BPBD Pacitan; Gunakan Air Secukupnya

Kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga ahir bulan Oktober mendatang, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Deraha BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo di ruangannya 11/10 kepada Diskominfo Pacitan, sesuai buletin harian yang dikirim Badan Meteorologi Krimatologi dan Geofisika (BMKG). “Atau bergeser di bulan November. Ini perlu kita sikapi,” katanya.

1127 stok tanki air bersih diterima Kabupaten Pacitan pada tahun ini, dan telah disalurkan sebanyak 1000 tanki lebih, tinggal menyisakan seratusan tanki saja. “Kapan turun hujan masih menjadi prakiraan, jadi mari guanakan air bersih seperlunya saja,” himbau Didik.

Tidak hanya di Kabupaten Pacitan krisis air bersih ini terjadi, sejumlah wialayah di Pulau Jawa umumnya mengalami hal serupa, membuat himbauan yang disampaikan didik tersebut tidak berlebihan. Meski pihaknya merasa bersyukur dengan berbagai gerakan droping  yang dilakukan pihak lain teramat sangat membantu.

Sementara, inovasi yang dilakukan Bupati Pacitan Indartato terkait memfungsikan kembali ratusan sumur bor di Pacitan akan membuat BPBD tetap pada porsinya, namun Didik menegaskan bahwa droping nantinya hanya bersifat kedaruratan.

“Jika nanti sumur bor telah berfungsi tentu akan memudahkan semua masyarakat. Mereka secara mandiri akan mengelola sendiri, sedang yang tidak memiliki sumur bor akan mendapat perhatian lebih dari pemerintah melalui droping,” tambah Dia. BPBD selanjutnya akan lebih fokus pada sisi aspek, kesiapsiagaan dilakukan, memotifasi masyarakat terkait situasi kekeringan serta turut menjaga alat yang ada di sumur bor tidak rusak. (budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

BPBD Pacitan Turunkan Jurus Sakti Saat Hadapi Bencana

Sebanyak 175 anggota Tim Penggerak PKK dan Darma Wanita Persatuan se Kabupaten Pacitan mendapat pencerahan berbagai macam potensi bencana, baik ancaman banjir, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi atau pun tsunami.

Karena semua harus siap jika bicara masalah bencana, baik anak-anak, lansia bahkan difabel. Mereka harus memahami mitigasi dan risiko bencana jika Kabupaten Pacitan ingin tangguh terhadap bencana.

Luki Indartato Ketua TP PKK dan sekaligus Penasihat DWP Kabupaten Pacitan mengatakan kegiatan ini dirasa perlu dilakukan kepada para anggota, mengingat sosok wanita sebagai ujung tombak dalam keluarga. “Jenengan semua berperan penting dalam mewujudkan keluarga yang sadar bencana,” ujar Luki kemarin (07/10).

Berbagai macam potensi yang sekonyong-konyong dapat terjadi dikenalkan secara lugas oleh Diannitta Agustinawati Kasi Pencegahan Dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan. Pada kesempatan tersebut ia juga menegaskan akan pentingnya menyiapkan tas siaga.

“Meski sangat sederhana, namun tas siaga ini sangat penting saat terjadi bencana. Masukkan ke dalam tas berbagai kebutuhan, termasuk senter, kotak P3K, surat berharga atau makanan kering,” kata Diyannita.

Peserta juga memperoleh tambahan jurus dalam menghadapi gempa bumi, ini sangat penting karena hingga kini tidak ada alat yang dapat memperdiksi kedatangannya, dan disempurnakan dengan jurus menghadapi tsunami. (budi/dzakir/wira/DiskominfoPacitan).

Salurkan Air Bersih Untuk Warga Terdampak Kekeringan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakatnya. Khususnya pada wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Seperti dilakukan Bupati Indartato bersama Wakil Bupati Yudi Sumbogo dan jajaran terkait di Dusun Jatisari, Desa/Kecamatan Punung. “Semoga bantuan dan penyaluran air bersih dapat meringankan beban masyarakat ditengah musim kemarau,” katanya, Senin (2/9/2019).

Selain ikut memberikan bantuan Indartato juga berkesempatan mendatangi aktifitas warga setempat yang tengah menggali sumur. Melihat hal itu ia lantas menginstruksikan OPD terkait untuk ikut memberikan dukungan dalam proses pendistribusiannya nanti.

Sesuai data yang disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Didik Alih Wibowo melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Aswin Rikha Wijaya, kini, diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan terdapat 45 desa mengalami kekeringan. Puluhan desa terdampak itu secara bergilir mendapatkan pasokan air bersih dari BPBD maupun pihak-pihak lain yang memberikan bantuan. “Total sebanyak 355 rit bantuan air bersih disalurkan. Dari BPBD sebanyak 231 rit. Sisanya dari pihak swasta atau kelompok masyarakat yang peduli,” jelas dia. (arif/danang/juremi tomas/humaspacitan)

Kemarau Masih Panjang

Kabupaten Pacitan dua hari terakhir mengalami mendung, beberapa wilayah  dilaporkan turun hujan dengan intensitas rendah. Namun hujan tersebut menurut Kepala BPBD Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo bukan pertanda musim hujan telah tiba.

 “Ada perubahan arah angin,” ujar Dia di ruang Pusat Data Dan Informasi (Pusdatin) saat ikut memantau rilis prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG pagi tadi 26/08. Perubahan arah angin disampaikan Didik sebelumnya berembus dari arah utara, kini bergeser dari arah tenggara membawa kelembaban 94-73 persen dengan kecepatan 8-21 Km/jam, kondisi ini diproyeksikan terjadi sampai pada malam hari nanti.

Sejauh ini tidak ada hal yang perlu disikapi berlebih, semua aman terkendali. Kecuali peningkatan gelombang ombak di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dengan tinggi gelombang mencapai 3-4 Meter, masyarakat yang berada di lokasi pesisir untuk lebih meningkatkan kewaspadaannya.

Masyarakat juga dihimbau untuk melakukan penghematan air bersih karena musim kemarau masih panjang. Berdasar rilis terakhir Diskominfo Pacitan dari laporan BPBD Pacitan pekan kemarin, disampaikan hujan diramalkan turun pertengahan Oktober 2019 mendatang. (budi/anjar/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).

Bisakah Musim Kemarau Tanpa Krisis Air?

Musim kemarau tahun ini akan lebih panjang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramal hujan turun pertengahan bulan Oktober. Ini jadi masalah, karena krisis air sudah berlangsung di 45 desa, untuk kebutuhan primer masyarakatnya mengandalkan droping air bersih dari pemerintah. Kenyataannya angka itu pasti akan terus bertambah, terlebih jika hujan terlambat datang.

 Sementara stok air yang dipunya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan sudah berkurang 188 tangki, tersalur ke berbagai desa yang masuk pada kriteria kering kritis dari jumlah stok 360 tangki. “Jumlah total hasil dari anggaran yang kami alihkan untuk kemarau ditahun ini,” ujar Didik Alih Kepala pelaksana BPBD kemarin 19/08.

 Beruntung, BPBD masih memiliki tambahan 300 tangki, diperoleh dari hasil koordinasi dengan Gubernur Jatim melalui BPBD Provinsi. Tugas selanjutnya adalah memanajemen angka tersebut sehingga tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sampai pada akhir kemarau yang belum pasti kapan berakhir.

 Tapi akankah musim kemarau ditahun-tahun yang akan datang selalu terjadi krisis air, masyarakat kebingungan air bersih, mengandalkan droping dari pemerintah yang hanya cukup untuk kebutuhan primer? 

 Menjaga alam mesti dilakukan, sarat wajib supaya sumber tetap mengalirkan air. Dengan berbagai kearifan lokal yang dimiliki masing-masing wilayah. “Masyarakat harus sadar akan ini (Menjaga Alam), sederhananya menjaga pohon sekitar sumber air, atau justru menambah pohon, atau menjaga ikan yang diyakini dapat mencari sumber air dan lain sebagainya,” papar Didik.

 Semua ancaman umumnya sudah dapat diprediksi, termasuk kekeringan. Diannitta Agustinawati, Kasi Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan menyampaikan, wilayah harus membuka diri dengan ancaman ini. “Kita menoleh ke belakang, melihat apa yang terjadi dilingkungan kita,” ucap Diann.

 Sumber air hilang tentu mempunyai disertai banyak sebab, yang bisa dipelajari bersama, seperti memahami jenis-jenis pohon yang dapat mengikat air atau pun sebaliknya, masyarakat harus paham jika ingin air mengalir di seluruh sendi kehidupan setiap musim sepanjang tahun. Terlepas dari kepentingan ekonomi yang sejatinya bisa disesuaikan, supaya alam dan ekonomi berjalan berdampingan.

 Siap tidak siap, tahun depan kemarau akan kembali datang, durasinya tidak bisa dirumuskan dengan pasti, pemerintah dan semua elemen harus melek, memulai sesuatu bersama-sama dalam rangka mengembalikan fungsi alam sebagaimana mestinya, supaya Pacitan bebas krisis air dan tidak disalahkan anak cucu kelak. (budi/riyanto/wira/DiskominfoPacitan).