori penghargaan dalam APW kali ini yakni artikel berita, foto berita, infografis, videografis, dan video berita. Variabel penilaian APW ini terdiri dari keterkaitan konten terhadap tema, ketersampaian pesan, serta estetika dan etik. Total ada 106 karya yang dilombakan dari kelima kategori.

Selain KIM Pena, kategori artikel berita untuk Juara 1 diraih KIM Cendekia Kota Kediri dengan karya berjudul jalan untuk mewujudkan harapan, kategori Video berita juara 1 diraih aminulloh dari KIM Mojo Kota Surabaya dengan karya berjudul program kerja peri rumah penjaga ibu.

Kemudian kategori foto berita Juara 1 diraih KIM Pesona Mlancu Kabupaten Kediri dengan karya berjudul Crop Circle Kedungmalang Kecamatan Papar Kediri, serta kategori video grafis Juara 1 diraih Hikmatul Hakimah dari KIM Purwoagung Kota Malang dengan karya berjudul Jatim amanah pembayaran pajak kendaraan bermotor lebih mudah dan cepat.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya meminta KIM menjalankan dua peran yaitu sebagai filter dan jembatan informasi antara pemerintah dengan masyarakat baik yang bersifat top down maupun bottom up.

Peran sebagai filter ini didasarkan hasil survei dari Centre for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS bahwa sebanyak 65 persen masyarakat Indonesia masih percaya hoaks. “Di sinilah peran KIM dibutuhkan menjadi filter atau penyaring informasi di masyarakat,” katanya seperti dalam siaran pers Humas Provinsi jawa Timur.

Selain sebagai filter, menurutnya KIM juga diperlukan sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat yang bersifat top down maupun bottom up. Dari sisi top down mereka bisa menyampaikan informasi kebijakan pemerintah kepada masyarakat.

“Misal soal jalan rusak. Ketika yang rusak adalah jalan nasional, masyarakat yang tidak tahu pasti meminta pemerintah kab/kota yang memperbaiki, padahal regulasinya tidak seperti itu karena itu kan jalan nasional. KIM bisa membantu kami menjelaskan pada masyarakat,” katanya.

Kemudian yang bersifat bottom up, KIM mampu menjadi penyalur aspirasi atau masukan dari masyarakat kepada pemerintah. Langkah ini mewujudkan pola komunikasi dua arah atau two way traffic communication dengan obyektifitas dan kredibilitas yang terjaga.

“Saya sering menerima masukan dari masyarakat. Sisi positifnya informasi tersebut menjadi lebih cepat kami respon, namun yang jadi masalah kalau informasi tersebut tidak kredibel jadi destruktif. Di sini lah peran KIM menyaring informasi tersebut,” katanya.

Menurutnya, masukan atau informasi yang diterima dari masyarakat bisa menjadi feedback atau umpan balik dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Terkadang walaupun kebijakan tersebut baik, belum tentu diterima baik oleh masyarakat. Untuk itu masukan tersebut mampu menjadi kritik, respon, dan evaluasi untuk berbenah lebih baik ke depan.

“KIM mampu menjadi mitra strategis pemerintah untuk menyampaikan informasi kebijakan dan program kerja pemerintah kepada masyarakat,” ujarnya lagi.

Dalam kesempatan ini, Khofifah mengapresiasi penyelenggaraan APW. Menurutnya acara ini menjadi salah satu wadah apresiasi bagi para anggota KIM, juga pegiat media sosial yang telah menyampaikan informasi positif kepada masyarakat. Ke depan, ia berharap partisipasi masyarakat di acara ini semakin meningkat dan kategori yang dilombakan bisa bertambah.

Senada dengan Gubernur Jatim, Ketua Dewan Juri APW Jatim Tahun 2019, Hari Fitrianto mengatakan saat ini citizen journalism dihadapkan pada tantangan yakni hoaks, akurasi berita, dan keberlanjutan.

Untuk itu, ia mengapresiasi upaya Pemprov Jatim yang menyelenggarakan APW pertama kalinya sebagai apresiasi kepada warga, dimana acara ini bisa menjadi political will yang baik ke depan. (Pacitanku/DiskominfoPacitan).

Bupati : Ora Usah Melu Tukaran

Skuad Perspa Pacitan yang akan berlaga pada Liga 3 Jawa Timur diwanti-wanti Bupati Indartato. Mereka harus tetap menjaga sportifitas selama pertandingan. “Ora usah melu tukaran (terlibat kericuhan),” katanya ketika melepas para pemain dan official di pendapa kabupaten, Rabu (31/7/2019). Bupati menyadari untuk bersikap fair play bukan perkara mudah. Sebab akan banyak terjadi kontak fisik selama 90 menit bermain. Terlebih ketika tensi pertandingan meninggi. Ia menyampaikan, sampai saat ini pemerintah daerah belum dapat memberikan alokasi anggaran yang memadai. Namun demikian, untuk para pemain, hal tersebut hendaknya bukan menjadi penghalang untuk tetap berbuat lebih baik untuk daerah. Salah satunya dengan prestasi sepak bola. “Selamat berjuang. Mudah-mudahan membawa nama baik Pacitan,” harapnya.

Pada ajang tahun ini Perspa tergabung di grub B bersama Bojonegoro FC, Nganjuk United, Perseta Tulungagung, dan Persemag Magetan. Sistem pertandingan menggunakan kompetisi penuh. Dengan demikian masing-masing tim akan saling bertemu dalam pertandingan home and away.
Perspa sendiri bakal menjalani pertandingan tandang pertamanya melawan Perseta pada Sabtu (3/8) nanti. Sedangkan partai kandang berlangsung sekitar seminggu berikutnya (9/8). Lawan yang dihadapi adalah Nganjuk United.
Ketua Umum PSSI Kabupaten Pacitan Sanyoto mengatakan Liga 3 Jatim akan berlangsung dalam dua putaran. Dimana putaran pertama digelar selama Juli-Agustus. Sedangkan putaran dua pada bulan Oktober. “Ada 22 pemain dan sembilan official yang berangkat. Mereka telah dipersiapkan melalui seleksi sejak April kemarin dan dikarantina sebulan lalu,” katanya. (arif/juremi tomas/danang/humaspacitan).

Tingkatkan Kerjasama Demi Tegaknya Hukum

Peran serta masyarakat wajib hukumnya supaya terjadinya keamanan dan ketertiban disemua hal demi tegaknya produk hukum. Termasuk di lingkup pemangku kebijakan, yakni Pemda Kabupaten Pacitan. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, termasuk korupsi, baik disengaja maupun tidak. Yang dapat merugikan rakyat.

Beruntung, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan dinilai terbuka oleh Kejari Pacitan, saat Coffe Morning Bersama Awak Media, kemarin 29/07 di Ruang Rapat Kejari Pacitan. Adji Ariono Kepala Kejari mengatakan itu terjadi lantaran keterbukaan dari kedua belah pihak, baik kejari yang total dalam berbagai program dan Pemda yang selalu membuka diri.

“Alhamdulillah sudah sangat terbuka, hal itu kami dukung dengan berbagai sosialisasi secara masif,” ujar Adji. Seperti pengawalan pembangunan yang sering disebut program Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan (TP4). Dibentuk sesuai implementasi Perppu Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Ia terang-terangan, banyak Perangkat Daerah (PD) yang membuka diri, sehingga laju proyek dapat berjalan lancar tanpa terjadi kemungkinan kesalahan yang berpotensi pada pidana.

Dengan berbagai program pengawasan, apa yang dilakukan oleh pemerintah dapat benar-benar dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat Pacitan Khususnya. Melalui berbagai kerja sama, termasuk awak media. “Karena fungsinya sebagai kontrol sosial,” tambah Dia.

Selain tugas itu, masih banyak yang dikerjakan Kejari Pacitan, salah satunya mengawasi orang asing, mengawasi berbagai aliran kepercayaan. Bahkan memberikan pemahaman kepada siswa dan siswi disekolah yang kerap diberi nama Jaksa masuk sekolah. Tugas berat tersebut tentu banyak kekurangan di sana sini, oleh sebab itu, Adji berpesan pada semua pihak, termasuk awak media untuk saling mengingatkan. “Jika ada anak buah saya yang menyeleweng laporkan kepada saya,” tegas Kajari. Satu komitmen Kejari untuk benar-benar profesional dalam mengemban amanah. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Sidag Gas di Arjowinagun; Pengecer Berorientasi Merusak Mata Rantai Tata Niaga

Hingga detik ini, distribusi Gas Elpiji 3 Kilogram atau Tabung Melon tidak ada penurunan kuota, tetap pada angka 8.525 tabung per hari. Ini kecuali hari libur. Tapi, masyarakat sebagai konsumen kok tetap kesulitan mencari Gas bersubsidi itu? begitu juga dengan para pelaku industri kecil.

Sebelumnya Dinas Perindusterian dan Perdagangan (Disperindag) bersama dengan Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana) Madiun menggelar Rapat Koordinasi di ruang rapat kantor Disperindag 18/07 lalu. Kini dilanjutkan menggelar Sidag di Pasar Arjowinangun Pacitan pagi tadi 30/07.

Ternyata benar, ramai orang-orang berjubel mengantre disalah satu toko. Siti Naimah Kabid Perlindungan Konsumen Disperindag yang ikut dalam kegiatan itu menduga, orang yang mengantre tersebut bukan konsumen, namun pengecer. “Pangkalan harus tahu dan selektif, siapa konsumen siapa pengecer,” kata Dia.

Agus Wiyono sebagai Ketua Hiswana Madiun berpandangan sama, gejolak Gas Elpiji 3 Kg itu ditengara karena rantai distribusi gas yang sesuai regulasi hanya sampai pada pangkalan, pengecer tidak tercantum pada struktur sehingga mempunyai banyak kesempatan memainkan peran tata niaga. “ Pengecer hanya berorientasi pada Profit Oriented saja,” tegas Agus.

Lain cerita dengan Pupuk bersubsidi, Gas 3 Kg ini tidak ada hukum berat yang dapat mengganjal jika ada oknum yang bermain, umumnya jika terbukti melakukan tindakan yang melanggar hukum hanya mendapat ganjaran sanksi administrasi.

Banyak cara untuk meredam kondisi ini, namun Agus tegas tidak akan bersinggungan dengan pengecer yang notabene sukar dikendalikan, ia hanya akan menindak hingga pangkalan yang mestinya mangkal, melayani sesuai dengan aturan yang ada. “Regulasi harus diperbaiki, karena banyak celah di dalamnya. Atau Pemda bisa membuat peraturan sendiri,” tambah Dia.

Pada saat itu ia juga menghimbau pada agen supaya menertibkan semua pangkalan, karena agen mempunyai tugas dan fungsi menyalurkan gas hingga titik pangkalan. Mengingat juga kesalahan pangkalan adalah kesalahan agen.

Sehingga agen harus lebih ketat terhadap pangkalan dalam mendistribusikan gas tersebut. Karena saat ini yang pusing mencari barang bukan konsumen sebagai pengguna langsung, tapi pengecer. “Termasuk konsumen, Elpiji 3 Kilogram peruntukannya jelas, hanya bagi masyarakat miskin dan usaha mikro yang mempunyai kapasitas, dan yang bukan itu kami mengharap untuk beralih ke Gas non subsidi,” pungkas Agus. 

Sementara ini tiga stakeholder yakni Pemda Pacitan, Pertamina dan Hiswana akan menambah kuota tabung melon, tambahan fakultatif dilaksanakan pada periode Juli 2019 sebanyak 5.040 tabung, akumulasi penyaluran menjadi 123 persen. Sedang penyaluran di periode pertama sebanyak 3.360 tabung atau 107 persen. (budi/wawan/riyanto/wira/DiskoninfoPacitan).

Pelaksanaan Gernas Baku Paud Baleharjo Terpadu Bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan Pacitan

GERNAS BAKU pertama kali dilaksanakan pada tahun 2018 oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai tindak lanjut, Gernas Baku terus dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak.

            Hari ini, Kamis 25 Juli 2019, bertempat di Dinas Perpustakaan Pacitan, Paud Baleharjo Terpadu (TK Aisyah Bustanul Athfal Baleharjo) bekerjasama dengan Disperpusda melaksanakan Gernas Baku tahun 2019.

              Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan Kepala Paud Baleharjo Terpadu (TK Aisyah Bustanul Athfal Baleharjo) Ibu Hopsah, sambutan Plt. Kepala Dinas Perpustakaan Pacitan Drs. Sumorohadi,M.Si., dengan menyelipkan pesan agar para orang tua mampu mendampingi anak-anak mereka dengan baik agar senantiasa selalu gemar membaca sejak usia dini, dan menjelaskan tentang peran Dinas Perpustakaan Pacitan yang terus mengembangkan fasilitasnya demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kemudian acara dilanjutkan dengan senam bersama seluruh anak-anak beserta orang tua yang diiringi lagu “Gernas Baku Tahun 2019”. Rupanya lagu Gernas Baku Tahun 2019 tidaklah sama dengan lagu Gernas Baku yang diluncurkan tahun 2018 lalu. Lagu yang sekarang lebih energik sehingga lebih membuat semangat anak-anak.

              Pengisian talkshow dengan orang tua murid sebagai bentuk sosialisasi yang sesuai dengan acara yakni upaya meningkatkan minat baca anak sejak usia dini dengan mendongeng diisi oleh narasumber Edi Sukarni, S. Sos., M. Pd Kabid Layanan dan Koleksi Dinas Perpustakaan Pacitan. Beliau berpesan kepada para orang tua yang hadir agar tidak menyia-nyiakan masa usia anak 3 tahun sampai 5 tahun karena di usia tersebut adalah penentu anak-anak nantinya ketika dewasa ingin menjadi apa, dan menghimbau kepada para orang tua untuk membacakan buku (mendongeng) paling tidak 5-10 menit sebelum anak tidur.

              Acara kemudian dilanjutkan dengan kegiatan orangtua membacakan buku kepada anak-anaknya. Setelah itu anak-anak diminta menceritakan kembali buku yang telah dibacakan orangtuanya di hadapan audience.

(Penulis&Doc: Ryn Surya/Dinas Perpustakaan Pacitan/DiskominfoPacitan)

Ekspedisi Destana Tsunami; Tangguhkan Masyarakat Terhadap Ancaman Tsunami

Tsunami, memiliki sejarah panjang bencana di Dunia. Di Indonesia tsunami pernah merenggut nyawa sebanyak 230.000–280.000 melayang Pada tahun 2004 silam, dikenal dengan Gempa dan Tsunami Samudera Hindia.

Profesor Ronald Albert Harris (Ron Harris) dari Universitas Brigham Young University (BYU), mengingatkan adanya potensi gelombang tsunami termasuk di pantai selatan. Bukan memperkeruh suasana, tapi ini adalah momentum bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan untuk menanamkan tanggap bencanan kepada masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir selatan, yang mereka beri nama Ekspedisi Destana Tsunami.

Dimulai dari Banyuwangi pada 12/07 lalu, dan sampai di Bumi Perkemahan Pancer Door pada 23/07 kemarin. Diannitta Agustinawati, Kasi Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan mengatakan fokus rangkaian Ekspedisi Destana Tsunami berada di 2 titik, pertama di Hadiwarno Kecamatan Ngadirojo dan Pancer Door di Kecamatan Pacitan. “Diikuti 27 desa di pesisir pantai selatan.” katanya.

Di Pacitan, ekspedisi ini diikuti oleh 6000 peserta, baik anak-anak, pelajar, masyarakat, nelayan dan lainnya dengan berbagai program kegiatan yang bermacam-macam. seperti siswa Taman Kanak-Kanak disediakan lomba mewarnai yang diikuti 1600 peserta. “Gambar yang diwarna tentu yang berhubungan dengan berbagai informasi bencana dan mitigasinya,” ujar Dian.

Lilik Kurniawan Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB sangat bersemangat saat di Pacitan, wajah itu terpancar ketika Cangkruan Bareng Dengan Komunitas Nelayan Srono Jolo dan komunitas lain. Ditemani kopi, Lilik gambling menuturkan berbagai ancaman tsunami dan mitigasinya. Tidak lupa di agenda itu ia menjawab berbagai pertanyaan dari para peserta.

Kepada awak media yang memang dilibatkan secara aktif, Lilik mengaku bersukur terhadap totalitas pemerintah daerah dengan Ekspedisi Destana Tsunami termasuk dengan masyakatnya yang peduli dengan resiko bencana. “Kami berharap masyarakat Kabupaten Pacitan bisa nyaman dan terhindar dari bencana dan sekaligus mengantisipasi bencana (tsunami)red,” kata Lilik.

Bupati Pacitan Indartato juga demikian, Dia berharap berbagai kerjasama tiap tahun diharapkan terus ditingkatkan, bukan hanya dengan pemerintah pusat, kelompok-kelompok lokal diharap selalu bersatu. “Untuk kebijakan, utamanya yang menyangkut dengan bencana akan kami mudahkan,” kata Bupati usai menanam Pohon Cemara Udang dan memasang Papan Informasi Bencana di Pancer Door bagian timur dan tengah kemarin 23/07. Pemasangan papan informasi bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai upaya untuk membuat masyarakat selalu sadar dan siaga.

Penanaman Pohon Cemara Udang (Green Belt) adalah bagian acara inti ekspedisi di Pacitan, karena fungsinya yang dapat menghambat ombak jika terjadi tsunami. Selain itu Cemara Udang membuat pantai lebih sejuk dan rindang, terlebih Green Belt mampu menambah daya tarik wisatawan. Itu membuat Lilik berharap agar pahon-pohon itu tetap dijaga keberadaanya.

Ekspedisi Destana Tsunami bukan akhir dari rangkaian kegiatan, ke depan berbagai program akan terus dilakukan dengan seluruh elemen, karena potensi bencana terus mengancam seluruh masyarakat disemua wilayah, dengan bentuk yang berbeda pemerintah akan terus menciptakan masyarakat yang sadar akan bahaya bencana, termasuk ancaman gempa bumi yang disertai tsunami. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Revalidasi Gunung Sewu; Pelestarian Alam Dan Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Benak Arthur Agostinho De Abreu tergambar peradaban luar biasa saat ia dan kawannya Javier Lopez Caballero mamasuki Goa Song Terus salah satu titik kawasan Geopark Gunung Sewu yang berada di Pacitan.

Sebelumnya dua bule sebagai Asesor dari United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) tersebut mengunjungi Etalase Geopark di Kawasan Pancer Door dan dilanjutkan ke Pantai Klayar.

“Unesco Global Geopark Gunung Sewu merupakan anggota dari 193 Geopark dibawah Unesco. Geopark digunakan untuk mengenal dan memahami keterkaitan manusia dan planetnya, meliputi geologi biologi dan budayannya dan juga untuk memahami pengetahuan dan kemampuan yang tidak terwujud dari wilayah itu sendiri,” kata Arthur usai ditranslit ke Bahasa Indonesia kemarin 23/07.

Setiap empat tahun sekali dilakukan Revalidasi di semua kawasan Geopark,  termasuk di Gunung Sewu yang terbentang di tiga Kabupaten baik Pacitan, Wonigiri dan Gunungkidul dan berada di tiga Provinsi berbeda.

Menurut Arthur ini penting dilakukan, Dia dan temannya Javier akan melihat semua kawasan tersebut, baik kondisi fisik, masyarakat, kebudayaan yang ada, dan termasuk apa saja yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat untuk menjaga taman bumi ini dimana selanjutnya akan dilaporkan ke Unesco.

Sejak ditetapkan Gunung Sewu menjadi kawasan Geopark oleh Unesco pada tahun 2015, Pemerintah memang total dalam berbagai kewajibannya, pelestarian alam memang utama, namun itu harus berimbas langsung pada peningkatan perekomomian masyarakat sekitar.

Sedangkan kawasan Gunung Sewu adalah kawasan Karst, penduduknya kebanyakan hidup bertani, awalnya ini adalah masalah sulit. “kita meningkatkan penggunakan sistim pertanian organik dan semi organik, mengurangi penggunaan bahan kimia yang dapat merusak alam,” kata Kepala Dinas Pertanian Pacitan Pamuji kepada Tim Diskominfo Pacitan.

Begitu juga Eny Setyowati Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pacitan, sejak masuknya Gunung Sewu Menjadi bagian dari Geopark Global Network (GGM) Geoproduk yang berperan menjadi salah satu penunjang jauh-jauh hari telah dipersiapkan. Ia bersukur karena Pacitan kaya Geoproduk. “Seperti batik salah satu warisan leluhur, bagaimana kita kemas dengan sebaik mungkin,” paparnya. Sehingga secara langsung Geoproduk Pacitan memberi kontribusi terhadap peningkatan ekomomi masyarakat.

Dari tiga wilayah yang ada, umumnya memiliki keunikan tersendiri, seperti halnya Pantai Klayar dengan batu yang menyerupai patung Sphinx, atau Song Terus yang kaya akan fosil manusia purba menjadi cermin kekayaan negeri yang tak ternilai harganya.

“tugas kita bagaimana bentang alam ini bisa bermanfaat untuk kesejahteraan, karena bicara geopark kita tidak cukup bicara keindahan, tapi disamping indah harus ada unsur edukasi, misalnya saja Klayar yang memiliki proses geologi yang luar biasa. Masyarakat memiliki tugas menjaga, memuliakan itu sampai mendapat manfaat. Konsep dari Unesco sangat luar biasa,” jelas Budi Marsono Jenderal Menejer Gunung Sewu Unesco Geopark dan Presiden Geopark Indonesia.

Tapi sejauh ini, wisatawan yang berkunjung ke Pacitan masih mengutamakan lanskapnya saja, ini sayang jika dibiarkan. Mengingat para wisatawan bisa lebih dari sekedar liburan. “Secara massif kami terus meningkatkan literasi terhadap wisatawan dengan memberikan papan-papan informasi disetiap lokasi Gunung Sewu. Termasuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kami bekali mereka pengetahuan Geopark. Minimal di daerahnya sehingga mampu menyampaikan informasi mengenai Gunung Sewu,” kata Endang Surjasri Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Pacitan.

Daryono bersyukur, karena menilai masyarakat mempunyai kesadaran tinggi untuk menjaga alam. Terlebih pengakuan Unesco yang dirasa masyarakat sebagai anugrah yang harus dipertahankan dan dilesatarikan. “Konservasi, ekonomi, dan yang lain kami terus kaji bersama instansi lain dan para pemangku kebijakan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Berbagai komunikasi dilakukan Bupati Pacitan Indartato dengan seluruh elemen, termasuk kepada orang nomor satu di Wonogiri dan Gunungkidul. “Kawasan Gunung Sewu yang diakui dunia harus kita maksimalkan, supaya berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat bisa tercapai maksimal, melalui suport kepada Pawonsari (Pacitan, Wonogiri dan Wonosari. red) baik pendidikan, wisata dan sebagainya,” tegas Indartato.

Bicara Geopark semua terlibat didalamnya, termasuk para pelajar, Boby Rahman Hartanto Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Pacitan yang sempat diwawancara asesor itu mengaku bangga dengan keterkaitan Pacitan dalam peran Gunung Sewu, dirinya sadar sebagai genarasi penerus harus mempunyai banyak wawasan terhadap geologi khusunya di Kabupaten Pacitan. “Supaya kami nanti juga dapat menjaga alam kita yang kaya sejarah dan indah ini,” kata Boby.

Sebelum bertolak menuju Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah Arthur mengatakan penilaian dititikberatkan pada pengembangan menejemen Geopark, yakni pengembangan lokal, yang juga harus disampaikan ke masyarakat sekitar. Dan cara tersebut menjadi prioritas yang akan dilaporkan ke Unesco. (budi/rista/wawan/riyanto/jainul/yuko/anjar/wira/DiskominfoPacitan)

Bagian Hukum Gelar Cerdas Cermat Bertema Kadarkum; Upaya Tanamkan Siswa Siswi dan Masyarakat Sadar Hukum

Apa jadinya jika satu Negara atau wilayah tanpa ada hukum yang diberlakukan? Bisa jadi tempat tersebut menjadi kacau balau. Orang-orang akan melakukan perbuatan seenak jidat yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tapi meski adanya hukum yang sah dan diberlakukan, tetapi masyarakat tidak menyadari maka hasilnya akan sama.

 Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah, melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI menciptakan program untuk meningkatkan kesadaran terhadap hukum yang ada berupa Keluarga Sadar Hukum (Kadarkum). Pada tahun ini, pelaksana kegiatan di Pacitan yakni Bagian Hukum Setda Pacitan mewujudkannya dengan menggelar Lomba Cerdas Cermat kepada para siswa dan siswi tingkat SMA di Kabupaten Pacitan. 

 “ kegiatan ini kita laksanakan tahunan dengan berbagai segmentasi. Kali ini kita memilih usia pelajar, mengingat mereka masuk pada usia rentan, jika kita tidak beri pemahaman dengan baik di era global semacam ini kami kawatir akan terjadi permasalahan,” ujar Kabag Hukum Deni Cahyantoro 22/07/19 disela acara di Pendapa.

 Sebelum mengikuti lomba, siswa dan siswi tersebut terlebih dahulu memperoleh materi, meliputi UU Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkatan Jalan, UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, UU Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, UU Nomor 11 Tahun 2008 jo UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi UU yang harus dipelajari dalam kurun waktu 2 pekan. 

 Skema yang di pilih panitia pada perlombaan tidak monoton, sesi pertama peserta harus memberi performa terbaik berupa yel-yel sesuai tema 6 UU yang diberikan. Termasuk sesi lempar pertanyaan hingga sesi rebutan. “Level pertanyaan tahun ini kami coba cukup berat, tidak kami sangka masing-masing peserta dapat menjawab dengan baik, kami tidak menyangka sebelumnya,” lanjut Deni.

 Meskipun Deni tidak terlalu berharap banyak kepada siswa dan siswi peserta dan suporter, dirinya hanya ingin mereka sedikit mengerti berbagai hukum yang ada di Indonesia yang selanjutnya dapat menularkan kepada keluarga dan teman-temannya.

 Bupati Pacitan Indartato pada kesempatan itu berhalangan hadir, namun melalui Asisten Pemerintahan dan Kesra Mahmud, Bupati menegaskan bahwa penyadaran norma hukum dan cabangnya kepada masyarakat merupakan tugas pemerintah. Penyadaran hukum yang dikemas melalui cerdas cermat perlahan dapat mewujudkan masyarakat Pacitan sadar hukum. “Mengerti Kewajiban dan hak sebagai warga Negara dengan memahami sejauh mana kesadaran kita terhadap hukum itu,” kata Mahmud mewakili Bupati saat membuka acara. (budi/anj/pkl/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dinas Pertanian Gelar Bimtek Pemeliharaan Tanaman Jeruk Demi Maksimalkan Produksi

Tanaman Jeruk Baby Pacitan yang dikembangkan di Kabupaten Pacitan sejak tahun 2014 sudah mulai berbuah.  Pengembangan Kawasan jeruk ini terletak di Pacitan bagian utara, yakni Kecamatan Bandar, Nawangan dan Tegalombo.  Pembentukan kawasan jeruk merupakan bagian dari implementasi kebijakan Kementerian Pertanian, bahwa pembangunan komoditas unggulan diarahkan pada pengembangan kawasan yang terpadu secara vertikal dan horizontal, melalui konsolidasi usaha produktif berbasis lembaga ekonomi masyarakat yang berdaya saing tinggi di pasar lokal maupun internasional. Program tersebut perlu didukung secara optimal agar memberi dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

 Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan terus berupaya mendukung pengembangan kawasan Jeruk mulai dari bantuan Saprodi (pupuk dan bibit), bimbingan teknis, pembuatan SOP, Sekolah lapang GAP dan GHP serta bantuan alat mesin pertanian. 

 Seperti Kamis 18/07 kemarin, Poktan Rukun Tani dari Desa Penggung Kecamatan Nawangan mendapat jatah dilaksanakan Bimtek pemeliharaan tanaman Jeruk  dari Tim Teknis  Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian.  “Bimbingan itu menitik beratkan pada pemangkasan tanaman jeruk dan pemupukan,” kata Dian Anggari  Kasi Produksi Hortikultura Dinas Pertanian kepada Diskominfo.

 Mengingat pemangkasan ini sering diabaikan oleh petani, sehingga kondisi tanaman terlalu rimbun yang mengakibatkan mudah terserang hama penyakit. Karena kurangnya sinar matahari yang masuk. Akibatnya tanaman kurang sehat dan hasil produksi kurang bagus. “Peserta kita yang hadir adalah petani yang mendapat bantuan Jeruk Baby dan petugas pendamping. Kami sangat berharap para petani nanti menularkan ilmunya ke sesama anggota kelompok,” harap Dia.

 Dian juga mengatakan tujuan lain pemangkasan adalah untuk membentuk kerangka tanaman, mempercepat pertumbuhan, mengurangi serangan hama penyakit, dan untuk efisiensi unsur hara.  Sedangkan pemangkasan pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman yang sudah berproduksi berguna untuk mengatur produksi dan menjaga kesehatan tanaman. Pemangkasan pemeliharaan yang dilakukan pada saat produksi tinggi tidak boleh terlalu banyak karena pada kondisi ini karbohidrat (nutrisi) banyak yang hilang terangkut melalui panen.

 Pemupukan juga berperan penting dalam pemeliharaan tanaman jeruk.  Fenomena mutu buah jeruk nasional yang belum memuaskan dan munculnya gejala kekurangan hara pada daun yang bermuara pada kemerosotan kesehatan tanaman jeruk di beberapa sentra produksi, itu menunjukkan bahwa usaha menjaga kesuburan lahan yang dilakukan oleh petani melalui pemupukan masih belum sesuai dengan kebutuhan tanaman. Aplikasi pupuk tidak berimbang seperti pemberian urea berlebihan atau tanpa pupuk lain masih sering terjadi.  Akibatnya, tidak hanya mutu buah rendah (sari buah sedikit dan rasanya hambar) tetapi juga pemborosan dan bisa menimbulkan pencemaran nitrat dalam air.

 “Dalam bimtek petani mendalami nutrisi yang dibutuhkan, berapa dosisnya, kapan waktu dibutuhkan, dan bagaimana cara aplikasinya pada tanaman jeruk. Adanya pendampingan dalam bentuk bimtek pemeliharaan tanaman jeruk ini petani ke depan lebih memahami cara perawatan tanaman jeruk yang berujung pada peningkatan produksi,” imbuh Dian. (DinasPertanian/budi/wira/riyanto/DiskominfoPacitan)

Ceprotan Digelar Akhir Bulan Juli

Jangan lupa, Upacara Adat Ceprotan digelar 29 Juli mendatang, tepatnya hari Senin pasaran Kliwon, di Lapangan Desa Sekar, Kecamatan Donorojo.

 Selama puluhan tahun tradisi itu sangat diuri-uri oleh masyarakat Desa Sekar, dengan nuansa yang tetap berkonsep tradisional Ceprotan menjadi daya tarik masyarakat dan wisatawan. “Mereka saling melempar Cengkir atau kelapa muda, jadi unik sekali,” ujar Agus Ansori Mudzakir anggota Calender Of Event 2019 19/07.

 Mudzakir juga mengingatkan rangkaian Ceprotan dimulai sejak pagi mulai tari-tarian dan yang lain, namun inti acara selalu digelar menjelang matahari terbenam. “Kalau ingin melihat keunikan Upacara Adat Ceprotan monggo nanti bisa datang di waktu yang dijadwalkan,” tambahnya menghimbau. (DiskominfoPacitan).

Jangan Cemas; Tidak Ada Kelangkaan Gas LPG 3 Kg Di Pringkuku

Ramai diperbincangkan di jejaring sosial, kelangkaan Gas LPG 3 Kilogram di Wilayah Pringkuku Pacitan, dengan tegas Agus Wiyono Ketua Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana) Madiun mengatakan kabar itu tidak benar alias hoax.

 “Ini bisa memicu keresahan masyarakat loh,” ujarnya saat Rapat Koordinasi Terkait Laporan Kelangkaan Gas LPG 3 Kilogram Bersubsidi di Ruang Rapat Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) pagi ini 18/07.

 Dari awal Pemda melalui Disperindag merespons cepat kondisi tersebut dengan terjun langsung ke agen dan pangkalan di Kecamatan Pringkuku. Berbekal data yang dihimpun, membuat Agus ogah menanggap ataupun menjustifikasi.

 Jikalau benar adanya terjadi kelangkaan Gas Bersubsidi tersebut maka Disperindag bersama Hiswana tentu akan mengambil langkah strategis. Yakni mengajukan permohonan penambahan alokasi fakultatif ke Pertamina Rayon IV Madiun sebelum masyarakat kebingungan, karena pemerintah memilik data yang akurat.

 Sementara Sekretaris Disperindag Kukuh Sutiarto berharap kepada masyarakat agar tidak perlu cemas tentang kabar tersebut, “Tidak ada kelangkaan, melainkan peningkatan kebutuhan masyarakat,” pungkas Kukuh. (riyanto/budi/wira/DiskominfoPacitan).

Jangan Takut Tamasya Ke Pacitan

Banyak yang bertanya-tanya, amankah berwisata ke Pacitan setelah beredar kabar diberbagai media Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A yang terjadi akhir-akhir ini. Bupati Pacitan Indartato dengan tegas mengatakan berwisata di Pacitan sangat aman dari Virus tersebut. “Masalah ini secara umum sudah selesai,” ungkap Bupati disela Tilik Warga di Sudimoro Kemarin 18/07.

 Pihaknya menegaskan bahwa sampai sekarang tidak ada pasien baru, meski diakui Bupati bahwa satu dua pasien sempat kambuh karena memaksakan diri beraktivitas, itu pun masyarakat yang berada di timur Pacitan, dan kenyataan wilayah wisata berada di barat Kota Pacitan yang kenyataannya bebas Hepatitis A.

 Meskipun harus menjajal berwisata di timur kota, Bupati pastikan tetap aman, karena kini sudah tidak ada penyebaran virus, termasuk di Sudimoro sekalipun, didukung penyebaran penyakit Hepatitis A tidak terjadi di daerah wisata. “Meski KLB, harus diketahui bersama bahwa penyebaran penyakit itu hanya 0,17 persen saja dari seluruh masyarakat, dan terlokalisasi,” papar Dia.(budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bupati Serahkan Air Bersih dan Lihat Kondisi Terkini Sudimoro

Meski hingga kini nihil pasien baru, namun beberapa pasien Hepatitis A yang sudah diperbolehkan pulang di Kecamatan Sudimoro terpaksa harus kembali di rawat di Puskesmas setempat. Kondisi tersebut membuat Bupati Pacitan Indartato merasa sedih. “Jangan beraktivitas dulu sebelum benar-benar sehat,” ujar Dia saat menjenguk pasien dan Tilik Warga penyerahan Bantuan Air Bersih di tiga desa di Kecamatan Sudimoro kemarin 17/07.

 Dari awal pemerintah memang serius menyelesaikan pagebluk ini, terlebih didukung Pemprov Jatim dan Pemerintah Pusat. Meski sebenarnya Hepatitis A atau biasa disebut Sakit Kuning ini notabene bukan penyakit berbahaya, cukup istirahat cukup dan makan bergizi akan sembuh dengan sendirinya. Namun pemerintah ogah pasif, dari awal Bupati dan seluruh jajaran di garis terdepan.

 Termasuk akar permasalahan yang ditengara masalah air, sesuai dengan arahan Bupati, Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo mengatakan wilayah KLB Hepatitis A menjadi prioritas utama, mendahului wilayah kering kritis dan kering langka. “Satu desa bisa sampai empat tangki,” ungkapnya.

 Kemudian, jamban juga kerap dituding menjadi penyebab penyebaran, konon ceritanya banyak warga yang masih menggunakan jamban komunal, Bupati mengambil jalan dengan menerjunkan seluruh Perangkat Daerah (PD) supaya mempunyai desa binaan. Caranya yakni mendata KK yang masih menggunakan jamban komunal, setelah sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah juga akan memberi bantuan yang sama. “Termasuk bersama kami akan mencari sumber air baru,” imbuhnya. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Nikmati; Sunset Dari Pantai Kasap

Banyak yang belum tahu bahwa di kawasan wisata Desa Watukarung, Pacitan merupakan satu satunya tempat yang menyajikan 10 tempat wisata pantai dan 1 wisata sungai, hal ini menjadi keunikan tersendiri dari wisata tersebut.

Termasuk yang belum banyak diketahui adalah Pantai Kasap. Katanya pantai ini mirip dengan Raja Ampat di Papua, sehingga dijuluki Raja Ampatnya Pacitan. Daya tarik Pantai Kasap bukan dari pasir putih dengan ombak yang merayu-rayu, melainkan pemandangan bukit bukit dan hamparan laut samudera Hindia yang luas.

Termasuk penampakan sunset yang indah, kini Kasap menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan matahari tenggelam diufuk cakrawala, mempesona, tidak kalah menakjubkan karena penampakan sunset berbeda dengan lokasi lain.

Di tempat tersebut disediakan gardu pandang yang berada di atas bukit. “Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung yang ingin memanjakan mata menikmati keindahan Kasap. Disini juga bisa diguanakan ,untuk Camping” Kata Ari Setiwan petugas Pantai Kasap 14/7/19.

Kasap tak selalu ramai dikunjungi, utamanaya di waktu sore, sebelum matahari tenggelam. Dan saat libur panjang dihari besar dan libur sekolah, pernah juga di Bukit Kasab yang sempit tersebut dimasuki 1000 wisatawan. Beruntung lokasi Kasap meskipun sempit namun memiliki tempat terbuka, sehingga tetap ,nyaman bagi pengunjung.

Seperti halnya Hudha, wisatawan dari Yogyakarta ini nekat ke Kasab bersama rimbongan hkarena begitu penasaran menyaksikan eloknya Sunset yang ia lihat di Sosmed. “Saya suka dengan sunset, dan hari ini saya coba untuk menikmati sunset di pacitan bersama-sama teman,” tuturnya.

Pantai Kasab berada di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku, 30 Kilometer dari Pusat Kota Pacitan, berada di sebelah timur Pantai Watukarung dan wisata sungai Kali Cokel. (adit/pkl/DiskominfoPacitan).

Adu Kelapa Warisan Dan Cikal Bakal Desa Cemeng

Beberapa gadis tampak berseri-seri mengenakan kostum tari lengkap dengan selendang warna hijaunya, termasuk Reta Wulandari yang terlibat dalam Upacara Adat Bersih Desa Adu Kelapa di Hari Jadi Desa Cemeng yang dilaksanakan setiap penghitungan Jawa yaitu Bulan Longkang, Harinya Senin dan Pasaran Legi atau kemarin 15/07.

 Adu kelapa mengisahkan lahirnya Desa Cemeng, desa ini berada di Kecamatan Donorojo, sekitar 40 Kilometer dari pusat kota, dan berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. 

 Desa Cemeng ini awalnya bernama Desa Banaran, sampai pada era penjajahan Kolonialisme Belanda semua orang sibuk menghadapi, termasuk Kanjeng Jimat Bupati Pacitan saat itu, merasa harus datang ke Banaran untuk memberi tahu kedatangan Belanda.

 Usai memberi tahu masyarakat Kanjeng Jimat merasa kehausan dan melihat ada kelapa yang bisa diminum airnya. Lantas kanjeng Jimat yang didampingi oleh Kerto Gati mengadu kelapa supaya pecah. Tapi ternyata usai mengadu kelapa muncul asap berwarna putih dan hitam, warna hitam yang mengarah ke Desa Banaran membuat Kanjeng Jimat mengubah desa tersebut menjadi Desa Cemeng.

 Sutarno pemeran Kanjeng Jimat di acara Adu Kelapa itu, mengaku begitu menghayati perannya,  ia mengingat Adu Kelapa adalah budaya warisan leluhurnya yang harus di jaga membuat Sutarno tidak membutuhkan waktu lama mendalami perannya. “Semua kami lakukan dengan senang,” ujarnya usai acara yang di gelar di halaman Kantor Desa Cemeng itu kepada Diskominfo Pacitan. 

 Semua warga terlibat di acara itu, bahkan untuk peran utama dalam acara Adu Kelapa warga masyarakat harus merebutkannya, menurut Supriyanto Pj. Kepala Desa Cemeng adalah bentuk rasa cinta seluruh masyarakat terhadap Adu Kelapa. “Dari sini kami ingin Adu Kelapa mendapat perhatian dari Pemkab. Supaya dapat sejajar dengan Ceprotan dan yang lain,” harap Dia.

 Semua kagum menyaksikan Adu Kelapa, termasuk Deri Putra Wijaya, Warga Yogyakarta itu terpukau dengan semua rangkaian. Tapi Deri merasa eksotis seni tersebut berkurang, lantaran detail acara seperti Sound dan jadwal acara yang molor. Belum lagi beberapa penonton tidak dapat menyaksikan acara dengan sempurna karena terhalang pagar, “Acara seperti ini tidak ada di tempat kami, saya rasa jika dikemas dengan baik menjadi luar biasa,” katanya.

 Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Suyadi hadir dalam hari jadi itu  mengaku senang karena setiap tahun kegiatan semakin besar, penonton semakin banyak, ia berharap seni Adu Kelapa di tahun depan dikemas menjadi seni pertunjukan, supaya menarik lebih banyak lagi wisatawan. “Segala masukan dan evaluasi terus kami lakukan supaya acara semakin baik,” pungkas Dia. (TimDiskominfoPacitan).

RSUD dr. DARSONO Terima Tim Survei SNARS Ed. I

Usai berinovasi menciptakan aplikasi pendaftaran berbasis online bernama “RSUD dr. DARSONO”, kini peningkatan standar kualitas pelayanan dilaksanakan yang ditandai hadirnya Tim Survei Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi (Ed) I, dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang di pimpin dr. Tumpal Simatupang, berjalan pagi ini (15/07) di ruang Telusur Medis Lantai 3 RSUD dr. Darsono Pacitan.

Program nasional yang berkomitmen menciptakan rumah sakit yang mumpuni di Indonesia tersebut akan memotret Rumah Sakit dr. Darsono Pacitan saat mengimplementasikan standar yang ada, baik menejemen, dokter, perawat dan lain-lain. “Bagaimana kami disambut merupakan ceriman bahwa RSUD dr. Darsono berkomitmen untuk maju,” ujar Ketua Tim dr. Tumpal Simatupang.

Bupati Pacitan Indartato menyambut baik momentum ini. Apalagi, Pemerintah Pacitan memang fokus mengahadirkan rumah sakit mumpuni yang dapat memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh warga Pacitan. “Mengingat dulu masyarakat harus berobat keluar kota jika sakit,” ucap Bupati.

Melalui survey yang dilakukan Rumah Sakit Tipe C tersebut akan semakin menjadi lebih baik serta menjad berkah bagi seluruh masyarakat melalui profesionalitas yang sesuai dengan standar pusat. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

DLH Bangun Budaya Sadar Lingkungan Dengan Tilik Kebersihan

Upaya membudayakan segenap lapisan untuk selalu peduli terhadap lingkungan dari sampah memang tidak gampang, meski Kabupaten Pacitan sendiri telah 14 kali berturut-turut memboyong Piala Adipura namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan tidak lantas berpangku tangan menikmati keberhasilan.

 Seperti pagi ini, Jumat 12/07, DLH bersama warga Desa Sumberharjo kompak kerja bakti pada acara Tilik Kebersihan. Edi Yunan Ahmadi orang nomor satu di DLH memaparkan setidaknya dalam setahun dilaksanakan 15 kali Tilik Kebersihan. “Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan cukup konsisten, namun kami harus terus menggelar sosialisasi semacam ini supaya menjadi budaya bagi semua elemen masyarakat tanpa terkecuali,” ujarnya.

 Hariyadi Kepala Desa setempat pun semringah dengan kegiatan itu, walau kini sebagai juara dalam Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tingkat Kabupaten tapi Sumberharjo yang lagi fokus menciptakan desa wisata tentu merasa terdorong melalui peningkatan kesadaran lingkungan. “Sehingga desa kami semakin bersih dan indah,” kata Dia.

 Dari berbagai hal positif yang diraih, hal menarik menjadi catatan Green wave, salah satu mitra DLH tersebut berharap sarana dan prasarana kebersihan di desa-desa untuk dipenuhi. meski disadari harapan itu tentu membutuhkan waktu mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. “Secara bertahap saya harap diperhatikan, namun kami cukup bangga dengan kegiatan ini yang digelar berkelanjutan,” ungkap Budi Ihwanudin Ketua Krida Green wave kepada Diskominfo Pacitan. (budi/anj/pkl/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dinas Koperasi Dan UM Pacitan Wadahi Muda-Mudi Pencari Kerja

Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro Pacitan berkomitmen memfasilitasi para lulusan baik dari perguruan tinggi maupun SMA/Sederajat supaya segera bekerja. Terbukti dengan selalu digelarnya Job Fair tiap tahunnya. Seperti pada tahun ini, 30 perusahaan membuka kesempatan bagi lulusan Pacitan yang belum memperoleh pekerjaan. “Kita utamakan perusahaan yang berada di Pacitan, berjumlah 9 perusahaan,” kata Kepala Dinas Koperasi Dan UM pada pembukaan Job Fair 2019 kemarin 10/07 di halaman PLUT Pacitan.

 Eny tidak hanya memberi informasi dan wadah semata, pihaknya berkomitmen melayani para lulusan tersebut dengan menyiapkan fasilitas tes yang memerlukan rekrutmen langsung di tempat yang berada di lantai 2 PLUT.

 Job Fair 2019 digelar hingga hari ini Kamis 11/07. Kelonggaran waktu yang disediakan penyelenggara dimaksudkan mempermudah pelamar. Salah satu peserta stan yang bergerak di bidang Garmen Manufaktur dari kabupaten Wonogiri masalnya, butuh secepatnya 250 tenaga kerja. “Kami utamakan yang dari Kabupaten Pacitan. Karena etos kerja orang Pacitan dikenal baik,” ujar Defari Pradana Staff Rekrutmen kepada Diskominfo.

 Sementara Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Mahmud, saat membuka acara mewakili Bupati Pacitan Indartato mengungkapkan setiap tahun Kabupaten Pacitan meluluskan 800 lulusan baik dari SMA/Sederajat dan Perguruan tinggi tersebut mendukung berbagai program yang dilaksanakan termasuk Job Fair ini. “Memberi kesempatan pencari kerja. Dan kami tekankan, lulusan di Pacitan setiap tahunnya mengalami kenaikan secara kualitas,” (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Lagi, Pacitan Terima Mahasiswa KKN Tematik dari UNS Surakarta dan Unej Jember

Gusti Ayu Mela Tetangga artis papan atas Luna Maya begitu penasaran dengan Pacitan, tempat ia akan melaksanakan KKN Tematik, tepatnya di Desa Candi Kecamatan Pringkuku.  Ada banyak yang akan Mela lakukan bersama teman-temannya, tapi fokusnya meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengolah kelapa yang banyak dijumpai di Desa Candi. “Secara, fokus kamu UMKM,” Kata Mela perempuan asli Bedugul, Provinsi Bali tersebut disela penerimaan Mahasiswa KKN dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Universitas Jember Periode Juni –Agustus 2019 di Pendapa kemarin 09/07.

 KKN yang dilakukan di dua kecamatan yakni Pringkuku dan Donorojo tersebut disambut baik oleh Supriyanto selaku Pj. Desa Cemeng Donorojo, pihaknya sesuai kesepakatan berharap kehadiran mahasiswa dapat mengangkat produk Desa Cemeng baik Kacang Slimut, Rengginang dan yang lain. “ Utamanya teknis pemasaran melalui Media Sosial sesuai tren yang ada,” ujar Supriyanto.

 Mengingat komitmen yang disepakati, Pemerintah Kabupaten Pacitan membuka seluas-luasnya kesempatan KKN di Pacitan. Selain memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan tinggi. Juga diharapkan terjadi pertukaran ilmu yang dimiliki masyarakat Pacitan yang terkenal dengan lingkungan adem ayem dan pengetahuan akademis yang dipunya para mahasiswa.

 Terlebih manfaat langsung yang bisa diterima adalah pengenalan destinasi wisata Pacitan, sebab sangat mungkin usai bertugas mahasiswa yang notabene KKN di sekitar tempat wisata dapat menyempatkan diri berwisata. “Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan siap menerima program-program selanjutnya demi kemajuan bersama,” kata Joni Maryono Asisten Perekonomian dan Pengembangan mewakili Bupati Pacitan Indartato. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

RSUD dr. Darsono Luncurkan Aplikasi Pendaftaran Online

Didin Sunaryati warga Sidoharjo Pacitan pernah mempunyai cerita yang mungkin sama dirasakan kebanyakan masyarakat Kabupaten Pacitan, mengantar Ibunda tercinta berobat di salah satu Poli di RSUD dr. Darsono Pacitan. Yang harus berangkat pagi buta untuk mendapat nomor antrean. “Kalau tidak berangkat subuh ya gak dapat nomor,” ungkapnya.

 Menyikapi itu, pihak rumah sakit tidak tinggal diam, berbagai kebijakan dilakukan seperti perluasan dan penambahan petugas, membuka pendaftaran melalui media Whatsapp. Tapi ternyata semua itu tidak cukup menampung pasien yang kian bertambah banyak. Dan Pasien di depan 17 Poli yang ada kembali berjubel setiap harinya hingga 600 pasien.

 Sampai enam bulan lalu ide brilian muncul dengan dibentuknya Tim TI RSUD, merancang satu sistem pintar, memudahkan pasien mendaftarkan diri dengan satu langkah saja. “Cukup Download aplikasi kami RSUD dr. Darsono kita tidak perlu capek-capek lagi antre dari subuh,” ujar Mamik Rahmanto Kepala Tata Usaha (TU) pada Sosialisasi Aplikasi RSUD dr. Darsono Pacitan kemarin 09/07 di Ruang Pertemuan Lantai 3 mewakili Direktur Imam Darmawan.

 Ternyata tidak sekedar hanya untuk daftar, Aplikasi RSUD dr. Darsono juga dapat melihat daftar antrean, kamar kosong, harga kamar hingga daftar dokter piket. “Hari ini kami baru sosialisasi, namun sudah bisa digunakan,” jelasnya.

 Pihaknya memang bertekat untuk berbenah demi memberi pelayanan terbaik pada seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan sesuai dengan tugas fungsi yang ada. “Kami tinggal tunggu momentum yang tepat untuk Launching, namun terpenting adalah sudah dapat digunakan,” tegas Mamik.

 Kini, Didin dan semua masyarakat Pacitan merasa lega dengan hadirnya Aplikasi RSUD dr. Darsono, selain sangat memudahkan pendaftar juga dirasa sangat gampang dioprasikan.

 (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Wadule Terus Berbenah Melayani Semua Aduan Sampai Tuntas

Bagaimana pun, Wadah Aspirasi Dan Pengaduan Layanan Secara Elektronik (Wadule) adalah sarana masyarakat dan pemerintah untuk memajukan Kabupaten Pacitan, demikian adanya maka Bupati Pacitan Indartato enggan wadah ini hanya aplikasi formalitas yang tidak memberikan penyelesaian atau tindak lanjut dari unek-unek yang disampaikan.

 “Bupati dan pemerintah pusat tidak mau hanya Live Service (Terima kasih atas aduannya, secepatnya akan kami tindak lanjuti). Namun sampai tindak lanjut yang berujung pada penyelesaian,” ujar Rachmad Dwiyanto Kadiskominfo pada Rapat Evaluasi Pengaduan Masyarakat di ruang PPID Diskominfo Pacitan 09/07.

 Sesuai harapan Bupati dan Pemerintah Pusat melalui Kemenpan RB bahwa Wadule yang terintegrasi dengan Lapor dan SP4N harus dikelola dengan sebaik mungkin. Artinya sekonyong-konyong datang satu laporan maka melalui Bidang Informasi Diskominfo Pacitan akan meneruskan laporan ke PD terkait untuk di jawab dan ditindak, yakni turun langsung menyikapi laporan itu.

 “Semisal aduan di satu jalan, maka PD terkait harus melihat langsung jalan tersebut, mengidentifikasi kerusakan dan sebagainya, dan terpenting memberi kejelasan kapan pembangunan dapat terlaksana. Jadi ada kepastian,” jelas Rachmad.

 Rachmad pun sadar, mengelola ratusan laporan masyarakat tidak gampang, maka profesionalitas terus di jaga dengan selektif terhadap aduan yang masuk di Akun Wadule yang terindikasi kepentingan. Maka pihaknya dengan instansi terkait selektif melakukan cek dan recek berbagai laporan.

 Sementara Agus Ansori Mudzakir Kabid Informasi yang memegang langsung Wadule menegaskan, respons masing-masing instansi sudah lebih baik berkat pemahaman yang diberikan pada setiap evaluasi yang rutin digelar. “Semua petugas termasuk dari masing-masing instansi sudah semakin bagus responsnya dan akan terus kami tingkatkan supaya tujuan Bapak Kadis dan Bupati tercapai,” pungkas Mudzakir. (timDiskominfoPacitan).

Jemaah Calon Haji Pacitan Berangkat Dinihari

Para jamaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Pacitan diberangkatkan menuju asrama haji Surabaya dari pendapa kabupaten Sabtu (6/7/2019) dini hari. Mereka dilepas oleh Bupati Indartato dan Wakil Bupati Yudi Sumbogo bersama dengan jajaran Forkopimda. “Semoga selama perjalanan ke tanah suci dilindungi dan diridhoi Allah SWT,” kata Bupati.

Tahun ini jumlah JCH Kabupaten Pacitan sebanyak 197 orang. Terdiri dari 89 orang jamaah laki-laki dan sisanya perempuan. Jamaah tertua adalah Joyosemito (89) dari Kecamatan Sudimoro. Sebaliknya, predikat jamaah termuda disandang Zaki Nurdin (29) asal Kelurahan Baleharjo, Pacitan.

Mereka diberangkatkan menggunakan lima unit bus dan dijadwalkan memasuki asrama pukul 12.00 WIB siang. Setelah beristirahat, 24 jam kemudian bertolak ke tanah suci dari bandara Juanda dalam kelompok terbang 04 bersama jamaah dari Kota Madiun dan Surabaya.  

Seperti tahun sebelumnya pemerintah kabupaten kali ini juga memberikan bantuan berupa transportasi dari Pacitan menuju Surabaya. Demikian pula nanti saat kepulangan jamaah haji yang dijadwalkan akan tiba kembali di tanah air tanggal 19 Agustus pukul. 05.35 WIB pagi. “Semoga, sekembalinya dari tanah suci, menjadi haji yang mabrur dan contoh untuk masyarakat,” harap Indartato. (arif/danang/katwadi/humaspacitan)

Jadi BLUD Plus Yang Pertama di Jawa Timur

SMKN 2 Donorojo, Pacitan menjadi yang pertama penyandang predikat Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Plus di Jawa Timur (Jatim). Dengan titel tersebut, salah satu sekolah kejuruan diwilayah barat kota kelahiran Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ini berhak mengelola pendapatan dari proses usaha yang dihasilkan. “Hari ini di Jawa Timur ada 20 SMK BLUD. Tapi yang plus itu yang baru di Donorojo ini lho,” kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat penandatanganan piagam serah terima gedung SMKN 2 Donorojo dan penandatanganan nota kesepahaman antara Yayasan Pendidikan ASTRA Michael D Ruslim dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim di Desa Kalak, Donorojo, Minggu (7/7/2019). Kategori plus yang disematkan itu karena ada salah satu jurusan, yakni agribisnis pengolahan hasil pertanian (APHP), yang mengolah kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) serta produk turunan lainnya mendapatkan dukungan dari pihak swasta.

Mantan Menteri Sosial ini pun lantas berharap agar inisiasi di sekolah ini akan mendorong semangat masyarakat. Tidak hanya dilokasi sekolah saja, tetapi seluruh masyarakat di Kabupaten Pacitan. Karenanya ia berkeinginan agar proses pendampingan dari pihak yayasan tidak lantas berhenti begitu saja. Namun tetap berkelanjutan sampai pada jejaring pasar. Terlebih diera teknologi informasi seperti sekarang, celah pasar sangat terbuka lebar. Tidak hanya nasional saja, tetapi juga dunia. “Hari ini tidak susah untuk itu (mencari pasar produk). Asal kualifikasinya terpenuhi. Ada format-format digitalisasi ekonomi, finansial teknologi memungkinkan, dengan akses yang bisa dibantu oleh Astra, VCO untuk dijual. Apalagi kalau penjualan secara online itu sudah memungkinkan, maka pasar itu begitu terbuka. Tidak hanya regional, nasional, tetapi juga internasional,” harapnya.

Usai kegiatan tersebut, Gubernur dan Bupati Pacitan bersama Forkopimda kemudian memberikan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami kekeringan. Penyerahan dilakukan secara simbolis di Dusun Dokwaru, Desa Bomo, Punung. (humaspacitan/DiskominfoPacitan)

Disperindag Gigih Restorasi Kejayaan Pasar Sawo

Tidak ada yang tahu persis kapan dan kenapa Pasar Sawo yang berada di Alun-Alun Timur tersebut menjadi sepi, namun dari gambaran kelompok Teatrikal Pasar Sawo yang diperagakan Putra Dan Putri Batik Pacitan menggambarkan konon Pasar Sawo adalah pusat kota Pacitan.

 “Intinya kami ingin tempat ini kembali menjadi sentra seperti dulu sebelum tahun 80an. Pasar Sawo pusat ekonomi kerakyatan, ”kata Supomo Kepala Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) Pacitan pada Pembukaan Festival Pasar Sawo 2019 kemarin 06/07/19.

 Restorasi ikon yang di gagas Disperindag tersebut meraih banyak dukungan berbagai pihak, termasuk pengusaha dan seniman. Namun rencana cantik itu bukan tanpa kesulitan utamanya pergeseran kultur masyarakat saat ini dan  40 tahun lampau.

 “Maka semua akan kita sesuaikan dengan budaya sekarang, kita buat stand foto Selfi misal di lantai dua, Fashion Show Batik Pace oleh putra-putri terbaik kita, bahkan kita sediakan Live Musik (Sarwo Muni) binaan kita dan aneka kuliner khas Pacitan yang kita jajakan termasuk di Car Free Day,” tambah Supomo.

 Meramaikan Pasar Sawo memang menguntungkan semua elemen baik masyarakat hingga pemerintah. Tapi menurut Sekda Pacitan Suko Wiyono yang hadir dan membuka acara mewakili Bupati Pacitan Indartato mengatakan, mengembalikan Pasar Sawo sebagai etalasenya Pacitan kudu dibarengi dengan peningkatan kualitas produk. “Supaya kita bisa bersaing dengan produk kota lain. Karena ke depan wisatawan yang berkunjung ke Pacitan kita harapkan mampir kesini,” harap Suko.

 Lagi, menurut Sekda Pasar Sawo juga tumbuh menjadi pusat sosialisasi pengusaha Pacitan untuk berbagi pengalaman, wawasan bahkan jaringan, disamping muda-mudi harus disiapkan wadah yang sesuai dan beraneka ragam. “Kajian demi kajian sangat perlu untuk tujuan yang diharapkan,” tambahnya.

 Luki Indartato Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) kabupaten Pacitan merasa senang dengan obsesi itu. Di mana Luki teringat kenangan-kenangan Pasar Sawo dengan segala fungsinya. Ia berharap khususnya kuliner yang ada di Pasar Sawo benar-benar terangkat, selain untuk bernostalgia kembali seperti apa kejayaan pasar itu juga menambah kesempatan baru meningkatkan ekonomi masyarakat. “Maka setuju jika Festival Pasar Sawo dilaksanakan setiap tahun,” pungkas Luki. (Budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Laut Barat Pacitan Jadi Pilihan Tebarliar Benur Senilai Rp. 17 Milyar

Puluhan pria yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Sidorukun I tampak semringah melihat kehadiran rombongan dari Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Surabaya I, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP), Unit Pelaksana teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan dan Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Pacitan. Lantaran rombongan itu membawa 113.212 ekor Benur atau Baby Lobster berjenis Mutiara (Panulirus Ornatus) yang akan ditebarliarkan di laut Watukarung Pacitan. “Gak main-main estimasi kami total senilai 17 Milyar Rupiah,” papar Muhli Kepala BKIPM Suarabaya Pagi ini 05/07/19.

Penebarliaran kali ke-4 tersebut merupakan  hasil penyelamatan Team Gabungan Subdit 4 Bareskrim dan BKIPM Jambi pada Selasa 02 Juli 2019 yang akan diselundupkan ke Negara Vietnam. Muhli menjelaskan bisnis illegal yang juga sangat merugikan para nelayan tersebut kian marak dilakukan. “kami tegas siapapun pelakunya, hasilnya mereka berakhir di jeruji besi,” tambahnya.

Sedikitnya sudah tiga hari benur berukuran 2,1 centimeter dan berat  0,416 itu disimpan di plastik dalam kondisi pingsan, meskipun dijaga dan dirawat baik namun 20 persen diantaranya diakui Muhli terpaksa harus dilepas diawal supaya tidak mati.

Pemilihan lokasi penebarliaran bener itu atas perintah langsung Menteri Kelautan Dan Perikanan Indonensia Susi Pudjiastuti, lantaran wilayah tersebut bebas dari pelak dan keramba. Tugas bersama yang dilakaukan UPT PPP Tamperan bersama Dinas Perikakan Pacitan adalah menjaga paska penebarliaran serta terus menjaga ekosistem laut Pacitan. “Berbagai sosialisasi akan terus kami lakukan,” terang Ninik Setyorini Kepala UPT PPP Tamperan.

Kalimat senada disampaikan Kasi Sumber Daya Ikan Dinas Perikanan Pacitan Ahmad Fauzi, pihaknya mewakili masyarakat Pacitan merasa bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah yang mempercayakan Pacitan sebagai tempat penebarliaran. Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya kelestarian dan kekayaan laut Pacitan. “Untuk nelayan daerah sini (Desa Watukarung dan sekitar) memiliki kesadaran tinggi mengingat laut adalah mata pencaharian utamanya,” kata Ahmad. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pacitan Berangkatkan 85 Atlet Targetkan 20 Besar di Perprov 2019

“Makan nasi dibungkus daun talas, raih prestasi jaga sportivitas,” kata Bupati Pacitan Indartato berpantun di hadapan 85 atlet Pacitan yang bakal berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Perprov)Ke- VI Jawa Timur 2019 saat pembekalan di Pendapa pagi ini 03/07.

Kabupaten Pacitan rencananya fokus di 13 cabang olahraga (Cabor) yang di laksanakan di empat kota, yakni Gresik, Tuban, Lamongan dan Bojonegoro dari tanggal tanggal 06 sampai dengan 13 Juli mendatang. 

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pacitan Sugi Hariyanto mengaku masih banyak kekurangan sarana dan prasarana yang memaksa persiapan atlet  tidak maksimal. Sugi berharap pemangku kebijakan mengambil langkah demi prestasi Pacitan di setiap kesempatan. “Perprov sebelumnya kita berada di angka 26, kami menarget tahun ini naik di angka 20,” harap Sugi disambut riuh tepuk tangan.

Mengingat 3 indikator daerah atau Negara maju salah satunya adalah prestasi olahraga maka sesuai usulan untuk menambah bonus bagi peraih medali tetap menjadi prioritas Bupati Indartato. Hal itu sebagai bentuk rasa bangga pemerintah untuk kerja keras atlet. “Kebetulan Bapak ketua DPRD hadir, Usulan KONI tentang sarana dan prasarana supaya dipermudah,” Pungkas Bupati Indartato. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Peringatan Harganas; Maksimalkan Fungsi Keluarga Untuk Anak Bangsa

Keberadaan keluarga sangat penting untuk membangun suatu bangsa, maka sejak 29 Juni 1993 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres ) Nomor 39 Tahun 1993 Tentang Hari Keluarga Nasional (Harganas).

 “Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian anak bangsa dan kehidupan bernegara,” kata dr. Tri Hariadi Hendra Purwaka Kepala  Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (PPKB Dan PPPA) Kabupaten Pacitan pada peringatan Harganas 02/07.

 Bahkan keluarga harusnya mempunyai fungsi “delapan fungsi keluarga” mulai fungsi agama, cinta kasih, pendidikan, perlindungan, ekonomi, reproduksi, sosial budaya dan fungsi lingkungan. Diharapkan setiap keluarga mengetahui dan memahami dan mengimplementasikannya. “Semua itu satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Niscaya akan tumbuh generasi yang berkarakter dan pribadi terpuji di tengah era yang serba transparan ini,” lanjutnya.

 Melihat pentingnya fungsi utamanya untuk anak bangsa, diharapkan secara bertahap Hari Keluarga lebih membumi. Supaya lebih dirasakan nuansa cinta, kasih dan sayang antar anggota keluarga-keluarga di masyarakat. “Betapa indahnya jika pada 29 Juni semua orang berjabat tangan mengucapkan Selamat Hari Keluarga,” harap Hendra.

 Sementara berbagai capaian di raih Dinas PPKB Dan PPPA, utamanya adalah pendewasaan usia pernikahan di Pacitan dengan selalu menggandeng kelompok remaja seperti Generasi berencana (GenRe). “Bersyukur angka nikah dini tahun demi tahun mengalami penurunan yang signifikan, yang kemarin berada pada angka 23 persen menjadi 18 persen,” targetnya.

 Fokus lain dan prioritas adalah keluarga sadar keluarga berencana namun tidak ikut program KB berada diangka 9 persen, menurut Hendra hal itu berbahaya. Pasalnya jika hamil menjadi kehamilan yang tidak diinginkan. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Hepatitis A Sudah Terkendali

Keterangan foto: Penderita hepatitis A paska opname melakukan kontrol dokter di Puskesmas Sudimoro.

Pemerintah Kabupaten Pacitan bersama pihak-pihak terkait berhasil mengendalikan laju wabah penyakit hepatitis A. Dimana total jumlah warga terpapar mencapai 975 orang. “Jumlah penderita kini semakin turun,” kata Bupati Indartato ketika kegiatan press release di ruang rapat, Senin (1/7/2019). Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) diketahui, jumlah penderita penyakit kuning yang masih menjalani rawat inap disejumlah fasilitas kesehatan milik pemerintah per tanggal 1 Juli hanya tinggal 30 orang. Mereka berada di Puskesmas Sudimoro, Ngadirojo, Wonokarto, Tegalombo, dan RSUD dr. Darsono.
Penurunan angka penderita terjadi setelah keluarnya SK No : 188.45/973/KPTS/408.12 tanggal 25 Juni 2019 tentang penetapan status Kejadian Luar Biasa Hepatitis A. Dengan ditetapkannya status itu tindakan penanggulangan akan lebih intensif dalam memutus mata rantai penularan penyakit, sampai semua penderita sembuh dan tidak ditemukan kasus baru. Kegiatan pengendalian sudah dilakukan oleh semua lini di jajaran Pemda Pacitan dibantu Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, TNI, POLRI, FETP Unair, para relawan dan dukungan semua sektor.

Pengendalian meliputi tatalaksana kasus yang lebih intensif, surveilans kesehatan yang lebih akurat, pengendalian faktor resiko, dan edukasi pencegahan pada masyarakat. Jika kemudian tidak ditemukan kasus hepatitis A baru status KLB kemungkinan dapat diakhiri paling cepat pertengahan bulan ini. (arif/nasrul/juremi tomas/humaspacitan/diskominfopacitan) *)

Fokus Putus Mata Rantai Penularan Hepatitis A

Pagebluk Hepatitis A yang melanda Pacitan beberapa minggu terakhir, memaksa semua elemen bertindak. Tanpa terkecuali Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, menggandeng Pemerintah Kabupaten Pacitan menggelar Doa Bersama di Alun-alun dan dilanjutkan Sosialisasi Cegah Hepatitis A dengan Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kemarin Minggu 30/06 di Alun-alun.

 Fitria Dewi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Provinsi mewakili Kepala  Dinas menegaskan langkah lokalisasi yang dilakukan pemerintah daerah sudah tepat, menahan laju penyebaran penyakit dan memutus rantai penularan. “PHBS utamanya harus terus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat,” kata Dewi kepada Diskominfo Pacitan. Pihaknya juga berharap masyarakat agar tidak panik dengan berbagai informasi yang beredar, terpenting menurut dewi Hepatitis A bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat.

 Ia juga membeberkan kegiatannya di alun-alun itu lantaran tempat tersebut bebas dari virus Hepatitis dan tempat masyarakat berkumpul, sehingga memudahkan dirinya mensosialisasikan PHBS. “Sekarang yang terkena penyakit sudah ditangani dan yang sehat harus tetap sehat,” tambah Dewi.

 Bupati Pacitan Indartato yang turut hadir dalam kegiatan itu merasa lega dengan perhatian Dinkes Jawa Timur yang terus mendukung pemda dalam menghadapi masalah tersebut untuk melokalisasi penyakit dan menangani pasien. “Terima kasih kepada Dinkes Jatim, semoga yang sakit segera diberi kesembuhan,” harap Bupati.   Sosialisasi juga disiarkan secara Live oleh Diskominfo Pacitan di akun resmi Youtube Pemkab Pacitan. “Kita mencoba memudahkan masyarakat dengan menyiarkan secara langsung, dan dapat diakses kapanmu dan di mana pun,” ucap Aan Mudzakir Kabid Informasi Diskominfo Pacitan. (tim/DiskominfoPacitan

Indartato Kembali Lantik 86 Pejabat Lingkup Pemkab.

Demi menyukseskan Visi dan Misi yang telah disepakati bersama, Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan kembali menggelar Pelantikan Pejabat Lingkup Pemkab dan dirangkaikan Pelantikan Ketua TP PKK Kecamatan Donorojo. Sebanyak 86 pejabat dilantik oleh Bupati Pacitan Indartato, pagi ini Jumat 28/06/19 di Pendapa Kabupaten.

Pada sambutanya Bupati kembali mengingatkan bahwa pelantikan tidak selalu menyenangkan, namun dirinya berharap kepada pejabat yang dilantik supaya memahami hal tersebut serta tidak menyurutkan semangat untuk terus mengabdi kepada Bangsa dan Negara dan masyarakat Pacitan yang sejahtera.

“Bapak dan Ibu mari bekerja dengan tulus dan iklas, mengingat dimana ada keputusan disana pasti ada yang tidak senang dengan keputusan itu. Mari kita emban tugas dengan sebaik-baiknya, mengingat bekerja merupakan ibadah,” (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan)

Berikut Lampiran Daftar Pelantikan Pejabat Lingkup Pemerintah Kabupaten Pacitan 28 Juni 2019 :

PLUT Rumahnya UKM

Sesuai namanya gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) harus menjadi rumah bagi kelompok usaha kecil menengah (UKM). Sebab, lembaga itu memang dibentuk khusus untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan pada koperasi dan UKM. “Sifatnya (bimbingan dan pendampingan) secara komprehensif dan terpadu. Komprehensif dalam arti seluruh aspek pemberdayaan dilakukan disini (PLUT). Pendampingan kelembagaan, aspek produksi, pemasaran, pembiayaan sampai kepada bagaimana bisa memberikan pendampingan dalam pengembangan di bidang IT,” kata Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Abdul Kadir Damanik saat kegiatan ekspose PLUT 2019 dan gelar produk unggulan Kabupaten Pacitan di gedung PLUT Koperasi dan UKM di jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Baleharjo, Pacitan, Jum’at (28/6/2019).

Pendampingan secara kelembagaan misalnya. Tanpa perbaikan sistem secara administrasi pengorganisasian, apapun yang bisa diperoleh melalui pembinaan yang mendasar itu menjadi tidak berarti. Contohnya tentang pembuatan laporan keuangan satu unit UKM. Jika laporan itu tidak mengacu pada standar yang ditetapkan, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga pihak-pihak lain yang ingin memberikan bantuan jadi urung melakukannya.

Damanik berharap agar masing-masing PLUT tetap bersinergi. Saling berbagi dalam meningkatkan keunggulan pelayanan maupun inovasi pengembangan UKM. “Dari Pacitan ditularkan ke daerah lain. Demikian pula sebaliknya, dari daerah lain dibawa ke Pacitan,” harapnya.

Sampai saat ini telah berdiri 60 unit PLUT diseluruh Indonesia. Untuk tahun 2019 direncanakan penambahan 12 unit fasilitas serupa.

Bupati Pacitan Indartato pada kesempatan itu menyampaikan bahwa ekspose PLUT 2019 dan gelar produk unggulan Kabupaten Pacitan merupakan salah satu cara mengurangi angka kemiskinan. Dimana sampai sekarang masing diangka 14 persen. “Agar pendapatan masyarakat semakin meningkat. Salah satunya dengan gelar produk binaan dinas Koperasi dan UKM. Mudah-mudahan koperasi di Kabupaten Pacitan dapat berkembang dengan baik dan sekaligus kemiskinan akan semakin berkurang,” ucapnya.

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Eni Setyowati agenda kegiatan tersebut tujuannya antara lain untuk mengembangkan jaringan pemasaran produk UMKM, melakukan diagnosa produk, dan juga temu bisnis UMKM. Waktu pelaksanaannya sendiri selama tiga hari. Mulai tanggal 28 – 30 Juni 2019. Rangkaian kegiatan meliputi pasar produk unggulan sejumlah 50 unit UMKM, sosialisasi program KUR mikro sosialisasi layanan pembiayaan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan, sosialisasi marketing online dan sharing bisnis serta lomba mewarnai gedung PLUT oleh anak 50 dari TK. Selain itu juga ada penandatanganan MOU sinergitas koperasi dan Bumdes, penandatanganan MOU penggunaan aplikasi inkubasi digital, dan penyerangan program-program strategis dari kementerian. (arif/nasrul/danang/juremi tomas/humaspacitan)

UGM Yogyakarta; Ketagihan KKN di Pacitan

Yulia Anggraini ogah menyia-nyiakan kesempatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pacitan, dirinya beserta 50 temannya merasa kesempatan tersebut merupakan hal langka yang akan memperkaya wawasan dan pengalamannya. “Banyak yang akan kami perbuat, begitu juga dengan menyusuri semua pantai indah di Pacitan,” ujar Dia usai penerimaan KKN Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kemarin 28/06 di Pendapa Kecamatan Punung.

 Berbagai program kegiatan termasuk penerapan keilmuan yang telah dipelajari dianggap sangat cocok diasah di Kabupaten Pacitan, apalagi didukung keterbukaan pemerintah dan kehangatan masyarakat membuat UGM ketagihan menyekolahkan mahasiswanya di Pacitan. “Di sini tempat yang tepat untuk generasi dambakan bersama,” ucap Koordinator Wilayah Dosen Pembina Lapangan Pembelajaran Pemberdayaan masyarakat (PPM) Jawa Timur Ihram Widiyono.

 Ihram berharap seluruh komponen tidak segan melibatkan anak didiknya untuk terlibat aktif di berbagai kegiatan. Meski harus keluar dari tugas pokok yang telah ditentukan yakni pengembangan perencanaan yakni dan pengembangan ekonomi kreatif. “Termasuk terlibat penanganan Hepatitis A yang melanda masyarakat di beberapa kecamatan. Karena mahasiswa kami sudah mempersiapkan diri,” tambahnya.

 Sementara itu Asisten Bidang Perekonomian Dan Pembangunan Joni Maryono mewakili Bupati Pacitan Indartato senang jika para mahasiswa peserta KKN terlibat aktif, selalu menawarkan diri diberbagai kesempatan yang ada. Mengingat segala yang dilakukan akan menjadi kesan tersendiri bagi masyarakat yang tidak pernah terlupakan meskipun kecil dan sederhana.

 Mengingat Pacitan juga terus berbenah untuk menjadi kabupaten maju, Joni berharap agar mahasiswa untuk memberikan kritik dan saran yang membangun. “Segala yang baik silakan saja kabarkan pada khalayak, tapi kami juga butuh banyak masukan. Dan, Jangan lewatkan untuk berwisata selagi di sini (Pacitan),” pungkas Joni. (budi/dzakir/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Disparpora Pacitan Tiga Hari Tingkatkan Profesionalitas Pemandu Wisata

Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pacitan secara berkelanjutan meningkatkan kualitas pemandu wisata demi mendorong kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku wisata di Pacitan.

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari dari 25-27/06 di Hotel Srikandi tersebut sebanyak 40 yang terdiri dari 20 peserta dari pelajar SMK Jurusan Pariwisata dan sisanya pemandu aktif yang telah bekerja di biro-biro di Pacitan memperoleh berbagai pengetahuan baik regulasi, teknis ke pemanduan serta gawatdarurat. “Kita gunakan data Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian, yang membatasi jumlah peserta” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Cipta Suparyitna.

Para pemateri yang di datangkan pun tidak main-main, para pakar di dunia wisata seperti Asosiasi Pelaku Wisata Indonesia (ASWI) DPD Jatim, Asesor Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Nasional, Pengurus DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jatim termasuk mendatangkan praktisi wisata dari Jogjakarta. “Nanti kita tutup dengan praktik langsung ke lapangan supaya maksimal,” ujar Kasi Industri Rahmad Adi Mandego.

Salah satu peserta, Natalia Eka Fatmawati mengaku sangat terbantu dengan kegiatan yang digelar Disparpora ini, mengingat pemandu wisata harus terus menambah pengetahuannya untuk menjadi pemandu profesional. “Kita lebih banyak teori, maka semakin baik pemandu melayani tamu yang menikmati destinasi kita Pacitan,” kata Eka. (budi/mia/riyanto/DiskominfoPacitan).

68 Tahun IBI Cabang Pacitan Berperan Siapkan Generasi Berkualitas

Bidan mempunyai peran penting dalam bidang kesehatan utamanya menekan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Stunting dalam rangka mempersiapkan generasi muda Indonesia yang berkualitas.

Pada Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-68 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Pacitan menggelar berbagai kegiatan mulai bakti sosial, pelayanan gratis hingga seminar untuk peningkatan kualitas yang di laksanakan pagi ini 27/16 di Pendapa Pacitan.

“Kami mohon maaf dari 517 anggota IBI sebagian besar tidak bisa hadir di acara ini karena harus turut terjun ke lapangan menjalankan tugas menanggulangi wabah penyakit Hepatitis A di tiga Kecamatan,” ujar Ketua Cabang IBI Pacitan Nur Hastuti.

Hastuti pada kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada Pemda yang telah bersedia mengupayakan Gedung Sekretariat IBI Cabang Pacitan. hal tersebut secara tidak langsung dapat memberi semangat dalam menjawab berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar.

Bupati Pacitan Indartato sadar peran penting yang diemban bidan, maka ia berharap para bidan selalu ikhlas dalam menjalankan tugasnya yang mulia terutama untuk para Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang belum diangkat. Mengingat dirinya saat ini tidak bisa berbuat banyak karena proses tersebut diatur oleh pusat. “Pekerjaan dituntut lebih baik namun kesejahteraan tidak ada penambahan. Saya berharap bapak ketua DPRD untuk membantu memberikan perhatian,” harap Bupati. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Pemerintah Pacitan Fokus Ringankan Biaya Pengobatan Pasien Hepatitis A

Usai  penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) Bupati Pacitan Indartato akan segera melakukan langkah-langkah untuk menyikapi Virus Hepatitis A yang menyerang 8 Puskesmas di 4 Kecamatan yang ditengarai terjadi sejak pertengahan bulan Ramadhan lalu.

 “Supaya tidak semakin menyebar di wilayah lain. Termasuk diantaranya kita melakukan droping air bersih ke daerah tersebut,” ujarnya disela menjenguk pasien di RSUD dr. Darsono Pacitan pagi ini 26/06.

 Bupati juga mengatakan bahwa sejak awal kasus tersebut menyebar pihaknya telah melaporkan pagebluk ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang langsung merespons kasus ini dengan terjun memantau langsung perkembangannya. “Seluruh petugas kesehatan diterjunkan sejak minggu kemarin. Gerak cepat mereka dapat menahan penyebaran,” papar Indartato.

 Selanjutnya pemerintah akan berupaya meringankan biaya pengobatan pasien yang dirawat di puskesmas ataupun di rumah sakit. “Semoga saja kita bisa membantu mereka, dengan bantuan provinsi,” tandas Dia. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Dinas Kesehatan; Sosialisasi Memutus Rantai Hepatitis A

Kesehatan menjadi pokok perhatian jajaran pemerintahan Kabupaten Pacitan. Dikarenakan naiknya jumlah penderita Hepatitis A sejak pertengahan puasa lalu.  Hal itulah yang diungkapkan Eko Budiono Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, sehingga hari ini 25/06/19 pihaknya beserta jajaran Dinas Kesehatan Provinsi, dan Puskesmas melakukan Sosialisasi Penanganan Hepatitis A di kecamatan Ngadirojo. “4 kecamatan di 8 Puskesmas sudah melaporkan adanya penderita. Sampai hari ini ada 581 pasien. Hepatitis A sebenarnya bisa sembuh 100%,” tandasnya.

 Eko melanjutkan, seluruh Puskesmas harus dapat menangani tata laksana pasien mulai pengobatan, karantina dan diet pasien. Kedua pemantauan melalui jalur puskesmas dan segera melapor kasus baru. Ketiga mencegah atau pengendalian faktor resiko dengan menjaga kebersihan. Daeng Marranuang Divisi Kesehatan Lingkungan Hidup Dinas Kesehatan Provinsi juga menekankan pada pola hidup sehat untuk mencegah atau memutus mata ratai penularan. ”Kasus sudah 2x lipat pencegahan harus dimaksimalkan, karena dari virus maka penularannya cepat,” tuturnya. 

 Dalam hal ini Heri Setijono selaku Camat Ngadirojo berharap seluruh masyarakat yang diundang dapat melakukan sosialisasi pada warga di sekitarnya. Sehingga penanganan dan pencegahan virus Hepatitis tersebut dapat diketahui secara masif. “Pemerintah Kecamatan, bersama UPT dan desa PKK telah melakukan penjelasan yang pada intinya adalah menjaga pola hidup sehat,” tuturnya.budi/anjar/riyanto/diskominfo Pacitan.

Di Ajang Lomba Desa; Penggung Tabur Kesan Wakili Jatim Melenggang Tingkat Nasional

Kopi Lanang khas Desa Penggung dikenal akan nikmatnya, dipadu hangat senyum masyarakat membuat ketua Tim Penilaian Lapang Perlombaan Desa Tingkat Provinsi Achmad Rabbiul Fuad dan rombongan sangat terkesan. “Semua makanan kami cicipi, nikmat luar biasa,” ujar Fuad di Lomba Desa Tingkat Provinsi hari ini 24/06/.

 Sesuai program Presiden Joko Widodo yang berkomitmen membangun Negara dari desa. Menurut Fuad Desa Penggung adalah desa terbaik, tidak hanya di Kabupaten Pacitan, namun juga terbaik dari 7724 desa di Jawa Timur. “Jadi, tidak sulit rasanya jika harapan Bapak Bupati supaya Desa Penggung mendapat nilai yang angkanya kecil (nomor satu). Karena kami hanya menilai empat desa saja se-Jawa Timur” ungkap Dia sambil diikuti tepuk tangan dari masyarakat yang semakin yakin Desa Penggung menjadi juara.

 Saat itu Fuad dan Tim beserta Tim Penilai 10 Program Pokok PKK dari Provinsi Jawa Timur yang dinahkodai Teresia Subagyo, meskipun yakin Desa Penggung yang terbaik, ditinjau dari paparan yang di laksanakan kemarin malam 23/06 di Halking Pendopo Kabupaten Pacitan, namun sesuai ketentuan pihaknya akan melihat langsung seluruh kegiatan yang dilaksanakan di Desa Penggung. “Perlu di ingat kita jangan takut membangun desa, asal kita sesuai dengan regulasi, dana yang mengucur deras untuk desa bisa kita maksimalkan. Dan, hasilnya masyarakat akan semakin baik,” tambah Dia.

 Bupati Pacitan Indartato menyampaikan terima kasih kepada seluruh rombongan yang hadir, dirinya sadar melalui kegiatan semacam ini desa akan terdorong semakin maju, meskipun beberapa kali disampaikan Bupati bahwa lomba bukan tujuan, namun merupakan bagian dari sarana mencapai tujuan yang diharapkan. “Sekali lagi terima kasih bapak dan ibu telah bersedia membina kami, semoga mimpi masyarakat Penggung dapat mengikuti detik-detik proklamasi di Istana bersama Presiden menjadi kenyataan,” harap Indartato. (tim/DiskominfoPacitan).

Rusmiati; Semangat Desa Cemeng Menjadi Pertimbangan Utama

Pemerintah desa dan masyarakat menyambut Tim Penilaian Lapang Pelaksana Gotong Royong Terbaik dari Provinsi Jawa Timur dengan atraksi Adu Kelapa budaya asli Desa Cemeng Kecamatan Donorojo. Sontak Ketua Tim Penilaian Lapang Rosmiati terkagum-kagum dengan pertunjukan tersebut. “Apa lagi saya melihat semangat besar Satuan Linmas dan masyarakat yang menyambut kami. Jujur ini luar biasa,” ujarnya pagi tadi 20/16 di lapangan desa setempat.

 Sementara itu Bupati Pacitan Indartato dalam sambutannya menyampaikan bahwa seluruh Pejabat, Camat hingga forkopimcam hadir dalam program ini, hal itu menunjukkan bahwa Desa Cemeng yang kini mewakili Kabupaten Pacitan di Lomba Gotong Royong layak untuk  mempersembahkan yang terbaik kepada tim penilai dan Desa Cemeng sendiri. “Kami tidak ingin nomor satu, kami hanya ingin menjadi yang terbaik,” ujar Indartato.

 Lebih jauh Bupati menegaskan bahwa lomba merupakan sarana untuk mencapai tujuan, umumnya yakni menjadi semakin baik dari segala aspek yang ada. Ia juga mengetahui seluruh yang terlibat telah berusaha memberikan yang terbaik pada Even ini demi Pacitan dan masyarakatnya supaya semakin sejahtera. “Tapi perlu kami sampaikan kepada rombongan bahwa hari ini merupakan cerminan dari hari-hari sebelumnya, inilah kami sebagai Pacitan yang terkenal akan gotong royongnya,” tambah Bupati.

 Dari bahan utama penilaian yang disiapkan mulai Destinasi Wisata, Sarana Olah Raga, Embung dan Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades) semakin menjadi pertimbangan utama jika dibumbui seni budaya yang ada, terlebih jika menjadi Desa Wisata. “Begitu juga dengan inovasi yang melibatkan seluruh organisasi desa. Mengingat Pacitan dan Cemeng adalah gerbang yang sangat strategis. Intinya yang kami garis bawahi Pacitan mempunyai nilai lebih yang menjadi pertimbangan kami,” tambah Rosmiati. (timDiskominfoPacitan).

Besuk; Desa Cemeng Wakili Pacitan Ikuti Lomba Gotong Royong

Bermula pada masa penjajahan, Pangeran Diponegoro saat itu gigih mempertahankan bumi pertiwi supaya tidak takluk di tangan kolonialisme Belanda. Saat itulah Desa Banaran yang berada di Kecamatan Donorojo lahir dengan diubah namanya menjadi Desa Cemeng.

 Dimasa kini Cemeng dengan berbagai peradabannya terpilih menjadi yang terbaik untuk mewakili Kabupaten Pacitan dalam lomba Gotong Royong Tingkat Provinsi. Dilaksanakan besuk 20/06 di lapangan desa, Cemeng bersatu untuk detail memperhatikan segala kesiapan.

 Tidak untuk menjadi yang terbaik, Desa Cemeng bersama seluruh masyarakatnya hanya ingin berbuat yang terbaik dan utamanya untuk mencapai tujuan yang didambakan seperti tujuan utama gotong royong atau kerja sama. (tim DiskominfoPacitan).

Viral; Beiji Park Destinasi Baru Yang Wajib Anda Kunjungi

Destinasi wisata yang beraneka ragam di Pacitan bisa menjadi pilihan terbaik untuk dikunjungi di penghujung libur panjang akhir pekan ini. Bisa saja memilih masuk ke Goa terindah se Asia tenggara, bermain segarnya air tawar di banyak sungai yang indah seperti Maron dan Cokel, lihat para Bule menaklukkan ombak dihiasi indahnya alam dan sunset di Pantai Watukarung atau pun menjajal yang lagi Viral yakni Pacitan Indah yang kini disulap menjadi Beiji Park.

 Berada di jalan Pacitan-Solo, Desa Dadapan Kecamatan Pringkuku, menawarkan nuansa baru bagi wisatawan atau para pengendara yang kebetulan melewatinya. Terlebih lokasinya di pinggir jalan dengan dukungan alam yang sangat asri membuat Siska wisatawan dari Jawa Tengah dan puluhan kawan-kawannya nekat datang ke Beiji Park. “Ingin jalan-jalan yang asyik, Selfi kita nanti di medsos berlatar belakang Beiji Par