Bentuk Kampung Tangguh di Bumi Jenderal Sudirman

Burung merpati sebagai simbol kebebasan dilepas liarkan oleh Indartato di depan Balai Desa Pakis Baru, Nawangan. Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pacitan itu mengawali Launching Kampung Tangguh Semeru di wilayah sejuk yang pernah menjadi panggung perjuangan Jenderal Besar Sudirman saat menghadapi serdadu penjajah.

Mencetak Kampung Tangguh Semeru, berbagai aspek dikedepankan. Sumber Daya Manusia (SDM) tentu menjadi prioritas, selebihnya ketahanan pangan juga menjadi sasaran penunjang kalau-kalau situasi berubah menjadi kritis seperti karantina wilayah.

Kepala Desa setempat, Sugiyanto menyampaikan meski ada satu pasien positif dari cluster Temboro yang kini masih dikarantina di Wisma Atlet namun dirinya mengaku masih bisa bersyukur, karena penyakit itu tidak sampai menular kepada keluarga dan masyarakat lain. “Keberhasilan menghentikan laju pandemi di tempat kami merupakan buah dari kekompakan semua pihak,” Kata Dia di hadapan Bupati dan Jajaran Covid-19 Pacitan.

Kesiapan juga berlebih di Desa Ngromo, 3 pasien dari cluster Temboro pernah dicatat di desa tersebut membuat Pemdes melakukan upaya yang lebih serius, berharap tidak terjadi penambahan baru. Bersyukur, peran masyarakat hingga kini nyata adanya.

Gunawan, Kades Desa Ngromo lokasi kedua kegiatan launching mengaku pihaknya gencar melakukan kampanye masif kepada masyarakat yang berjumlah lebih dari 4500 jiwa. Sehingga meski hingga kini masih ada 4 orang yang menjalani tes Swab, masyarakat tidak resah karena paham betul akan bahaya pandemi Corona beserta dampaknya. “Bersyukur ketahanan pangan kami cukup karena mayoritas petani, jadi tidak terlalu membebani pemdes,” ujarnya. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

Akhirnya! Pasien Covid No 1 Akhirnya Sembuh

Muhammad Nurul Huda pasien pertama Covid-19 di Pacitan akhirnya dinyatakan sembuh setelah menjalani Karantina di RSUD dr. Darsono dan di Wisma Atlet Pacitan selama 74 hari mengikuti 11 kali Swab dan 3 kali dinyatakan negatif.

Pernyataan sembuh tersebut disampaikan Bupati Pacitan Indartato bersama jajaran Satgas Covid-19 Pacitan di Pondok Tremas, Arjosari melihat langsung pencanangan Pondok Tangguh.

Sementara Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo pada momentum tersebut berkesempatan mengantar langsung pemulangan Huda di Wisma Atlet Pacitan. Saat itu Wabup Berharap pulangnya pasien 01 ini menjadi semangat pasien Covid-19 lain untuk mengikuti jejaknya dapat berkumpul bersama keluarga. “Kami mohon maaf jika saat melayani banyak kekurangan,” ucap Wabup. (15/06)

Selain Huda, 2 pasien lain juga dinyatakan sembuh hari ini, yakni dari Kecamatan Nawangan dan Pringkuku, kedua pasien tersebut adalah santri dari cluster Temboro yang kini juga dapat kembali berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga.

Hinar binar raut kebahagiaan begitu terpancar di wajah Huda, cluster Sukolilo ini tampak gondrong, ditanya oleh Diskominfo Pacitan terkait pelayanan yang diberikan oleh Satgas Covid-19 ia mengakui sangat baik. “Mereka (Petugas Penanganan Covid-19) luar biasa dengan segala inovasinya, sehingga kami senang dan imunitas kami jadi kuat,” terang Huda.

Pada momentum tersebut Huda juga berpesan kepada khalayak untuk bersikap positif kepada penderita Covid-19, dengan cara menjauhi penyakitnya bukan menjauhi orangnya. “Mari kita ikuti pesan-pesan pemerintah. Karena itu adalah perwakilan Allah yang ada dimuka bumi ini,” pungkas Dia.

Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto dikesempatan yang sama juga menyampaikan adanya pasien positif baru di Pacitan, pasien bernomor 18 tersebut berasal dari Kecamatan Tulakan. “Pasien baru ini mencari kerja di Surabaya dan dinyatakan Positif di sana. Saat ini berada di RSUD Pacitan,” tambah Rachmad. (budi/anj/rch/tika/DsikominfoPacitan)

Pasar Kuat dan Kampung Tangguh

Disamping masyarakatnya, Desa memiliki peran vital menentukan tangguh atau tidaknya suatu wilayah dalam menghadapi ancaman pandemi Covid-19, melihat kenyataan tersebut Bupati Pacitan Indartato yang juga Ketua Satuan Gugus Tugas Covid-19 Pacitan mengukuhkan desa tangguh atau biasa disebut Kampung Tangguh Semeru.

Di Kecamatan Arjosari, Desa Jatimalang terpilih menjadi percontohan pertama, lantaran desa tersebut masih berstatus Hijau atau zero pasien corona. Banyak faktor yang harus disiapkan untuk menuju menjadi desa tangguh, selain sarana dan prasarana juga komitmen dari pemerintah dan masyarakatnya.

Indartato dalam kesempatan tersebut mengapresiasi komitmen penting tersebut, nantinya desa tangguh harus terinstal semua desa di Kabupaten Pacitan. “Kami berharap hal ini tidak hanya Ceremony belaka,” kata Bupati.

Sebelumnya rombongan Satgas Covid-19 Pacitan itu juga menyempatkan diri, melihat langsung Pasar Arjosari yang dilaunching menjadi Pasar Kuat. (budi/anj/rch/tika/DiskominfoPacitan).

New Normal Bukan Abnormal

Pandemi Covid-19 punya peran penting mempengaruhi situasi perekonomian masyarakat Kabupaten Pacitan. Khususnya mereka yang bergantung pada bisnis pariwisata, hampir-hampir mereka benar-benar tanpa pemasukan sama sekali tiga-empat bulan terakhir. Belum lagi pedagang, pelaku industri kreatif nelayan dan yang lain, menjadi peserta terdampak runtuhnya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Wacana New Normal yang tengah ramai menjadi pembahasan khalayak oleh media mainstream seakan memberi angin segar ditengah kehampaan. Mimpi perekonomian yang normal tanpa meninggalkan faktor kesehatan dan kemanusiaan memang tengah digodok pemerintah mulai tingkat pusat hingga wilayah-wilayah sehingga semua tidak berlarut-larut.

Dari teluk pantai Watu Karung, Pringkuku Suprapto menyambut gembira rencana ini, 10 kamar homestay yang ia gunakan untuk menjaring rupiah telah lama tidak dijamah tamu, bahkan selama ini karyawannya terpaksa ia pulangkan sementara karena bisnisnya mogok. “Sudah kami persiapkan segala hal untuk menyambut tamu,” ujar Dia begitu semangat.

Sesuai arahan pemerintah oleh Suprapto ia laksanakan sepenuhnya protokol kesehatan sesuai SOP, termasuk berbagai penyesuaian manajemen sehingga berjalannya New Normal tidak menjadi abnormal. “Pemantauan orang asing yang telah berjalan sepenuhnya kita laksanakan,” lanjut Dia.

Tak ayal, Watukarung bukan saja primadona wisatawan domestik, mereka para pehobi surfing dari belahan bumi lain begitu mengidolakan ombak Watu Karung. Kenyataan tersebut membikin momentum pada bulan-bulan terakhir 2020 tetap menjadi asa bagi mereka pelaku wisata. “Sudah banyak yang menelpon kemarin, tapi sesuai pemerintah masih kita tolak. Semoga New Normal segera dimulai,” harap Dia.

Diantara profesi yang yang lain, nelayan pun termasuk korban Covid-19, sebut saja Budi Santoso, nelayan yang fokus mencari lobster yang tinggal tak jauh dari bibir pantai Watu Karung ini juga merasakan dampak pandemi. “Karena tidak ada wisatawan pesanan lobster juga menurun,” ujar Budi.

Selama ini untuk menyambung hidup, budi dan rekan-rekannya mengaku mencari kesibukan lain supaya asap dapur tetap mengepul, termasuk bekerja sebagai kuli bangunan. Kepada Diskominfo Pacitan wajah lugunya menyiratkan semangat menyambut New Normal dengan segala mekanismenya, sehingga ekonomi tetap berjalan dan Covid-19 dapat dilumpuhkan.  (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan)

4 OTG Keluarga Pagerejo Ditemukan; 1 Anak Sulung Dalam Pencarian

Pemerintah tidak melakukan diskriminasi terhadap semua pasien positif Covid-19 dari cluster manapun termasuk cluster Temboro. Malahan Pemerintah begitu menumpukan harapan kepada semua santri, karena pemangku kebijakan paham mereka adalah salah satu generasi penerus kebanggaan bangsa.

Singkat cerita, keluarga OTG dari Pagerejo, Ngadirojo akhirnya dapat ditemukan kemarin malam (04/06) usai media resmi @pemkabpacitan merilis kejadian tersebut. Jubir Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto mengatakan yang bersangkutan ditemukan oleh tim di Lingkungan Slagi, Pucang Sewu, Pacitan.

Sayang, kondisi mereka tak lagi utuh berlima, satu anggota keluarga ternyata tidak berada ditempat yang sama. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya baru bagi petugas dan masyarakat. “Mereka langsung diamankan di Wisma Atlet dan sekarang melakoni uji Swab di rumah sakit. semoga hasilnya negatif,” harap Rachmad hari ini (05/06) di ruangnya.

Jubir baru mengaku ternyata satu keluarga adalah PNS, ini membuat satgas Covid-19 Pacitan memberlakukan tindakan tambahan melalui Badan Kepegawaian, Pendidikan Dan pelatihan Daerah (BKPPD). “PNS akan diproses lebih lanjut. Karena ini program pemerintah,” tegas Jubir.

Sekali lagi santri adalah tumpuan generasi muda, meski sebenarnya pemerintah tampak begitu segan menghadapi dilema ini, namun yang pasti pemerintah hanya ingin santri seluruhnya dalam kondisi sehat dan tidak menjadi sumber penularan dalam pandemi ini.

Baik kepada keluarga dan masyarakat di Kabupaten Pacitan termasuk kepada para ustadz dan Kyai di pondoknya Temboro, Magetan kelak ketika mereka kembali menimba ilmu agama. “Perlakuan ini semata karena kita sangat menyayangi mereka. Semua juga tidak dibebani biaya,” pungkas Rachmad.

Walaupun kini si sulung belum diketahui dimana rimbanya, namun pemerintah mengharap masyarakat untuk tetap tenang, tidak cemas. Selain tetap menjaga protokol kesehatan masyarakat dipersilahkan kooperatif dengan melapor kepada petugas jika mengetahui keberadaan si sulung.

Pemerintah tidak serta merta melaksanakan protokol penanganan pasien covid-19 secara kaku dan saklek. Bila yang bersangkutan antusias dan disiplin dengan seluruh aturan, maka tidak perlu melakoni karantina di Wisma Atlet, di rumah masing-masing pun cukup. Kecuali timbul gejala, barulah yang bersangkutan akan dirawat intensif di rumah sakit. (budi/rch/tika/DiskominfoPacitan).