Jurnalisme warga – citizen journalism
Berita kiriman dari warga

Upacara Adat Jangkrik Genggong

Upacara ini merupakan adat bersih Dusun Tawang Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo Pacitan.

Prosesinya dimulai dengan acara seremonial pembukaan. Kemudian setelah tabuh jam 15.00, dilanjutkan acara kirab sedekah laut. Malamnya dilanjutkan kesenian tari-tarian.

Acara adat Jangkrik Genggong dilaksanakan setiap hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) di bulan Longkang. Lokasi pelaksanaan di Kawasan TPI Tawang Desa Sidomulyo

(Humaspacitan/Diskominfopacitan)

Anak Muda Jaman Now. Harus Pandai Baca Peluang

Menjadi anak muda jaman sekarang harus pandai-pandai baca peluang. Seperti yang dialami beberapa anak muda dari dusun pahit ini. Kisah yang menginspirasi anak muda lainya untuk berbisnis di bidang peternakan.

Salah satunya Budi Winarno pemuda dari Dusun Pahit Desa Tahunan merupakan anak dari Pairan. Budi merupakan salah satu pemuda yang merintis bisnis sapi perah. Dengan umur 25 tahun yang terbilang masih muda sudah berani ikut berbisnis susu sapi perah.

“Saya terinspirasi setelah melihat saudara saya yang ada di luar desa. Dia sudah sukses dalam berbisnis sapi perah, dan saya ingin mengikuti jejak kesuksesanya”, kata Budi.

Bisnis sapi perah tidak melihat umur. Semua kalangan bisa berbisnis sapi perah ini. Mulai dari petani hingga PNS bisa berbisnis sapi perah. Memang harus memerlukan waktu ekstra untuk mngurusi sapi perah ini. Mulai dari membersihkan kendang sapi dan memandikan sapi, untuk memerah itupun harus tepat waktu untuk menghasilkan susu yang bagus.

Selain Budi masih terdapat pemuda lain yang mulai menekuni bisnis sapi perah. Ashari dan Mulyono juga pemuda tetangga Budi juga ikut menekuni bisnis ini. Selain menciptakan penghasilan, anak muda ini juga sarana belajar peternakan untuk bisnis masa depan mereka. Mereka tidak perlu lagi merantau.

Diharapkan anak muda Desa Tahunan lainya juga ikut berbisnis sapi perah sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan memutus tradisi anak muda yang merantau hingga ke luar pulau.(yuda/jwtahunan)

SLRT, Program Baru Dinas Sosial Jembatan Bagi Warga Miskin

slrt-kabupaten-pacitan

kepala dinsos pacitan saat memberikan sambutan terkait mekanisme SLRT

Pacitan – Perwakilan dari kementerian Sosial, Dinas Sosial , Bappeda, UPT Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan pelaksana SLRT (Sistem Layanan Rujukan Terpadu) Kabupaten Pacitan mengadakan rapat terkait program baru Dinas Sosial yakni SLRT yang fungsinya untuk mempermudah akses pengusulan bantuan keluarga miskin, Selasa (19/12/2017). Program baru SLRT dari Dinas Sosial merupakan jembatan bagi warga miskin untuk mendapatkan bantuan yang nantinya dimasukkan ke dalam BDT (Basis Data Terpadu) keluarga penerima manfaat.
Manager SLRT Pacitan, Muzazamah mengatakan untuk warga miskin yang mendapatkan bantuan harus sesuai dengan rumus indikator kemiskinan. “Untuk mengusulkan bantuan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) harus meliputi 21 indikator kemiskinan sesuai PERBUP no. 36 tahun 2016 yang nantinya diusulkan ke Bupati melalui Dinas Sosial”, katanya.

Lebih lanjut Bambang selaku perwakilan dari Dinas Sosial menegaskan terkait dengan pengusulan KPM harus melengkapi berkas persyaratan antara lain KK, KTP, SKTM dari Desa yang bersangkutan.
Yuli Setiani perwakilan dari UPT Kesehatan Pacitan, menambahkan “Pengusulan KPM dari Dinsos harus bekerja sama dengan UPT Kesehatan , Bappeda, dan Dinas Pendidian karena keseluruhannya saling berhubungan untuk memberikan bantuan KPM”, ujarnya.

Bantuan dari UPT Kesehatan yaitu berupa KIS (Kartu Indonesia Sehat), Bantuan dari Dinas Pendidikan berupa KIP (Kartu Indonesia Pintar), Bappeda berupa PKH (Peserta Keluarga Harapan), dan keseluruhannya itu diusulkan melalui program SLRT Dinsos.

Pelaksana SLRT merupakan Fasilitator untuk mengusulkan bantuan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) atas wewenang dari desa yang bersangkutan.

Dengan adanya SLRT ini mempermudah pendataan secara akurat karena terjun langsung ke masyarakat dan mempermudah warga agar tidak kesulitan untuk datang sendiri ke Dinsos ataupun desa, cukup SLRT yang mendatangi dan SLRT pun mengambil keputusan atas kewenangan dari Desa yang bersangkutan. (Fitri)

Ditulis Oleh Fitriani, Jurnalis Warga Desa Bungur

Musim Tanam Tiba. Harapan Baru Untuk Petani

Padi merupakan komoditas utama warga Desa Tahunan. Hampir seluruh petani di Desa Tahunan mereka budidaya padi. Selain itu padi juga makanan pokok warga masyarakat. Tidak heran kalua hampir semua sawah dan lading waktu musim penghujan di tanami tanaman padi.

Saat ini musim hujan mulai tiba. Seluruh petani disibukan menyiapkan tempat menanam padi. Mulai menyiangi rumpu, membajak sawah dan mempersiakan benihnya. Sampai di sudut-sudut desa dapat di temui pemandangan seperti itu.

Gotong royong masih begitu kental. Petani tak sendirian. Mereka biasanya di bantu para tetangga dalam menyiapkan lahan untuk tanaman padi. Sehingga dalam menyiapkan lahan tidak memerlukan waktu yang lama. Mereka saling bergantian dalam membantu menyiapkan lahan . Harapanya lebih cepat selesai dan bisa menanam secara bersamaan. Salin itu jika menanam bersamaan bisa meminimalisir hama

Hujan yang stabil menjadi harapan dari para petani. Sehingga dapat menghasilkan hasil yang memuaskan. Dan juga di harapkan kelangkaan pupuk tidak terjadi setelah musim tanam tiba. (tahunan.kabpacitan.id)

Pelatihan, Kesempatan Emas untuk Pengembangan BUMDes Desa Tahunan

Perkembangan BUMDes sangat di harapkan oleh desa-desa. Terutama desa berkembang. Contohnya Desa Tahunan dan Desa Pucangombo Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan. Yang sampai saat ini masih belum berjalan maksimal.

Hari ini Selasa 26 Desember 2017 diadakan pelatihan dan penguatan BUMDes yang bertempat di balai Desa Tahunan. Kegiatan yang di fasilitasi oleh kompak ini diikuti oleh 2 desa yakni Desa Tahunan dan Desa Pucangombo Kecamatan Tegalombo Pacitan dilaksanakan selama 2 hari. Selain itu juga Kades dari 2 desa tersebut dan Sekretaris desa dan Lembaga kedua desa menghadiri kegiatan ini.

“Setelah petihan ini diharapkan anggota BUMDes diharapkan mampu membantu mengatasi permasalahan yang ada di desa terutama dalam hal keuangan atau PADes”, Ujar Suharno Kepala Desa Tahunan dalam paparanya.

Dalam pelatihan ini Kompak menghadirkan narasumber berasal dari DIY yang merupakan desa percontohan BUMDes yang sudah lama berjalan dalam bidangnya. Yakni , Catur Kades Pandowoharjo Sleman dan Ton dari Desa Karangrejek Gunung Kidul. Dan juga perwakilan dari PT Usaha Desa

Dengan adanya pelatihan ini 2 desa tersebut mampu mengelola bumdes secara mandiri dan mampu mengembangkan usahanya secara maksimal. (JW/ tahunan.kabpacitan.id)