BPBD Pacitan; Publik Tak Perlu Cemas

Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama BPBD Pacitan menggelar Sarasehan Forum Pengurangan Resiko Bencana, hari ini (15/09) bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pacitan.
Dalam acara tersebut turut hadir beberapa komunitas dan relawan seperti, Senkom, Karang Taruna, KNPI, Sar MTA, LPBNU, Rapi, Orari, Saka Bahari, Relawan Sego Berkat dll.
Informasi potensi gempa kuat di zona megathrust memang rentan memicu keresahan akibat salah pengertian dari masyarakat. Sementara hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya.
Kenyataan ini mendorong untuk mempersiapkan diri, keluarga, dan komunitas di sekitar kita. “Peran relawan sangat penting sekali sehingga bisa menjadi sinergitas dalam hal penanggulangan bencana” kata Diannita Agustinawati Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan.
Peran relawan vital dalam setiap aksi penanggulangan bencana alam dan bencana sosial di Indonesia, baik tahap kesiapsiagaan maupun layanan saat dan pascabencana. Upaya yang pasti dilakukan adalah mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah kongkrit untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa. (BPBDPacitan/DiskominfoPacitan).

BPBD Dan Dinsos Pacitan Berjalan Beriringan

Untuk menghadapi ancaman Megathrust di Selatan Jawa, Kementerian Sosial bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan menggelar Simulasi Uji Rambu dan Tempat Evakuasi Sementara di Pelabuhan Tamperan, kemarin (11/09).
Simulasi tersebut dilakukan lantaran memperhitungkan risiko tinggi dampak bencana. Namun, jika benar terjadi diharapkan pemerintah dan masyarakat mampu meminimalisir dampak yang terjadi,utamanya memperhatikan serius penyelamatan terhadap kelompok rentan, termasuk lanjut usia, sesuai arahan Menteri Sosial.
Terkait potensi serta dampak, peran penting pemerintah untuk menyiapkan masyarakat agar tetap aman sudah menjadi kewajiban yang tidak boleh dikesampingkan. Simulasi uji rambu-rambu sendiri menjadi bagian dari penanganan bencana.
Selama ini Pemerintah Daerah melalui BPBD Pacitan sebagai instansi terkait telah melakukan berbagai program mitigasi baik struktural maupun non struktural. “Kita lihat di luar lapangan mitra-mitra kami sudah bergerak jauh untuk penanganan masyarakat baik di desa dengan Destananya, saat ini sudah berjumlah 119 desa dan telah disiapkan menjadi Desa Tangguh Bencana. Kemudian di kelurahan ada 2,”. Kata Didik Alih Wibowo, Kepala BPBD Pacitan, Hari ini (13/09).
Dalam penanganan secara langsung, baik BPBD maupun Dinas Sosial tidak ada persoalan, justru dua lembaga ini saling menguatkan, karena bencana ditangani secara holistic. “Semua berperan dan saling mendukung semuanya. Mempunyai kontribusi untuk menolong warga masyarakat. Dinas Sosial di sarana prasarananya, logistic, dapur umum dan kebutuhan pengungsi, kami dengan TRC pengerahan sumber daya dan peralatan juga pertolongan darurat. Sudah berjalan dan tidak ada masalah,” lanjutnya.
Dampak dari bencana Gempa Bumi dan Tsunami tersebut harus dilihat secara tuntas meskipun belum ditemukan alat yang dapat memprediksi secara tepat kapan terjadi. Terlebih pusat pemerintahan, pendidikan dan perekonomian yang berada di tengah kota dengan tingginya intensitas dan kompleksitas membutuhkan penanganan secara khusus. (Pemkab Pacitan)

Mas Aji; Pertajam Reflek Evakuasi Mandiri

Arah kebijakan Bupati Pacitan terkait potensi Gempa dan Tsunami di Selatan Pulau Jawa dipastikan sesuai dengan arahan pemerintah pusat. Namun sebelum itu ia mewanti-wanti kepada seluruh masyarakat bahwa segala kemungkinan tersebut merupakan potensi yang berdasar pada satu penelitian pada satu disiplin ilmu pengetahuan dan rangkaian sejarah.
Edukasi kepada seluruh masyarakat menjadi prasyarat wajib yang harus diutamakan menjadi satu program-program instansi terkait secara berkelanjutan. “Mereka yang berada di zona merah utamanya harus teredukasi dengan baik,” terang Bupati menyikapi kunjungan Mensos kemarin (11/09).
Disamping mempunyai ancaman serius terhadap potensi bencana, Kabupaten Pacitan secara alami mempunyai desain perbukitan. Wilayah tersebut tentu akan memudahkan masyarakat yang menyelamatkan diri ketika benar terjadi gelombang tsunami. “Namun kami juga menyiapkan titik-titik strategis untuk evakuasi dan bahan makanan, hanya saja itu masih kami koordinasikan, yang paling baik yang mana,” lanjut Mas Aji.
Soal pembangunan sarana prasarana sebagai investasi kebencanaan, sementara Bupati cenderung mengesampingkan. Ini karena besaran gempa berpotensi merusak sarana prasarana yang telah dibangun. Sedang nilai pembangunan untuk itu tidaklah sedikit.
Metode kampanye untuk meruncingkan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana menjadi satu kunci yang cukup baik. Sehingga berbagai latihan, pembentukan desa tangguh dan lain sebagainya adalah membudayakan masyarakat akan bahaya bencana tsunami.
“Jika gempa besar, masyarakat mempunyai kesadaran sehingga bergegas menyelamatkan diri dan keluarga di tempat yang aman,” harap nya.
Pemerintah sejauh ini juga tampak menjaga hubungan yang baik antara pihak provinsi maupun pusat, terbukti dengan kunjungan beberapa kali kepala BMKG dan kemarin Mensos RI. namun demikian berbagai komunikasi yang bersifat koordinasi akan tetap dijaga pemda terhadap pemerintahan yang lebih tinggi. (Pemkab Pacitan)

Gelar Simulasi Uji Rambu dan Tempat Evakuasi Sementara, Mensos Tri Rismaharani Berharap Masyarakat Paham Jalur

Sabtu, 11 September 2021 jam 11.00 WIB terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8,7 epicenter 300 km Tenggara Pacitan dan kedalaman 19 km. Gempa bumi menimbulkan tsunami yang berdampak pada seluruh pesisir Jawa Timur termasuk wilayah Pacitan.
BMKG menginformasikan, Gelombang tsunami akan menerjang 28 menit setelah goncangan gempa bumi dan masuk maksimal 6 km ke Kota Pacitan. Bupati Pacitan yang mendapat laporan dari Kepala Pelaksana BPBD Pacitan segera memerintahkan segera memberikan peringatan dini serta melakukan evakuasi warga.
Gempa bumi dan tsunami ini tentu bukanlah kejadian sebenarnya. Namun sebuah simulasi evakuasi masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami yang dilaksanakan Kementerian Sosial RI. Kegiatan yang dikemas dalam Apel kesiapan Simulasi Uji Rambu dan Tempat Evakuasi Sementara itu disaksikan langsung Menteri Sosial RI Tri Rismaharini dan Jajaran, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Bupati Pacitan serta Forkopimda dengan mengikutsertakan seluruh komponen.
“Sepanjang pantai selatan hampir semua terkena tapi yang teridentifikasi korban paling banyak adalah Pacitan, karena lokasi kota Pacitan ada ditengah yang menurut teori keberadaan teluk akan memperkuat arus tsunami,” kata Tri Rismaharini mengungkap alasan kenapa simulasi dilaksanakan di Pacitan.
Dengan simulasi ini lanjut Risma, minimal masyarakat tahu kemana dan bagaimana bertindak, jika hal terburuk terjadi. Terutama, warga dipusat kota yang lokasinya berada ditengah dan padat. Menteri berharap, masyarakat Pacitan siap sehingga dampak bencana bisa diminimalkan.
Sementara, menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam pemaparannya, dengan gempa bumi magnitudo 8,7 maka potensi ketinggian air bervariasi mulai dari 22 m di wilayah pantai/pesisir, 11-17 m diwilayah bantaran sungai, 6-11 m di wilayah tengah (termasuk alun-alun), dan 10-12 m di Bantaran Sungai Grindulu.
Simulasi evakuasi masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami merupakan bentuk langkah nyata dan serius dari pemerintah dalam menghadapi bencana. (Humas Pacitan/ Pemkab Pacitan)

Utamakan Jalur Evakuasi

Bencana. Tetap menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan umat manusia, tak terkecuali bagi masyarakat Kabupaten Pacitan yang notabene sebagai etalase karena lokasinya yang berada di atas lempeng indo-australia. Sehingga wajar jika hal itu disikapi serius oleh pemerintah, baik daerah, provinsi hingga pusat.

Upaya batiniah tentu haram jika ditiadakan, selebihnya memahami potensi bencana di sekitar kemudian dilanjutkan dengan memperhitungkan cara penyelamatan menjadi ikhtiar lain yang wajib dikuasai.

Untuk itu tak ayal jika pelatihan berskala besar sering dilakukan sebagai bentuk budaya serta peningkatan kewaspadaan. Berwujud simulasi gempa besar 8,7 skala Richter berdurasi 120 detik, disusul gelombang tsunami dengan tinggi 20 meter.

Dihadiri langsung Menteri Sosial RI Tri Rismaharini, pelabuhan Tamperan menjadi lokasi pelatihan dan melibatkan 150 warga terdampak. Menteri pada sambutannya lebih menyoroti kondisi geografis kota Pacitan yang berada pada zona merah.

“Tengah kota dengan rumah padat sehingga akses evakuasi lebih sulit,” kata dia (11/09). Sementara itu wilayah di bantaran sungai Grindulu juga perlu mendapat perhatian dengan pembangunan jembatan alternatif untuk evakuasi.

Risma juga meminta pihak terkait untuk segera memetakan titik strategis evakuasi dan mendata langsung jumlah lansia maupun disabilitas. “Mulai sekarang coba langsung dikerjakan,” himbaunya. (DiskominfoPacitan).