Coba Qris; Pembayaran Tiket Wisata Non Tunai

Di era digital ini, transaksi dengan metode pembayaran elektronik sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Salah satu metode pembayaran elektronik yang cukup populer saat ini adalah QR payment atau pembayaran dengan menggunakan kode QR.
Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga melakukan uji coba e-ticketing berbasis QRIS di destinasi wisata Goa Gong pada Selasa (7/12). Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merupakan standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya.
Disparpora Kabupaten Pacitan menggandeng Bank Jatim melakukan pendampingan dan pemantauan kepada petugas lapangan dalam penggunaan e-ticketing non tunai. Setelah uji coba e-ticketing/payment ini selesai, Disparpora akan melakukan evaluasi jika ada kekurangan agar system yang digunakan benar-benar siap untuk masyarakat.
Dalam kesempatan ini, Kadisparpora, T.Andi Faliandra mengatakan, “Pembayaran non tunai ini kami kerjakan dengan bank jatim dengan tujuan mencegah kebocoran yang ada, selain itu sistem seperti ini akan memudahkan pelanggan dalam mempercepat pembayaran, juga dapat mengurangi risiko penularan covid19 melalui uang tunai.”
Kedepannya pembayaran e-ticketing menggunakan QRIS ini akan diberlakukan di semua destinasi wisata di Kabupaten Pacitan, khususnya pada 9 destinasi wisata yang dikelola pemerintah. Diharapkan penggunaan e-ticketing ini dapat memudahkan pengunjung dengan pembayaran non tunai melalui e-money seperti ovo, linkaja, gopay dan sejenisnya. Sehingga dengan adanya kemudahan ini, pertumbuhan ekonomi dalam sektor pariwisata diharapkan dapat berkembang lebih pesat. (DisparporaPacitan/DiskominfoPacitan).

Bukan Hoax…! Wisata Pacitan Kembali Buka

Upaya pembukaan destinasi wisata yang terus dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) kabupaten Pacitan kini berbuah manis. Pasalnya, saat ini Kabupaten Pacitan sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 60 Tahun 2021, tentang PPKM Level 3, Level 2, dan Level 1 Covid-19 di Jawa dan Bali berhasil turun level menjadi level 2 setelah sebelumnya berada di level 3 selama 4 bulan.
Disparpora Pacitan secara seremonial menggelar acara pembukaan destinasi wisata yang dilaksanakan di Pantai Klayar, (18/11). Acara pembukaan destinasi wisata ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji sebagai bentuk rasa syukur telah dibukanya destinasi wisata di Pacitan dan penyerahan sertifikat CHSE kepada kepala kawasan. Dengan dibukanya destinasi wisata Pacitan oleh Bupati hari ini, maka masyarakat bisa kembali berwisata ke Pacitan mulai Jumat, 19 November 2021.
Dalam kesempatan ini, Bupati Pacitan menyampaikan rasa syukurnya, dengan adanya penurunan level tersebut merupakan hasil kerja keras semua pihak, “harapannya bisa turun level lagi sehingga perekonomian bisa naik,” ungkap Mas Aji
Hal ini tentu sesuai dengan visi misi Bupati Pacitan, yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor agraris, pariwisata dan sektor unggulan lainnya.
Sementara Kejari Pacitan, Hendri Antono yang turut hadir dalam acara ini juga berpesan bahwa penurunan level 2 ini merupakan amanat. Sebagai lembaga penegakan hukum, akan terus mengawal dan menghimbau masyarakat untuk tetap taat aturan dan protokol kesehatan ketika berkunjung ke kawasan wisata di Pacitan.
Kadisparpora Pacitan, Andi Faliandra memastikan dengan persiapan yang cukup lama, mulai dari sertifikasi CHSE dan barcode PeduliLindungi di tiap kawasan, seluruh kawasan wisata siap menerima kunjungan wisatawan.
“Rasa syukur karena kita sudah masuk di level 2 ini, tidak harus diikuti dengan euphoria yang berlebihan, tapi harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang kuat, sehingga tidak memunculkan cluster baru” ungkap Andi, di kesempatan yang sama.
Wilayah yang masuk dalam kategori level 2 diperkenankan membuka destinasi wisatanya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Adapun syarat dan ketentuan berkunjung ke destinasi wisata di Pacitan diantaranya adalah Kapasitas pengunjung 25%, Wajib mematuhi protokol kesehatan, Wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk skrining, Anak usia dibawah 12 tahun diperbolehkan masuk dengan pengawasan orang tua, dan pengunjung wajib sudah vaksin minimal dosis pertama. (DisparporaPacitan/DiskominfoPacitan).

Jadi Narsum Webinar Universitas Hang Tuah, Bupati Aji Berbagi Gagasan Konsep Pengembangan Sektor Industri Kreatif dan Pariwisata Pacitan

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mendapat kehormatan untuk menjadi narasumber Webinar Nasional Kewirausahaan Ekonomi Kreatif Dan Pariwisata Dalam Perspektif Kemaritiman yang diselenggarakan oleh program studi (Prodi) Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hang Tuah Surabaya, pada Selasa (3/8/2021) secara daring.

“Ini momentum bagi saya untuk bisa berbagi gagasan tentang konsep dan strategi pengembangan ekonomi masyarakat Pacitan melalui pengembangan sektor industri kreatif dan pariwisata. Sesuai dengan visi kami Masyarakat Pacitan yang Sejahtera dan Bahagia, sektor pariwisata akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Pacitan,” tukas Bupati Aji.

Di awal paparannya, Bupati menyebut membicarakan pariwisata ditengah Pandemi COVID-19 tentu menjadi bahasan yang sangat menarik.
“Jadi bicara tentang kebahagiaan ditengah kesedihan yang berlangsung hanya saja saya menyakini bahwa semua hal pasti ada waktunya, artinya badai pasti berlalu tidak ada yang abadi, termasuk COVID-19 itu sendiri, entah kita nanti bisa bersahabat dengan COVID-19 atau COVID-19 hilang dari dunia ini,”jelasnya.

Tentunya, kata Bupati Aji, peluang di dunia pariwisata kedepan nanti akan disongsong. Sementara, kata dia, saat ini adalah menyimpan rindu bersama-sama.

“Kangen kita bersama-sama untuk berwisata untuk piknik sehingga pada saatnya nanti bisa betul-betul berwisata yang berkualitas,”ujar dia.
Dalam kaitan dengan penataan wisata bahari, Bupati Aji mengatakan dirinya memiliki beberapa kebijakan yang mendukung pariwisata ini yang itu tercantum dalam visi misi Bupati Pacitan.

“Yaitu masyarakat Pacitan yang sejahtera dan bahagia, di sini di misi yang ketiga adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor agraris, kemudian sektor pariwisata serta sektor unggulan lainnya, artinya waktu kami bikin visi misi ini betul-betul kami menyantumkan kami tulis disitu pariwisata,”ujarnya.

Sebagai bentuk keseriusan dalam penataan sektor pariwisata, Bupati mengatakan fokus di RPJMD yang sedang disusun di 2021 sampai 2026 ini tertulis prioritas pembangunan peningkatan Daya Tarik Wisata (DTW).

“Dan kawasannya juga kami cantumkan ada Pantai Buyutan, Pantai Klayar, Pantai Watu Karung, Pantai Srau, Pantai Pancer Door dan Pantai Taman, di sini bisa dilihat dari sekian wisata atau potensi wisata yang saya sampaikan, yang kami cantumkan adalah destinasi wisata yang khususnya wilayah pantai atau bahari,”papar mantan Ketua DPRD Pacitan ini.

Bukan tanpa dasar Bupati menyebut wisata bahari menjadi salah satu fokusnya. Hal itu, kata dia, seperti riset yang dilakukan bahwa pengunjung itu akan lebih banyak datang ke pantai daripada tempat wisata yang lain secara berulang.

“Artinya kami mempunyai wisata gua yang sangat indah sekali adanya goa gong, tapi biasanya pengunjung datang ke goa itu hanya sekali, maksimal dua kali, tapi ketika ke pantai bisa berkali-kali dan ada aktivitas yang dilakukan di pantai yang itu bisa menambah lama tinggal dari para pengunjung. Maka dari itu kami fokus mencantumkan pantai-pantai yang akan kami kembangkan kedepannya,”paparnya.

Mengakhiri paparnnya, Bupati berharap, webinar yang diselenggarakan oleh universitas Hang Tuah ini bisa lebih memperkenalkan potensi Kabupaten Pacitan secara lebih luas.

Dalam seminar nasional daring tersebut, juga turut menjadi narasumber adalah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno, Komisi XI DPR RI Kamrussamad dan Dosen Administrasi Publik Universitas Hang Tuah Budi Rianto. (Pemkab Pacitan)

Imbas Larangan Mudik, Wisatawan Luar Tak Boleh Masuk Pacitan

Pemerintah pusat melalui Satuan Tugas Covid-19, memang telah mengeluarkan kebijakan untuk memperpanjang larangan mudik lebaran Tahun 2021/1442H. Larangan mudik lebaran berlaku mulai tanggal 22 April-24 Mei 2021 mendatang. Kebijakan itu pun berimbas dengan pelarangan berkunjung bagi wisatawan dari luar Pacitan.
Demikian ditegaskan, juru bicara satgas Covid-19 Pacitan, Rachmad Dwiyanto bahwa selama larangan itu tempat wisata di Pacitan hanya diperuntukkan wisatawan lokal saja.
“Kalau untuk wisata ndak masalah, selagi masyarakat lokal sendiri, yang ditutup orang luar kota, karena jika masyarakat dilarang mudik sementara pariwisata buka untuk orang luar akan menjadi ambigu,” katanya, Jumat (23/4/2021).
Meskipun mempunyai hasil swab dan rapid test, Rachmad menjelaskan tetap tidak di perbolehkan, nantinya pihak Pemkab Pacitan memastikan itu berjalan dengan baik akan dilihat KTP dan nomor kendaraan.
“Dua-duanya akan kita cek, meskipun nanti juga berimbas terhadap pendapatan pelaku usaha namun kan tidak hilang karena masih ada wisatawan lokal,” imbuhnya.
Rachmat menilai hal yang wajar jika suatu kebijakan ada pro kontra, seperti larangan mudik lebaran. Namun, perlu diketahui itu semua dilakukan demi kebaikan bersama.(Diskominfo)

Tetap Harus Naik Meski Sesaat

Kenaikan Harga Tiket Masuk (HTM) di sejumlah destinasi pariwisata di bawah naungan Dinas Pariwisata (Disparpora) Kabupaten Pacitan menuai pro kontra publik. Masyarakat berpandangan kebijakan tersebut blunder jika mengacu pada situasi perekonomian saat ini yang tengah lesu-lesunya.
T. Andi Faliandra, Kepala Disparpora Pacitan sontak angkat bicara menyikapi persoalan tersebut. Selama ini pihaknya memang memilih bungkam jika ditanya melalui jejaring medsos. Bukan tanpa sebab, jawaban di dalam forum medsos justru akan memancing persepsi publik yang semakin luas dan tidak terkendali.
Tetapi ternyata kebijakan tersebut telah sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Tempat Rekreasi dan Olahraga merupakan program lanjutan dari rancangan perda pada tahun 2019 yang kini telah disahkan, tentu sebelum Covid-19 berkecamuk di Kabupaten Pacitan.
Akhirnya perda yang telah dikaji oleh gubernur dan sah secara hukum tersebut ditunda hingga satu tahun lamanya, dengan dukungan Keputusan Bupati Pacitan Nomor: 188.45/151/KPTS/408.12/2021 Tentang Pencabutan Pengurangan Beberapa Retribusi Tempat Rekreasi Dan Olahraga Di Kabupaten Pacitan. “HTM Harus tetap kami terapkan. Jika nanti ada dampak barulah kami akan lakukan evaluasi dan perbaikan, artinya kami tidak menutup mata,” kata Andi kepada Diskominfo Pacitan, Senin (08/02).
Sementara Perda Nomor 3 Tahun 2020 tersebut dikaji dari situasi pada tahun 2019 akhir, bukan pada kondisi sekarang. Sedang pemerintah sendiri harus menempatkan diri pada porsinya yang tidak dapat lepas dari segala aturan birokrasi.
Sementara Andi mengaku peningkatan retribusi maupun target kunjungan bukan menjadi tujuan Disparpora, namun lebih fokus terhadap keselamatan petugas maupun pengunjung terhadap virus Corona, tentu dengan disiplin dalam penerapan protokol kesehatan.
Meninjau kondisi tersebut, Tim Liputan Diskominfo Pacitan justru tercengang saat membuat wawancara kepada beberapa pengunjung yang datang di Pancer Door Pacitan. Salah satunya adalah Puri Eka, yang berpandangan kenaikan HTM sebenarnya bukan masalah serius yang mesti dibesar-besarkan.
Eka dan teman-temannya merasa pemerintah memiliki alasan yang tepat terhadap kebijakan yang diterbitkan. Meski ia berharap adanya HTM khusus terhadap pelajar yang membawa kartu pelajar. “Pemerintah pasti punya pandangan lain yang kita belum paham,” ujarnya dewasa.
Masukan semacam itu pun tetap disikapi positif oleh Andi, ia mengaku pihaknya memang saat ini tengah menyetop berbagai program diskon HTM kepada pengunjung. Ini terpaksa dilakukan karena akan bersinggungan dengan penanganan Covid-19. “Sementara kami tunda dulu hingga Covid-19 terkendali dan sekarang kita akan tetap menaikan HTM sesuai perda yang ada,” pungkas Andi. (bd/anj/Frd/riy/ss/dzk/rch/tk/DiskominfoPacitan).