86 Ribu Masyarakat Terima Bantuan Tahap Pertama

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) di Desa Donorojo, Donorojo, Pacitan pagi ini (19/05) disalurkan kepada masyarakat yang masuk dalam kriteria. Momentum ini disaksikan langsung Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato.

Termasuk mengintegrasikan data penerima bantuan berdasar pada Nomor Induk Penduduk (NIP) mulai dari tingkat RT. “Supaya yang berhak menerima betul-betul menerima, dan yang tidak berhak juga tidak menerima,” kata Bupati didampingi Wabup Yudi Sumbogo, Kapolres Pacitan AKBP Didik Hariyanto, Komandan Kodim 0801 Pacitan Letkol Inf Nuri Wahyudi dan jajaran pejabat lingkup Pemda.

Ratusan masyarakat menggantungkan hidup terhadap sektor pariwisata pantai Klayar di Desa Sendang, Donorojo. Akibat Corona pantai yang viral akan seruling samuderanya ini terpaksa tutup sejak beberapa bulan lalu. “Karena penutupan tempat wisata ini mereka kehilangan pendapatan, pemerintah beri bantuan sembako” lanjut Bupati saat di Klayar.

Keseluruhan tercatat 86 ribu masyarakat memperoleh bantuan pada tahap pertama ini, mereka penerima dari jalur Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan bantuan untuk masyarakat terdampak Covid-19. jika kondisi belum membaik maka bantuan akan kembali diserahkan di tahap kedua. “Saya berharap semua lekas membaik,” harap Bupati.

Sebelumnya, Bupati dua periode ini berkesempatan memberangkatkan arak-arakan pembawa sembako TNI Polri Peduli Covid-19. Ini adalah wujud perhatian Kodim 0801 dan Polres Pacitan terhadap masyarakat Kabupaten Pacitan. (budi/zaq/wan31/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Awas! Ogah Pakai Face Shield; Pedagang Stop Jualan

Ratusan pedagang pasar Minulyo, Pacitan pagi ini (16/05) mendapat bantuan Face Shield atau pelindung wajah, dari pemerintah yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati sekaligus Ketua Gugus Tugas Covid-19 Pacitan Indartato.

Pembagian Face Shield tepat adanya utamanya kepada pedagang makanan, apa lagi selain menghindarkan kontak langsung antar pedagang dan pembeli. Karena jika apes pasar bisa berubah menjadi wadah penyebaran Virus Corona.

Perhatian tersebut harus disikapi bijak oleh para pedagang, bukan diterima lantas tidak dipakai melindungi wajah dengan berbagai alasan. Sadar hal itu Satgas Covid-19 selepas penyerahan ini akan memantau mereka yang enggan bermasker dan berpelindung wajah,  Pedagang nakal ini nanti tidak diizinkan berjualan.

“Kita akan minta Satpol PP dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memantau mereka. Seandainya tidak mau memakai (Face Shield), ya dilarang berjualan di tempat ini,” tegas Indartato.

Ke depan, kelar menuntaskan pasar lingkup kota, Indarato tetap berencana membagikan Face Shield ini ke pasar lain di Kabupaten Pacitan. “Kita menyesuaikan kedadaan (Pasar-pasar di kecamatan), kita terus memproduksi. Hasilnya nanti kita akan bagikan kepada pedagang makanan khususnya,” tambah Dia.

Lantas bagaimana pembeli dan orang yang berada di pasar, mereka sudah sepatutnya melindungi mulut dan hidung mereka sendiri dengan masker. Sebagaimana diketahui masker berfungsi melindungi diri pribadi dan orang lain, tak lupa Physical Distancing ditegakkan bersama-sama disemua tempat dan keadaan saat di luar rumah. Hasilnya, Pacitan bebas Covid-19 adalah keniscayaan. (budi/anj/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Serahkan Sembako; Ekonomi Pemulung Tergencet Covid

Ismirah hanya bisa menghela nafas dalam saat pandemi corona mengguncang perekonomian keluarganya. Bagaimana tidak, ia yang sehari-hari berkecimpung sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Dadapan, Pringkuku ini dalam sepekan hanya bisa mengais sampah 3 hari saja, separo dari kondisi biasanya saat tidak corona.

“Biasanya seminggu kita bisa dapat Rp. 200 – Rp. 300 Ribu. sekarang paling seratus lebih sedikit,” ungkapnya. Ketua Organisasi Pemulung Pacitan (ORPPI) itu juga mengaku kondisi semakin parah lantaran hampir semua harga rosok anjlok, cuma jenis kardus dan kresek yang masih bisa diandalkan menyambung hidup.

Kedatangan Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato ke TPA Dadapan pagi ini (15/05), dalam rangka penyerahan bantuan paket sembako dan makanan ringan diakui Ismirah dan rekan-rekannya sangat membantu. Meski sebatas mencukupi kebutuhan mereka, apalagi saat ini bulan puasa dan tinggal menghitung hari lebaran tiba.

Bupati Indartato mengaku, para pemulung dirasa perlu memperoleh paket sembako ini lantaran mereka berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Disamping kondisi ekonomi mereka yang terdampak cukup keras. “Bantuan yang kita serahkan ini tidak seberapa,” kata Bupati.

Ada beberapa program yang akan menyasar masyarakat sebagai penerima bantuan, pertama adalah bantuan berupa Jaring Pengaman Sosial (JPS), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Non Tunai, Grindulu Mapan dan termasuk program bantuan dari Pemprov Jatim. Begitu juga kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan akan mendapat perhatian dari Pemda, Pemprov hingga pemerintah Pusat.

“Bantuaan yang kami siapkan pada tahap pertama sampai hingga tanggal 29 Mei mendatang adalah 6 Miliar Rupiah, sementara cukup banyak diserap di sektor kesehatan. Kalau situasi diperpanjang jadi masalah baru lagi,” terang Bupati. (budi/wan31/rozaq/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Hadirkan Inovasi Ditengah Pandemi; Bupati Serahkan Penghargaan Siswi SDN 3 Candi dan SMAN 1 Pacitan

Kebijakan belajar di rumah yang diputuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, membuat siswa-siswi mesti Out Of The Box Thinking, jika ingin tetap mengembangkan bakat dan kreativitasnya.

Seperti yang dilakoni 4 siswi SDN 3 Candi, Pringkuku dan siswi SMAN 1 Pacitan, lantaran videonya kampanye bahaya Covid-19, mulai dari segi kesehatan, ekonomi maupun sosial budaya.

Mereka adalah Nanetta Azka Tabitta Kelas 5, Decha Fiorentina Rakasiwi Kelas 6, Balqis Alya Al Khalifi Kelas 6 dan Devina Jule Trisnawati Kelas 5 dari SDN Candi 3 dan Aisya Auliya Sudrajad dari Kelas XI IPA 7 SMAN 1 Pacitan.

Atas capaian itu mereka berkesempatan memperoleh penghargaan dari Bupati sekaligus Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pacitan Indartato, hari ini (11/05) di Pendopo Kabupaten, penyerahan tersebut didampingi Wabup Yudi Sumbogo, Sekda Heru Wiwoho dan Kepala Dindik Daryono.

Seperti Nanetta Azka Tabitta, oleh dorongan gurunya Sri Wiharto saat pandemi mulai mewabah Indonesia ia diminta membuat pidato tentang virus corona. Meski sulit untuk ukuran siswi kelas 5 SD, namun berkat dukungan pidato tersebut kelar dibuat. Tak puas, visual pun akhirnya ditambahkan sehingga berubah wujud menjadi video yang kini viral di jagad Sosmed.

Lain kisah dengan Aisya Auliya Sudrajad atau akrab disapa Echa, awalnya ia gundah yang berujung tergerak membuat satu karya, lantaran ia melihat animo masyarakat Indonesia sangat kecil untuk memerangi Covid-19.

Tak lama Echa pun kaget, video berjudul Menjaga Nurani yang ia kerjakan 3 hari tersebut menjadi viral di Sosmed bahkan di Grup-grup Whatsapp. Sementara di akun Instagram miliknya ribuan orang menyaksikan karyanya dan ribuan lain menyukai. Satu gebrakan manis dari gadis berusia belasan tahun.

Kini, setidaknya Echa dan teman sebayanya dan semua orang yang melihat video itu minimal mengerti, ternyata ada yang lebih lelah dari sekolah, membantu orang tua, mengerjakan PR dan yang lain. Di tengah video berdurasi 2 menit 47 detik tersebut tergambar jelas Echa mengajak semua orang untuk bangkit, karena Echa tahu Covid-19 tidak dapat dikalahkan kecuali dengan kekompakan dan kebersamaan.

“Yang paling sulit adalah bagaimana video ini bisa ditangkap khalayak, sehingga pesan yang akan saya sampaikan benar-benar dapat diterima dan dimengerti. Hasilnya berujung pada perubahan positif,” pungkas Echa. (budi/anj/rach/tika/DiskominfoPacitan).

Lagi; 2 Santri Cluster Temboro Positif Corona

Bertambah 2 Orang Tanpa Gejala (OTG) terkonfirmasi Positif Covid-19, ini menambah total keseluruhan menjadi 9 orang di Kabupaten Pacitan. Penambahan itu kata Indartato sebagai Bupati dan Ketua Satgas Covid-19 Pacitan (10/05) berasal dari Kecamatan Nawangan.

“Saya minta kepada jajaran kepala desa hingga tingkat RT/RW supaya protokol kesehatan untuk benar-benar dilakukan. Dan sekaligus mungkin ada sangsi-sangsi yang akan kita ( Satgas Covid-19 Kabupaten Pacitan) lakukan bersama. Misalnya penggunaan masker, karena ini penting sekali,” kata Bupati saat konferensi pers di Pendopo.

Secara detail, Jubir Satgas Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto kepada pencari berita menuturkan, cluster tersebut sama dengan pasien terkonfirmasi berkode 07. Hanya saja 2 santri tersebut tes Swab selisih 3 hari dengan pasien 07. “Hasil Swab keluar tadi siang. Laki-laki, satu berusia 18 tahun dan yang satu 21 tahun,” kata Rachmad.

Lanjut Jubir sebenarnya sesuai regulasi yang ada, pasien terkonfirmasi yang tidak dengan penyakit bawaan cukup karantina di rumah masing-masing. Tetapi minimnya kedisiplinan termasuk masyarakat, terpaksa harus dikarantina di Wisma Atlet dengan pengawasan yang ketat. “Tidak perlu dibawa ke RSUD,” ungkap Dia.

Melanjutkan yang disampaikan oleh Ketua Gugus, sanksi penegakkan protokol kesehatan kepada masyarakat yang masih sembrono akan secepatnya ditegakkan. Fokus pertama pada pedagang pasar, selain bermasker ke depan pedagang wajib memakai pelindung wajah (Face Shield). “Pedagang dan pembeli tidak memakai masker. Disuruh pulang,” tegasnya. (budi/rozaq/rach/tika/DiskominfoPacitan)