Anak Muda Jaman Now. Harus Pandai Baca Peluang

Menjadi anak muda jaman sekarang harus pandai-pandai baca peluang. Seperti yang dialami beberapa anak muda dari dusun pahit ini. Kisah yang menginspirasi anak muda lainya untuk berbisnis di bidang peternakan.

Salah satunya Budi Winarno pemuda dari Dusun Pahit Desa Tahunan merupakan anak dari Pairan. Budi merupakan salah satu pemuda yang merintis bisnis sapi perah. Dengan umur 25 tahun yang terbilang masih muda sudah berani ikut berbisnis susu sapi perah.

“Saya terinspirasi setelah melihat saudara saya yang ada di luar desa. Dia sudah sukses dalam berbisnis sapi perah, dan saya ingin mengikuti jejak kesuksesanya”, kata Budi.

Bisnis sapi perah tidak melihat umur. Semua kalangan bisa berbisnis sapi perah ini. Mulai dari petani hingga PNS bisa berbisnis sapi perah. Memang harus memerlukan waktu ekstra untuk mngurusi sapi perah ini. Mulai dari membersihkan kendang sapi dan memandikan sapi, untuk memerah itupun harus tepat waktu untuk menghasilkan susu yang bagus.

Selain Budi masih terdapat pemuda lain yang mulai menekuni bisnis sapi perah. Ashari dan Mulyono juga pemuda tetangga Budi juga ikut menekuni bisnis ini. Selain menciptakan penghasilan, anak muda ini juga sarana belajar peternakan untuk bisnis masa depan mereka. Mereka tidak perlu lagi merantau.

Diharapkan anak muda Desa Tahunan lainya juga ikut berbisnis sapi perah sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan memutus tradisi anak muda yang merantau hingga ke luar pulau.(yuda/jwtahunan)

SLRT, Program Baru Dinas Sosial Jembatan Bagi Warga Miskin

slrt-kabupaten-pacitan

kepala dinsos pacitan saat memberikan sambutan terkait mekanisme SLRT

Pacitan – Perwakilan dari kementerian Sosial, Dinas Sosial , Bappeda, UPT Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan pelaksana SLRT (Sistem Layanan Rujukan Terpadu) Kabupaten Pacitan mengadakan rapat terkait program baru Dinas Sosial yakni SLRT yang fungsinya untuk mempermudah akses pengusulan bantuan keluarga miskin, Selasa (19/12/2017). Program baru SLRT dari Dinas Sosial merupakan jembatan bagi warga miskin untuk mendapatkan bantuan yang nantinya dimasukkan ke dalam BDT (Basis Data Terpadu) keluarga penerima manfaat.
Manager SLRT Pacitan, Muzazamah mengatakan untuk warga miskin yang mendapatkan bantuan harus sesuai dengan rumus indikator kemiskinan. “Untuk mengusulkan bantuan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) harus meliputi 21 indikator kemiskinan sesuai PERBUP no. 36 tahun 2016 yang nantinya diusulkan ke Bupati melalui Dinas Sosial”, katanya.

Lebih lanjut Bambang selaku perwakilan dari Dinas Sosial menegaskan terkait dengan pengusulan KPM harus melengkapi berkas persyaratan antara lain KK, KTP, SKTM dari Desa yang bersangkutan.
Yuli Setiani perwakilan dari UPT Kesehatan Pacitan, menambahkan “Pengusulan KPM dari Dinsos harus bekerja sama dengan UPT Kesehatan , Bappeda, dan Dinas Pendidian karena keseluruhannya saling berhubungan untuk memberikan bantuan KPM”, ujarnya.

Bantuan dari UPT Kesehatan yaitu berupa KIS (Kartu Indonesia Sehat), Bantuan dari Dinas Pendidikan berupa KIP (Kartu Indonesia Pintar), Bappeda berupa PKH (Peserta Keluarga Harapan), dan keseluruhannya itu diusulkan melalui program SLRT Dinsos.

Pelaksana SLRT merupakan Fasilitator untuk mengusulkan bantuan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) atas wewenang dari desa yang bersangkutan.

Dengan adanya SLRT ini mempermudah pendataan secara akurat karena terjun langsung ke masyarakat dan mempermudah warga agar tidak kesulitan untuk datang sendiri ke Dinsos ataupun desa, cukup SLRT yang mendatangi dan SLRT pun mengambil keputusan atas kewenangan dari Desa yang bersangkutan. (Fitri)

Ditulis Oleh Fitriani, Jurnalis Warga Desa Bungur

Bunda Paud Kabupaten Pacitan Baksos tanggap bencana

Rabu, 03 Januari 2018 Bunda Paud Kabupaten Pacitan Luki Indartato dan Bety Sukowiyono didampingi Kabid TK Paud usia Dini Sriati Wulansih, Kepala UPT TK SD Kecamatan Arjosari Subianto Munir, Camat Arjosari Muniirul Ichwan dan Kapolsek Arjosari AKP Sukinto Herman menyerahkan bantuan secara simbolis di tiga TK dan Paud di kecamatan Arjosari. Bantuan tersebut diserahkan Tk Tsunuwiyata, Dusun Grungung desa Gunungsari, Tk Putra Tirta Husada serta KB Putra Harapan Dusun Wonosari Desa Karangrejo.

Bantuan tersebut diantaranya alat bermain yang mayoritas alat bermain, buku pelajaran dan buku mewarnai dimana TK Paud tersebut rusak dan hilang akibat terjangan banjir 29 Nopember 2017 kemarin.

Kelompok Bunda Paud yg diwakili Luki Indartato berharap agar aktifitas pembelajaran terus dilaksanakan dan dampak bencana ini segera berakhir serta situasi kembali normal.

Budi/Nonot Kominfo

Musim Tanam Tiba. Harapan Baru Untuk Petani

Padi merupakan komoditas utama warga Desa Tahunan. Hampir seluruh petani di Desa Tahunan mereka budidaya padi. Selain itu padi juga makanan pokok warga masyarakat. Tidak heran kalua hampir semua sawah dan lading waktu musim penghujan di tanami tanaman padi.

Saat ini musim hujan mulai tiba. Seluruh petani disibukan menyiapkan tempat menanam padi. Mulai menyiangi rumpu, membajak sawah dan mempersiakan benihnya. Sampai di sudut-sudut desa dapat di temui pemandangan seperti itu.

Gotong royong masih begitu kental. Petani tak sendirian. Mereka biasanya di bantu para tetangga dalam menyiapkan lahan untuk tanaman padi. Sehingga dalam menyiapkan lahan tidak memerlukan waktu yang lama. Mereka saling bergantian dalam membantu menyiapkan lahan . Harapanya lebih cepat selesai dan bisa menanam secara bersamaan. Salin itu jika menanam bersamaan bisa meminimalisir hama

Hujan yang stabil menjadi harapan dari para petani. Sehingga dapat menghasilkan hasil yang memuaskan. Dan juga di harapkan kelangkaan pupuk tidak terjadi setelah musim tanam tiba. (tahunan.kabpacitan.id)

Pimpin Istighosah, Kakan Kemenag: Jadikan Pengujung Tahun Saat Introspeksi

KHUSYU: Perayaan tahun baru diwarnai kegiatan istighosah di Pendopo Kabupaten. Ini merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar Pacitan terhindar dari musibah. Doa bersama diikuti puluhan peserta dan dihadiri para tokoh serta jajaran pemerintahan. (Foto: Dodik Irawan)

Pacitan – Suara kalimah tayibah berkumandang dari aula Pendopo Kabupaten Pacitan, Jl JA Suprapto, Minggu (31/12/2017) malam. Luasnya ruangan tanpa dinding membuat alunan doa terdengar lirih. Syahdu dan khidmat. Sementara puluhan orang berpakaian muslim bergeming dalam simpuh. Mereka larut dalam munajat kepada Sang Khalik.

Gambaran itu adalah sisi lain renungan menyambut Tahun Baru 2018 di Kabupaten Pacitan. Momen pergantian tahun kali ini memang jauh dari kesan glamor. Ini menyusul musibah banjir dan longsor yang melanda Kota 1001 Gua lebih dari sebulan lalu. Pemkab pun mengimbau warga menggelar doa bersama di lingkungan masing-masing.

“Semoga Pacitan ke depan pemimpin dan rakyatnya dapat bersatu padu agar kita semua segera bangkit dalam rangka mewujudkan Kabupaten Pacitan yang sejahtera,” ucap Muhammad Nurul Huda, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pacitan sebelum memimpin doa bersama.

Dijelaskan, pengujung tahun adalah saat mawas diri atas tindakan kita selama setahun terakhir. Yang terpenting, lanjut penggiat baca Al Quran itu, adalah mengedepankan rasa syukur kepada Allah SWT. Bahkan, saat bencana melanda ungkapan syukur tak boleh berhenti. Sebab pada dasarnya musibah yang terjadi adalah anugerah. Hikmahnya, masyarakat akan semakin kuat dan bersatu.

Di sisi lain, terang Nurul Huda, pengujung tahun merupakan saat muhasabah (introspeksi diri) dengan meninggalkan sikap saling menyalahkan. Sebaliknya, semua pihak harus bahu-membahu dan bekerjasama membangun Pacitan menuju kondisi lebih baik. Terlebih pascabencana masih banyak pekerjaan rumah harus diselesaikan.

“Tidak saatnya merasa paling benar. Tapi sebaliknya sekarang saatnya kita duduk bersama, bergandeng tangan membangun Pacitan menuju kondisi lebih baik lagi,” ucapnya seraya mengajak puluhan hadirin bersatu dalam doa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati dan Wakil Bupati serta pengasuh beberapa pondok pesantren. Antara lain KH Burhanuddin HP dari Ponpes Al Fattah dan pengasuh Ponpes Al Istiqomah KH Ahmad Faqih Sudja’. Hadir pula tokoh lain seperti KH Abdullah Sadjad dan H Munir yang juga berkesempatan memimpin doa. Selain melibatkan anggota ormas Islam yang ada, istighosah juga diikuti karyawan/karyawati pemkab. (RSP/PS/PS)

Peduli Korban Bencana, Pak In Ajak Sambut Malam Tahun Baru Dengan Doa

BEREMPATI: Bupati Indartato saat mendatangi korban bencana beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Pemkab)

Pacitan – Perayaan pergantian tahun di Pacitan dipastikan jauh dari ingar bingar kemeriahan. Pemkab setempat mengimbau semua bentuk pesta pora ditiadakan. Ini menyusul musibah banjir dan longsor yang melanda kawasan tersebut lebih dari sebulan lalu.

“Mari kita semua berempati kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” tutur Bupati Indartato berbincang Minggu (31/12).

Diakui Pak In, bencana yang melanda menyisakan dampak cukup serius. Tak terkecuali sektor wisata yang merupakan andalan Kota 1001 Gua. Di sisi lain momen tahun baru seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menggenjot kunjungan wisatawan.

Hanya saja, lanjut Indartato, saat ini pihaknya memilih pendekatan spiritual untuk merenungkan makna kedatangan tahun baru. Di saat istimewa ini pula dirinya mengajak warga lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Imbauan melakukan doa bersama tersebut bahkan dilayangkan melalui surat resmi hingga tingkat desa.

“Sudah kita kirim (surat resmi) sampai Pak Camat dan Pak Kades. Di malam tahun baru saya juga tidak kemana-mana kecuali istighosah di pendopo,” papar bupati.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Endang Surjasri menjelaskan trauma wisatawan untuk datang ke Pacitan belum sepenuhnya hilang, namun dirinya yakin hal itu tak berlangsung lama. Mantan Kabag Humas ini pun memastikan obyek wisata yang ada aman dikunjungi.

Upaya memulihkan citra positif kepariwisataan pascabencana, lanjut Endang, gencar dilakukan melalui berbagai media. Seperti klip video, situs internet, media sosial, maupun blog. Bahkan Bupati Indartato tak segan datang sendiri ke sejumlah obyek wisata untuk meyakinkan berwisata ke Pacitan aman.

“Jadi nggak perlu ragu. Silakan datang ke Pacitan,” katanya. (PS/PS)

Pemkab Terus Distribusikan Bantuan Untuk Rumah Terdampak Bencana

Bupati Indartato bersama Sekretaris Daerah Suko Wiyono serta sejumlah OPD terkait mendatangi lokasi bencana alam tanah gerak di Dusun Mantenan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung. Dilokasi tersebut sebanyak 16 rumah warga rusak. Enam diantaranya rusak berat.

Pada kesempatan itu pula bupati juga menyerahkan bantuan senilai Rp 200 juta. Nilai sebanyak itu diperuntukkan bagi 20 warga yang rumahnya terdampak bencana alam tanah gerak maupun tanah longsor.

Saat ini warga korban bencana alam memilih mengungsi di rumah saudaranya ketika malam tiba. Tetapi mereka akan kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas seperti biasa. (arif/nasrul/tarmuji taher/pranoto/humaspacitan)

Pemkab Teken MoU Pengawasan Dana Desa

Pemerintah Kabupaten Pacitan menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Polres Pacitan terkait pencegahan, pengawasan, dan penanganan permasalah dana desa di pendopo, Jum’at (29/12/2017). “Adanya MoU ini bukan untuk menakut-nakuti. Tujuannya supaya dana desa dapat berguna secara kualitatif untuk kemajuan Kabupaten Pacitan dan masyarakatnya,” kata Kapolres Pacitan AKBP Setyo K Heriyatno.

Sebenarnya tidak hanya kepolisian saja yang melakukan pengawasan. Tetapi juga para penegak hukum lainnya. Seperti kejaksaan negeri misalnya. Sebab dana desa merupakan bantuan dari pemerintah. Sehingga nantinya akan dipertanggungjawabkan penggunaannya. Dalam hal ini baik Polri maupun kejaksaan negeri bertindak selaku pengawal maupun konsultan.

Karena itu Kapolres meminta kepada para penerima dan pengguna dana tersebut agar tidak ragu menggunakannya. Ia bahkan membuka pintu lebar-lebar untuk berkordinasi jika pihak desa masih merasa ragu-ragu. Kordinasi yang dimaksud agar penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan dan penggunaannya sesuai aturan serta koridor hukum. “Saya atas nama Polres Pacitan akan memberikan bantuan, bimbingan, dan konsultasi maupun hal-hal yang diperlukan apabila menemukan hambatan dalam penggunaan dana desa. Kita membantu memberikan pencegahan,”pintanya.

Dalam sambutannya Bupati Indartato mengatakan pengguliran dana desa merupakan bagian dari urusan pemerintahan. Yang bermula dari kebijakan pemerintah pusat yang penerapannya sampai ke paling bawah, yakni desa. “Dan itu ada pedomannya. Pedoman itu dituangkan dalam tata pemerintahan yang baik. Ditandai dengan tiga ciri. Yaitu keterbukaan, dapat dipertanggungjawabkan, serta partisipasi.,” kata dia.

Terkait dengan keterbukaan, ada sistem manajemen pengaturnya. Dimana pengawasan masuk didalamnya bersama dengan perencanaan dan pelaksanaan. “Menteri Dalam Negeri dan Kapolri telah sepakat bagaimana mengawal kegiatan yang ada, khususnya dana desa. Ini ditindaklanjuti MoU pemkab dan Polres,” tandas bupati.(arif/nasrul/tarmuji taher/humaspacitan)

Pastikan Bantuan Bencana Alam Sesuai Peruntukannya

Bupati Pacitan Indartato meminta jajarannya untuk mengalokasikan dan menggunakan bantuan dengan tepat sesuai peruntukannya. Agar kedepan tidak ada permasalahan yang muncul. “Bantuan digunakan sesuai peruntukannya. Agar penanganan bencana alam menjadi efektif dan terhindar dari permasalahan,” ucapnya ketika berada di Kecamatan Tegalombo, Kamis (28/12/2017).

Saat berada di wilayah paling utara Kabupaten Pacitan itu, bupati menerima laporan berbagai kerusakan sebagai akibat bencana alam sebulan kemarin. Mulai dari sarana umum sampai permukiman warga. Termasuk mendatangi Dusun Weru, Desa Ploso. Dimana dilokasi tersebut empat unit rumah warga diterjang tanah longsor. Dua diantaranya hilang sehingga tidak dapat ditempati lagi.

Pada kesempatan itu bupati menyerahkan 190 paket bantuan sembako dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebelumnya, hal serupa juga dilakukan Indartato di Kecamatan Arjosari. Selain memberikan paket sembako, ia juga menyerahkan bantuan dari Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Pacitan senilai Rp 60 juta untuk 390 orang dan pemugaran dua unit rumah dengan nominal masing-masing Rp 10 juta. (arif/nasrul/tarmuji taher/humaspacitan)

Ribuan Siswa Putus Sekolah dan Kurang Mampu Dapat Bantuan Pendidikan

Sebanyak 1.024 siswa putus sekolah dan tidak mampu di Kabupaten Pacitan mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten. Bantuan yang berasal dari dana bantuan sosial APBD 2017 itu diserahkan Bupati Indartato di pendopo kabupaten, Rabu (27/12/2017). “Mudah-mudahan ditahun-tahun mendatang lebih banyak lagi anak yang kembali ke sekolah. Hal ini dapat terwujud jika ada kerja sama antara semua pemangku kepentingan bidang pendidikan di Kabupaten Pacitan,” katanya.

Selain sebagai salah satu cara untuk memajukan pendidikan, hal itu juga menjadi upaya agar pendidikan dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat. Terutama dari keluarga kurang mampu. Bantuan pendidikan siswa kurang mampu program Grindulu Mapan yang diwujudkan melalui program gertak manis ditujukan untuk mengamankan upaya jangka panjang, memutus rantai kemiskinan. Sekaligus meningkatkan sumber daya manusia di Kabupaten Pacitan terus meningkat. Sehingga mampu bersaing di tingkat propinsi maupun nasional.

Sejak tahun 2012-106 alokasi anggaran Grindulu Mapan bidang pendidikan lebih dari Rp 0,5 miliar. Nilai itu bertambah pada tahun 2017 menjadi Rp 780.880.616.

Menurut bupati, selain bantuan biaya pendidikan, mulai tahun 2017 pihaknya juga berusaha mengembalikan anak putus sekolah agar kembali bersekolah. Tahun ini sendiri terjaring 64 anak. Ia lantas berpesan agar para siswa serius dalam menuntut ilmu. “Mungkin bantuan dari pemerintah daerah ini masih belum memenuhi semua kebutuhan sekolah adik-adik. Tapi yakinlah jika anak-anak punya tekad semangat dan selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. maka kesuksesan akan bisa diraih,” harapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Marwan menjelaskan, tujuan dari kegiatan tersebut adalah membantu meringankan biaya pendidikan dan membantu anak putus sekolah yang ingin kembali ke sekolah. Sasaran program bantuan pendidikan Siswa miskin gertak manis adalah siswa miskin berusia 6-21 tahun yang masih berstatus sebagai siswa SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK/MA. “Juga anak putus sekolah yang ingin kembali ke sekolah, serta memenuhi sekurang-kurangnya satu dari kriteria,” jelas dia.

Kriteria yang dimaksud adalah siswa telah terdaftar dalam Basis Data Terpadu (PBD) tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Tim Percepatan Nasional Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), diprioritaskan yang berada pada desil 1. Penerima juga telah mendapatkan surat keterangan tidak mampu dari desa sesuai dengan peraturan bupati 36/2016 Tentang Kriteria Kemiskinan Di Kabupaten pacitan.

Besaran bantuan biaya pendidikan siswa program Gertak Manis bervariasi. Untuk jenjang SD/MI sebesar Rp. 450.000 per tahun, SMP/MTS Rp. 750.000, dan Jenjang SMA/SMK/MA Rp 1 juta. “Bantuan untuk kembali ke sekolah Rp 1 juta untuk semua jenjang. Bantuan ini hanya diberikan satu kali pada saat pertama masuk kembali ke sekolah. Selanjutnya akan diberikan bantuan biaya pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya,” tandas Marwan. (arif/nasrul/tarmuji taher/danang/humaspacitan).