BPBD Pacitan Bagi Keberhasilan Penanganan Banjir 2017

Kegiatan penanggulangan bencana sejatinya bukan hanya berfokus pada pra bencana dan saat tanggap darurat saja, namun kegiatan pasca bencana juga menjadi bagian penting yang harus disiapkan.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Batu didukung BPBD Provinsi Jawa Timur serta melibatkan NGO Siap Siaga menggelar kegiatan lokakarya “Penyusunan Kajian Kebutuhan Pasca Bencana dan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3P) Banjir Bandang Malang Raya”.

“Kembali lagi pada prinsip Rehabilitasi dan Rekonstruksi yaitu Build Back Better And Server. Membangun kembali menjadi lebih baik dan aman,” terang Dhany Ariwibowo Kasi Rehabilitasi BPBD Provinsi Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, BPBD Kabupaten Pacitan mendapat kesempatan untuk sharing pengalaman terkait penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana (R3P) siklon cempaka tahun 2017 untuk di adopsi di Kota Batu Malang pasca bencana banjir bandang Malang Raya. Mewujudkan percepatan pemerataan pembangunan infrastruktur pasca bencana juga menjadi hal yang digabungkan Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji.

Sementara kunci keberhasilan penanganan banjir bandang di Pacitan menurut Radite Suryo Anggono Kasi Rehabilitasi Rekonstruksi BPBD Pacitan, secara sederhana terletak pada unsur pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang saling berkolaborasi dalam penanggulangan bencana. (BPBDPacitan/DiskominfoPacitan).

BPBD dan Dinas PUPR Bersinergi Tangani Erosi Grindulu

Sejumlah rumah warga di dua Desa, yakni Desa Gembong dan Desa Pagutan yang berada di pinggiran daerah aliran sungai (DAS) Grindulu itu terancam amblas. Pasalnya hujan deras yang mengguyur Kecamatan Arjosari beberapa hari lalu mengakibatkan debit air sungai Grindulu meningkat dan mengalami erosi.

Hingga saat ini erosi tersebut makin meluas dan membahayakan rumah warga yang berada di sepanjang sungai.

“Hari ini kami sudah kirimkan personel untuk assesment awal kemudian kita juga berikan terpal dan glangsing sebagai upaya awal penanganan darurat. Lanjut kami akan koordinasikan dengan dinas teknis terkait,” kata Didik Alih Wibowo.

Guna mencegah dampak yang lebih buruk, pihaknya memberikan sosialisasi kepada warga yang tinggal di dekat aliran sungai. Mereka diminta waspada dan segera mengungsi jika terjadi hujan deras kembali terjadi. Upaya tersebut dilakukan demi masyarakat pacitan yang sejahtera dan bahagia sesuai visi misi Bupati Pacitan.

Kerusakan yang diakibatkan erosi ini kian mengkhawatirkan. Pemukiman warga yang terancam setidaknya berjarak 3 meter dari bibir sungai. Untuk sementara 2 KK saat ini diungsikan ke rumah sanak saudara yaitu milik Hadi Kuslan/Rusminingsih RT 01/RW 03 dan Riyanto/Siti Aminah.

Sementara itu, Siang ini (21/11) Dinas PUPR menerjunkan satu unit excavator ke Sungai Grindulu Desa Pagutan untuk mengalihkan alur sungai yang mengikis tebing.

“Ini adalah upaya penanganan darurat untuk mengurangi dampak kerusakan yang lebih besar.  Selanjutnya kami akan terus mengupayakan agar kerusakan tebing sungai tersebut segera bisa ditangani”, ungkap Yudo Tri Kuncoro Kepala Bidang Sumber Daya Air. (BPBDPacitan/PUPR/DiskominfoPacitan).

Nelayan dan Warga Pesisir Wajib Khatam Urusan Tsunami

Saat ini sinergitas seluruh lapisan masyarakat serta Pemerintah wajib dilaksanakan sebagai upaya menanggulangi dan mengantisipasi bencana. Terlebih letak geografis Kabupaten Pacitan termasuk daerah rawan bencana alam, baik dari perairan maupun daratan.
Berawal dari problematika tersebut Perangkat Daerah (PD), khususnya yang memiliki tugas dan fungsi membimbing masyarakat nelayan maupun masyarakat yang mendiami kawasan pesisir, terus secara masif memberikan sosialisasi tentang mitigasi bencana.
Seperti halnya dilaksanakan oleh Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Blitar menggandeng Dinas Perikanan (Disperikan) Kabupaten Pacitan serta dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, mengadakan kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kepada Masyarakat Pesisir, yang dihelat di Ruang Pertemuan Disperikan, Hari ini (15/11).
Tentunya, momentum ini Disperikan mengundang puluhan nelayan Pacitan dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberi edukasi kepada masyarakat tentang kebencanaan supaya masyarakat tanggap jika suatu saat terjadi bencana alam, khususnya Tsunami.
Dengan adanya sosialisasi ini setidaknya bisa meminimalisir kerugian harta benda maupun korban jiwa sekaligus mewujudkan Visi Misi Bupati Pacitan yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang paham dengan mitigasi bencana,” Kata Sumorohadi, Plt. Kepala Disperikan Pacitan saat membuka acara.
Pihaknya menekankan bahwa kegiatan sosialisasi seperti ini akan terus dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat yang tinggal di pesisir serta nelayan. Terlebih pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa Kabupaten Pacitan sangat rawan bencana Tsunami.
“Dengan adanya sosialisasi secara berkala, masyarakat akan lebih paham terkait mitigasi bencana, serta memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan pesisir khususnya menjaga kelestarian hutan Mangrove,” tambah dia. (Disperikan/DiskominfoPacitan).

Gerak Cepat Bersihkan Banjir Batu

Banjir batu menerjang Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, Pacitan, Senin (8/11) malam. Material batu dari Bukit Parangan menutup akses jalan yang menghubungkan antara Desa Karangrejo dengan Arjosari.
“Longsor batu bercampur lumpur itu diakibatkan turunya sedimen di bagian hulu sungai saat ini jalan tertutup lumpur dan batu untuk keselamatan disarankan tidak mendekat di alur sungai dikarenakan malam hari dan pemantauan visual tidak dapat dilakukan,” terang Didik Alih Wibowo Kepala BPBD Pacitan.
Sebagai langkah darurat BPBD dan instansi terkait bersama masyarakat (9/11) dibantu alat berat membersihkan material longsor agar jalan dapat dilalui kendaraan.
Sebelum bencana banjir batu itu terjadi, wilayah Kecamatan Arjosari diguyur hujan dengan intensitas lebat. Hingga banjir dari atas Bukit Parangan Desa Karangrejo membawa material berupa lumpur dan batu menerjang serta menutup akses jalan desa hingga jalan tersebut tidak bisa dilalui. (BPBDPacitan/DiskominfoPacitan).

Siap Siaga Bentuk Ketangguhan Desa di Pacitan

Bertempat di Balai Desa Semanten, BPBD Pacitan berkerja sama dengan Siap Siaga menggelar Pelatihan Dasar Kebencanaan dan Uji Coba Penyusunan RKP Desa Untuk Pembentukan Program Destana, (11/10).
Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari yakni 11-14 Oktober 2021 dan diikuti 3desa, Nanggungan, Widoro dan Semanten.
Saat ini Pemerintah tingkat Desa diharapkan mampu mengelola desa agar dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat. Proses ini termasuk memobilisasi kapasitas masyarakat untuk melakukan upaya mitigasi dan risiko bencana. Pengelolaan secara tepat pada seluruh siklus manajemen bencana termasuk kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap darurat sampai dengan membangun kembali pasca bencana secara lebih baik dan mampu mengurangi resiko bencana di masa mendatang.
“Saya ucapkan terimakasih kepada Siap Siaga, Organisasi kerjasama Indonesia-Australia yang telah memfasilitasi kegiatan ini,” terang Didik Alih Wibowo, Kalaksa BPBD Pacitan.
Pihaknya melanjutkan, kegiatan seperti ini penting mengingat kondisi Kabupaten Pacitan yang rawan bencana sehingga diperlukan kemandirian dari masyarakat untuk dapat tanggap dan tangguh menghadapi bencana
Berdasar prioritas tersebut, BPBD bersama pemerintah daerah dan berjejaring dengan para pihak termasuk non pemerintah, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, dunia usaha dan media bekerja sama membangun ketangguhan bencana melalui percepatan inisiatif ketangguhan masyarakat. (BPBD Pacitan/ Pemkab Pacitan)